Dosa Transjakarta Menurut Saya

Sudah bukan rahasia lagi konsep Transjakarta itu bagus, tapi implementasinya super buruk. Kendati layanannya buruk banyak orang mencintai transportasi yang satu ini. Cinta dan benci tentunya. Selain harganya yang cukup murah dan mencakup hampir seluruh wilayah Jakarta, transjakarta dicintai karena punya jalur sendiri, tentunya  lebih cepat. Saya mencoba mengumpulkan dosa-dosa Transjakarta, semoga catatan kecil ini bisa menjadi bahan perbaikan:

  • Ruang tunggu tanpa AC: Masuk halte di Jakarta sama kayak masuk ruang steam, panas. Yang desain halte TJ itu kejam, ruang tunggu nggak dikasih AC sama sekali padahal Jakarta itu panasnya luar biasa. Kalaupun ada kipas angin, kekuatannya gak dasyat sama sekali, alias gak berasa.  
  • Buang-buang kertas: Dulu transjakarta menggunakan kartu elektrik yang kelihatan wah. Kendati keliatan wah, mesin itu bikin kita, orang Jakarta, kelihatan kurang cerdas, karena ditiap mesin ditungguin petugas. Petugas ini berkewajiban mengarahkan dan membantu memasukkan kartu. Apa gunanya pakai mesin kalau harus pakai penjaga? Belakangan, manajemen transjakarta memutuskan untuk menghabiskan berlembar-lembar kertas dan berhenti menggunakan kartu elektrik. Sungguh nggak efisien dan nggak peduli lingkungan. Plus merusak pemandangan karena sampah karcis yang berceceran di halte.
  • Pemborosan sumber daya manusia: Menurut saya TJ itu nggak efisien dan menyerap tenaga kerja manusia yang tak seharusnya. Iya sih kita emang punya banyak sumber daya manusia yang harus diberdayakan, tapi kalau penjaga loket karcis sampai dua orang (dan mereka rajin sekali ngerumpinya), lalu ditambah petugas perobek karcis apa gak pemborosan tuh?
  • Tak ada toilet di halte Transjakarta: Yang ngerancang itu halte kebetulan nggak punya saluran pembuangan,jadi ya harap maklum kalau gak ada toilet di halte transjakarta. Di luar negeri gak semua halte punya toilet juga sih, tapi kalau mendesain halte yang melibatkan manusia (baca: petugas penjaga), mbok ya dipikirkan kesejahteraan mereka. Kalau petugasnya sakit perut mesti kemana?
  • Jalanan yang selalu rusak: ini salah satu bentuk nggak efisiennya TransJakarta. Jalanannya selalu dibetulin. Apa ya nggak ada kontraktor yang bisa memperbaiki itu jalan dengan kualitas super, bukan KW1, KW2 ataupun KW3, tapi Super? Mungkin Transjakarta harus mulai melirik kontraktor Korea yang bikin jalan dengan kualitas Amerika di Banda Aceh sana, biar gak perlu buang-buang uang untuk memperbaiki tiap malam (pembetulan jalan TransJakarta biasanya dilakukan di malam hari).
  • Kondisi bis yang mengenaskan: Bis TJ itu ACnya kebanyakan panas. Mungkin ketika pengadaan, pembuat bis menyangka kita ini negeri satu musim, musim dingin terus. Alih-alih dikasih AC, bis-bis TC pada dikasih pemanas. Selain AC, pegangan bis juga banyak yang hilang, padahal pegangan bis ini penting untuk orang pendek seperti saya yang tak bisa meraih gagang besi di atas kepala. Oh ya, gara-gara AC tak berfungsi dengan baik, banyak petugas bis yang bau, bau keringat. Bisnya pun jadi bau.
  • Armada yang kurang: entah gimana procurement plannya, kebanyakan di korupsi kah? Armada transjakarta jelas perlu ditambah tapi niatan baiknya belum kelihatan. Makanya antrian transjakarta suka bikin gemes karena panjang dan lama.
  • Akses bagi penyandang disabilitas: saya melihatnya mereka yang menggunakan kursi roda akan sangat kesulitan menggunakan jasa TransJakarta karena tak adanya akses. Dengan tangga-tangga tersebut, bisa dipastikan tak akan ada yang bisa naik. Lift yang harusnya bisa berfungsi untuk penyandang disabilitas di areal Sarinah pun nasibnya hancur dan bau pesing.

Dosa Transjakarta di atas dilengkapi dengan tidak adanya sistem antrian yang baik yang kemudian disempurnakan dengan gayanya orang Jakarta kalau ngantri yang kalah pinter sama bebek. Herannya, kalau beli tiket sih bisa antri dengan lurus dan baik, tapi kalau masuk bis, harus sikut kanan dan kiri. Masuk bis perlu tenaga luar biasa, keluar bis juga perlu tenaga lebih besar lagi. Saya biasanya berseru permisi dan mulai menerobos barisan  manusia sambil gak sengaja menginjak kaki orang yang tidak mau memberi saya jalan.

Ngomong-ngomong tentang mengantri, suatu kali saya mengantri di halte transit Harmoni. Tiba-tiba ada seorang ibu dan anaknya, serta seorang bapak yang tidak kenal ibu dan anak ini. Si Ibu dan anak langsung disuruh maju oleh si petugas ke depan saya, eh si Bapak juga disuruh maju. Maka saya pun nyolot! Langsung menegur si petugas kenapa si Bapak disuruh maju, alasan si petugas “Bapaknya kan bawa anak”. Aduh ampun deh…udah jelas mereka nggak saling kenal. Dasar saya usil saya spontan berkomentar “Jangan gitu dong, asal aja orang disuruh nyerobot gak mendidik. Saya juga hamil ini tapi gak asal serobot sana sini.” Sambil mengelus perut gendut tercinta. Sayanya bohong, tapi demi kebaikan, biar mas penjaga halte lebih tegas lagi.

Ada yang mau menambahkan dosa Transjakarta?

Advertisements

4 thoughts on “Dosa Transjakarta Menurut Saya

  1. Bener banget itu semua, namun sekarang sudah mulai diberlakukan e-money untuk naik TJ.

    Saya naik TJ karena satu, trauma naik Kopaja 😳

  2. Hahahha.. saya naik TJ karena di Jakarta ngga tau jalan. Kalau TJ rutenya jelas dan berhentinya dimana juga jelas. Buat pendatang yang cuma mampir kaya saya yang ngga mau nambahin penuh jalan dan mborosin BBM dengan sewa mobil atau naksi kalau cuma jalan sorangan jadi lebih gampang :-D.
    Setelah turun tinggal hidupin GPS di Handphone dan jalan kaki hihi.
    Naik Kopaja ngga tau mau turun dimana dan naik nomor yang mana kalau ngga lagi sama temen orang lokal. Btw tempo hari saya mampir jakarta lagi TJ udah kembali pake E-Ticket kok, praktis. Kalau ngga salah ingat juga ngga ditungguin banyak penjaga lagi tuh.

    • Iya Transjakarta tahun ini baru merubah sistem dengan pembayaran elektronik, thanks to Ahok.

      Beberapa halte juga sudah dilengkapi dengan akses bagi penyandang disabilitas, walaupun toilet masih belum ada di halte.

      Kita bergerak maju ke arah yang lebih baik.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s