Catatan Kecil tentang Musim Kampanye Pilpres 2014

prabowo jokowi

Photo courtesy of Metronews

Ketika jaman sekolah dulu kita selalu diajari bahwa prinsip pemilihan umum adalah LUBER; langsung, umum, bebas dan rahasia. Hari ini saya nggak melihat lagi pemilu yang rahasia. Para pemilih, baik itu pemula ataupun yang berpengalaman, tak segan lagi menunjukkan pilihannya. Pendukung Jokowi memasang foto “I stand on the right side” yang kemudian diributkan karena grammarnya tak benar; sementara pendukung Prabowo memasang garuda merahnya yang juga diributkan. Fenomena menarik, mengingat lima tahun lalu, ketika SBY mencalonkan diri untuk kedua kalinya, para pengguna media social tak seheboh ini dalam menunjukkan pilihannya.

Perdebatan

Saya memperhatikan, banyak dari kita yang mendadak jadi ahli debat. Sayangnya keahlian ini tak dibarengi dengan kematangan diri untuk menerima pendapat yang berbeda. Ketika pilihan orang lain berbeda, maka hujatan & cacian yang nggak relevan pun dilemparkan. Debat  kusir *apa sih debat kusir itu* akhir-akhir ini sering terjadi di jagat social media. Tak ada salahnya berdebat dan mempertahankan pilihan masing-masing, tapi harusnya perdebatan ini dilakukan secara santun. Idealnya, dua belah pihak harus sama-sama bisa menerima kekurangan calonnya dan mengakui kelebihan lawannya.

Pertemanan dan afiliasi politik

Yang lebih mengejutkan, akibat pilpres ini, banyak teman-teman yang berbeda pandangan kemudian memutuskan hubungan pertemanan. Pertemanan di social media memang pertemanan maya, tapi alangkah disayangkannya kalau pertemanan maya itu harus rusak karena pilihan presiden yang hanya hangat selama beberapa bulan. Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan satu, dua atau bahkan sepuluh teman di facebook bukanlah masalah, karena masih ada 1400 teman maya lainnya *siapakah yang bisa menjalin perteman baik dengan orang 1000?*

Suami istri yang berbeda pilihan juga tak kalah banyak, akibatnya perdebatan sengit dalam rumah tangga (dan di ranjang) pun tak terelakkan. Adakah yang kemudian bercerai karena perbedaan ini? Entahlah.

Multi Level Marketing

Pemilihan Presiden kali ini juga memunculkan kemampuan multi level marketing, kemampuan untuk jualanan dan mempengaruhi orang.  Pemilih, seperti saya, yang sempat terombang-ambing dalam menentukan pilihan, dijadikan target empuk. Dalam satu kesempatan saya pernah bertemu teman yang relatif kurang cerdas dan sangat pasif, tapi begitu dia tahu saya belum menentukan pilihan, ia langsung agresif dan gigih dalam menjual capres favoritnya. Ajaib!

Media dan Pemilu

Jangan ditanya betapa penuhnya media dengan berita kampanye. Yang menyedihkan, semua televisi di Indonesia berafiliasi dengan partai politik tertentu, alhasil, berita tentang capres yang didukung televisi tersebut tak henti-hentinya ditayangkan. Pendek kata bosen deh denger Jokowi dan Prabowo terus menerus. Untungnya saya tak berlangganan media cetak, kalau langganan tambah eneg kali ya.

Twitterland, blog dan facebook juga diwarnai dengan postingan promosi capres. Nggak cuma promosi kebaikan masing calon, tapi juga keburukan lawannya. Informasi yang kredibilitasnya diragukan pun tetap dipublikasikan, semua demi memenangkan calon presiden favoritnya.

Satu hal yang saya suka dari pemilu ini adalah meme yang berseliweran di twitterland, apalagi kalau jika debat capres sedang berlangsung. Debatnya sih biasa-biasa aja, tapi komentar dan meme #debatcapres yang berseliweran di twitter sungguh menghibur. Saya rasa itu satu-satunya hal yang akan saya rindukan dari kampanye ini. Semoga saja kreatifitas ini tidak hilang.

Anyway, selamat menunaikan tugas sebagai warga negara, memilih pemimpin untuk lima tahun kedepan. Pilihlah pemimpin yang terbaik, yang bisa membawa kedamaian, kemajuan dan tentunya pemimpin yang bisa memastikan, menghormati dan memenuhi hak-hak asasi warga negaranya. Siapapun yang terpilih, semoga Indonesia damai dan maju.

Salam,

Ailsa