Tentang Homoseksual & Bullying

Tadinya, saya ingin menuliskan postingan tentang homophobic saat International Day against Homophobia and Transphobia (IDAHO) tanggal 17 Mei besok. Tapi kemudisan saya melihat foto -foto pasangan homoseksual dari Thailand dan German berseliweran di sosial media. Si pria Thailand dianggap tidak ganteng dan sang pria German dianggap terlalu ganteng.

Saya kemudian menengok instagram pria Thailand tersebut, sekarang instagramnya sudah di setting private. Ya ampun itu komentar-komentar di bawahnya sungguh setajam silet yang baru diasah di batu pengasah akik. Manusia-manusia ini tanpa malu menghina dina mereka; dari menghina penampilan fisik yang jelas-jelas diciptakan Tuhan sampai membawa-bawa dosa dan neraka. Saya mengambil beberapa kata kunci dari kekejaman lidah orang di IG:

Perempuan Sejati & Perempuan Tulen

Saya mendapat kesan bahwa pria homoseksual, yang perilaku, tutur kata dan halus santunnya dianggap sebagai perempuan. Padahal, dilihat dengan mata, dia jelas-jelas berpenampilan sebagai laki-laki. Sehalus apapun perilakunya, jika ia tidak menyatakan diri sebagai perempuan, ataupun transjender, jangan pernah disebut sebagai perempuan. Btw, transjender ketika sudah nyata-nyata berpenampilan seperti perempuan juga jangan pernah dipanggil Abang. Soal gender dan seks akan saya bahas lebih panjang lagi dalam postingan terpisah ya, sesuai dengan janji saya di postingan ini.

Kompetisi

Banyak komentar-komentar yang merasa sebagai perempuan kalah. Sungguh saya kasihan sekali dengan mereka yang nampaknya frustasi karena masih juga jomblo. Padahal jomblo itu harus dinikmati, bukan diratapi. Sebagai perempuan saya juga nelangsa karena ada  kompetisi untuk mendapatkan pria yang dianggap ganteng. Hidup tidak dipungkiri adalah persaingan dan kompetisi untuk meraih kesempatan-kesempatan baik. Tetapi mencari jodoh itu bukan kompetisi.

Menyedihkan sekali kalau pasangan hidup kemudian cuma dianggap sebagai tropi, hasil dari kompetisi tanpa juri. Ujung-ujungnya tiap malam berbagi ranjang dengan cowok ganteng, tapi ranjangnya dingin tak bisa berbagi kasih sayang.

Pria-pria habis

Selain kompetitif, perempuan-perempuan juga banyak yang merasa ‘kehabisan pria’. Bahkan ada yang berkomentar sudah capek-capek dandan tapi yang laku yang beginian (maksudnya yang laku gay). Ya kali, mau dandan secakep lenong juga gak bakalan ditaksir homoseksual.

Tidak semua pria terlahir sebagai gay, beberapa terlahir sebagai gay, beberapa tidak. Nah pria-pria heteroseksual yang single juga banyak. Masalahnya bukan banyak pria, tapi apakah memang kalian cukup menarik para pria-pria ini? Nggak cuma dandanan lho, tapi juga hati dan otak.

Kok mau sama yang jelek

Apakah sebagian pengguna IG sekarang sudah terlalu banyak menonton sinetron dan kemudian melihat pasangan yang ideal adalah mereka yang dianggap ganteng dengan mereka yang dianggap ganteng (atau cantik). Sementara, orang yang dianggap jelek tak berhak mendapatkan cinta? Cinta itu berwarna-warni dan universal. Setiap manusia berhak untuk dicintai dan bukan hak kita untuk melarang si mas A mencintai mas B, ataupun mbak D mencintai Mbak C.

Dari diskusi dengan seorang teman, datang pertanyaan penting, apakah si pria tersebut dianggap ganteng karena kulitnya yang putih, sementara si pria Asia dianggap kurang ganteng karena kulitnya yang sawo matang? Kalau beneran, berabe juga, karena berarti orang kita masih terlalu menganggungkan bule.

Kumpulan komentar kejam di IG

Neraka dan dosa

Nah kalau yang ini saya gak tega deh nulis komentarnya, silet banget. Bagi kebanyakan orang homoseksual dianggap sebagai kaum pendosa. Saya pribadi yakin homoseksual itu pendosa, sama seperti saya dan Anda semua. Secara teori kalau pendosa ya sama-sama masuk neraka. Jadi sebelum menyuruh LGBT masuk neraka, mendingan tanya dulu sama diri sendiri, yakin nanti gak dimasukin neraka juga karena mendiskriminasi dan tidak mencintai orang lain? Kita semua manusia yang tak bisa lepas dari dosa, jadi mari sama-sama belajar untuk lebih ramah terhadap LGBT.

Gay bukanlah penyakit

They were born that way; mereka terlahir sebagai gay. Jadi anggapan bahwa gay adalah penyakit dan bisa ditularkan itu salah.Tidak ada virus atau bakteri yang menyebabkan homoseksual. Jadi gak ada obatnya. Terus masu menggap mereka sakit mental? Tunggu dulu, sejak tahun 1973 American Psychiatric Association sudah menghapuskan gay sebagai gangguan mental dan WHO sendiri juga telah menghapuskan sejak tahun 1990an. Kalau ada satu hal yang harus disembuhkan adalah homophobia.

Another comment

Bullying

Homoseksual seringkali didiskriminasi dan ditindas ejak di sekolah. Perilaku membully anak-anak karena orientasi seksualnya, disebut sebagai homophobic bullying. Anak-anak yang membully melakukan hal tersebut karena tidak tahu bahwa perilakunya salah. Nah, pertanyaan yang tak perlu dijawab, sudahkan kalian mengajarkan anak-anak untuk tidak menjadi pembully, sama seperti mbak-mbak di Instagram itu?

Pertanyaan besar selanjutnya: emang kenapa kalau seseorang gay?

Xx,
Tjetje