[Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan

Wahai para bule hunter, saya paham dengan keinginan kalian untuk memiliki penghidupan yang lebih baik dengan cara mengawini pria-pria bule bergaji dollar. Keinginan untuk naik ke jenjang sosial yang lebih tinggi itu wajar, manusiawi dan diakui dalam ilmu sosiologi. Dalam teori yang saya pelajari, manusia normal akan bekerja keras untuk bisa naik ke strata sosial di atasnya.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan definisi kerja keras kalian yang sangat berbeda dengan defisini yang kebanyakan orang. Kerja keras kalian, untuk menggaet pria-pria bule harus bermodalkan kemampuan intelegensi, layaknya detektif-detektif di film. Kalian harus bersusah payah menghapalkan national day negara-negara tetangga, ajang kumpu-kumpul para ekspatriat, bahkan ajang sepak bola mereka lalu mencari tahu lokasi acara tersebut.  Sungguh hebat ilmu intelegensi anda.

Oh para bule hunter, saya lebih takjub lagi ketika kalian bekerja keras untuk bisa masuk acara-acara tersebut tanpa undangan. Kemampuan kalian untuk menyusup ke acara-acara resmi mengalahkan kemampuan James Bond menyusup sarang musuh. Tak hanya itu, kalian harus kucing-kucingan dengan para security, event organizer, pegawai kedutaan, bahkan pihak manajemen hotel yang setiap saat siap mengusir anda. Tak mudah tentunya melarikan diri dari kerumunan massa dengan sepatu tujuh belas centimeter.

Oh para bule hunter, saya semakin takjub dengan kemampuan kalian menjalin komunikasi tanpa awkward moment  dan tidak kehabisan topik pembicaraan. Oh kehebatan masih ditambah dengan kemampuan non-verbal pada tingkat mahir! Bagaimana tak mahir jika dalam waktu kurang dari sekian puluh detik kalian berhasil berbisik-bisik manja di telinga para diplomat. Lima belas detik kemudian, tangan kalian sudah menari-nari di tubuh diplomat tersebut, membuat mereka kebingungan,  salah tingkah dan malu. Sama bingungnya dengan para undangan resepsi hari nasional negara tetangga. Mereka terlalu bingung hingga hanya bisa menunduk melihat sepatu, lalu mengalihkan pembicaraan ketika para orang asing bertanya tentang apa yang terjadi.

"Of course your wife doesn't understand you, she only speaks Thai."

Oh para bule hunter, saya terkaget-kaget ketika tahu sebagian kecil dari kalian mampu membuat pria beristri bertekuk lutut semudah Mbak Jamilah menundukkan pria itu. Kesabaran, ketekunan, strategi serta tentunya sedikit kebekuan hati kalian adalah kunci kesuksesan.

Oh bule hunter saya semakin takjub ketika kalian bisa merayu seorang suami untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Merayu suami orang, merebutnya dari sang istri dan membuatnya menceraikan sang istri adalah perjuangan keras yang luar biasa. Saya semakin takjub ketika tahu bahwa membuat pria menceraikan istrinya yang sedang hamil. Bukan hal mudah tentunya dan sekali lagi, perlu strategi, kesabaran dan kemampuan untuk meyakinkan orang.

Oh para bule hunter, saya takjub dengan kepiawaian kalian untuk membuat pria-pria berusia matang bertekuk lutut dengan mudahnya. Padahal, belum tentu lutut mereka yang menua itu bisa ditekuk lho mbak; apalagi jika minyak di lutut itu sudah mulai menipis. Sekali lagi saya tak heran kalau anda memilih para pria matang; penghasilan dan tabungan mereka sudah cukup memadai dan investasi mereka sudah mulai berbuah. Oh betapa kalian sungguh cerdas untuk memilih pria yang tak pelit dan tak cerewet. Pilihan tepat ini membuat saya yang Ekonomist ini merasa gagal mengimplementasikan pengetahuan investasi saya.

Oh para bule hunter, ketakjuban saya tentunya dikalahkan oleh takjubnya Bapak anda di kampung yang melihat makluk tinggi, putih, berhidung mancung yang datang melamar. Saking takjubnya Bapak anda beliau sampai bingung bagaimana memanggil calon mantunya. Dipanggil nama nanti kualat karena budaya melarang memanggil nama orang yang lebih tua, dipanggil Abang tentunya sangat aneh.

Oh para bule hunter, rasanya ketakjuban saya tak habis-habisnya ketika tahu di luar negeri sana kalian masih rajin berburu bule.

Selamat hari Valentine para bule hunter, semoga kalian tak berhenti membuat saya takjub

Baca juga: [Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule Itu Nggak Enak
Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Gak Enak

Disclaimer: Tidak semua perempuan yang bersama pria asing melakukan hal-hal tersebut di atas. Oknum-oknum atau kejadian di atas tidak mewakili semua perilaku bule hunter di Indonesia dan bukan merupakan kebiasaan yang dilakukan banyak bule hunter. Mereka yang disebut di atas hanyalah butiran debu.

Advertisements

148 thoughts on “[Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan

  1. Gue tambahin ya Saaa…
    Dear Bule Hunter, kalian mengira di gereja (English Service) bakalan banyak bertaburan bule-bule yang bisa dipepet. Jadi datanglah kalian ke English service dengan dandanan heboh persis kayak dugem. Tipis menerawang dan panjangnya nggak nyampe 50cm. Dandanan yang bikin banyak orang kaget karena rasanya nggak tepat dipakai ke rumah Tuhan. Lalu di saat kalian lihat tipe bulenya memang benar-benar relijius yang boro-boro jelalatan, didekati kalian aja malah berusaha menghindar maka kalian gigit jari. Sadar salah langkah, terus meninggalkan gereja bahkan sebelum ibadahnya selesai. Dear bule hunter…. Saya sedih melihatnya 😐

    • Pengalaman melihat bule hunter di mana-mana. Di salah satu acara National Day mereka crashing, terus jamah2 diplomat. Jangan tanya gimana muka semua orang, apalagi yang orang Indonesia.

      Para bule aja sampai heran kenapa ada bule hunter di regular gathering mereka.

      • Karna katanya kalo png dapat ikan yg besar ya harus ke tempat yg banyak pausnya mbae. Kalo aku sih malu datang ke acara yg aku ga di undang trus ga tau juga acaranya apa.

  2. Aku tambahin ya..:
    Oh bule hunter.., jika kamu masih bebal juga setelah diingatkan Ailtje dan rekan blogger lainnya melalui tulisan mereka, maka jangan heran kalau foto dirimu yg setengah bugil itu, yg biasa kamu kirim ke e-mail para bule, akan saya pakai untuk mempermalukan kamu, sehingga kamu menyesal. Saya selalu berusaha jadi orang baik, tapi saya tau betul cara mempermalukan orang seperti kamu..

  3. Pernah bener2 liat bule hunter di resto hotel crystal. Aku lagi nemenin sepupuku dinner. Dia emang lagi nginep disitu. Aku sibuk mengamati 2 perempuan yang dandannya membahana.mata mereka juga sibuk mengamati sekitar…mereka duduk di bar nya. Hmmmm I know what they did. Nunggu mangsa. Karna mostly disitu bule semua kan. Hohoho…niat sekali ya bok

    • Di beberapa bar di Hotel berbintang lima di Jakarta tuh dipenuhi dengan perempuan malam penjaja kenikmatan yang bersaing dengan bule hunter. Ah sumpah gak aman banget kalau kesana bawa pasangan.

      Herannya hotel berbintang ini memperbolehkan prostitusi terselubung ya.

  4. Aku kok mangap “takjub” sampai lupa mingkep baca tulisanmu. Itu semua nyata ya? Mungkin karena aku kurang pandai bergaul jadi jarang memperhatikan fenomena bule hunter. Tambah mangap lagi sampai merambah rumah ibadah. Ada salah satu kenalan di sosmed, entah apa yang merasukinya, setiap beli apapun selalu dipoto trus dikasih tau harganya. Entah benar atau nggak, dia selalu cantumin harga2 mewah mahal menjulang. Kemudian selalu mengeluh kalo hidupnya sekarang ga senyaman waktu masih di Indonesia. Apa2 mahal, apa2 dikerjakan sendiri. Lha terus aku mikir, situ beli ini itu nyantumin harga mahal semua, giliran beli bumbu2 dapur ngeluh mahal. Ga mau ngerjain ini itu sendiri, lha sebelum nikah sudah survey belum kalo tinggal diluar suaminya ada ga yang bantuin berapa lusin, atau malah situ cuman peduli isi brangkasnya doang. Geregetan beneran deh aku *duh, jadi rasan2 orang disini akhirnya

    • Den,a ku pernah bahas tentang tukang pamer disini Den: https://binibule.com/2014/06/25/tukang-pamer/

      Dari beberapa tahun belakangan ini aku mendengar dan melihat banyak kasus-kasus pria asing dikejar bule hunter. Nggak malu-malu ngejarnya, dari kirim foto via whasapp, pura-pura sms salah sambung sampai yang crashing party. Itu crashing party tadinya aku cuma denger dari temen2; akhirnya kemaren sempet lihat beneran dan takjub.

  5. Seperti semua orang yang komen ini, saya mangap lebaaar! Tidak tahu harus ngomong apa ngeliat fenomena bule hunter yang datang ke gathering para bule, bahkan ke tempat ibadah. Astagaaa… semoga mereka mendapat pencerahan deh..

  6. OMG….seriusan tuh sampe masuk ke acara resepsi diplomatik???? bukannya biasanya hanya undangan yang boleh masuk ke acara seperti itu? hebat ya mereka…jangan jangan pernah ikut kursus intelijen di BIN…:D

  7. Hi Ailtje, gw lg browse blog BEC dan mendarat di blog lo ini. dah lama bnget ga ktemu. dulu qt pnah kumpul jaman language swap sama Joy di Plaza Semanggi. inget ga? hehe. how’re you doing, girl?

    anyway, nice open-letter about the bule hunter. we really just can’t get enough of them, can we? they’re coming out of nowhere and boy..they do make me go ‘ckckckck-shaking my head off!’

    • Hi, Rina kan ya? Kalau gue salah nama mohon dimaafkan ya. I am doing very well, how are you? It’s been a while ya.

      Bule Hunter is such a phenomenon. Even couch surfing was not exempt from bule Hunter. Unbelievable!

      • iyaa.. it’s me rina. i’m doing great. where are you now? Ireland? i’m still around Jakarta and Co…setting my claws in Serpong and trying to make ends meet. hehehe. anyway..i haven’t been to gatherings in CS for quite some times. it’s just not that fun anymore. not to mention that bule hunter can really go on the prowl in CS Gatherings…

  8. sedih mbak liat fenomena seperti itu, apa lagi di kalimat “Rupanya, salah satu ukuran keberhasilan adalah jika sang Ibu berjuang melahirkan bayinya sendiri, sementara Bapaknya kalian dekap”…….duh duh itu obsesi atau apa yah kalo sampe nekat kayak gitu, berasa orang yang dikasih kacamata kuda

  9. Aku jujur masih kaget baca ini. Sampe nyusup ke acara diplomat dan gereja ini bikin whaaaaaat????? Taunya cuma level mall, resto, atau cafe hotel karena diceritain temen. Well, suami sendiri pernah dilirik2 sih di resto di mall di GI lbh tepatnya grrrrrrrrrr…. Ruaaaaarr biyasaaaak

      • National day negara2 asing itu tanggalnya jelas, hotelnya kemungkinan juga itu2 aja. Jadi ada polanya. Masuk ke Party itu kalau ga pakai undangan model pede aja, terus deket2 sama tamu yang beneran biar disangka plus onenya tamu beneran.

        Ada juga yang masuk satu jam setelah acara mulai, jadi security udah melemah karena mereka kekenyangan.

      • Hi mbak Ailsa n kk Noni.. Gw dr medan jg nih.. Kebetulan cowok gw bule.
        Gw pernah kejadian ada cewek yg pura2 mau bikin tugas bhs inggris n nyamperin cowok gw di mall CP. Herannya, tuh anak sendirian, gak bawa buku catatan n gak bawa kamera (biasanya anak2 yg mau wawancara bule kan berkelompok n bawa perlengkapan wawancara).
        Tuh anak asyik SKSD sm cowok gw, malah sibuk janjian ketemuan n minta no hp, e-mail dll.. Trus dgn gak sopannya, dia nunjuk gw n tanya ” Is she your assistant, sir?”
        Cowok gw langsung bilang “She’s my wife!”
        Langsung ngacir deh tuh anak.. Hihihi…
        Ada lg yg SKSD, tiba2 deketin kita (pdhl gak kenal), ngajak ngobrol n ujung2nya nanyain abg bule kl dia punya teman bule yg msh single…
        Kadang kita iseng, si abang bule nanyain “mau main bertiga?”.
        Atau waktu ditanyain kerjaannya apa, abang bule bilang kl dia tuh escort (gigolo-red), n gw germonya. Asli para BH (bule hunter) yg di medan jadi ilfeel.. Hihihi…

        Sorry ya mbak, kepanjangan n malah curhat.. Habis, klo ktmu para BH ini rasanya pengen ngerjain terus2an.

  10. Benar-benar bikin malu dan memalukan. Pasti dianggap murahan sama bule. Tapi yang yang pelakunya ini -bule hunter- gak punya rasa malu. Inilah kalo udah kerasukan yang serba instan, gak mau kerja keras dan kerja benar. Salam

    • Pak Alris, menariknya gak semua bule mengganggap mereka murahan lho. Justru mereka banyak disalahgunakan dan dimanfaatkan oleh orang asing. Dipakai buat temen tidur sekali dua kali aja, setelah itu ditinggal.

      Yang mengawini bule hunter juga banyak karena pria-pria ini banyak yang memerlukan teman. Ini yang kemudian menimbulkan masalah karena bule hunter biasanya mencari gaya hidup mewah, sampai di luar negeri kaget karena hidup di luar itu keras dan gak semudah di Asia.

  11. miris… diotaknya cuma tau hidup enak dan mauin milik orang.. *bagian penggoda suami orang*.

    But it makes me wonder.. ada ngga disini istri bule yang ngaku sebagai bule hunter? (terlepas yang memang ketemu/kerja di luar negri ya..) kesannya bule hunter negatif banget ya? kalo emang ngincer bule tapi bukan pelakor atau pendekatan secara halus, ngga crashing parties, itu disebutnya apa ya..

    kebanyakan yang aku kenal bilang sebenernya ga suka bule tapi dapetnya bule.. gitu..

    Maaf ya mbak kalo pertanyaannya menyinggung.. 😀

    • Hi Delia (bener ya namanya),

      Pertanyaannya gak menyinggung kok.

      Banyak yang blak-blakan ngaku sebagai bule hunter, pengen bule dan cuma mau pacaran sama bule. Alasannya macam-macam, dari kepengen aja, perbaikan keturunan (aku gak suka banget alasan ini karena menghina keturunan Asia), pernah dikecewakan pria Indonesia, alasan ekonomi, gak bisa pacaran dengan pria Indonesia, karena bule memperlakukan perempuan dengan sejajar (gak semua lho ya), pria bule romantis, pola pikir dan banyak alasan lainnya. Itu masalah selera dan pilihan, walaupun bule2 banyak yang gemes ketika mereka dipilih hanya karena warna kulitnya (agak rasis ya). Nah proses seleksi yang karena warna kulit dan ekonomi inilah yang bikin mereka jadi negatif.

      Bule hunter yang aku gambarkan disini yang bagian rusuh-rusuh dan yang bikin heboh. Nggak cuma menghebohkan kita yang lihat, tapi juga menghebohkan komunitas orang asing. Caranya yang kurang elok (crashing party, smsin foto seksi ke suami orang misalnya) membuat reputasi mereka jadi makin jelek.

      Terus di negeri suami ketidakelokan ini dibawa dengan cara mencari pria-pria lain yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih mudah.

      Imbasnya? perempuan yang kawin dengan orang asing suka dituduh bekas pekerja seksual, pekerja club, ayam sukses dan embel-embel lainnya.

      *gak semua kayak gitu ya, tapi karena nila setitik rusak semuanya deh.

      • benerrrr(nama depanku emang Dellia).. hehe…

        Makasih responnya..

        waktu masih remaja, kisaran SMP-SMA, aku cita2nya punya suami bule karena secara fisik bule itu kan tinggi2 ya.. abis posturku tinggi gede, dan cowok yang lebih tinggi itu jaraaaaaaaaaaang banget.. Dan dibayangan aku dulu semua bule suka anjing.. sementaraaaa.. disini… cowok2nya malah rata2 takut anjing.. belom lagi yang aku mau cowok seiman.. hahaha..
        udah gitu kebanyakan nonton serial bule juga macam the A team, Airwolf dan MCgyver. Jadi kayaknya sempurna banget itu bule2.. hahahaha.. untungnya ga terobsesi..
        setelah mengenal beberapa bule dikantor, gak taunya sebagian besar yang aku kenal malah ga suka piara anjing! ga jadi deh.. 😀
        Beruntungnya sekarang dapet suami lokal yang seiman, lebih tinggi dan suka anjing jugakk! hihihi..

      • Hallooo mba Ailtje dan mba Delia ssalam kenal. Aku Meilani dan suami saya adalah bule.

        Jujur saya adalah bule hunter. Awalnya saya tidak suka bule. Dan karena patah hati terus sama cowok2 indo akhirnya mencoba memiliki hubungan dng pria bule,awal manis eh tp ujung2nya patah hati juga.

        Saya jg senang jadinya ke bar yg ada banyak bule di kawasan kemang untuk menikmati live music dan cuci mata. Suka sama bule tapi takut kenalan langsung dan biasanya pasti para penyuka bule lainnya suka menatap saya si nis krn saingan. Jadi saya lbh suka nonton aja sekalian ketawa ketiwi klo lihat bule hunter dan wanita2 penjaja diri ditolak sama bule2.

        Akhirnya saya dpt pasangan yg baik melalui online dating. Dan tanpa saya minta untuk hubungan serius (nikah) ehhh taunya dia yg mau nikah. Dan dia jg baik kpd org tua saya…

        Benar memang banyak bule yg jadinya suka sama cewek2 indo hanya utk teman tidur saja dan banyak jg yg mencap bahwa bule hunter itu ex prostitusi, dll. Padahal ga,semuanya spt itu.

        Maad mba panjang ceritanya. Terima kasih.

  12. Di Medan jugak ada bule hunter yang mengerikan, Mbak.. Bahkan mereka sampek ngemis-ngemis mintak dikenalin sama yang bersuamikan bule. Dicomblangin gitu.. Hihihi.. 😛 Asal ke cafe yang kebanyakan bule, mereka dandanannya ngalahin cewek-cewek Latin.. 😀

  13. Pingback: [Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule itu Nggak Enak | Ailtje Bini Bule

  14. Hi Mba..salam kenal ya, saya jadi ingat cerita teman kantor yang pernah dikejar – kejar sama bule hunter itu.

    Ceritanya saat itu teman saya sedang sendirian di Indonesia, dan pergilah dia main ke bar untuk minum – minum. Bule ini sudah menikah, dan istrinya saat itu ga ada di Indonesia. Berawal dari kenalan di bar, eh si bule malah diteror Mba. Ngga tahu gimana caranya, ternyata si hunter ngikutin si Bule ke rumahnya, otomatis dia tahu dimana si Bule tinggal.

    Beberapa hari kemudian mulailah teror – teror itu, dimulai dengan nongkrongin di gate rumah, nelpon ke rumah, dll. Macem – macem yang sebenernya ga masuk akal.

    Temenku ni sampai – sampai hampir cerai, padahal waktu itu istrinya lagi mau melahirkan. Alhamdulillah ga sampai cerai sih, tapi temenku sampai ngebelain pindah rumah karena ketakutan :p

    Terlepas dari si Bule mungkin “nakal” , kalau ngedenger cerita temenku itu saya kok malu ya. Sebagai sesama perempuan dan orang Indonesia 😦

    • Halo mbak May, salam kenal. Terimakasih sudah mampir ya. Cerita temennya creepy banget. Disini ada kecenderungan ketika sudah dekat orientasinya perkawinan; mungkin itu sebabnya si teman dikejar-kejar. Ini asumsi lho tapi.

      Bule hunte rbisa ngejar sampai rumah karena intelejennya luar biasa Mbak.

  15. Kebetulan saya di daerah Karawaci yang gerejanya banyak bule. Untung aja jarang bule hunter nyusup ke sini dan jujur sih saya di gereja yang banyak bule bukan gara-gara bulenya tapi udah klop aja di sini (secara saya kuliah deket situ). Denger bule hunter nyusup ke gereja bikin saya spechless dah, niatnya ga bener ckckck.

    Bule hunter kelakuannya juga terkenal mengerikan #justsaying ada temen aku chinese nikah ma orang jerman, suaminya dikejar bule hunter terus sampai temen aku diteror sama bule hunter ckckckck.

    Susah paham saya sama bule hunter ini maunya apa. Otaknya makin ngga dipake 😦

  16. Mba, aku suka bacain serial “bule hunter” punya dirimu, sama beberapa juga yang nulis tentang ini dan kadang aku beneran kaget banget, mereka segitunya sampe melakukan sejuta cara ya.. Aku seh belum pernah nemu yang gimana2, palingan yang aku tau, cuma waktu jamannya aku aupair ke belanda, emang banyak seh yang orang indo ke sana, mati2an buat daftar di dating online buat cari bule, tp so far itu doang, klo yg udah sampe grepe2 langsung, wow banget ya usahanya hehe…

  17. Jadi inget 10 tahun lalu waktu saya baru mau pindah ke Greenland. Saya lagi jalan2 sama papa tiri saya di Indonesia yang kebetulan foreigner, tiap kali saya tinggal ke wc langsung dideketin cewe2. Padahal papa tiri saya lagi bawa adik kecil saya yang waktu itu masih balita dan diapun ada cincin kelihatan sudah kawin… :oops::oops::oops:

  18. Speechless sambil mangap…. parah bener yak… Gw biasanya sih lihat di mall, resto atau café langganan bule (biasanya ngga jauh dari kedutaan jam makan siang tuh kelihatan banget)…

  19. Iiiihhh Ail kocak banget dan memang sangat fakta sekarang banyak kayak gitu, sebagian teman-temanku yang di Bali (yang cew bener ni ya..) malu setiap sedang sama bule sekalipun urusan kerja keluar kantor apa lagi semobil, karena pasti dikira cew b**kingan bule.

  20. postingan bule hunter emang trending topic dimana2.hai mb atjie slm kenal, kebetulan di salahsatu grup mix marriage turkish juga baru heboh ttg kyk gini,tapi msh versi dunia maya, tebar pesona, sampai ngerusak hubungan org,yg berawal dr asal add aja via fb, ada yg nekad jg dtg ke turki,diajak tinggal bareng,ngotot pgn dapet bule yang ‘seiman’ alasannya, padahal ya sama aja, apalagi kultur sini mix timur barat,dikira bs sebebas2nya, saya jg mulai terganggu, gara2 dr blog banyak yg ‘hunting’ cr2 di FB, add suami, inbox2…rata2 perempuan indonesia semua, malah ada yg terang2an ngaku janda dsb pgn dpt bule dan hidup di luar negeri, banyak motifnya,sampe geleng2 kepala. untuk kasus diatas, masuk rumah ibadah sm acara resmi gitu : gilee niat banget -.-‘ ya…

  21. salam kenal mbak.. aku penasaran sama fenomena ini, entah aku yg gak gaul, atau krn emang ga berada di lingkungan bule, tp baru tau bule hunter begitu bgt yaa.. wah.. dah kyk di pilem2 .. *tutupmata… canggih bgt cara mereka…

    • Networkingnya mereka pasti bagus banget, sampai mereka bisa tahu acara-acara resmi dan bisa crashing. Mereka sebenarnya bisa jadi sales atau marketing yang bagus dengan kemampuan networking yang seperti itu.

      Tapi ya itu keputusan mereka, it’s their body and their life. Kita semua cuma bisa nonton dan merekam dalam memory.

      Salam kenal juga Ristin.

  22. kalau saya namanya apa donk ya? kr malah sy nih yg “diporotin” suami bule sy 😀 😀 sy ambisius banget dalam karir jadi saya lewatin dia jauh, otomatis kalau bonus month (kantor sy tiap tahun kasih profit share 50% of my annual salary) pasti sy di “titipin” suami….suka sy godain, istri kamu kan bukan ATM…:) paling dia ngelesnya “kan sy udah kebagian bayar bills tiap bulan, gantian donk treat sy” 😀 kalau gitu suka saya ingatkan “remember hon, your money is ours but my money is mine”…..kidding 😀

  23. wah yang diceritain mba tjetje in dah tingkat ekstrem, sumpih sampai crashing acara diplomatik itu waooooow *mlongo eh tapi ada tingkat softcore lho mba walau nggak ngarepin hasilnya banget. kayak beberapa teman ada yg pesen kalau suamiku punya teman bule muslim minta dikenalin, ah lol kadang

    • Tawarin pasangin pengumuman di Masjid kalau minta bule, biasanya jadi batal minta.

      Cari bule itu boleh-boleh aja sih, tapi kadang orang suka bablas lupa tata krama dan etika. Tapi beneran hebat ya kerja keras mereka.

  24. Hallo, salam kenal Mba Tjetje, baca postingan ini mengingatkan saya pada sesosok bule hunter yang dulu sering saya temui di salah satu mall di Jakarta Selatan, dan setiap ke mall tersebut saya selalu ketemu sama sosok tersebut, duduk di meja bar coffee shop sambil minum kopi dan menunggu “mangsa”. Kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu, tapi saya masih ingat wajahnya karena saking seringnya ketemu. Huhuhu~

  25. WOW! i dont know it’ll goes that extreme. Saya sudah sering denger dan gak asing sama yang namanya bule hunter, but i didn’t know they’ll take it to that level. Saya hanya sering lihat mereka (para bule hunter) well, yes, in a second they’re already all over si bule dan kadang di acara yang emang banyak expatnya atau banyak bulenya aksi mereka sampe bikin kita yang orang indonesia kadang dipandang ‘gimana’ gitu sama para bule. Kadang saya juga kesel, sama mereka yang saking pengennya ngegaet bule ampe suami orang juga disikat aja. Itu yang kadang bikin pandangan para istri bule agak sinis ke orang indonesia yang deket sama bule atau berteman sama bule. Well, I get that a lot. =________________________=”
    Tapi beneran deh mbak, gak abis pikir sama bule hunter yang bisa-bisanya hunting sampe crushing national day dan berekelakuan kayak gitu di tempat ibadah. gosh….

  26. Hai Mba, salam kenal! 🙂

    I really like what you have pointed there, mainly because they’re all true. Tapi bule hunter ternyata ga cuma di Indonesia…

    Gw inget banget waktu masih di Australia, gw pergi ke sebuah department store sama pacar (sekarang mantan). Kebetulan pacar gw orang kulit putih (i just hate the term “bule”). Karena waktu itu gue bener2 butuh meja belajar dan gue ga bisa nemuin meja belajar yang pas, gue mencoba tanya sama adek2 yang jaga (kira2 umurnya 18 tahun) untuk katalog komplit. Siapa tau mereka punya meja belajar yang emang gue pengen. Inget bgt gue nanya sama adek2 asia yang bahasa inggrisnya pas2an itu dan gue dicuekin bak bungkus makanan. Jadilah gue bete dan gue minta pacar (mantan) gue untuk nganterin gue ke I**A karena di sana lebih lengkap. Lalu si dia bertanya, kenapa gue ga minta katalognya aja sama dept store ini, siapa tau ada. Jadilah gue jawab kalo gue dicuekin. Akhirnya si mas nanya lagi ke adek2 yang sama, and suddenly, that young girl became really (too) friendly to him dan ngasih katalog secara lengkap….
    And she also asked for his number and she was being really flirty. Kayaknya adek itu orang Thailand. Def not Indonesian.

    Tapi sekarang pun, semenjak gue pindah ke Jakarta, gue merasa risih sama wanita2 insecure tersebut. Sebenernya kasian sih, mereka begitu membenci diri mereka sendiri… Tapi yah, mereka memilih begitu… :-/

    • Itu beneran, aku lihat dengan mata kepala sendiri. dia (plural ya bow bukan singular) ngegerayangin diplomat. Diplomatnya pun udah kebanyakan minum karena emang ada perayaan nasional Day mereka. Kami yang orang Indonesia pada super malu dan terbelalak.

  27. Pingback: Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak | Ailtje Ni Diomasaigh

  28. Canggih banget & sungguh ga tau malu ya… Mbak Ailsa, membaca posting ini sy jadi mikir tentang pembekalan khusus untuk para diplomat yg akan bertugas di Indonesia. Dulu sy sering mendengar ada pembekalan untuk bahasa Indonesia & pengenalan budaya Indonesia lengkap dengan ulasan tentang hidup di Indonesia … Well, sy berharap semakin kesini pembekalan itu bisa ditambah dengan bonus pengetahuan tentang bule hunter ya. Jadi mereka (baik suami & istri diplomat) jadi lebih pintar & lebih siap. Great writing, Salam dari Malaysia 😊

  29. oh my GOD, surprisingly banged…cara para wanita Indonesia ” bule hunter”
    aku kerja di salah satu *5 d jakarta.dan bekerja di kalangan expatriate handle for VVIP event WOW speechless lait comment nya di atas…hmmm…
    serem juga yaa baca artilce ” bule hunter”

    • Pernah organise national day gak? Ini kejadian beberapa kali di banyak national day. Di daerah Kuningan bahkan ada yang sampai diusir security. Modusnya kalau masuk berdiri di belakang/dekat expatnya biar disangka satu rombongan.

  30. setelah baca postingan ini aku baru tahu “bule hunter” , sebenarnya aku punya cerita juga nih pas waktu seminggu yang lalu lagi jalan sama pacarku kebetulan dia bule pas di cafe di mall cp jakarta , pacarku tuh ngak nyaman dan para pelayannya yang perempuan langsung pada ramah ke pacarku gitu, sangking ngak nyamanya si mas bule sampai ngajakin keluar ngobrol ditaman karena ada perempuan tuh kata dia yang ngeliati dia terus sampe aku ketawa dengernya dan kelihatan dia ngak nyaman dengan wanita itu yang berpakain sexy banget klw aku bilang sama dia kenapa ngak milih perempuan kayak gitu dibanding aku langsung sedih dan bete 😁

  31. Haha, jadi ingat kejadian waktu aku dan pacarku jalan-jalan ke Solo, one day trip dan kita naik Busway gitu deh. Ada salah satu penumpang perempuan yang ngeliatin terus ke arah kami (tapi pastinya bukan fokus ke aku ya) sambil senyam-senyum, keliatan banget flirty nya ke pacarku. FYI, dia masih berseragam sekolah menengah pertama. Aku tepok jidat aja deh, masih kecil udah ada bakat. Disitu saya merasa sedih :’)

  32. Pingback: [Dear Bule Hunter]: Iya Kawin Sama Bule itu Enak Kok! | Ailtje Ni Diomasaigh

  33. iihh miriss bgt bacanya, jd ingat bgt dl wktu krj di TK semi international,, rekan guru ku org belanda nkh sm cw yg cm morotin, akhirnya cerai, gak lama cw itu nkh lg sm bule lainnya.. jgn ditanya gaya cw itu woww bgt kyk model…

  34. Ya Tuhan ngelus dada aku dengernya mba… Kalo mau sukses ya kerja jangan malu2in diri sendiri. Padahal abis nikah aku mau tinggal di Indo aja, tapi jadi mikir 2 kali gara2 ada makhluk2 inj huhu

  35. Pingback: Bule Hunter, sadar dong… | pricelessfrancie

  36. Hi Mbak! Salam kenal ^^
    Satu kata yg muncul di kepalaku setelah baca ini adalah “LMAO” hahah. Yg model bule hunter gini nih yg bikin image perempuan Indonesia jadi ya..gitu deh di mata bule² awam.

    Btw, what do you think about girls in the clubs and bars mbak? Do you think most of them are bule hunters? Soalnya salah satu temenku ceritanya mau liburan pertama kali ke Indonesia. Kebetulan di tempat asalnya, partying/clubbing sangat amat biasa, nah aku bingung jelasin ke dia kalo dateng ke tempat² kaya gitu di Indonesia mah lumayan risky hehehe. Aku cuma kuatir aja sih dia kejebak sama model² bule hunters dan sejenisnya hahah.

  37. Hahaha, bule hunter itu ternyataa ada dua macam yaa mbaa wkwk

    Macam pertama, yang jalannya lurus2 aja.. yang kedua, yang demen nongki lebay di pub2 atau bar2, pake baju seksi2 dandanan menor cetar, dan bisa embat apa aja mana suka..

    Salam kenal yaa mbaa 😀

      • BH macam2 mba, pekerja kantoran juga banyak Mba. cuma mereka lebih halus penampilannya. Di kantor pacarku pernah ada beberapa cewe yg kirim foto2 seronok, bahkan foto kemaluan itu cewe. Aduhhh kok ya bisa yaaaa. Duhh gue aja yg pacarnya ga pernah kirim foto begitu. Pas pacar ngajak ke PI unt acara kantor lanjut kita ke Immigrant, di depan aku dan pacarku mereka joget2 kaya cacing kepanasan. Mereka ga nyerah walaupun tuh bule udah punya Istri ataupun pacar. Ga takut Karma apa ya???? Sampai pacar bisa bilang, orang Indonesia itu suka cheating ya. Ga cowonya, cewenya juga. Ga tua, ga muda.

  38. Sebenarnya saya juga pernah emosi karena beberapa masalah ‘penyerebetan’ sedangkan jelas-jelas saya ada di samping. Ataupun stalker ke pacar saya maupun saya nya sendiri (yang menyebabkan saya berhenti aktif dari media sosial).

    Tapi saya masih tidak habis pikir, ada kah yang benar-benar ‘ajaib’ seperti di atas, DAN DAPAT HASILNYA? Lalu jenis bule seperti apa yang mereka dapatkan? Suami yang PANTAS juga kah yang meninggalkan kita demi wanita dengan rok mini? (Saya sih di kasih gratis juga makasih!) Kenapa saya malah merasa Mbak mendeskripsikan ‘wanita murahan’ pada umumnya ya? Ke klub malam untuk hunting, merebut suami orang, pria berumur, demi uang, ke event resmi hanya untuk berburu (really?), hunting di gereja (ngelus dada), dan sebagainya.

    Tidakkah Mbak sadar bahwa tulisan seperti ini yang membuat semua (mau yang baik/ apalagi yang tidak) menjadi di pandang negatif sekali di Indonesia oleh orang-orang yang tidak mengenal mereka? Seperti yang Mbak bilang, mereka hanya butiran debu, tapi karena mereka, semua jadi imbas nya. Orang-orang kan cepet nyerep negatif, tapi yang positif pasti pada mantul. Kasian kami (khususnya saya) yang masih di Indonesia Mbak (even soon bakal enggak lagi).

    Salam kenal dari seorang (kebetulan) pacar bule yang selalu terdiskriminasi (walaupun sudah kebal), mohon maaf kalau ada salah kata. Just my thought!:)

    Vallendri^^

    • Halo Vallendri, salam kenal juga. Wah saya flattered tulisan saya dianggap berpengaruh besar terhadap pandangan negatif terhadap bule hunter dan pasangan bule di seluruh Indonesia. Tapi maaf, saya gak berhak ambil “compliment” tersebut, karena kalau kamu baca atau mungkin riset terlebih dahulu, stigma tersebut sudah ada jauh sebelum kamu atau bahkan sebelum saya lahir. Dan stigma percintaan lintas bangsa ini tak hanya ada di Indonesia saja, tapi dimana-mana.

      Soal hasil berburu bule, sebentar lagi gak akan tinggal di Indonesia kan? Ya nanti kalau gak tinggal di luar Indonesia pasti juga akan kelihatan. Eh sebenarnya gak usah ke luar Indonesia lho, di dalam Indonesia juga banyak kok. Itu pengalaman saya di atas di Indonesia semua dan masih banyak lho kejadian-kejadian yang tak tertulis. Tinggal pasang kuping dan pasang mata aja, pasti nemu.

      Btw, definisi perempuan murahan itu apa ya? I really don’t get it.

      • Cerita bule hunter ini gak ada habis2nya ya mbak.. hehehe…
        Aq bahas di blog ku juga sih…
        Sedihnya mereka ( demi dapat bule kaya) rela jadi perebut suami orang.
        Aq baru nikah 6 minggu, dan udah dapat 2 ekor (gak pantes disebut “orang”) yg mepet suamiku.
        Padahal, suamiku gak ganteng2 amat…
        Pertama waktu honeymoon di Danau Toba, pegawai hotel tempat kami nginap flirty banget sama suamiku ( gak peduli aku ada disitu atau gak).
        Satu lagi yg terakhir ada waitress di restoran chinese tempat kami biasa makan…
        3 hr yg lalu, habis pulang kerja aq mampir ke restoran itu sendirian utk beli take-away (abang bule di rumah).
        Percakapan antara waitress dan aq isinya kira2 gini (pakai logat Medan):
        Waitress: Kak, abang bule yg kemarin kakak bawa udah balik ke negaranya ya?
        Aq: Nggak ah. Dia di rumah koq.
        Waitress: koq udah lama kali dia nggak kesini kak?
        Aq: oh, lagi sibuk mungkin (kadang abang bule suka lunch juga disitu).
        Waitress: Jadi kapan lagi abang itu datang kesini kak?
        Aq: Mana ku tau. Nanti lah ku tanya kapan dia mau kesini lagi. ( Udah pengen pergi, tapi tetap mencoba untuk ramah)
        Waitress: Memangnya kakak kontak2an sama dia terus? Boleh minta nomornya donk kak?
        Aq: Ya jelas lah aku kontak2an sama dia. Tiap hari kami ketemu koq. Dia kan suamiku.
        Waitress : (gondok tapi tetap senyum) Oh, aku kirain kakak cuma bawa2 dia jalan aja… kupikir kakak tour guide nya…
        Ngomong2 kakak kemarin dikasih sinamot (mahar) berapa? Pasti kakak minta banyak kan?
        Aq: udah ya dek, aku pulang dulu… kasihan abang itu udah lapar.
        Plis deh, bule hunter yg satu ini memang luar binasa.
        Abang bule juga bilang klo waitress ini sering banget flirting ke dia kalo dia lg makan sendirian di resto itu… nggak nyaman sih, tapi berhubung makanannya enak dan harga bersahabat, kami tetap sering kesitu.
        Sorry ya mbak, curhatnya kepanjangan…

      • Sebenarnya perebut suami orang itu tak hanya mengincar bule, dalam perkawinan antar orang Indonesia juga banyak. Apalagi kalau suaminya pejabat negara. Udah deh, baca doa aja terus yang kuat.

        Yang aku kurang paham, banyak orang jadi agresif ketika melihat bule. Sementara kalau mendekati orang Indonesia tak terlalu agresif, cenderung malu-malu kucing. Ini fenomena menarik.

        Btw, waitress itu diajari aja sekalian cara mengidentifikasi bule single.

      • Well, kalau di pikir-pikir benar juga sih. Stigma seperti itu sudah melekat sejak jaman penjajahan (pff). . . Maaf sekali mengetik komentar ini dengan wajah panas mengingat beberapa kejadian yang pernah saya alami:
        1. Di bilang serigala mencari mangsa lah (di nyanyiin!)- waktu bersama pacar saya
        2. Di tanya pulang kerja (di tanya di kereta!) – waktu pergi kuliah tapi di stasiun di antar pacar
        haahh, kepanjangan kalau di tulis semua. Begitulah intinya dan bukan hanya saat bersama pacar, sewaktu saya pulang les kimia (satu grup les kimia), ada beberapa mbak-mbak anak keperawatan yang mengobrol berbahasa Korea intinya: “seberapa sering saya (di libas) si bule per malam.” Hampir saya jawab “sepuasnya, mau join? dia kuat kok banyakan.” Mereka pikir saya tidak mengerti.

        begitulah intinya bagaimana saya berakhir dengan menulis “komplimen” tersebut. Ha ha, konyol, sorry kemarahan terpendam yang keluar di sini.

        PS: apakah saya seksi? Tidak. Jeans+kemeja lengan panjang (SOP IPB)! Apakah saya menor? Tidak. Saya bahkan sering lupa bedak tipis. (fyi aja takut di jawab, “situ nya terlihat ajaib mungkin makanya di gituin!”)

        ya, sampai-sampai tidak terlalu menyadari ada rasa terganggu dengan ‘bule hunters’ karena saya merasa saya lah yang di cap seperti (mungkin lebih buruk dari) itu. ha ha ha ha Even sebenarnya saya mengalami juga kalau di ingat-ingat. Suatu ketika di tempat rekreasi di Bogor, ada sekumpulan cewek yang minta foto dan nomor hp di depan saya (setelah satu terbentuklah antrean *dialaykan*). Saya tanya apakah dia diam-diam artis yang tidak saya ketahui, dia juga ternyata memiliki pertanyaan yang sama.

        defenisi murahan menurut saya adalah: yang ‘menjual’ dirinya dengan alasan apa pun. Kalau seperti pelayan restoran Cina yang di bilang mbak Fransisca di dalam kamus saya namanya ‘gatel’ Oooops! ha ha

        Ok, no harm ya^^

        Semoga pernikahan (semua yang selalu di ganggu para bule hunters dan sempat mampir di blog ini) semuanya di berkati Tuhan dan di lindungi. . . Dan saya yang akan meneruskan kuliah bersama nantinya tidak akan mengalami pengalaman yang pernah di alami semuanya. . Amen. (lempar garam) Ha ha

      • Saya memahami sekali semua resiko dan stigma yang menempel pada perempuan yang memiliki pasangan WNA. Pandangan seperti itu, seperti saya tulis di beberapa postingan akan tetap ada bahkan sampai punya anak. Mau pakai pakaian seksi sampai dasterpun labelnya sama. Jadi tak perlu dihadapi dengan emosi. Cukup dengan senyum saja.

        Perempuan yang menjual diri itu sangat kompleks dan tak bisa dilihat dengan kacamata hitam dan putih. Bersimpatilah sedikit pada mereka, apalagi Ibu-Ibu yang terpaksa menjual diri untuk menghidupi keluarganya karena kegagalan negara menciptakan sebuah sistem jaminan kesejahteraan. Mereka menjual diri karena tuntutan perut yang lapar, walau tak bisa dipungkiri ada juga yang menjual diri karena tergoda gaya hidup.

        Btw kamu memang cari pacar bule ya? Just wondering from the title of your blog, pursuing your bule.

      • Yeah. Uhm, saya kebetulan adalah orang yang di buang oleh cowok Indonesia, TTM sama bule, dan beberapa hari sebelum dia kembali ke negaranya secara ajaib menyatakan cinta dan ingin saya menjadi pacar dia. ha ha. Jadi kebetulan sekarang lagi ada (kan enggak tahu ke depannya). Rencana sih setelah saya wisuda (yang semoga saja akhir tahun ini), saya akan meneruskan bersama dia. But who know *shrugs*. So, jawabannya IYA. Saya mencari pacar bule. ha ha. Entah mengapa setelah beberapa kali pacaran sama bule (sejak semester 3 awal) berasa nyaman.

        Belum berniat segitu berkomitmen sih Mbak Tjetje. Kenapa? Kepikiran punya temen di Irland yang cakep dan pengin ngecomblangin? ha ha Boleh boleh aja sih Mbak di kenalin juga! #gubrak :p

        Mengenai judul sih gegara rencana nya saya nulis novel dengan judul itu. ha ha Tapi sampai sekarang masih revisi revisi revisi dan revisi.

  39. Mau tanya mbak. Bule hunter sama cewek-cewek yang nikah sama bule karena cinta itu beda nggak sih mbak ? Mohon pencerahnnya *pertanyaanbodohanakSMA* wkwk jangan dilemparin sendal ya mbak 😀

    • Menurutku bule hunter itu secara spesifik mencari bule dan harus bule karena kulit mereka, uang mereka (yang dianggap banyak) atau karena mereka dianggap lebih agung. Orang jatuh cinta itu normal menganggap pasangannya Agung, tapi yang ini rasnya yang dianggap lebih agung. Terus dibeberapa kesempatan ada yang asal samber tanpa cek (meminjam istilah orang Jawa) bobot, bibit, bebet.

  40. Orang-orang macam itu yang bikin image perempuan yang punya cowok orang luar jadi jelek. Cowok aku mixed Jerman+Brasil dan di Brasil itu juga banyak Bule Hunter. Alhasil calon mamer yang orang Brasil sempet nuduh aku “Bule Hunter”, terus agak gak setuju gitu sama hubungan kita (kesannya sinetron banget yak haha). Padahal mah kebetulan ketemu sama si dia setelah di php cowok lokal.
    Alhamdulillah sekarang calon mamer udah melunak dan paham kalau calon mantunya ini mandiri, pekerja keras, gak manja, bukan “bule hunter”, dan spesial haha 😀

  41. Salam kenal Mbak. 🙂
    Boleh saya tambahin lagi ya Mbak.
    Dear bule hunter, selama ini kalian pacaran sama orang yang fisiknya terlihat bule. tapi begitu kalian tau ternyata dia cuman setengah bule, bapaknya bule ibunya Indonesia, dan ingin menikahi kalian pakai adat dari ibunya, dan mau hidup di kampung ibunya, dan kalian langsung hilang entah kemana, gak berbekas.
    (ini pengalaman pribadi Mbak, kebetulan keluarga saya. hehehe)

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s