Disiplin dan Keselamatan Kita

Saya jarang muncul di WordPress karena kesibukan yang luar biasa. Saking sibuknya dalam 7 hari terakhir ini saya turun naik pesawat sebanyak 8 kali, diawali dari Banjarmasin, ke Denpasar, Malang (naik Lion air lagi, delay lagi, nggak dapat makan lagi) lalu kembali ke Jakarta selama setengah hari sebelum kemudian nyambung ke Yogyakarta.

Sebelum menceritakan penumpang keparat yang bikin saya batuk, saya mau menegaskan bahwa bangsa ini harus bangga sebagai bangsa yang kurang disiplin karena ada yang lebih tidak disiplin lagi. Dalam perjalanan ke Yogyakarta saya berbarengan dengan segerombolan orang Korea. Dari mana saya tahu orang Korea? Dari karakter handphonenya. Nggak cukup handphone, Ipad pun dinyalakan ketika diminta mematikan hanya diletakkan. Begitu pesawat naik, meja dibuka Ipad diletakkan dan si Korea pun puas melihat video. Errr.. Itu kalau pesawat jatuh si Korea pasti harus berjuang keras keluar dari himpitan meja pesawat. Nggak cuma sekali, besoknya sekembali dari Yogyakarta, saya kebarengan segerombolan orang Korea lagi dan kali ini sama nggak disiplinnya. Sepertinya kebetulan ini disengaja biar saya bisa mengkonfirmasi ketidakdisiplinan mereka. Pelajaran berharganya: dimanapun jadilah orang yang disiplin dan patuh aturan, karena nama bangsa dipertaruhkan.

Ngomong-ngomong kapan terakhir kali memperhatikan Pramugari memperagakan alat keselamatan? Saya selaku memaksa diri untuk memperhatikan setiap saat karena pernah ada kejadian turbulensi parah (pada orang lain) yang menyebabkan masker oksigen keluar. Yang bersangkutan langsung menyesal nggak memperhatikan detail instruksi keselamatan. Jadi, kalau terbang pandangilah layar pesawat atau sukur-sukur bisa berhadapan langsung dengan Mbak Pramugari. Ingatlah kapasitas otak kita saya kecil jadi ada baiknya disegarkan setiap saat.

Di akhir rangkaian perjalanan yang panjang ini saya mendadak batuk (padahal jumat ini harus ke Hong Kong) dan batuk ini sudah saya prediksikan karena banyaknya penumpang keparat yang nggak disiplin menutup mulut, kalaupun ada yang menutup, menutupnya setengah hati dengan tangan yang di kepal, persis iklan obat batuk.

Catat baik-baik ya, udah nggak jamannya lagi menutup mulut dengan kepala tangan, atau dengan telapak tangan. Menutup mulut yang benar itu dengan lengan bagian dalam atau siku bagian dalam. Kenapa? Supaya nggak nyebar kemana-mana. Bangsa ini kan suka banget berjabat tangan, nah kalau ditutup pakai tangan bisa pindah semua dong bibit batuk. Apalagi kalau nggak ditutup, bibit batuk menyebar dengan cepat dan saya pun ketularan.

Selain menggunakan lengan bagian dalam, kalau punya tisu lebih baik menutup mulut dengan tisu, habis itu buang. Akan lebih baik juga kalau mau bersadar diri menutup mulut dengan masker. Begitu selesai pakai masker langsung dibuang, jangan dibalik kemudian dipakai lagi.

Sekian ocehan pagi ini, semoga ada ilmu yang bisa bermanfaat bagi kita semua dan semoga pengalaman kita hari indah.

xx,
Ailsa

Advertisements

13 thoughts on “Disiplin dan Keselamatan Kita

  1. ngamuk neng? aku udah sering banget ngeliat penumpang2 “bodoh” kayak gitu. entah gak ngerti aturan atau apa. udah beberapa kali juga negur orang kayak gitu secara aku aviophobia šŸ˜¦ dan seringnya di jutekin. Kalo sama si Matt, dia yang ngomong langsung. Ishhh ngomongin soal ini, bisa naik darahku ke kepala

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s