Ketergantungan Pada Telepon Genggam

Suatu pagi yang indah, telepon genggam saya mendadak mati dan tak bisa dihidupkan kembali. Pertolongan pertama telah saya lakukan, seperti melepas baterai, mengganti dengan baterai lain, mencoba mengisi baterai, serta memencet tombol ini dan itu selama dua puluh detik. Tetapi telepon gengam saya yang sudah tak berenergi lagi tak mampu kembali.  Ah rupanya Samsung Galaxy saya ini ngambek karena saya sudah berulang kali membaca ulasan mengenai telepon genggam lain. Mungkin telepon yang katanya pintar ini cemburu.

Selama hari kerja saya tak bisa membetulkan si telepon genggam karena kesibukan kursus bahasa Inggris yang berlangsung seusai jam kerja. Alhasil, selama berhari-hari saya tak bisa menggunakan telepon genggam dan baru bisa membetulkannya di Samsung di ITC Kuningan pada akhir pekan lalu. Ia harus turun mesin karena kerusakan yang terlalu parah, penyebabnya tidak diketahui tapi bisa jadi karena pengisian baterai yang berlebihan, virus, ataupun pemutakhiran apliasi secara otomatis. Soal biaya diprediksi 30% dari harga beli. Edan! Seperti saya tulis di Twitter, saya masih beruntung telepon genggam mati setelah beberapa tahun saya gunakan. Seorang konsumen mengalami hal yang nampaknya serupa setelah empat hari pembelian. Sang konsumen sempat berteriak-teriak penuh emosi meminta penyelesaian dengan manajer, tentunya sang manajer tak muncul sampai ia meninggalkan pusat perbaikan itu. Ah sungguh lemah sekali posisi konsumen di negeri ini.

angry woman

Hidup tanpa telepon genggam itu menyenangkan, bebas dari gangguan. Tapi ternyata banyak juga tantangan yang harus dihadapi. Tantangan-tantangan ini muncul akibat ketergantungan saya pada benda mungil ini. Beberapa tantangan itu antara lain:

Tak bisa pesan makanan & taksi

Seperti saya tulis di postingan ini, saya lebih suka memesan lewat aplikasi. Tanpa telepon genggam, saya kesulitan pesan makanan, apalagi pada jam-jam ajaib (baca: tengah malam). Parahnya, ketika mencoba memesan melalui web saya harus menata ulang kata sandi baru karena identitas serta kata sandi akun saya tersimpan hilang.

Soal taksi jangan ditanya lagi, tapi lagi-lagi saya bersyukur Jakarta tidak sedang hujan, jadi saya bisa menunggu taksi di pinggir jalan. Tentunya dengan metode ini saya tak bisa memesan Uber, apalagi menikmati potongan harga dari Grab Taksi.

'I'm talking to Mother...The telephone's broken!'

‘I’m talking to Mother…The telephone’s broken!’

Tak bisa buka blog

Hal lain yang buat saya agak susah adalah mengakses blog karena saya menerapkan pengamanan berlapis dari WordPress. Pengamanan ini mengharuskan penggunaan aplikasi untuk memasukkan kode jika membuka blog dari media yang berbeda. Alhasil ketika mencoba membuka dari laptop, saya harus melalui sebuah proses yang cukup rumit. Proses ini tertunda lama karena saya lupa dimana saya meletakkan kode-kode untuk keadaan darurat yang diberikan wordpress. Akibatnya komentar-komentar di blog terlambat dibalas. Padahal jika ada telepon genggam komentar juga sering terlambat dibalas karena balasan seringkali tak muncul, entah mengapa.

 Kehilangan data

Wah yang ini jangan ditanya rasanya bagaimana rasanya kehilangan kontak dan kehilangan foto. Yang agak gemas, saya kehilangan kontak rekan-rekan pemerintahan yang berhubungan dengan urusan pekerjaan. Menghubungi pegawai pemerintahan ini biasanya lebih mudah melalui telepon genggam ketimbang email, maka ketika nomornya hilang, perlu waktu untuk mengumpulkan kembali.

Email penting terlewatkan

Ini masalah kebiasaan, saya biasanya mengandalkan notifikasi otomatis dari telepon genggam untuk email masuk dan tak punya kebiasaan mengecek email pribadi.  Akibatnya, ada beberapa pembaca blog ini yang menanyakan informasi-informasi penting yang terlambat saya balas. Rekan blogger saya Eka juga sampai kebingungan karena undangannya terlambat saya baca. Pelajaran berharga buat saya, setiap pagi saya mesti membiasakan mengecek email pribadi dulu.

Tak bisa bangun pagi

Dari semua tantangan di atas, bangun di pagi hari menjadi tantagan terbesar saya karena saya tak punya jam weker. Selama ini saya bergantung pada alarm yang berbunyi secara rajin pada waktu-waktu tertentu. Hari pertama, saya sengaja tak menutup tirai supaya matahari masuk kamar dan saya bisa bangun pagi. Hasilnya, saya bangun pagi, jam delapa pagi tepatnya. Dua puluh menit kemudian, saya sudah tiba dikantor dalam keadaan sudah mandi. Fiuh….Hari selanjutnya saya tidur lebih awal supaya bangun pagi dan memasang arloji di tangan. Teknik ini berhasil!

Manfaat dan pelajaran berharga

Selalu ada dua sisi dalam sebuah kejadian, jadi selain menimbulkan tantangan ada juga manfaat yang saya dapatkan Konsentrasi belajar saya, saya sedang memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya untuk ujian IELTS, meningkat lebih baik karena tidak ada gangguan dari bunyi-bunyi pesan. Kalapun ada informasi yang perlu dicari melalui google, saya melakukannya lewat laptop. Jika wifi mati urusan perambanan (googling) ini terpaksa harus dihentikan.

Selain itu saya juga semakin bisa mengamati perilaku orang. Seperti Sabtu siang kemarin saya makan di ITC Kuningan, saya menyaksikan seorang pria yang duduk makan sendirian. Ia sibuk mengunyah sementara matanya tak lepas dari telepon genggam. Duh, sungguh hebat telepon genggam ini sampai membuat manusia terlalu sibuk untuk menikmati makanannya.

Hayo, kapan terakhir kali backup data dari telepon genggam?

xx,
Tjetje
Sedang belajar menulis Bahasa Indonesia dengan lebih baik
Advertisements

40 thoughts on “Ketergantungan Pada Telepon Genggam

  1. Aku dari beli sampe sekarang gak pernah di backup 🙂 kalau ilang matilah . Mudah2an si awan itu bekerja beneran. Mati karena kehabisan baterai aja udah panik Ai, semua-semua kerjaan masuk ke hape soalnya. Seremlah.

  2. Aku jarang pegang hape kalau sudah dirumah, makanya kadang kalau terima message dari orang sering kelewat atau jawab terlambat –

    Untuk email aku lebih rely on laptop, pada dasarnya aku ngga terlalu suka chat / email di hape karena layar kecil dan susah pencet2 haha, jadi aku paling nggak demen kalau harus chat di WA. Paling punya Viber dan Telegram dan dua chat app itu punya desktop application jadi aku paling buka desktop versionnya klo didepan komputer.

  3. email sih aku lebih suka buka dii laptop atau pc mbak Tjetje, tapi untuk back up nomer kontak udah jarang banget aku lakuin, mesti segera ngeback up ini

  4. Zaamn sekarang ya, segalanya bergantung kepada si telepon pintar ini 🙂 .

    Btw, sepertinya kejadiannya mirip dengan Samsung Galaxy-ku tahun lalu tuh. Pagi-pagi tiba-tiba teleponnya mati dan tidak bisa dihidupkan. Segala trik aku coba dan tidak ada yang berhasil 😦 . Jadilah aku harus beli baru. Setidaknya waktu itu teleponnya sudah berumur hampir dua tahun sih jadi nggak terlalu sakit hati…

  5. akuuuu gak pernah backup data mba.. update otomatis juga gak diaktifkan. jadi seperlunya aja yg di update..

    teruuuss.. dulu knp ga ada hp canggih, gapapa. skrg, ga ada hp, langsung mati gayaa :)) *curcol*

  6. wahh.. ini emang kyknya penyakit samsung bngt.. aku punya juga gt mba.. aku lg bales WA orng.. udah gt ada telpon masuk.. pas telponnya mau di angkat.. eh tiba2 dia malah mati dan ga mau nyala lagi.. coba ini itu juga ga bisa.. akhirnya pergi ke samsung centre dsini dan di bilang motherboardnya rusak. dan harus bayar 400 dollar-an untuk repair. akhinya ga jad repair deh. mendingan beli baru sekaliann.. haha

  7. Saya lupa kapan terakhir kali backup data dari tablet ini :hm. Sebelumnya sudah pernah kejadian hilang data dan kontak, tapi untungnya tidak terlalu parah dampaknya soalnya ada ponsel satu lagi yang menyimpan semua kontak :hihi. Soal e-mail, bukanya di laptop atau kalau sedang di kantor :)). Tapi kadang memang kehilangan akses ada hikmahnya juga ya Mbak :)).

    Good luck buat kursus IELTS-nya, Mbak, semoga kemampuan bahasa Inggrisnya makin meningkat :hehe

  8. Hpku juga rusak mba Ai pas kmrn di Belanda. Sampe skrg belom aku benerin. Selama disana, aku nebeng sms mama sm WA kakak aku pake hp Ian. Yang bikin sedih, aku belom back up semua foto-foto dan video selama disana 😦
    Begitu pulang ke Indo, aku balik lg pake bb lama. Rasanya hampa bgt gak pegang smartphone 😛

  9. All my life is in my iPhone, and I have set it so that it makes backup everytime it connects to Wifi.

    Ps. Kalau lagi makan sendiri aku juga nunduk liat hp, supaya nggak awkward duduk sendirian gitu… 😐

  10. Terakhir backup seminggu setelah hpku blank mbak. Artinya sdh 2/3 mingguan blm back up lagi nih.
    Skrg ini memang agak repot tanpa hape ya Mbak. Dah terlalu banyak yang hrs pakai hape aktivitas kita.

  11. aku nggak pernah backup data mba, disini berhubungan sama pihak lain lebih banyak pakai email. agak payah sih, tapi belum ada nomor penting plus hp kebanyakan cuma buat ngegame online saja. kalau weker aku sama suami pasang 2 hp plus 1 ipad jamnya beda-beda, itupun sering kelewat hahahaha. nambah jam memang khusus weeker sepertinya bagus mba, ada yang kecil praktis

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s