Mudik Saat Dunia Gonjang-Ganjing

Paskah kemarin saya liburan ke Spanyol, baru juga sampai di Irlandia, tiba-tiba saya diberi tugas untuk pergi ke Singapura. Saya pun memutuskan untuk sekalian mampir ke Indonesia, walaupun hanya sebentar.

Selamat datang di Indonesia!



Nilai Tukar Rupiah & Harga Bensin

Pulang saat harga minyak dunia dan dunia sedang gonjang-ganjing itu memang sesuatu. Harga tiket pesawat melonjak, karena penerbangan melalui Timur Tengah banyak yang tak beroperasi. Tiket ekonomi dibandrol mulai dari tiga ribu Euro, sementara tiket bisnis mulai dari enam ribu saja. Sementara harga tiket dari Singapura ke Jakarta 300 Euro. Saya tak tahu apakah ini harga normal, atau “harga perang”.

Waktu saya datang, keluarga geger, karena harga bensin Pertamina Dex tiba-tiba naik, tanpa pengumuman. Yang sudah mengisi bensin full tank bersyukur, karena “beruntung”, sementara yang belum ngisi cuma bisa bersedih hati. Bicara soal bensin, ketika saya pergi, Irlandia lagi ribut dengan harga diesel yang sudah di atas 2 euro per liter. Traktor-traktor dan truk diparkir di jalan tol dan jalan utama sebagai bentuk protes. Akses ke bandara pun sebagian terkena dampak protes ini.

Nilai tukar rupiah terhadap Euro saat saya sampai di Indonesia sudah lemah. 1 Euro sudah lebih dari 20 ribu rupiah. Ketika tulisan ini saya buat juga nilai tukar rupiah belum juga menguat, masih di atas 20 ribu rupiah. Gara-gara nilai tukar yang hancur ini, belanja di Indonesia jadi kelihatan sangat murah.

Barang dan jasa jadi murah bukan berarti saya menari-nari di ekonomi yang sulit ini. Saya malah banyak mendengar dan melihat hal-hal yang bikin hati saya tersayat. Orang-orang kecil yang berjual mati-matian untuk bisa bertahan hidup.



Denyut Ekonomi Melemah

Jalanan Jakarta jadi ‘sepi’, rupanya banyak pegawai kerja dari rumah untuk alasan penghematan listrik dan bensin. Saya sendiri diuntungkan dengan jalanan yang sepi ini. Ceritanya saya mau ke Malang, tapi nggak ngeh kalau penerbangan ke Malang sudah sangat menurun drastis dari Halim. Jadi saya salah bandara. Harusnya berangkat dari CGK, tapi saya pergi ke Halim. Saya tiba di Halim jam sekitar jam 7 pagi, pesawat saya boarding dari CGK jam 8 pagi. Akhirnya saya ngebut naik taksi dari Halim, jam 7.30 saya udah sampai di bandara. Pak supir taksi sampai bilang: “Ibu bisa ngopi-ngopi dulu ini”.

Tiap mudik saya selalu belanja produk-produk Indonesia. Di salah satu mall di Malang, saya masuk toko dan ada dua pegawai yang jaga. Si Mbak kemudian meminta supaya belanjaan saya dipisah jadi dua pembayaran. Rupanya, ini supaya mereka berdua sama-sama bisa mencapai target. Penjualan lagi susah katanya.

Belanja oleh-oleh di Sarinah ternyata seru banget!


Gimana dengan supir taksi? Kadang sepi tak bisa mencapai target. Kalau sudah gini, penghasilan jadi sering minus. Pada satu Subuh, saya diantar pengemudi, lalu si bapak nawarin nganter saya ke bandara sore itu. Saya yang tadinya akan diantar supir pun memilih naik taksi biar ekonomi bergerak. Gerakan naik transportasi umum ini juga dijalankan oleh satu keluarga yang saya kenal. “Naik Grab aja, biar gak keluar bensin dan parkir”.

Penutup

Pulang yuk! Udah ditunggui sama Warung Masakan Padang

Sebagai diaspora, saya termasuk salah satu yang sudah malas pulang karena penerbangan yang cukup panjang. Beberapa tahun belakangan ini saya lebih memilih jalan-jalan di Eropa saja. Lebih dekat dan secara akses lebih mudah ketimbang keliling Indonesia.

Tapi setelah melihat kondisi Indonesia, saya berteriak dengan lantang: “Pulang yuk!“. Mari kita bawa dollar, euro dan segala mata uang asing untuk jajan di desa-desa di Indonesia. Desa Penglipuran, Desa Trunyan, atau bahkan di ibukota. Tak lupa berikan tips yang agak lebih banyak untuk para supir Gojek, karena menurut keyakinan saya, ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Tabik!
Tjetje

Show me love, leave your thought here!