Dear Nyonya OKB: Kampungannya Ditinggal Dong

Selamat tahun baru saudara setanah air dan sebangsa. Jika awal tahun baru yang lalu saya mengeluarkan tulisan edisi bule hunter, tahun ini untuk pertama kalinya saya akan membahas urusan nyonya-nyonya kampungan yang seringkali menyandang predikat baru OKB, alias orang kaya baru atau nouveau riche. Perlu saya klarifikasi dulu, kampungan disini berarti perilaku yang udik, ingat perilakunya ya. Dari kota ataupun dari kampung tak masalah, yang masalah adalah perilaku  mereka yang norak.

Persaingan kekayaan 

Dear nyonya OKB, lemme tell you something, pamer tas mahal itu kelakukan norak dan mempertegas status sebagai OKB. Coba deh perhatiin, orang-orang yang nenek moyangnya udah pada kaya, kalau jinjing tas yang harganya bisa buat DP rumah  kelakuannya biasa-biasa aja. Gak ada yang repot naruh tas di atas meja kemudian dipamerkan kepada semua dunia. Oh mungkin nyonya gak tahu kali ya, karena gak pernah gaul sama orang kaya. Eh nyah, ini gak cuma urusan tas aja ya, duit dan semua barang material gak usah dipamer-pamerin nyah, iya kita tahu nyonya udah kawin sama bule dan tinggal di luar negeri, tapi nyah ingat kata habib nyah, dosa nyah. 

Satu lagi nyah, kalau ada nyonya tetangga yang beli barang baru gak usah ikutan panas terus beli ikutan beli yang lebih mahal. Engga penting banget itu nyah, jadi memperlihatkan kalau nyonya itu insecure. Kalau tetangga abis liburan ke ujung dunia, nyonya juga gak usah panas,  lalu booking liburan ke luar angkasa. Kalau bisa nyonya juga gak perlu ikutan ribut ngebahas kenapa tetangga bisa liburan ke ujung dunia sambil bahas-bahas duit suaminya yang gak banyak. Duileh, emang si nyonya kerja di bank sampai bisa ngintipin kekayaan orang lain?

Oh ya nyah, kalau nyonyah merasa tetangga nyonya itu ekonominya kurang kuat, tak perlu ambil toa dan teriak-teriak menuduh si X itu orang miskin. Duh norak banget ngata-ngatain orang lain itu miskin, udah nuduh orang lain miskin gak ngeluarin buku cek dan ngasih bantuan. Padahal nyah, orang kaya beneran itu kalau lihat orang kurang mampu juga langsung semangat untuk membantu. In case nyonya nggak tahu philantropy namanya nyah.

Rahasia

Saya ngerti sih nyah kalau cerita-cerita dari dalam rumah tangga itu tak boleh diceritakan ke orang lain, mendingan disimpan sendiri ataupun diceritakan kepada rumput yang bergoyang, atau sekalian kepada pakarnya. Tapi lho ya nyah, rasanya kok kampungan banget ketika nyonya sebarkan rahasia-rahasia dapur teman nyonya ketika ia mempercayakan masalah ranjang, keuangan hingga keluarganya. Nyah, seluruh dunia kan gak perlu tahu, cukup nyonya aja yang tahu. Dapat kebahagiaan apa sih dari ngebocorin cerita orang ke komunitas Indonesia yang kecil ini nyah? Nyonya dulu gak pernah diajarin menyimpan rahasia ya nyah? Nyah, lambemu turah nyah? Udah biar minceu aja yang mamam batako nyah.

Perkelahian

Satu lagi nyah, idealnya, sebagai orang sebangsa dan senusantara kita bersatu di luar negeri untuk saling gotong royong. Idealnya sih begitu nyah. Tapi kalau kemudian nyonya berkelahi dengan nyonya-nyonya lainnya, acara kenegaraan juga jangan diboikot dong. Cukup nyonya berdua aja yang berkelahi. Kok kayak di SMA aja, berkelahi bawa-bawa temen satu geng dan satu geng disuruh boikot. Kok ya acara kenegaraan, acara makan-makan biasa kalau diundang datang dong nyah, gak usah malas kalau ada nyonya sebelah. Kenapa takut nyah, takut wangi parfum kalah dari nyonya tetangga? Duh nyonya cemen banget sih.

chanel-meme

Photo: wonkette.com

Gosip dan perfitnahan

Masih ada lagi nyah, iri dan dengkinya juga sebaiknya disimpan aja nyah, eh salah dibuang nyah. Kalau kalah bersaing sama nyonya tetangga gak usah jelek-jelekin nyonya tetangga dong. Nuduh-nuduh nyonya tetangga ini itu, bahkan menyerang segala elemen pribadi nyonya tetangga, itu mah namanya ad hominem nyah. Nggak usah repot-repot mencari tahu latar belakang keluarga nyonya tentangga di Indonesia juga nyah, buang-buang waktu aja. Atau mungkin itu strategi nyonya biar bisa bilang: “Eh jeung…jeung….dia itu kan dasarnya keluarga biasa-biasa aja, bukan horang kaya-kaya?”. Ih nyonya, segala-segala dilihat dari kekayaan, dangkal nyah, dangkal. Ingat masa lalu nyah, sebelum ekonomi nyonya membaik karena ketemu meneer. Sadar nyah sadar.

Tapi saya salut lho sama nyonya tetangga, biar kata digosipin, difitnah, nyonya tetangga diam aja, gak sibuk gelar konferensi pers untuk mengklarifikasi. Kalau kata Michelle Obama sih itu namanya when they go low, we go high. Waktu yang akan mengungkap kebenaran nyah.

Duit suami jangan dihamburin nyah

Nyah di akhir kata ijinkan saya nitip pesan super, tapi ingat saya bukan MT ya nyah, duit suami sekarang emang kagak berseri,  tapi jaman bisa berubah lho. Krisis bisa menerpa dan suami tiba-tiba bisa tak punya uang. Bangkrut namanya nyah. Jadi duit suami itu jangan dihambur-hamburin buat belanja barang-barang yang tak perlu atau dipinjam-pinjamkan dengan alasan buat modal usaha keluarga di kampung sana. Aduh nyonya engga kasihan tuh suami kerja keras banting tulang dan berkeringat tiap hari, duitnya  dihamburkan keluarga dan usahanya bangkrut dalam sekejap mata. Kan suami jadi kecewa nyah.

Sudah dulu ya nyah, sahabat miskinmu ini mau kursus etiket dan kepribadian dulu. Biar gak norak-norak amat nyah. 

Penutup

Sedari lama saya sudah banyak mendengar cerita dan mendengar wejangan-wejangan baik dari para pelaku kawin campur, ataupun dari para ekspat, pelajar serta imigran Indonesia tentang kehidupan di luar tanah air. Peringatan yang diberikan oleh orang-orang ini bunyinya senada: HATI-HATI BERGAUL DENGAN ORANG INDONESIA, apalagi yang OKB, pada norak-norak. Peringatan-peringatan yang saya dengar ini termasuk peringatan keras lho, makanya saya tulis dengan hurus besar semua.

Faktanya, kenorakan ini ada dimana-mana, sebenarnya tak di Irlandia saja, tapi juga di tanah air, di Amerika sana, atau di daratan Eropa. Pelakunya juga tak hanya orang Indonesia, tapi dari semua latar belakang. Di Indonesia,  kita bisa dengan mudah menghindari hal-hal seperti ini, tapi di luar negeri, ketika komunitas Indonesia begitu kecil, pilihan satu-satunya adalah menghindari pergaulan dengan orang Indonesia. Jadi jangan heran kalau banyak orang-orang Indonesia yang memilih untuk tak gaul, karena drama ini. Drama yang dibuat oleh para nouveau riche yang baru menjejak di luar negeri, kemudian merasa orang paling kaya dan paling OK sejagat raya, tapi lupa meninggalkan kenorakan dan kampungannya. Dan kali ini saya setuju dengan ungkapan you can take the girl out of the kampung, but you can’t take the kampung out of her.

Tjetje

Yang tidak sirik ndengan yonya besar

PS: tulisan di atas bukan dimaksudkan untuk satu atau dua nyonya, tapi untuk semua nyonya-nyonya OKB yang belum kursus kepribadian di berbagai belahan dunia. Kalau nyonya merasa tersindir,  lalu merasa perlu nyinyirin saya, silahkan dibagi di media sosial ya Nyah! Dishare ya nyah, jangan lupa dikipasin biar panas. 

Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam)

Ada yang suka nonton Last Week Tonigh with John Oliver? Coba deh nonton di YouTube, acara ini kocak banget yang menyindir aneka rupa topik, dari mulai soal pemilihan umum di Amerika, kredit dan hutang, hingga soal pelecehan di internet. Dalam episode pelecehan di internet, John Oliver membahas sekilas tentang revenge porn. Topik ini sudah lumayan basi sih, karena sudah dibahas setahun lalu, tapi ya tahu sendiri saya ini kan blogger mood-moodan yang suka mengangkat topik-topik yang hampir basi supaya bisa jadi pengingat kembali.

Anyway, dalam episode tersebut, John membahas tentang pasangan yang putus, kemudian sakit hati dan mengunggah foto-foto atau video seksi ke media sosial untuk mempermalukan pasangannya. Pernah dengar tentang hal ini? Mungkin kalian pernah dengar dari kasus populer Kim Kardashian. Well,  engga bisa disamakan dengan kasus Kim, karena si Kim secara sadar atau setidaknya setuju dengan penyebaran video tersebut untuk mendapatkan populeritas. Sementara revenge porn jauh berbeda, korbannya tak mau photo atau video tersebut disebarluaskan, sementara pelakunya yang bekas orang terdekat dendam kesumat karena kisah cintanya gagal berantakan tak berujung di bawah tenda biru.

Pelaku revenge porn bisa dilakukan oleh perempuan ataupun pria, tetapi dari sebuah tulisan di economist, disebutkan bahwa pelakunya kebanyakan pria. Foto-foto atau video ini kemudian diunggah, tak hanya di media sosial, tapi juga di situs-situs pornografi, lengkap dengan kontak sang korban. KEJAM, KEJAM banget. Kontak yang diberikan bersamaan dengan foto ini kemudian membuat  beberapa korbannya diuber oleh orang-orang tak dikenal.

Nah, dalam episode Last Wek Tonight tersebut, John membahas satu elemen penting bagaimana pihak berwajib di Amerika sana masih ada yang tak tahu bagaimana cara menangani hal tersebut. Iya yo, Amerika yang sering digadang-gadangkan sebagai negara adidaya dan para bule-bule yang masih sering dianggap sebagai para dewa dengan kasta paling tinggi di antara semua makluk di bumi ini. Kebayang kan betapa frustasinya jadi korban dan harus berhadapan dengan mereka yang tak tahu cara menanganinya.

Para korban ini kemudian harus berhadapan dengan kenyataan bahwa foto-fotonya disebarluaskan di banyak web porno di internet, dan harus berjuang untuk membuat foto-foto tersebut dihapus. Di Amerika, untuk melakukan hal tersebut, mereka harus mendaftarkan hak atas foto-foto tersebut (yang mana artinya mereka harus mendaftarkan foto-foto telanjang tersebut) supaya kemudian bisa dihapus dari internet. Pening gak tuh? Di Eropa sendiri perjuangan menghapuskan foto-foto atau video pribadi ini bisa dilakukan melalui the right to be forgotten. 

Panjangnya perjuangan menghadapi hal tersebut dan beratnya konsekuensi sosial yang dihadapi oleh para korban, belum lagi besarnya biaya yang dikeluarkan, seringkali membuat korban-korbannya mengambil solusi cepat, bunuh diri. Tiziana Cantone merupakan salah satu contoh korban revenge porn yang berjuang habis-habisan dan kemudian mengakhiri hidupnya. Di tulisan ini kalian juga bisa menemukan salah satu korban revenge porn yang berjuang habis-habisan untuk memenjarakan mantan pacarnya. Ada satu kesamaan disini, dimana perempuan berada pada posisi yang sangat lemah.

Dalam kondisi begini biasanya kita akan mendengar kelompok-kelompok yang akan menyalahkan para korban dan mengatakan: makanya jangan ambil foto pribadi dan mendistribusikan foto-foto tersebut. Ngok…..para pelaku victim blaming ini gak menyelesaikan masalah malah nyalah-nyalahin korban (dan bukan menyalahkan pelaku). Bagi para korban, foto-foto tersebut diambil dan diberikan pada orang-orang yang mereka percaya, situasi kemudian berubah dan orang-orang tersebut menjadi orang-orang brengsek yang tak bisa dipercaya.

Herannya ya, dari beberapa kasus yang saya pelajari, media lebih banyak mengekpos nama korban dan menyembunyikan nama pelaku. Salah satunya kasus pelecehan seksual terhadap remaja bernama Audrie Pott yang juga bunuh diri karena dilecehkan secara seksual hingga kemudian foto-fotonya disebarkan di internet. Kisah Audrie sendiri difilmkan dalam sebuah documenter berjudul Audrie and Daisy dan diputar pertama kali pada Sundace Film Festival di awal tahun 2016 ini.

Dari kasus-kasus ini saya jadi bertanya-tanya, jika di negeri adidaya seperti Amerika saja para pihak berwajib masih tak tahu bagaimana menangani kasus sensitif seperti ini, bagaimana dengan di Indonesia? Boro-boro ditangani, ada juga para korban yang mengambil foto diri sendiri tanpa sehelai benang sudah terkena pasal UU pornografi lebih dulu. Sungguh berbeda dengan negara tetangga seperti Jepang, atau bahkan Filipina.

Kalian, pernah dengar soal revenge porn sebelumnya?

Xx,
Tjetje

Soal Sentimen Pada Imigran

Seperti banyak kita tahu, Eropa beberapa bulan, mungkin lebih tepatnya tahun, belakangan ini, sedang dibanjiri oleh imigran, pencari suaka, dan pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang. Sebagian dari mereka melarikan diri dari peperangan yang sudah berkecamuk sekian lama dan mengikuti proses menjadi pengungsi dengan mencari suaka terlebih dahulu, sedangkan sebagian lainnya lari dari kemiskinan (kemudian sering disebut sebagai economic migrant)

Imigran (pengungsi serta pencari suaka) banyak tidak disukai karena berbagai problematika yang dianggap muncul akibat kehadiran mereka. Ambil contoh yang paling gampang saja seperti Inggris yang kepanasan menghadapi imigran, hingga kemudian memutuskan #Brexit. Jauh berbeda dengan Canada yang adem ayem padahal negaranya berisi imigran semua.

Hal pertama yang diidentikan dengan imigran adalah pencuri pekerjaan. Yang lokal merasa terancam karena banyaknya pekerja dari luar yang mendapatkan pekerjaan. Ini di mana-mana, termasuk di Irlandia. Dulu, anak muda Irlandia lebih mudah menemukan pekerjaan di pub lokal, sementara sekarang posisi-posisi tersebut sudah digantikan dengan wajah-wajah serta aksen dari timur benua Eropa yang terkenal pekerja keras. Selain terkenal pekerja keras, mereka terkenal sebagai orang yang pandai menyimpan uang (untuk dikirim ke kampung halamannya). Ini juga yang kemudian bikin banyak orang kesel, karena duitnya didapatkan dari satu negara, tapi dihabiskan untuk membangun negara lain.

Selain itu, imigran juga diidentikkan dengan masalah sosial yang mungkin disebabkan kegagalan integrasi. Saya tulis mungkin, karena ini bukan tulisan ilmiah. Masalah-masalah sosial yang muncul beraneka rupa, dari mulai diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan, hingga stigma kuat yang muncul dan melekat akibat beberapa gelintir orang. Stigma-stigma tersebut termasuk malas, tak mau bekerja keras dan hanya mau memeras jaminan sosial saja. Ada sih yang begitu, saya pernah ketemu yang tukang sedot jaminan sosial, tapi gak semuanya seperti itu. Yang pekerja keras banyak.

Kecenderungan imigran untuk tinggal di satu area khusus, bercampur dengan orang-orang serumpunnya juga menjadikan proses integrasi semakin sulit. Tapi sejujurnya, ini sudah terjadi dimana-mana dan sejak lama di berbagai belahan dunia. Ambil contoh embong Arab, pecinan atau Chinatown, bahkan kampung keling (yang terdengar sangat derogatif) seperti di Medan.

Lucunya, saya melihat sentimen yang sama dari orang-orang Indonesia, baik yang tinggal di Indonesia, apalagi yang tinggal di luar negeri. Di luar negeri lebih parah, bahkan banyak yang sinis luar biasa ketika melihat para imigran (pencari suaka ataupun pengungs)i. Padahal, dirinya sendiri sama-sama imigran (tapi seringan ngaku expat, atau pura-pura lupa kalau imigran, padahal gak punya kualifikasi untuk jadi expat). Meminjam bahasa di Twitter, saya memanggil mereka sebagai kaum menengah ngehek. Terus makin ngehek dan gondok ketika tahu sebagai para imigran dan pencari suaka ini orang kaya.

Lha halo, bantuan itu kan hak mereka, tak peduli kaya atau miskin. Lagipula, untuk melarikan diri dari peperangan itu diperlukan biaya yang tak sedikit, jadi tak heran kalau yang kaya lari duluan, sementara yang miskin harus berjuang setengah mati mengumpulkan modal.

Kadang saya pengen banget nyentil yang sinis ini dengan pertanyaan: lha situ mau dipaksa pindah dari satu negara karena keadaan politik sehingga harus tercerai berai dari keluarga? Terus tentunya saya pinjamin kaca besar yang ada tulisannya: emang elu expat? Emang lu disini karena pekerjaan dan dapat visa dari kantor? Duh kualifikasi jadi expat aja kagak ada dan sesama migran ini kan, gak usah reseh deh. 

Nah, jika ada kelompok menengah yang ngehek, maka ada pula kelompok yang tak kalah ngeheknya. Kelompok ini memiliki kecintaan mendalam pada kelompok migran, terutama migran-migran dari timur tengah yang gagah, berparas tampan dan masih muda. Mereka banyak memburu para migran-migran ganteng ini untuk menghangatkan ranjang yang sudah mulai mendingin. Siapa mereka? Tante-tante di Jakarta.  Tante-tante ini juga tak segan memanjakan para pencari suaka ini dengan hadiah-hadiah. Tak hanya hadiah berharga, mereka juga seringkali diberikan hadiah tak berharga, penyakit menular seksual. Duhh….tante!!!!

Xx,
Ailtje
Imigran, bukan expat, yang sedang mencari kehangatan di Tenerife

Baca juga tentang migrant vs refugee di sini

 

Aktivitas Khas Natal

Di saat Indonesia gaduh dengan politik yang memanas, hoax yang bikin mengelus dada hingga soal ribut mengucapkan selamat Natal,  saya di Irlandia juga gaduh dengan tumpukan hadiah Natal yang belum dibungkus serta daftar belanjaan hadiah yang belum dipenuhi. It’s December people and Christmas is coming!!! Hohoho

Belanja hadiah saat Black Friday 

Urusan Natal identik dengan pohon Natal, hiasan Natal, lampu-lampu serta belanja. Urusan perayaan keagamaan tentunya dirayakan sebagian orang, tapi dari pengamatan saya, semua orang rasanya lebih heboh belanja (dan sebagian lainnya berbagi). Black Friday yang jatuh satu hari setelah Thanksgiving menjadi hari andalan untuk belanja hadiah-hadiah Natal karena semua toko, termasuk toko online, memberikan potongan harga, setidaknya 20%. Angka itu memang terlihat kecil, tapi bagi kami yang punya daftar hadiah panjang, signifikan banget. Awalnya Black Friday ini identik dengan Amerika, tapi karena konsepnya “bagus” untuk mendorong orang untuk belanja, jadi diadopsi dimana-mana termasuk diadopsi toko-toko di Irlandia pada tahun 2014. Soal keriuhan toko jangan ditanya deh, padat merayap dan diwarnai tubrukan kecil disana-sini.

Good morning from Henry Street #Dublin.

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Belanja di Christmas Market

Pasar-pasar Natal juga mulai marak, tak hanya di ruang publik tetapi juga di dalam kantor saudara-saudara. Mungkin kalau dalam bahasa Indonesia bazaar. Yang dijual macam-macam, dari mulai pernak-pernik Natal, hingga pengalaman naik komidi putar. Satu hal yang khas dari Christmas Market adalah stand yang menjual mulled wine, anggur panas yang dicampur dengan  buah ataupun rempah seperti kayu manis, bukan rempah merica ataupun ketumbar ya. Christmas Market favorit saya sendiri ada di Galway yang konon juga salah satu yang terbaik di Eropa. Di Indonesia, Christmas Market ini sendiri mirip dengan pasar malam.

Makan coklat Advent

Masa Advent dimulai pada hari minggu ke empat sebelum Natal, tapi untuk kepentingan makan coklat, dimulai sejak tanggal 1 Desember hingga 24 Desember. Terus terang saya tak tahu bagaimana perayaan keagamaannya, tapi bagi sebagian anak-anak dan juga orang dewasa, masa Advent adalah masanya memakan coklat setiap hari hingga menjelang Natal. Coklat Advent sendiri biasanya dijual satu kotak lengkap dengan tanggalnya, dari tanggal 1 hingga 24. Jadi ya jangan kaget kalau banyak yang menggelembung ketika Natal tiba, karena kebanyakan makan yang manis-manis. Dipikir-pikir ini persis banget kan kayak menjelang lebaran? Tiap sore makan kolak terus.

Menjadi Secret Santa (Kris Kindle) 

Tukar-menukar kado itu berat say, apalagi ketika tak ada THR. Kalaupun dapat bonus dari kantor, biasanya bonus ini akan dipotong pajak sebesar setidaknya 50%. Mabuk, mabuk deh ya. Nah supaya kantong tak jebol karena harus memberi banyak hadiah untuk orang lain, beberapa keluarga, atau bahkan di kantor menerapkan Kris Kindle. Melalui kris Kindle generator, tiap orang diacak untuk mendapatkan satu buah kado. Nilainya ditentukan, ada yang mulai 10€ atau bahkan mulai 50€. Tergantung kesepakatan bersama. Lagi-lagi tradisi ini memiliki kemiripan dengan tradisi tukar kado yang dibungkus kerta koran di Indonesia.

Kirim surat dan menengok Santa

Nah ini dia acara favorit sebagian anak-anak di berbagai belahan dunia: menengok Santa (atau yang biasa dipanggil Santy Claus) dan tentunya mendapatkan hadiah Natal. Tradisi ini buat saya sangat konyol karena anak-anak dibohongi dengan eksistensi Santa, tapi bagi banyak anak dan keluarga tradisi ini penting karena memicu imajinasi dan mimpi-mimpi manis anak.

Antrian menengok Santa sendiri lumayan panjang dan orang tua yang serius harus membuat janji pertemuan sejak lama lho. Di gedung tempat saya kerja saya sempat melihat wajah-wajah anak yang baru bertemu Santa, tentunya wajah mereka sumringah berat karena tangan menenteng hadiah. Who doesn’t?

Salah satu ritual ketika duduk di pangkuan Santa adalah memberitahu apa permintaan kita kepada Santa. Permintaan yang konon akan dipenuhi jika selama setahun terakhir ini kita tidak nakal. Sepanjang tahun ini saya rasanya telah menjadi anak baik dan jarang nakal. Nah, pastinya saya boleh dong memohon satu permintaan pada Santy. If I could wish, saya ingin semua teman-teman dan juga pemeluk agama Kristiani di Indonesia bisa menjalankan ibadahnya tanpa rasa takut digerebek organisasi radikal. Sedih banget rasanya baca status teman-teman yang minoritas pada ketakutan setiap menjelang Natal. Takut dibom, hingga takut digerebek organisasi massa. Saya hanya ingin semua orang bisa bebas mengekspresikan kepercayaan keagamaannya tanpa perlu takut dengan mereka yang tak mengakui keragaman agama di Indonesia. Karena Natal itu seharusnya dirayakan dengan damai, bukan ketakutan.

Kamu, punya rencana apa liburan Natal ini?

xx,
Tjetje

Teh Indonesia yang Tersisih di Negeri Sendiri

 

Sebagai orang Indonesia yang tinggal di negeri asing, kembali ke Indonesia berarti menyesap segala hal yang berbau Indonesia untuk melepas rasa rindu. Selain urusan perut, perjalanan pulang juga biasanya diwarnai dengan pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga dan juga teman-teman untuk sekedar berbagi kabar, ataupun diskusi dan ngobrol berbagai topik penting, termasuk politik yang sangat panas.

Di Jakarta, bertemu dengan teman-teman biasanya saya lakukan di berbagai tempat, dari hotel, kantor hingga mal. Tempat yang terakhir ini tentu saja menjadi tempat favorit warga ibukota. Biasanya, ngobrol-ngobrol  di pusat perbelanjaan ini jika tak di tempat makan ya di warung kopi, coffee shop, Café. Tempat-tempat ini biasanya menawarkan kenyamanan, dari colokan, hingga pilihan menu yang beragam, dari camilan ringan hingga makanan berat.

Ada satu hal yang bikin saya jadi norak dan nista banget ketika masuk kedai-kedai kopi mahal ini, karena saya selalu minta teh asli Indonesia. Permintaan saya ini selalu dibalas dengan tatapan aneh penuh penghakiman dan kemudian dibalas dengan jawaban TIDAK ADA TEH INDONESIA yang dijual karena mereka hanya menjual teh impor. Lalu, para barista mulai menyebutkan nama-nama teh yang mereka punya, dari earl grey, hingga English Breakfast. Sebagai orang Indonesia, saya SEDIH BANGET, karena saya ingin mendengarkan teh tubruk, teh melati atau Indonesian Breakfast. Salah satu barista yang saya curhati mencoba menghibur saya dengan mengatakan bahwa mereka punya kopi-kopi Indonesia. Btw, ini gak cuma kejadian di kota besar lho, di Malang saya juga mengalami hal yang sama dan tentunya bukan di warung kopi jaringan internasional.

When in Ireland, one has to enjoy a cup of "French tea". #Ireland #Dublin #Laduree #JelajahIrlandia

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Saya yang patah hati ini kemudian teringat dengan kunjungan ke sebuah perkebunan teh milik pemerintah di kawasan kabupaten Malang lebih dari satu dekade lalu. Disana saya dan rekan-rekan kuliah mendapatkan penjelasan tentang proses pembuatan teh, dari mulai pemetikan, pemrosesan serta proses ekspor teh tersebut. Disana pula saya terkejut ketika tahu bahwa ternyata daun teh yang memberikan teh berkualitas baik itu dikirimkan ke luar negeri, semuanya! Kalaupun ada, biasanya dijual dalam jumlah terbatas di koperasi milik kebuh teh tersebut. Bagi kantong saya saat itu, teh tersebut memang lebih mahal ketimbang teh di pasar. Selain teh pucuk pertama, teh lapisan ke dua juga dikirim ke luar Indonesia. Teh untuk konsumsi dalam negeri hanya sisa-sisa di bagian bawah. Saya menyebut teh Indonesia itu teh KW 3.

Terus terang itu pengalaman lebih dari satu dekade lalu, dan saya tak tahu bagaimana perkembangan industri the nusantara. Tapi apapun situasinya, rasanya menyedihkan sekali ketika teh yang ditanam dan dipetik ibu-ibu Indonesia ini bahkan tak layak untuk duduk bersanding dengan kopi-kopi nusantara.

Makin mampus begitu ngeliat cemilan seperti ini. #Meraung

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Bicara tentang teh saya pernah beberapa kali menulis bahwa di Irlandia konsumsi tehnya sangat tinggi dan mereka, orang Irlandia, sangat bangga terhadap tehnya, padahal mereka tak punya kebun teh. Saking bangganya, bagasi mama saya yang kelebihan beberapa kilo pun bisa lolos tanpa biaya tambahan ketika kami minta maaf karena koper dipenuhi dengan Irish tea dan juga Irish chocolate.

Kebanggaan itu yang tidak saya lihat di Indonesia, mungkin karena kita memang tak punya budaya minum teh yang kuat. Mungkin juga karena kualitas teh Indonesia dianggap tak layak masuk ke dalam warung-warung kopi. Teh kita cuma bisa disesap di abang-abang starbike, di rumah-rumah, ataupun di warung-warung sederhana tanpa pendingin ruangan, apalagi jaringan internet.

Ah sudahlah, mungkin saya yang mintanya terlalu banyak dan terlalu nyinyir. Kamu sukanya teh apa?

The joy of having a cup of tea and putu ayu. Oh life is good. #Dublin #Ireland #IndonesianFood

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

 

Xx,
Tjetje

Nasib Musik Indonesia 

Jaman kaset masih berjaya, saya termasuk orang yang rajin membeli kaset yang seingat saya harganya tiga puluh ribu rupiah. Saat itu, membeli kaset-kaset terbaru menjadi sebuah hal yang menyenangkan karena bisa update dengan musik terbaru, apalagi jika kemudian bisa menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Harap maklum ya, jaman itu belum ada internet, jadi anak-anak muda mengisi waktunya dengan aneka hal yang mungkin dianggap norak oleh anak jaman sekarang. Termasuk mengkoleksi lirik lagu yang pernah dibahas oleh Mas Agung Mbot di postingan ini.
Bagi yang tak tahu, mendengarkan kaset itu ada seninya. Apalagi jika lagu favorit ada di sisi A dan selalu ingin didengarkan kembali tanpa merewind supaya pita tak rusak. Saya mengakalinya dengan membalikkan kaset ke sisi B, lalu mendengarkan satu lagu dan membaliknya kembali ke sisi A. Terdengar ribet mungkin, tapi jaman dulu kami punya banyak waktu dan tak disibukkan dengan perkelahian politik dan agama di media sosial.
Aktivitas merekam musik secara ilegal marak dilakukan di rumah, dengan bermodalkan kaset kosong seharga lima ribu atau delapan ribu rupiah. Tergantung mereknya. Lagu-lagu kemudian direkam melalui musik yang diputar di radio. Tangan harus cepat tentunya supaya bisa menekan tombol rekam di detik yang pas, dan menghentikannya persis ketika musik berhenti. Butuh kecekatan khusus. Radio sendiri mengurangi perekaman ilegal dengan memutar nama stasiun radionya persis saat lagu dimulai. #Cerdas

Ketika CD mulai masuk, kaset mulai tergusur. Apalagi ketika muncul CD-CD bajakan, serta musik-musik digital yang tak memerlukan kecekatan tangan. Lagu-lagu juga bisa diunduh secara gratis kemudian didengarkan melalui komputer. Jaman kuliah, saya termasuk salah satu pelakunya.

Tapi kenikmatan mendengarkan musik dari komputer dan dari alat pemutar musik itu tak sama. Saya pun kembali ke cara konvensional dengan membeli pemutar CD dan mulai mengkoleksi CD. Tak cuma saya, Ibunda saya juga ikutan. Koleksi CDnya berjibun. Kami senang memutar lagu dengan kencang sambil melakukan hal-hal lain, termasuk duduk membaca majalah atau sambil ngobrol. Khas Indonesia bangetlah.

Cassettes which used to be our best friend. #TokoKaset #Casette #Indonesia #IndonesianShop #DutaSuara

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Ketika pindah ke Irlandia, sebagian CD saya saya berikan pada mama, sementara sebagian lainnya saya bawa ke Irlandia untuk menemani saya.Saat liburan kemarin, saya mengagendakan untuk membeli beberapa CD supaya bisa saya bawa kembali ke Irlandia. Ternyata, toko kaset dan CD di Jakarta tinggal satu saja, di Duta Suara, di jalan Sabang. Tokonya sendiri sepi, tak ada pembelinya. Dan saya pun kalap membeli banyak CD musik Indonesia.

Terus terang saya sedih sekali melihat kondisi ini. Tapi apa daya, dunia sudah berubah ke arah digital dimana akses terhadap musik terbuka luas melalui iTunes, Spotify atau perpustakaan lagu lainnya. Penikmat musik diberi akses pada jutaan lagu-lagu tetapi dibatasi oleh ketersediaan baterai pada gawai.
Perilaku kita yang masih mengunduh musik secara ilegal ini tak heran membuat banyak musisi meradang. Janji bersama dari para pedagang bajakan untuk tidak menjajakan musik ilegal Indonesia patut dihargai dan diapresiasi, tapi sayangnya tak bisa menyelamatkan musisi dari perampokan karya intelektualnya, karena masih banyak dari kita yang merampas hak mereka. Ah mentalitas gratisan ini.

Bagaimana dengan kalian, suka musik bajakan atau rajin beli?

xx,
Tjetje

Khas Indonesia Banget 

Mungkin beberapa hal yang saya tulis di bawah ini terdengar biasa-biasa saja bagi kebanyakan dari kalian. Tapi semenjak pindah ke luar, hal-hal sepele ini membuat saya melihat perbedaan mencolok dengan negara tempat tinggal saya. Lucunya, perbedaan ini tak saya lihat sebelumnya ketika saya kerap menengok pasangan di Dublin. Memang beda ya kalau tinggal dan liburan.

Musik
Pernah merhatiin gak kalau orang Indonesia itu suka sekali dengan musik dan selalu memainkan musik dimana-mana. Maksudnya sih biar ramai dan gegap gempita. Di salon (yang bikin susah ngobrol dengan hairstylistnya), di restauran (yang bikin susah ngobrol dengan teman) bahkan di kendaraan umum. Nulis ini saya jadi inget abang mikrolet yang suka pasang speaker segede gaban (gaban itu apaan sih?) dengan suara musik dangdut yang menggelegar. Kalau sudah gitu malas naik deh, karena kuping bisa sakit.
Di Irlandia saya jarang sekali mendengar musik di ruang-ruang publik, apalagi yang kenceng, kecuali mereka yang mengamen di jalanan. Pada kendaraan pun pemusik ini tak diperkenankan mengamen, tak seperti di Perancis yang jadi nyeni karena metronya diwarnai pengamen. 
Kehadiran musik dimana-mana tak diwarnai dengan usia toko kaset dan CD yang panjang. Di Jakarta saya kesulitan mencari toko kaset dan hanya tinggal satu Duta Suara yang tersisa. Nampaknya musik-musik ini hasil bajakan semua. 
Colokan dimana-mana 
Power bank saya teronggok di dalam laci sejak lama. Bagi saya colokan lebih baik ketimbang Power bank demi kelangsungan usia baterai yang lebih lama. Di Indonesia, menemukan colokan itu gampang banget. Bahkan di beberapa Café saya semakin banyak menemui charging station untuk meninggalkan handphone.
Nampaknya cara Restaurant, Café dan rumah makan di desain untuk mengakomodasi seribu colokan. Jauh berbeda dengan Irlandia yang miskin colokan. 
WiFi friendly 
Ada guyonan Warung-warung kopi di Indonesia itu sebenernya jualan wifi, bukan. Jualan kopi. Ya gimana, kopinya segelas, wifinya dipakai buat mengunduh film. Makenya pun berjam-jam.
Beberapa coffee shop bahkan meletakkan kata sandi untuk wifi di dekat kasir supaya tak ditanya lagi. Tingginya kebutuhan akan wifi ini memang harus dipahami mengingat mahalnya harga Internet di Indonesia. Saya yang pengguna setia Telkomsel ini menghabiskan lebih dari lima ratus ribu untuk liburan dua minggu. Ini internetnya paketan lho ya. Entah gimana data kayak kesedot mesin. Mungkin ini sebabnya orang lebih banyak menggunakan wifi ketimbang data di telepon genggam.
Kamar mandi tanpa kode


Di Irlandia itu kamar mandi diberi kode, termasuk yang Di Starbucks. Orang sini memang pelit dengan akses terhadap kamar mandi dan orang-orang yang akan akses kamar mandi harus memasukkan kode yang ada di tanda terima.
Di Indonesia mau ke kamar mandi gampang, gak perlu repot-repot cari kode atau berhadapan dengan barista yang nyolot ketika dimintai kode. Tapi, biarpun tanpa kode, kamar mandi di Indonesia joroknya masih luar biasa. Becek, bekas kaki, bahkan tissu berserakan.
Kamu, pernah merhatiin gak hal-hal yang Indonesia banget? 
xx,

Tjetje