Tulisan Berbayar di Blog

Suka nonton infotainment nggak? Saya sih bukan lagi penggemar infotainment, karena sudah nggak ngeh dengan artis-artis yang beseliweran di tivi Indonesia (Tivi barat juga gak nggeh kok). Saking nggak pedulinya saya sama dunia entertainment Inddonesia, saya sampai  nggah ngeh kalau tetanggaan satu kos sama artis. Infotainment yang dulu menyajikan kurang lebih 20 menit gossip yang mengaduk-aduk hidup selebritis Indonesia. Lumayan lah ya buat bahan geleng-geleng kepala. Entah di tahun berapa, tiba-tiba di infotainment suka ada ibu-ibu artis yang bragging tentang anaknya. Wah pokoknya anaknya paling hebat, suka kesenian ini, aktivitasnya segambreng, jreng…jreng….tiba-tiba si Ibu mengeluarkan botol ajaib sambil bilang “Untuk mendukung anak saya, saya tiap hari nyuapin anak saya dengan sirup keringat ikan ini”.

Perasaan pas hal itu terjadi rasanya pengen teriak karena kejebak nonton iklan kan? Sudah capek-capek nonton, mengharapkan gossip, ternyata hasilnya iklan! Gondok banget kalau terjebak menghabiskan bermenit-menit, atau bahkan beberapa detik saja, untuk lihat iklan? Perasaan gondok itu yang mendorong saya meletakkan disclaimer yang menyatakan bahwa blog ini tidak menerima periklanan atau sponsorhip dalam bentuk apapun untuk menghindari bias.

Bias

Postingan berbayar atau endorsement di blog, vlog, twitter dan media sosial lainnya memang banyak dilakukan. Sang penulis mendapatkan kompensasi, baik produk maupun uang dari mempromosikan suatu  barang ataupun jasa. Nggak ada yang ngelarang dan nggak haram juga. Tapi kalau menurut kacamata saya, dibayar untuk menilai sesuatu, dalam beberapa hal, itu besar kemungkinannya untuk menjadi bias. Tahu sendirilah orang Indonesia nggak enakan kalau ngomong yang kurang indah apalagi di depan publik. Nggak tahu diri juga abis dibayar kok ngomongnya jelek-jelek.

Contoh nih ya, dibayar untuk promosi makanan kalengan yang udah jelas-jelas gizinya nggak bagus karena hancur dalam proses pengalengan, pakai pengawet, garamnya tinggi, pakai MSG dan untuk menyempurnakan dosa, produknya bikin hutan rusak, laut rusak, lumba-lumba kelaparan dan lain sebagainya. Lebay dikit boleh lah ya, namanya juga contoh. Hasil reviewnya nggak bakalan nulis hal-hal di atas, tapi tentunya akan ngebahas hal bagus dari makanan kaleng itu, misalnya rasanya enak, desain kalengnya lucu, harganya gak memberatkan kantong, apalagi kantong anak kos. Nggak bohong juga sih, tapi jadinya si review nggak menyeluruh.

Eh tapi kalau nekat, bisa juga membohongi publik dengan mengatakan makanan kaleng tersebut sehat sekali dan mengandung banyak gizi. Walaupun kemudian sang penulis review beresiko terlihat konyol dan kurang cerdas, karena publik sekarang susah dibohongi.

Iklan dalam hidup kita

Bagi saya, hidup kita sudah terlalu banyak dibombardir oleh iklan yang mendorong gaya hidup konsumtif.  Nggak usah jauh-jauh menyusuri jalan dengan aneka rupa billboard iklannya, cukup lihat handphone kita aja deh. Handphone kita, or at least handphone saya, sering diserbu iklan KTA, kartu kredit, pameran-pameran, belum lagi iklan penipuan jual blackberry murah ataupun tiket pesawat murah. Ketika online di handphone pun, pengguna provider Telkomsel dan XL  masih diserbu dengan adpop yang memperlambat browsing *padahal sudah bayar*. Email apalagi, banyak banget website yang tiba-tiba mengirimi kita aneka rupa penawaran untuk belanja. Dari website penerbangan, fashion hingga hotel semuanya rajin ngirimi iklan. Ini belum ditambah dengan iklan TV yang setia menginterupsi kenikmatan nonton *kalau gak dikasih iklan bisa bikin program dari mana dong!*

image

Saya nggak anti iklan juga, karena iklan bisa juga menjadi hiburan, ketika ikan itu kreatif. Cuma saya memutuskan untuk tidak beriklan dalam postingan di blog dan social media, supaya orang nggak mendapatkan perasaan gondok, seperti pas nonton iklan di infotainment. Saya nggak suka perasaan itu.

Postingan-postingan saya yang memuat tentang suatu produk, biasanya ditandai kalau saya bukan buzzer, nggak dibayar, bayar servicenya sendiri (atau dibayari kantor), atau postingan tersebut diikutkan ke sebuah kompetisi. Penandaan ini buat saya penting, supaya orang yang membaca bisa tahu, kira-kira tulisan saya ini jujur dan bias. Bagi saya, nggak beriklan dalam blog ini merupakan bentuk penghargaan terhadap waktu yang sudah diinvestasikan untuk membaca tulisan dan ocehan saya.

Kalaupun di kemudian hari saya memutuskan menerima postingan berbayar, wajib hukumnya buat saya untuk menyatakan bahwa postingan tersebut adalah postingan berbayar. Kalau di koran, biasanya berita tersebut diberi tanda advertorial.

Kalau kamu, mau nggak dibayar untuk beriklan di blog?

Advertisements

28 thoughts on “Tulisan Berbayar di Blog

  1. liat2 dulu deh, gede gak duitnya, hehehehe ….tapi betul juga sih , kl dibayar jd kasih liat yang baik-baiknya aja jadinya ya … terkesan menjadi gak adil

  2. Tergantung product/servicenya apa, harus sesuai dengan identitas aku dan tidak bertentangan dengan prinsip aku. Dan ngga mau keseringan karena menjaga kredibilitas blog dan kreatifitas. Aku rasanya kalo menulis karena pesenan hasilnya ngga memuaskan deh Tje 😉

  3. Mmh, belum terpikirkan tentang hal itu, #aseeek bahasanya wakakakakak 🙂 Aku jarang nge-blog jadi mendingan beli dan bayar barang daganganku saja hehehe.

  4. 😀
    Menarik deh tulisan Ai..
    Aku sendiri terima bayaran dari beebrapa postingan.. biasa aku nggak iklanin produk tp website.. aku buka2 dulu sih sebelum memutuskan terima, dan aku cocokin bisa gak kira2 masuk ama audienceku trus apakah aku “ada ilmu” ttg yg mau aku tulis. Kalo produk sih biasanya nulis karena puas ATAU karena nggak puas banget

      • Ada jg yg udah produknya biasa aja, ngasihnya afgan pula, hrrrh….
        Trus ada yg pas nawarin rupanya emailnya copas aja ke temen2 blogger yg lain, dah gitu namanya salah!

  5. Belum pernah ditawarin untuk bikin tulisan berbayar sih *yah siapalah aku ini :D*
    Tapi dari segi pembaca, kalo liat tulisan di blog favorit yang tau2 belakangnya nyebut nama merk atau event/campaign disponsori merk tertentu, asli rasanya gondok banget. Padahal ya sah2 aja ya, cuma aku aja yang bete sendiri jadinya.
    Begitu pula kalo baca timeline twitter, semakin sering nih, selebtwit yang aku follow awalnya cerita kalo suka banget makan produk X, aku kira beneran cuma cerita taunya ujung2nya muncul hestek promosi produk makanan X itu tadi. Atau ngetwit2 soal menghemat, taunya campaign produk juga. Sungguh malesin. Aku rindu main hestek di twitter jaman dulu yang bener2 cuma buat hiburan/lucu2an aja tanpa misi jadi buzzer di balik isi twit.

    • Iya, emang jadi banyak banget yang melakukan itu. Udah capek-capek baca, tahunya bawahnya iklan. Sisi nggak etisnya menurutku karena menjebak orang untuk baca tanpa ngasih tahu kalau ini iklan dan si penulis dapat bayaran.

  6. Gw sih milih2 bgt juga buat iklan, ga mungkin lah travel blog isinya iklan minyak sayur (serius lho ini beneran ada), atau waktu itu pernah ada sim card Indonesia nawarin iklan di blog, lah gw jg ga tinggal di Indonesia 🙂 Too bad byk blogger yg gelap mata kalau diiming2i rate yang lumayan angka nya dr agency…tp balik lagi, mungkin mereka emang perlu banget jg ya:)

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s