Jejak Richard Gere di Borobudur

Beberapa kali mengunjungi Borobudur, bahkan sampai dilamar disana, saya tak pernah tertarik menyewa pemandu untuk menjelaskan cerita tentang Borobudur. Khas turis Indonesia, kalau ke suatu tempat alih-alih belajar dan membaca informasi tentang sejarah malah repot foto-foto, tapi saya jamin saya nggak repot selfie sampai overdosis.

20141205_102030

Relief tentang bergunjing

Berapa banyak dari kita yang sebenarnya tahu kapan Borobudur dibangun? Saya mengetahui abad pembuatan Borobudur justru ketika mengunjungi kawasan Angkor di Kamboja. Borobudur dibangun pada abad ke 9, lebih dahulu ketimbang Angkor yang dibangun di abad 12. Boro sendiri berarti temple, sedangkan budur (dari beduhur) berarti monastery yang berada di atas. Bagi pemeluk Hindu dan Budha, tempat pemujaan memang diletakkan di atas supaya dekat dengan yang maha kuasa. Besakih & Candi Cetho merupakan contoh tempat pemujaan lain yang ‘dekat dengan langit’.

Ada dua juta batu di Borobudur yang dipasangkan tanpa semen, apalagi putih telur. Bebatuan itu dipasangkan seperti potongan puzzle, baru kemudian dipahat. Diperkirakan ada seribu orang yang membangun Borobudur, tapi ini hanya perkiraan saja. Sama seperti di Thailand, Tangga-tangga Borobudur sengaja dibuat tinggi, supaya orang-orang yang akan memuja sedikit merunduk. Maksud hati sih biar nunduk, tapi dengkul pasti sakit menahan beban tubuh yang berlebihan.

Gloomy Borobudur

Salah satu bangunan cantik ini terpaksa dikikis

Melihat relic Borobudur sebaiknya dari arah Timur menuju Selatan, Barat, baru ke Utara, searah jarum jam. Tujuannya, penghormatan kepada hidup. Relief Borobudur sendiri dibagi menjadi tiga, Kamadhatu, Rupadhatu serta Arupadhatu. Kamadhatu di bagian bawah bercerita tentang napsu manusia. Lapisan kedua Arupadhatu menceritakan pembebasan manusia dari keterikatan dengan napsu, ada cerita reinkarnasi juga. Sedangkan di lapisan terakhir, tak ada relief, kosong, karena kesempurnaan telah tercapai.

Sekitar abad ke ke 14, Borobudur terkubur letusan Merapi dan mulai ditinggalkan masyarakat disekitarnya yang pindah ke Jawa Timur. Agama Islam saat itu sudah mulai masuk dan konversi sudah mulai dilakukan. Menariknya, sejak penemuan kembali Borobudur oleh Sir Raffles di tahun 1814,  Tak ada belum ada bukti yang menunjukkan rumah-rumah masyarakat di sekitar Borobudur. Diduga masyarakat tinggal di rumah dari kayu dan bambu; hanya tempat ibadah yang dibangung megah.

Borobudur_Dec2014

Jika diperhatikan, banyak sudut-sudut Borobudur yang warnanya putih kekuningan. Rupanya dulu Pemerintah Belanda mencoba melindungi batu dengan bahan yang tidak cocok untuk negara tropis. Bukannya terlindungi, batu-batu itu malah berubah warna akibat dari salinasi. Tak hanya proses ‘coba-coba’ saja yang merusak Borobudur, air hujan, abu Merapi, tangan-tangan nakal merupakan ancaman-ancaman bagi Borobudur. Untuk mengatasi air hujan, ada saluran-saluran air yang dibuat, bahkan dipasang meteran untuk mengukur jumlah air yang masuk dan keluar di candi. Abu merapi sendiri berbahaya karena mengandung sulfur yang merusak batu.

20141205_102447

saluran air

Kenakalan manusia macam-macam, selain memanjat mereka juga hobi memasukkan tangan ke dalam stupa untuk menyentuh Patung Budha. Soal menyentuh patung Budha, ternyata itu hanyalah mitos yang dibuat para pekerja di Borobudur demi mendapatkan rupiah. Setelah menyentuh, para pencari keberuntungan harus memasukkan uang ke dalam stupa. Saat candi ditutup, uang yang dimasukkan ke dalam stupa pun diambil. Suatu ketika, ada ibu-ibu yang mencoba menyentuh patung Budha, anaknya yang masih kecil meniru perbuatan ibunya. Alhasil, kepala si anak terjepit di antara stupa itu. Apa yang kemudian dilakukan? Ya Stupanya harus dikikis perlahan-lahan demi mengeluarkan kepala. Rusaklah karya agung anak manusia. Mestinya ibu itu didenda karena menyebabkan kerusakan.

20141205_102135

Di belakang guide terdapat tumpukan batu penopang yang menopang candi supaya tidak roboh. Sayangnya penopang itu menutupi banyak relief candi.

Demi mengurangi aksi panjat-memanjat yang merusak bagian yang fragile, sekarang dibagikan kain panjang sebelum masuk Borobudur. Konon kalau pakai sarung, agak susah untuk memanjat. Tapi prakteknya, sarung-sarung itu banyak yang berakhir di kepala untuk menghindari dari panas dan juga menjadi syal.

Kalau saya tak salah mendengar, sebuah patung Budha di Borobudur juga sempat ditukarkan dengan patung gajah dari Thailand, yang sekarang ada di depan Museum Nasional Jakarta. Anyway, Borobudur pernah dikunjungi oleh Richard Gere. Seperti kita tahu, Richard Gere adalah pengikut ajaran Budha. Ketika ke Borobudur di tahun 2011 (dan sayangnya ga mampir buat minum teh di kantor kami), Richard Gere meninggalkan jejak hijau, sebuah pohon. Pohon kanthil tepatnya. Jika ingin bertemu peninggalan Richard Gere, datanglah ke arah Barat Laut Candi dan carilah satu pohon Richard Gere. Udah deh peluk cium aja pohonnya, pasti berasa Richard Gere.

image

Photo punya abang Mikel

Xx, 
Tjetje
Cerita lain tentang Borobudur bisa dibaca di sini dan juga di sini.