Dear Pedagang Makanan

Jadi pedagang makanan itu saya bayangkan tidaklah mudah. Apalagi jika menjadi pedagang yang harus berjuang sendirian seperti abang tukang bakso Malang. Pagi-pagi harus pergi ke pasar untuk mendapatkan daging dan tulang terbaik, membuat bakso, gorengan, lontong, mie, menggoreng tahu, mengisi tahu lalu sorenya harus berkeliling menjual dagangan.

Memasak sendiri bukanlah hal yang mudah. Cukup melelahkan, apalagi masakan Indonesia yang mengenal aneka rupa bumbu-bumbu masakan. Kendati berat, banyak orang yang menjual makanan, selain hobi, tambahan ekstra uang juga untuk membantu mereka yang tak bisa memasak.

Roti Manis, hasil karya saya sendiri

Jual makanan itu tak hanya soal mencocokkan selera, tapi juga soal kepercayaan. Menjaga kepercayaan konsumen supaya tak ternoda dengan banyak hal. Nah, saya menemukan  banyak hal yang kemudian bikin gemas sama ulah oknum pedagang yang sering menodai kepercayaan pembeli.

Foto Palsu

Konsumen itu harus terus-menerus dipancing untuk mau membeli makanan, supaya pundi-pundi pedagang terus mengalir. Di jaman media sosial begini, memasang foto hasil makanan adalah salah satu strateginya. Konsumen melihat foto-foto cantik, membaca testimoni, lalu mereka ingin membeli.

Pedagang yang baik itu akan menginvestasikan waktunya untuk mengambil foto yang menggugah selera. Jaman sekarang tak terlalu susah, cukup dengan handphone, mengatur komposisi dan pencahayaan. Beres. Biarpun “mudah”, masih ada saja pedagang yang tak beretika dan mengambil foto dari internet atau media sosial lainnya, seperti Instagram. Setelah itu, mereka mengklaim makanan tersebut hasil karya sendiri.

Bodohnya, pedagang ini tak tahu (atau mungkin pura-pura tak tahu), bahwa mengecek foto-foto hasil colongan itu sangat mudah. Tinggal unduh foto yang dipasang, lalu unggah ke Google Image untuk dicari. Reputasi hancur ketika hal-hal remeh seperti ini ketahuan, apalagi kalau masakan yang dijual tak spektakuler foto-foto di media sosial. Foto boleh nyolong dan terlihat spektakuler, tapi rasa gak bisa nyolong dari mana-mana.

Tumpeng, hasil karya berdua dengan teman

Konsistensi rasa & kualitas masakan

Jual makanan itu juga soal menjaga konsistensi. Kuaitas jangan dikurang-kurangi. Hari ini pakai ayam kampung nan segar, besok pakai ayam tiren. Hari ini bumbunya satu kilo, besok setengah kilo. Semua demi profit yang lebih tinggi. Ini khas banget, banyak yang melakukan, apalagi bisnis baru yang populer dalam sekejap.

Lalu, tukang masak bergantian, hari ini dimasak sendiri, besok nyuruh orang lain untuk masak. Rasanya ya gak akan konsisten. Syukur-syukur kalau konsisten menjadi lebih enak, kalau konsisten semakin hancur pembeli kabur. Tirulah banyak tempat berjualan makanan yang tukang masaknya dia lagi dia lagi. Kalau kemudian yang masak sakit, atau meninggal, bubrah sudah.

Ganti-ganti rasa itu cuma boleh pada satu hal: untuk menyempurnakan rasa supaya lebih enak. Ini hanya boleh dilakukan pada saat tahan percobaan, di awal-awal ketika akan membuka usaha. Pedagang yang baik biasanya memberikan contoh gratis untuk meminta masukan.

Jualan makanan juga harus jaga kualitas. Makanan yang dijual harus layak disajikan dan harus layak dimakan. Jangan sampai makanan gosong, hitam lalu dibungkus rapi terlihat cantik. Atau makanan salah mengolah, masih belum matang sempurna, atau malah terlalu matang hingga seperti karet. Dalam situasi seperti ini pedagang yang beretika harus berani mengambil langkah untuk mengganti. Demi kepercayaan pembeli.

Harga Naik

Satu lagi penyakit dari sebagian kecil pedagang makanan yang baru berjualan. Baru seumur jagung menjual makanan, tiba-tiba menaikkan harga. Bahan pangan naik katanya. Kocaknya, harga lombok dan pangan lainnya sangat stabil, bulan puasa dan lebaran masih jauh dan hasil panen para petani sukses. Entah dari mana harga naik?

Dagangan memang untuk profit, makanya harus diperhitungkan dengan baik supaya tak rugi. Tapi ketika tak memperhitungkan harga jual dengan baik dan benar, pelangganlah yang akan menjadi korban. Mereka akan merasa tak nyaman ketika mendadak harga naik.

Etika Mengecek Kompetitor

Riset mencari tahu selera pasar itu wajib. Tapi kalau mencari tahu itu juga harus etis dan elok. Gak tiba-tiba mencari pedagang yang sudah berdagang sejak lama, lalu menanyakan serentetan pertanyaan kepada pedagang sebelah, macam petugas keamanan menginterogasi. Kelanjutannya bisa ditebak, besoknya buka lapak, harga lebih murah untuk memukul pedagang lama dan mengambil pelanggannya, lalu parahnya pura-pura tak kenal pedagang lama. Sukur-sukur kalau tak pakai menghancurkan reputasi pedagang lama dengan gosip murahan macam tuduhan tukang tahu bakso sebelah pakai celana dalam di dalam pancinya.

Dunia perdagangan itu kecil, people talk. Termasuk soal persaingan perdagangan yang kadang suka kejam. Kirim santet untuk membuat dagangan lapak sebelah bau, bukanlah satu yang aneh.

Penutup

Di luar Indonesia banyak juga orang yang berdagang. Komunitas Indonesia yang kecil membuat banyak informasi tentang pedagang-pedagang tak etis cepat tersebar. Calon pembeli biasanya sudah mundur teratur, lalu lari sekencang-kencangnya ketika tahu kalau sang pedagang bisa bikin hidup gak tentram.

Ada kecenderungan orang untuk memilih pedagang yang tak hanya menjual makanan yang enak, tanpa drama macam-macam, beretika dan bisa dipercaya. Sekali kepercayaan ternoda, pembeli bubar dan tak akan beli lagi. Word of mouth sendiri juga masih akan sangat kuat. Satu pembeli dilukai, dijamin ceritanya akan kemana-mana. Kalau sudah seperti ini, bisnis modyaaaaar.


Punya cerita soal dunia dagang?

xx,
Ailtje
Tidak menjual makanan