Tentang Uber yang Banyak Disalahpahami

Uber belakangan ini menjadi buah bibir di media masa di banyak negara. Di Indonesia, aplikasi buatan Amerika yang konsepnya muncul ketika sang inisiator sedang berada di Paris ini dituduh melakukan bisnis taksi gelap, tidak membayar pajak dan menawarkan tarif yang tidak sesuai dengan tarif taksi yang ditetapkan pemerintah. Tak kurang dari Gubernur Jakarta hingga Organda berteriak-teriak soal Uber. Sebagai pengguna setia Uber saya ingin berbagi tentang Uber dari kacamata saya.

Uber

Jenis-jenis Uber. UberTaxi tak ada di Indonesia

Di Jakarta, Uber yang memiliki moto everyone’s private driver ini bukanlah taksi dan tidak punya armada taksi. Uber merupakan aplikasi untuk menghubungkan antara orang-orang yang memerlukan kendaraan dengan super pribadi, kalau dalam Bahasa Indonesianya: aplikasi untuk newa mobil. Jadi kendaraannya pun private, tak ada argo, apalagi mahkota untuk menunjukkan logo-logo taksi. Konsep sewa-menyewa kendaraan ini sama persis kayak mobil sewaan yang menghiasi berbagai sudut di selatan Bali, ataupun jasa persewaan kendaraan yang ditawarkan berbagai perusahaan maupun perorangan di sudut-sudut bandara di Indonesia.

Di Jakarta, Uber bekerja sama dengan perusahaan penyewaan mobil dan menyewakan kendaraan berdasarkan menit dan kilometer. Sekilas memang terdengar seperti taksi, tapi balik lagi, yang ditawarkan adalah konsep penyewaan berdasarkan menit dan juga kilometer. Jadi harganya lebih jelas dan gak perlu tawar-menawar. Prosesnya pun gak ribet,tak perlu repot menyewa dari hari sebelumya dan tak perlu bayar untuk sehari penuh. Sewanya disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan Uber, tempat-tempat dimana taksi dilarang keras untuk masuk, seperti komplek Panglima Tinggi di belakang Balai Kartini, Uber bisa melenggang bebas tanpa dimarahi para Oom-oom penjaga gerbang.

Ada dua macam Uber yang ditawarkan di ibu kota, UberX serta UberBlack. Uber X merupakan layanan rendah biaya dengan menggunakan kendaraan seperti Xenia, Avanza, Honda Jazz, APV, sementara Uber Black menawarkan layanan premium dengan kendaraan ‘terjelek’ Innova hingga mobil-mobil mewah.  Innova sendiri ditempatkan sebagai UberBlack, tetapi jika dibutuhkan dapat menjadi UberX.

Uber menjadi ancaman bagi perusahaan serta pengemudi taksi karena berbagai hal, dari mulai pindahnya sejumlah besar pengemudi taksi ke Uber, pelayanannya yang lebih baik, hingga soal tarifnya yang dianggap murah. Tarif dasarnya dimulai dari 3000 hingga 7000 rupiah, tergantung tipe jasanya, UberX ataupun Black. Untuk satu menitnya, Uber X ditawarkan 300, sedangkan per kilometernya 2001 per km. Sementara UberBlack dibandrol dengan harga 500 rupiah per menit dan 2850 per km. Tarif ini sendiri berubah-rubah, jika permintaan sedang tinggi, mereka bisa melipatgandakan harga, hingga beberapa kali lipat. Dari 1.2 kali hingga 3.8 kali dari tarif normal. Ilustrasi lebih lengkap tentang Uber, termasuk biasa pembatalan bisa dibaca di laman ini. Soal pembatalan harus dilakukan di bawah 5 menit supaya tidak kena biaya pembatalan sebesar 30.000.

Bagi saya, keutamaan Uber adalah sistem cashlessnya. Pembayaran dilakukan melalui kartu kredit yang sudah harus didaftarkan ketika kita membuat akun Uber. Pengemudi tak menerima uang apapun, kecuali uang tips, tol ataupun uang parkir. Kartu kredit juga tak perlu digesek ke mesin EDC, apalagi kalau sedang berhenti di lobby karena semuanya terintegrasi dengan akun. Copy tagihan juga dikirimkan melalui applikasi dan juga email. Jadi kalau mau reimburse ke kantor tinggal print saja. Rute perjalanan pun jelas, jadi yang ingin nakal tak akan bisa membohongi kantor.Tak hanya itu, sistem komplain Uber juga responsive. Bahkan pada beberapa kasus, pelanggan bisa meminta pengembalian uang.

Satu hal yang saya hargai sangat dari Uber di Indonesia, mereka menghadirkan pengemudi perempuan berjilbab. Sebuah gebrakan yang luar biasa, karena tidak ada larangan bagi perempuan untuk mengenakan pakaian yang dia maui. Berbeda sekali dengan perusahaan *disensor* yang melarang perempuan menggunakan jilbab jika ingin bekerja di perusahaan tersebut. Ah sudahlah.

Selain di Jakarta, Uber juga hadir di kota lain, termasuk Bandung dan Bali. Menurut saya, Uber, bisa menjadi solusi bagi para pemilik kendaraan yang selama ini kerjaannya nongkrong di pinggir jalan menanti konsumen. Tapi perlu dicatat, kendaraan yang diijinkan untuk kerjasama dengan Uber hanya yang tak terlalu tua. Aplikasi ini cocok sekali untuk para pengemudi di Bali yang konon tak menyukai berkembangnya taksi di Bali.

Belakangan ini saya perhatikan, banyak blogger yang berbagi tentang Uber dan membagikan kode promosi Uber. Sayangnya, saya lihat ada beberapa yang salah menuliskan konsep Uber di Jakarta sebagai taksi. Sebagai pengguna setia Uber, saya cuma berharap tulisan ini bisa dibenahi, supaya kita semua bisa terus menikmati jasa Uber tanpa perlu mendengar teriakan Gubernur soal pajak. Nampaknya, Pak Gubernur ini perlu mencoba Uber dan mewawancara para pengemudi supaya paham konsep Uber (Saya aja perlu lebih dari empat bulan dan mewawancara lebih dari tiga puluh pengemudi untuk benar-benar memahami konsep Uber Pak. Bahkan sampai diomelin seorang pengemudi karena kebanyakan nanya dan dituduh kerja di Uber). DI Indonesia diperlukan legal entity, seperti CV (commanditaire vennootschap), supaya bisa bergabung dengan Uber. Jadi gak sembarangan. Lalu berdoa semoga Pak Gubernur ini tak ditunggangi para pebisnis yang merasa terancam karena pendapatan perusahannya turun akibat hadirnya Uber di Indonesia.

Bagi yang pengen mencoba Uber, boleh silahkan masukkan kode promosi saya, adea193ue, untuk menikmati diskon sebesar 150.000 (catatan, diskonnya baru saja diturunkan menjadi 75ribu rupiah). Pastikan kode ini dimasukkan di kolom promosi, sebelum memesan untuk pertama kalinya.

Sudah pernah coba Uber?

Xx,

Tjetje