Melihat Mall dari Kacamata Nyinyir

Dari Juni hingga Agustus saya direpotkan dengan pekerjaan dan beberapa perjalanan dinas, lalu September lalu saya pulang kampung ke Irlandia. Bukan pamer, tapi segitu sibuknya saya, sampai jarang menjejak di Mall-mall Jakarta. Seingat saya, saya hanya menjejak beberapa kali di Plaza Senayan dan PP untuk Makan siang.

Idul Adha kemaren, saya menjenguk Grand Indonesia. Setelah beberapa bulan tak ke mall, masuk ke dalam mall saya seperti orang kampung  yang kaget melihat manusia tumpah ruah ke dalam mall; coffee shop penuh dengan orang nongkrong dan laptop mereka, sementara toko-toko dipenuhi pemburu discount. Kesempatan ini tentu saja tak disia-siakan oleh penjaja kartu kredit yang siap memangsa si lengah.

Grand_Indonesia_copie

Foto Grand Indonesia milik Nyarinyari.com

Banyak hal yang berubah, tapi lebih banyak yang tak berubah. Pengemudi, sekalipun di mall terkenal, masih tetep tolol dan gak bisa berhenti kalau ada orang menyeberang. Sore itu saya sukses mengumpat pada seorang ibu-ibu yang tetap menginjak gas ketika saya menyeberangi dari satu mall ke mall yang lain. Tak seperti mbak yang pernah saya tulis disini, saya menyeberang di zebra cross lho. Mobil bagus memang tak menjamin tata krama di jalan.

Kereta dorong bayi masih juga dipenuhi dengan hasil belanjaan, sementara anak-anak kecil berlari kejar-kejaran dengan pengasuhnya yang memakai seragam pink, putih atau biru. Ibu-ibu masih suka ngasal kalau naruh stoller. Mungkin ibu-ibu itu tak mengira bahwa strollernya menghalangi orang-orang yang lewat, mungkin juga ia berpikir semua orang di dunia setipis kertas, jadi bisa lewat!

Jika di pesawat pramugari menginformasikan lokasi pintu keluar darurat, restaurant yang saya kunjungi menginformasikan lokasi colokan dan password wifi. Soal harga, masih tetap mahal. Saya harus merogoh kocek hampir dua Euro untuk sebotol air, air yang disebut sebagai air mineral, padahal tak ada kata-kata mineral di botol plastic itu. Apa sih yang bikin restaurant di Jakarta mahalnya ngalah-ngalahin Dublin? Internet kalah cepet, gaji pegawai tak semahal Dublin, bahan makanan pun lebih murah atau sama dengan Dublin. Pajak ? Saya  yakin pajak di Indonesia jauh lebih murah ketimbang pajak di Irlandia yang mencekik.

Herannya, pegawai toko masih juga suka ngintilin calon pembeli keliling toko. Sungguh kebiasaan yang saya tak pahami. Kenapa sih mereka tak investasi pada CCTV saja? Soal keramahan, pegawai- pegawai barang mahal saya perhatikan masih tetap kurang ramah jika ditanya. Beda banget dengan penjaga toko di Dublin yang tetap ramah kepada siapapun. Mungkinkah ini karena saya bermake-up tipis dan natural? (Baca juga: Diskriminasi di Negeri Sendiri)

Tak heran kalau mayoritas pengunjung mall dandan habis-habisan, bahkan lebih cantik dari pengantin (alias: menor abis). Rambut model sarang lebah masih tetap ngetrend, tas bermerek juga masih banyak berseliweran, entah asli entah KW. Pengguna sepatu hak tinggi yang terseok-seok di dalam mall juga masih banyak. Duh beli sepatu yang mahal dikit napa sih, biar nggak sakit. Mall juga tak memberikan banyak pilihan pada yang kelelahan untuk duduk tanpa merogoh kocek. Rasanya, cuma Lotte Avenue yang berbaik hati meletakkan banyak bangku di dalam mall.

Dari jendela saya pun menengok para pegawai mall yang berseragam, duduk berderet di trotoar sembari menikmati kopi seduhan abang-abang ‘star – bike’. Oh warna-warninya Jakartaku.

Xx,
Tjetje (lagi nyinyir)
Advertisements

46 thoughts on “Melihat Mall dari Kacamata Nyinyir

  1. Hahahaha….
    Iyah banget emang mbak2 di buyik suka memandang sebelah mata kalo dandanan customernya kurang keren.. dan mall di Jakarta aroma hedonnya abis2an ya hahahaha

  2. Sama disini. Tiap ke mall di Jakarta jadi sosiolog dadakan; mulai dari observasi dandanan, kelakuan orang sampe level harga makanan/minuman yang sama seperti di Belanda padahal Rp nilainya beda sama € 🙂

  3. “Leave me alone” mode on kl di toko2..sigh! Jkt seringnya jd tempat transit aja,ketemu keluarga bentar terus get a real hols somewhere in d island, biasanya temen2 pd ngikut rame2 jg. Gw lbh suka kyk gini. Males ngeliat posers2 di ibukota though it s my kota kelahiran.

  4. hahaha aku udah jarang ke Mall sekarang AI, paling kalo perlu aja. Pertama aku males jalan2 karena buntut2nya aku jadi pengen belanja, kedua emang aku orangnya gak terlalu suka window shopping, jadi biasanya ke mall yah untuk keperluan2 aja. Nonton, makan atau emang belanja. cuman emang sih sejak sekali ke US kemaren, aku bisa ngerti Matt sebel banget kalau dikintilin orang

    • Samaan sama Mbak Noni, kecuali bagian ke US-nya, hehehe.. Ke Mal (seringnya yg di bekasi) cm pas butuh aja, klo sendirian bisa tuh cm stgh jam dan males bgt klo ke mal di jkt, setengah jam bs cm utk parkir ajah.. Tapi klo kumpul temen, pd sukanya di Mal. Utk bayar makan/minum mahal aku rela, tp utk bayar parkirnya gak rela.. Hikss..

  5. Pas banget aku baru dari kokas td mba…
    Ya ampunn kaget saking lamanya ga kedaerah peradaban sana (nasib tinggal di jkt pinggiran) kaget ternyata didaerah kuningan aja udah ada 3 or 4 mall baru…. kokas, kuncit, lotte shopping avenue…ahhhh ampun dah! Dan semuanya dikunjungi. Apalagi kalo ada resto/tmpt nongkrong yg lg happening… antriii deh. Duitnya boleh metik dikebon blakang kayaknya mba *nyinyir juga ini mah* :)))))

  6. jadi pengen ikutan nyinyir hahaha
    soal hobi jalan ke mall aku termasuk pelakunya, soal makan mahal2 di resto untungnya ngga sih, ga rela bayarnya 😛
    soal gesek kartu kredit Puji Tuhan hingga saat ini masih cukup rejeki dan belom butuh utang dengan gesek kartu kredit utk beli apapun..
    soal diskriminasi di negara sendiri, wah aku korban hahahaah

  7. Bener banget! paling annoying kalo pelayang ngikutin kita trus abis kita liat barang nya langsung di beresin/di lap sama dia. Uuuh pengen di acak acak sekalian.
    Soal diskriminasi itu juga bikin males, udah pernah ngalamin. Nyebelin banget, padahal kita mah beli, yang ibu ibu dandan itu cuma PPD (pegang pegang doang) capee deh 😦

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s