Beberapa hari lalu di Thread ada yang berkomentar soal orang Eropa, bergaji tiga digit, yang minta air keran ketika pergi ke restoran. Ada penghakiman atas keputusan ekonomi ini & anggapan bahwa gaji yang dianggap besar, tak layak minta air keran, apalagi di restauran. Thread itu secara keseluruhan menyorot soal “pelit”, tapi di sini saya cuma mau membahas satu hal: budaya minum air keran.

Thread itu sendiri bagi saya menggelitik & konyol, karena semakin tinggi gaji kita, bukan berarti gaya hidup harus diubah. Gaji besar, bukan berarti hidup harus “foya-foya” dan menghindari air keran. Ya kalau pakai prinsip hidup model gini sih, setinggi apapun gajinya, ya gak akan cukup. Come on!
Air keran di beberapa negara Eropa
Di Uni Eropa, air keran itu aman untuk diminum. Di beberapa negara, apalagi ketika negaranya sudah sangat maju, kadang airnya terasa berbeda, karena pipa-pipa air yang sudah tua. Di beberapa tempat juga ada rasa klorin yang cukup tinggi. Tapi air ini aman untuk dikonsumsi.
Ketika pergi ke restoran, dari pengalaman saya ke beberapa negara di Eropa, biasanya pelayan akan menawari tiga macam air: still (air biasa tanpa gas) , sparkling (air dengan gas) atau air keran. Beberapa tempat tidak secara eksplisit menyebut air keran sebagai pilihan, tapi kita hampir selalu bisa minta. Saya sendiri belum pernah berada di restoran yang menolak menyediakan air keran, baik di restoran berbintang Michelin ataupun di restoran bintang kejora.
“Would you like sparkling or still?”
“Just tap water please”
Air keran sendiri biasanya tak berbayar, alias gratis. Tapi di beberapa tempat, ketika mereka menaruh air di botol khusus yang lebih “mewah”, kadang ada biaya tambahan ekstra. Recehan dan biasanya gak mahal.
Saya sendiri tak pernah ribet kalau urusan air di restoran. Tapi untuk urusan air di hotel, saya agak parno. Takut kalau ada jenasah di dalam tangki air, seperti pada kasus sebuah hotel di Amerika sana. Kebanyakan nonton Netflix nih.
Ketika saya pergi ke Vienna, Austria, hotel kami tak menyediakan air di dalam botol. Seingat saya, mereka hanya menyediakan gelas. Saya pun meminta air di dalam botol ke resepsionis. Lalu dengan bangganya sang resepsionis berkata: “Madame, kamu ini di Austria, kita punya kualitas air terbaik dan segar dari pegunungan Alpen sana”. Lalu dia dia melipir ke sebuah sudut hotel, membuka air keran dan memberi saya segelas air keran. “Nih rasain betapa segarnya air dari pegunungan Alpen”. Segitu bangganya dengan air keran.
Di Perancis, meminta air keran di restoran itu memerlukan pengetahuan bahasa yang tepat. Ketika kita meminta sebotol air, mereka akan datang dengan air berbayar. Sementara ketika kita meminta “Une carafe d’eau” mereka akan bawa air gratis untuk kita.
Tak cuma itu, budaya minum air keran di Eropa ini juga difasilitasi dengan banyaknya air mancur dengan air layak minum. Beberapa air mancur ini bahkan usianya sudah sangat tua.
Air keran di NY
Seingat saya, di NY, kita juga bisa meminta air keran untuk di meja. Satu hal yang saya perhatikan, kultur membawa botol isi ulang atau tumbler cukuplah kuat. Orang membawa botol air dan di beberapa ruang publik ada titik untuk mengisi ulang botol air minum. Bahkan di Times Square yang ramenya tak karuan, ada satu titik pengisian air.

Saya menginap di 3 hotel yang berbeda ketika di NY. Salah satu hotel terletak tepat di jantung Times Square, tidak menawarkan air di dalam botol. Tapi, di tiap lantai hotel, ada titik-titik di mana kita bisa mengisi ulang botol kita. Dan kalau kita tak punya botol, kita bisa beli botol isi ulang.
Penutup
Penghakiman soal pilihan air keran ini, buat saya hanya menjadi sepercik masalah. Di balik itu, sebenarnya ada masalah yang lebih besar yang seringkali kita gak sadari: tekanan, ekspektasi serta pencarian validasi.
“Masak gaji gede minum air keran di restoran mewah”.

Dari pengalaman saya selama di Eropa, tak pernah ada ceritanya orang menghakimi kita hanya karena kita mau memilih air yang gratis. Gaji tinggi juga tak berarti kita harus mengubah kebiasaan minta air gratis.
Ini gak cuma soal air sih, pengalaman saya di Indonesia itu sering kali timbul tekanan karena gengsi-gengsi tak penting macam ini. Baju harus bermerek, air mesti dalam botol kaca, kendaraan harus bagus dan tak bisa yang murah.
“Masak manajer bergaji besar, kok begini-begitu”
Ingat-ingat ya, gaji besar bukan berarti harus dihamburkan untuk cari validasi. Kalau masih sibuk cari validasi dari sebotol air, apalagi di Eropa, mungkin perlu bertanya lebih dalam ke dalam diri: “Kenapa perlu validasi dan malu minum air keran?”
xoxo,
Tjetje
I am too European for this shite.





















