Mengapa Beralih ke Uber?

Kemarin dunia sosial media diramaikan dengan demonstrasi anarkis yang dilakukan oleh para pengemudi taksi yang menolak Uber, Grabcar, Go-Jek dan app lainnya. Aplikasi memang memukul keras industri taksi di ibukota, tak hanya membuat penghasilan pengemudi turun drastis tapi juga membuat ratusan, atau mungkin ribuan pengemudi taksi beralih pekerjaan.

Bagi saya, kendaraan pribadi yang dialihfungsikan untuk trasnportasi umum ini tak ubahnya dengan mobil sewaan, yang disewakan dengan dalam hitungan menit, bukan hari, minggu apalagi bulanan. Secara teori Uber memang lebih murah, TAPI ketika permintaan melonjak ada surge charge hingga 4 kali lipat. Dengan adanya biaya tambahan ini otomatis biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih tinggi ketimbang taksi premium. Dengan harga yang mahal sekalipun orang tak bergeming, masih rela merogoh kocek. Selain karena buruknya sistem transportasi di Jakarta, ada banyak alasan lain yang bagi saya membuat orang malas menggunakan taksi.

Uber taksi

Cartoon: bindness ETC

Pemesanan yang praktis
Mesen taksi di Jakarta, terutama menjelang akhir pekan itu susahnya luar biasa. Setelah nunggu bermenit-menit supaya koneksi tersambung, calon penumpang (selanjutnya saya sebut CP) masih harus memberikan nomor telpon, memberikan alamat, verifikasi alamat atau bahkan mengubah alamat jika alamat penjemputan berbeda. Keribetan masih ditambah lagi dengan taksi yang tak kunjung muncul karena terjebak kemacetan atau karena ketiadaan armada (karena armadanya lagi sibuk nongkrong di dekat perempatan di kantor saya dulu dan nggak mau ngangkut penumpang). Masalahnya, CP tak bisa mengecek dimana lokasi pengemudi dan harus kembali menelpon operator lagi hanya untuk mengecek lokasi pengemudi.

Seringkali CP masih disibukkan dengan pertanyaan apakah masih ingin menunggu jika setelah 20 menit taksi belum juga muncul. Pada situasi seperti ini, memesan taksi premium juga tidak disarankan, karena biasanya jauh lebih lama, karena taksi premium hanya ada di titik-titik tertentu.

Kondisi ini jauh berbeda dengan aplikasi seperti Uber yang bisa dibuka dengan waktu singkat, posisi kendaraan jelas dimana, CP bisa menentukan perkiraan waktu penjemputan, bahkan bisa memperkirakan biaya yang akan dikeluaran. Yang paling penting, tak ada biaya minimun pemesanan.

Tak perlu uang tunai

Pembayaran Uber dilakukan dengan kartu kredit yang sudah terintegrasi dengan akun kita. Penumpang tak perlu repot-repot membawa uang tunai, kecuali untuk membayar parkir. Pendek kata, penumpang hanya perlu naik dan turun kendaaan, layaknya naik kendaraan pribadi. Sementara kalau berurusan dengan taksi mesti bawa uang tunai, dalam semua pecahan, karena pengemudi taksi seringkali tak memiliki uang kembalian, apalagi di pagi hari. Soal uang kembalian ini ngeselin banget kalau pengemudinya juga gak ada usaha untuk nyari kembalian, tak peduli, atau bahkan nekat minta kembaliannya untuk bonus dirinya (ini pernah kejadian pada teman WNA saya).
Bayar taksi dengan kartu kredit sendiri dimungkingkan, tetapi tidak pada semua armada. Itupun mesti pakai ribet ngegesek kartu dan tanda tangan slip terlebih dahulu. Transaksi juga baru bisa dilakukan ketika ada sinyal. Nah jadi silahkan dibayangkan betapa ribetnya melakukan proses pembayaran jika berada di sebuah lobi gedung yang sinyalnya lemah sementara mobil di belakang sibuk memencet klakson karena sudah tak sabar menunggu. Praktis banget.
Pengemudi yang kurang kompeten
Nggak semua pengemudi ya, tapi gara-gara segelintir pengemudi, rusaknya image seluruh pengemudi taksi. Taksi burung biru misalnya, terkenal tak tahu jalan. Parah banget ketidaktahuannya. Tapi jangan heran dengan ketidaktahuannya, apalagi ketidakadaan GPS untuk mengarahkan. Wong banyak pengemudi ini seringkali baru datang dari kampung dan belum tahu jalanan-jalanan penting di Jakarta.
Soal pengemudi baru ini erat kaitannya dengan kesejahteraan yang diberikan. Coba deh ngobrol sama pengemudi taksi, tanya berapa penghasilan mereka. Mereka baru bisa mendapatkan 50 ribu jika argo sudah mencapai setidaknya 500 ribu rupiah. Belum lagi bensin kendaraan yang harus mereka tanggung. Hitungannya rumit deh, tapi intinya satu: pengemudi taksi kurang sejahtera, nggak bahagia dan sering mengeluh. Berbeda dengan pengemudi Uber yang bersyukur karena penghasilannya besar sampai bisa bayar hutang dan ngasih susu anaknya. Jadi ya jangan heran kalau ada satu pool yang sebagian besar pengemudinya pindah jadi tukang ojek ataupun supir Uber, karena penghasilan mereka jauh lebih baik.
Sementara taksi putih yang pengemudinya sudah tahu banyak jalan di Jakarta terkenal belagu, karena hanya mau mengantarkan mereka yang tujuannya jauh. Jika arah yang dituju dekat, jangan harap diantar. Apalagi jika areanya macet. Parahnya, taksi ini terkenal tak bisa diprotes. Mau komplen sampai mulut berbusa perusahaannya juga gak akan melakukan apa-apa. Taksi biru sendiri secara teori tak diperbolehkan menolak penumpang, tapi prakteknya banyak banget yang menolak narik karena jalanan macet, lokasi terlalu dekat atau  karena mereka masih mau nongkrong aja sambil nungguin macet (lihat paragraf 3).
Screen Shot 2016-03-22 at 21.42.38
Bukan berarti pengemudi Uber tak ada yang tak kompeten ya. Saya pernah bertemu dengan yang baru dua hari di Jakarta dan tak tahu JCC dimana. Tapi ada GPS di setiap kendaraan jadi GPS bisa selalu dimanfaatkan. Satu lagi keunggulan GPS ini, perjalanan penumpang tercatat dan bisa dipantau.
Pengembalian uang
Nah ini bagi saya yang paling penting. Selama lebih dari sepuluh tahun menggunakan taksi di Jakarta, melakukan komplain berulang kali (karena banyak hal) saya hanya pernah menerima panggilan yang meminta maaf atas kesalahan pengemudi dan pengemudi akan ditindak. Diputer-puterin keliling Jakarta pun gak akan ada pengembalian uang sama sekali. Sementara dengan Uber, uang kita bisa dikembalikan dengan mudahnya, karena kartu kredit sudah terintegrasi. Ini hal remeh memang, tapi bagi saya (dan saya yakin bagi banyak orang) memberikan kemudahan dan kenyamanan.
Bagi saya, pengemudi-pengemudi yang melakukan demonstrasi secara anarkis kemarin adalah pengemudi yang frustasi. Frustasi dengan kondisi dimana perusahaan tempat mereka bekerja, eh perusahaan tempat mereka bermitra (karena para pengemudi ini tak pernah dianggap sebagai pegawai) tak bisa melakukan kompetisi dengan teknologi terbaru. Kompetisi yang tak bisa dimenangkan dengan mengompori Ahok untuk urusan pajak (karena hanya CV yang boleh jadi mitra Uber dan CV ini bayar pajak).
Pada akhirnya bukan  Ahok yang harus dimenangkan hatinya, karena bukan Ahoklah yang mengontrol pasar. Hati para pengguna transportasilah yang harus dimenangkan & dan memenangkan hati mereka tak bisa dilakukan dengan memberikan taksi gratisan selama satu hari. Mereka hanya perlu aplikasi yang mudah dan transportasi yang murah, tentunya murah tanpa mengorbankan kesejahteraan para pengemudi.
Apakah kalian terkena imbas demo anarkis kemarin?
xx,
Tjetje
Advertisements

87 thoughts on “Mengapa Beralih ke Uber?

  1. kemarin waktu di jakarta, baru pertama nyoba pake grab dan uber car.. awalnya waktu disaranin teman, agak2 parno, takut diculik #halah, jadi masih pake taksi biasa di awal hari. begitu menjelang pulang, barulah tercerahkan, trus nyesel knp gak nurut teman aja pake grab atau uber. apalagi waktu itu, dpt sopir yg ramaaahnya kebangetan. mobilnya juga bagus, dan yg paling penting, murah!

  2. Untungnya kalau aku kemarin ga kena imbas demo anarkis Mbak, soalnya emang lagi madol buat ke dokter gigi.:D
    Jadi memantau aja dari TV dan medsos.

    Nah kemarin kan aku dengerin prescon dari si burung biru Mbak, katanya buat sopir mereka itu ga ada minimal setoran dan mereka udah pasti ngedapetin uang 100 ribu rupiah untuk dibawa pulang kalau mereka masuk, di luar dari perhitungan komisi dari setoran mereka nantinya.
    Dan menurut presdirnya yang kemarin bicara kalau bagi perusahaan dampak dari aplikasi yang ada ga berimbas besar buat penurunan pendapatan perusahaan, karena menurut si presdir penurunan itu terjadi karena banyak hal. Sementara dari yang kita tahu kan para sopir berteriak kalau pendapatan mereka menurun.
    Kalau soal mengalami penolakan dari burung biru yang katanya ga boleh nolak penumpang itu aku sering banget ngalamin Mbak. Sampai papa ku kalau lagi ngobrol sama sopir taksinya yang kalau lagi komplen sekarang sepi banget suka bilang kalau ada oknum burung biru yang suka sombong gamau narik penumpang dengan berbagai alasan, nah sekarang banyak penumpangnya yang beralih jadi kebakaran jenggot sendiri. *maaf jadi panjang Mbak.:D

    • Gak ada minimal setoran? Mereka kalau setorannya jelek terus katanya bisa dikeluarkan Lan. Aku banyak banget ngobrol sama supirnya, intinya sih peraturannya kurang bersahabat. Makanya banyak yang lari ke taksi putih.

      • Dari yang aku dengar kemarin pas presconnya sih begitu Mbak. Dibilang ga ada target setorannya Mbak.

      • Aku kalau naik taksi ga pernah ngobrol sama supirnya sih Mbak, abis anaknya ga kritis.:D

      • Takut buat memulai Mbak 😀
        Oh aku jadinya sering denger kisah-kisah para sopir ini di youtube Mbak, ada salah satu channel yang sering videoin ini.

      • Coba deh kapan-kapan aku cobain Mbak. Tapi ntah bakal naik atau ga setelah ngeliat kejadian kemarin (meskipun jarang naik juga sih, dan aku yakin masih banyak sopir yang baik).:D

      • kayanya ga ada setoran karena modelnya bukan setoran seperti si putih, tapi komisi berdasarkan hasil kerja. beda terminologi. hehehe

      • Mbak, beberapa hari lalu aku ada liat youtube ada yg ngerekam pengakuan sopir burung biru sehari setelah demo kalau demonya itu rekayasa perusahaan. Mbak udah liat?

      • Sudah Lan dan supir itu mengatakan satu hal penting: pengemudi bb itu biasanya emang diam gak berani macam-macam dan demo2 gini emang ga boleh. Makanya agak heran mereka bisa brutal, ternyata perintah atasan.

      • Iya Mbak aku pas liat agak kaget juga semoga identitas si Bapak ga ketauan, kan kasihan.
        Sedangkan yang aku dengar pas prescon dari burung birunya sangat amat berbeda. ckckckck

  3. Syukurnya ga sampe ke bogor.. tapi emang parah amat sih. Yg bikin keki sama taxi konvensional tuh suka belagu ga mau kalo jaraknya dianggap terlalu dekat, atau daerah tujuannya dianggap sulit buat mereka, trus suka pura2 nyasar, suka ga ada kembalian, hahaha..meskipun sy suka ga tegaan dan kasih tips, tp beda aja rasanya kalo dibilang ga ada kembalian. Hehehe

  4. masalah pengembalian uang itu emang bikin repot banget mba ail ya,temen WNA ku ampe ngoceh-ngoceh gak mau lagi naik taksi di jakarta karena ngerasa selalu “dirampok” sama sopir taksi,padahal dia juga gak pelit ngasih tip loh.saya sampe pernah berkali-kali jadi wasit yang nengahin antara temen saya yang minta kembalian dan si pak sopir yang keukeuh kalo dia gak punya uang kembalian.makanya sekarang suka stand by recehan didompet daripada jadi wasit lagi kan mendingan sini saya tukerin….

  5. aku sih ga kena imbasnya mba Ail, tapi baca beritanya jadi miris.. apalagi tindakan anarkis ketika ada taksi yang lebih memilih bekerja daripada demo, malah dirusak mobilnya sampai dipecahin kacanya dan diinjak2 oleh pendemo… 😦

      • Nah kalau ternyata mobil punya si sopir, itu juga gimana ya.. kan kasian.. karena pernah dengar kalau taksi ada yang sistemnya kasi radio dan “brand” ke mobil si sopir.. ya kerja sama gitu lah.. jadi mobil bukan punya perusahaan tapi punya si sopir.. malang banget kan si sopir..mobilnya rusak, mau nyari rejeki kaya apa… 😦

  6. Setoran supir taksi per harinya itu gede banget kan kalau ga salah. Bos burung biru mah tetap kaya raya…supir2nya menderita. Udah saatnya mereka pikirkan inovasi baru kalau gak mau luluh lantak gak bersisa. Tetanggaku dulu ada sekumpulan supir kosti jaya, pd jamannya dulu kosti jaya sempat berjaya lalu mutu makin turun dan akhirnya bangkrut. Para supir itu rumahnya di tegal semua tje, banyak yg beralih jd supir kopaja tapi akhirnya give up juga krna ga kuat ama setoran yg tinggi dan muleh ke tegal. Supir2 ini adalah teman bapakku krna mereka baik banget mereka yg ngajarin bapak nyetir waktu aku masih SD. Bapak juga duku sering diajakin ke Tegal ama mereka utk main2. Pernah juga g namanya om warsum nemenin bapak nyetir ke Medan. Aku cuma prihatin aja tje, hidup supir taxi ini memang jarang yg sejahtera…sementara bos2 diatas sana ya gt deh.

      • Nah ya itu kabarnya ownernya orang terkaya no 25 loh tje si burung biru. Nyante2 aja dia…aku sih kesian supirnya makan ga makan mereka, banyak yg masih ngontrak di kontrakan 1 kamar malah…Kalau yg tetangga mamaku itu. Mereka harus buru2 hire IT handal utk bikin aplikasi yg bahkan bisa mengalahkan uber grab dll.

  7. Ulasannya sangat bagus… Aku juga hanya naik BB aja kalau naik taksi, sejak harga buka pintu mereka sama… pernah juga naik express waktu tarif buka pintu mereka beda.

    Naik merek yg lainnya, judulnya tarif bawah, tapi argonya argo kuda…. dengan jarak yang sama mereka bisa lebih mahal dr BB dan Express… Dan nauk grab car juga enak karena kita udah tau harganya kan… Uber belum pernah.

    Dan, sekarang tiap hari naik ojek aplikasi… lebih memudahkan dan lebih cepeet… Jadi emang taksi konvensional sekarang harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi, termasuk si BB yang selama ini megang dunia pertaksian…

  8. Masalahnya kan di pajak dan regulasi yang Uber ngga ada dan mereka disubsidi jadinya mereka murah. Memang tujuan mereka menciptakan demand dan menggusur taksi tradisional, lalu apa yg terjadi setelah mereka ngga ada saingan? Subsidi dicabut dan harga jadi mahal. Sami mawon. Yang rugi ya tetep orang kecil, kita sebagai konsumen, supir taksi tradisional yg tergusur dan supir Uber yang bisa jadi nanti harus bayar setoran juga layaknya supir biasa.

    Di negara2 Eropa uber di ban dan aku mengerti kok dengan keputusan itu. Disini di negara dengan budaya serikat buruh yang kuat mereka mendemo Uber karena pengemudi Uber tak punya serikat buruh khusus jadi mereka ngga bisa mendemo employernya dan meminta kebijakan ataupun rights & benefit sebagai karyawan seperti di industri lainnya. Akibatnya para supir/buruh ini nanti dirugikan.

    Call me socialist, but I never trust capitalism in the first place, even if it starts with the intention of providing cheaper goods in the first place

    • Dua-duanya, taksi dan Uber sama-sama kapitalisme. Supir taksi di Jakarta setahuku (cmiiw) tak dianggap sebagai karyawan, hanya dianggap mitra. Pendek kata mereka diperas untuk kepentingan sang pemilik modal. Jangan cita-cita pula protes minta hak, bisa langsung out. Nah akhirnya supir bedol desa untuk cari penghasilan yang lebih baik. Tanpa Uber pun mereka yang sudah tahu jalan banyak yang pindah ke taksi putih karena gak kuat dengan sistem perusahaan yang meres banget.

      Soal pajak aku setuju, memang harus bayar pajak. Sepengetahuanku si Uber hanya bayar pajak melalui CV-CV yang dia kerjasama. Uber gak punya badan hukum, beda dengan Grab. Makanya Grab lebih diterima oleh Pemerintah. This I fully agree.
      Tapi dengan kondisi seperti itu pun gak ada yang peduli, penumpang lebih mikir dapat kendaraan pulang, karena cari transportasi di Jakarta itu bikin frustasi.

      • Ya supir taksi disini ada serikat buruh, jadi mereka lebih kuat posisi untuk demand something dari employer. Kalau di Jakarta / Indonesia sih memang “pasar bebas”.

  9. Aku ga kena imbas demo kemarin sih. Cuma kemarin aku sempet orderin gojek buat sodaraku yg lagi nginep di rumah, seharian aku cenut2 nunggu kabar dr sodaraku khawatir gojeknya kena sweeping. Mana tujuannya ke arah Sudirman-Kuningan pulak. Syukurlah ga kenapa2, cuma sempat stuck 2 jam di jalan ga bisa jalan.

    Tapi apa yang ditulis di postingan ini pernah aku alami semua. Akhirnya aku juga prefer pake uber/grab car, karena gampang dan cepet, boso alus’e “gak kakehan cangkem”, hahaha. Kalo order taxi biru atau putih via telp/aplikasi sering zonk-nya. Yang dibilang penuh lah, yang ga ada armada lah, padahal itu pool taxi putih deket rumah keliatan banyak banget supir taxinya lagi nongkrong ngopi2 ngerokok. Apa iya supir segitu banyak lagi istirahat semua, ga ada yg mau narik penumpang? Bo’ong banget lah. Giliran order uber/grab car, 15 menit mobil nongol, mobil bersih wangi, supir juga ga pake protes ngomel ini itu. Pokoke gak kakehan cangkem lah 😆

    • Setuju bener, emang taksi-taksi yang pakai App ini gak kakean cangkem, praktis. Ini berlaku juga sama urusan pesan-memesan makanan, enak makai Gojek, tinggal pencet-pencet, gak perlu berurusan sama ngomong panjang (apalagi kalau pesen KFC) tentang detail alamat.

  10. Setuju banget dengan tulisan ini! Pada dasarnya ini tinggal soal apakah perusahaan taksi konvensional mau ikut perubahan dengan aplikasi online dan mengubah gaya kerjanya ketimbang menyalahkan perubahan :haha. Pelanggan sekarang sudah pintar menilai dan memilih, jadi yang jelek dan berkesan buruk pasti akan ditinggalkan. Demo kemarin agak nggak bijak kalau menurut saya. Syukurlah saya dan kantor tak kena dampak berarti… oh ada. Jalanan lengang dan lancar banget. Sekarang tahulah kami apa penyebab kemacetan :haha.

  11. sekarang uber udah bisa cash loh mbak Tjetje. Aku sih pengguna taxi konvensional dan juga uber, karena di Bandung tarif uber sebenernya ga beda jauh sama taxi konvensional (beberapa kali coba mantau perkiraan harga uber soalnya).

    Soal demo kemaren itu, sayang banget berakhir jadi anarkis dan jadi banyak yang kurang respek sama kedua perusahaan taxi itu. Ngegartisin burung biru hari ini pun menurutku bukan solusi dari kejadian kemarin itu

  12. sebelum mereka demo udah mulai males sih pake taksi konvensional, setelah demo apalagi…huhuhu tapi ya kasian sih memang kalo 500rb baru dpt 50rb 😦 mudah-mudahan ada solusi yang terbaik untuk semua pihak lahh

  13. Kalo aku sih ga kena imbas nya mba Ail, tapi sering ngalamin ya mba Ail sebut diatas. Paling nyesek itu waktu di daerah sekitar blok M aku mau ke GI, emang sih pas banget di jam macet jam7 malem. si burung biru berjejer mangkal banyak banget depan terminal blok M tapi ga ada satupun yang mau nganter, alasannya yaitu macet. aq ga ngerti kenapa sih kalo macet ga mau narik? Aq dan beberapa penumpang yang lagi ngejar waktu ampe setress. Akhirnya ada 1 taksi bersedia itupun kita sharing dengan penumpang lainnya yang tujuannya satu arah, 1 taksi 4 orang. Udah dua kali ngalamin di tolak supir burung biru ini. Dulu mereka nolak penumpang sekarang penumpang sudah beralih ke yang lain, disangka kayak ngerebut pacar. Duuh maak….

    • Biasa begitu, apalagi kalau Jumat malam mau ke bandara, ampun deh pasti pengen nangis. Mesen satu hari sebelumnya juga gak jaminan. Sementara kalau mau mesen golden bird ribetnya minta ampun, gak praktis sama sekali.

  14. Di satu sisi memang sepertinya industri taksi telah lama “terlena” sehingga tidak memikirkan inovasi-inovasi baru ya. “Peluang” ini kemudian ditangkap oleh pendiri perusahaan-perusahaan semacam Uber dan Grab, yang mana mungkin setengahnya mereka memanfaatkan “celah” yang ada. Nah, menurutku celah ini yang harus dikontrol oleh regulator.

  15. Pernah pas naik Si Burung Biru ke bandara pas pagi buta. Karena ngantuk, saya tidur aja dalem taksi. Pas nyampe bandara, kaget karena ongkosnya 140ribu. Biasanya cuma 100ribu loh. Ealah… ternyata mentang2 saya ketiduran, jadi diputerin lewat jalan yang jauh.

    Tapi pernah juga sih dapet pengemudi Burung Biru yang baik, sopan, yang gak muter2, dan ngasih uang kembalian pas.

    Soal uber, saya termasuk yang sangat terbantu dengan kehadiran uber di kota saya (soalnya di kota saya gak ada angkot). Udah beberapa kali naik Uber, dan so far puas. Puas sama attitude driver nya, juga sama ongkosnya yang jauuuh lebih murah daripada taksi lokal maupun Burung Biru. Hehe..

  16. sampai hari ini angkutan umum masih susah ditemukan mbak. yang tadinya ini hanya demo para pengemudi taksi tapi berimbas ke pengemudi angkutan umum. alhasil aku jadi jalan kaki dech ke kantor hitung-hitung buat olahraga juga dech. hanya tetap nga habis pikir yach selama ini mereka begitu belagu nya memperlakukan konsumen dengan alasan terlalu dekat, terlalu jauh, jalan macet, nga ada kembalian dan lain sebagainya karena merasa kita masih membutuhkan mereka. tapi giliran ada saingan nga mau terima. duhhh nyebelin dech

    • Iya gak siap menerima perubahan. Sebenarnya pas taksi burung biru masuk ke kota-kota kecil juga banyak penolakan karena taksi yang sudah ada terpukul dengan “kenaikan standard layanan”. Lha ini giliran dipaksa menaikkan standard layanan malah lelet bener.

  17. belum pernah coba aplikasi gitu, maklum jarang ke Jakarta atau kota besar Indonesia lainnya. Kalau Batam ngga usah diceritain deh, wong di sini si biru dapat deskriminiasi dari taksi lokal , yang MAAF (notabene) rampok. Ngga ada itikad baik melayani konsumen, kalo ngga kita nawar kejam ya konsumen harus cerewet. Tapi sudahlah , mungkin memang setoran mereka ke pejabat daerah kenceng jadi tetap eksis.

    Ironis banget kan , di negeri tetangga taksinya lebih “bertata krama” dikasih tips nolak dengan alasan mereka hanya dibayar sesuai dengan yang dikerjakan. Sedangkan di sini rampok semua, tapi ya memang kami di Batam ngga ada pilihan transportasi lain. Mau naik trans Batam yang jadwalnya tak menentu dan jam operasi terbatas.

    Jadi kalau saya pribadi sih lebih baik jalan keluar dari Mall atau hotel (krn beberapa hotel ngga kasih burung biru masuk) untuk dapat taksi dengan harga rasional.

    Andai ada aplikasi grab dan gojek ada di batam, mungkin para supir taksi akan merajam pengendaranya. Wong supir burung biru saja ada yang pernah pukul kaca mobilnya. Paling ekstrim sih saya pernah ditarik gegeara naik burung biru di pelabuhan, yang katanya hanya untuk taksi gelap.

    Ya beginilah wajah transportasi umum negeri kita … mau marah , jangan ah, ketawa aja biar awet muda

  18. Haha soal si burung biru bikin promo gratisan kemaren pun denger2 ada yang komplain karena dicemberutin sama sang supir selama perjalanan, bahkan ada yg diminta uang rokok 😅 bener-bener deh….

  19. Belum nyoba Uber, baru grab aja. sEringnya naik ojek online.. Ga habis pikir aja sama demo kemarin itu.. Kl naik burung biru, kl pas malam aja, baru ajak ngobrol supirnya, takut nyetir sambil ngantuk. Cm kdg suka cerita macam2 dr yg penting sampe ga penting pun diceritain..

  20. Pas lagi demo, aku lagi di Pontianak baru mau balik ke Jakarta, terus pas di bandara masih banyak Mba semua taksi ada di pintu kedatangan. Tapi ya gitu mereka jadi sepi.
    Mba Ai sempet liat jawaban para petinggi bluebird ga? Banyakan gak nyambung si jawabannya -.- bikin gemes. Sebenernya, kalo si supir langsung resign massal atau mogok massal mungkin mereka langsung rugi. Mungkin hehe

  21. Hal seperti ini pasti akan selalu menjadi polemik selama pemerintah tidak ketat dengan aturan dan pengusaha tidak mau berkembang mengikuti perkembangan jaman sekarang. Itu menurut saya si. Jadi para driver sebenarnya hanya menjadi korban, kesannya maju salah mundur salah. Saya pernah kenal dengan 1 driver burung biru yang baiknya minta ampun dan mereka tidak menggunakan GPS lagi (level lebih tinggi katanya), sayang beliau sudah meninggal dunia.
    Btw, para PRT kompleks seberang sudah menggunakan uber hampir setiap hari, haha..

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s