Pesawat Gagal Terbang

Selalu saja ada drama kecil ketika saya berangkat ke Irlandia, dari mulai kemacetan yang bikin stress karena takut ketinggalan pesawat, pengemudi taksi yang salah sambil jalan sampai dimarahin polisi, ataupun drama-drama kecil dengan buruh migran di pesawat. Kali ini drama kepergian saya dikarenakan pesawat rusak dan penundaan keberangkatan.

Tanda-tanda kegagalan berangkat dimulai dari rombongan sirkus pramugari, pramugara serta pilot yang datang sepuluh menit lebih lambat dari jadwal kepergian. Setelah mereka muncul, tak kunjung ada pengumuman untuk boarding, tetapi justru pemberitaan penundaan. Saya pun menduga-duga bahwa keterlambatan ini karena rombongan yang telat datang.

Begitu tahu pesawat ditunda, saya langsung meminta air kepada petugas karena saya perlu minum obat pilek, tapi petugas yang tahu saya sakit cuma bisa bilang: wah gak tahu! Gini ni ya petugas yang bikin gemes karena gak ada inisiatif sama sekali untuk nanya, padahal penumpang itu berhak snack untuk keterlambatan 30 menit. Tak lama kemudian ada pengumuman penundaan selama dua jam, baru saat itu air minum dikeluarkan dan drama pun dimulai. Penumpang berhamburan ke meja petugas untuk menanyakan connecting flightnya. Menurut petugas prioritas hanya diberikan untuk penumpang yang memiliki pesawat sambungan, mereka yang tujuan akhirnya di Istanbul tidak menjadi prioritas dan harus menunggu. Nah dalam situasi seperti ini ketahuanlah bagaimana kemampuan ground staff Soekarno-Hatta dalam menangani krisis. Dari pengamatan saya ada beberapa hal yang bikin gemes, yaitu kecekatan,  pembuatan prioritas serta kejujuran.

28_beritagar-ganti-rugi-oleh-maskapai

Observasi pertama saya, jumlah petugas tak cukup dan mereka sampai harus meminta bantuan karena “kewalahan”. Petugas yang kewalahan ini tugasnya mengkomunikasikan dengan bagian counter di bagian check in yang mencarikan penerbangan alternatif. Saat itu pilihannya hanya dua, Etihad atau Emirates yang berangkat saat tengah malam. Melihat kesemrawutan itu saya langsung buka Skyscanner dan mencari alternatif penerbangan. Dalam kurang dari dua menit saya sudah dapat pilihan penerbangan lengkap dengan nomor penerbangannya. Tapi yang jadi masalah, petugas mengataskan bahwa Etihad overbooked, sementara Emirates tak ada kursi, jadi saya tak bisa dipindahkan.

Untungnya, saya tukang ngotot (kali ini saya ngotot dengan sopan gak pakai marah-marah) dan saya minta dicarikan sekali lagi, petugasnya juga ngotot bahwa pesawatnya tidak ada. Saya yang gemas pun buka website Emirates dan Etihad lalu mulai memesan tiket, tapi tak dibayar. Masih tetap ngeyel, saya meminta petugas mencari lagi dan berargumen bahwa tak mungkin tak ada kursi jika masih bisa dibeli online. Saya bahkan sampai ngangkat laptop dan menunjukkan ke mereka bahwa pemesanan saya tinggal difinalisasi dengan memasukkan nomor kartu kredit saja. Akhirnya ‘kerja keras’ saya membuahkan hasil, saya dipindahkan ke Etihad. Saking semrawutnya kondisi saat itu, saya sampai buka laptop dan menyilahkan para penumpang lain untuk mencari pilihan penerbangan supaya mudah.

Perjuangan masih panjang, karena semua penumpang masih tertahan tak bisa keluar dari imigrasi. Rupanya untuk membatalkan stempel keluar imigrasi diperlukan surat dari penerbangan ke imigrasi. Surat di tengah malam saudara-saudara, ya ampun birokrasi. Setelah lolos dari imigrasi, kami masih harus balik lagi ke meja Turkish Airlines untuk mengambil bagasi dan baru check-in di pesawat pengganti. Yang kocak, saya sempat dipindahkan ke business class Etihad, tapi karena saya komentar “Oh ini business?” kursi saya langsung diganti ke economy class. Oh batal deh pasang foto dengan hashtag menjijikkan à la Mbak itu #BusinessClassBaby #TravelingInStyle. Ketika akhirnya saya masuk ke dalam pesawat, saya melihat banyak kursi kosong, bahkan saya bisa rebahan di kursi karena sebelah saya kosong. Begitu lihat kursi-kursi kosong itu saya pengen balik lagi sambil teriak ke petugas yang bohong tadi: overbooked dari langit?

Pelajaran berharga buat yang mengalami hal serupa:

  • Kalau pesawat ditunda apalagi karena kerusakan mesin jangan ngotot minta berangkat, dalam situasi seperti itu mendingan minta pindah pesawat aja.
  • Sebelum minta pindah, cari pesawat di website pencari penerbangan seperti Skyscanner *bukan marketing* dan catat nomor penerbangan. Petugas akan lebih mudah dan lebih cepat mencari penerbangan ketika tersedia nomor penerbangan.
  • Kalau petugas bilang gak ada, jangan menyerah. Jangan menyerah ini kunci banget karena bersama saya ada seorang penumpang dengan tujuan ke Istanbul yang bisa dipindahkan padahal si penumpang tersebut harusnya gak jadi prioritas. Tahu sendirilah, orang Indonesia itu gak enakan banget, apalagi kalau yang minta orang asing.
  • Ingatkan petugas untuk mengutamakan Ibu dengan balita. Saat keterlambatan kemarin, seorang Ibu dengan bayi tak kunjung ditransfer, saya bahkan sampai memegang tangan petugasnya dan meminta untuk mengutamakan mereka. Hasilnya nihil, sampai saya keluar dari imigrasi, saya tak melihat Ibu itu ditransfer.
  • Kalau ngotot dengan petugas, sebaiknya tenang dan gak usah emosi. Mereka dalam kondisi panik. Saking paniknya, ada penumpang yang sampai menenangkan mereka dan berkata “tenang-tenang, saya gak nyari berkelahi”
  • Dalam kondisi seperti ini, penting untuk memiliki asuransi perjalanan. Saya pun langsung melihat polis saya dan baru ngeh kalau ternyata kompensasi keterlambatan baru diberikan setelah 12 jam.

Satu hal yang pasti, tips di atas tidak berguna saat terbang dengan airlines yang paling juara telat se-Indonesia.

Ada yang pernah mengalami hal serupa dan punya tips berguna?