Pengalaman Lari di Color Run Indonesia 2014

Teman yang memiliki keberuntungan baik adalah anugerah lebih buat teman-temannya. Sudah dapat teman, kecipratan rejeki tambahan, anugerah lebih kan? Anyway, teman saya, sang Ratu Kuis memenangkan lima tiket unntuk Colour Run Indonesia 2014, lari yang diklaim sebagai the happiest 5K on the planet. Jadilah saya kecipratan rejeki untuk lari dan biar stamina membaik, saya pun latihan lari!

Lari paling bahagia ini diselenggarakan tanggal 26 Januari kemarin, di area Gelora Bung Karno, tepat jam 7 pagi, lumayan panas. Pagi itu, dalam kondisi agak ngantuk saya berlari bersama 10.999 orang lainnya (konon ada 11 ribu tiket) sejauh lima kilometer. Teorinya 5 Km tapi tracker temen saya menunjukkan angka 6.5 Km.

Namanya juga orang Indonesia, sebelum lari alih-alih pemanasan para peserta malah pada sibuk foto-foto di berbagai booth sponsor. Saya sendiri malas antri dan memilih untuk segera berdiri di titik start.

Saat start akan dimulai, beberapa sponsor sudah siap dengan botol berisi gulal, bubuk warna yang biasanya digunakan pada Festival India, Holi. Warna pembukaan ini hijau muda, tapi karena cuma syarat, cuma sedikit orang yang terkena. Ketika Sirene tanda mulai dibunyikan, bersemangatlah kami berlari menuju perhentian warna pertama: orange. Nggak bisa lari ya bow, karena banyaknya manusia. Tapi dengan semangat abang kopaja, kami pun menyalip kekanan kiri demi warna!

Sayang sungguh sayang, warna yang ditaburkan lagi- lagi cuma sedikit. Saya sampai harus berhenti dan menyerahkan diri untuk benar-benar berwarna. Keputusan yang salah, karena bubuk warna ini kalau bercampur keringat di kulit saya, bikin gatal! Lucunya, di stasiun warna pertama ini disediakan booth foto. eh sumpah ini mau lari apa ajang foto sih??
Jadilah orang-orang yang demen foto langsung membuat antrian panjang untuk berfoto ria. Antrian foto yang gak teratur ini bikin macet dan mempersulit yang mau lari beneran. Nggak cuma booth ini aja yang bikin macet, tapi para ABG (both anak baru gede dan angkatan babe guwe) yang repot selfie di tengah rute juga sukses bikin macet.

AMK_The_Color_Run-0107

Di jarak 6.5 km itu hanya ada satu Wates station, itupun penuh manusia, tak teratur. Saya akhirnya beli minuman dalam kemasan dari abang-abang di Senayan. Sementara untuk Color stations ada empat, dari warna orange, hijau, biru hingga merah muda (warna ini yang paling keparat karena susah hilangnya). Beberapa peserta yang ngebet pengen berwarna bahkan berguling-guling di jalanan yang tertutup warna.

Anyway, saya melihat beberapa penyandang disabilitas turut serta dalam aktivitas ini, bahkan panitia menyediakan toilet bagi para penyandang disabilitas; sayang saya cuma lihat di peta dan nggak ketemu toiletnya. Penyediaan fasilitas toilet bagi persons with disability perlu diapresiasi, so well done panitia color run 2014! Semoga dibanyak kesempatan banyak para penyandang disabilitas bisa terlibat. 

Jika biasanya di garis finish para pelari disediakan pisang, karena pisang mengembalikan stamina di Color Run tak ada pisang. Ga usah ngarep medali finisher juga. Hanya ada buahvita dan air kemasan. Dari hasil nguping, beberapa pelari pada kecewa karena nggak ada pisang, apalagi registrasi lari ini tidaklah murah, IDR 225.000 (termasuk kacamata hitam, kaos dan juga botol minumanyang kalau diisi air, airnya jadi berasa plastik). Walaupun nggak nyediain pisang, panitianya perlu dihargai karena menyediakan tempat penitipan barang serta banyak mengundang sponsor yang menyediakan plastik untuk membungkus HP.

Di garis finish, peserta juga diberi satu plastik bubuk warna untuk color party. Color party inilah yang ternyata bikin peserta jadi bener-bener berwarna, karena para peserta berkumpul dan saling melemparkan warna. Oh ya, panitia para sponsor juga menyediakan banyak booth foto untuk post-run photo, gratis, dan antriannya tentu saja panjang.

Sebagai orang Indonesia sejati kami berfoto ria setelah lari. Nah pas lagi foto-fotoan, mata saya sukses kemasukkan color yang dilempar di depan muka. Rasanya jangan ditanya, mata udah langsung gak bisa dibuka karena terganjal bubuk. Saya cuma bisa minta air buat nyiram muka. Untungnya mata saya nggak papa, karena dari yang saya baca, warna ini berbahaya dan bisa bikin kebutaan. Pelajaran berharga: kacamata hitam sebaiknya jangan pernah dibuka, karena kita gak pernah tahu kapan orang nyiram bubuk warna.

color Run

yay, I made it to the finish line!

Setelah ikutan color run ini jadi pengen ikutan lagi, cek jadwal di Irlandia bulan Agustus ini akan ada di tiga tempat.  Tapi dari hasil obrolan dengan teman, kayaknya saya batal ikut lagi, karena bubuk yang dilemparkan itu berbahaya buat paru-paru. Nggak cuma buat paru, tapi juga buat lingkungan; di Taiwan, organizer color run sukses didenda karena bikin polusi. Lagipula, investasi waktu untuk color run ini nggak main-main. Larinya cuma 1 jam (maklum newbie), tapi mandi dan menggosok badan agar warna hilang nggak cukup dua jam. Saya sudah mandi tiga kali dan warna pink masih nempel, alhasil hari ini sukses ngantor dengan kuping dan leher warna pink. Leher kanan dan kiri udah kayak dicupang kuda (kayak abis kerokan juga). Ah tapi nggak papa, yang penting  fun dan leher hidup lebih berwarna!

Jadi siapa yang berminat ikut Color Run 2015?