Uang Tip

Melanjutkan tulisan saya tentang service charge minggu kemarin, mari kita membahas tentang uang tip. Uang tip dan service charge adalah dua hal yang berbeda. Service charge bisa dibagi untuk semua staff, atau dikantongi oleh manajemen, sementara uang tip biasanya dikhususkan untuk mereka yang memberikan jasa. Di Eropa, memberikan uang tip, baik di restaurant maupun tempat-tempat lainnya bukanlah hal yang diwajibkan, karena penghasilan para pelayan restaurant sudah sesuai dengan upah minimum. Tak seperti di Eropa, di Amerika dan Canada memberikan tip merupakan hal yang harus dilakukan. Selain sebagai bentuk apresiasi atas baiknya layanan yang diberikan, juga karena pelayan restaurant di Amerika mendapatkan upah yang jauh di bawah upah minimum. Memberikan upah di bawah standar nampaknya diperbolehkan untuk beberapa industri.

Di Indonesia, tak ada aturan mengenai uang tip, walaupun di beberapa tempat seringkali tip diharapkan. Harapan ini biasanya bisa dengan mudahnya dibaca dari bahasa tubuh pemberi jasa. Pengamatan saya, harapan untuk mendapatkan uang tip itu jauh lebih tinggi di Jakarta ketimbang di daerah. Saking ngarepnya, seringkali sinyal-sinyal harapan yang dikirimkan jadi berlebihan dan buntutnya mengganggu. Berbeda dengan di Jakarta, di daerah memberi uang tip lima atau bahkan sepuluh ribu saja, orang bisa girang dengan ekspresi luar biasa penuh apresiasi dan rasa terimakasih. Reaksi-reaksi kebahagiaan dan bersyukur ini buat saya (dan mungkin bagi sebagian orang) adalah sebuah sumber kebahagian. Tapi tak selamanya kebiasaan ngetip ini dihargai, terutama kalau orang Jakarta di daerah. Alasannya macam-macam, dari mulai dituduh merusak pasar, karena memberi secara berlebihan hingga dituduh arogan dan sok baik.

tipping

The cartoon belongs to: http://roynixoncartoons.blogspot.ie/

Tip biasanya diharapkan di berbagai tempat, dari restaurant, salon kecantikan, salon waxing, hingga  jasa angkutan publik (baca: taksi). Salon misalnya, salah satu tempat yang membutuhkan banyak uang kecil untuk tip, biasanya sebelum nyalon, saya selalu memastikan punya beberapa lembar uang kecil. Setidaknya ada tiga orang yang harus diberi tip di salon, karena yang nyuci rambut , yang memberikan treatment, yang motong rambut hingga yang mengeringkan berbeda-beda orang. Perhitungan saya, minimal tiga orang untuk satu macam treatment. Jika menghabiskan seharian dari mulai potong rambut, creambath, pijet, perawatan kuku akan lebih banyak lagi yang diberikan uang tip.

Salon waxing juga salah satu tempat yang biasanya mengharapkan uang tip. Tak seperti di salon, tempat waxing biasanya lebih kenceng kalau ngirim sinyal mengharapkan tip. Mbak-mbak ini gak segan-segan untuk nungguin kita di depan counter sambil memberi muka penuh harapan. Saya terus terang tak suka model seperti ini, tapi tentunya gak semua mbak-mbak dan semua salon seperti ini. Pink Parlour, salon waxing punya Dian Sastro, di Pacific Place misalnya, punya pegawai yang tak pernah menunjukkan sinyal dan bahasa tubuh ngarep.

Dari obrolan saya dengan pengemudi taksi, saya juga tahu bahwa pengemudi taksi juga sangat mengharapkan tip. Mengutip salah satu pengemudi yang pernah saja aja berbincang “Kalau saya ngarepin dari hasil narik aja nggak cukup Bu, wong saya baru dapat sekitar lima puluh ribu kalau saya berhasil dapat lima ratus ribu”. Tapi, pengemudi biasanya juga cerdas dalam profiling, mereka sudah bisa menebak gaya penumpang yang memberikan tip dan yang tidak. Tak hanya dilihat suku ataupun negara asalnya, tapi juga dilihat dari gaya mereka. Sayangnya hal ini kemudian memberikan label-label buruk bagi orang-orang dari wilayah atau suku tertentu.

Tipping juga bisa diberikan pada office helper (saya lebih suka memanggil office helper ketimbang office boy ataupun office girl) yang sudah memberikan layanan tambahan. Sebenarnya, jatuhnya bukan tipping sih, karena pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan biasanya bukan pekerjaan utama office helper (i.e beli makan siang, kirim paketan, bayar tagihan, setor ke bank). Saya biasanya tak hanya memperhitungkan bensin, tapi juga waktu yang terpakai bermandikan matahari dan polusi Jakarta. Eh tapi surprisingly masih banyak orang yang tega memberikan uang tip yang bahkan tak cukup buat beli bensin setengah liter. Memang tak ada regulasi tentang pemberian uang bagi office helper, dan tak perlu diregulasi, tapi mbok ya, kalau ngasih itu dihitung yang bener. Bukan menghitung dari berapa yang bisa kita simpan supaya kaya, tapi berapa kita menghargai tenaga dan waktu mereka.

Salah satu hal yang menurut saya mengganggu banget, adalah larangan memberikan tip bagi mereka yang bertugas di tempat parkir mall. Seragam-seragam yang mereka kenakan biasanya bertuliskan larangan untuk memberikan uang tip. Saya mencoba menebak-nebak alasan dibalik larangan ini, mungkin saja tipping membuat mereka jadi jago profiling dan milih-milih jika memberikan layanan, atau mungkin ada alasan lainnya. Tapi bagi saya, melarang memberikan uang tip bagi mereka, yang mungkin penghasilannya tak seberapa itu, kok rasanya aneh ya.

Selain tempat-tempat di atas, dimana lagi biasanya uang tip diharapkan?

 

Xx,

Tjetje

Pernah bereksperimen ngasih tip ke kenek Kopaja, ditolak !

 

 

Advertisements

31 thoughts on “Uang Tip

  1. Hi mbak Tjetje apa kabar hari ini Dublin. Pernah di salon di Malang saya ngasih tips sedikit itu girangnya pegawainya…. pdhal mreka juga ga nunjukin sinyal minta tips, beda banget dg salon di mall yg pernah saya kunjungin.

    • Hi kabar baik, Dublin berapa hari ini mendung, kemaren hujan gak berhenti seharian sampai gloomy rasanya (karena cucian tak kunjung kering). Indeed di Malang kalau ngasih tips orangnya bisa ngasih banyak doa, makanya aku demen banget. Kalau di Jakarta dikasih agak banyak juga lempeng aja:(

  2. Di tempat karaoke juga banyak yang mengharapkan tip.

    Saya gak habis pikir ada pegawai yang sering minta tolong pada ob beliin nasi untuk makan siang, tapi kadang cuma ngucapin terima kasih doang. Gak menghargai tenaga orang ya.

  3. Aku pernah mendapatkan pengalaman kurang mengenakkan ketika makan di Bali. Ketika membayar bill dan seharusnya mendapatkan kembalian (sekitar Rp 70.000,-an), pelayannya dengan seenak hatinya ngomong kurang lebih begini: “Pak, tips buat sayanya Rp 50.000,- ya”. Iya dong (1) Dia sendiri yang menentukan bahwa dia mendapatkan tip dan (2) Dia sendiri yang menentukan besarnya tip yang ia dapatkan dan (3) “Memaksa” aku untuk setuju dengan itu semua.

    Borderline pemerasan kalau gini namanya ya 😆 .

  4. Pernah duluuuu pegi creambath trs nggak ngetip, Mbaknya udah asem banget. Akhirnya nyadar pas temenku kasihtau suruh ngetip hahahaha, jaman umur 18an yg betul2 jarang nyalon soalnya. Kalo di sini biasanya ada tip jar-nya kalau ke beberapa tempat (biasanya tempat penyedia jasa boga). Sayangnya tuh tip nggak pernah mencapai pihak dapur, padahal kamilah (dulu termasuk saya) yang masak makanannya. Malah di cafe terakhir yang bossnya dari Neraka, tuh tip jar suka dikosongin sendiri olehnya, nggak dibagi-bagi ke staff sama sekali.

  5. Ibarat kata, uang tip kan ucapan terima kasih karena kita sudah dilayani dengan mengorbankan tenaga serta waktu office helper ya Mbak :hehe. Kalau saya kebetulan ada kelebihan uang ketika akan membeli sesuatu, maka biasanya sih minta tolong sama office helper dengan memberi tip, tapi kalau uang pas-pasan, pada akhirnya jalan sendiri :haha, hitung-hitung olahraga :hehe. Soalnya kalau minta tolong orang membelikan sesuatu terus cuma mengucapkan terima kasih, kok ya rasanya ada yang kurang… :hehe.

  6. Kalau tukang parkir itu aku taunya dari beberapa temen AI.Kalau pakai mobil bagus mereka bantu banget tapi kalau mobilnya biasa atau tahun tua dicuekin. Makanya dikeluarin deh no tipping hehe. Cuman tetep aja biasanya kita kasih haha. Abis kan mereka beneran bantu kecuali tukang parkir yang muncul pas mau keluar doang dan itupun gak bantu. Ngeselin.

  7. “Are you happy?”
    Kalo orang di India nanya kayak gini dan kita jawab “Happy” maka artinya dia akan mendapatkan (baca : meminta) tip yang besar :p

    Jadi pengalaman selama di sana jawabnya, “I’m happy but….” hehe. Soalnya mereka kadang bantunya sembarangan, malas-malasan eh mau minta tip. Kalau kita nyaman dan puas :p tanpa diminta juga tip pasti dikasih.

  8. Saya kerjja di salon .Saya sering kesal banget kalau bagian massage body udah lama” sampe keringetan tamunya gk ada sedikitpun terima kasihh .boro” uang tips 😀

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s