Drama TV Kabel & Marketing

Supaya bisa nonton TV5 & memperbaiki kemampuan bahasa Perancis, saya install tv kabel ****v*****. Pendaftaran konon gratis dan saya hanya diminta 250ribu untuk bulan pertama. Jeleknya, mbak marketing nggak menjelaskan bahwa kabel hanya disediakan 15 meter, sisanya harus bayar. Jadilah ketika decoder saya dipasang, saya harus bayar 150 ribu tanpa kembalian, tanpa tanda terima (dan saya tak ada di tempat). Soal pemasangan, dijanjikan maksimal tiga hari, tapi ini bullshit, karena petugas ga muncul sampai kita nelpon.

Decoder terpasang bukan berarti layanan TV bisa digunakan; jadilah saya harus keluar uang lagi untuk komplain. Kali ini, petugas yang datang mengatakan bahwa konektor tidak dipasang & saya harus bayar lagi. Saking gondoknya, saya pun mengancam akan melaporkan karena disuruh bayar terus menerus, sementara pas mendaftar tidak ada informasi apa-apa. Akhirnya: digratiskan! Nah lho, gimana bisa ngasih gratis?

Sudah cukup dramanya? Belum saudara-saudara karena mendadak selama berhari-hari layanan TV kabel saya diblokir tanpa alasan yang jelas. Namanya juga di Indonesia, segala hal pasti pakai drama panjang, macam tersanjung. Butuh berhari-hari bagi mereka untuk mengkoordinasikan pemasangan itu. Baru akhir bulan kemarin saya resmi mendapatkan sms selamat datang dan selamat menikmati layanan. Eh tapi beberapa hari kemudian saya ditagih. Padahal belum juga seminggu saya menikmati layanan TV yang beres. Berasa diperas!

Satu hal yang bikin saya makin sebel, soal privasi data. Nomor telpon saya disebarluaskan ke para marketing dan dampaknya, hampir tiap hari saya menerima SMS berisikan ajakan untuk pasang tv kabel. Mereka gak cuma sms, tapi juga menelpon. Saya juga diteror dengan telpon verifikasi data & telpon dari beberapa teknisi yang akan memasang decoder, padahal decodernya sudah dipasang. Setelah menghabiskan lebih dari 400 ribu, saya memutuskan untuk mematikan layanan ini, karena saya nggak punya anggaran ekstra untuk bayar layanan TV yang nggak beres.

Ngomong-ngomong soal privasi data, di negeri ini nomor telpon tidak pernah dianggap sebagai bagian dari privasi dan dengan mudahnya bisa dipindahkan kesiapapun. Akibat tidak adanya penghormatan ini, hp saya sudah menerima tawaran kredit tanpa agunan, obat keperkasaan, jasa pijat, mbak-mbak kesepian yang obral pin BB, pinjaman dengan menggadaikan BPKB kendaraan (renternir nih), hingga kursus bahasa Inggris. Tak hanya itu, provider (saya menggunakan simpati) juga rajin menghujani pelanggan dengan iklan. Jam pengiriman pun bervariasi dari pagi hingga waktu tidur. Jeleknya, iklan-iklan ini tak bisa dimatikan. Sementara dulu ketika saya masih punya nomor XL, iklan-iklan provider bisa dengan mudahnya dimatikan, tinggal request ke customer service.

Kalau lagi iseng, saya suka membalas sms tersebut melalui website penyedia sms gratis. SMS balasan saya biasanya mengiklankan sedot WC dan nomor telpon yang saya masukkan adalah nomor telpon si marketing tersebut. Biar mereka tahu gimana rasanya dapat sms yang mengganggu.

laos

dekodernya abis ini dibuang ke toilet aja ya.

Nggak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan iklan-iklan tak berguna ini. Ganti nomor juga tak menyelasaikan masalah. Gara-gara hal ini, saya jadi suka malas mengangkat telpon dengan kode 021. Tapi mereka tak kalah cerdik, baru-baru ini mereka menggunakan nomor dari luar Indonesia. Kemarin saya menerima telpon dengan kode Jepang, tapi nawarin tv kabel. Teror-teror telpon ini juga membuat saya jadi manusia yang tak sopan, begitu ketahuan marketing, saya suka langsung mematikan telpon.

 

Ada yang bisa merekomendasikan TV kabel tanpa masalah?