Bicara Soal Bunuh Diri

Trigger warnings & Disclaimer: Topik di bawah ini sangat sensitif,  jika kalian memerlukan bantuan mohon menghubungi ahli Kesehatan jiwa. Perlu dicatat bahwa yang menulis blog ini bukan ahli Kesehatan jiwa dan tak punya kompetensi untuk mendiagnosis dan menolong.

Selama tinggal di Indonesia, saya tak banyak mendengar berita soal orang-orang yang mengakhiri hidupnya. Di Indonesia, topik ini sangat tabu dan masyarakat kita mendoktrin bahwa bunuh diri itu berdosa. Sedari kecil kebanyakan dari kita sudah mendengar orang-orang yang bunuh diri akan masuk neraka. Orang-orang yang bunuh diri itu akan menjadi hantu yang mengganggu orang-orang yang hidup.

“Rumah itu berhantu karena ada orang yang bunuh diri dulu di situ”

Begitu saya pindah ke Irlandia, salah satu orang Indonesia di sini langsung mengingatkan bahaya depresi. Ia berbicara terbuka tentang pergulatannya untuk mengambalikan kesehatan mental. Sebuah pembicaraan yang mulai banyak dibicarakan di Irlandia dan tentunya tak setabu di Indonesia.

Dari seorang teman yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, saya kemudian mengetahui bahwa angka bunuh diri di Irlandia ini akan mulai merangkak naik masuk ketika matahari tenggelam lebih cepat menjelang musim dingin. Ia bahkan bercerita bagaimana angka ini lebih tinggi pada pria ketimbang perempuan, dan ada profil-profil usia yang lebih rentan.


Data angka bunuh diri di masa lockdown ini belum akan siap sampai  beberapa tahun ke depan. Di sini, kebanyakan orang yang meninggal dunia akan diotopsi terlebih dahulu dan ada proses pemeriksaan resmi untuk mengetahui penyebab kematian, inquest namanya. Proses ini memakan waktu lama, sehingga data tak bisa siap dengan sigap. Selama lockdown ini sendiri, saya sudah mendengar terlalu banyak kasus bunuh diri dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

4 thoughts on “Bicara Soal Bunuh Diri

  1. Sepertinya topik depresi ini masih banyak dikaitkan dengan agama kalau di Indonesia, yang kudu berdoa lebih banyaklah, atau kurang iman lah.

    Salah satu teman dekat suami bunuh diri beberapa tahun lalu, tentunya kami juga syok, tapi yah orangnya menderita depresi akut sudah lama.

  2. Memang nggak bisa hanya dengan nasehat, ada yang membutuhkan obat untuk menstabilkan hormon. Pernah di blog saya. Tapi sejak corona mulai banyak yang membahas tentang kesehatan mental. Yang harus diwaspadai kalau jadi diagnosis mandiri dan mau mengobati diri sendiri tapi lewat grup-grup yg tdk ada ahlinya…

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s