Berburu Berlian di Martapura

Kerjaan sudah selesai, pesawat tak bisa diganti jadwal, akhirnya kami memutuskan sewa mobil dan jalan-jalan ke Martapura saja. Sewa mobil di Banjarmasin itu ternyata gak murah ya bow, setengah hari aja 600 ribu termasuk BBM dan pengemudi. Jangan dibandingkan dengan Jakarta, karena bensin di sini, saya duga, tak selalu mudah didapatkan.

Jarak dari Banjarmasin ke Martapura sekitar 43 km kami tempuh selama 1 jam. Perhentian pertama, tempat penambangan berlian. Kami termasuk beruntung bisa menemukan penambang pada hari Jumat. Rupanya seperti di Arab, kegiatan menambang libur di hari Jumat. Daerah Banjarbaru ini cukup Islami, di beberapa tempat saya bahkan menemukan papan usaha yang memuat tulisan Arab gundul dan juga bahasa indonesia. Persis seperti di Aceh, minus polisi syariah tentunya.

image

Saya yang penasaran terhadap kehidupan para penambang menanyakan banyak pertanyaan pada si abang penambang. Tapi, abang-abang ini cukup malu diajak ngobrol. Cuma senyum-senyum dan menjawab sekenanya. Mungkinkah karena saya perempuan? Berhubung tak bisa mengorek banyak informasi, kami pun bersiap pergi. Oleh pengemudi kami ditawarkan untuk melihat berlian. Saya pun tak menolak, padahal uang di kantong cuma buku buat bayar sewa mobil.

 

image

Kira-kira kubangan ini bisa hijau lagi gak ya?

Supir kami kemudian ngobrol dengan seorang bapak dan bapak ini, sebut saja X, setuju untuk menunjukkan berlian kepada kami. Oleh bapak X kemudian kami dibawa ke sebuah rumah tradisional yang berlantai kayu ulin. Kami kemudian diminta menunggu karena si bapak pemilik berlian sedang tidur. Baru saya kemudian ngeh kalau bapak X ini rupanya hanya makelar berlian.

image

Rumah pedagang berlian berhiaskan foto sang Imam

Sang pemilik berlian muncul masih dengan muka bantal. Dibukanya sebuah dompet jelek yang di dalamnya berisikan sahabat perempuan. Berlian yang terbesar tak sampai 0,5 carat, kalau di lihat sekilas pakai mata telanjang sih nggak cemerlang-cemerlang amat. Sisanya berlian super mungil. Saya tadinya iseng ingin beli satu aja, siapa tahu cuma 100ribu.Ternyata, minimal pembelian setengah karat dan harga 1 carat dibandrol 5,3 juta. Berlian besar yang tak sampai 0,5 tadi dibandrol dengan harga 4 juta rupiah saja.

Berhubung saya bukan pakar berlian saya nggak tahu ini murah atau mahal. Untuk meyakinkan saya mereka pun menyediakan kursi lengkap dengan lampu. Biar dikasih 1000watt saya juga tetep ga paham. Tapi gaya dan tanya-tanya tetep dong. Biarpun cuma rumahan sederhana pembeli berlian di kampung ini ada yang dari India lho. Kampung international rupanya.

Si bapak X tadi masih terus ngintil di belakang saya sambil menyemangati. Wajarlah bapak calo berharap keuntungan; tapi saya juga gak punya duit. Lagian, kalau beneran punya uang buat jajan berlian, mendingan beli di toko yang sertifikatnya jelas lah, bukan di rumah penduduk. Bukan pakar berlian sih, kalau saya pakar mungkin lain ceritanya.

image

Mas-mas yang malu kalau ditanya

Pasar Batu Martapura

Hari jumat sekali lagi bukan hari baik karena banyak toko yang tutup. Toko Kalimantan yang banyak direkomendasikan ternyata tutup pada hari Senin dan Jumat. Tapi semangat belanja nggak padam. Keliling-keliling ke toko yang ada aja. Rekan saya berhasil menemukan kalung tiger eyes, kalau dalam bahasa lokal biduri sepah. Harga yang ditawarkan 800 ribu untuk kalung dan gelang. Entah ini mahal atau murah, yang jelas waktu saya tempelin, kalung ini dingin.

Saya sendiri malah membeli kalung manik-manik khas Kalimantan yang harganya murah meriah. Lebih murah dari harga kalung di pasar kebun sayur Balikpapan. Puas belanja, kami pun kembali ke bandara. Jarak dari Martapura ke bandara ternyata tak sampai dua puluh menit. Kondisi bandara ini ternyata memprihatinkan.

image

Maaf ya motretnya pakai kamera murahan

Dan tak hanya di satu sudut, banyak sudut bandara yang perlu direnovasi.

image

langit-langit jebol

Daerah boleh saja penghasil berlian tapi soal atap bolong, berlian segede apapun, kilaunya ga bakal bisa menutupi fakta bahwa bandara ini perlu renovasi. Segera!

 

Advertisements

7 thoughts on “Berburu Berlian di Martapura

  1. Pernah 2 kali berkunjung ke Martapura. Memang kota yang sangat religius, kalo shalat dhuhur, semua pedagang yang didepan masjid pada berhenti untuk shalat. dagangan ditutup dengan kain, apa masih begitu ya?
    Selain itu, kalo jual beli ada ijabnya, dan kalo naik becak biasanya gak nipu…
    Hehehe, kenangan lebih dari 20 tahun yang lalu…

    • Mungkin karena pusat kerajaan Banjar ya. Kemarin hari Jumat sebagian toko emang tutup. Ga sampai sholat Jumat udah cabut, nanti september kalau jadi ke sana saya lihat lagi. Terimakasih sharingnya

  2. Pingback: Banjarmasin: Kota 1000 Sungai | Ailtje Bini Bule

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s