Film Soekarno & Sikap Kita Pada Lagu Kebangsaan

Yang belum noton film Soekarno, tak perlu cemas, saya nggak akan menulis review saya tentang film ini, apalagi membocorkan adegan-adegan dalam film ini. Cuma ada satu hal yang akan saya bahas, yaitu tentang lagu kebangsaan dan juga kebanggaan kita Indonesia Raya. Oh ya buat yang belum nonton, segeralah nonton film ini, karena film ini bagus.

soekarno

Dulu jaman saya masuk SMP saya pernah dapat pelajaran PPKN, PMP, Kewarganegaraan atau apalah namanya. Mata pelajaran ini sering sekali berganti nama, jadi saya nggak bisa mengingat dengan sempurna. Intinya satu: mencintai tanah air. Pada saat mata pelajaran itu dijelaskan bahwa kita harus menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya dan juga Sang Saka Merah Putih. Jika upacara sedang berlangsung di tempat lain dan Sang Saka Merah Putih sedang dinaikkan, berhentilah, berdiri dengan tegap dan berikan penghormatanmu. Hal itu melekat sekali di benak saya sementara sisa lainnya nggak ada yang saya ingat hingga saat ini.

Di negeri tentangga, Thailand, kecintaan rakyat terhadap sang Raja dan negaranya sangatlah tinggi. Mungkin mirip dengan kecintaan orang Yogya terhadap Sri Sultan. Mas Gary dan saya pernah berjalan-jalan di sebuah taman menjelang matahari terbenam. Semua orang sibuk, ada yang berfoto, ada yang berolahraga dan juga ada yang bercengkerama. Bukan kami yang bercengkerama lho ya, kami repot berfoto, lebih tepatnya saya repot ngomel karena foto yang diambil mas Bule nggak sesuai standard saya.

Tiba-tiba, ada suara lagu yang diputar dengan kencang dan semua orang yang sedang sibuk beraktivitas, berhenti melakukan aktivitasnya. Mas Bule dan saya sampai bingung, tapi ikutan diam dan berdiri. Fiuh…untuk kami memutuskan melakukan hal tersebut, karena ternyata lagu yang diputar adalah lagu kebangsaan mereka. Rupanya, lagu kebangsaan mereka diputar dua kali setiap harinya dan orang Thai akan berhenti melakukan aktivitas ketika lagu ini diputar. Tak hanya di tempat umum, di bioskop, sebelum film dimulai, penonton akan diminta berdiri ketika lagu penghormatan kepada sang Raja diputar. Konon, jika tidak berdiri, bisa ditangkap dan dipenjara.

Hanung Bramantyo melakukan hal yang sama, meminta penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Awalnya banyak yang kaget ketika dilayar ditulis hadirin diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, permintaan ini pun ditulis dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Lalu, intro lagu Indonesia Raya diputar. Berdirilah saya dan dengan bangganya saya menyanyi. Terus terang, momen menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya selalu saya nantikan (apalagi kalau di dalam stadion bola), karena ini salah satu momen ini yang membuat saya, binibule, bangga menjadi orang Indonesia. Saya tahu juga, ketika saya akan pindah ke Dublin, momen ini akan saya rindukan. Apalagi gak ada kedutaan Indonesia di Dublin, jadi nggak bisa ikut upacara 17 Agustus. Saking rindunya saya dengan upacara 17 Agustus, tahun ini saya bangun jam 6 untuk ikut menonton (lewat TV), upacara kemerdekaan RI di Istana. Ternyata upacaranya baru mulai agak siang.

Balik lagi ke film Soekarno, beberapa orang di studio 1 Setiabudi kemarin memilih untuk tidak berdiri. Mereka lebih memilih untuk cekikikan melihat kami yang berdiri dan menyanyi dengan semangat dan tentunya, beberapa repot bermain blackberry. Nggak salah saya nulis tentang gadget dan orang Indonesia. Ada juga yang berdiri tapi repot mengabadikan kami semua yang sedang menyanyi dengan handphone. Nah kalau ini termasuk orang Indonesia yang pencinta foto, semua difoto. Terus mau diapain sih? Orang-orang yang nasionalismenya saya pertanyakan ini termasuk  mbak C 6 dan Mbak C 7 yang duduk di depan kami. Nasionalisme emang tak bisa diukur dari sekedar berdiri ketika lagu kebangsaan diperdengarkan. Tapi, sebegitu susahnya kah berdiri?

Saya sedih sekali. Saya yakin Bapak Wage Rudolf Supratman, Bung Karno, dimanapun mereka berada juga akan sedih melihat kelakuan orang-orang ini. Entah mengapa mereka memilih melakukan hal tersebut, tak banggakah dengan negeri ini? Lebih suka berdiri menyanyikan lagu K-pop kah? Atau dulu sekolahnya di luar negeri jadi nggak paham tata krama? Nggak segitunya kali, yang sekolah di luar negeri biasanya lebih cinta negeri dan suka ikut upacara 17 Agustusan di Kedutaan Besar.

Berdiri dengan tegap, menyanyikan teks Indonesia Raya yang sudah disajikan di layar (resiko ketahuan nggak hapal kayak Pak Menpora nggak ada lho) bukanlah hal yang susah. Suara jelek juga bukan alasan untuk tidak berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan. Saya aja yang suaranya bikin sakit telinga, pede menyanyi, walaupun pada beberapa baik suara saya kayak kejepit karena kehabisan nafas.

Kalau bule saja mau berdiri dan memberikan penghormatan kepada lagu kebangsaan kita, kenapa engkau wahai mbak C 6 dan mbak C 7, serta mbak dan mas lainnya tak mau berdiri? Lemahkah kakimu hingga kau tak sanggup berdiri? Semoga mbak C 6 dan C 7 membaca postingan ini dan semoga di masa depan kakinya memiliki kekuatan sehingga di lain kesempatan mereka bisa berdiri. 

Maukah kamu berdiri dengan tegap dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bangga? 

Advertisements

27 thoughts on “Film Soekarno & Sikap Kita Pada Lagu Kebangsaan

  1. binibule said:
    Beberapa orang di studio 1 Setiabudi kemarin memilih untuk tidak berdiri. Mereka lebih memilih untuk cekikikan melihat kami yang berdiri dan menyanyi dengan nasionalisme yang membuncah dan tentunya, beberapa repot bermain blackberry. Nggak salah saya nulis tentang gadget dan orang Indonesia. Ada juga yang berdiri tapi repot mengabadikan kami semua yang sedang menyanyi dengan handphone. Nah kalau ini termasuk orang Indonesia yang pencinta foto apa-apa difoto. Terus mau diapain sih?

    Sedih sekali saya membacanya 😦

  2. Saya mau berdiri dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”

    Kabarnya karena terkait dengan hak cipta, film ini ditarik dari peredaran. Jadi hanya sempat tayang beberapa hari.
    Duh, saya belum sempat nonton.

  3. Tambah makin rame saat Guruh angkat bicara agar film Soekarno dibuat ulang karena katanya tidak sesuai kenyataan [Surabaya Post].
    Saya gak tahu versi pihak mana yang betul.
    Namun sebagai anak bangsa seharusnya sama-sama saling memperkaya wawasan dan informasi demi terjaganya sejarah nasional Indonesia, jangan sampai ada sengketa sehingga mempermasalahkan soal hak cipta / royalti.

    Satu lagi, salut buat mas Bule yang mau berdiri dan menghormati lagu Indonesia Raya.

  4. saya termasuk telat nonton film ini, baru tadi siang di Tunjungan Theatre Surabaya. Penonton tidak banyak, sekitar 1/4 dari kapasitas gedung bioskop. Tau nggak, saya satu-satunya yang berdiri dan menyanyi! Jelas kena olok2… Minggu lalu adik saya juga nonton di Delta 21 Theatre Surabaya, cuma beberapa gelintir yang bersedia. Ada ibu muda yang bawa anaknya usia SD juga nggak tergerak memberi contoh, justru setelah si bocah melihat adik saya menyanyi dengan sungguh-sungguh, baru dia ikut berdiri dan menyanyi.. Bandingkan dgn ekspresi dan reaksi khalayak ramai yang joget bareng di salah satu tayangan TV…

  5. Tetiba nemu blog ini gara-gara lagi baca blog-nya Mas Ariev Rahman en ada cerita kalo Ail ikut ke malam seru-seruan bareng Skyscanner.
    Hai hai Ail, masih ingatkah padaku?
    Tentang Sukarno, film ini memang bagus. Aku nontonnya di Atrium Senen (deket kontrakan), agak telat cos beli cemilan dulu en amazed gara-gara waktu masuk studio semua penonton udah pada berdiri. Ternyata di tempat lain engga segitunya ya 😥

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s