[Irlandia] Mencicipi Guinness di Ketinggian Dublin

Halo, saya yang gak mandi nekat jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Dublin. Urusan mandi memang gak menyenangkan ketika musim dingin. Kamar mandi yang dilengkapi penghangat pun tak membuat saya tergerak untuk mandi. Dasarnya memang malas mandi, kan menghemat air. Musim dingin gini saja jadi sangat menghargai briliannya orang Jepang yang bikin toilet dengan penghangat (dan juga musik), apalagi kalau harus bolak-balik ke toilet karena sakit perut.

Sebelum menjejak ke pabrik bir hitam (well, sebenarnya warnanya gak hitam tapi ruby) saya menyempatkan diri untuk menengok  Museum Nasional.  Museum super gede ini GRATIS saudara-saudara. Dasar Indonesia, senengannya yang gratis-gratis dong ya. Sudah gratis, musemnya tertata rapi dan informatif. Pengunjungnya pun lebih beradap karena gak pakai colek-colek lukisan (Saya sering ngelihat orang Indonesia yang menikmati lukisan dari ujung jarinya, alias dicolek. Alamak!). Senangnya lagi, nggak ada yang foto narsistik sampai 1000 kali, semua orang sibuk membaca informasi. Yang sibuk foto-foto justru kami berdua.

Tapi museum ini juga bikin saya pening karena saya nggak paham sejarah panjang Irlandia. Untuk benar-benar memahami sejarah Irlandia, kayaknya setengah hari di museum ini nggak cukup, kudu balik lagi. Btw, saya menemukan tank UN, dasar buruh UN, nemu tank UN langsung berpose dengan identitas UN.

image

Guinness Storehouse

Dari museum Nasional ke Pabrik Guinness ini bisa jalan sekitar 20-30 menit. Jalannya lumayan mendaki & diiringi gerimis (konsisten banget ini negara jadi negara hujan). Perjalanan di bawah hujan ini nggak romantis sama sekali karena area yang kami lewati area suram perindustrian.

Tiket masuk dibandrol €16,50 (jangan di convert ke rupiah lah, capek ngitungnya!) sudah termasuk satu pint Guinness. Konon kalau beli ticket online bisa dapat diskon satu atau dua Euro. Di pintu masuk semua barang harus dititipkan. Pelajaran berharga, ketika menitipkan, jangan menitipkan semua pakaian hangat, karena untuk kembali mengambil barang, pengunjung harus keluar dari gedung untuk kembali masuk ke penitipan. Ribet.

Tur di Guinness Storehouse tanpa ditemani dengan pemandu, tapi sebagai gantinya ada beberapa headset yang tersedia dalam berbagai bahasa. Bahasa Indonesia tentunya tak termasuk dalam pilihan.

Tiap lantai disini menceritakan hal-hal yang berbeda dari proses pembuatan Guinness karya Arthur Guiness. Di museum ini diperkenalkan empat bahan guiness (water, barley, roast malt – makanya warnanya terlihat hitam, hop dan yeast), aneka rupa iklan dan merchandise Guinness hingga proses pembuatan barrel. Uniknya, video proses pembuatan barrel ini dimasukkan ke dalam barrel tak terpakai, sehingga kita harus menunduk untuk melihat prosesnya. Genius.

Yang menyenangkan saya menemukan kapal dengan nama saya. Bahagia rasanya nemu ini, walaupun kalau dibaca lebih detail kapalnya tenggelam. Oh no…
image

Lantai teratas dari museum ini adalah so-called Sky Barnya Dublin, namanya Gravity Bar. Being a Jakarta, otak saya mengasosiasikan Sky Bar dengan ketinggian yang menjulang macam SKYE nya Jakarta. Kalau Skye ada di lantai lantai 50-an, Gravity Bar ada di lantai 7. Iya, lantai 7, TUJUH, bukan lantai 17, 27, 37 apalagi 70.

Di bar ini kita diberikan satu pint Guinness (atau minuman lain bagi mereka yang tak minum alkohol). Ada satu hal yang menarik tentang cara menuangkan bir ini, karena gelas diisi tiga perempat dulu, kemudian sisanya baru diisikan kembali setelah dua menit. Konon buihnya harus ditunggu turun. Ketika gelas sudah penuh pun, Guinness masih harus ditunggu dua menit lagi, kalau langsung diminum katanya perut bisa sakit.

Bagaimana rasanya minum Guinness pertama kali? Huweeeeek, gak enak. Kami meminta sirup blueberry untuk dicampur dengan bir (di beberapa bar hal ini dimungkinkan), tapi ternyata di Gravity Bar hal tersebut tak tersedia. Saya kemudian diberi tips untuk menegak Guinness seperti menegak air. Hasilnya? doyan sampai sekarang.

Kalau pemandangan di Sky Bar Jakarta lebihi banyak gedung-gedung, pemandangan di Irlandia juga sama banyak atap-atap. Sambil duduk menikmati kota Dublin, kita bisa menguping aneka rupa bahasa karena banyaknya turis yang datang ke pabrik Guinness. Guinness yang sangat terkenal ini memproduksi setidaknya 400 ribu barrel per hari, separuhnya dikonsumsi di dalam negeri, sementara separuhnya dikirimkan ke luar Irlandia.

Guinness storehouse juga menawarkan kesempatan bagi mereka untuk belajar menuangkan bir ini dari tap. Ada sertifikat juga untuk mereka yang sudah berhasil menuangkan. Sayangnya mereka yang sudah belajar menuang Guinness tak bisa minum lagi di Gravity Bar. Alternativenya, bir yang sudah dituangkan tadi bisa dibawa ke lantai atas untuk diminum.

Tahukah kamu kalau Arthur Guiness ini anaknya ada 21 orang? Rupanya sebagai negara yang sangat Katolik, kontrasepsi dimasa lalu dilarang sehingga orang beranak pinak.

Cerita lainnya: Negeri hujan nan Hijau & Reuni MPers di Tralee

Advertisements

5 thoughts on “[Irlandia] Mencicipi Guinness di Ketinggian Dublin

      • Jadi efek enaknya dimana? Di tenggorokan apa pas udah di perut? Serius nanya, krn gak pernah minum. Org Amrik kan lebih banyak ngebir daripada ngewine (gak kayak org Eropa).

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s