Service Charge yang Menggemaskan

 

Di banyak industri jasa, terutama boga, ada keharusan membayarkan service charge. Service charge ini merupakan biaya yang memang biaya layanan yang dibebankan kepada konsumen dan seharusnya diperhitungkan dalam harga makanan dan minuman. Bagi saya, komponen ini jika diletakkan sebagai tambahkan biaya jadi mengganggu, apalagi jika layanan yang diberikan di bawah standard.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai tukang bagi-bagi tagihan, angka service charge yang dibebankan ke konsumen berkisar dari 5 hingga 13 persen. Angka ini berbeda dari satu restaurant ke restaurant yang lainnya. Service charge ini masih harus ditambahkan dengan pajak pertambahan nilai sebesar 10%. Jika ingin tahu betapa rumitnya perhitungan service charge dan PPN, rumusnya kurang lebih seperti ini :

Harga total = harga di menu + (harga di menu * 13% service charge) + ((harga di menu * 13% service charge)*10%)

Rumus di atas adalah rumus standar tanpa ada potongan diskon dari kartu kredit. Jika ada potongan kartu kredit, excel spreadsheet bisa pusing dan berpeluh menghitungnya. Lebih ajaib lagi jika ada makanan atau minuman tertentu yang tidak di diskon, semakin panjang dan semakin rumit.

Di Irlandia service charge biasanya hanya dikenakan jika tamu yang datang di atas enam orang. Aturan ini tidak baku, tiap restaurant memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Pengenaan service charge hanya untuk grup besar karena melayani grup besar berarti tim kerja keras bagi seluruh anggota tim, baik yang ada di dapur maupun yang melayani. Mereka semua harus bekerja keras untuk mendatangkan semua makanan dalam waktu bersamaan.

Di Indonesia, dengan service charge setinggi 13 persen pun, makanannya akan tetap di cicil. Tak cuma restaurant dengan juru masak local, restaurant dengan chef asing pun melakukan hal seperti ini. Ambil contoh sebuah restaurant Itali di Gedung Energi, tak terhitung berapa kali saya dan seorang rekan kerja menjadi orang terakhir yang menerima makanan, sementara yang lainnya sudah kenyang. Dalam kondisi seperti ini, service charge masih tetap dikenakan dengan persentase yang sama. Kok minta service charge dihapuskan, minta maaf aja seringkali tak diberikan. Bagi sebagian besar restaurant, jasa ‘cicilan makanan’ inilah seperti itulah yang dihargai belasan persen dari harga makanan.

Tak hanya soal ketepatan waktu datang yang seringkali membuat gemas, pelayan di restaurant seringkali mirip Flo Diner Dash, kalang kabut mengantarkan makanan. Tak jelas pelayan mana melayani meja mana, semua orang serabutan tak jelas lari kemana. Nampaknya diperlukan sebuah sekolah keterampilan atau sekolah manajemen supaya sebagian restaurant di Indonesia bisa mulai menata pelayanannya. Patut dicatat bahwa tak semua restaurant seperti ini, ada banyak restaurant yang melayani tanpa cicilan. Tapi sayangnya, restauran seperti ini jarang sekali.

Berbeda dengan Indonesia, di Irlandia saya tak perlu repot-repot melambai-lambaikan tangan ke pelayan yang pura-pura tak melihat. Beberapa menit setelah makanan datang, pelayan biasanya akan menanyakan apakah makanan dan minuman yang disajikan baik-baik saja. Dengan layanan seperti ini, kalau disuruh bayar service charge 20% sekalipun saya akan rela, karena layannya menyenangkan.

Mice cartoon service charge

Menurut saya, sebagian restaurant di Indonesia itu ‘mempermainkan pikiran’ konsumen dengan mempermainkan font harga. Harga dasar ditulis dengan font terbesar, sementara PPN dan service charge ditulis dengan font paling kecil. Rumus perhitunganan pun tak pernah diinformasikan, yang ada di akhir makan-makan biasanya terjadi kejutan-kejutan karena harga makanan jadi melonjak mahal. Kejutan ini masih ditambah dengan informasi potongan kartu kredit yang tak jelas, seringkali tak disebutkan mana yang didiskon mana yang tak didiskon.

Rasanya lebih adil jika harga yang tertera di menu adalah harga final, mau dicharge service charge berapapun, yang penting konsumen tak perlu berhitung berapa kira-kira harga makanan tersebut. Dan perlu diingat, pelayanan yang diberikan pun harus jauh lebih baik dari layanan Flo Diner Dash, biar konsumen tak lari dari restaurant dengan kepala membara.

Jadi, suka bayar service charge?

Xx,

Tjetje

Suka pusing ngitung persentase service charge

Advertisements

32 thoughts on “Service Charge yang Menggemaskan

  1. Banget. Makanya kalo pelayanan di bawah standar suka bete berat. Terytama di tempat kayak resto italia di energi itu. Yang keren ada nih di daerah mega kuningan, service charge standar lah mbak, tapu makanan keluar serempak. Paling kalo yang keluarnya lama ya yang dipesen nyusul. Kadang suka sampe mikir “njritt mahal bener makanan ya..”

  2. Wah, menarik juga ya Tje di Irlandia tamu lebih dari 6 bebas service charge. Di Belanda service charge di resto & cafe 6% & 21%. Yang 21% untuk minuman kadar alkohol tinggi, 6% untuk sisanya plus makanan. Enaknya service charge disini sudah termasuk dalam harga yang tertera di menu. Jadi dibon harga dispesifikasi brutto nettonya, totalnya ya sama seperti yang kita lihat di menu. No surprise at the end 😉

  3. Ngemesin banget kalo terlanjur nyasar di resto yg service charge nya gila. Apesnya pas makan rame2 bareng temen biasanya pada lupa nyaur perhitungan service charge ke masing2 tagihan. Tambah pusing lagi pas bayaran makanan ada diskon, minuman kaga, la service charge nya baginya per individu piye hehehe

  4. Iyaa kayak nipu, harganya seakan2 murah tapi tax dan service chargenya dibikin tulisan kecil. Kenapa ga all in aja sih ya..kita konaumen mana mau pusing, itung2 lagi.

  5. Pengalaman mirip seperti di Bandung kemarin. Lihat-lihat menu di pintu restoran (modelnya kayak di Eropa gitu di pintunya ada buku menu dan pelayannya) dan pelayannya bilang bahwa harga per paketnya Rp 150.000,-. Aku lihat ada tulisan kecil di bawahnya untuk PPN dan service and charge. Aku nanya ke pelayannya: “Lho, itu 150 ribu masih plus plus kan Mbak?”. Dijawab “Iya”. Yaaa, setengahnya kok aku merasa mereka seperti mau “menipu” ya? Technically nggak menipu sih karena kan ada tulisannya disitu dan memang harga paketnya (doang, tanpa pajak dan service and charge) benar Rp 150.000,-. Hahaha 😆 Ibu-ibu di sebelahku yang lihat-lihat buku menunya juga jadi sadar setelah aku bertanya begitu, haha 😆

  6. Kalo pelayanannya memuaskan kita relalah dikenakan service charge. Lha, kalo sebaliknya ditambah lagi makanan gak enak, cuma bikin kapok untuk datang lagi ke restoran/cafe yang sama.
    Harusnya service charge dibaurkan aja ke harga makanan/minuman, ppn dibikin terpisah. Jadi orang gak ngedumel kalo pelayanannya amburadul.

  7. Aku malah nggak terlalu perhatikan Mba Ai, bukan karena punya duit tapi karena sudah terpatri di pikiran harga akhir biasanya beda. Jadi sekarang malah bakal mantengin kasbon kalo kebetulan makan di restoran/cafe, berapa itu service charge yang mesti dibayar.

  8. service charge mestinya diikuti ‘standar pelayanan’ yang oke juga ya.. tapi seringnya di sini mah service charge kemanaaaa…. standarnya kemana…. gak ketemu..

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s