Belajar dari Florence Sihombing  

Setelah 12 hari berturut-turut kerja di Bali, saya yang super sibuk ini akhirnya bisa kembali mengurus blog. Saking sibuknya saya nggak tahu kalau dunia social media Indonesia dihebohkan dengan amarah dan kicauan Florence Sihombing di Path. Setelah membaca beberapa ocehan (dari yang baik hingga yang paling kejam) dan melihat videonya, saya merasa perlu menulis catatan kecil tentang pelajaran yang bisa kita ambil dari Florence Sihombing.

Antrian

Satu pelajaran berharga dari Florence yang wajib kita camkan dalam kehidupan sehari-hari adalah belajar ngantri. Perilaku Florence ini,kalau bener informasi yang bilang dia nyerobot antrian di bagian mobil, adalah perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran orang-orang di Indonesia untuk mengantri itu sangatlah lemah, bahkan kita terbiasa mengantri dengan cara brutal, saling menyerobot dan saling menyikut. Halte TransJakarta dan toilet perempuan merupakan salah satu tempat untuk melihat peradaban dan perilaku manusia yang seringkali tak berbudaya. Orang yang datang duluan tak selamanya harus masuk duluan, hanya mereka yang kuat, kuat malu dan kuat menyikut, yang boleh masuk duluan. Sudah kayak di hutan kah? Herannya, orang Indonesia bisa mengantri di tempat-tempat lain seperti bank dan mesin ATM atau jika berada di luar negeri.

Saya tak mengerti mengapa Florence tak mau mengantri, mungkin ia terburu-buru, mungkin pula ia pikir mengantri tak penting. Tapi sadarkah kita bahwa banyak dari kita yang juga tak mau mengantri karena banyak alasan. Salah satunya karena mentang-mentang kaya dan terbiasa masuk ruangan VIP bank. Kebanyakan angka nol di rekening tabungan tak otomatis membuat tata krama kita semakin baik. Tak hanya orang kaya, pengguna motor (mau motor ratusan juta sampai motor belasan juta) juga sama kelakukannya, sama-sama suka mendahului dan jarang bisa tertib. Berapa kali kita baca komplain tentang arogansi motor gede di koran? Mentalitas ini yang harus kita semua ubah. Saya rasa pelajaran bagi kita semua, memotong antrian itu hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang sakit atau diujung maut.  Pejabat sekalipun tak seharusnya motong antrian, udah digaji rakyat kok masih bikin rakyat sengsara. Jadi kalau ada yang motong antrian sumpahin aja biar segera ketemu ujung mautnya. Lha?!

Sosial Media

Kesalahan Florence lainnya adalah berteriak-teriak di social media. Sosial media, baik itu Twitter, Path, Facebook dan banyak lainnya adalah media yang bisa dianggap baru. Otomatis kita masih sama-sama belajar memakai dan belajar memahami etika menggunakan social media (mungkin sudah saatnya sosial media masuk kurikulum). Tanpa kita sadari, social media menjadi wadah untuk curhat ke seluruh dunia, ajang pamer kekayaan dan ajang pamer cinta ke pasangan (ya tolong ya kalau kangen sama pasangan itu sms aja, gak usah ngoceh di social media), ajang jualan (hallo buzzer!) dan tentunya menjadi ruang untuk mengkritik. Yang terakhir ini sering dilakukan banyak orang dan bisa sangat berbahaya bagi reputasi dan masa depan. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi semua pengguna social media untuk bertanya kepada diri sendiri sebelum menulis segala sesuatu. Tanya juga, apakah teman-teman yang ada di list itu layak membaca komplainan kita. Itu temennya Florence yang nyebarin screen shot bisa tidur nggak, happy gak ya ngelihat temennya sengsara?

Anyway, saya pernah berencana mengundang seroang pakar untuk menjadi pembicara, ini pakar dengan titel berjejer. Tapi, setelah saya lihat twitnya yang mengkritisi dengan cara tak elegan lembaga tempat saya bekerja, saya jadi urung. Nulis di sosial media memang harus hati-hati, karena sosial media adalah ruang reputasi kita, kalau nggak tawaran pekerjaan bisa melayang.

Florence

Perisakan/ Bullying

Tak hanya belajar untuk bertanya sebelum posting, kita juga perlu menahan diri untuk tidak melakukan bullying. Florence Sihombing memang membuat kesalahan besar dengan tidak bisa mengantri dan menyakiti perasaan masyarakat Yogyakarta dengan melabeli mereka. Tapi, banyak netizen yang melakukan kesalahan yang sama, bahkan lebih buruk dengan membully dia. Florence itu perlu ditegur, diingatkan dan diberitahu mana yang baik dan benar, bukan di bully habis-habisan.

Parahnya, tak cuma dibully, Florence juga diancam dimasukkan bui (atau jangan-jangan sudah dimasukkan bui?). Masalah ini menurut saya cukup diselesaikan dengan minta maaf dan diberi pengertian tentang cara menggunakan social media. Daripada aparat disibukkan dengan kicauan di social media, kenapa aparat tak dikerahkan untuk memenjarakan mereka yang menabrak orang sampai meninggal dunia?

Hukuman sosial dari masyarakat sudah cukup berat bagi Florence dan keluarganya. Kalau ingin memperberat hukuman dia, jangan masukkan dia ke dalam penjara, tapi suruh saja dia angon bebek di sawah selama sebulan, supaya dia bisa belajar dari bebek. Belajar untuk mengatri dengan baik dan benar dan kitapun perlu belajar dari bebek juga. Wong sebagian dari kita masih sering nyerobot antrian.

Bebek aja bisa antri kok manusia nggak bisa disiplin ngantri?

xx,
Ailtje