Tukang Pamer

Orang pamer pada dasarnya sah-sah aja, asal hal yang dipamerkan hasil keringatnya sendiri. Tapi sedari kecil, kebanyakan dari kita, dididik untuk sederhana dan nggak perlu pamer-pamer ke orang lain. Selain karena pamer itu berdosa, pamer juga bikin orang lain cemburu & orang cemburu itu membahayakan keselamatan kita.

Hadirnya media social sejak berapa tahun belakangan ini *eh sudah sepuluh tahun lebih kali ya*, mengubah perilaku manusia. Mendadak, kita semua lupa dengan ajaran orang tua untuk menjadi humble dan tidak pamer-pamer. Mereka yang suka pamer jadi bersorak riang gembira karena mendadak punya panggung pertunjukan kekayaannya. Tak hanya menyediakan ruang bagi pencinta pamer, sosial media  juga juga melahirkan tukang-tukang pamer yang baru, saya contohnya. *tutup muka, malu*

Secara nggak sadar saya suka pamer makanan & check-in di restaurant tempat saya makan. Sementara kalau lagi makan mie ayam pinggir jalan, saya nggak pernah check-in. Perilaku pamer makanan ini baru saya sadari sebagai perilaku yang menyebalkan ketika saya berada di luar Indonesia. Selain karena foto itu bikin kepengen (apalagi kalau lagi di negeri orang), foto-foto makanan yang kadang rupanya buruk rupa itu sedikit manfaatnya.  Saya dan banyak orang juga suka pamer foto jalan-jalan, di luar negeri ataupun di dalam negeri. Biar eksis dan bisa pamer kalau udah jalan ke luar negeri.

Orang bilang batasan antara pamer sama berbagi informasi itu tipis banget. Kalau kata saya, ketika postingannya nggak bermanfaat buat orang lain, nggak menghibur dan cuma bikin orang lain cemburu, itu udah mengarah ke pamer. Contohnya: pamer hasil belanjaan yang segambreng di depan menara Eiffel, lebih parah lagi kalau bon belanjaannya dimasukkan social media. Soal harga, ini jadi dilema banget buat blogger seperti saya. Niat hati cuma ngasih referensi orang supaya orang tahu dan bisa memperkirakan anggarannya, tapi di sisi lain disangkain pamer juga.  Tricky!

Bini-bini bule (disclaimer: ini ga semua lho ya, gak usah sensi) tanpa disadari juga ada yang suka pamer, dari yang printilan kecil-kecil macam parfum sampai tas-tas bermerek, koleksi perhiasan bling-bling sampai rumah ataupun mobil mewah milik pasangan. Cara pasang mobilnya kadang suka ajaib, dengan gelempohan macam putri duyung di depan mobil. Kemudian ditulisi mobil yayangku. Seperti saya omongin di atas, pamer  hasil keringat sendiri, atau pasangan itu monggo, silahkan, nggak melanggar hukum dan nggak bikin harm juga. Walau kadang saya suka bertanya, apakah nilai-nilai yang diajarkan orang tua pada jaman dahulu kala itu sudah efektif?

Kadang saya suka bertanya sendiri, apakah pameran yang dilakukan istri bule ini semakin menguatkan pandangan bahwa istri bule dilimpahi banyak uang, apalagi yang dipamerkan barang bagus melulu, tas bagus melulu yang tentunya tak dibeli di mangga dulu sementara yang buruk rupa tak pernah dikeluarkan. Mungkin mbak bule hunter kalau lihat pemandangan seperti ini jadi semakin terpecut untuk menggoogle PIN BB bule dan  mencari bule kaya, kalau perlu suami orang pun direbut. (catatan: hampir tiap hari ada orang menggogle bule kaya, pin BB bule kaya, kawin dengan bule kaya & search term ini muncul di blog saya)

Gak cuma istri bule yang demen pamer, ibu-ibu plat merah*maaf ya, bukannya saya tak mau inclusive, tapi postingan saya memang lebih sering melihat dari kacamata perempuan, walaupun sejujurnya bapak-bapak juga rajin pamer kok* juga demen banget pameran. Eh halo…kalau kerjanya dibayar oleh taxpayer money, ada nggak ngeri tuh pamer-pamer di social media? Ntar ada yang iseng angkat telpon dan laporan ke KPK gimana? Berabe kalau sampai jadi kartun di sebuah majalah dan dianalisa belanjaannya dari ujung rambut sampai ujung kepala, pakai price tag pula. Kayak si Ratu dari Barat Jawa itu.

Pada intinya, pamer pencapaian dalam sebuah hidup itu sah-sah aja. Tapi kalau pamer ati-ati, jangan sampai bikin orang jadi dengki atau malah nanya kabar untuk pinjam uang #eh. Akan lebih menyenangkan kalau kita pamer di sosial media hal-hal yang bikin orang seneng dan bermanfaat. Tapi itulah nature social media dan manusia, kita hanya mau menunjukkan yang bagus dan  menutupi yang kurang bagus.

Buat yang sering lihat temennya pamer di social media, nggak usah iri, ingatlah kalau hidup gak segampang pamer foto di fesbuk. Jadi kalau ada yang pamer, ga usah terbuai, tapi semangat kerjalah. Kerja keraslah biar duitnya banyak. Kalau gak mau capek ya cari bule yang kaya raya *lho* atau cari anak pejabat kaya yang belum ketangkap KPK.

Ratu pamer favoritku Syahrini, siapa ratu pamer favoritmu?

Syahrini

Baca juga Kebablasan Berbagi di Sosmed.

Banyak Anak Tak Selamanya Banyak Rejeki

Orang Indonesia percaya bahwa banyak anak, banyak rejeki; atau anak akan membawa rejekinya masing-masing. Kalimat-kalimat tersebut kemudian menjadi justifikasi untuk punya banyak anak. Bagi saya yang bukan penganut aliran-aliran di atas, rejeki nggak tiba-tiba datang karena punya anak, semuanya harus diusahakan dan yang paling penting : banyak anak tak selamanya banyak rejeki.

Dari manakah asal usul banyak anak banyak rejeki?

Di Indonesia, membeli asuransi ataupun membeli rencana pensiun bukanlah hal yang wajar. Bagi kebanyakan orang, hanya bekerja menjadi PNS-lah yang menjamin hari tua. Makanya banyak orang berlomba-lomba jadi PNS, supaya dapat pensiun. Padahal kalau mau, mereka bisa bekerja keras di masa muda untuk membeli pensiun plan dan berleha-leha di masa tua.

Urusan asuransi juga begitu, banyak orang Indonesia yang belum sadar untuk membeli asuransi. Biasanya mereka beralasan untuk makan saja susah kok mau buang-buang uang untuk perusahaan asuransi. Urusan sakit lazimnya dipikirkan belakangan, ketika sudah kejadian. Bukan si sakit yang memikirkan, tapi keluarga besarnya yang kemudian harus gotong royong bayar ongkos rumah sakit.

Konsep kekerabatan yang besar dan tolong-menolong dalam lingkungan keluarga inilah yang kemudian dipercaya memunculkan anggapan banyak anak banyak rejeki (banyak anak banyak yang gotong royong kan?). Konsep ini selain sukses bikin penduduk membludak juga bikin kerjanya orang asuransi susah, karena semua orang bergantung pada anggota keluarganya. Secara teori, ketika anaknya banyak, sukses dan berpenghasilan cukup, tentunya rejeki orang tua akan banyak. Tapi, masih relevankah teori ini?

Punya anak dijaman ini bukanlah hal yang murah. Emang bener ketika anak bayi lahir cuma perlu susu dari ibunya. Tapi ada komponen biaya lain yang kalau digabungkan jumlahnya akan fantasis, dari biaya persalinan, popok, baju (karena anak cepat besar),  hingga gaji staf domestik untuk merawat anak. Ini belum termasuk biaya kesehatan dan biaya pendidikan lho! Di kota besar seperti Jakarta, biaya pendidikan yang baik itu sebulannya bisa buat beli berlian setengah sampai satu karat. Ini ongkos bulanan lho ya, belum termasuk ongkos antar jemput, jajan, seragam, ataupun rekreasi. Sekolah di Indonesia itu mahal banget.

Makanya buat saya, konsep banyak anak banyak rejeki itu sudah nggak relevan lagi. Yang ada, banyak anak banyak rejeki buat toko peralatan bayi, rumah sakit bersalin, dokter, sekolah, perusahaan jasa penyalur pekerja rumah tangga, bukan buat orang tua. Walaupun tak bisa dipungkiri anak-anak memberikan kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan uang. Banyak anak banyak rejeki mungkin cuma berlaku di negara-negara yang penduduknya rendah sehingga ketika bayi lahir negara memberikan dana yang jumlahnya lumayan.

Tanpa mengurangi peran pria, perempuan punya peran besar dalam memutus konsep banyak anak banyak rejeki ini. Yang hamil perempuan, yang ngatur keuangan rumah tangga juga kebanyakan perempuan dan yang memasang atau menelan kontrasepsi itu perempuan; maka, kalau disuruh beranak banyak, pikirkan dengan baik-baik. Bukan berarti tak boleh (your body, your rule), tapi pertimbangkan juga penghasilan. Cukupkah penghasilan berdua untuk membayar sekolah yang bagus, membeli asuransi yang bagus? Kalau anaknya bisa dimasukkan ke sekolah bagus, kenapa harus beranak banyak dan  masuk sekolah biasa-biasa saja?

Tiap-tiap orang punya cara dalam merencanakan hidupnya. Ada yang langsung punya anak tanpa membuat perencanaan keuangan, ada juga yang nabung dulu supaya bisa punya anak tanpa mengorbankan hobi belanjanya. Semuanya pilihan individu masing-masing. Apapun keputusannya, bertanggunjawablah atas keputusanmu, pada anak-anakmu. Satu lagi, sebelum punya anak pastikan punya asuransi kesehatan dan pension, jangan gantungkan dua hal itu pada mereka.

lorraine

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam blogiversarrynya Chez Lorraine. Mbak Lorraine, atau yang biasa dipanggil mbak Yoyen, merayakan ulang tahun blognya yang kesepuluh. Silahkan tengok disini kalau ingin ikutan meramaikan, siapa tahu kecipratan hadiah.

Kenapa saya harus dipilih jadi pemenang? Selain karena tulisan ini memenuhi semua persyaratan, tema tulisan ini saya pikirkan selama dua minggu *serius bener kan* karena buat saya sepuluh tahun anniversary blog itu serius. Dalam sepuluh tahun pastinya banyak dampak positif terhadap pada cara pandang orang lain. Tulisan pendek ini layak menang karena dalam tulisan ini ada harapan supaya perempuan di Indonesia bisa berpikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu yang akan merubah tubuhnya dan hidupnya. *tetep serius*

Happy blogiversarry Mbak Yoyen !

 Xoxo

Ailtje

Keliling Harlem dengan Jukung

Begitu keluar dari Jayapura, kami langsung paham kenapa sang pengemudi meminta biaya 800ribu rupiah untuk mengantar kami ke dermaga di Distrik Depapre. Perjalanan yang harusnya dua jam pun molor jadi tiga jam karena jalan berlubang serta jembatang ambruk. Sungguhlah, Kabupaten Jayapura masih perlu perbaikan infrastruktur.

Kapal untuk mengantarkan ke Harlem dapat dengan mudah ditemukan di Dermaga Depapre. Kami dikenakan biaya 350ribu rupiah untuk antar jemput. Kali ini, kami tak mau menawar lagi.  Kapal yang mengantarkan kami kapal berbahan viber, bermesin 40 pk, dan tak dilengkapi dengan safety vest. Selama menuju pantai saya komat-kami berdoa supaya nggak nyemplung ; ini gara-gara beberapa hari sebelum kami ke Harlem rombongan polisi yang lagi mancing di Sulawesi kapalnya terbalik dan mereka terkatung-katung selama beberapa jam.

Jarak tempuh menuju pantai cantik ini ternyata hanya 15 menit saja. Dari kejauhan saya sudah bisa melihat pasir super putih. Garis pantainya pun tak panjang dan bisa disusuri dalam jangka waktu beberapa menit saja. Soal kebersihan, pantai ini masih relatif bersih, walaupun di beberapa sudut sudah ditemukan sampah. 

Harlem

Sayangnya, baju renang ketinggalan, begitu juga dengan celana pendek. Sebagai orang Indonesia asli saya pun cuek aja masuk air dengan pakaian lengkap. Hari itu, di sisi pantai yang lain ada rombongan yang snorkeling ber-banana boat. Entah dari mana datangnya banana boat tersebut.

Miyeki dan teman-temannya

Lagi ngelamun di pinggir pantai, tiba-tiba dari kejauhan muncul dua jukung yang dikemudikan *apa sih kata kerjanya yang tepat?* anak-anak kecil, termasuk seorang anak TK. Mereka kemudian menepi dan bermain di pantai Harlem. Kesempatan bergaul dengan masyarakat lokal tak disia-siakan dan teman saya (yang tak mau basah karena lupa peralatan renang) sukses merayu Miyeki, seorang murid kelas empat SD yang baru pulang sekolah untuk mengantar kami berkeliling pantai dengan jukungnya.

Kata Miyeki, boleh saja berkeliling, tapi bayar. Ketika ditanya berapa, ia menjawab seratus ribu. Kami pun mengiyakan saja, walaupun ini namanya mempekerjakan anak di bawah umur. Ah setidaknya dia sudah pulang sekolah. Btw, pengemudi kami ngomel-ngomel karena kami ‘merusak harga pasar’. Keputusan kami untuk merusak harga pasar ternyata sangat tepat dan membuat kami terenyuh;  si bocah berkata: Uangnya untuk Bapa’. Sang Bapa’ bekerja sebagai nelayan.

Dibawalah kami mengelilingi Harlem naik jukung yang super kecil, tapi ternyata pas untuk pantat saya (I am not that big eh?). Miyeki juga menunjukkan kampungnya, serta memperkenalkan saya pada seekor anjing yang bisa berenang di laut. Dia juga berceloteh tentang ular besar yang ditemuinya di dalam laut. Ular ini yang bikin dia minggir ke pantai, karena dia ketakutan. Terimakasih ular!

Bahasa menjadi kendala buat saya, kami sama-sama berbicara bahasa Indonesia, bahkan saya  mencoba berbica Indonesia lurus, tanpa aksen dan dengan pemilihan kata yang resmi.  Bahkan saya mencoba keras untuk berdiskusi tentang bola, walaupun saya gak tahu apa-apa tentang bola. Hasilnya, tetap komunikasi kami nggak nyambung. Ternyata tak mudah berkomunikasi dengan Miyeki.

Miyeki

Di tengah laut si Miyeki berkata kalau dia sudah loyo. Dengan instruksi Miyeki pun saya dan teman pun bergantian mendayung. Bukannya ke tengah, kami malah semakin ke pinggir. Dududududu….anak kota kompetensinya beda dengan anak laut. Perjalanan kami memang jadi lebih menarik karena interaksi kami dengan Miyeki dan teman-temannya, walaupun mereka malu-malu dan bahasa kami sering nggak nyambung.

Ailsa in Jayapura

Memori harlem beach kemudian disempunakan dengan teriak nenek-nenek minta uang, bukan kepada kami sih, tapi kepada orang lain. Fenomena ini emang terjadi dimana-mana di Papua; tapi ya harap dipahami saja, mereka meminta karena mereka tak kebagian gula-gula pembangunan. Sementara harga pinang juga tak murah. Sebelum meninggalkan pulau itu, kami memberikan uang buat si nenek itu. Nggak wajib sih, tapi begitulah adatnya disana. Tak lupa saya bawa kembali sampahnya karena saya tak ingin pantai cantik ini dikotori sampah.

20140524_130030

 

Selamat berakhir pekan kawan, semoga weekend kalian seindah pantai ini!

Dikejar Oom-Oom di Pantai Base G

Pantai Base G konon merupakan salah satu pantai yang bayak disukai dan mudah diakses karena lokasinya tak jauh dari tengah kota. Selain terkenal karena keindahannya, pantai ini juga terkenal karena kemahalannya. Masuk ke lokasi pantai bayar sepuluh ribu, parkir kendaraan bayar lima puluh ribu, duduk di salah satu balai-balainya bayar – konon hingga dua ratus ribu, bahkan ada guyonan, sewa tikar bayar, nanti menggelar tikar sewaannya pun harus bayar.

 Senja di Base G

Kami tak berencana untuk duduk lama-lama di pantai itu, karena males dengan urusan bayar-membayarnya. Mobil sewaan kami tinggalkan dalam keadaan hidup, bersebelahan dengan mobil yaris warna merah. Baru juga kami meninggalkan mobil, kami sudah diteriaki dengan galak Bapak parkir. Mendadak, Oom-oom di mobil Yaris merah mengatakan pada pengemudi kami, dia yang akan atur semuanya. Melengganglah kami, tanpa prasangka apa-apa. Sementara bapak tukang parkir dipanggil Oom-oom dalam mobil, dan entah bagaimana, tiba-tiba si bapak yang galak itu tersenyum-senyum sambil menggangguk-angguk.

Konon pantai ini digunakan latihan lari pemain Persipura. Pasirnya bikin terjerembab kalau jalan kaki, lha jalan aja susah kok lari..

Ailsa in base G

Seperti di banyak tempat di Jayapura, pantai ini juga diwarnai oleh bekas ludah berwarna merah. Tak hanya itu, sampah pun merusak keindahan pantai ini. Sungguh disayangkan.

sampah di Base G

photo milik penulis

Nggak sampai sejam, kami pun kembali ke kendaraan. Masuk mobil, semuanya masih aman-aman. Begitu beranjak meninggalkan area parkir, pengemudi kami tiba-tiba memencet klakson dan melambai pada si mobil merah. Tiba-tiba mobil merah pun mengikuti kendaraan kami, mengejar rupanya. Eh maaf ya yang ngebayangin kejar-kejaran ala film India, kejar-kejarannya gak seheboh itu. Hadeuh, jadilah kami nyuruh si pengemudi untuk ngebut dan untungnya kami berhasil menghindari kejaran Oom-oom yang ternyata mabuk.

Kata pengemudi kami, orang-orang yang naik Yaris di Jayapura itu gaya doang, karena dengan struktrur berbukit gitu, mobil sedan nggak cocok. Biasanya mereka yang pakai sedan adalah pejabat yang gaya-gayaan doang. Baiklah, dicatat: kami dikejar Oom-oom dengan mobil merah yang mabuk dan gaya-gayaan doang. Tak apalah dikejar, nggak ketangkep juga, dan yang paling penting, kami gak bayar parkir di pantai base G. Lima puluh ribu bow!

Selain ke pantai base G, kami juga pergi ke Pantai Harlem; ini pantai tenang dan masih jarang terjamah. . Cerita tentang Harlem akan saya susulkan pada postingan berikutnya yah. Saya kasih intip bintang utama dari perjalanan saya di Harlem kemarin ya, Miyeki dan kapal kecilnya:

Miyeki Harlem

 

 

Gado-Gado dari Jayapura

Saya ingat di acara Skyscanner Dodid Wijanarko, seorang pembuat film dokumenter, pernah bilang bahwa pantai dari ujung barat Papua sampai ujung timur Papua itu sama aja, yang membedakan itu orang-orangnya. Jadi, sebelum saya menuliskan pengalaman dikejar Oom-oom di pantai di Papua, ijinkan saya (duile bahasanya, kalau gak diijinin gimana?) untuk bertutur sekilas tentang Papua dan orang Papua. Beberapa hal random tentang Papua ini saya kumpulkan dari berbincang dengan seorang Antropolog, masyarakat yang saya temui selama beberapa hari di sana dan dari mengobservasi. Silahkan mengkoreksi jika ada yang salah, tapi koreksinya yang sopan ya.

Menjadi PNS

Orang Papua, kata Pak Gubernur termarginalisasi di tanahnya sendiri, perdagangan banyak dikuasai oleh pendatang dari Makassar, Ambon, ataupun Jawa. Soal pertambangan apalagi, tapi gak usah dibahas deh ya. Menariknya, orang pendatang, terutama generasi kedua yang lahir dan besar di Papua, juga banyak yang merasa terdiskriminasi. Mereka tak punya ikatan dengan tempat asal orang tuanya, tapi di tempat mereka lahir dan besar, mereka tak dianggap sebagai putra daerah. Alhasil, timbul kesulitan mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintahan, alias menjadi PNS, karena orang Papua lebih diprioritaskan. Kalau gak diprioritaskan, apa mereka gak tambah terdiskriminasi?

Prostitusi dan HIV/AIDS

Saya emang agak ajaib, tiap kali mengunjungi suatu tempat selalu ingin tahu apakah ada tempat prostitusi. Lokasi prostitusi di Papua bersebelahan dengan danau Sentani yang cantik. Disini, penggunaan kondom wajib 100%. HIV/AIDS di Papua itu memang paling tinggi di negeri ini, jadi tak heran kalau kondom hukumnya wajib. Para pekerja seksual disini didatangkan dari luar Papua, termasuk Sulawesi, Jawa, bahkan ada yang dari Malang.

100% kondom

Ngomong-ngomong tentang HIV/AIDS ada satu project photo yang dikerjakan oleh Adrian Tambunan, judulnya Against All Odd. Saya kebetulan punya bukunya, buku photo tersebut merekam photo-photo tentang orang Papua dan HIV/AIDS. Sumpah bakalan nangis ngeliat photo-photo tersebut, karena bener-bener menyayat hati (saya emang cengeng).

Orang asli Papua

Saya inget banget jaman saya getol belajar Antropolog (bahkan bela-belain beli bukunya Koentjoroningrat & jadi satu-satunya murid yang punya buku ini), kalau suku bangsa orang Papua itu beda dari orang Afrika. Suku bangsa mereka adalah Melanesia.  Saking senengnya, dulu saya bahkan njelimet ngapalin aneka rupa upacara, yang saya ingat, di salah satu wilayah Papua, ada proses penguburan/ pembakaran mayat dimana posisi jenazah diposisikan seperti posisi bayi dalam rahim. Guru Antropologi saya, Ibu Anoek, bilang: datang dan berpulang dalam posisi yang sama.

Di Papua sendiri ada 250 suku bangsa di Papua dan mereka dipisahkan dalam enam wilayah adat. Bahasa adat suku yang satu dengan suku yang lain juga berbeda, tetanggaan pun bisa berbeda bahasa. Makanya mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, kendati tak semuanya bisa berbahasa Indonesia.

sebaran wilayah dan bahasa

Hayo dimanakah orang pohon itu berdiam?

Dua suku katanya mendapatkan benefit langsung dari Freeport, Kamoro dan Amungme. Kalau saya tak salah mengingat selain Kamoro dan Amungme ada beberapa suku lain yang mendapatkan benefit. Katanya lho ini, kebenarannya nggak tahu. Btw, sekelumit cerita tentang Kamoro dan tifa bisa dibaca disini.

Masih menurut sang Antropolog, orang Papua, punya kepercayaan bahwa suatu hari orang kulit putih akan datang membawa kebahagiaan, makanya misionaris diterima dengan baik oleh mereka. Tapi saya lupa nanya, suku yang mana yang punya mitologi ini, karena Rockefeller yang berkulit putih pun mati di tanah Papua.

Menariknya, orang Papua gak kenal koteka, bagi orang Papua, penutup penis itu disebut sebagai honim. Saya membeli sebuah honim, yang ternyata labu yang dikeringkan, harganya 80 ribu untuk yang besar dan sekitar 60 ribu untuk ukuran kecil. Konon besar atau kecil, panjang atau pendek tidaklah melambangkan sesuatu.

Entah oleh siapa, di Papua orang-orang juga dipisahkan menjadi orang pantai dan orang gunung. Konon orang pantai lebih ramah ketimbang orang gunung. Orang gunung katanya kakinya lebar, entah apa maksudnya, dan temperamental. Ini pelabelan yang bagi saya terdengar tidak baik. Buat saya, mereka terlihat sama, sama-sama orang Papua dan sama-sama orang Indonesia. Oh ya, orang Papua menurut saya sangatlah ramah, karena orang yang tidak kita kenal pun menyapa “Selamat Sore, Selamat Siang” dan ini gak cuma anak-anak kecil lho, tapi juga orang dewasa.

Di Papua, tradisi mengunyah pinang masih merupakan bagian dari keseharian masyarakat. Pedagangnya bisa ditemukan dimana-mana, begitu juga dengan liur merahnya. Liur ini menempel dimana-mana, bahkan di pantai. Jorok banget ya dan sedihnya, warna ini tampak tak bisa hilang. Yang ngunyah pinang nggak cuma orang tua lho, anak-anak muda juga ngunyah pinang. Padahal ngunyah pinang itu ternyata berisiko bikin kanker mulut dan juga jadi media penyebaran TBC.

Jayapura

Oh ya ada yang lucu, pejabat-pejabat di Jayapura itu rumahnya di kawasan Angkasapura, tapi wilayah ini lebih sering disebut Angkasa. Pejabat tinggal di angkasa, jadi ya jangan heran kalau susah banget ngeraih mereka.

Mahal

Kendati harga bensin di Jayapura sama dengan harga di Jakarta, beberapa hal, terutama pakaian dan makanan masihlah mahal. Katanya kemahalan ini karena semua barang dikirim dari luar Jayapura, termasuk beras. Lha terus apa yang diproduksi di Jayapura?

Mahal itu mungkin juga disebabkan karena struktur Kota Jayapura yang berbukit-bukit dan infrastrukrur yang begitulah. Bandaranya ada di atas, dekat danau Sentani, sementara kota Jayapuranya di pinggir laut. Kontur tanahnya rawan longsor (ya karena berbukit-bukit), konon, kalau mau bikin jalan, bukit-bukit itu harus di bom dulu. Nggak heranlah kalau apa-apa mahal, saking mahalnya taksi dari bandara ke Hotel aja lima ratus ribu rupiah. Hadeuh…..Tapi, biarpun jalanannya naik turun, bahkan ada tanjakan yang kira-kira 50 derajat, orang-orang Jayapura saya lihat semangat lari sore-sore. Demi apa lari-lari di bukit, itu dengkul apa nggak sakit ?

Kelakuan Ajaib Teman Satu Kamar

Konsep berbagi kamar, baik di hostel ataupun di hotel (dengan orang yang kita kenal), merupakan salah satu cara untuk menekan biaya perjalanan. Selain buat menghemat, berbagi kamar kadang juga terjadi ketika kita dipaksa harus berkenalan dan bersosialisasi dengan orang lain, contohnya ketika ikutan training ataupun ikut jalan-jalan gratisan.

Ailsa_Gary_WeddingDay_Bali_Inpairspho-0005

Kelakuan orang ketika berbagi kamar macam-macam, ada yang kocak tapi ada juga yang nggak banget. Beberapa kelakuan ajaib yang sudah saya perhatikan sejak beberapa tahun belakangan ini antara lain:

1)      Tukang kentut

Sejujurnya ini saya banget, kalau berbagi kamar suka gak berperasaan sama orang di sebelah dan mulai orkes angin perut. Tapi, kentut kenceng ini baru kejadian kalau saya kenal cukup baik dengan “korban” saya. Kalau calon “korban” kentut ini adalah orang yang senior atau belum saya kenal dengan baik nggak bakalan berani saya kentuti.

2)      Tidur nggak pakai baju

Ternyata ada orang-orang tertentu yang setelah mandi males pakai baju dan langsung loncat ke tempat tidur tanpa sehelai benang. Nggak mandi pun tidurnya tetep tanpa baju. Herannya, mereka nyaman-nyaman aja walaupun rekan satu kamarnya salah tingkah. Yang saya nggak habis pikir, kalau ada gempa bumi, mereka bakalan langsung lari atau repot cari baju dulu ya?

 3)      Jalan-jalan di kamar dengan underwear

Berbeda dengan nomor dua, orang-orang ini masih lebih tertutup. Kalau saya sih cuek aja selama bagian vital tubuh tertutup, tapi  ada orang yang risih kalau ngelihat rekan sekamarnya cuma pakai underwear, mondar-mandir di dalam kamar, apalagi kalau underwearnya robek….

 4)      Berantakin kamar dan kamar mandi

Ini orang yang paling menyebalkan seantero jagat. Pakaiannya berserakan dimana-mana, sepatunya ditaruh sembarangan, satu di timur, satu di selatan. Yang kebagian sama orang kayak gini alamat sengsara deh. Lebih nyebelin lagi kalau orang ini makai kamar mandi duluan, mandinya pun lama dan sukses bikin kamar mandi banjir gak karu-karuan. Tak cukup dengan membanjiri kamar mandi, toilet pun juga ikut dimandikan. Kenapa sih merasa perlu untuk memandikan toilet? Alamat, pengguna kamar mandi selanjutnya harus berkutat dengan toilet basah dan kamar mandi banjir.

5)      Tukang Sapu Bersih

Nah kalau ini kolektor toiletries hotel, begitu masuk kamar hotel langsung memasukkan seluruh shampoo, sabun, sikat gigi dan semua barang gratisan dalam hotel ke dalam tasnya. Prinsipnya, semua yang gratis harus dibawa pulang dan lupakan saja jika orang di sebelah butuh sabun. Yang berbagi kamar alamat sengsara karena mau cuci tangan nggak ada sabun, apalagi mau mandi.

Saking parahnya, shower cap aja hilang, seiring dengan hilangnya sandal hotel. Padahal, kalau dipikir-pikir, sabun hotel itu nggak bikin tangan halus, harganya pun tak seberapa, kecuali nginepnya di hotel yang pakai toiletries bagus. Berabenya kalau tukang sapu bersih ini nekat memasukkan handuk ke dalam koper, alamat ikutan jadi tertuduh ketika check out. Btw, ngambil-ngambilin toileteries ini boleh-boleh aja, tapi kalau bisa tanya dulu sama temen sekamar, jangan sampia temen sekamarnya mandi pakai air aja tanpa sabun (pengalaman pribadi bow).

 6)      Ganjal Pintu

Nah ini yang paling unik dan baru saya temukan. Rekan kamar ini ketika mau tidur sibuk memindahkan meja ataupun kursi untuk mengganjal pintu kamar. Padahal, pintu kamar hotel sudah ada pengamannya. Buat saya, aksi yang merepotkan dan memberatkan ini lucu dan ajaib. Rupanya rekan sekamar saya ini takut kalau ada orang asing yang masuk ke dalam kamar. Salah satu orang terdekatnya sukses kehilangan handphone yang diletakkan di dekat kepala dan pencurian terjadi dengan tenang tanpa keberisikan apa-apa.

Jadi, pengganjalan pintu ini dilakukan supaya jika ada orang asing, akan terjadi keributan antara pintu dan meja atau kursi. Harapannya sih biar orang yang di dalam bangun. Eh tapi kalau bangung terus mau ngapain? Aduh ngeri banget. Terus, kalau ada gempa bumi atau kebakaran gimana dong? Harus gotong-gotong dulu biar bisa keluar dari dalam kamar.

Kalau kamu, kelakukan ajaib apa yang pernah kamu temukan ketika berbagi kamar?

Bagasiku Hilang di Jayapura

Dari Palu, saya terbang ke Makassar untuk transit selama kurang dari 12 jam dan dilanjutkan ke tujuan akhir: Jayapura. Rupanya, pesawat kami mampir dulu di Timika. Entah mengapa turun di bandara di Timika saya merasakan ketegangan. Pengamanan cukup ketat dan orang-orangnya tak bermuka ramah. Bandara Timika sendiri rupanya seperti kantor Freeport, karena dipenuhi tulisan Freeport dimana-mana, dari bis yang menjemput kami hingga ruang tunggu.

20140521_084211

Timika from the top

Menariknya, toilet di bandara, sama seperti toilet di kantor saya, menawarkan kondom gratis. Biar gratisan, stok kondomnya juga terlihat menumpuk. Wajar saja kondom mudah didapat di Papua, karena pertumbuhan HIV/AIDS disana tertinggi di seluruh Nusantara. Soal kebersihan, toilet di Timika luar biasa bersihnya, lebih bersih daripada toilet di bandara Jakarta. Btw, saya ngantri lama di toilet cuma buat mengambil dua foto ini:

Kondom dan Toilet

Duh segitunya ya kita sampai mesti diajarin cara duduk di toilet?

Destinasi akhir kami, Jayapura ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Sampai di bandara, kami disambut pemandangan burung-burung yang mati kaku di luar jendela ruang tunggu. Entah mengapa. Sama seperti di Timika, hal pertama yang saya lihat adalah toiletnya. Dimana tempat emang saya selalu menyempatkan mampir ke toilet karena toilet, bagi saya, adalah secuil gambaran tentang kualitas orang-orang di suatu wilayah. Kualitas kebersihan tentunya.

Toilet di bandara Jayapura sejauh ini mengalahkan kualitas toilet di bandara Aceh pasca tsunami. Mengalahkan lho, artinya juara jeleknya. Langit-langitnya berlubang, pintunya tanpa kunci, banjir dimana-mana. Lampunya, ya temaram nggak karuan, wong langit-langit buat naruh lampu aja ambrol. Soal kebersihan ya jauh banget dari kata higienis. Jadi ini bandara dana perawatannya kemana saja?

Rupanya, terkejut melihat toilet buruk rupa belumlah cukup. Garuda Indonesia dan Angkasa Pura berbaik hati memberi saya kejutan indah: bagasi sukses ditinggalkan di Makassar. Begitu melihat saya masih menungu bagasi, petugas bandara di Jayapura dengan coolnya menggiring saya ke ruang lost and found. Nampaknya, petugas di Jayapura sudah BIASA menangani penumpang yang bagasinya tak muncul. Kalau kata mereka: “Memang biasa petugas bandara di Makassar itu begini”. Parahnya, petugas di bandara Makassar juga tak punya itikad menaikkan bagasi saya ke penerbangan lain yang ke Jayapura.

Prosedur pelaporan bagasi hilang sangatlah sederhana, copy tag bagasi saya diambil oleh pihak bandara dan diganti dengan selembar bukti laporan berwarna pink. Berapa ganti rugi yang diberikan atas kelalaian ini? NOL rupiah saja saudara-saudara.

Hasil google saya menunjukkan kalau Pemerintah meregulasi bahwa penumpang yang menunggu bagasi yang tak muncul selama maksimal tiga hari berhak atas uang tunggu 200.000 per hari. Yes, you read it right, 200 ribu rupiah saja sehari selama maksimal tiga hari. Bagasi sendiri baru dianggap hilang setelah empat belas hari. Jadi, kalau apes bagasi nggak muncul, dari hari ke empat sampai hari ke empat belas, silahkan gigit jari tanpa kompensasi apa-apa. Entah siapa yang bikin peraturan ini, yang jelas, di Jayapura dengan uang segitu beli dalaman saja nggak cukup.

Entah aturan dari mana, bagasi saya bisa diantarkan ke hotel tapi saya tak berhak mendapatkan uang tunggu. Padahal, bukan pihak Garuda, apalagi pihak bandara yang mengantarkan bagasi saya, tapi bagasi saya dititipkan kepada petugas hotel tempat saya menginap. Petugas hotel ini rupanya secara rutin menjemput pramugari dan pilot Garuda di bandara. Jadi, kemana hak saya atas uang tunggu tersebut? Ya begitulah hak penumpang di negeri ini, nggak dihargai.

20140522_092334

Bagasi saya akhirnya kembali satu hari setelah saya tiba. Kondisinya tak bisa dibilang baik-baik saja, karena koper saya mendadak jadi lengket dan bermandikan gula. Untungnya (masih bisa bilang untung), koper saya tak dibongkar dan tak ada satupun barang yang hilang.

Apa pelajaran berharga dari semua drama ini? Belilah asuransi perjalanan supaya nggak kaget-kaget amat kalau harus mendadak keluar uang untuk beli baju. Apalagi, pakaian di Jayapura itu ternyata nggak murah dan pilihannya terbatas.