Pengalaman Colonoscopy

Bagi saya, kanker adalah momok dan mimpi buruk. Di usia saya yang baru kepala tiga ini, saya mengalami kehilangan keluarga dekat, keluarga jauh maupun teman-teman dekat karena kanker. Sedih banget denger cerita-cerita seperti ini, tapi mengetahui riwayat kanker di keluarga itu penting.

Tak seperti di Indonesia, di Irlandia saya harus terdaftar pada satu dokter umum, dokter ini yang kemudian mencatat riwayat penyakit keluarga dan penyakit kita. Kunjungan pertama saya ke GP seperti mendongeng, saya bercerita tentang semua keluarga dan penyakit yang mereka punya. Salah satunya, kanker yang diderita orang-orang terdekat saya, termasuk jenis kankernya. Cerita seperti ini ternyata penting banget, dan karena saya kurang merhatiin, harus kontak para keluarga untuk cek tipe-tipe kankernya.

Dokter saya kemudian memutuskan saya harus dirujuk untuk colonoscopy dari awal tahun ini karena sejarah keluarga. Tapi karena saya tak mengalami gejala apapun, saya berada di bagian bawah daftar prioritas. Si dokter di rumah sakit ngotot saya lewat antrian publik, tak perlu lewat antrian jalur cepat dengan asuransi pribadi. 

Lewat publik artinya antri satu negara, satu Irlandia dan biayanya gratis. Enam bulan berlalu, saya tenang-tenang. Eh tiba-tiba RS menemukan fakta saya punya asuransi pribadi dan mendadak saya masuk top prioritas, potong antrian. Hari Senin saya mendapatkan telpon, hari Selasa saya harus siap-siap dan hari Rabu saya colonoscopy. Prosesnya KILAT!

Apa itu colonoscopy? Prosedur ini merupakan cek kondisi usus dengan memasukkan kamera melalui anus untuk melihat apakah ada keanehan di dalam usus. Kalaupun ada polip di dalam usus, bisa langsung biopsi, untuk dicek apakah sel tersebut berbahaya. Panic mood on dong ya, apalagi pas Google “pengalaman kolonoskopi” yang keluar bahasa negara tetangga colok dubur. OMG!

Satu hari sebelum prosedur saya diharuskan meminum dua liter obat pencahar, yang pertama jam lima sore sebanyak satu liter. Lalu jam delapan malam sebanyak satu liter. Tiga hari sebelum prosedur saya juga diharuskan diet khusus, sementara satu hari sebelumnya saya hanya boleh makan makanan liquid.

Sejujurnya proses minum obat pencahar ini adalah hal paling buruk dari kolonoskopi. Perut bener-bener dikosongkan (tapi berat badan gak turun). Tujuan perut dikosongkan supaya dokter bisa lihat dengan jelas kondisi usus. Tapi proses pengosongan ini, kayak cuci baju manual, perut diperas sampai bersih-sih. Sakitnya jangan tanya, kayak abis makan di pinggir jalan dan makannya gak bersih sama sekali, piringnya abis dicelup di ember kotor dan lokasi pedagangnya persis di samping kali Jakarta yang hitam pekat dan bau.

Saya yang harusnya berada di RS pukul 7.30 tiba pukul 06.15. Pegawai administrasi RS pun belum muncul jam segitu. Saya sengaja berangkat cepat supaya jalanan masih kosong, karena ternyata efek obat pencahar itu masih ada.

Pasien yang akan proses kolonoskopi ini disuruh nunggu di bangsal yang berisi delapan tempat tidur. Dan karena ini RS, penuh drama dong, persis kayak Grey’s Anatomy. Ada nenek-nenek yang nangis panik karena kolonoskopi pertama tak berhasil, si nenek juga trauma karena lihat  tempat tidur RS bikin teringat suaminya yang meninggal 10 tahun lalu. Aduh hatiku hancur lihat nenek itu.

Ada pula kakek-kakek umur 94 tahun yang sudah bolak-balik kolonoskopi, si kakek kagak puasa, apalagi minum cairan pencahar. Alhasil para suster harus ngasih obat khusus untuk membersihkan perut si kakek dalam waktu kilat. Hebatnya si kakek ini kolonoskopi kagak pakai obat bius apa-apa. Satu hal yang saya pelajari dari kakek ini, tiap hari dia jalan kaki setidaknya satu jam.

Ruangan tempat saya beristirahat ini ternyata dipenuhi keseruan, badai buang gas namanya. Rupanya saat prosedur kolonoskopi ada gas yang dimasukkan perut dan seusai prosedur, gasnya harus dikeluarkan.

Saya sendiri berdrama dengam dokter muda yang penuh dengan label terhadap orang Asia. Dari disangka suster (karena muka saya mirip orang Filipina & orang Filipina kebanyakan jadi suster di sini), hingga dipuji berbahasa Inggris bagus padahal baru tinggal di Irlandia selama tiga tahun. Si dokter yang masih penasaran dengan level bahasa Inggris saya sampai nebak-nebak apakah Indonesia bekas koloni Inggris. Menyebalkan.

Dokter yang sama mengaku baru pertama kali masang jarum abbocath di bagian tangan. Saya sampai teriak karena sakit, duh Gusti, coba ini di Indonesia, udah langsung minta suster senior. Nabung karma baik, karena jadi tempat dokter baru belajar. ūü§¶‚Äć‚ôÄÔłŹ

Anyway, colonoscopy itu gak dibius total, cuma dikasih obat sedikit, kitanya tidur-tidur ayam, gak kesakitan. Di tengah keliyengan itu saya bisa lihat kamera menari-nari di dalam usus saya. Begitu prosedur selesai, saya dikembalikan ke dalam bangsal tunggu, dan diharuskan buang gas sebelum diberi dua lembar roti tawar bersama teh hangat. Urusan makanan, RS di Indonesia jawara deh.

Hari itu, saya pulang dengan riang gembira. Tak ada yang perlu dicemaskan, usus saya bersih dan lima tahun lagi saya bisa cek ulang. Sesungguhnya, kabar ini mengangkat semua beban di pundak saya. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya saya, karena dianugerahi kesehatan. Satu hal yang saya juga sangat bersyukur, di Irlandia ini sistem kesehatan jauh lebih baik & saya bisa mengakses kolonoskopi sebelum terlambat.

Untuk kalian yang sedang disuruh kolonoskopi, sedang berjuang melawan kanker, atau bersama keluarga yang berjuang melawan kanker, doaku menyertai kalian. Semoga kalian diberi kekuatan.


Apa yang paling kalian syukuri saat ini? 

xx,
Ailtje

 

Advertisements

Duka Cita dan Komentar Nyinyir Netizen

Tinggal jauh dari tanah air itu bukan hal mudah, banyak hal-hal yang kelewatan karena jarak. Adanya media sosial sedikit membantu mengobati kerinduan itu, tapi tetep aja rasanya gak akan sama, apalagi kalau berhubungan dengan urusan duka cita. Tahun ini, saya kehilangan beberapa orang di tanah air, dari mulai yang masih terikat keluarga, hingga teman yang pernah dekat dan besar bareng. Rasa sakitnya kehilangan karena jauh, jangan ditanya.

Teman saya ini saya kenal sejak kelas enam SD, kami kenal karena jaringan arisan Ibu-ibu kami. Saya bahkan masih ingat hari pertama kami bertemu, bayangan dia berdiri  malu-malu di butik ibunya di pusat kota Malang. Pertemanan kami sendiri baru mulai terbangun tiga tahun kemudian.

Dua tahun lalu, ketika saya pulang, saya menyempatkan diri untuk bertemu. Ceritanya menyemangati, tapi malah saya yang berakhir menangis sesegukan. Perjalanan saya ke Indonesia saat itu memang untuk menjenguk beberapa orang yang berjuang melawan kanker, makanya sensi banget saya. Tangisan saya ini bukanlah hal yang patut dicontoh, ini big no no.

Beberapa bulan lalu, kondisi kankernya sudah di tahap akhir. Saya beruntung masih bisa mengirimi hadiah kecil, ngobrol melalui Whatsapp dan juga video call (terimakasih teknologi). Di akhir pembicaraan kami, dia berkata bahwa dia bangga banget dengan saya, karena hal-hal positif yang terjadi di hidup saya.

Ketika saya mendegar ia berpulang, saya tak berhenti menangis, hingga beberapa hari. Padahal kami ini sudah tak terlalu dekat lagi, karena jarak dan juga karena kesibukan masing-masing. Kendati tak terlalu dekat, saya berduka, karena kehilangan seorang teman, karena anak-anaknya kehilangan seorang ibu, karena ibunya kehilangan anak perempuan dan karena suaminya kehilangan pasangan jiwa. Mungkin orang bilang saya lebay, tapi bagi saya kehilangan teman karena kanker itu, menyakitkan. I’ve lost too many people because of cancer.

Ini bukan kali pertamanya saya kehilangan teman karena kanker (dan saya berharap ini terakhir kalinya saya kehilangan orang terdekat karena kanker). Saya pun yakin, ini juga bukan pertama kalinya saya berduka dari jauh. Tinggal di luar Indonesia itu tak selamanya enak, karena kita melewatkan hal-hal penting seperti ini. Satu hal yang saya syukuri, saya berduka ketika musim panas, setidaknya saya masih melihat matahari. Ini ternyata penting lho, karena berduka di musim dingin yang minim matahari itu bikin depresi.

Di tengah duka ini, saya berakhir di Instagram seorang pria anak bekas pejabat yang baru kehilangan istrinya. You-know-who, karena si pria ini pernah punya kasus heboh yang mengguncang negeri & banyak orang (termasuk saya) gak ngefans sama yang dia lakukan di masa lalu. Istrinya, baru-baru ini meninggal dunia dan ia sering mengunggah beberapa foto almarhumah. Saya yang “hanya” kehilangan teman berduka secara dalam, apalagi dia yang kehilangan separuh jiwanya.

Dan duka nestapa itu berubah menjadi emosi jiwa, ketika saya membaca komentar-komentar netizen remah-remah rengginang ini. Salah satunya tak segan berkomentar untuk move on. Disangka kehilangan pasangan jiwa itu bisa move on semudah meremukkan remah-remah rengginang. Luka kehilangan itu tak pernah sembuh sempurna, akan ada lubang yang tak pernah bisa diisi dengan apapun. (Jangan bilang Tuhan!).

Ada pula yang ngasih ceramah panjang soal agama dan hujatan soal dosa yang muncul karena yang berpulang tak mengenakan jilbab. Komentar ini diaminin oleh orang-orang lain yang mempertegas tugas untuk mengingatkan orang lain. Oh sungguh para polisi agama yang merasa paling suci dan mulia sejagat raya. Mereka ini merasa menjadi polisi moral.

Mungkin tak banyak dari kita yang tahu cara mengekspresikan diri ketika melihat orang lain berdua cita di media sosial, mental kita yang suka menghakimi tiba-tiba menyeruak, padahal ada beberapa hal yang jauh lebih baik untuk dilakukan, seperti:

  1. Mengucapkan duka dengan sopan. Syukur-syukur kalau tulus.
  2. Memberi kata-kata penyemangat supaya kuat menghadapi kehilangan. Gak perlu jadi psikolog juga, cukup tunjukkan simpati atas apa yang dialami, tapi juga nggak nyuruh orang untuk move on.
  3. Think twice sebelum posting sesuatu yang gak berhubungan dengan nomor satu atau nomor dua.
  4. Gak membahas dosa orang, kecuali kalau punya nama tengah RESEH.
  5. Diam, karena tak bisa nulis yang baik.

Saya bukan manusia paling suci di bumi ini, saya bergelimang dosa dan mungkin udah punya slot di neraka sana. Saya pun yakin saya gak akan mati moksa, pasti lahir kembali. Tapi bagi saya, membiarkan orang berduka dengan tenang itu tak susah kok. Biarkan orang-orang yang kehilangan kekasihnya, keluarganya, atau orang-orang terdekat lainnya berduka dalam damai, karena hati dan jiwa kami sedang berdarah-darah.

Finally, jangan lupa cek diri kalian, perhatikan kalau ada benjolan aneh-aneh di tubuh. Ini berlaku untuk perempuan dan juga pria. Semoga di tahun baru ini, kita dan orang-orang tercinta kita dijauhkan dari kanker dan kita jadi netizen yang lebih baik dan lebih bijak.

Selamat tahun baru, masih bikin resolusi?

xx,
Ailtje

Tradisi Natal: Sweater Natal

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun, bulan Desember yang gelap dan suram (di sini), hari yang pendek, tapi jauh lebih meriah dengan adanya hiasan-hiasan Natal. Soal suram dan hiasan Natal, semua hiasan saya sudah mulai dipasang pada tanggal 28 Oktober, saat Halloween. Saya yang tak merayakan Natal ini heboh sendiri karena tak punya hiasan Halloween.

Saya tak sendirian, yang menyiapkan Natal sejak awal itu banyak termasuk toko mewah terbesar di Irlandia, Brown Thomas. Mereka sudah punya pasar Natal, atau Christmas market, sejak bulan Agustus kemarin. Iya bulan Agustus. Rasanya memang aneh lihat pernik-pernik Natal di bulan Agustus, tapi mereka memang selalu lebih awal.

Kali ini, saya tak akan membahas salah satu pernak-pernik Natal yang tak pernah dilupakan: Ugly Christmas Sweater. Tradisi ini dimulai entah sejak tahun berapa. Tapi konon gara-gara para Tante yang hobi memberi hadiah sweater Natal yang tak terlihat menarik sama sekali. Awalnya mereka yang menerima sweater ini enggan mengenakan sweater yang terlihat konyol.

Tapi kemudian, tradisi ini menjadi tradisi yang banyak dilakukan, tujuannya yan untuk konyol-konyolan. Tak hanya konyol, beberapa sweater juga nakal dan norak. Semakin aneh semakin okelah. Bulan Desember ini  Bulan Desember orang-orang sudah mulai mengenakan Jumper ini untuk menyempurnakan tradisi Natal. Tentunya ini gak ada hubungan sama sekali dengan acara religius.


]

Selain beli, beberapa orang yang cukup kreatif terkadang juga membuat sendiri. Pastinya ada kebanggaan khusus jika mengenakan barang hasil karya sendiri. Saya sendiri tak akan punya ketelatenan.

Kepopuleran jumper ini kemudian disempurnakan dengan kompetisi, jumper terbaik. Biasanya sih di kantor dan melibatkan hadiah untuk mereka yang mengenakan jumper terbaik, terlucu atau ternorak. Nah kalau untuk urusan Natal gini orang-orang sungguh all out. Tak cuma jumper saja, tapi rambut, kuku, telinga pun dihiasi dengan pernak-pernik  natal, supaya sempurna.

Saya sendiri tak pernah punya Jumper seperti ini, bagi saya tradisi ini “silly”. Tahun kemarin saya harus menggunakan Christmas jumper untuk foto tim, berhasil saya akali dengan minjem jumper lama punya suami. Tentunya jumper ini sukses kedodoran, tapi toh hanya untuk foto, tak terlalu terlihat.

Tahun ini Natal kami jauh berbeda. Natal ini menjadi Natal pertama yang akan kami rayakan di rumah sendiri, Natal pertama dengan pohon Natal asli, Natal pertama jadi host (dan saya harus masak untuk keluarga besar). Dan Natal pertama ini Ibu saya akan datang ke Irlandia (semoga visanya segera disetujui). Dan saya pun membeli silly Christmas jumper, bahkan kaos kaki yang juga tak kalah silly. Saya bahkan sudah jalan-jalan pakai jumper ini sejak awal Desember. Jumper saya ada lampunya dan bisa nyala *norak bener deh*.

Rumah kami pun sudah diwarnai dengan dekorasi sejak Oktober. Tapi ternyata, dekorasi rumah kami tak ada apa-apanya. Tetangga pada heboh-heboh, rumahnya menyala terang benderang dengan lampu-lampu dan aneka pernak-pernik Natal. Dedikasi luar biasa deh.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Natal kami jauh lebih bermakna. Seluruh keluarga besar kami di Irlandia sepakat untuk tidak tukar kado, hanya membeli kado dengan anggaran yang tak terlalu besar untuk anak-anak saja. Dana Natal kami akan dialokasikan untuk seorang anak yang terkena kanker tulang. Kebetulan ayah si bocah ini pernah bekerja untuk salah satu ipar saya, begitu idenya dilempar ke keluarga, semua langsung setuju. Less headache, lebih praktis dan tentunya lebih bermakna. Si bocah ini umurnya baru 14 tahun dan diagnosa kanker ini pastinya tak mudah. Ah Santa, All I want for Christmas is a good health for everyone.

Kalian, punya persiapan khusus untuk musim liburan akhir tahun ini?

 

xx,
Ailtje