Waisak Bukan Sirkus Mbak!

Tahun lalu, saya berada di Magelang untuk ikut prosesi Waisak. Saya sengaja mencari pengalaman ikut Waisak di Borobudur karena onon, puncak Waisak adalah saat yang tepat untuk bermeditasi. Demi meditasi indah ini saya pun pergi ke Borobudur. Pagi-pagi kami sudah berada di Candi Mendut, mencari panitia yang membagikan tanda khusus bagi umat, walaupun saya bukan umat Budha. Dengan kartu pas ini kita bisa duduk bersama umat menikmati sakralnya perayaan Waisak.

Buat yang sudah jago meditasi, mungkin mudah buat bermeditasi di tengah keramaian. Tapi buat saya yang masih novice ini, boro2. Meditasi di tengah kilauan  flash, ramainya suara shutter itu tantangan sendiri. Ga cuma suara shutter, ada suara kunyahan kacang juga dari segerombolan anak muda yang mungkin berpikir mereka lagi nonton bioskop, atau bahkan nonton sirkus? Turis-turis lokal ini juga ga sungkan wira-wiri macam setrika di depan orang meditasi. Gak cuma itu, puja-puja mantram yang ditirukan dengan gaya ngocol, setengah menghina, juga nggak ketinggalan. Sayang tak ada dupa, kalau ada dupa sudah saya sundut anak muda itu. Dipikirnya menghina cara berdoa orang lain itu keren?

Keluarga Aldo

Yang ga terlupakan buat saya adalah Keluarga Aldo. Saya anugerahi keluarga ini dengan penghargaan sebagai keluarga tanpa toleransi, tanpa perasaan dan tentunya tanpa otak. Jawara di Indonesia untuk tiga kategori itu. Jadi, satu keluarga ini mengenakan baju putih dan duduk di bawah altar, persis di depan sendiri. Di tengah2 tengah perayaan, ketika semua umat menghadap altar, mendengarkan doa dengan seksama, tiba-tiba keluarga ini balik badan memunggui altar dan berfoto ria. Duh entah apa yang ada di otaknya, kalau mereka memang punya. Mentang-mentang ini agama minoritas terus dijajah dengan arogansi mereka gitu? Coba ini kejadian di dalam mesjid? Bisa dicambuk di depan masjid Raya ini keluarga!

Ga cuma keluarga Aldo, yang berlaku tak tahu aturan. Altar yang akan digunakan para Banthe & Bhikku pun dijajah para tukang foto, dari fotografer jadi-jadian sampai tukang foto diri sendiri. Macam si mbak yang pakai tag jurnalis ini. Sekali lagi, pakai tag jurnalis. Duh mbak…dimana etikamu?

image

Repot berfoto dia, sementara di belakangnya ada orang berdoa. Payungmu mbak, payungmu membasahi altar. Nggak malu hati sama yang di belakangnya Mbak?

Di bawah altar ini terdapat semacam pancuran air sebagai bagian dari ritual. Jangan tanya deh berapa banyak orang yang pose disitu pegang gayung kayunya. Pendeknya, semua sudut Borobudur yang dipersiapkan untuk beribadah berubah jadi tempat berfoto ria. Kalau sudah foto segitu banyaknya mau diapakan? Tak cukup itu, ketika acara pembacaan doa di malam hari tertunda karena salah satu VIP terlambat datang, mereka yang menunggu pun bersorak negatif. Bukan umat ya, tapi para turis yang nggak sabar pengen lepas lampion. Lha yang punya upacara agama siapa kok situ yang ribut?

Perlu dicatat juga, pada saat Borobudur ini semua turis mendapatkan kebebasan akses untuk masuk ke wilayah ibadah. Entah kenapa pihak pengelola tidak menutup Candi untuk satu hari. Panitia pelaksana pun menurut saya kurang galak dalam menangani turis ga sopan. Atau mungkin jumlah umat lebih sedikit daripada jumlah turis, jadi terlalu overwhelmed?

Beribadah dengan damai itu adalah hak semua umat manusia, apapun agamanya. Ini Tidak hanya untuk umat mayoritas, tapi juga harus diterapkan bagi penganut agama minoritas. Jadi, buat yang berencana ke Borobudur tahun depan, tanya diri sendiri, apa niatmu? Kalau cuma pengen foto-foto narsis dengan lampion dan mengganggu ritual sakral umat lain, macam keluarga Aldo itu, mendingan di rumah aja deh.

Selamat Hari Raya Waisak, semoga semua makluk berbahagia.

Advertisements

15 thoughts on “Waisak Bukan Sirkus Mbak!

    • Gue mau komplain dan nulis ke Borobudur sama walubi. Biarpun bukan umat Budha hatiku tercabik-cabik. Orang Indonesia mana bisa sih dilarang.

  1. btw, kalau mau beribadat disana pakai baju khusu ga ya? agak susah juga kalau ditutup untuk umum seandainya msh pk baju bebas.

    Gw juga pernah kesel sm wartawan yg mau foto pas lagi salat Ied. Bikin ibadah gw jd ga khusyuk. Jadi lebih sering betulin kopiah 😀

    • Gak sih, umatnya pakai baju biasa. Kalau Bhikku dan Banthe pakai baju orange itu. Bisa kebayang susahnya sholat kalau difoto. Yang sering dipotret yang di Sunda Kelapa tuh

  2. Pingback: Jejak Richard Gere di Borobudur | Ailtje Bini Bule

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s