Tertimpa Gosip dan Rumor

Lebih dari satu dekade lalu seorang tetangga saya berdiri di depan rumah sambil berteriak-teriak, marah tak jelas. Kendati pendidikannya tinggi dan pekerjaannya menjadi pendidik anak bangsa, sang tetangga satu ini memang terkenal tak bisa mengatur temperamennya dan hobi marah-marah. Di tengah-tengah amarahnya, ia tiba-tiba menghujat saya, anak kuliahan yang baru kenal cinta monyet sebagai perempuan simpanan. Darah muda saya mendidih, apalagi saat itu saya masih jomblo. Sebagai jomblo yang merindukan cinta, bagai pungguk merindukan bulan, kejadian itu saya ibaratkan seperti peribahasa bagaikan jomblo tertimpa tangga. Apes bener. Tetangga itu berakhir diam tak berkutik ketika saya labrak.

Dalam kehidupan, seringkali kita ditimpa gosip ataupun rumor. Artis bukan, motivator juga bukan, tapi ada saja orang yang iri dan dengki lalu membuat gosip dan rumor aneh-aneh. Pada saat yang sama, banyak dari kita yang terlibat baik secara aktif maupun pasif dalam kegiatan pergunjingan. Dari bergunjing sambil ngopi-ngopi dan arisan cantik, hingga bergunjing kelas teri bersama abang tukang sayur ataupun ketika usai ibadah. Lha abis ibadah kok nggosip.

Saya mendefiniskan bergosip sebagai kegiatan membicarakan orang. Yang dibicarakan biasanya fakta tetapi banyak dari informasi ini harusnya disimpan dalam lingkungan terbatas. Kendati hal-hal yang dibicarakan dalam pergosipan adalah fakta, tujuan dari membahas hal-hal ini bukanlah mengulas fakta atau investigasi untuk mengungkap sebuah permasalah. Tujuannya hanya untuk olahraga lidah, mulut dan telinga. Satu hal yang seringkali dilupakan, ada informasi-informasi yang seharusnya disimpan dalam sebuah ruang terbatas yang tiba-tiba dikeluarkan dan diumbar untuk untuk mengatasi kebutuhan membicarakan orang lain. Berbeda dari gosip, rumor merupakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sumbernya tak jelas, dasarnya tak jelas, kebenarannya apalagi.  Rumor menurut saya jauh lebih kejam dari gosip.

Gosip dan rumor tak bisa dilepaskan dari tukang gosip  yang juga berperan sebagai tukang sulut masalah ataupun provokator.  Provokator sekelas RT atau RW yang punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, bukan provokator yang bikin rusuh di depan kantor DPR. Tukang bikin rusuh ini biasanya punya ciri khas tak bisa menyimpan informasi dan hal-hal yang dia dengar dapat dipastikan tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga orang yang dibicarakan.
facebook-gossiping
Menghadapi tukang gosip atau penyebar rumor tidaklah mudah. Tapi yang paling utama, kita tidak boleh terpancing. Baik terpancing ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan informasi ataupun terpancing secara emosi. Pada saat yang sama, semua informasi yang kita dengar, dari siapapun, harus berhenti pada diri sendiri. Segatal-gatalnya mulut jangan sampai mengeluarkan informasi ke tukang gosip, apalagi ke para korbannya. Tak ada gunanya menyampaikan informasi tersebut pada orang lain, karena hanya membuat suasana semakin runyam.
Mereka yang mendengar berita diri digosipkan juga sebaiknya  tak mudah terprovokasi lalu tergoda labrak-melabrak, macam saya ketika masih muda belia. Apalagi jika sumber dari pergosipan ini adalah orang-orang yang memang terkenal sebagai tukang gosip dengan kalimat standar “Katanya si X, kamu begini, katanya si Y suamimu begini; aku dengar dari si Z kemarin begina begitu”. Semua katanya.
Sebuah sumber bacaan saya mengatakan bahwa orang-orang yang bergosip biasanya tak merasa percaya diri, sehingga merasa lebih baik ketika membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain. Pada saat yang sama ada kemarahan ataupun kecemburuan pada sang korban gosip. Nah, orang-orang seperti ini tak selayaknya diberikan panggung untuk menaikkan kepercayaan dirinya. Cuekin saja, anggap angin lalu.
Apakah ini berarti kita tak boleh membicarakan hidup orang lain? Sah-sah saja kok, apalagi jika hal tersebut adalah berita baik yang patut dirayakan. Tapi sudah selayaknya etika dan norma menjadi pembatas, baik pembatasan topik yang layak dibahas, maupun ekslusifitas informasi tersebut (Baca: gak perlu ngember kemana-mana).
Jika dulu saya melabrak-labrak orang, sekarang saya jauh lebih dingin dalam menghadapi gosip. Kadang saya menganggap gosip sebagai sebuah kewajaran, apalagi banyak yang tak cocok  (atau tak paham tapi pura-pura paham) dengan jalan pikiran dan gaya bicara saya. Pada saat bersamaan, saya juga bisa belagak jadi artis kan? Artis tanpa film, tanpa sinetron, tapi tak kalah penuh drama. Tentu saya yang menggosipkan saya tak akan saya beri somasi, apalagi somasi dengan 18 pengacara.
Mengutip kata Dedi Cobuzier, kita itu manusia dan bukan malaikat. Jadi wajar saya jika sebagai manusia yang tak sempurna kita banyak salahnya. Nah ketika manusia tak sempurna, bukan berarti mereka bisa dengan semena-mena dibicarakan dan digosipkan habis-habisan.
Bagaimana dengan kalian, pernah berurusan dengan tukang gosip, tertimpa gosip atau rumor tak sedap? Atau malah menjadi tukang gosip? #Eh
xx,
Tjetje
Ketularan Cerita Eka menjadi penikmat gosip super somasi.

Kembali Tinggal dengan Orang Tua

Kembali Tinggal dengan Orang Tua
Di beberapa negara maju, anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa diharapkan tinggal sendiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Harapannya, anak-anak tersebut bisa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. 


Di Indonesia, konsep melepas anak supaya mandiri itu kurang populer. Sebaliknya, anak dimanjakan hingga usia dewasa. Mereka disuapi dengan kemudahan; disediakan pekerja rumah tangga, pengemudi, hingga tabungan serta pekerjaan. Kemanjaan ini tak semerta-merta berhenti begitu memasuki jenjang perkawinan. Ada banyak keluarga muda yang entah terpaksa karena keadaan, atau mungkin dipaksa supaya orang tua tak kesepian, yang tinggal bersama orang tua. Bahkan ketika cucu lahir pun masih bersama orang tua. Menurut orang tua sih supaya dekat dengan cucu dan supaya ada orang terpercaya yang merawat cucu. Di Indonesia kita melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Disini, berusia dewasa, apalagi sudah kawin masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai keanehan.
Bicara tentang anak-anak yang dilepas, saya jadi teringat seorang teman WNA yang harus kembali ke negaranya setelah magang di Indonesia. Saat itu ia panik dan tak nyaman karena harus kembali tinggal dengan orang tuanya selama satu minggu karena belum mendapat tempat tinggal. Tinggal satu minggu dengan orang tua nampaknya dianggap sebagai sebuah siksaan luar biasa. Sungguh sebuah reaksi yang bagi saya menarik (dan berlebihan).
Saya sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal mandiri tanpa keterlibatan orang tua dan tak tahu apakah bisa tinggal satu atap lagi dengan ibunda saya. Ternyata, dikunjungi mama selama hampir tiga bulan saya malah tambah senang. Paling enak tentunya urusan perut, karena makanan nusantara seringkali tersaji. Sering ya, tapi tak selalu. Tentunya ada harga mahal yang harus dibayar, berat badan melonjak.
Tentunya dikunjungi tak sama dengan tinggal bersama. Dalam tinggal bersama ada keputusan-keputusan yang harus dibuat. Dari keputusan sederhana memilih merek sabun cuci hingga memilih penyedia jasa.  

Tak heran jika kemudian pasangan-pasangan muda yang menumpang hidup dengan orang tua atau mertuanya seringkali berargumen, dari argumen yang penting hingga yang tak penting. 
Yang tua sudah punya pola yang tersusun selama berpuluh tahun dan sudah memiliki pengalaman, sementara yang muda masih ingin mencoba berbagai hal baru atau sudah terbiasa dengan cara yang berbeda. Yang kasihan tentunya sang anak yang harus berada di tengah-tengah, antara orang tua dan pasangan jiwa.
Dalam situasi ini kedua belah pihak harus pintar-pintar menjadi fleksibel. Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak harus berkomitmen untuk memberikan ruang pribadi dan tak terlalu mencampuri urusan pihak yang lain. Komunikasi kemudian menjadi kunci penting. Seperti biasa, teorinya mudah tapi prakteknya tak mudah sama sekali karena bercampur dengan ego.
Kalian pernah kembali tinggal dengan orang tua atau bahkan dengan mertua? 

[#Jelajah Irlandia] Menyusuri Beara Peninsula

Sepanjang mata memandang, terhampar padang rumput hijau yang dihiasi titik-titik putih. Di salah satu sudut, titik-titik putih yang tersebar ini tiba-tiba bergerombol menuju satu sudut. Lalu domba-domba ini berpindah secara cepat menuju sisi kanan. Rupanya anjing sahabat petani sedang menggembala para domba lucu yang baunya tak selucu tubuhnya.

Beruntungnya hari itu kami disuguhi pemandangan indah dan tak sempat berpapasan dengan domba-domba yang membanjiri jalan raya, kalaupun ada, hanya satu dua ekor saja. Jika bertemu dengan segerombolan domba, bisa dipastikan kami harus mematikan mesin kendaraan dan piknik di pinggir jalan, menanti para domba-domba tersebut lewat. #IrlandiaBanget

Menuangkan tempat-tempat yang saya kunjungi ke dalam satu postingan Blog tak akan cukup, karena keindahan Cork yang luar biasa. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk merangkumnya berdasarkan tempat yang saya kunjungi. Jika ada yang berminat mengikuti jejak saya, jangan segan untuk mengirim email ya.

Gougane Barra

Rute perjalanan kami menyusuri Beara Peninsula sedikit tak biasa, karena kami mampir dahulu ke Gougane barra untuk melihat sebuah gereja kecil yang sempat saya muat di Instagram. Gereja kecil yang hanya memiliki 5 deret bangku di sisi kanan dan kiri sangat populer untuk perkawinan karena lokasi dan juga pemandangannya yang cantik. Tak hanya kehidupan percintaan yang dimulai dari titik ini, sungai Lee yang membelah sungai Cork juga memulai perjalanannya dari desa kecil ini.

Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan betapa indah dan romantisnya gereja yang dilatarbelakangi oleh bukit-bukit batu dan juga dikelilingi danau cantik. Tak jauh dari gereja ini saya juga menemukan hamparan rumput hijau yang lagi-lagi dihiasi dengan domba-domba putih. Saya yang m mendekati mereka pun langsung menyesal karena banyak ranjau darat yang bertebaran.

Dunboy Castle 

Reruntuhan castle ini terletak di pinggir Atlantik dengan pemandangan yang lagi-lagi elok. Sayangnya reruntuhan ini tak terawat dan hanya ditemani rumput liar.

Castle ini juga berbagi lahan dengan hotel bintang enam yang telah berubah menjadi hotel bintang redup. Konon hotel megah yang dikelilingi dengan pagar tinggi ini pembangunanya harus dihentikan karena keterbatasan biaya. Saya tak puas dengan melihat hotel dari luar dan memilih untuk loncat pagar demi melihat kecantikannya yang memudar. Untung tak ada satpam ataupun anjing penjaga yang menghentikan saya. 

Allihies

Desa kecil yang merupakan desa terakhir di Beara Peninsula ini menawarkan pemandangan luar biasa. Dari atas bukit kami disambut dengan pemandangan  pegunungan hijau yang dihiasi dengan bunga-bunga berwarna ungu serta deburan ganasnya laut Atlantik. Hamparan lautan pasir putih juga menambah cantiknya pemandangan. Dari ketinggian ini ada sedikit penyesalan karena saya tak membawa DSLR saya dan hanya bermodalkan iphone, sementara sang iphone tak mampu melakukan tugasnya dengan baik untuk merekam keindahan alam Cork.

Saya terkecoh oleh butiran-butiran pasir-pasir putih yang menghampar di desa ini. Rupanya, pasir-pasir tersebut bukanlah pasir asli dari pantai, tapi hasil buangan dari penambangan tembaga. Pada tahun 1812, terdapat pertambangan tembaga di desa ini, karena desa ini memiliki tembaga terbesar di Irlandia. Pertambangan ini sendiri ditutup di tahun 1844, karena deposit tembaga yang menurun.

Sekembalinya dari desa ini, kami melewati batu misa (mass rock). Batu ini menjadi saksi bisu kekejaman pemerintah Inggris yang melarang umat Katolik di Irlandia untuk beribadah. Pada saat itu, mereka yang beragama Katolik terancam dihukum jika melakukan ibadah. Akibatnya, mereka harus beribadah di daerah terpencil, di balik bukit-bukit.

Eyeries Village

Saya menyebutnya desa Instagramable, karena desa kecil yang rapi dan bersih ini berwarna-warni dan sangat ceria. Kendati berwarna cerah dan ceria, Eyeries menawarkan hal yang tak dimiliki tempat-tempat lain: kesunyian, kesenyapan dan kesederhanaan. Di desa ini, saya hanya berpapasan dengan sapi dan juga anjing. Entah dimana para manusianya.

Quiet and colorful little Shop #Westcork #Ireland #JelajahIrlandia #JelajahCork

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Dursey Island Cable Car

Pulau kecil tak berpenduduk ini dipisahkan dari pulau utama Irlandia oleh lautan kecil yang disebut sebagai Dursey Sound. Satu-satunya cara mengunjungi pulau ini hanya dengan menaiki kereta gantung tua yang penampilannya saja tak meyakinkan. Kereta gantung reyot ini juga memegang posisi penting karena merupakan satu-satunya kereta gantung di Irlandia. #NdesoBangetThoYo

Jalanan menuju area ini sendiri berliku-liku dan sangat kecil. Tak heran jika kemudian area ini sangat sepi, karena bis-bis pariwisata tak akan pernah bisa mampir ke tempat ini. Menyetir sendiri juga mengerikan, karena orang-orang di pedesaan memiliki kemampuan menyetir dengan kecepatan tinggi, tanpa takut dengan jurang terjal yang langsung menuju Atlantik. Kemampuan menyetir secara cepat ini akan berubah menjadi tak berguna ketika kendaraan berpapasan dengan traktor-traktor pertanian besar, karena tak ada ruang untuk menyalip.

MacCarty’s Pub @ Castletownbere

Melengkapi perjalanan panjang ini, kami pun mampir ke pub terkenal yang pernah dibukukan oleh Pete McCarthy. Bukunya cukup lucu dan saya rekomendasikan. Pub terbaik di tahun 2016 tak seperti pub pada umumnya. Bagian depannya toko kelontong dan bagian belakangnya pub. Rupanya pub ini sedikit berbeda karena banyaknya nelayan yang bersandar di Castletownbere dan memerlukan barang-barang kelontong.


Selain terkenal karena buku di atas, pub ini juga menjadi terkenal karena sang ayah dari pemiliknya, Dr Aidan MacCarthy. Sang dokter merupakan salah satu orang yang selamat pada saat bom atom dijatuhkan di Jepang. Dokter yang pernah dibawa pasukan Jepang ke Bandung ini membawa pulang samurai sebagai hadiah dari seorang komandan Jepang di akhir perang dunia kedua. Samurai inilah yang kemudian membawa anak-anaknya mencari tahu sang pemiliknya di Jepang sana. Tak hanya itu, samurah ini juga membuat hidup sang ayah dibukukan dan difilmkan.

Bagi saya, nilai tambah pub ini ada pada pintunya yang terbuka untuk para anjing. Anjing-anjing bebas duduk dan masuk ke dalam pub, karena sang pemilik merupakan pencinta pug. Dari begitu banyak pub yang saya kunjungi di Irlandia, baru ini saya mengenal pub yang dog friendly.

Sore itu, sekelompok orang Irlandia duduk-duduk ditemani gelas-gelas bir dan juga alat musik. Seorang bapak-bapak yang sudah cukup berumur kemudian bernyanyi dengan bahasa yang begitu asing di telinga saya, bahasa Irlandia. Dan saya pun duduk diam mendengarkan alunan musik tersebut, sambil menyesap dalam-dalam secangkir teh Irlandia yang saya pesan.

Ah tak heran jika banyak yang menyebut Cork sebagai daerah tercantik di Irlandia. Tak hanya alamnya saja yang cantik, orang-orangnya pun begitu menyenangkan dan ramah. Pada orang asing sekalipun.

xx,
Tjetje

Cara Daftar Visa Spouse Irish 

Banyaknya forum-forum di dunia maya memberikan kesempatan pada mereka yang kebingungan untuk bisa bertanya dan berkonsultasi tentang hal-hal yang tidak diketahui. Tetapi pada saat yang bersamaan, dunia maya, yang juga disingkat sebagai dumay, juga rajin menjerumuskan orang pada lubang hitam pekat besar. Di dunia maya, semua orang merasa paling benar, dan cara yang ditawarkan adalah cara terbaik. Padahal, banyak hal-hal kecil yang harus ditanyakan dahulu sebelum memberi saran atau berbagi pengalaman. Terlebih jika pertanyaan yang diajukan terkait dengan visa. Salah sedikit bisa runyam dan catatan penolakan visa akan melekat seumur hidup.

Visa untuk joining Irish spouse, atau bergabung dengan pasangan (disini ga penting mau pasangan kawin atau pasangan tinggal bersama) pengurusannya sangat mudah tapi prosesnya lama. Terkadang lebih lama dari menunggu jodoh. Perlu dicatat, digarisbawahi dan dicetak tebal, proses visa untuk yang pasangannya Irish TIDAK SAMA dengan mereka yang pasangannya warga negara Eropa. Mereka tak hanya mendapatkan kemudahan, tetapi juga langsung mendapat visa sesuai umur passport. Sementara yang memiliki pasangan Irish dan mendaftar visa long visit joining spouse dari pengalaman saya hanya akan mendapatkan visa selama tiga bulan saja.

Ketika saya mengecek di kedutaan Irlandia di Jakarta yang berlokasi di gedung WTC, dokumennya relatif sama dengan visa kunjungan pendek untuk jalan-jalan ke Irlandia. Daftar dokumennya sebagai berikut:

1. Hasil cetak pendaftaran visa secara Online yang sudah ditandatangani. Ini bisa dididapat  di situs INIS.

2. Surat permohonan visa. Saya menjelaskan secara panjang sejarah kami bertemu diikuti dengan sejarah kunjungan-kunjungan saya.

3. Surat undangan dari pihak pasangan WN Irlandia. Surat ini senada dengan surat kedua. Penuh sejarah percintaan yang dilengkapi dengan detail tanggal.

4. Fotokopi akte kelahiran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Akte asli harus dibawa untuk verifikasi

5. Fotokopi surat kawin serta terjemahannya. Surat kawin asli harus dibawa untuk verifikasi. Perlu dicatat pemerintah Irlandia mengakui perkawinan di luar negeri, jadi tak perlu repot-repot dicatatkan.

6. Bank statement selama enam bulan terakhir untuk membuktikan bahwa pasangan memang punya uang yang cukup dan tak akan membebani negara. Jika saya tak salah, ada penghasilan minimum untuk pasangan. Tapi saya belum ketemu linknya.

Bank statement saya juga disertakan untuk menunjukkan status keuangan. Selain itu saya memberikan aneka rupa bonus dokumen keuangan termasuk slip gaji dari saya dan pihak suami.

7. Surat keterangan dari tempat kerja pasangan yang menjelaskan bahwa ybs memang bekerja. Irlandia tak ingin orang-orang yang tak bekerja dan bergantung pada social welfare membawa pasangannya dan membebani negara. Konon prakteknya sih dimungkinkan, tapi tak saya sarankan.

Saya juga menyertakan surat keterangan dari kantor saya yang menyatakan masa kerja.

8. Asuransi perjalanan. Dikarenakan ini long stay, saya mengambil asuransi perjalanan tahunan. Bisa dibeli di situs AXA Indonesia.

9. As silly as it sounds, bukti booking pesawat. Kenapa saya bilang silly, karena proses visanya lama jadi booking pesawat sebenernya gak berguna karena kita juga gak bisa prediksi kapan pergi.

10. Fotokopi Passport kedua belah pihak dengan seluruh copy visa di dalamnya. Passport asli juga harus dibawa untuk verifikasi.

11. Foto background putih dua buah tidak ditempel dan di baliknya ditulis nomor aplikasi. Soal ukuran silahkan intip postingan saya tentang visa liburan.

Saya memberikan dokumen tambahan Foto-foto perkawinan saya. Sebenarnya tak diperlukan lagi, karena pihak embassy juga tahu saya sudah rajin wira-wiri Jakarta Dublin. Merekapun juga menolak.  Tapi, mereka yang melakukan review ada di Dublin dan belum tentu ngeh.

Seperti saya sebut berulang kali, visa ini prosesnya lama sekali. Proses normalnya ketika saya daftar enam bulan, tapi rupanya sekarang sudah molor jadi satu tahun. Pengecekan dokumen sendiri bisa dilakukan di sini. Beberapa waktu lalu saya cek, dokumen yang diproses baru yang dimasukkan pada 12 Januari. Sementara saat saya cek sudah akhir bulan Agustus. Delapan bulan saja euy….

Saya sendiri tak tahu apakah selama proses ini berlangsung kita bisa mengajukan visa kunjungan, karena pada saat saya mengajukan visa joining spouse, saya sudah memiliki multiple entry visit visa  untuk beberapa tahun. Jadi tak perlu repot-repot mengajukan. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanya kedutaan. Tapi yang jelas jangan coba-coba datang dengan short visa (category C) lalu datang ke imigrasi minta perpanjangan karena di Web Imigrasi ditulis dengan huruf tebal gak boleh.

Judul visa yang diajukan memang long stay joining spouse, tapi visa yang diberikan ternyata hanya tiga bulan saja. Dalam masa tiga bulan itu kita harus segera pindah dan segera melapor ke Imigrasi di kota masing-masing untuk mendapatkan kartu GNIB. Perlu dicatat, pasangan harus dibawa pada proses ini, karena petugas akan bertanya. Setumpuk dokumen juga perlu disertakan. Di Dublin sendiri, antrian kantor imigrasi ini konon dimulai sejak pukul lima pagi. Awal tahun ini saya antri disini pukul 7 pagi dan baru dilayani pukul 2 siang. Konon pada saat masa penerimaan mahasiswa baru di musim gugur, antrian akan semakin menggila. Btw ini kita antri di luar gedung ya karena gedung baru dibuka pukul delapan pagi. Jika terjadi di Indonesia, saya jamin ada abang tukang gemblong, nasi kuning, tahu dan juga jasa penyewaan kursi dan payung yang menawarkan kenyamanan. Disini, yang ada hanya angin, hawa dingin dan air hujan.

Setelah mendapatkan GNIB card dengan rentang waktu hanya satu tahun (dan harus diperpanjang setiap tahun selama tiga tahun), masih ada proses mendaftar multiply entry visa sehingga bisa keluar masuk Irlandia. Proses pendaftaran visa ini bisa dilakukan secara daring tanpa perlu mengantri. Dari sana kita tinggal urus PPS number (nomor jaminan sosial). Tapi ya jangan harap bisa dapat uang alokasi untuk pencari kerja.

Kendati prosesnya panjang dan melelahkan, semua proses visa dan tetek bengeknya GRATIS. Dan dengan stamp 4 yang diberikan, kita memiliki hak yang sama dengan warga negara Irlandia. Hanya satu hal saja yang tak kita punya, hak untuk mengikuti pemilu tingkat nasional. Dan karena Irlandia bukan bagian dari Schengen, visa mengunjungi negara-negara Schengen pun masih diperlukan dan tak gratis, kecuali bawa pasangan.

Semoga bermanfaat!
Cheers,

Ailsa
Link yang berguna bisa ditengok di sini

Cerita Swalayan Irlandia

Ketika pertama kali masuk di Swalayan di Irlandia, saya stress sendiri karena nyari satu merek produk tertentu yang sering saya gunakan di  Indonesia. Saat itu  saya bertanya-tanya, kenapa swalayan ini tak menawarkan aneka rupa produk ternama. Jauh berbeda dengan  norak banget Grand Lucky ataupun Ranch Marker di Jakarta.


Ternyata, saya salah masuk swalayan. Saat itu saya masuk swalayan Aldi yang terkenal murah meriah. Aldi tak hanya sendirian, disini ada Lidl dan Supervalue yang juga terkenal murah meriah. Nah tak seperti di Indonesia, swalayan ini hanya menjual produk dengan merek tertentu yang memang sengaja diproduksi untuk mereka. Persis seperti produk murah dengan label Carefour di Indonesia. Swalayan-swalayan di atas juga tidak menawarkan merek lain. Tak heran jika mereka bisa menekan harga jual menjadi sangat rendah, produknya tak perlu bersaing dengan merek lain dan menarik lebih banyak konsumen.


Swalayan murah seperti ini setiap minggunya punya promosi hingga 49 cents. Kentang satu kilo, apel enam buah, atau buttersquash dijual murah. Tiap minggu mereka juga punya promosi daging murah. Tak seperti di Indonesia, daging-daging ini selalu segar dan 100% Irish. Bukan daging beku tak segar hasil impor dari Australia yang kalau didefrost baunya menyengat tak sedap. #Nyindir


Satu hal menarik yang saya temukan, di swalayan murah ini tak ada SPG. SPG hanya bisa ditemukan di swalayan yang harganya sedikit lebih tinggi seperti Dunnes ataupun Tesco. Ya wajar, karena harga jual sudah murah, tak perlu ongkos promosi lagi.

Selain swalayan murah di atas, saya juga rajin mengunjungi Tesco dan Dunnes. Dua swalayan ini menawarkan beberapa rupa barang dengan aneka merek yang saya sudah familiar dan selalu tersedia sepanjang tahun. Berbeda dengan Aldi yang produknya tergantung musim. Saat musim dingin lalu misalnya, saya mencari saus bbq ke Aldi. Ternyata, saus BBQ hanya dijual saat musim panas saja. Sementara di Tesco dan Dunnes barang-barang tersebut bisa ditemukan sepanjang masa. Persis seperti sewajarnya supermarket di Indonesia. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi.

Ada satu hal yang saya suka dari swalayan disini. Harga produk tak hanya ditulis harga per bungkus, tapi juga ada informasi harga per liter atau per kilo. Informasi ini tentunya memudahkan sekali untuk orang-orang seperti saya yang harus rajin menabung uang recehan supaya bisa beli tas Fendi #YangPentingBukanHermes.


Urusan hemat juga saya terapkan jika ada barang-barang diskon. Menimbun, persis seperti Ibu-Ibu di Jakarta yang berburu popok bayi. Baru-baru ini saya diberi tahu oleh seorang teman bahwa di Tesco ada sudut khusus barang-barang yang di diskon parah karena kondisinya yang sudah tak terlalu bagus atau mendekati expired. Hari ini saya cari dan ketemu:


Seperti di Jakarta, di sini kantong belanja tak disediakan gratisan. Sang pemilik toko bisa didenda jika menyediakan kantong gratis. Kantong plastik dijual relatif lebih murah ketimbang kantong-kantong yang bisa digunakan berulang kali. Oh ya disini kita gak bisa gaya ala priyayi Jakarta yang gak mau masukin belanjaannya sendiri ke dalam tas belanjaan ya. Tenaga manusia dihargai mahal bos! Semua barang belanjaan biasanya saya letakkan kembali ke dalam trolley, baru saya susun kembali ke dalam tas belanjaan di tempat lain, supaya tak menimbulkan kemacetan di kasir.

Beberapa swalayan juga menawarkan swakasir. Belanja sendiri, scan sendiri, masukkan pembayaran dengan kartu atau dengan uang tunai dan tentunya angkut belanjaan sendiri. Sungguh #PerempuanMandiriTanpaHermes.

Bicara tentang trolley, trolley baru bisa digunakan setelah memasukkan koin satu atau dua Euro. Tergantung swalayan dan trolleynya. Saya sendiri mengakali hal tersebut dengan membeli gantungan kunci yang besarnya menyerupai koin satu atau dua Euro. Fungsi trolley berbayar ini supaya pengunjung mengembalikan trolley ke tempatnya kembali. Tak seperti di Indonesia, trolley ditinggal di parkiran seenak jidat, syukur-syukur kalau gak cium mobil orang.

Tapi, dari  semua swalayan di Irlandia, swalayan favorit saya tetap Asian Market milik orang Malaysia. Cuma swalayan ini yang bisa bikin saya kegirangan apalagi jika stok tempe, pete dan aneka bumbu-bumbu segar baru datang dari Belanda dan Thailand. Kalau sudah gitu, bisa dipastikan bau pete yang harumnya mengalahkan Chanel number 5 akan mewarnai tram yang saya tumpangi. Sungguh semerbak mewangi. Hidup pete!

Jadi, ada trend baru apa di swalayan Indonesia?

Tukang Bohong 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan sebuah “riset kecil” di google untuk bahan pembahasan makan siang. Gelo emang, mau ngobrol makan siang aja pakai riset dulu dan bikin rangkuman singkat sepanjang hampir dua halaman yang didistribusikan lewat Email. Topik makan siang saya saat itu: mythomania atau yang kerap disebut pathological liar. Entah apa terjemahannya di dalam bahasa Indonesia,mungkin pembohong kronis.

Perkenalan saya dengan mythomania sendiri berawal dari sebuah artikel di majalah Perancis, yang judulnya “Je Suis Mythomane”. Awalnya ketika membaca pengakuan tersebut, saya menganggap hal tersebut tak eksis. Sampai kemudian saya dan banyak rekan lainnya melihat sebuah kebohongan yang terjadi secara terus-menerus dari seorang teman.

Awalnya, kami termakan kebohongan tersebut. Bahkan yang fantastis sekalipun. Namanya juga teman, tentu saya mempercayainya. Tetapi kemudian banyak fakta bergulir dan bertabrakan dengan informasi yang kami dengar. Ajaibnya, semua informasi ini sumbernya sama-sama dari satu orang, bukan dari orang yang berbeda. Bahasa gaulnya sih, bukan gosip. Jadi wajarlah kalau ketika itu kami sangat percaya. Bahkan saking meyakinkannya, hal-hal tersebut juga disampaikan kepada para penjabat tinggi dalam forum resmi. Kurang meyakinkan apa coba?

Lalu beginilah hasil riset tak ilmiah saya….

Berbohong kronis ternyata bukanlah sebuah penyakit tapi merupakan sebuah gejala dari kelainan kepribadian. Hanya gejala dari narcissist personality disorder atau borderline personality disorder. Bagi para pelakunya, membeberkan kebenaran merupakan sebuah hal yang sulit. Sebaliknya, berbohong memberikan mereka kenyamanan dan bisa dilakukan dengan mudah. Nah jika kita menunjukkan bahasa tubuh yang tak nyaman ketika mengungkap kebohongan, para pembohong kronis ini bisa melakukannya dengan tenang.

Kebanyakan kebohongan yang saya dengar saat itu sih tak merugikan, karena hanya bualan-bualan yang bisa dianggap angin lalu saja. Tapi dalam pertemanan, dimana kepercayaan menjadi sebuah landasan yang penting, kebohongan ini jadi sedikit mengganggu dan lama-lama melukai kepercayaan pertemanan. Dalam banyak kesempatan saya bahkan bertanya-tanya, mengapa sang pelaku perlu untuk berbohong untuk memukau orang lain? Dan saya yang bukan ahli pun membatin, mungkin memang tingkat kepercayaan dirinya terlalu rendah. Atau sebaliknya, terlalu tinggi sehingga merasa yang paling oke. Sementara orang lain dianggap sebagai pelupa yang tak punya daya rekam.

Dari hasil baca-baca, ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengkonfrontasi dan membantu mereka. Saya sendiri tak tergoda mengkonfrontasi dan lebih tergoda untuk mengamati, untuk melihat sejauh mana level kebohongan yang akan dilakukan. Selain itu, saya juga sok-sokan pengen membaca latar belakang sang pelaku.

Jika berminat mengkonfrontasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Harus sabar mendengarkan segala kebohongan. Bahkan ketika tahu itu sebuah kebohongan besar, mulut harus ditutup rapat dan tak boleh menginisiasi argumentasi sementara telinga dibuka lebar-lebar.

2. Buat catatan hal-hal yang dibicarakan. Syukur-syukur kalau pembicaraan itu terekam dalam media chatting. Seringkali sang pelakunya lupa lho dengan hal ini. Atau bahkan sang pelaku membalikkan semua fakta dan menganggap kita sebagai tukang gosip yang kejam. Playing victim.

3. Jika pertemanan tersebut worth it, tawarkan bantuan dengan membeberkan semua catatan kebohongan, tanpa memojokkan pelaku. Jika tak berharga, kabur aja. Hidup terlalu pendek untuk ngurusin Kebohongan-kebohongan yang seringkali tak masuk akal.

Pathological liar tidaklah sama dengan sociopath. Sociopath biasanya punya tujuan dan akan melakukan kebohongan apapun demi tujuan itu, sementara pathological liar hanyalah orang yang hobi berbohong.

Nah, kalian pernah berurusan dengan pembohong kronis kah? Lalu apa yang kalian lakukan jika bertemu mereka?

xx,
Tjetje

Romantisme Tragis di Dublin Bay 

Masih dalam rangka membawa mama saja melakukan #JelajahIrlandia, kali ini kami sok romantis naik kapal menyusuri Dublin Bay dari Howth ke Dun Laoghaire. Howth sendiri merupakan sebuah area pelabuhan di County Dublin yang terkenal dengan seafoodnya. Saking terkenalnya mereka punya prawn festival.
Ada beberapa operator kapal di Howth dan pilihan kami jatuh pada Dublin Bay Cruise. Bukan hanya karena reviewnya bagus, tapi juga karena ada diskon di living social. Nah yang mau jalan-jalan ke Irlandia, kalau telaten boleh nih cari-cari disana atau di groupon karena banyak tiket murah. #BukanPesanSponsor. Ada beberapa route yang ditawarkan, selain dari Howth ke Dun Laoghaire (dua wilayah ini ada di County Dublin) ada juga route yang menawarkan perjalanan ke tengah kota Dublin dan akan berhenti persis di dekat jembatan cantik yang mirip harpa ini.

Perlu dicatat, semua turis harus booking dulu sebelumnya dan gak bisa beli tiket mendadak di tempat. Eksistensi calo tiket juga tak ditemukan. Biarpun begitu, saya masih melihat beberapa turis yang nekat ngantri dan berakhir malang, karena tak ada ruang tersisa. Bahkan ada satu keluarga yang ngotot pengen naik dengan tiket salah booking. Sang Nakhkoda tak bergeming, tak berniat melebihi muatan demi beberapa Euro karena berkaitan dengan asuransi dan keselamatan. Saya masih suka terpukau kalau urusan beginian, karena pernah naik kapal kelebihan muatan dari Tidung ke Angke dan sepanjang jalan berdoa sambil pegang life jacket.

Ketika akan menaiki kapal kami sudah diwarning dulu bahwa laut hari ini agak choppy, berombak. Tapi semua penumpang, termasuk seekor anjing, semangat luar biasa. 30 menit pertama berlangsung dengan menyenangkan. Lautnya berombak sedikit, pemandangan sangat indah.

Sayangnya saya tak bertemu anjing laut yang beberapa minggu lalu sempat diabadikan oleh mama saya. Dengan riang gembira, kami juga naik turun dek ke atas dan ke bawah untuk memotret.


Bagian atas penuh dengan turis latin Amerika yang nampaknya sedang belajar bahasa Inggris (Irlandia merupakan salah satu negara tujuan untuk belajar bahasa Inggris) sementara bagian belakang kapal dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang sedang merayakan ulang tahun. Anak-anak muda yang sibuk minum ini juga tak segan mengeluarkan f bomb, padahal banyak keluarga dan anak kecil yang ikut perjalanan tersebut. Sungguh kurang nyaman.

Selepas 30 menit, perjalanan kami berubah menjadi mencemaskan. Dimulai dari siraman air laut ke kelompok anak-anak muda di belakang kapal. Dasar anak muda, disiram air malah seneng. Padahal air asin dan dingin itu lengket semua. Ombak kemudian mengombang-ambingkan kapal, perut mulai sedikit mual. Lalu, pemandangan horor pun terjadi. Bukan Nyi Roro Kidul yang memunculkan diri di laut Irlandia ya, tapi

petugas kapal memegang gulungan plastik dan mulai membagi-bagikan pada penumpang yang terlihat pucat pasi. Bagi saya ini pemandangan mengerikan karena tandanya akan ada kompetisi mengeluarkan isi perut.

Saya yang tadinya super pede, karena sudah mengalahkan ombak dari Ambon ke Banda (yang membuat hampir satu kapal mabuk laut), mulai ciut. Lalu ketika beberapa orang mulai mengosongkan perut, saya mulai pucat pasi. Semakin pucat ketika tahu tak ada antimo apalagi minyak angin. Tak ada abang-abang yang jual permen juga. Tak kehilangan akal, saya pun minta tobacco ke seorang pria yang sedang sibuk melinting rokok (disini buruh rokok mahal ya, jadi rokok mesti ngelinting sendiri). Ya lumayan lah buat diciumi jadi fokus kepala ke bau tembakau.

Pemandu yang berada dengan kami juga tak sibuk menerangkan apa-apa, mungkin ia mabuk laut juga. Baru di menit ke 70 atau 80 ia mulai menerangkan tentang Dun Laoghaire. Informasi yang diberikan sayangnya hanya sedikit, tak memuaskan. Kalaupun sang pemandu bicara banyak hal, mungkin juga tak ada yang peduli karena hampir semua orang sibuk menyelamatkan perutnya.

Ketika kapal bersandar, kami disambut dengan pemandangan Dun Laoghaire yang kelam seperti ini.


Mood yang sudah kelabu ini makin jelek ketika melihat cuaca yang tak bersahabat. Untungnya, hujan tak jadi turun. Dan sang Mama yang juga pernah naik kapal di beberapa lautan di Indonesia kapok, tak mau lagi naik kapal di laut Irlandia. Ketika saya menceritakan ini kepada mama mertua, mama mertua menceritakan pengalaman yang serupa. Lautan disana rupanya terkenal berombak dan bikin mual. Lesson learned, yang pengen sok romantis seperti saya, ada baiknya minum antimo dulu.

Bagaimana dengan kalian, pernah menaiki kapal dengan kondisi laut yang super memabukkan?
Xx,

Tjetje