Nonton Journal de France di Irlandia

Ceritanya pacaran sama mas G, kami nonton film di IFI. IFI ini bukan Institute Francais Indonesia, tapi Irish Film Insitute. Rupanya selain nonton di bioskop orang Irlandia bisa nonton di tempat yang dibiayai oleh negara, duh enaknya! Tiket nonton dibandrol 10 Euro dan tanpa nomor kursi, jadi mesti cepet-cepetan karena Cuma ada 65 kursi (iya saya ngitung jumlah kursinya). Okelah, kalau soal cepet-cepetan dengan badan mungil ini saya bisa gesit, tapi masalahnya semua orang jalan dengan teratur dan gak rebutan kayak di Jakarta, jadi ya gak perlu sikut-sikutan. Kursinya sendiri model kursi yang dudukannya otomatis kelipat kayak di Gedung Kesenian Jakarta, bedanya kursi disini didesain buat orang Eropa (baca: orang gede-gede), jadi saya lumayan kesiksa karena sebagian layar ketutup kepala mas-mas di depan.

nougaretdepardon001

Jadi si Depardon itu jalan2 keliling Perancis dengan kamera kuno

Kami kebagian di Studio 3 yang harus dicapai dengan naik beberapa puluh anak tangga dan sayangnya nggak bisa diakses para penyandang disabilitas. Ini entah saya salah lihat atau emang gedung ini nggak akses, agak aneh kalau gedung ini nggak bisa diakses karena Irlandia termasuk negara maju dalam urusan disabilitas. Sebelum film dimulai ada pengumuman nggak boleh ribut, HP harus mati dan nggak boleh ngecek handphone pas film lagi main, karena sinarnya mengganggu orang lain. Pengumuman ini mestinya diadopsi oleh 21 cineplex karena di Jakarta Indonesia banyak orang nggak beradab yang ngecek HP pas film lagi main. Saya juga pernah melakukan hal serupa tapi sekarang, syukurnya, sudah tobat.

Anyway, di Jakarta kita bisa nonton film sambil makan pop corn, disini saya nggak lihat satupun orang bawa pop corn, rupanya nggak boleh. Tapi mbak-mbak di sebelah Gary sukses bawa sebotol wine dan gelas plastic, setelah itu si mbak sukses nyampah di lantai. Sayang udah keburu kabur kalau gak udah saya tegor ini mbak. Gak beradab!

Film ini berkisah tentang dua hal, yang satu tentang perjalanan Raymond Depardon menyusuri Perancis, memotret tabac (warung rokok) dan mencari ketenangan dengan dirinya sendiri dan satunya lagi potongan-potongan sejarah masa lalu yang berhasil direkam Raymond. Dua-duanya bagi saya menarik. Bahkan, adegan Nelson Mandela duduk diam selama satu menit pun jadi menarik. Raymond Depardon sendiri adalah seorang fotografer jurnalis, pembuat film documenter dan juga salah satu pendiri Gamma Photographer Agency di tahun 1966.

Salah satu potongan dalam film ini mengisahkan bagaimana Raymond ‘menyelamatkan’ nyawa V, seorang arkeolog Perancis yang diculik oleh suku Tubu di Chad selama tiga tahun. Dengan kesabarannya, saking sabarnya dia nunggu dua tahun, Raymond berhasil mendapatkan ijin dari para penculik untuk mewawancara Françoise. Dalam wawancara itu tampak bagaiman frustasi dan marahnya Francoise, bagaimana rindunya dia terhadap keluarganya, tapi saking menyakitkannya dia sampai nggak mau meingat keluarganya. Nggak cuma menyentuh, wawancara itu mencabik hati. Wawancara itu kemudian ditayangkan di TV dan berhasil menarik perhatian public Perancis, atau lebih tepatnya membuat public berang terhadap pemerintah, karena pemerintah tidak melakukan apa apa-apa untuk menyelamatkan Françoise.

depardon

Adegan menyentuh yang saya ingat adalah tentang orang dengan masalah kejiwaan di RS jiwa di Venice; RS itu sendiri sekarang sudah berubah menjadi Hotel mewah. Ia kemudian merekam lagi, seorang perempuan dengan masalah kejiwaan. Mbak ini nggak punya uang, ngemis nggak dapat uang, nggak punya bapak dan ibu dan di buang oleh saudara-saudaranya. Kata si Mbak “Je vais mourier comme un chien dans la rue”I will die like a dog on the street. Tragis lihatnya.

Ada juga mbak-mbak yang sukses ‘membunuh’ ibunya dan nggak punya penyesalan sama sekali karena kalau udah nggak punya orang tua bisa melakukan apapun yang dia mau. Adegan lainnya yang membuat saya terhenyak adalah perang Biafran dimana Raymond mewawancara tentara Perancis; tentara itu kemudian mati, tertembak, tanpa baju dan passportnya hilang. Sang fotografer juga berhasil merekam keributan di Prague lengkap dengan tanks dan gas air mata sebelum kemudian dijebloskan ke penjara.

Film yang dirilis tahun 2012 ini juga merekam bagaimana Valery Giscard menjelaskan strateginya untuk memenangkan pemilu dengan tidak melakukan apa-apa. Ada juga rekaman persidangan mas-mas yang menerabas lampu merah, tapi ngotot kalau dia harus menerobos karena kalau nggak dia bakal kehilangan pekerjaan. Adegan ini sendiri kocak banget dan bikin pengen ngejambak si mas yang duduk di kursi pesakitan. Hakimnya pun sampai sebel lihat pembelaan si mas.

Anyway, film ini layak ditonton, entah gimana caranya nonton film ini di Indonesia. Mungkin bisa kontak Institute Francais Indonesia untuk minjem DVD.

 

Apa film Perancis favoritmu? Favorit saya: Le prénom.

Advertisements

4 thoughts on “Nonton Journal de France di Irlandia

  1. Belum pernah nonton satupun film yg ditulis, udah jarang bawa popcorn kebioskop. Kalaupun bawa, wadahnya aku buang di tempat sampah depan.
    Ini habbit sih, ga bs nyampah 😐

  2. Kayaknya bagus ya? Film Prancis favoritku: Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain, karena aku nonton di Paris th 2001 pas film itu lagi ngehits banget… Terus L’Auberge Espagnole karena ceritanya nyambung banget sama aku saat itu, dan sequelnya, Les Poupées Russes.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s