Cita-Cita: Kepengen Kaya

Ah siapa sih yang tak ingin kaya, duduk-duduk di rumah saja, makan, tidur, makan, tidur tak perlu kerja. Jalan-jalan ujung dunia manapun, kapan saja, tanpa perlu cemas dengan cuti yang terbatas, atau harga tiket kelas ekonomi yang tak kunjung didiskon jua. Semua orang mungkin ingin kaya, walaupun definisi kaya dari satu orang dengan orang yang lainnya tak sama.

Pada saat yang sama, ada sebagian orang yang mati-matian ingin membuktikan bahwa diri mereka masuk golongan kaya raya. Apapun dilakukan demi ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari tuan dan nyonya kaya raya yang tak perlu perlu menunggu further sale fast fashion murah meriah hingga 70% dan cemas mencari ukuran pakaian yang diinginkan. Pendeknya, masyarakat harus tahu bahwa mereka orang yang berada, seakan-akan rasa percaya diri mereka baru muncul setelah ada pengakuan dari orang lain.

Soal Gaji & Tabungan

Pembuktian menjadi kelompok kaya ini seringkali dibuktikan dengan memamerkan jumlah uang yang mereka punya. Yang berulang kali saya lihat memamerkan upah minimum di luar negeri (tak ada yang salah dengan mendapatkan upah minimum), lalu memegang kalkulator dan menghitung berapa jumlah penghasilan tersebut dalam rupiah. Tentunya bagi sebagian orang di Indonesia terlihat wow. Bagi mereka yang menunjukkan gaji ini tentunya penting untuk memposisikan diri sebagai orang yang berpenghasilan wow, walaupun realitasnya penghasilan tersebut ya hanya cukup untuk kebutuhan hidup minimum. Woooow…..

Tak cukup di situ, penghasilan pasangan pun harus ikut ditunjukkan pada dunia selayaknya menunjukkan tropi jawara main catur di RT dan mengukuhkan posisi sebagai anggota kelompok sosial horang kaya. “Suamiku dong gajinya sekian puluh ribu Euro setiap bulan”. Gak usah dihitung ke dalam rupiah, karena kalkulatornya mungkin tak cukup. Yang penting wow, semua orang terpukau.

Tak cukup dengan gaji, jumlah tabungan di rekening pun harus diumumkan  kemana-mana. “Kalau 30,000 aja di tabungan adalah aku”. Yang lain yang tak mau kalah ikut mengatakan  bahwa suami punya tabungan sebanyak 100,000 Euro. Ini baru pertama babak kompetisi isi tabungan.

Barang bermerek

Semua barang tentunya ada mereknya, bahkan yang KW sekalipun pasti ada mereknya, walaupun mungkin mereknya dari Fendi jadi Effendi. Menunjukkan barang bermerek ini seringkali dimaksudkan untuk menunjukkan posisi bahwa kebutuhan pokok dan sekunder terpenuhi. Dengan adanya media sosial pun melakukannya sangat sangat mudah.

Barang bermerek sendiri pun ada bermacam-macam, dari yang low-end, mid-end hingga high-brand. Bahkan ada yang edisi terbatas dan biasanya hanya diberikan pada VIC, very important client. Pendeknya, di atas semua merek, masih ada merek yang lainnya. 

Berlian minjam, demi koleksi foto barang mewah di blog.

Barang bermerek ini kemudian menjadi pendukung untuk memperkuat posisi sebagai horang kaya yang tentunya perlu dihormati dan membuat orang lain terpukau. Tentunya banyak yang terpukau melihat kemampuan membeli barang tersier tersebut, karena tak bisa dipungkiri di sekitaran kita masih banyak yang memposisikan orang lain berdasarkan kemampuan ekonominya.

Demi posisi ini pula, banyak yang tak segan menunjukkan barang-barang palsu (bahkan memberi hadiah palsu).Sekalipun di luar negeri, barang KW itu ada banyak sodara-sodara. Dari kejauhan atau dari postingan di sosial media pun banyak orang yang mata tajamnya langsung cepat menangkap barang-barang KW. Harap maklum, kekayaannya mungkin memang KW.

Penutup

Pada akhirnya, kita semua senang bermimpi. Tak ada salahnya bermimpi menjadi kaya raya, dibarengi dengan usaha tentunya dan kembali ke realitas. Yang salah tentunya jika membohongi diri-sendiri demi mati-matian menunjukkan identitas diri sebagai orang kaya atau bahkan sudah “sukses di luar negeri”.

Di banyak kasus seperti ini, akhirnya malah jadi olok-olokan dan bahan tertawaan. Usaha menunjukkan status menjadi orang kaya ditertawakan orang lain, karena hebohnya setengah mati, dari selonjoran di depan mobil bekas tua, mengembalikan barang setelah unboxing hingga mengembalikan pakaian dari fast fashion yang harganya recehan.

Penipuan terhadap para followers di media sosial, tapi yang lebih parah tentunya menipu diri sendiri. What do you get, really? Demi bisa dihormati oleh orang lain. Penghormatan itu didapatkan dari bagaimana kita membawa diri dan bukan dari banyaknya tabungan suami, atau posisi sebagai horang kaya.

Pepatah bilang, di atas langit, masih ada Hotman Paris.  Jadi gak usahlah mati-matian membohongi diri sendiri demi ingin dianggap kaya raya. Orang-orang tahu lah siapa yang bener-bener kaya dan siapa yang menipu diri sendiri.
xoxo,
Ailtje
Bukan orang kaya

Etika di Seputar Bencana

Beberapa hari ini pengguna internet di Indonesia ramai dengan diskusi mengenai hilangnya salah satu maskapai. Beberapa pengguna media sosial juga marah, marah dengan etika jurnalisme yang tak berkemanusian, dengan model bisnis jurnalisme yang menjual kesedihan orang lain, hingga pada perilaku pengguna media sosial yang bikin emosi jiwa.

Emosi ini tumpah ruah ke media sosial, beberapa dengan terbuka pasang status, sementara beberapa yang lain hanya berkomentar melalui DM. Yang marah-marah bahkan tak enggan akan memblok teman-teman di media sosial yang dianggap kurang beradab. Saya termasuk salah satu orang yang tak segan menegur.

Tangkapan Layar (Screenshot)

Hayo siapa yang ngambil screenshot sosial media dari para penumpang (termasuk penumpang di bawah umur) lalu menyebarkan kemana-mana? Modusnya nyebarin macam-macam, dari berdoalah, quote status terakhir, postingan terakhir, foto-foto prewed dari penumpang, sampai nyambung-nyambungin postingan sama firasat.

Bahkan ada yang mengatasnamakan sahabat lalu mengumbar foto-foto mereka. Halah, ngaku sahabat tapi kok kok kelakuan begitu. Ngambilnya pun gak pakai permisi-permisi, alasannya ditemukan di internet. tujuannya tak jelas pula? Mengutarakan duka bukan alasan yang tepat, karena tak perlu mengumbar cerita duka mereka.

Jejak online para penumpang ini tadinya hanya terbatas di media sosial mereka, bahkan ada yang hanya bisa dilihat 24 jam. Keluarga mereka pun, jika menghendaki, masih bisa menghapus jejam digital mereka di internet.  Sekarang, kalau keluarganya mau cek, jejak ini ada dimana-mana. Proses berduka bagi mereka pun tak akan mudah, dan kalian membuatnya semakin sulit dengan tak menghormati privacy mereka.

Mulut pedas, karetnya lima

Mengalami musibah itu bukan kutukan, bukan berarti tak dilindungi oleh Tuhan juga. Di saat seperti ini ada baiknya mulut dijaga dan mikir seribu kali kalau mau nulis status.
Mengatakan  “Masih dilindungi Tuhan”, lha emang Tuhan eklusif punya yang hidup doang? Yang mengalami kecelakan terus tak dilindungi Tuhan?  

Tak cuma soal komentar-komentar yang kadang diceploskan tanpa dipikir, tapi juga soal guyonan. Guyonan tak mengenakkan tersebar dimana-mana, apalagi di Twitter. Parahnya, ketika sang penulis mengaku bersalah dan meminta maaf, netijen malah jadi ahli bully. Screenshot status dipasang bersama dengan foto supaya penulis status tak bisa dapat kerjaan di masa depan karena satu tweet.

Kalau Twitter bisa memaafkan Donald Trump berkali-kali sebelum menutup akun Donald, kenapa netijen gak bisa lebih baik lagi. Gak usah bullying orang dan ikut-ikut cancel culture lah. Setiap orang kan belajar dari kesalahan.

Media murahan
Kultur media kita itu kultur clickbaity. Judulnya sensasional, beritanya ngambil dari media sosial, atau bahkan ketika keluarga korban sedang menunggu berita. Media tak memberikan ruangan berduka kepada keluarga, bagi mereka ini semua adalah sumber berita dan tentunya sumber pundi-pundi, walaupun bagi banyak orang berita itu tak layak dan tak beretika.

Salah satu argumen yang diberikan soal pemasukan dari media. Masyarakat tak mau membayar media berkualitas, sementara media harus bertahan hidup. Dalam situasi seperti ini, etika dan penghormatan kepada keluarga korban tak lagi menjadi prioritas. Balik lagi, mereka tak dilihat sebagai manusia yang kehilangan anggota keluarganya, tapi sebagai sumber pundi-pundi yang duka nestapanya harus diumbar kemana-mana.

Salah? jelas tak beretika dan mengesalkan. Sayangnya, berita-berita seperti ini masih juga diminati. Hukum supply dan demand pun jadi berlaku. Selama ada yang baca dan selama hal-hal seperti ini tak diregulasi, pemimpin redaksi mengijinkan, media tersebut tak diboikot, ya akan jalan terus.

Peran Kita

Masih banyak perilaku-perilaku lain yang saya tak bisa tuliskan di sini. Dari mulai selfie di tempat kejadian hingga mengambil video atau foto dengan tubuh korban (ini yang paling sering, apalagi ketika kecelakaan). Demi eksistensi di media sosial, semua dilakukan dengan menjual duka nestapa orang lain. Dan ini tak hanya dilakukan di Indonesia, ada di mana-mana, bahkan di negara yang orang-orangnya dianggap maju seperti di Irlandia (ya kalau di sini bisa dibawa ke pengadilan).

Tiap individu bisa memilih peran yang kita ambil. Ini semua pilihan. Apakah kita mau jadi tukang umbar yang sangat nista, ataukah kita mau jadi orang yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain untuk berduka. Semuanya kembali kepada individu masing-masing.

Tapi bagi saya prinsip, kalau ada teman yang seperti ini harus ditegur, diberitahu, karena kita semua belajar menjadi orang yang lebih baik. Kalau kemudian yang ditegur malah unfollow, ngeblok, nge-restrict, atau jadi defensif dengan banyak alasan ya diterima aja, itu resiko. Syukur-syukur kalau diunfriend. Good riddance. 

Kalian, paling gak suka kelakukan macam apa kalau lagi ada berita bencana atau duka? 

xx,
Ailtje

 

Tata Krama Bertemu Orang

Sebagai orang Indonesia di luar negeri yang baru datang ke negeri asing, seringkali timbul rasa rindu untuk berkumpul dan sekedar ngobrol-ngobrol dengan sesama orang Indonesia. Selain untuk melepas rindu pada tanah air, juga untuk bisa bebas berbicara dalam bahasa ibu lagi. Setidaknya, dengan bertemu dengan saudara sebangsa, rasa rindu terhadap tanah air bisa sedikit terobati.

Sama seperti di Indonesia, ada tata krama tertentu yang harus kita ikuti. Beberapa yang saya ingat, saya rangkum di bawah.

Tanya kabar

Lebih dari satu dekade lalu ketika saya pulang kampung ke Malang (ketika itu saya masih bekerja di Jakarta), di sebuah parkiran mall saya bertemu dengan teman sekolah yang tanpa ba bi bu langsung bertanya “anakmu sudah berapa?”. Saya terhenyak menerima pertanyaan dari orang yang tak dekat dengan saya, tapi juga dengan tata kramanya.

Penting bagi kita untuk bertanya tentang kabar dulu, bukan hanya penting, tapi wajib untuk menanyakan kabar orang yang kita temui. Pertanyaan pembuka ini sangat  powerful untuk mengetahui bagaimana kondisi orang yang kalian temui. Beberapa orang yang mungkin bergulat dengan berbagai masalah bisa ambrol pertahanannya ketika ditanya kabarnya dan akan bercerita tetang pergulatan mereka. Pertanyaan kabar bukanlah sebuah pertanyaan basa-basi dan pertanyaan ini harus ditujukan kepada siapaun yang kita temui.

Buah tangan

Jika diundang datang ke rumah orang yang kalian baru kenal, bawalah buah tangan. Sebuket bunga, panganan (biasanya cake) atau mungkin sebotol minuman. Tak perlu membawa alkohol jika memang tak menyetujui alkohol, bisa membawa botol jus ataupun minuman soda tapi setidaknya tak datang dengan tangan kosong. Pastikan juga makanan yang dibawa merupakan makanan yang bisa kalian makan, karena seringkali makanan ini kemudian akan disajikan kembali dan dimakan bersama-sama.

Jangan bawa tangan kosong, kecuali jika kalian kenal baik dengan sang pengundang dan sang pengundang memang menyatakan tak perlu membawa apa-apa. Seringkali ada tuan rumah yang basa-basi tak perlu membawa apa-apa, tapi sesungguhnya ngarep sesuatu. Kalau ketemu host seperti ini, repot tak karuan, apalagi kalau kemudian ia berhitung-hitung. Berapa ongkos makanan yang kalian bawa dan berapa ongkos yang ia keluarkan untuk hosting, lalu ketika angkanya tak sesuai kemauan hati, ribut ngomong kemana-mana. Nah kalau ketemu yang kayak gini, mendingan ngedekem di rumah aja deh.

Tepat waktu 

Di Jakarta dulu kalau janjian jam 12, maka jam 12 baru jalan. Di tengah jalan nanti pasti akan saling berkirim pesan, mengatakan terlambat karena macet luar biasa. Pun kalau berangkat lebih awal, seringkali kemacetan menghadang. Keterlambatan menjadi satu hal yang sangat ditolerir karena kondisi jalanan Jakarta yang memang tak ramah.

Di Irlandia, orang-orangnya tak setepat waktu negara-negara lain di daratan Eropa. Pukul enam bisa molor sedikit, sedikit tentunya. Tapi juga bukan berarti janjian bertemu pukul enam baru muncul pukul 8, kalau ini sih namanya tak elok dan tak tahu diri.

Kalau kemudian terlambat, penting juga untuk memberi informasi akan terlambat dan berikan estimasi waktu pukul berapa akan tiba. Mengapa begitu? supaya setidaknya tuan rumah tak cemas dan bisa melakukan hal lain sambil menunggu. Jangan salah, ada banyak orang yang tak tahu etika dasar untuk mengirimkam update jika akan terlambat. Padahal tak semua host itu punya waktu seharian untuk menunggu tamunya.

Ngobrol

Kalau sudah bertamu ke rumah orang, jadilah tamu yang sopan dan baik. Ngobrol dengan tuan rumah dan jangan sibuk mainan handphone melulu. Saya sendiri pernah dapat tamu model begini, datang untuk makan, setelah makan yang lain ngobrol-ngobrol, si tamu repot sendiri dengan handphonenya. Oh please deh.

Pun kalau ngobrol, jangan hanya ngobrol dengan mereka yang berbahasa Indonesia. Ngobrollah dengan semua orang, termasuk para bapak-bapak. Konsekuensinya tentu harus ngobrol dengan bahasa Inggris (ataupun bahasa lain tergantung tempat tinggal kalian). Jangan jadi bagian dari stereotype, perempuan ngobrol di dapur dengan perempuan lainnya, sementara bapak-bapak ngobrol di ruang tamu dengan dengan bapak-bapak.

Pada saat yang sama, jika ada tamu lain yang tak bisa berbahasa Indonesia, jangan terus-menerus ngobrol dalam bahasa Indonesia dan tak melibatkan orang tersebut. Tak sopan, apalagi kalau terus-menerus tertawa bercanda, sementara tamu di sebelah tak tahu mesti harus bagaimana.

Penutup

Pada saat diminta bungkus-bungkus, pastikan tuan rumah benar-benar niat untuk melakukan hal tersebut. Seperti saya tulis di atas, ada tuan rumah yang hanya basa-basi dan sangat perhitungan. Kalau ketemu yang model gini, gak usah bungkus apa-apa, langsung pamit pulang aja.

Pada saat yang sama kalau ditawarin membungkus juga tahu diri. Suka makanan yang disajikan bukan berarti otomatis boleh makan sepuas-puasnya, lalu bungkus semuanya. Ingat sama si tuan rumah, juga tetamu lain.

Terakhir, kalau memang tak mau diundang, sebaiknya tak perlu datang. Saya pernah ketemu tamu yang begitu keluar dari rumah menghela napas panjang dan keras (di depan saya) seakan tersiksa selama diundang makan di rumah saya. Ooops…nggak lagi deh undang-undang.

Ada tambahan lain lagi mungkin?

xoxo,
Ailtje

Mitos Tinggal di Luar Negeri

Selama lockdown ini, saya banyak mendapatkan tautan-tautan dari Youtube yang berisi video-video tentang kehidupan di luar negeri. Beberapa video yang dikirimkan, memiliki garis besar yang sama: menjual mimpi indah tinggal di luar negeri. Sebuah hal yang lumrah, karena pada dasarnya, kita semua suka bermimpi.

Untuk menyeimbangkan mimpi-mimpi ini, saya ingin membawa kembali ke realitas. Bukan apa-apa, selama seumur jagung di sini, saya melihat banyak orang yang ribut diberbagai media sosial atau ketika kumpul-kumpul untuk mengumbar kekecewaan mereka, ketika mimpi mereka tak seindah realitas.

Generalisasi: pasangan romantis

Bagi mereka yang mendambakan pasangan romantis, ada harapan tinggi ketika mereka diiming-imingi dengan ide bahwa para orang asing (baca: bule) adalah orang-orang yang romantis, seperti film-film Hollywood yang tak hanya suka berkata manis tapi juga tak henti-hentinya memberikan hadiah pada pasangannya.

Faktanya,  pria-pria dari Indonesia ataupun dari berbagai belahan dunia lain, tak bisa disamaratakan. Yang romantis ada, yang tak peduli setengah mati juga banyak. Ada yang rela makan nasi dan telur dadar demi menabung berbulan-bulan untuk hadiah mewah, ada yang suka memberi bunga, ada pula yang tak suka memberi hadiah tapi menunjukkan tindakan yang dianggap romantis. Yang cuek bebek juga banyak.

Image by Free-Photos from Pixabay

Setiap individu dibesarkan dengan cara dan nilai yang berbeda-beda, tak peduli rasnya apa. Keluh kesah tentang keromantisan yang sering saya dengar ini sebenarnya bisa diantisipasi, ketika pacaran. Cari tahu dulu karakter pacarnya seperti apa, apakah cuek bebek atau romantis? Kalau memang tak cocok karena kurang romantis, kenapa gak cari yang lain aja? Thank you, next please! 

Mitos: Orang asing selalu kaya

Nah kalau yang ini sih panjang.

Definisi kaya bagi satu orang ke orang yang lain itu tak pernah sama. Tapi ada pengharapan bahwa mengawini orang asing berarti bermandikan pundi-pundi uang asing, bisa membeli apa saja dengan mudah, bisa mengirim uang ke keluarga di kampung atau bahkan seluruh orang di kampung, membangunkan rumah gedong bagi keluarga, menyekolahkan semua anggota keluarga dan kalau perlu membawa keluarga jalan-jalan keliing dunia dan melihat rumah Tuhan.

Tunggu dulu, mari kita kembali ke realitas. Seperti di banyak tempat, di berbagai belahan dunia ada orang dengan penghasilan minim, cukup, hingga berlebih. Dalam kelas sosiologi ini dibagi menjadi lapisan masyarakat kelas bawah, menengah atau atas. Penghasilannya berbeda-beda, daya belinya juga berbeda-beda.

Keinginan untuk memiliki pasangan yang kaya-raya itu wajar, tapi kalau memang tujuannya cari yang kaya raya, seleksinya mbok ya yang bener. Ketika masih berpacaran, riset dengan baik dan benar, cari tahu berapa penghasilannya, berapa biaya hidup di negeri tersebut, berapa pajak yang dibayarkan. Jadi ketahuan berapa sisa uang yang bisa dihambur-hamburkan. Ketika tahu pasangan bergaji mata uang asing juga jangan dirupiahkan dulu, karena PASTI terlihat wow. Padahal realitasnya, beras dan tempe di luar Indonesia tak dijual dengan harga rupiah, harganya berkali lipat dari di tanah air.

Jangan sampai cita-cita pengen jadi istri orang kaya pupus  karena ketidakbisaan untuk menyeleksi. Sampai di negeri asing kaget karena hanya diberi uang saku yang minim dari pasangan, sehingga tak cukup untuk membeli tas untuk dipamerkan di media sosial. Kalau sudah tahu pasangannya memang tak berpenghasilan banyak juga gak usah ngomel kemana-mana (I’ve heard this too many times), mengatakan pasangannya pelit, kejam dan parahnya tak bertanggung jawab. Woi….yang kejam siapa? penghasilan hanya cukup untuk memberi uang jajan 100 Euro per bulan, ya mana bisa beli berlian tiap bulan. Perlu dicatat di sini banyak orang-orang yang sederhana ya, yang bahagia selama semua kebutuhan tercukupi dan tak bermimpi muluk-muluk.

Mitos: Dapat duit gratis di luar negeri

Image by Pijon from Pixabay

Salah satu hal yang seringkali diumbar dan membuat orang menjadi sangat terpana, hingga memunculkan asumsi bahwa mereka yang tinggal di luar negeri itu selalu enak adalah soal mata uang asing yang jika dirupiahkan terlihat wow. Lembaran uang-uang ini kemudian dipamerkan lengkap dengan kalkulator untuk menghitung berapa banyak pundi-pundi tersebut, termasuk ketika dana tersebut didapatkan dari pemerintah yang dijual sebagai “dana gratis dari pemerintah gaes“.

Faktanya, tidak ada yang cuma-cuma, baik di luar (maupun di Indonesia). Ada berbagai tunjangan yang diberikan bagi mereka yang tidak mampu ataupun berpenghasilan rendah. Tunjangan ini bersumber dari para pembayar pajak yang setiap harinya harus bekerja dan berkontribusi hingga 50% penghasilan mereka setiap bulan (beda negara beda tarif pajak ya). Dana pajak tersebut digunakan untuk memberi tunjangan mereka yang mencari kerja, memiliki disabilitas, hingga untuk biaya sewa rumah bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Makanya kalau kemudian ada yang pamer karena dapat uang beberapa ratus Euro, para pembayar pajak biasanya cuma nyengir sinis. Uang-uang tersebut dari keringat para pembayar pajak untuk mereka yang memang dianggap kurang mampu. Kita kerja keras tiap hari, mereka pamer-pamer karena menadah duit bantuan. Selain untuk mereka yang kurang mampu, ada tunjangan yang diberikan untuk mereka yang punya anak, fungsinya untuk memastikan anak-anak kebutuhannya tercukupi. Tunjangan ini untuk semua orang tanpa memandang berapa penghasilannya.

Jadi kesimpuannya, tak ada duit gratisan di luar negeri, kalau ada yang pamer dapat dana dari pemerintah, tanya kenapa mereka dapat bantuan langsung tunai, kurang mampu sehingga harus dibantu pembayar pajakkah atau itu uang yang seharunya untuk memenuhi gizi anaknya? 

Penutup

Bagi mereka yang bermimpi untuk mendapatkan pasangan asing (for whatever reason), penting untuk melihat dua sisi, ada yang indah dan tentunya ada tantangan-tantangan tertentu. Samalah seperti di Indonesia, tapi tentunya tantangan di luar jauh berbeda, ada cuaca, homesick, beda budaya hingga beda cuaca. Yang jelas, semua yang diumbar di media sosial itu tak selalu adem ayem dan indah. Jadi jangan lupa untuk menjadi realistis.

Mimpi-mimpi hidup seperti di tivi yang tak tercapai ketika mengikat janji itu tak perlu ditambah dengan kecemburuan sosial. Makan hati dan lelah jiwa nanti kalau terus-menerus tak terima ketika melihat rumput tetangga lebih hijau. Padahal siapa yang tahu kalau rumput-rumput tersebut adalah rumput plastik. Terlihat hijau dan indah, tapi KW.

Selamat berakhir pekan dan selamat liburan!

xoxo,
Ailtje

Kekerasan Rumah Tangga

Anggapan menikahi orang asing itu SELALU menyenangkan tak bisa begitu saja dihapus dari pikiran banyak masyarakat kita. Ya mungkin karena dari jaman baheula kita sudah melihat bagaimana para Nyai hidupnya terlihat lebih enak dari kebanyakan orang. Terlihat lho ya. Akibatnya, banyak ilusi bahwa semuanya akan indah-indah saja, tanpa masalah dan tanpa tantangan sama sekali.

Image by Sammy-Williams from Pixabay

Hal ini kemudian disempurnakan dengan glorifikasi keindahan perkawinan campur. Tengoklah di Youtube sana. Perkawinan dengan WNA kemudian dianggap sebuah hal yang indah, sempurna dan lebih baik daripada perkawinan lainnya. Padahal, seperti perkawinan pada umumnya, perkawinan itu seringkali bertemu dengan kerikil, atau dalam postingan ini badai besar.

Satu hal yang seringkali menjadi bahan perbincangan, dan sumber keprihatinan bagi kami yang tinggal di luar negeri adalah kekerasan rumah tangga dalam perkawinan campur. Kekerasan ini berlaku bagi dua belah pihak, tak mengenal jender, baik itu kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Ada banyak model kekerasan yang tak disadari sebagai kekerasan, dan kami-kami yang berada di luar perkawinan tersebut, seringkali hanya bisa mengelus dada karena prihatin.

Kekerasan Fisik

Kekerasan yang paling mudah dilihat tentunya kekerasan fisik, buktinya paling mencolok, tapi seringkali disembunyikan, karena korbannya, entah malu atau mungkin terlalu sayang pada pasangannya. Dalam kepala saya masih kuat bayangan seorang kenalan perempuan yang matanya membiru, pastinya kena tonjok. Bekas tonjokan itu disembunyikan di bawah topi. Kekerasan fisik tak hanya soal “tonjok-menonjok”, bisa beraneka rupa, bahkan menyebabkan kematian.

Kontrol Berat Badan dan Makanan

Kekerasan psikis sendiri tak kalah menyayat dari kekerasan fisik, apalagi kalau sudah berkaitan dengan kontrol. Salah satu pengontrolan yang saya lain adalah berat badan.  Pelakunya pun tak segan merisak kondisi berat badan pasangan di depan orang-orang lain. Memanggil pasangannya gendut, hingga mengolok-olok ukuran bagian tubuh tertentu karena dianggap terlalu besar. Keterbukaan ini seringkali membuat orang lain yang melihatnya jengah dan tak nyaman.

Pada kondisi yang ekstrem pasangan bahkan disuruh naik ke atas timbangan untuk dicek berat badannya secara berkala. Obsesi terhadap berat badan ini kemudian dibarengi dengan kontrol asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali porsi makanan Indonesia harus dikurangi, atau bahkan tak boleh sama sekali karena dianggap tak sehat. Terlalu berlemak, karena gorengan atau karena penggunaan santan.

Larangan ini juga karena bau yang timbul akibat hobi goreng-menggoreng (ini belum goreng terasi ya), baru level goreng tempe, kerupuk atau tahu.  Alasan kesehatan seringkali digunakan, tapi tentunya dengan standar ganda. Hanya berlaku pada pasangan yang dikontrol, tapi tidak pada diri sendiri. Sang pengontrol bebas makan dan minum apa saja. Dampaknya, pasangan yang dikontrol secara perlahan tapi pasti, kepercayaan dirinya menurun.

Kontrol keuangan & aktualisasi diri 

Namanya juga tukang kontrol, apa saya yang bisa dikontrol akan dikontrol. Salah satunya akses keuangan. Pasangan tak diperkenankan untuk bekerja, alasannya beraneka rupa. Di beberapa kasus yang saya tahu, pelarangan bekerja ini supaya tax credit* bisa digunakan satu pihak saja. Sehingga pasangan membayar pajak lebih sedikit. Tak hanya itu tapi seringkali bekerja juga untuk menghentikan pasangan mengaktualisasikan diri.

Ketidakbolehan bekerja ini kemudian dibarengan dengan pembatasan akses keuangan (bukan karena kondisi keuangan terbatas), tapi lebih pada pemuasan hasrat mengontrol. Tak ada kesetaraan atau dikusi keuangan. Seringkali, yang saya tahu pasangan hanya diberi jatah beberapa Euro saja untuk berbelanja.  Yang paling ekstrem, 20 Euro per minggu untuk beberapa kepala di rumah. Nominal ini jangan dirupiahkan, karena 300 ribu di Irlandia tak sama dengan di sini. Sekali lagi, bedakan juga antara kondisi keuangan terbatas, atau karena pelit yang sangat ekstrem. Kelewatan.

Ada pula dimana pasangan dipaksa bekerja, tapi kemudian uang yang dihasilkan dengan semena-mena dikontrol oleh pasangannya, atau bahkan dihabiskan untuk berhura-hura oleh pasangannya. Entah dihabiskan untuk memuaskan hobinya, atau bahkan berjudi. Syukur-syukur kalau namanya gak dipakai untuk meminjam uang (banyak yang seperti ini). Atau yang lebih parah, disuruh antri minta makanan gratis hingga pasangannya mengaduk-aduk tempat sampah mencari sisa makanan. Sedih sekali kalau mendengar yang seperti ini.

Red flags

Bagi mereka yang masih pacaran, ada baiknya jika saat pacaran mengenal lebih dalam dahulu sebelum ke jenjang yang lebih lanjut. Kenali baik-baik pasangan, dari berbagai aspek, sehingga tahu tanda-tanda yang perlu diwaspadain. Pacaran jangan buru-buru langsung diseret ke pelaminan, apalagi di negeri jauh.

Beberapa tanda yang harus diperhatikan antara lain:

  • Membatasi pertemanan & mengontrol pergerakan kita (dari mulai kemana pergi, hingga pakaian yang digunakan)
  • Kebutuhan dasar tak dipenuhi
  • Tukang cek waktu dan perilaku (lagi ngapain, sama siapa, di mana, kapan pulang?)
  • Memata-matai komunikasi kita
  • Seringkali merendahkan dan memalukan pasangan, bahkan di depan publik.
  • Kontrol keuangan
  • Mengancam dan atau mengintimidasi
  • Merusak barang (serta fisik kita).

Terakhir, kasus-kasus rumah tangga berkaitan dengan kontrol dan kekerasan, sayangnya bukan hal yang aneh bagi kami yang tinggal di luar negeri. Selalu ada saja cerita seperti ini. Para korbannya seringkali mencari bantuan ke kedutaan, tapi tentunya bukan kewenangan KBRI untuk menangani urusan domestik rumah tangga. Sebagai sesama orang Indonesia, kita pun tak berwenang menolong. Sementara, pihak berwenang pun hanya bisa memberi bantuan jika korbannya secara sadar meminta pertolongan.

Seringkali malu, dibarengi  keinginan untuk membuktikan kesuksesan tinggal di luar negeri, atau ketakutan tak memiliki penghasilan, tambahkan pula dengan kepercayaan diri yang sangat rendah (karena hasil abuse selama bertahun-tahun), membuat korbannya bertahan. Tak mau keluar dari kemelut tersebut. Jangan lupakan juga cinta, cinta dan harapan bahwa pasangan satu saat nanti akan berubah.

Jika kalian korban kekerasan rumah tangga, please get help! 

xoxo,
Ailtje

Bicara Bakul

KBBI menjelaskan bahwa bakul /ba·kul/ n adalah wadah atau tempat terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada ukuran bagian mulutnya. Dalam bahasa Jawa, bakul sendiri berarti pedagang, ada yang beranggapan bahwa konotasi bakul sendiri agak negatif. Entahlan, tapi hari ini saya lebih nyaman menggunakan kata bakul sebagai judul postingan ini, karena saya ingin membahas sisi mengesalkan dari sebagian, sebagian lho ya, bakul di media sosial.

Sudah sedari lama saya ini sebel sama kelakukan bakul-bakul di jagat media sosial. Suara hati saya kemudian disuarakan dengan lantang oleh selebtwit yang tentunya membuat jagat media sosial heboh. Orang-orang yang selama ini berdiam seperti saya, perlahan-lahan bersuara keras dalam menyuarakan kerisihan mereka dan berbondong-bondong menunjukkan kata kunci yang dimute. Rupanya, saya tak sendirian.

Capek lihat iklan

Pengguna media sosial itu sudah sangat lelah sekali melihat iklan bertaburan, tak hanya iklan model spam dari para bakul tapi juga iklan berbayar yang bertaburan dimana-mana. Pendeknya, kita ini memang dibombardir dengan iklan dimana-mana. Salah satu hasil survei sebuah perusahaan survey menyatakan bahwa pengguna media sosial ini lelah, karena terlalu banyak iklan di media sosial dan banyak dari iklan ini tak relevan dengan yang mereka cari.

Tak heran kalau kemudian orang-orang berinvestasi (baca: bayar dan gak gratisan) pada ads blocker. Demi pengalaman berselancar di internet yang lebih menyenangkan, bebas iklan.

Repetisi informasi dan Etika

Sorry not sorry, tapi ketidaksukaan ini juga karena adanya mental spammer dari para bakul. Mereka tak ubahnya spammer professional yang menggunakan prinsip promosi: repetisi informasi yang sama, jika perlu hasil copy paste sehingga minim usaha dan tak kreatif. Lakukan berulang kali, setiap hari, dan di mana-mana.

Gratis menjadi kata kunci dalam berpromosi. Tak perlu keluar modal untuk bayar iklan di media sosial.  Cukup bajak postingan dan komentar orang supaya orang tak memiliki pengalaman yang menyenangkan di media sosial. Tak hanya di tweet atau postingan orang, tapi juga di berbagai forum atau grup di media sosial.

Sekali lagi, harus berulang kali, syukur-syukur kalau admin group gak memperhatikan. Posting setiap hari, dimulai dari tiga hari berturut-turut, lalu jadi 7 hari, kemudian 40 hari. Setelah itu non-stop. Kalau ditegur admin, tinggal tuduh adminnya tak suportif saja.

Interupsi

Salah satu argument yang saya baca, mengatakan bahwa para pedagang ini menginterupsi kehidupan kita. Lagi asik-asik ngobrol tentang pandemic, eh tiba-tiba ada yang teriak misi kakak, akun Netflixnya, akun Spotifynya. Dagangan illegal pula. Nah ini persis kayak lagi asyik ngobrol-ngobrol di kereta jurusan Bogor, tiba-tiba diinterupsi oleh tukang tahu. Tahunya kakak, tahu kuning, tahu pong, tahu isi, tahu walik atau tahu gejrot.

Pedagang ini menginterupsi kenyamana pada pengguna media sosial demi keuntungan beberapa rupiah tentunya. Sayangnya, dalam proses menginterupsi itu, tak ada  pemikiran untuk menjadi kreatif dalam menyampaikan pesan, dan tentunya tak ada etika dalam berkomunikasi. Selain itu, kebanyakan pedagang juga tak riset pasar dulu untuk mencari tahu apa yang diperlukan. Pendeknya bagaikan orang haus ditawari akun Spotify.

Ribut-ribut ini kemudian ditambahkan dengan self-entitlement, bahwa sebagai pedagang berhak untuk beriklan. Beriklan itu tentu saja boleh, tapi mbok ya yang etis. Bilang permisi saja tak cukup, harus tahu menempatkan diri. Kalau mau suka-suka sendiri, bayar iklanlah di Twitter, atau Facebook, sewa lapak di pasar atau promosi dagangan di tempat yang memang diperbolehkan pada hari-hari tertentu.

Lagipula, profilmu kenapa gak dipakai buat jualan juga? Coba 40 hari hari berturut-turut promosi dagangan yang sama, daripada bagi-bagi spam di lapak orang kan mendingan dagangan di lapak sendiri?


Ailtje
Sukses mempromosikan sebuah Kios di Belanda se-Irlandia (bahkan sampai Wales), tanpa nyepam. See? 

Celaan Fisik

Nggak biasa-biasanya saya bawa-bawa Tuhan, tapi gara-gara kelamaan lockdown say jadi banyak refleksi, refleksi atas banyak hal. Katanya kita ini orang-orang yang relijius, menerima semua pemberian Tuhan dan bersyukur dengan semua yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Katanya sih gitu, tapi realitanya tentu saja berbeda, masyarakat kita seringkali tak terima ketika melihat hal-hal yang tak sesuai standar kecantikan kolektif.

Kulit-kulit kebanyakan orang Indonesia itu tak putih cemerlang seperti Yoda si anjing saya ini. Kulit kita itu kebanyakan coklat, mengandung melanin yang berfungsi untuk melawan kanker kulit. Kulit coklat ini juga berguna banget ketika kita harus banyak beraktivitas di luar dari mulai nanam padi di sawah sampai goler-goleran di Spanyol dengan alasan mencari vitamin D.

Tapi realitanya, kulit coklat ini dianggap sebagai kulit yang hina dan tak berkelas. Yang menghina-dina nampaknya belum pernah sampai ke Eropa di mana kulit coklat bisa dielus-elus oleh orang tak dikenal karena mereka takjub (dan tentunya menganggap kita horang kaya yang kerjaannya goler-goleran di negeri asing).

Parahnya, ketidaksukaan terhadap warna kulit yang gelap ini juga dengan nyata-nyata ditunjukan kepada orang lain, dari berbagai ras dan tentunya berbagai usia, termasuk anak-anak. Di usia saya yang masih piyik, dengan penuh tawa dari banyak anggota keluarga saya dipanggil burit rinjing, bahasa Banjar yang berarti pantat penggorengan. Kulit saya yang tak putih cemerlang seperti para bintang iklan itu menjadikan saya layak dijadikan bahan tertawaan. Untungnya, saya tumbuh besar tanpa terobsesi untuk memutihkan kulit.

Tak cuma kulit saja yang tak disyukuri bersama-sama oleh masyarakat kita, tapi hidung juga menjadi obsesi ketidakpuasan. Hidung yang mancung dianggap sebagai keindahan yang patut disyukuri, sementara hidung-hidung lain layak dianggap bahan olok-olokan dan tertawa. Dan olok-olokan ini dimulai sejak dari kecil juga; adik bayi yang baru lahir pun sering dikomentari hidungnya.

Hidung saya sendiri konon tergolong mancung. Suatu hari di sebuah RS di Jakarta, saya berbaring sebelum melakukan perawatan wajah. Si suster yang berdiri di belakang saya sambil membersihkan muka bertanya tentang keaslian hidung saya; mungkin dia pikir saya yang pendek, berkulit kelam dan berambut keriting ini tak layak punya hidung mancung. Pernyataan saya bawa hidung saya asli tak cukup buat di suster, pelan-pelan jarinya ditempelkan ke samping hidung saya dan hidung saya ditowel-towel. “Oh iya asli”, kata si suster.

Selain warna kulit dan hidung, rambut menjadi hal lain yang tak masuk dalam daftar standar kecantikan yang kemudian “tak patut disyukuri”. Rambut saya yang ikal dan keriting ini menjadi bahkan olok-olokan sedari dulu kala. Keriting seperti sapu ijuk katanya. Belum lagi komentar pedas yang menuduh saya tak merawat rambut hingga tekanan sosial untuk meluruskan rambut supaya terlihat cantik. Tekanan ini dialami oleh banyak perempuan berambut keriting, salah satu teman kuliah saya bahkan rela meluruskan rambutnya dengan setrika demi terlihat “cantik”.

Nah saya pikir dengan rambut yang sudah diluruskan saya akan sesuai dengan standard kecantikan Indonesia. Tentu saja saya salah, karena kemudian banyak bermunculan komentar-komentar pedas soal rambut yang tak asli karena diluruskan. Apalagi jika rambut-rambut keriting sudah mulai bermunculan. Tuduhan tak bersyukur pun meluncur. Ah ribetnya mulut orang.

Masih banyak sekali kerja kolektif masyarakat kita yang sering menertawakan anggota tubuh, memberikan tekanan pada orang lain karena warna kulit yang berbeda, hingga soal muka yang berjerawat. Belum lagi mereka yang kemudian memperbaiki anggota tubuh melalui operasi plastik juga dijadikan bahan tertawaan. Pendeknya, semua salah.

Mau rambut ikal, lurus, keriting, hidung mancung, bulat, pesek, sekalipun, kita semua makluk Tuhan yang paling indah!

xoxo,
Ailtje

Peran Penting Pub di Irlandia

Tanggal 27 Maret yang lalu, pemerintah Irlandia mengumumkan lockdown, seluruh sektor tutup dan orang-orang tak diperkenakan keluar kecuali untuk hal-hal yang dianggap penting. Polisi pun mengadakan pengecekan dan memastikan kita patuh terhadap aturan-aturan ini. Ketika kasus Covid sudah mulai menurun, pemerintah Irlandia mengeluarkan roadmap untuk kembali ke normal, ada lima tahapan dan di tahap ke lima, kita akan kembali ke normal. Normal yang baru tentunya.

Minggu lalu, pemerintah mengumumkan kita tak akan ke tahap ke empat sampai awal Agustus. Penyebabnya, R number (reproduction number) masih dianggap terlalu tinggi dan negara ini dianggap belum siap menuju langkah selanjutnya. Akibatnya, pub masih tetap tak boleh dibuka. Hanya pub-pub yang menyajikan makanan yang boleh tetap buka, dengan pembatasan maksimum 90 menit per konsumen. Mereka boleh buka karena secara teknis restauran, bukan pub.

Di negeri yang pub punya peran penting, terutama di daerah masyarakat pun ribut. Bagi masyarakat Irlandia, pub adalah tempat orang-orang berkumpul dan bersosialisasi. Pulang kerja, atau bahkan usai melakukan kegiatan olahraga seperti golf, orang-orang berkumpul sembari minum. Tak melulu alkohol, ada juga mereka yang turut bergabung sambil minum minuman alkohol.

Pub juga punya peran penting sebagai tempat untuk menonton olahraga, pertandingan apapun akan jauh lebih menyenangkan jika ditonton beramai-ramai di pub. Masyarakat akan datang dengan jersey tim kebanggaannya, dari mulai rugby, GAA games (eg hurling, camogie, gaelic football), hingga sepakbola. Berbeda tim juga tak akan membuat orang berkelahi di dalam pub, kalau kalah diterima dengan lapang dada, bahkan diakhiri dengan ucapan selamat pada pendukung tim sebelah. Sportiflah, tak seperti Arema dan Persebaya yang pakai deg-degan ketika bertanding, bahkan mobil dengan plat nomor Surabaya atau Malang pun harus disembunyikan supaya tak diserang supporter.

Karena fungsinya yang begitu kuat di masyarakat, pemilik pub biasanya kenal dan tahu berita teranyar di lingkungannya. Di kampung saya sendiri ada tiga pub, untuk kampung kecil, tiga pub ini cukup banyak. Dan tiap malam, apalagi akhir pekan pub-pub ini akan ramai dengan orang ngobrol, bahkan musik dengan DJ lokal. Tiap-tiap orang biasanya punya pub favorit dan cenderung kembali ke pub yang sama, jika di kampung.

Soal musik, pemain musik tradisional Irlandia (biasa juga disebut trad musik), juga sering berkumpul di pub untuk minum sambil main bermain musik. Jika bertemu mereka, kaki tak henti-hentinya bergoyang menikmati musik. Setelah menulis tentang persepsi salah di pub ini, saya berkali-kali bertemu kelompok trad, dari Galway di sisi barat, hingga Cork di ujung selatan.

Sebagai tempat berkumpul orang lokal, pub juga menjadi tempat yang paling OK untuk mencari tahu tentang orang-orang lokal. Dari mulai mencari tahu tentang anggota keluarga, biasanya ini mereka yang pindah ke Amerika mencari tahu tentang keluarga jauhnya di Irlandia, hingga nyasar. Google map seringkali tak bisa diandalkan, apalagi di daerah yang sinyal internetnya kurang bagus. Masuk saja ke pub, beli segelas minuman, lalu tanya di manakan rumah si A, B, atau C. Syukur-syukur kalau yang kita cari bukan Patrick atau Paddy, karena nama ini sangat populer di sini. Sepopuler nama Bambang di Jawa pada masanya.

Hidup tak lepas dari pub, begitu juga dengan kematian. Setelah pemakaman, biasanya orang-orang berkumpul di pub untuk merayakan hidup dari mereka yang berpulang. Tak semua pesta kematian ini kemudian berakhir dengan baik, ada kalanya pesta kematian berakhir dengan mabuk dan berkelahi. Berdasarkan pengalaman masyarakat di sini, seringkali rusuhnya pesta ini terjadi hanya pada kelompok-kelompok tertentu, salah satunya kelompok Traveller. Labelling memang, jadinya setiap ada penguburan, masyarakat parno duluan.

Apa jadinya? Seluruh pub di wilayah penguburan ditutup. Semua pemilik pub janjian tak mau membuka pubnya karena enggan menanggung resiko jika orang-orang ini rusuh. Label dan generasasi memang, tapi pengalaman mereka mengajarkan lebih baik kehilangan keuntungan satu atau dua hari, daripada menanggung kerusakan (yang pastinya ditanggung asuransi).

Nah kembali lagi pada keributan soal pub, masyarakat di sini sebal karena pub tak diperkenankan dibuka, sementara turis-turis dari Inggris dan Amerika mulai berdatangan. Musim panas memang musimnya liburan bagi turis-turis dan sebagian sektor di negeri ini bergantung pada 3 juta turis yang datang untuk menikmati keindahan Irlandia sembari menyesap Guinness. Sayangnya, pemerintah memperbolehkan para turis berdatangan (awalnya tanpa prosedur isolasi diri yang jelas), sementara masyarakat-masyarakat di kampung sudah sangat merindu untuk bisa berkumpul dengan para tetangga satu desanya untuk menyesap bir sembari mengobrol.

Penutupan yang lebih lama juga ditakutkan membuat pub lokal tutup, karena tak sanggup membayar biaya operasional, seperti biaya kontrak. Ah semoga ini semua segera berakhir.

Kamu, sudah pernah masuk Irish pub?

xx,
Tjetje

Menjadi Pawrent di Irlandia

Tadinya saya takut sama anjing. Takut seperti layaknya kebanyakan orang di Indonesia. Setiap kali melihat anjing, hati saya komat-kamit memanggil Tuhan dan berharap si anjing tak memperhatikan saya. Semuanya berubah ketika saya dikenalkan dengan anjing dan tentunya jatuh cinta tak karu-karuan pada anjing. Hingga kemudian memiliki anjing sendiri dan patah hati ketika si anjing melintasi jembatan pelangi. Jembatan pelangi ini istilah manis para pemilik anjing untuk para anjing yang meninggal.

Semenjak patah hati kehilangan anjing, saya engga untuk punya anjing lagi. Tapi suami saya sudah siap untuk memiliki anjing. Keputusan yang selalu saya veto karena keengganan saya untuk patah hati lagi. Hingga kemudian saya memutuskan untuk memberi suami anak anjing sebagai hadiah ulang tahunnya. Anjing yang berbagi hari ulang tahun dengan saya.

IKC (Irish Kennel Club)
Kasus puppy farm di Irlandia cukup banyak. Puppy farm itu peternakan anjing dimana anjing betina terus-menerus dibuat beranak tanpa jeda demi profit sang pemilik. Anjing-anjing ini seringkali disilangkan, hingga meningkatkan resiko kesehatan. Harga anjing-anjing ini juga cenderung murah karena mereka tak memiliki surat-surat.

Kami sempat melihat opsi untuk adopsi, bahkan sudah mengikuti proses seleksi. Tapi kemudian harapan pupus dan sirna.

Setelah riset cukup lama, dan mencari kennel terpercaya, saya memutuskan mengambil anjing dari IKC. Harganya jauh lebih mahal dari anjing-anjing tak bersurat dan proses pembeliannya tak mudah. Saya juga diwawancara panjang terlebih dahulu, dari mulai latar belakang dan pengetahuan saya tentang perawatan anjing hingga tujuan membeli anjing.


Asuransi
Di Indonesia, saya tak punya asuransi untuk anjing. Ketika itu saya harus merogoh kocek untuk membawa anjing ke dokter, atau bahkan memanggil dokter hewan ke rumah.

Di Irlandia, dokter hewan yang saya kunjungi memberikan asuransi gratis selama enam minggu. Setelah enam minggu, perusahaan asuransi kemudian akan memberikan harga tahunan/ bulanan. Tergantung dari usia anjing, jenis anjing, dan kondisi kesehatan. Pembayarannya pun cukup mudah, cukup didebit setiap bulan, atau bayar dimuka selama satu tahun penuh.

Dog License

Di negeri ini ada aturan yang mengharuskan kita memiliki lisensi anjing. Aturan ini sudah dikenalkan sejak tahun 1865. Tujuannya untuk mencari tahu pemilik anjing. Dog license bisa dibeli di kantor pos dengan harga 20 Euro per tahun, atau 140 Euro untuk seumur hidup.

Lisensi ini sendiri wajib dimiliki begitu si anjing berusia di atas empat bulan. Anak anjing yang berusia di bawah empat bulan dan masih bersama induknya tak perlu dibelikan lisensi ini.

Tak semua anjing harus memiliki lisensi. Anjing untuk menuntun orang dengan gangguan penglihatan, atau anjing polisi misalnya tak memerlukan lisensi. Nanti, jika ada inspeksi, kita bisa ditanya lisensi anjing. Jika ketahuan tak memiliki, bisa didenda ditempat sebesar 100 Euro, atau bahkan dibawa ke pengadilan.

 

Puppy Playdates

Kami mengambil anjing dua jam sebelum lockdown, karena kennel dan kami sama-sama tak tahu kapan lockdown berakhir, sementara si puppy harus bonding. Keputusan yang tepat sekali, karena lockdown kami lebih berwarna.

Dengan kondisi lockdown ini, agak susah buat si puppy untuk bisa berkenalan dengan anjing lain. Dan karena anjing ini makluk sosial, penting banget buat mereka untuk bisa bermain dengan anjing lain. Solusinya? Puppy playdate.

Di kampung tempat saya tinggal, ada dua trainer anjing yang tiap minggu mengadakan playdate ini. Anjing-anjing ini akan bermain dengan anjing lain di bawah pengawasan si trainer. Peminatnya? Buanyaaaak. Dan sebagai trainer, mereka mencocokkan karakter masing-masing anjing, supaya tak terjadi perkelahian.

Penutup

Menjadi pawrent itu tak mudah, karena punya anjing itu perlu komitmen besar, dari komitmen finansial, hingga komitmen waktu. Kunjungan ke dokter hewan untuk memastikan kesehatan anjing juga harus dibarengi dengan asupan gizi yang cukup untuk si anjing. Sayangnya, tak banyak orang yang memiliki anjing tanpa tahu hal-hal seperti ini, mereka hanya mengambil anjing karena lucu lalu tiba-tiba menelantarkan si anjing, membiarkan si anjing sakit, atau bahkan mati karena abai terhadap banyak hal.

Beberapa bulan terakhir ini, kami membangun sistem dan rutinitas untuk anjing dan belajar disiplin dalam mematuhi sistem itu. Punya anjing di Irlandia itu tak semudah di Indonesia, tapi tentunya worth it. Kalian, suka binatang peliharaan?

xx,
Ailtje

Menjaga Kesehatan Jiwa

Sebelum saya mulai postingan ini, disclaimer dulu ya kalau saya bukan pakar kesehatan jiwa, wellness, atau pakar-pakar lainnya. Saya cuma manusia biasa yang penuh nista dan dosa. 

Pandemik global yang berlangsung saat ini membuat banyak orang harus berdiam diri di rumah masing-masing. Di Indonesia, ada pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di Irlandia, negeri tempat saya tinggal juga ada pembatasan gerak. Keluar dari rumah hanya untuk hal-hal yang penting, hanya bisnis yang penting yang diperkenankan untuk buka dan olahraga hanya diperkenankan 2 km dari tempat kediaman. Jadi tak ada kegiatan kegiatan ku lari ke hutan, atapun ku lari ke pantai, kecuali kalau tinggal tak jauh dari hutan ataupun pantai.

Bukan kali ini saja dunia menghadapi pandemik, sebelumnya ada flu babi yang juga melanda Indonesia. Tentunya skalanya tak sebesar dengan kondisi kita sekarang ini. Aktivitas kita pada saat itu masih normal. Pendek kata, saat itu kita masih bisa hura-hura ke cafe, jalan-jalan ke mall dan tentunya masih takut sinar matahari karena takut kulit menjadi kelam.

Olahraga

Pembatasan ruang gerak ini berdampak besar terhadap kesehatan jiwa kita. Mendadak, kita terpenjara di dalam rumah sendiri. Dalam kasus saya, ada pembatasan 2 km dan seringkali ada polisi yang mengecek tujuan kita. Mereka juga berhak mengirim kita pulang jika dirasa hal tersebut tidak penting.

Jalan kaki menjadi satu hal yang sangat berharga sekali. Sehari saya bisa berjalan kaki hingga tiga kali, di pagi hari, di saat makan siang dan usai kerja. Musim semi yang membawa hawa hangat juga membuat hal ini lebih mudah. saya tak bisa bayangkan apa jadinya jika pandemi ini berlangsung ketika memasuki musim dingin.

Makan Sehat

Olahraga juga harus dibarengi dengan makan yang sehat. Tak seperti di Indonesia yang punya banyak opsi untuk pesan makanan melalui aplikasi, di sini pilihannya sangat terbatas. Apalagi saya tinggal di kampung yang lebih dekat dengan sapi dan domba ketimbang dengan rendang dan tongseng.

Alhasil, saya pun harus masak sendiri, sehari tiga kali. Padahal sebelumnya saya hanya perlu masak satu kali, karena makan pagi dan siang disediakan kantor. Tapi pilihan untuk masak sendiri ini membuat diri lebih menyadari untuk memasak makanan yang jauh lebih sehat. Walaupun tetep sebagai anak Indonesia sejati, selalu pengen bikin gorengan. Prinsipnya, minyaknya engga pakai sedotan.

 

Ngobrol

Interaksi kita secara langsung dengan manusia berkurang sangat dratis. Saya beruntung tinggal bersama suami yang bisa diajak ngobrol, tapi saya tahu ada banyak orang di luar saya yang tinggal sendirian. Kesepian pasti merasuk banget, apalagi mereka yang usianya sudah tua.

Nah, kalau kalian punya anggota yang tinggal sendiri, jangan lupa ditelponin untuk bertanya kabar. Kalau kalian mampir ke rumah mereka, pastikan jaga jarak, jangan dekat-dekat dan tak perlu cium tangan, atapun cium pipi. Pastikan juga ketika kalian menelpon siap ditanyak dengan pertanyaan kapan kawin, kapan beranak dan panjaaaang…Kalau tak siap (dan daripada makin stress), cukup dikirimi pesan saja untuk menanyakan kabar dan berharap mereka sehat.

Media Sosial

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Irlandia sempat mengingatkan untuk menjaga kesehatan jiwa dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Media sosial itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi tempat senang-senang dan bisa menjadi tempat yang muram durja. Kita sendiri yang punya kontrol.

Di masa seperti ini mendadak banyak orang yang menjadi pakar. Pakar data, pakar penyakit, jadi dokter, hingga yang beraksi jadi jurnalis dan membuka informasi center dan terus-menerus membagi informasi tentang COVID 19. Dalam lingkungan pertemanan kalian pasti ada saja yang seperti ini.

Berhubung kita punya kontrol, ada baiknya media sosial digunakan untuk hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif dimute saja. Saya sendiri membatasi penggunaan media sosial dan hanya baca sumber-sumber yang terpercaya. Sehari cukup satu atau dua kali, tak perlu terus-menerus mendengarkan tentang pandemik di seluruh dunia. Nanti bisa stress sendiri.

Banyak juga orang yang melakukan hal positif di media sosial. Menyenangkan sekali melihat orang-orang bermain tebak-tebakan, sekadar menyapa menanyakan kabar, pamer hasil karya dari dapur masing-masing,  membuat komik, hingga membuat konten lucu di TikTok. Saya sendiri, aktif menuliskan lockdown diary di IG saya. Silahkan ditengok dan mari berinteraksi ngobrol-ngobrol ringan di IG saya di sini.

Kalian, punya tips dan trick khusus untuk menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi ini?

xx,
Ailtje