Menyapu Bersih Barang-Barang Hotel

Melengkapi tulisan tentang mengambil barang dari pesawat saya tergelitik untuk menuliskan tentang amenities yang sering sekali diambil dari hotel, termasuk oleh saya. Rasanya botol-botol hotel yang mungil dengan warna-warni indah itu memanggil-manggil untuk dimasukkan ke dalam koper. Padahal, isi botol-botol itu seringkali membuat kulit dan rambut menjadi kering karena kualitasnya yang kurang baik.

Selalu ada pertanyaan apakah etis membawa barang-barang tersebut pulang. Secara pribadi, saya menganggap barang-barang yang sekiranya habis pakai, boleh dibawa pulang. Sabun misalnya, memang ditujukan untuk dipakai dan jika sudah digunakan dan tak dihabiskan, maka sisanya akan terbuang. Kopi, teh dan gula yang tersedia di dalam ruangan kamar, juga boleh dihabiskan, ataupun dibawa pulang kalau nggak malu hati.

Tamu-tamu hotel di berbagai belahan dunia nampaknya sering membawa barang hotel yang tak habis pakai. Mereka tak segan membawa pemanas air, bantal, handuk, bath robe, pengering rambut, sprei, lampu, cangkir, setrika, tirai, sendok, gantungan baju, bahkan wadah buah. Tak heran beberapa hotel sering menuliskan daftar harga untuk bantal, selimut serta barang lainnya.

Ada banyak alasan orang mengambil pernak-pernik dari hotel. Untuk perlengkapan mandi yang ukurannya kecil, biasanya orang tergoda mengambil karena kelucuannya. Perlengkapan mandi juga suka diambil karena wewangian yang disediakan oleh hotel tidak dijual bebas. Sementara untuk barang-barang yang lebih besar, ya emang dasarnya nggak mau rugi aja. Ngambil sprei dari hotel menurut saya ribet karena bentuknya yang tak praktis dan memerlukan keahlian tersendiri untuk memasangnya. Orang juga mengambil untuk koleksi, koleksi sabun ataupun asbak hotel.  Satu koleksi aneh tapi unik yang pernah saya lihat adalah koleksi penanda ‘do not disturb’ dari aneka hotel di dunia. Koleksi ini kemudian dipajang di dinding untuk menandakan bahwa sang empunya sudah menginap di beberapa hotel besar di dunia.

Sabun hotel

Original source of the photo can be seen by clicking this photo. The photo belongs to Becky Lai

Berbicara tentang sabun dan sampo hotel mengingatkan saya pada pengalaman pahit beberapa tahun lalu. Saat itu, saya mengikuti sebuah acara dan berbagi kamar dengan orang yang tidak terlalu saya kenal. Kami juga berbagi kamar mandi dan sialnya, saya menjadi orang terakhir yang menggunakan kamar mandi tersebut. Saya yang tak punya kebiasaan membawa sabun serta sampo, berakhir di dalam kamar mandi yang tersapu bersih perlengkapan mandinya. Tak ada penutup kepala, tak ada sampo, tak ada sabun mandi, bahkan sabun untuk mencuci tangan pun raib dari samping wastafel. Bungkusnya pun raib tak berjejak. Alhasil, hari itu saya berakhir mandi dengan air saja dan misuh-misuh karena perilaku ini.

Semenjak itu, saya rajin membawa perlengkapan mandi sendiri dan tak mau mengandalkan hotel (walaupun sebenarnya bukan hotelnya yang salah). Membawa perlengkapan mandi sendiri juga meminimalisasi penggunaan sabun ataupun sampo di hotel yang kualitasnya seringkali tak sesuai standard pribadi (kecuali di beberapa hotel bagus ya). Selain itu, membawa peralatan mandi sendiri meminimalisasi sampah botol plastik, sisa sampo, sabun yang terbuang. Saya yakin setiap hari ada banyak sampah seperti ini yang dibuang oleh hotel-hotel di seluruh dunia. Tapi saya kok juga rajin bahwa ada pengepul di sudut Jakarta yang pekerjaannya mengaduk kotak sampah dan mendaur ulang perlengkapan mandi mereka. *Aduh ngebayanginnya yang engga-engga ya*

Kalau saya boleh memilih, ada satu hal yang pengen saya ambil, bantal dan kasurnya Westin  yang sesuai namanya, heavenly. Dari semua hotel yang pernah saya tiduri, belum ada bantal serta kasur yang bisa mengalahkan merek ini. Tadinya saya berharap manager Westin baca dan saya dikasih bantal (atau tempat tidurnya), tapi ternyata Westin punya toko online dan bantalnya tersedia untuk dibeli. Sayangnya, mereka hanya menyediakan pengiriman di Amerika saja. Silahkan di klik di sini jika berminat.

Paling suka amenities dari hotel apa?

Xx,

Tjetje