Persepsi Salah tentang Pub di Irlandia

Kebanyakan orang, terutama orang Indonesia, mengasosikan pub dengan hal-hal negatif macam minum alkohol dan mabuk -mabukan. Tak hanya itu, terkadang pub juga diasosikan dengan layanan perempuan-perempuan (yang jenis layanannya tidak bisa saya tuliskan disini, nanti dimarahi Mama). Nggak dipungkiri memang beberapa pub di Jakarta diwarnai dengan kehadiran mbak-mbak berpakaian seadanya yang sering dilabeli dengan salah satu nama unggas, ayam. Kenapa ayam, saya nggak tahu! Tapi yang jelas saya tetep doyan ayam, apalagi ayam goreng Tenes di Malang.

Pub di Irlandia jauh berbeda dari pub di Indonesia. Pub di Irlandia dikunjungi tak hanya orang muda, setengah muda, tapi juga anak-anak, serta kakek dan nenek yang sudah tua banget. Ngapain adek-adek itu di dalam pub? Mereka makan, duduk bersama orang tuanya dan menggambar saudara-saudara. Menggambar dan mewarnai di meja pub (ini barusan saya temukan di sebuah pub di Dublin) hal yang tentunya jauh dari pikiran kita.

Ailsa first guinness

Guinness pertama saya

Nggak hanya berfungsi sebagai tempat makan dan berkumpulnya keluarga, pub juga menjadi tempat minum dan ngobrol. Nggak kayak di restaurant dimana orang berbisik-bisik, di pub suasananya lebih riuh dan meriah. Terkadang ada live music yang disajikan, tak hanya music top 40, tapi juga music traidisional Irlandia. Dua tahun lalu saya pernah mampir ke sebuah pub tua di pusat kota Dublin dan bertemu dengan segerombolan orang tua yang berlatih alat music Irlandia. Mereka duduk bersama minum bir sambil bermain music. Beruntungnya saya, nonton ginian gratisan.

Minuman yang disajikan di pub beraneka ragam, dari air putih gratis pakai es, bir hitam Irlandia yang ngetop (Guinness), whiskey, wine, hingga kopi (yang lebih suka saya campur dengan Baileys). Di Irlandia hanya mereka yang berusia di atas 18 tahun yang boleh membeli minuman beralkohol. Btw, proses pesen bir, ambil bir, anter bir, ambil bon, pembayaran sampai ngakutin gelas kosong dilakukan oleh satu orang, nggak kayak di Indonesia yang dilakukan banyak orang (ini pernah saya bahas juga dalam tulisan yang membandingkan restaurant Indonesia dengan restaurant Irlandia).

Pub juga menjadi tempat bagi para penggemar olahraga untuk berkumpul sambil menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Waktu saya berkunjung ke sebuah Pub bersejarah di Kilkenny; saya menyaksikan olahraga kebanggaan Irlandia rugby. Duh ini olahraga ya 15 cowok gede-gede pakai celana pendek ketat berebutan bola pakai tindih-tindihan di atas lapangan yang berlumpur. Kata mama kalau mainan lumpur bisa cacingan lho! Ketika itu di dua sisi pub terdapat dua kubu yang berbeda, kubu Irish berkumpul sendiri dengan kostum ijo-ijonya, sementara kubu Wales berkumpul di sisi yang berbeda dengan kostum merahnya. Saya kebagian duduk di sisi Wales dengan para pendukung Wales, termasuk para nenek-nenek. Jadilah makan siang saya siang itu diwarnai teriakan nenek-nenek “Come on wales!”. Kayaknya gara-gara teriakan si nenek, Wales jadi kalah 3 – 16 dari Irlandia. Anyway, Rugby nggak hanya jadi satu-satunya olahraga yang rajin ditonton masyarakat Irlandia, ada football, Gaelic football dan juga Hurling.

Cheers

Cheers!!
Picture was taken from http://www.plaidepalette.com/

Tak seperti di Jakarta dimana merokok dilarang, di Irlandia merokok di dalam pub tidak diperbolehkan. Kalau mau ngerokok orang-orang harus keluar dari pub, menembus udara dingin demi kenikmatan sesaat. Suasanya ini tentunya lebih nyaman bagi semua orang tapi gak bikin orang malas ngerokok, tetep aja ada yang keluar demi kebal-kebul.

Nggak lengkap kalau nggak ngebahas kamar kecil karena dimana tempat saya pasti menyempatkan diri ke kamar kecil untuk inspeksi melihat kebersihan. Ternyata kamar kecil di pub-pub ini BERSIH dan bebas muntahan para pemabuk (emang di Utara Jakarta?!). Bahkan jauh lebih bersih daripada kamar mandi di bandara Indonesia. Tak bau urine, apalagi banjir dimana-mana (lha wong nggak ada air untuk cebok) dan tentunya tak ada tisu yang berceceran dimana-mana. Kebersihan, terutama toilet nampaknya merupakan bagian dari iman kehidupan harian masyarakat Irlandia. Saya sempat mengunjungi beberapa pub dengan lampu biru temaram di toiletnya. Menurut mas Gary, ini untuk mencegah orang menggunakan narkotik di dalam kamar kecil pub. Selain tempat buang air, ternyata toilet pub juga jadi tempat perdagangan, bukan berdagang unggas, tapi berdagang kondom, tampon hingga mini vibrator. Silahkan tengok mesin mini vibrator disini.

Anyway, orang-orang selalu mengasumsikan bahwa orang Irlandia itu doyan minum (dan otomatis suka mabuk) karena banyaknya pub. Mungkin yang mengasumsikan ini ngebaca berita bahwa konsumsi bir per kapita di Irlandia mencapai lebih dari 100 liter per orang setiap tahunnya. Jangan salah, biarpun konsumsi per kapitanya termasuk tinggi, ternyata banyak orang Irlandia yang nggak minum. Menariknya, menurut supir bus hop on hop off, jumlah pub di Irlandia ternyata nggak lebih banyak dari jumlah coffee shop lho!

Selamat berakhir pekan teman-teman dan Sláinte!

Binibule

Advertisements