Cerita Dari Dalam Luas

Pernah dengar lagu “Paint The Town Green”-nya The Script? Nah salah satu liriknya menyinggu sedikit tentang Luas, tramnya Dublin. Di Dublin, Luas ini menjadi sahabat kami, karena kami tinggal di pinggiran kota yang berjarak 45 menit dari pusat kantor. Setiap harinya kami naik tram dua kali sehari. Di pagi hari tak banyak cerita dari dalam tram, tapi di malam hari banyak sekali kejadian menarik. Maklum saja, tram yang kami naiki ini melewati banyak sekali rumah-rumah sosial yang identik dengan masalah sosial. Banyak orang yang tak suka dengan jalur tram ini, tapi sebaliknya, saya menyukainya karena jalur ini menyimpan banyak cerita-cerita sosial yang menarik.

Minggu kemarin misalnya, saya menemukan dua orang yang sedang terbang tinggi ke awan dengan bantuan bubuk-bubuk setan. Yang satu, seorang perempuan, berdiri persis di depan saya, sambil kelimpungan karena tak bisa berdiri tegak. Tak ada orang yang sibuk menolong, para penumpang hanya melihat sekilas dengan pandangan penuh penghakiman. Saya sendiri sibuk merekam video (walaupun video tersebut tak akan saya sebarkan atas alasan privacy). Satu orang lainnya, seorang pria muda, duduk di kursi prioritas (yang posisinya duduknya persis di angkot, tidak menghadap ke depan tetapi ke samping.

Sang pria yang sedang duduk, mengenakan kalung berwarna emas dengan simbol dollar yang cukup besar, persis seperti pennyanyi rap dari Amerika. Ia juga mengalungkan headset besar di lehernya untuk mendengarkan musik. Sambil duduk, ia menggulung rokoknya. Menggulung rokok disini merupakan kebiasaan yang “normal” karena membuat ongkos merokok lebih murah. Tiba-tiba, ia jatuh tertidur. Lalu tak ada angin tak ada hujan, dia jatuh terguling-guling di tram yang kebetulan kosong. Padahal tram juga tak sedang  melaju dengan kencang, berbelok atau bahkan mengerem. Saat itu saya rasanya pengen ketawa, tapi naluri mengatakan gak etis, sudah gak dibantu kok mau diketawain. Di Dublin, para zombie ini disebut sebagai walking dead dan konon, orang-orang di Dublin pada minggir ke luar kota karena Dublin “dipenuhi” oleh para junkies ini.

Selain orang mabuk, baik itu mabuk alkohol maupun mabuk obat-obatan terlarang, saya juga banyak bertemu dengan anak-anak remaja yang bermasalah. Duduk di dekat remaja buat saya adalah hal yang tak menyenangkan, karena mereka cenderung berisik. Nah seringkali remaja-remaja ini tak punya tiket, sementara tiket di tram Irlandia (yang disebut Luas) hanya dicek secara acak.

Pada satu malam yang dingin, empat remaja perempuan mengenakan pakaian seadanya yang banyak menunjukkan bagian tubuh terutama perut. Bagi saya bukan urusan perutnya yang mencengangkan, tapi bagaimana mereka bisa bertahan ditengah dinginnya hawa Dublin. Mereka membawa gelas-gelas minuman soda duduk dan tertawa cekakaan, tak ubahnya burung cekakak. Ketika melihat satu rombongan turis China masuk ke dalam tram, mereka pun “menyapa” mereka dengan berteriak-teriak konichiwa. Setelah itu mereka nyanyi-nyanyi tak jelas dengan suara kencang, mungkin dipikirnya mereka sedang berada di Inul karaoke. Lama-lama petugas keamanan (yang juga berada di Luas secara acak) gemas dan mengeluarkan mereka. Proses mengeluarkan pun tak mudah karena anak-anak ini memposisikan dirinya seperti korban dan berteriak menyuruh petugas menyingkirkan tangannya dari tubuh mereka. Padahal petugas pun tak menyentuh mereka. Begitu mereka keluar, wajah dan bahasa tubuh penumpang menunjukkan kelegaan luar biasa. Luas pun kembali tenang.

Satu masa saya bahkan pernah bertemu dengan supir tram yang saking gemasnya dengan anak-anak remaja, dia keluar dari bilik kerjanya (disini ruang supir tram terkunci), lalu ia berteriak mengusir anak-anak tersebut. Intinya, sang supir tak mau melanjutkan perjalanan jika mereka tak keluar dari tram. Sang supir yakin betul anak-anak tersebut tak punya tiket dan tak memiliki karcis disini bisa didenda 45 – 100 Euro. Padahal karcis tram hanya berkisar 2.6 Euro saja. Sayangnya, anak-anak remaja biasanya tak bisa didenda dan hanya bisa dikeluarkan dari tram & jika sudah begitu mereka hanya akan duduk-duduk di pinggir tram, menunggu tram selanjutnya.

Bicara tentang pengemudi Luas, para pengemudi Luas yang bergaji 42 ribu Euro setahun ini sedang rajin melakukan mogok kerja karena mereka minta naik gaji. Mintanya gak tanggung-tanggung, 50% saja. Hari-hari yang dipilih untuk mogok kerja pun hari-hari penting seperti saat St. Patrick’s Day kemarin, atau pada saat akhir pekan Paskah. Awal bulan ini saya bahkan “kecelik” sudah ada di halte tram tapi tak ada tram sama sekali. “Gila sih” para supir ini minta kenaikan yang secara persentase sangat tinggi. Publik di Dublin juga marah besar, karena mereka dianggap tak tahu diri, apalagi perusahaan tempat mereka bekerja ini mengalami kerugian tahun kemarin. Bagi saya sih mogok kerja & minta naik gaji setinggi apapun juga hak para buruh, tapi mbok ya kalau milih tanggal yang pas saya gak keluar rumah gitu. *Eh kok curhat*

Suatu hari seorang kakek menghampiri saya, dengan muka serius ia berkata: “Kamu malas ya, dua stop aja naik tram”. Saya pun ketawa nyengir saja sambil membatin, I am helping Irish economy.

 

Anyway, cerita dari dalam Luas ini masih banyak, termasuk cerita para alkoholik. Soal yang ini akan saya bahas dalam postingan terpisah saja, karena alcohol dan Irlandia merupakan hal yang tak kalah menarik. 

Punya cerita seru dari kendaraan umum? 

Xx,
Tjetje

Advertisements

36 thoughts on “Cerita Dari Dalam Luas

  1. Hahahah banyak, tau kan mba kalo naik kendaraan umum di Jakarta dramanya bisa ngalahin tersanjung season 1-7 😆
    Pas dulu aku masih tinggal dan kerja di Jakbar, kendaraan menyumbang naiknya darah aku sekitar 50% setiap hari nya 😛
    Btw disana yang mabok2 gitu rusuh gak sih? Di Jakarta kan serem tuh kalo ada pengamen mabok yang naik ke bis terus maksa minta uang sambil bilang baru keluar dari penjara lah, nyilet2 tangan lah :/

  2. Commuter line Mbak, gerbong cewek yang katanya lebih sadis daripada gerbong campur. Sering aja dong Mbak-mbak yang berantem baik itu berantem mulut ataupun dorong-dorongan. Yang paling seru sih beberapa hari yang lalu, Mbak A mau turun dan berusaha bergeser ke depan pintu, eh si Mbak B kayaknya ga terima kesenggol. Dengan mata melotot terus pas si Mbak A udah nyampe depan pintu si Mbak B ga puas terus tangannya ngedorong si Mbak A. Padahal si Mbak A udah pake permisi pas mau geser dan ga pake rese lho Mbak, kurasa Mbak B kelupaan minum obat tadi pagi.:))
    Yang lain liatnya pada geleng-geleng kepala dan senyum-senyum. Dalam hati aku ngebatin, Mbaknya kalo gamao kesenggol jalan kaki ajah sanah!hahahaha

  3. Nama tram line nya lucu ya Luas, cocok sama Luas dalam Bahasa Indonesia. Dulu waktu tinggal dekat Stadion Ajax di Amsterdam tiap pertandingan mesti bawaannya mending jalan kaki aja ke rumah, udah rusuh, berisik, lempar2 botol bir.

  4. Pernah kena “sapaan manis” juga dari abg mabok pas di Inggris Tje, beberapa kali malah. Muka asia gini kan, kena juga disapa pakai “Nihao”. Rasanya lega banget begitu udah saatnya turun hehehe. Btw ini Luas supirnya mirip supir Tube yaa pada hobi mogok terus minta naik gaji.. aku inget dong supir Tube mogok pas hari aku harus pulang ke Indonesia.. waaahh deg2an nya ampun. Tapi untung aman2 aja sih 🙂

  5. Naik angkot dr tempat kerja ke setasiun kereta bareng mbak2 (singular sebenarnya) memakai baju kerja officeloik gitu pake sepatunya pantofel dan membuang sampah dr luar jendela pas ditegur baik2 njawabnya nyolot “mau buang dimana?”, atau masih naik angkot yg sama beda hari beda mba2 yg juga pulang kerja makan siomay langsung diplastiknya gitu ga pake tusuk lidi sudah habis plastik bekas yg masih ada bumbu siomay di buang dibawah jok kursi kemudian tangannya di lap ke tasnya saya bengong (udah malas negur orang buang sampah sembarangan)

  6. “Seru”-nya naik transportasi umum memang ya 😛 . Minggu lalu di sebuah tram di Helsinki ada seorang bapak-bapak (yang baru balik dari Tallinn dan (kayaknya) membeli banyak alkohol disana soalnya murah) mabuk. Herannya dia nggak mau duduk dan malah berdiri aja berpegangan tiang. Saking mabuknya, tramnya cuma bergerak pelan aja dia kelimpungan nyaris jatuh karena berdirinya nggak bisa seimbang, hahaha 😆 .

    Oh my, minta naiknya 50%!?!?!?!?

  7. Pernah Mba, yang aku inget.
    1. Ada 1 mas di belakang kursi aku setel lagu kenceng banget di hpnya. (Ga jelas juga lagu apaan), itu ganggu banget, sambil dia nyanyi – nyanyi kecil gitu. Terus aku tegor sambil bilang, “mas suaranya boleh dikecilin dikit ga?” Akhirnya si mas kecilin lagunya ko hehe
    Beberapa kali di kopaja yang naik berandal preman gitu. males banget mana bauk pula 😦
    2. Semester awal kuliah, kebetulan dapet kuliahnya malem. Terus pulang sendiri naik bis kota, ada cowo duduk di sebelah terus nanya nama, terus jawab aja asal. Lalu, begitu ada penumpang di kursi lain yang turun, aku langsung pindah ke kursi penumpang itu sambil melengos belagak gila aja seolah – olah ga pernah diajak ngobrol.
    3. Pernah naik bis juga, ketemu cw sekitar 40tahun mabok, dan dia ngoceh aja ga jelas. Dia pergi sama beberapa temennya sih, sekitar 3-4 orang. Itu orang ketahuan mabok karena ngomong keras – keras dan yang dibahas cowo lah, apa lah.
    Dan masih banyak lainnya 😀

  8. Kalau naik bus umum, suami gw pasti ngitung ada berapa orang penumpang asli bule yang ada disitu ha ha ha palingan bule nya si supir sama beberapa penumpang, sisa kebanyakkan nya you know lah 🙂

  9. untungnya sampai sekarang belum ada pengalaman buruk di transportasi umum & jangan sampe deh..
    paling cuma beberapa org yg suka ngerokok semabarangan terus nyemburin asap ke depan wajah saya. yg ngebuat saya pingin pites tuh org 😛

  10. hallo mbak, salam kenal dulu yah (maklum dah lama blog, tp baru aktif belakangan)
    ternyata masalah sosial di negara maju malah lebih parah dripada di negara berkembang kayak Indonesia misalnya. Kalau di Indonesia hampir gak ada yg saya temui pemabuk di angkutan umum (ga tau kalo malam). masalah ticketing juga orang indonesia lebih disiplin loh mbak,, makin bangga dgn perkembangan indonesia,
    thx for sharing, informative sekalee

  11. Klo d perth kadang yg bikin males tuh penduduk asli aborigin. Ada yg dengan seenaknya ‘pinjam’ hp dan asik browsing, ada yg naik tanpa tiket dan ngamuk pas diperiksa, ato ada yg berantem teriak2 🙈

    Klo d jkt, jaman masih pake seragam n naik metromini, ada aja orang yg suka nempel2in badannya pdhal bis cukup lega. Bahkan pernah aku segerombolan cewe2 waktu itu mau k perpus nasional d salemba dan sepanjang jln d towal towel sm anak stm 👊 terakhir nyaris jd korban pencopetan ato malah perampasan, terpaksa turun 2 halte sblm tujuan deh sambil keringet dingin ketakutan 🙈

  12. Hi Mba Ailsa…
    Paint The Town Green sih lagu fav aku ^^ #Irishpower nya kerasa banget.
    Saking keponya sama lagu ini, temen aku yg irish aku interogasi habis2an haha
    Untung dia baik & sabar jelasinnya.

    Mitha

  13. Mba tjetje, maafkan kalo ujug-ujug nodong. Boleh minta emailnya? Ada yang ingin saya tanyakan (ehm mau ngerepotin sih hehe) soal dublin. Maaf kalo dadakan yah.
    Aku mau posting soal dublin dibanyakain dong,,*ujungnya teuteupp nodong* salam kangen mba tje 🙂

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s