Kerja Dari Rumah

Dalam kondisi pandemik seperti saat ini, bisa bekerja dari rumah, tak perlu naik kendaraan umum, dan duduk diam di depan komputer sambil mengenakan piyama yang dipadukan dengan blazer adalah sebuah hal yang bisa dianggap mewah. Tidak semua orang punya kemewahan, ruang, serta kemampuan untuk bekerja dari rumah.

Fasilitas Kerja

Untuk bekerja dari rumah itu idealnya diperlukan area atau ruangan untuk bekerja, lengkap dengan fasilitasnya, seperti kursi dan meja yang ergonomis. Untuk orang yang pendek seperti saya bahkan diperlukan pengganjal kaki supaya kaki tak menggantung. Di sini, beberapa perusahaan mengirimkan kursi, meja dan monitor kepada karyawannya. Beberapa perusahaan teknologi juga memberikan alokasi dana untuk membeli perlengkapan kerja ini. Tak sedikit juga yang harus merogoh kocek sendiri untuk membeli perlengkapan kerja dari rumah yang layak.

Saya sendiri berpikir bahwa WFH ini hanya akan berlangsung selama beberapa saat saja, jadi tak pusing mencari meja untuk bekerja dan hanya menggunakan meja sementara seperti ini yang saya letakan di salah satu kamar yang saya jadikan kantor sementara.

Ergonomic banget


Tak semua orang beruntung memiliki ruangan atau area untuk bekerja dengan fasilitas lengkap. Dari berbagai interaksi saya, ada yang terpaksa harus bergulat kerja dari dalam kamar mandi memangku laptop karena tak ada ruangan lain yang bisa digunakan di rumah, ada pula yang harus bekerja sambil setengah duduk di tempat tidur. Di Dublin, menyewa apartemen dan rumah itu tak murah, banyak pekerja muda yang kemudian berbagi apartemen kecil. Akibatnya ketika semua orang kerja dari rumah, mereka terpaksa berada di dalam kamar tidur, bahkan makan dan kerja di ruangan yang sama.

Burn Out

Selama lockdown di Irlandia, tak banyak hal yang bisa dilakukan. Pekerjaan menjadi satu-satunya hal yang membuat orang aktif. Log in lebih awal, lalu log out hingga agak malam.
Bagi yang memiliki anak, banyak orang tua yang harus bekerja sambil mengurus anak, karena penitipan anak dan sekolah tutup pada awal lockdown. Jam kerja tentunya jadi lebih bervariasi, karena kerja disambi dengan mengurus anak. Untungnya banyak tempat kerja yang memberi kelonggaran.

Tapi akibatnya, jam kerja 9-5 bukan menjadi jam kerja yang normal lagi. Banyak orang bekerja lebih panjang. Entah untuk membayar jam kerja yang dipakai mengurus anak, atau harus meeting secara daring dengan rekan kerja di belahan dunia lain. Meeting secara daring ini juga sangat melelahkan, karena harus fokus melihat layar.

Burn out tak hanya karena jam kerja dan layar, tapi juga karena ketidakbisaan memisahkan ruang kerja dan ruang hidup, dua area ini bercampur selama lockdown. Apalagi anak kos yang terisolasi di dalam kamar. Isolasi tak bertemu manusia lain juga tak membantu sama sekali, malah membuat fisik dan mental semakin kelelahan. Kelelahan ini ketika terus-menerus menggunung menjadi burn out, apalagi ketika tak ada work life balance.

Kolega Edan

Sudah ruang kerja tak ada, burn out, eh masih ditambah dengan ketemu kolega yang mendadak jadi edan dan pushy. Tak bisa dipungkiri selaman kerja dari rumah, ada banyak orang yang memiliki ketakutan jika tak segera membalas ketika dihubungi. Takut dikira tak bekerja, apalagi kalau punya atasan yang hobinya micro managing. Tak hanya bos saja, rekan kerja pun juga suka ada yang micro managing, bahkan tak mengerti jam kerja 9-5, akhir pekan ataupun waktu cuti.

Saat cuti ada juga yang tak segan mengganggu, mengirim pesan melalui nomor HP pribadi untuk bertanya tentang pekerjaan, entah melalu pesan 1:1 atau melalui grup WA kantor yang akibatnya memberi tekanan pada orang lain yang cuti untuk membalas. Padahal cuti itu merupakan waktu untuk disconnect. Ketika pertanyaan tak dibalas, escalate ke bos dari orang yang ditanya tersebut. Pendeknya tekan terus, jangan kasih kendor. Brengsek banget kalau ketemu kolega model beginian.

Jam kerja kantor yang sudah jelas juga tak menghentikan kolega yang tega mengundang meeting di luar jam kerja. Atau yang lebih parah, mengundang meeting menjelang berakhirnya jam kerja, lalu ketika waktu meeting habis dan saatnya disconnect masih terus ngajakin kerja, padahal tak ada overtime. Kalau bertemu yang tegas sih bisa langsung diakhiri, tapi kalau bertemu yang modelnya suka sungkan seperti Mas Karyo, ya molor-molor terus meetingnya. Paling asyik sih kalau ketemu model yang kayak gini langsung aja tembak: Maaf harus log out, ada meeting lain menunggu. Daaag, klik tanda silang. Bubar deh.

Indahnya WFH

WFH tak selamanya buruk. Ada indahnya juga, apalagi yang bisa beruntung WFH dengan view pemandangan indah. Seperti mantan kolega saya yang bekerja di Bali dan mengirimkan gambar pemandangan cerah yang bikin konsentrasi kerja buyar, karena pengen cepet-cepet berjemur. Ah……

Tak perlu commute juga menjadi alasan lain yang membuat orang betah WFH. Apalagi kalau jarak dari rumah ke kantor sangatlah jauh. Irit bensin, ongkos transportasi dan tentunya hemat waktu.


WFH juga menghadirkan hiburan tak terduga. Alarm mobil yang tiba-tiba menyala, lalu saya harus kabur mematikan. Atau paket yang datang di tengah-tengah meeting. Mereka yang punya anak juga tiba-tiba menjadi seperti BBC dad, anaknya tiba-tiba muncul di meeting. Di salah satu meeting saya bahkan ada “fashion show” dadakan, karena anak-anak kolega saya ngotot ingin memamerkan pakaian mereka. Meetingnya cuma 30 menit, yang 15 menit habis untuk kenalan dengan bocah-bocah ini.

Tak cuma anak-anak saja, anjing saya si Yoda juga berulang kali ikut meeting. Di awal pandemi, anjing kecil ini hobi banget minta duduk di pangkuan saya, kalau tidak, ia akan bikin ribut dan menggonggong tak karuan.

Penutup

Pandemik ini nampaknya masih belum akan berahir. WFH masih akan terus berlanjut, setidaknya di Irlandia. Pemerintah sini bahkan mengeluarkan right to disconnect, supaya orang bisa log out ketika jam kerja sudah habis dan tak bekerja terus-menerus.

Semoga kalian semua yang sedang kerja dari rumah, di manapun kalian, juga punya hak yang sama, serta dijauhkan dari burn out.

Jadi, bagaimana cerita WFH kalian? Punya cerita menarik?

xoxo,
Tjetje

Berduka

Salah satu mimpi buruk tinggal di luar negeri adalah ketakutan ketika kehilangan anggota keluarga yang meninggal dunia. Ada rasa cemas. Kalau untuk saya, tak sama dengan kecemasan ketika tinggal di kota atau provinsi yang berbeda, di mana pulang kampung bisa semudah memesan tiket kereta api atau pesawat terbang.

Di masa pandemi ini lebih-lebih, ada terlalu banyak kematian dan tiba-tiba pulang kampung menjadi sebuah hal yang tak mudah. Jarak jauh memisahkan masih harus ditambah dengan masa karantina. Sementara, di Indonesia ada kecenderungan jenasah dimakamkan sesegera mungkin. Akibatnya, banyak yang tak bisa pulang untuk menguburkan orang-orang terkasih. Pemakaman harus dijalankan secara daring. Tak ada lagi kesempatan untuk mengucapkan perpisahan, atau sekadar mencium tubuh dingin orang-orang tercinta untuk terakhir kalinya.

Pendeknya, di masa ini, luka hati kehilangan orang-orang tercinta itu seperti luka terbuka yang disiram cuka. Perih tiada terkira.

Proses kematian di Indonesia itu seperti plester obat yang harus ditarik sesegera mungkin. Keluarga berpulang, tamu datang dan yang kehilangan tak bisa berdiam diri untuk berduka dan memproses kematian tersebut. Menjelang pemakaman bahkan keluarga yang berduka harus terus-menerus menceritakan proses kematian yang seringkali pedih. Tak terbayang trauma ketika harus terus-menerus menceritakan saat yang menyedihkan seperti ini.

Di sini sedikit berbeda. Keluarga biasanya diberi waktu untuk berduka karena jenasah tak segera dimakamkan, di masa pandemi ini saya tak tahu bagaimana prosesnya, karena ada pembatasan jumlah orang yang boleh terlibat. Mendongeng tentang proses kematian biasanya ada, tapi tak seintens di Indonesia yang “harus” diceritakan kepada semua pihak yang datang, sehingga ketika pemakaman justru dipaksa sibuk bercerita kemana-mana ketimbang fokus pada luka hati dan perpisahan. Di sini, para tamulah yang biasanya bercerita dan saling ngobrol. Tamu-tamu ini seringkali tak saling kenal, tapi kemudian duduk dan membahas kebaikan yang sudah berpulang.

Berduka sendiri tak ada yang salah ataupun yang benar. Semua orang berduka dengan caranya sendiri-sendiri dan melalui banyak tahapan, dari menolak, marah, negosiasi, bahkan terkadang depresi yang bisa berdampak banyak pada kesehatan tubuh dan jiwa, hingga pada tahapan menerima kematian tersebut. Proses berduka sendiri juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada pula yang butuh waktu agak lama, tergantung masing-masing individu dan kedekatan pada yang berpulang.

Di beberapa kasus bahkan orang-orang perlu pertolongan dari profesional untuk menangani duka. Apalagi pada kasus-kasus kematian yang memberi banyak pertanyaan dan sulit dicerna, atau pada kasus dimana ada penyesalan luar biasa sebelum kematian (sedang berkelahi, berbeda pendapat, berbohong, tak membagi rahasia besar). Penting sekali untuk bisa berteriak meminta pertolongan profesional dan meminta pertolongan itu tak perlu dilabeli sebagai sebuah hal yang memalukan.

Penutup

Di masa pandemi ini, jumlah berita duka yang datang dari Indonesia sangatlah tinggi. Kehilangan keluarga, melihat teman-teman dan orang-orang yang kita kenal berduka menjadi sebuah hal yang rutin.

Membuka media sosial atau aplikasi chat sekarang menjadi sebuah hal yang agak menakutkan karena intensitas berita duka yang kian tinggi. 💔

Teruntuk kalian semua yang berduka karena kehilangan keluarga ataupun orang-orang terdekat, please mind yourself. Ambil waktu untuk berduka dan menata hati kembali. Semoga seiring berjalannya waktu, luka hati tersebut bisa membaik. Mungkin tak akan sepenuhnya pulih, tapi setidaknya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Peluk virtual dari Irlandia, semoga kita semua senantiasa sehat!

Xoxo, Tjetje







Bicara Tata Krama

Sebagai orang Indonesia, kita diajari dengan aneka rupa tata krama sedari usia kecil. Lingkungan sekitar kita juga tak segan untuk mengkoreksi hal-hal yang dianggap kurang baik. Masih inget kan dulu tetangga atau keluarga sering banget ngingetin untuk mengucapkan terimakasih atau berujar permisi. Menurut peribahasa dari benua tetangga, butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak.

Belajar tata krama itu memang biasanya dimulai sejak anak-anak, ketika baru mulai belajar bicara. Selain belajar bapak, ibu, papa, mama, terimakasih dan tolong kemudian menjadi kata-kata lain yang harus segera diajarkan. Tak heran sebagai orang dewasa kalau kita melihat orang dewasa lain yang kurang tata kramanya, kita sering mempertanyakan anak siapa mereka ini kok tak pernah diajari tata krama.

Permisi dan Pamitan

Di Indonesia, permisi digunakan dalam banyak hal, terutama ketika datang ke rumah orang, akan lewat di depan orang, atau mungkin mengambil sesuatu yang di depan orang lain. Tradisi juga mendikte kita untuk berpamitan ketika pulang, supaya setidaknya tuan rumah bisa mengantar sampai pintu depan, supaya tak seperti jelangkung yang pergi tak diantar.

Gak ujug-ujug menghilang tak berpamitan tak ketahuan rimbanya, karena ini bisa menyebabkan kecemasan pada orang lain. Gak perlu pamit sama semua orang kok, cukup sama tuan rumah yang mengundang sembari tentunya mengucapkan terima kasih telah diundang. Walaupun biasanya pamitan ini panjang karena akhirnya berpamitan pada semua orang dan ini gak orang Irlandia, gak orang Indonesia sama aja. Bahkan setelah berpamitan ngobrol masih berlanjut panjang, lalu pamitan lagi, lalu ngobrol lagi, gitu aja sampai 20-30 menit.

Terima kasih

Kalau soal mengucapkan terima kasih mah kita jawara banget, ini salah satu tata krama dasar yang bisa dibilang jarang dilupakan. Di setiap saat kita berterimakasih. Salah satu tradisi yang saya suka di bis di Irlandia adalah mengucapkan terimakasih pada pengemudi bis ketika turun. Kendati pintu keluar di tengah badan bis orang akan berseru mengatakan terimakasih.

Di Irlandia ini terima kasih tak hanya diucapkan dengan kata-kata saja, namun seringkali dilengkapi dengan tambahan kartu ucapan terima kasih. Kadang-kadang malah ditemani dengan hadiah sebagai rasa ucapan terima kasih.

Di Indonesia sendiri manifestasi ucapan terimakasih bermacam-macam. Yang paling sering kita lihat tentunya hadiah ucapan terima kasih dari sang empunya hajat yang diberikan untuk seluruh tamu yang telah meluangkan waktu dan telah hadir.

Tolong dong bersihin.

Tolong dong

Meminta tolong itu merupakan salah satu bentuk kesopanan paling dasar untuk tidak menunjukan kekuasaan pada orang lain. Selain bentuk kesopanan, secara psikologis ada kecenderungan kita ditolong lebih besar ketimbang ketika kata super ini diucapakan. Disclaimer dulu, saya bukan psikolog ya, cuma seneng baca-baca artikel psikologi aja.

Menariknya, di usia dewasa ini saya & beberapa orang yang saya ajak diskusi tentang topik ini, masih sering melihat orang-orang yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Mental ndoro ini gak peduli, siapapun diperlakukan dengan sama, tapi biasanya orang-orang yang posisinya dianggap lebih rendah, teman sekalipun.

Hasil observasi yang tak ilmiah ini menemukan orang-orang suka memerintah secara superior macam bos dengan penggunaan dong untuk memperhalus perintah.

“Panasin dong”

“Ambilin dong”

“Makanan buat anak guwe mana?”

“Anterin guwe pulang dong”

“Anterin guwe ke sini dulu ya “

Diucapkan dengan nada yang memerintah di depan banyak orang dengan konsisten

Sebagai manusia kita seringkali secara tak sadar melakukan hal-hal tersebut. Seringkali cara kita memperlakukan orang lain juga terlihat jadi tak baik, walaupun mungkin tak berniat seperti itu. Sekali-kali lupa sih tak apa, tapi kalau konsisten terus-menerus, mungkin saatnya kita yang lihat negur atau bahkan refleksi diri sendiri. Manusia itu tah sempurna dan terus berproses untuk belajar.

Adakah yang kalian sering lupa minta tolong?


xoxo,
Permisiiiiiii…..





Lingkar Pertemanan

Di Indonesia itu semua orang adalah teman. Tak heran jika kemudian di media sosial teman-teman yang dipunyai bisa mencapai ribuan orang. Padahal ya mungkin hanya bertemu sekali dua kali saja dan tak bisa dibilang sebagai teman. Di tahun 2010 dulu, di Jakarta, di sebuah cafe, ada seorang teman yang menjelaskan lingkar pertemanan, lengkap dengan levelnya, lingkaran pertama diisi oleh teman-teman terdekat, lingkaran kedua tak terlalu dekat, begitu seterusnya hingga lingkaran terluar.

Pembagian kelompok teman itu bukanlah sebuah hal yang aneh, ini proses alami. Namanya manusia itu berkembang, hari ini cocok, besok tak cocok karena banyak hal, atau hari ini tak kenal, esok jadi sayang karena kenal lebih dalam. Pepatah bahasa Inggris sendiri mengatakan Birds of feathers flock together, orang-orang dengan karakter, kerpribadian dan selera yang sama ya akan berkelompok tersendiri. Wajar dan normal.

Persahabatan

Kelompok pertama dalam pertemanan bagi saya adalah sahabat, mereka ini adalah teman terdekat yang sudah kenal luar dan dalam. Biasanya persahabatan sudah terjalin selama bertahun-tahun. Ada kepercayaan yang tumbuh, kita juga bisa jadi vulnerable, gak jaim, sangat jujur dan tahu secara dekat. Beda pendapat juga wajar dalam hubungan ini, biasanya karena sudah sangat dekat, kalau beda pendapat bisa heboh, tapi setelah itu ya balik lagi kayak normal. No hard feeling.

Perlu dicatat, kenal dari sedekade lalu bagi saya bukan berarti otomatis sahabat ya, karena ada intensitas persahabatan yang membuat kenal luar dan dalam.

Karena intensitas persahabatan yang cukup kuat, tolong-menolong di kelompok ini bagi saya juga cukup kuat. Kalau ada yang perlu pertolongan gak pakai mikir-mikir lagi. Dalam daftar hari-hari special, orang-orang ini ada dalam urutan teratas. Bahkan dalam doa pun para sahabat ini namanya disebut.

Persahabatan juga biasanya teruji oleh waktu, kadang-kadang intensitas ngobrol akan berkurang karena kesibukan dalam hidup, tapi ketika ngobrol lagi ya langsung nyambung. Pendek kata, dalam lingkaran pertemanan, persahabatan ini seperti berjodoh. Ketemu jodoh yang tepat, makanya jumlahnya biasanya sangat-sangat sedikit.

Pertemanan

Selain persahabatan, kemudian ada pertemanan. Intensitas antara sahabat dan teman bagi saya tak seintens persahabatan. Tapi masih ngobrol-ngobrol, masih ketemu sekali-sekali, dan kita tahu tentang sedikit banyak tentang orang tersebut. Ada hubungan emosional, tapi tak sedalam persahabatan. Hubungan ini terbentuk dari obrolan-obrolan yang terjalin karena nyambung dan berada dalam frekuensi yang sama.

Dari obrolan-obrolan tersebut, jika kemudian kita disuruh menuliskan hidup teman ini, makan kita bisa menulis beberapa baris kalimat atau bahkan beberapa paragraf (sementara sahabat bisa menulis biografi kita, lengkap dengan cerita konyol dan memalukan).

Tolong-menolong sendiri juga terjadi di kelompok ini. Analoginya, dalam persahabatan kita rela mati, dalam pertemanan gak rela. Tapi akan bikin upacara penguburan yang sangat indah.

Kolega

Dalam area perkantoran tradisional, teman kantor adalah orang-orang di sekitaran kita yang menghabiskan waktu selama masa kerja. Hubungan biasanya sebatas profesional saja karena berada dalam kantor yang sama. Kadang-kadang bisa disertai makan siang, sarapan bareng, ngopi bareng, pulang atau berangkat bareng, atau untuk yang merokok, biasanya ngudut bareng.

Di era kerja dari rumah ini, teman kantor terbentuk dari minum kopi bareng secara virtual dan ngobrol virtual. Aneh dan tak biasa, tapi ya harus dilakukan demi kesehatan.

Dari hubungan kolega biasanya terbentuk pertemanan juga yang berlanjut di luar kantor. Apalagi jika punya ketertarikan pada hal-hal yang sama. Saya sendiri beruntung, ada beberapa kolega yang kemudian menjadi teman yang saling mendukung untuk urusan karir ataupun di luar karir ❤️.

Satu hal yang patut hati-hati dengan pertemanan di kantor adalah urusan membuat keputusan. Penting untuk tidak bias dan hanya menguntungkan teman sendiri ketika membuat keputusan.

Minum gin itu sebaiknya dengan teman-teman terbaik.

Kenalan

Kelompok ini masuk dalam kelompok orang-orang yang baru dikenal, bertemu sekali saja dalam hidup, atau bertemu beberapa kali, biasanya bisa dihitung dengan jari, jari tangan kiri pula. Ngobrol dengan orang-orang di kelompok ini juga hanya sekilas saja dengan topik yang sangat lebar, tapi tak pernah ngobrol dalam apalagi curhat-curhatan.

Kalau analogi saya, kenalan itu seperti turis yang mengunjungi tempat-tempat wisata. Lihat-lihat, foto-foto bareng, unggah di media sosial, tapi gak kenal luar dalam sejarah dari tempat wisata tersebut. Beda dengan orang-orang lokal atau profesor yang melakukan riset mendalam. Jadi ya kalau mereka disuruh menulis tentang kita, turis-turis ini biasanya tak tahu, karena hanya bertemu sekilas.

Di kelompok ini saya sering sekali mendengar istilah “kita kan teman”, padahal butuh banyak elemen, dari obrolan yang nyambung, hubungan emosi, dan kedekatan dari kelompok ini untuk bisa berpindah menjadi teman.

Kelompok ini juga paling banyak jumlahnya dan bukan tak mungkin dari kenalan bisa berpindah menjadi teman atau sahabat. Atau bahkan berdiam di kenalan saja, karena situasi yang tak memungkinkan.

Temen Media Sosial

Ini masuk dalam kategori yang gak kenal. Dulu mungkin pernah satu sekolah tapi tak pernah ngobrol sama sekali karena baru ketemu di grup alumni sekolah. Ngobrol juga kemudian gak pernah lagi, nggak nyambung pula, tapi ada di dalam daftar pertemanan media sosial.

Ada juga yang berkenalan dari komunitas, ngobrol sekilas lepas aja, terus berteman di media sosial. Interaksi di sini pun bermacam-macam, tapi biasanya lebih banyak sunyi senyap tanpa suara. Kalau orang-orang ini hilang pun kita tak akan pernah ngeh dan gak tak ada rasa kehilangan karena hubungan emosi yang tak ada sama sekali.

Jika menuruti aturan dalam bermedia sosial sendiri, orang-orang ini tak seharusnya ada dalam daftar pertemanan, karena resiko keselamatan. Path, media sosial yang sudah gulung tikar sendiri dulu punya strategi hanya memperbolehkan sedikit orang untuk berada dalam lingkar pertemanan. Dasarnya ilmiah, karena manusia itu tak mungkin bisa berteman dengan 5000 orang. Bener juga memang.

Penutup

Hubungan pertemanan itu seperti air, fluid, dan bisa berubah-ubah. Pertemanan adalah hubungan yang perlu dipupuk secara terus-menerus, makanya nyambung dalam pertemanan itu penting. Pada saat yang sama, teman-teman juga harus punya banyak pengaruh positif pada hidup kita, karena persahabatan itu bagaikan kepompong, mesti saling mendorong untuk jadi kupu-kupu yang indah. Tolong-menolong juga seperti gajah yang dinyanyikan Tulus, salah satu penyanyi favorit saya.

Teruntuk semua teman dan sahabat saya, dalam suka dan duka, I am forever grateful.


xoxo,
Ailtje



Korban Revenge Porn

Peringatan: tulisan ini mengandung informasi tentang revenge porn yang bisa memicu trauma dan sensitif.


Tahun 2016 lalu, 5 tahun lalu, saya menulis tentang Revenge Porn, nanti tautannya saya sertakan di bawah untuk yang berminat baca. Tulisan saya ketika itu membahas soal Revenge Porn secara sekilas dan perjuangan para korban di Amerika.

Revenge Porn didefinisikan sebagai aksi balas dendam membagi-bagikan foto ataupun video yang bersifat intim tanpa ijin tentunya dengan tujuan untuk mempermalukan.  Dalam bahasa Indonesia kurang lebih ini tindak penyebaran konten intim nonkonsensual. Di banyak kasus biasanya pelakunya orang-orang terdekat atau bekas orang terdekat, seperti mantan pacar. Revenge porn ini tak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga terjadi pada laki-laki. Secara statistik korban perempuan jauh lebih tinggi ketimbang korban laki-lakii.

Revenge Porn ini juga perlu dibedakan dengan sextortion. Di revenge porn elemen terbesarnya adalah balas dendam dan mempermalukan, pada sextortion ada unsur pemerasan dan biasanya, biasanya lho ya, dari orang-orang tak dikenal di internet.

Beberapa minggu yang lalu, di Instagram saya, saya mendapatkan pesan dari seorang korban Revenge Porn yang ketakutan luar biasa karena foto-fotonya disebarluaskan oleh pacarnya yang tak mau diputuskan. Diancam, bahkan dipaksa untuk tidak putus, padahal pacarnya kelakukannya abusive. Kejam dan sadis banget sih. Sang korban ketakutan luar biasa karena ada ancaman-ancaman untuk menyebarluaskan hal tersebut kepada keluarga dan teman-teman. Selama proses komunikasi kami, ia juga menyalahkan dirinya terus.

Ini jadi mengingatkan saya pada Gisel, artis Indonesia yang sempat ramai karena videonya yang bersifat intim disebarluaskan kemana-mana, termasuk ke website porno. Ini kebetulan waktu itu di salah satu group whatsapp ada yang bagi-bagi dalam bentuk link di website porno. Website porno pun mendulang pundi-pundi dari mengekploitasi korban tindakan ini. Semoga saja korbannya tak harus dihukum, karena mereka adalah korban. Foto dan video itu bersifat pribadi dan tak seharunya disebarluaskan.

Lalu, apa yang mesti dilakukan kalau kalian jadi korban revenge porn?

  • Jika ancaman terjadi di media sosial, jangan langsung blok pengirim pesan. Laporkan langsung.
  • Cari dukungan keluarga dan atau bantuan psikologi (karena ini bisa sangat stressfull).
  • Cari tahu juga hukum di tempat kalian tinggal, apakah penyebarnya bisa dihukum.

    Bagaimana kalau orang terdekat kalian jadi korban revenge porn?
  • Gak usah dihakimi, gak usah dimarahin, apalagi ngasih kuliah soal Tuhan dan agama. Emosi korban itu sudah terkuras, gak perlu ditambahi dengan aneka penghakiman yang tak menyelesaikan masalah.
  • Sebaiknya, jangan minta korban untuk menceritakan secara detail bagaimana kejadiannya. Ini menggali luka.
  • Berikan dukungan, sebisanya kalian. Yang paling sederhana, hapus videonya dari grup chat dan jangan disebarluaskan.
  • Cari tahu support group dan sarankan pada mereka.
  • Kalau kalian melihat videonya disebarluaskan di media sosial, laporkan langsung pada media sosial tersebut. Teknologi penghentian dan pencegahan tindakan ini sangat canggih kok. Inget ya, lapor, lapor, lapor.

Di era lockdown ini, dimana komunikasi melalui media elektronik jauh lebih intens daripada sebelumnya, memberikan media, foto ataupun video yang bersifat intim pada pasangan menjadi sebuah hal yang sering terjadi. Foto atau video tersebut untuk konsumsi pribadi dan diberikan dengan percaya. Sayangnya, kepercayaan itu kemudian terluka.

Bukan hak kita untuk menghakimi atau menyalahkan mereka yang mempercayai pasangannya. Jadi jangan pernah menyalahkan korban.

Selamat hari Senin, semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang yang tidak baik!

xoxo,
Tjetje

Baca juga: Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam). Bahasa Indonesia yang tepat rupanya  tindak penyebaran konten intim nonkonsensual, bukan pornografi balas dendam.

Undangan Kumpul-Kumpul

Jadi observer itu menyenangkan, seringkali kita menemukan ide hanya dari duduk diam satu dua jam melihat dan mendengar kelakukan orang lain. Tapi tak selamanya menyenangkan, kadang-kadang suka bikin gemes, apalagi kalau ngelihat kelakukan yang buat gw itu pet peeve. Pet peeve itu kelakuan yang mengganggu buat gw, sekali lagi buat gw lho ya, buat orang lain mungkin biasa aja.


Bawa Tamu Tambahan

Di Indonesia itu kalau ada pesta dari orang-orang tertentu, tamunya suka minta diundang. Minta diundang, berasa VIP aja. Jadi jangan heran kalau pesta-pesta di Indonesia awalnya hanya 1000 orang (dan udah memperhitungkan dua kepala, plus anak-anak, plus pengasuh anak, nenek, kakek dan lain-lain), lalu bisa bertambah jadi 5000 orang. Lha minta diundang.

Di Irlandia kalau urusan tamu sangat strict, apalagi kalau acara makan yang harus duduk manis dan jumlah kursi dan porsi makanan harus pas untuk semua tamu. Kalau pestanya di rumah, si tuan rumah juga mesti memperhitungkan kapasitas rumah. Biasanya konfirmasi undangan itu perlu banget dan kalau mau bawa plus-plus (gak cuma plus 1), permisi dulu dari jauh-jauh hari. Kalau tuan rumah punya kapasitas tentunya diijinkan.

Nah yang epic entunya yang model tiba-tiba muncul di depan pintu dengan tamu tambahan ketika jumlah porsi dan kursi sudah pas. Tuan rumah gak cuma bingung cari kursi, tapi panik ngerebus kentang dan lari nangkap ayam di halaman belakang untuk tamu dadakan.

Ngobrol dengan tuan rumah

Namanya orang ngumpul-ngumpul itu tujuannya untuk catching up, apalagi di masa pandemik gini. Orang rindu berinteraksi. Jadi kalau beruntung diundang untuk datang ke rumah orang pastinya semangat untuk ngobrol-ngobrol, nanya kabar dan bagaimana menjaga jiwa selama pandemik.

Sebelum gw pindah ke sini, gw udah sempat diwanti-wanti sama salah satu blogger senior tentang segregasi orang Indonesia kalau ngumpul. Yang orang Indonesia di dapur ngobrol Bahasa Indonesia, yang bukan orang Indonesia di ruang tamu ngobrol bahasa lain. Yang guwe perhatiin gak cuma itu aja, ada lagi kebiasaan yang sangat gak inklusif. Jelas-jelas ada orang asing yang tak bisa berbahasa Indonesia, terus-menerus aja bicara Bahasa Indonesia. Gregetan banget kalau lihat model begini, karena nganggep orang asing itu invisible, making gregetan kalau kemudian orang asingnya kasih kode.

Soal ngobrol juga seringkali ada pertanyaan yang intrusif soal tuan rumah. Seringkali pertanyaannya kepo dan model interogasi, pembicaraan gak mengalir dan bahasa tubuh tuan rumah biasanya udah gak nyaman banget. Kalau observing orang, biasanya momen ini yang jadi momen penting buat guwe, karena level pertanyaan kepo orang itu suka gak karuan anehnya.  

Buka Kulkas

Di tempat tinggal guwe dulu sering banget ada acara yang melibatkan banyak tamu. Biasanya banyak tante-tante yang datang ikut ngebantuin dan berurusan dengan kulkas. Entah ngambil makanan di kulkas, atau memasukkan makanan di kulkas. Yang gw perhatiin, tante-tante ini suka rikuh kalau harus berurusan dengan kulkas, minta ijin dulu atau seringnya nyuruh guwe. Duh jadi kangen deh sama tante-tante ini.

Di Irlandia, jika ada pesta apalagi saat musim panas, minuman seringkali dimasukkan ke dalam kulkas. Tamu datang membawa birnya sendiri, titip di kulkas  dan ketika akan minum tinggal ambil sendiri. Biasanya mereka yang mau taruh minuman permisi dulu sama tuan rumah dan tuan rumah yang natain, kenapa? Karena ngobok-ngobok dan mindahin isi kulkas tuan rumah itu gak sopan banget, kecuali kalau tuan rumah kasih ijin kulkasnya diobok-obok.

Nanti kalau mau ambil minum lagi, permisi lagi sama tuan rumah. Di sini, sama kayak di Indonesia, buka tutup kulkas orang itu bukan sebuah hal yang normal. Kedekatan tamu dengan tuan rumah juga suka menentukan, kalau tamunya udah deket banget biasanya lebih relaks soal ini dan tuan rumah suka nyuruh buka sendiri.

Soal Makanan

Nah ini sumber drama. Ada tamu yang suka nggak mikir kalau masih ada tamu lain yang akan datang. Acara belum mulai, gorengan sudah habis dimakan oleh satu tamu. Semua tamu belum datang, udah ada yang bungkus-bungkusin makanan dan dimasukin ke tas. Ini gak cuma di iklan aja, di kehidupan nyata banyak dan gak cuma orang Indonesia aja kok, orang Irlandia juga ada yang model begini. Bedanya kalau orang kita bungkus gorengan, orang luar bungkusin kue-kue Irlandia.

Ada juga tuan rumah yang perhitungan kalau orang datang, dihitung apa yang dibawa dan apa yang dibungkus. Ngeri udah kalau diundang tuan rumah model begini, karena disuruh bungkus tapi dipelototin. Sukur-sukur kalau dipelototin, kalau sampai diomongin kemana-mana itu yang makan ati. Bungkusan makanan nilainya tak seberapa, reputasi dirusak.

Gak cuma bungkus-bungkus aja, tapi juga soal ngambil makanan. Begitu lihat makanan Indonesia melimpah ruah, lgs pengen nyoba semua. Abis itu engga diabisin dan makanan harus berakhir di tempat sampah. Beberapa yg punya anak kecil juga sering melakukan hal serupa. Ambil makanan agak banyak, lalu anaknya gak doyan, makanan disingkirkan begitu saja. Ada beberapa ibu-ibu yang saya salut banget, kalau anaknya gak abis, ibunya yang makan.

“Aku gak pernah diajarin buang-buang makanan”.


Penutup

Gak di Indonesia gak di Irlandia kalau acara kumpul-kumpul itu selalu berwarna-warni, ada aja dramanya dan kelakuan aneh-anehnya. Dari yang flexing, saingan sama tuan rumah, gak berbaur sama tamu lainnya hingga tentunya yang berkelahi di rumah orang. Hidup jadi berwarna, tapi kadang-kadang warna-warni ini gak diperlukan. Too much, too bright.

Gw sendiri pernah ngalami tamu datang, pulang dilepas di depan pintu, eh begitu keluar rumah langsung menghela napas panjang kayak naga yang abis lari marathon. Di depan muka guwe sebagai tuan rumah. Kayaknya lega banget keluar dari rumah gw. Engga lagi deh ngundang model naga gini.


Pandemik ini, masih suka ngumpul-ngumpul?

Namaste,
Kumpul sama yg sehati aja

Silent Treatment

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya tentang narsistik, kali ini mari ngebahas soal silent treatment yang juga dikenal sebagai stonewalling. Di dalam Bahasa Indonesia ini kurang lebih mendiamkan. Silent treatment ini merupakan metode manipulasi emosi dimana salah satu pihak menolak untuk berkomunikasi dengan pihak lain, udah diem aja gak mau ngomong. Proses ini harus dibedakan dengan proses diam karena mendinginkan kepala, tak tahu bagaimana harus bereaksi (lebih baik diam ketimbang bicara hal yang salah). Bedakan juga antara silent treatment dan proses memutus hubungan dengan orang-orang yang toxic ya.

Dampak Silent treatment itu lebih berbahaya daripada makan cabe.



Perilaku ini bisa terjadi dimana-mana, dalam pertemanan, hubungan keluarga, dalam hubungan asmara, hingga urusan pekerjaan. Dengan keluarga, seringkali kita berbeda pendapat dan ngambek-ngambekan tapi biasanya bisa diselesaikan dengan segera karena campur tangan keluarga lainnya.

Soal urusan pekerjaan, recruiter merupakan salah satu orang yang sering kali bersalah, biasanya dalam bentuk ghosting. Tahu-tahu ngilang aja dan gak nyahut kalau diajak komunikasi. Padahal ketika mereka perlu CV aja gencarnya kayak lagi ngedeketin gebetan.


Dalam pertemanan sendiri ini bisa terjadi dalam berbagai situasi. Ada di dalam satu grup chat, terus nggak nyahut kalau diajak ngomong. Atau yang lebih ekstrem, duduk bareng satu meja tapi menolak ngobrol dengan satu atau dua orang individu, sementara semua orang di meja tersebut diajak ngobrol. Pendeknya, si korban dianggap invisible dan secara sengaja diisolasi.

Dalam hubungan asmara sendiri ini sering terjadi. Ngambek-ngambekan, gak mau ngomong, gak mau terima telpon, sampai pasangan harus  mengemis-ngemis untuk diajak bicara lagi. Bagus kalau cuma ngemis, terkadang ada yang harus mengirimkan aneka rupa hadiah dulu. Udah kayak John Banting aja mesti datang ngasih hadiah. Dalam kasus yang parah, silent treatment dalam hubungan asrama ini bahkan bisa berlangsung selama beberapa dekade, berakhir dengan percertain, atau bahkan berakhir setelah kematian salah satu pihak.


Silent treatment merupakan perilaku penyiksaan secara emosi dan seringkali merupakan hukuman untuk orang lain.


Menurut penelitian, silent treatment, mengaktifkan bagian otak yang mendeteksi rasa sakit secara fisik. Otak manusia juga tak peduli siapa pelakunya, mau teman, keluarga, orang tak dikenal atau musuh sekalipun dampaknya sama. Karena silent treatment ini tak terlihat, tak seperti perilaku abusive lainnya, pelakunya juga dengan mudahnya tak mengakui perilaku ini dan dengan mudahnya akan gaslighting.

Engga kok, guwe gak ngediemin dia. Dianya aja yang sensi kali?

Berurusan dengan pelaku Silent Treatment


Kalau pelakunya recruiter, itu tandanya red flag untuk engga kerja di perusahaan tersebut. Perilaku recruiter seringkali secara tak langsung menggambarkan bagaiman kultur perusahaan tersebut. Kalau mereka tak bisa memperlakukan kandidat dengan baik, bagaimana bisa mereka memperlakukan pekerjanya? Kalau bisa kasih feedback, jangan segan kasih feedback.

Di dalam hubungan asmara sendiri, kalau menjadi pelaku atau menjadi korban, harus mulai belajar bisa berkomunikasi. Sebel karena sesuatu hal? Ngomong yang kenceng. Teori “kamu tahu gak salah kamu itu apa?” gak bakalan bisa dipakai, karena tak semua orang bisa baca pikiran. Pada saat yang sama, satu hal yang dianggap salah oleh satu pihak bukan berarti salah untuk kedua belah pihak.

Dalam pertemanan sendiri kalau didiamkan, tanyakan baik-baik apa yang terjadi, kenapa teman tersebut diam. Kalau bisa diselesaikan bagus, kalau perlu minta maaf jangan segan juga untuk minta maaf. Kalau tak bisa diselesaikan ya tutup buku, move on. Gak gampang sih ini, karena akan ada proses berduka, apalagi ketika pertemanan tersebut sudah terjalan bertahun-tahun. Tapi ya tak semua pertemanan itu harus cocok untuk seumur hidup.

Gak semua silent treatment harus diselesaikan dengan ditanya baik-baik, ada juga metode yang cuekin balik. Apalagi ketika silent treatment itu dilakukan untuk mendapatkan reaksi dan mengontrol orang lain. Ini biasanya ketika berurusan dengan orang-orang narsistik.

Bagaimana kalau pelakunya teman bukan, keluarga bukan, recruiter bukan? Ingat-ingat saja bahwa perilaku ini tuh mirip seperti anak kecil yang ngambek karena tak boleh makan satu bungkus coklat sendiri dan harus berbagi dengan anak kecil lainnya. Bedanya, anak kecil otaknya masih berkembang, sementara orang dewasa sering diidentikan dengan otaknya kurang satu ons. Kurang satu ons!

Pernah melakukan silent treatment atau jadi korban silent treatment?

Namaste,
Pernah melakukan silent treatment dan menjadi korban.

Suka Duka Jadi Blogger

Sedari dulu, hobi gw itu mengamati manusia, bertanya mengapa begini dan mengapa begitu, mengkritik lalu pertanyaan ini dan hasil observasi diproses menjadi tulisan dalam blog. Proses observasi hingga menjadi tulisan, bagi gw adalah proses panjang. Apalagi, datang dari generasi yang besar di jaman Pak Harto, dimana berpikir kritis dan bertanya kenapa itu bukan sebuah hal yang normal dan harus terus-menerus dilatih.

Duka: Ad Hominem

Tak semua tulisan gw diterima oleh orang. Ada yang tak seberapa kenal lalu nyamperin dan mengkritik dengan pedas. Yang gini sih dengerin aja, gak harus diterima atau dilawan.

Yang dekat juga tak segan kirim pesan, ngajak bertukar pikiran, berbagi pengalaman dan latar belakang perbedaan pandangan.

“Pandangan dan pengalaman tiap orang itu berbeda-beda”.

Pandangan orang itu beda-beda, persis kayak tim bubur diaduk atau tim bubur gak diaduk.

Tak sedikit yang tak setuju kemudian jadi nyerang ad hominem. Alih-alih tak setuju dengan tulisan gw dan mengkritik pemikiran, malah menyerang gw sebagai individu. Dari dituduh ekonomi lemah (baca: miskin), hingga yang paling gres dilabeli nyinyir. Soal ekonomi biar urusan petugas bank, petugas pajak dan Tuhan yang tahu. Kalau soal nyinyir gw iseng cari tahu, ini artinya:

Mengulang-ulang perintah atau permintaan ; nyenyeh; cerewet.

Serangan ad hominem ini dilancarkan kemana-mana, tak hanya di dunia maya saja, tapi juga dibawa ke kehidupan di luar dunia maya. Untungnya sebagai blogger gw tak sampai dirisak parah. Paling juga dimusuhin, diomongin atau didiemin.

Apalagi kalau tulisan gw sarkastik. Ya kalau ini mah maklum saja, studi ilmiah membuktikan kalau tak semua orang punya kemampuan intelektual yang cukup untuk membaca tulisan sarkastik.

Suka: banyak!

Menjadi blogger itu bagi gw menyenangkan. Hobi observasi orang tersalurkan, bisa kenalan dengan banyak orang, berbagi pengalaman dan pandangan.

Ada juga kesempatan untuk saling bantu WNI lain. Bahkan beberapa kemudian berakhir jadi teman-teman dekat banget. ❤️

Satu hal lagi yang bikin buat gw menyenangkan ada banyak orang yg kemudian melek isu-isu yang gue tuliskan, dari soal cara kawin beda agama, pindah ke Irlandia hingga soal revenge porn. Beberapa bahkan bisa menghindari jadi korban atau setidaknya dapat pertolongan.

Penutup

Sebagai blogger, guwe gak bertanggung jawab dengan bagaimana orang memilih untuk bereaksi terhadap tulisan guwe. It’s beyond my control dan tiap manusia dewasa bertanggung jawab sendiri untuk bisa mengatur reaksi dan emosi mereka.

Tanggung jawab guwe cuma bikin tulisan yang berguna, atau setidaknya menghibur. Dan kalau satu orang saja bisa menemukan manfaat positif dari tulisan gw, then I’m grateful.

Namaste,

Blogger Nyinyir, ceunah.

Bicara Soal Bunuh Diri

Trigger warnings & Disclaimer: Topik di bawah ini sangat sensitif,  jika kalian memerlukan bantuan mohon menghubungi ahli Kesehatan jiwa. Perlu dicatat bahwa yang menulis blog ini bukan ahli Kesehatan jiwa dan tak punya kompetensi untuk mendiagnosis dan menolong.

Selama tinggal di Indonesia, saya tak banyak mendengar berita soal orang-orang yang mengakhiri hidupnya. Di Indonesia, topik ini sangat tabu dan masyarakat kita mendoktrin bahwa bunuh diri itu berdosa. Sedari kecil kebanyakan dari kita sudah mendengar orang-orang yang bunuh diri akan masuk neraka. Orang-orang yang bunuh diri itu akan menjadi hantu yang mengganggu orang-orang yang hidup.

“Rumah itu berhantu karena ada orang yang bunuh diri dulu di situ”

Begitu saya pindah ke Irlandia, salah satu orang Indonesia di sini langsung mengingatkan bahaya depresi. Ia berbicara terbuka tentang pergulatannya untuk mengambalikan kesehatan mental. Sebuah pembicaraan yang mulai banyak dibicarakan di Irlandia dan tentunya tak setabu di Indonesia.

Dari seorang teman yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, saya kemudian mengetahui bahwa angka bunuh diri di Irlandia ini akan mulai merangkak naik masuk ketika matahari tenggelam lebih cepat menjelang musim dingin. Ia bahkan bercerita bagaimana angka ini lebih tinggi pada pria ketimbang perempuan, dan ada profil-profil usia yang lebih rentan.


Data angka bunuh diri di masa lockdown ini belum akan siap sampai  beberapa tahun ke depan. Di sini, kebanyakan orang yang meninggal dunia akan diotopsi terlebih dahulu dan ada proses pemeriksaan resmi untuk mengetahui penyebab kematian, inquest namanya. Proses ini memakan waktu lama, sehingga data tak bisa siap dengan sigap. Selama lockdown ini sendiri, saya sudah mendengar terlalu banyak kasus bunuh diri dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

Narsistik

Sebelum dilanjutkan, saya kasih disclaimer dulu bahwa yang nulis postingan ini bukan pakar kejiwaan dan tak punya latar belakang pendidikan di bidang kejiwaan.

Enam tahun yang lalu saya pernah menulis tentang pembohong kronis yang merupakan sebuah gejala dari NPD, Narcisstic Personality Disorder, penyakit kepribadian narsistik. Tulisan di bawah ini adalah lanjutan dari hasil baca-baca saya tentang NPD yang seringkali diidentikan dengan tukang selfie berlebihan di media social, padahal orang-orang narsis itu jauh lebih dalam dari sekedar selfie.

Saya menyederhakan NPD sebagai individu yang berfokus pada dirinya sendiri secara berlebihan dan membutuhan rasa kagum berlebihan dari orang lain. Orang-orang narsis itu juga kekurangan empati terhadap orang lain di sekitarnya.

Paling cakep sejagat

Selfie berlebihan

Mitologi Yunani menggambarkan bagaimana Narcissus dikutuk dan jatuh cinta pada refleksi dirinya sendiri di air hingga delusional dan mati. Narcissus jaman sekarang melihat refleksi dirinya di depan kamera telepon genggam, dengan make up lenong, atau jika tak ada dempul, aplikasi kecantikan. Foto harus diedit, badan dikuruskan, wajah jadi mulus, terlihat lebih muda, lebih tiris, hingga tak dikenali. Dalam bahasa perias pengantin: manglingi.

Aplikasi edit kecantikan menjadi penyelamat untuk menutupi insecurity orang-orang narsis. Foto-foto ini kemudian akan diunggah ke media sosial secara rutin, seringkali berlebihan hingga mengundang mute atau pada level ekstrem unfriend. Nirfaedah.

Merasa paling penting

Anak pejabat pun kalah, padahal si narsis ini bukan anak pejabat, pasangan pejabat, atau pejabat negara. Cara memposisi diri sebagai orang penting ini kemudian ditambah dengan aneka cerita yang membuat dirinya terlihat menjadi paling wah, paling cerdas, paling kaya, pekerjannya paling oke sejagat raya. Bicaranya muluk-muluk, kadang disertai dengan kebohongan kecil.

Lucunya, etika seringkali dilupakan. Baik itu etika untuk tak memotong pembicaraan orang lain, atau bahkan ilmu padi, makin berisi makin merunduk . Humble brag juga tak dikenal. Pada banyak kasus yang saya temui, seringkali mereka merendahkan hidup orang lain tanpa bisa melihat bahwa hidup mereka sebenarnya biasa-biasa saja. Gedubrag.

Selalu merasa paling kaya & merendahkan orang lain

Patut dicatat bukan berarti yang narsis itu orang-orang tak penting ya, banyak dari mereka yang merupakan orang penting, pemegang posisi tertentu, bahkan pada level presiden. Tapi ya jadi presiden yang bikin pusing seantero jagat.

Fantasi Setinggi Langit

Fantasi dari orang-orang NPD itu suka luar biasa. Mereka mau yang terbaik, standar hidup mereka juga cenderung tinggi. Syukur-syukur kalau uang ada, hingga bisa membayar orang untuk memisahkan coklat M&Ms dari warna tertentu.

Di beberapa kasus kemudian muncul besar pasak daripada tiang. Standar hidup ketinggian, kantong tak kuat dan menjerit. Barang harus bermerek semua. Kartu kredit pun menjadi sahabat erat supaya misi untuk terlihat sebagai orang penting dan kaya terus berjalan. Menunggu warisan dari kematian keluargapun bukan sebuah hal yang tabu lagi. Sense of entitlement mereka tinggi sekali.

Fantasi tinggi orang-orang ini beraneka ragam, dari gaji hanya cukup untuk Avanza, tapi ingin membeli Ferrari. Pengalaman kerja baru setahun tapi sudah ingin menjadi pentolan perusahaan C-level layaknya para pengguna Clubhouse #Eh. Perlu dibedakan juga antara mereka yang bermimpi besar tapi kaki menapak di bumi (baca: realistis) dan mereka yang kakinya melayang karena fantasi muluk-muluk ini tanpa bisa mengaca dan melihat kemampuan diri.


Manipulatif

Hubungan dengan NPD itu satu arah, hanya jika mereka perlu saja. Jika mereka tak mendapatkan yang dimau, siap-siap saja dibuang. Dan korban mereka kebanyakan orang-orang dengan rasa empati yang tinggi, karena mereka bisa dengan mudahnya dimanfaatkan dan dimanipulasi.

Dan dalam hubungan ini mereka harus selalu mendapatkan apa yang mereka mau, dan mereka tak segan memanfaatkan orang lain. Konsep hubungan mereka bukan give and take, hanya take, take, take.

Soal manipulatif ini ada bermacam-macam, salah satunya adalah gaslighting dimana perasaan dan pikiran si korban dianggap tak penting hingga sang korban mempertanyakan sendiri kesehatan jiwannya.

Mempertahankan Hubungan

Orang-orang narsis itu tak punya konsep untuk introspeksi. Dalam aneka situasi, mereka tak pernah mau berjiwa besar dan mengaku salah. Mereka harus selalu benar dalam segala hal. Jangan coba-coba pula untuk kritik mereka, karena mereka merasa diserang dan akan menyerang balik (bahkan ad hominem).

Dalam beberapa kasus mereka juga tak segan untuk mempertahankan hubungan dengan modal ancaman, apalagi hubungan asmara. Makanya mereka cenderung tak punya hubungan (entah itu pertemanan, persaudaraan, kolega, hingga hubungan asmara) yang bertahan lama.

Hubungan ini sering runyam karena orang-orang di lingkungan sekitar akan eneg ketika mengetahui pribadi mereka lebih dalam. Belum lagi, menghabiskan waktu dengan mereka ini menguras energi dan juga emosi, sehingga banyak orang enggan berhubungan lebih jauh dengan mereka. Capek.

Penutup

Media sosial kemudian memberikan keleluasan bagi mereka untuk bisa mengekspresikan diri. Kita bisa dengan mudahnya menemukan  mereka yang tinggal di negeri fantasi dan mati-matian menebar ilusi bahwa hidup mereka indah, kaya raya, makmur, tinggal di daerah paling mewah dan lain sebagainya. Padahal orang-orang di sekitarnya tahu itu hanya ilusi belaka untuk mendapatkan validasi dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau, tapi siapa yang tahu kalau rumput-rumput tersebut ternyata rumput plastik. Makanya jangan percaya semua yang kalian lihat di media sosial.

Semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang narsis dan tidak tumbuh menjadi individu yang narsis.

Ailtje