Ngobrolin Ekspatriat


Sebelum ngebahas beberapa hal tentang ekspatriat, definisi soal ekspatriat itu mesti diluruskan dulu. Banyak orang soalnya secara terang-terangan menolak dirinya atau pasangannya disebut sebagai imigran dan mengaku-aku sebagai ekspatriat. Biasanya yang salah ini suka ngotot tak karuan. Selain ketidaktahuan, atau bahkan ketidakmautahuan juga mungkin karena konotasi ekspatriat yang dianggap lebih baik ketimbang imigran.

Jadi apa itu ekspatriat? Ekspatriat itu orang yang tinggal di negara selain negara aslinya, biasanya karena pekerjaan dan bersifat sementara. Sementara imigran itu berpindah berpindah dari negara aslinya ke negara lain secara permanen. Perbedaan besar di antara dua kata ini ada di niatan untuk menetap atau hanya sementara. Udah itu aja bedanya.

Tipe perkerjaan sendiri juga tak membedakan bisa disebut ekspat atau imigran. Ekspatriat tak melulu harus eksekutif. Para pekerja rumah tangga yang kerja di Timur Tengah itu ya ekspatriat, karena mereka hanya sementara di sana. Sementara para pekerja teknis dari Indonesia yang pindah ke Eropa untuk bekerja secara permanen dan menetap di negara tersebut secara teori ya namanya migran.

Photo by cottonbro

Kompensasi Ekspatriat

Di Indonesia, ekspatriat (selanjutnya saya sebut ekspat ) itu diidentikkan dengan dapat banyak fasilitas, dari rumah dengan kolam renang di kawasan mewah, mobil, pengemudi, pekerja rumah tangga, biaya sekolah anak hingga ongkos pulang kampung naik kelas bisnis. Yang dilihat orang kebanyakan yang di atas semua. Padahal, realitasnya tak semewah apa yang dibayangkan.

Tak jarang ekspat dalam posisi eksekutif hanya mendapat subsidi rumah. Subsidinya beraneka ragam, dari ribuan hingga puluhan ribu. Jika rumah disubsidi, gaji pengemudi dan pekerja rumah tangga seringkali harus merogoh kocek sendiri, apalagi ongkos membayar pekerja ini bisa dibilang “murah”. Biaya sekolah anak sendiri tak melulu dibayar 100%, apalagi yang anaknya banyak. Ada yang disubsidi, ada yang hanya diberi hingga angka tertentu. Tergantung pemberi kerja.

Sawang-sinawang

Yang tak dapat apa-apa & hanya dapat gaji juga banyak. Dari gaji yang cukup untuk bayar kos aja, hingga bisa bayar apartement sendiri. Asuransi kesehatan bayar sendiri, pekerja rumah tangga cuma mampu bayar seminggu sekali. Kemana-mana mesti naik transportasi umum karena tak sanggup beli mobil, apalagi bayar pengemudi bulanan. Pulang kampung juga mesti nabung & nunggu tiket murah. Yang model gini buanyaaaak & mereka cukup senang dengan paket yang mereka dapatkan. Walaupun pada akhir bulan rekening mereka juga tak jarang teriak-teriak karena “pas-pasan“.

Soal visa juga banyak orang nganggep semua diurusin, tinggal duduk manis dan kipas-kipas. Eh ya jangan salah, yang kipas-kipas kelamaan nongkrong di imigrasi nungguin visa juga banyak. Ada banyak yang mesti rogoh kocek sendiri untuk bayar biaya visa & kebingungan karena tak mendapatkan dukungan penerjemah. Yang wira-wiri Jakarta – Singapura untuk ngurusin visa kerja yang usianya cuma sepanjang usia kontrak juga banyak. Tiket ke Singapura PP? Bayar sendirilah. Belum lagi ada yang diusir dari KBRI karena kakinya kepanasan dan nekat pakai sepatu sandal waktu antri di KBRI Singapura & harus minjem sepatu dari salah satu Pekerja Migran Indonesia. Mbok pikir ekspat itu ceritanya wah semua…

Ketika jadi ekspat

Asosiasi ekspat dengan kemewahan ini menancap keras di kepala banyak orang. Begitu dapat kesempatan jadi ekspat di luar, anak bangsa mana yang tak langsung girang. Apalagi gaji yang ditawarkan dalam mata uang asing terlihat sangat besar ketika dirupiahkan. Gaji yang belum diterima pun langsung dibelanjakan di dalam angan-angan untuk membeli sawah, buka kontrakan, bayar KPR, beli krypto, emas batangan dan aneka rupa belanja imaginatif.

Sampai kemudian realita menghempaskan angan-angan & diri tertampar realita.

Gaji besar itu ternyata tak beda jauh dengan gaji orang lokal & pajak yang dibayarkan ternyata begitu tinggi. Tamparan ini makin keras ketika tahu biaya hidup di luar negeri begitu tinggi. Akomodasi harus cari sendiri dan harga kontrakan mewah dengan kolam renang yang ada dianggan-angan tak terjangkau. Belum lagi visa harus antri, urusan dan bayar sendiri. Tak ada calo, visa gratisan, apalagi kesempatan duduk-duduk manis sambil kipas-kipas seperti tuan besar. Kekagetan ini masih ditambah dengan sekolah untuk anak bukan sekolah internasional, tapi sekolah biasa seperti kebanyakan anak orang lain.

Menjadi ekspat di luar juga tak selalu ada embak yang bisa disuruh-suruh biar seperti tuan dan nyonya besar. Tak selalu ada supir yang bisa disuruh lari ke supermarket beli teh botol. Atau satpam yang siap siaga jaga pagar rumah. Tiba-tiba diri tertampar keras ketika tahu bahwa menjadi ekspat di luar negeri itu tak selamanya sehijau rumput ekspat tetangga. Ditambah lagi, ketika rasa rindu akan kampung membuncah, harus pulang sendiri, naik tiket ekonomi dan tak ada korporasi yang membayari tiket bisnis.

Penutup

Terlalu sering saya mendengar keluh-kesah atau bisik-bisik mereka yang kaget tinggal di luar negeri sebagai ekspat. Ada banyak kekagetan ketika tahu ongkos hidup di luar negeri itu lebih besar dan ongkos kenyamanan seringkali tak terjangkau (i.e biaya pijit, biaya memperkerjakan pekerja rumah tangga). Adapula kecembururan ketika tahu paket ekspat yang mereka terima seindah paket orang lain, apalagi ketika dibandingkan dengan para eksekutif asing yang bekerja di Indonesia.

Saya sendiri tak kalah kaget lagi ketika tahu mereka tak bisa membaca kontrak dengan seksama dan memastikan fasilitas yang mereka terima sesuai harapan. Kaget ketika tahu harapan mereka begitu tinggi, tapi tak dibarengi dengan kemampuan untuk bernegosiasi sebelum kontrak ditandatangani. Dan saya makin kaget lagi ketika tahu mereka bukan eksekutif tapi berharap mendapatkan fasilitas menjulang sekelas Presiden.

Situ yakin pengalamannya eksekutif?


xoxo,
Tjetje
Bukan ekspat

Disklaimer: paketan ekspat tak melulu jelek ya, yang berlimpah fasilitas mewah juga banyak.

Perceraian


Sukses di mata kebanyakan orang itu adalah sekolah yang baik dan benar, punya gelar, kawin di usia yang masih muda (dan belum menginjak 30an). Lalu tentunya punya anak, pekerjaan atau usaha yang bagus, punya mobil serta rumah dan tentunya memiliki keluarga yang harmonis. Orangtua pasti tenang ketika semua ini tercapai dan tetangga tak berbisik-bisik mengusik orang tua.

Maka tak heran jika kemudian terjadi perceraian, seringkali, atau bahkan selalu ada bisik-bisik tak enak soal percerain ini. Masyarakat kita masih menganggap percerai sebagai sebuah bagian dari kegagalan, padahal ketika janur kuning didirikan, tak pernah ada jaminan bahwa perkawinan akan bebas dari bau kentut & selalu manis seperti drama-drama Korea.

Pengumuman Perceraian

Ketika sepasang insan memutusan untuk kawin, dunia merasa harus tahu & harus terlibat dalam perayaan perkawinan. Tetangga dan teman banyak yang merasa tersinggung jika tak diundang ke pesta perkawinan. Merasa punya hak untuk diundang, padahal ya kenal-kenal banget juga engga.

Hal yang sama terjadi juga ketika terjadi perceraian, banyak yang tiba-tiba merasa memiliki hak untuk tahu. Tak hanya itu, seringkali ada rasa perlu untuk menerima penjelasan mengapa terjadi perceraian. Padahal aslinya kepo aja, pengen tahu hidup orang lain.


Ketika memilih mengumumkan

Bercerai itu meninggalkan luka, bagi pasangan tersebut dan tentunya bagi keluarganya. Ketika kemudian ada yang memilih untuk berkabar tentang perceraian ini, seringkali topik penyebab perceraian tak terelakkan. Pembicaraan yang membuka luka ini seringkali dibumbui dengan komentar dan penghakiman.

Kenapa tak begini dan tak begitu? “
“Ah gitu aja kok harus cerai? “
“Masih bisa diselamatkan kan perkawinannya? “


Padahal bagi tiap individu itu, memiliki level toleransi terhadap pasangan yang berbeda? Keinginan dan kebisaan untuk berusaha menyelamatkan perkawinan juga berbeda-beda. Ada yang mati-matian mempertahankan pasangannya bahkan ketika sudah ketahuan berselingkuh seribu kali. Ada yang tak mau mempertahankan setelah tahu pasangannya berselingkuh secara emosi dengan orang lain. Banyak faktor dan semuanya bergantung pada individu masing-maing.

Seringkali, ketika perceraian belum ketok palu, apalagi di negara seperti Irlandia yang harus berpisah dulu selama dua tahun, ada teman-teman atau saudara yang mendadak menjadi konselor perkawinan atau bahkan mediator. Mau menyelamatkan perkawinan. Nggak ada deh ceritanya ngurusin urusan sendiri. Harus campur tangan.

Tabu

Sudah saatnya perceraian tidak dianggap sebagai sebuah hal yang tabu lagi. Tapi dianggap sebagai hal yang biasa terjadi. Namanya manusia itu bisa berubah ketika menjalani hidup dan menjauh. Growing apart. Ada pula yang bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga. Atau karena hubungan perkawinan sudah tak sehat lagi. Jadi daripada makin tak bahagia karena perkawinan, lebih baik diakhiri.

Pada akhirnya tiap individu berhak atas cinta. Terutama cinta terhadap dirinya sendiri dan untuk memprioritaskan kebahagiaan dirinya sendiri. Jika perceraian adalah jalan yang harus ditempuh untuk kebahagiaan itu, maka kenapa kita sebagai masyarakat harus reseh?


Photo by Mathieu Stern on Unsplash

Penutup

Bercerai itu seringkali membuat luka di hati. Prosesnya panjang dan seringkali tak murah. Di masyarakat kita, mereka yang bercerai itu juga banyak mengalami tekanan bahkan ketakutan. Dari takut salah membuat keputusan, hingga takut dihakimi. Tak elok rasanya kalau kemudian kita, sebagai bagian dari masyarakat masih menambah beban mereka yang bercerai.

Salah satu beban yang bisa dengan mudahnya kita ringankan adalah entitlement untuk tahu mengapa mereka bercerai. Mereka yang bercerai tak punya kewajiban untuk menjelaskan kepada kita mengapa mereka bercerai. Kewajiban ini cuma perlu mereka jelaskan pada pengacara dan hakim yang akan mengetuk palu perceraian.

Satu lagi yang sering saya lihat dan dengar. Ketika melihat orang bercerai, lalu pegang toa dan koar-koar kemana-mana mengumumkan berita perceraian. Seringkali berita perceraian itu ditambahi dengan spekulasi kenapa perceraian terjadi hingga soal pacar baru. Tentunya ditambah pula dengan penghakiman soal pacar baru ini. Macam mereka yang bercerai tak berhak menemukan kebahagiaan.

Ah wait, mungkin mereka yang sinis melihat orang punya pacar baru ini, saat muda dulu tak pernah ngerasain gemasnya punya pacar baru? 🤔


xoxo,
Tjetje




Pekerjaan Konten Moderator di Irlandia

DM Instagram saya sering menerima pesan dari orang-orang Indonesia di berbagai dunia, biasanya di Asia. Mereka mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menjadi Konten Moderator untuk sosial media di Dublin. Pertanyaan yang saya terima ini seringkali seputar kehidupan di Dublin, ongkos hidup dan konten moderator.

Pembicaraan ini saya rangkum dalam berbagai poin supaya mereka yang memerlukan informasi bisa mendapatkan sedikit bayangan tentang kehidupan di Irlandia.


Konten Moderator

Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tergolong baru dan muncul seiring dengan munculnya media sosial. Ada dua hal yang terkait dengan pekerjaan ini, layanan terhadap pengguna media sosial atau menganalisis konten yang di unggah di sosial media. Soal pelayanan terhadap konsumen ini biasanya membantu mereka (bisa individu, atau bahkan perusahaan) ketika mengalami masalah, contoh sederhananya, kehilangan kata sandi atau mengalami masalah ketika melakukan pembayaran.

Sedangkan analisis konten sendiri berkait dengan konten-konten yang tak layak berada di media sosial, seperti konten yang sadis dan tak menyenangkan, bahkan bisa bikin PTSD. Tak selamanya jelek, tentunya ada konten-konten menyenangkan, seperti gambar-gambar anjing atau bahkan cuplikan drama Korea yang muncul tanpa peringatan spoiler.

Resiko dan dampak pada kesehatan jiwa dari pekerjaan ini sendiri tak akan saya bahas, silahkan dicari sendiri di Google. Ada banyak berita tentang pekerjaan ini yang bisa memicu pengakhiran hidup (baca: bunuh diri). Tapi perlu dicatat, tiap individu itu berbeda-beda reaksinya, jadi jangan disamaratakan and know yourself and your limit.

Penghasilan

Dari interaksi yang saya terima, pertanyaan yang muncul biasanya datang dari mereka yang ditawari pekerjaan dari perusahaan outsourcing, gak usah disebut nama-nama perusahannya. Paket yang diterima biasanya gaji tahunan yang sedikit lebih tinggi dari upah minimum Irlandia, tapi jangan dirupiahkan (25k-35k/ tahun) dan sedikit bantuan untuk relokasi. Saya tulis sebagai sedikit bantuan karena seringkali tak cukup untuk membayar tiket pesawat one way, apalagi ongkos sewa kamar di hotel hostel untuk minggu pertama dan ongkos visa kerja jika tak disponsori.

Oh ya, satu hal yang patut dicatat, gaji tahunan yang jangan dirupiahkan itu akan dipotong jika sakit. Di sini memang tak ada kewajiban untuk membayar pegawai ketika sakit dan alokasi dari pemerintah sendiri baru akan diberikan setelah sakit beberapa hari. Jadi jangan sakit supaya tak kehilangan penghasilan. Apalagi, dokter di sini tak gratis. Ongkos dokter umum bisa berkisar 50-60 Euro untuk sekali kunjungan (biasanya 50% akan diganti asuransi jika memiliki asuransi kesehatan).

Salju jarang turun di Irlandia. Tapi begitu turun, dipastikan transportasi akan mandeg.



Di Irlandia sendiri, ada aturan untuk critical skill (ini termasuk kemampuan bahasa Indonesia) dan ada gaji minimum yang diterapkan oleh pemerintah. Supaya gaji minimum ini bisa dicapai, biasanya shift yang ditawarkan di luar jam kerja normal (sehingga rate jam-jam’an masuk ke rate premium. Bahasa Indonesianya: lembur), atau jadwal kerja yang mencakup akhir pekan (e.g Minggu-Kamis, atau Selasa-Sabtu).

Biaya Hidup Dasar

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika mengambil jam kerja di luar jam normal, termasuk soal transportasi, karena di Dublin, transportasi itu gak 24 jam. Jasa tram dan bis berhenti di tengah malam, seperti Cinderella. Jam pulang kantor, tak ada transportasi. Pilihannya, naik taksi rame-rame, atau tinggal di dekat kantor. Menyetir mobil sendiri tak saya sarankan, karena SIM yang tak mudah didapat (dan mahal), serta ongkos asuransi mobil yang seringkali lebih mahal ketimbang harga mobil.

Soal tempat tinggal, bukanlah rahasia lagi kalau di Irlandia terjadi krisis akomodasi. Menemukan tempat tinggal itu susahnya bukan main. Kalaupun ada, harganya seringkali tak masuk akal. Ini boleh dilihat sendiri di website daft.ie. Ongkos akomodasi dan ongkos transportasi ini menjadi dua hal yang paling mahal.

Kalau soal makanan, ada makanan yang disediakan oleh kantor, saat makan pagi dan makan siang. Tentunya tak cocok dengan lidah Indonesia, tapi tak perlu mengeluarkan ongkos untuk biaya makan pagi dan siang. Belanja makanan sendiri bukanlah hal yang mahal, apalagi ada supermarket yang menawarkan bahan makanan dengan harga murah. Daging, apalagi sayur di sini tak mahal. Yang “mahal” tentunya tempe, tahu dan sayuran Asia. Kalau rindu makanan Indonesia, ada banyak ibu-ibu yang menawarkan makanan dengan harga 7-10 Euro per porsi, cukup untuk mengobati rindu masakan nusantara.

Kerja di rumah tak berlaku untuk semua konten moderator. Sebagian harus kerja di kantor.

Pajak

Pajak di Irlandia tak seperti pajak di Indonesia. Untuk mereka yang lajang, penghasil hingga 35,300 akan dikenakan pajak sebesar 20%. Selanjutnya di atas itu akan ada pajak 40%. Tak hanya pajak saja, tapi juga ada PRSI dan USC. Ini panjang ngejelasinnya, untuk mudahnya sih bisa langsung Google saja tax calculator dan hitung sendiri.

Asuransi kesehatan yang diberikan perusahaan sendiri juga tak diterima dengan cuma-cuma. Ada Benefit-In-Kind yang harus dibayarkan dan dipotong setiap bulan ketika menerima gaji.

Untuk yang kawin sendiri perhitungan pajaknya berbeda. Apalagi jika hanya satu pihak yang bekerja. Kalau kemudian akan membawa anak, biaya pendidikan di sini gratis dan dokter untuk anak gratis hingga usia tertentu.

Makanan Indonesia bisa ditemukan dengan mudah di rumah-rumah orang Indonesia. Bahan-bahannya juga ada di toko Asia.



Penutup

Hidup sebagai konten moderator di Dublin itu bisa dan ada ribuan konten moderator dari berbagai negara di Irlandia. Mereka bisa hidup, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bahkan bila rajin menabung dan tak hura bisa membeli rumah.

Nah yang sering menjadi pertimbangan itu, soal berapa sisa uang yang bisa ditabung jika bekerja di Eropa atau di negara Asia lain. Seringkali, target kerja hanya beberapa tahun untuk mencari pengalaman dan kembali pulang kampung. Saya seringkali menyarankan untuk menghitung berapa tabungan yang bisa disimpan jika bekerja di negara lain dan membandingkannya dengan dana yang bisa ditabung di Irlandia.

Pada akhirnya, pilihan untuk pindah ke Dublin, untuk menimba pengalaman kerja, ataupun untuk merasakan hidup di Dublin adalah pilihan masing-masing. Dan kalau kemudian datang di Dublin saat musim dingin, musim dingin di Irlandia itu dingin dan kelam. Seringkali depresi menyambut tanpa diundang. Please mind your well being, apalagi kalau kemudian konten yang dianalisis tak mudah untuk dilihat dan bikin perut mules.

xoxo,
Tjetje – Pernah dihina-dina karena bekerja jadi konten moderator outsourcing.




Bicara Keuangan

Konon katanya ngomongin uang itu sebuah hal yang sangat tabu, nggak pantes. Tapi dengan pasangan sendiri, baik ketika hubungan sudah mulai serius, ketika akan masuk jenjang perkawinan, hingga ketika sudah berada dalam perkawinan, berbicara keuangan itu mestinya sebuah hal yang tak boleh dianggap tabu.

Uang (dan ekspektasi keuangan) itu banyak membawa bencana dalam perkawinan ketika tak dibicarakan dengan baik. Dan tentu saja topik ini sudah berulang kali dibahas oleh para Twitterati, yang kali ini saya bahas dari sisi kawin campur dan tinggal di luar negeri.

Pasangan WNA, gaji dan liburan

Pacaran dengan orang asing itu, seringkali dianggap sebagai kunci kemenangan jackpot dan tiket untuk memperbaiki kondisi keuangan dan hidup. Bule-bule ini seringkali dianggap punya uang banyak, gajinya besar, bisa liburan kemana-mana (termasuk ke Indonesia) dan tak pelit. Apalagi ketika liburan tidurnya di hotel, bukan di hostel. Plus ketika ngekspat kemana-mana dianterin supir dan rumahnya gede di Jakarta Selatan. Biarpun kena banjir kalau musim ujan dan hasil ngontrak, yang penting gede.

Padahal, realitanya, kehidupan ketika jalan-jalan dan kehidupan ketika ngekspat itu engga sama. Ekspat itu banyak dapat fasilitas kantor, tapi ketika balik jadi staff lokal, seringkali hidup layaknya manusia kebanyakan. Plus, harus rajin menabung untuk jalan-jalan. Ini ditulis kebanyakan ya. Golongan 1% terkaya di dunia gak usah dihitung.

Nah, pas pacaran hal-hal seperti ini gak pernah dibicarakan.

Image by Pijon from Pixabay

Ongkos menghidupi keluarga

Seringkali sebelum kawin ada pengharapan uang yang dihasilkan oleh pasangan (biasanya suami), dianggap sebagai uang istri. Sementara jika istri bekerja dianggap sebagai uang istri saja. Konsep ini tak dipeluk oleh semua orang, apalagi ini setahu saya datangnya dari agama. Ketika akan diterapkan, apalagi dengan pasangan yang tak mengenal ajaran ini dan menganut konsep kesetaraan jender, ya mesti didiskusikan dulu. .

Kemudian, ada paksaan untuk memiliki akun bersama, ngotot harus punya akun bersama supaya bisa mengontrol keuangan. Atau malah akun sendiri-sendiri, dan gaji ditransfer penuh, sementara suami hanya diberi uang saku secukupnya.

Lalu, dengan kontrol atas keuangan terjadi penyalahgunakan. Ini bukan barang baru lagi. Tak ada diskusi dan uang hasil keringat dirikimkan ke kampung, supaya keluarga bisa beli sapi, beli tanah, membiayai sanak-saudara, mengirimkan hadiah, renovasi rumah keluarga, atau bahkan memodali usaha keluarga jauh. Ya kagetlah para bule-bule itu, karena mendadak mereka menjadi direktur charity dan tabungan menurun drastis.

Anggaran keuangan

Namanya orang menjalankan kehidupan, mau melajang, mau kawin itu selalu pakai anggaran. Nah, anggaran ini harus dibicarakan jauh-jauh hari sebelum janur kuning dilengkungkan. Siapa yang akan menanggung beban anggaran. Dalam hubungan tradisional memang laki-laki yang dianggap wajib. Tapi di dunia yang serba mahal ini, ada kalanya dua belah pihak harus bekerja. Atau malah, perempuan harus menanggung biaya rumah tangga karena pasangan sedang sekolah, tak bisa bekerja, atau memilih menjadi bapak rumah tangga.

Seringkali, ada ekspektasi dan asumsi anggaran cukup untuk belanja di lantai bawah Plaza Senayan (baca: supermarket premium), tapi realita hanya cukup untuk belanja di pasar becek. Lalu kecewa. Begitu juga soal rumah. Berharap beli rumah di kawasan Menteng, tapi anggaran hanya cukup untuk sewa di kawasan Lenteng. Lalu menyesal mengawini pasangan dan merasa tertipu.

Bicara anggaran juga tak bisa lepas dari topik sensitif: HUTANG. Hutang sebelum perkawinan tak pernah didiskusikan. Lalu kaget bukan kepalang ketika tahu pasangan memiliki hutang bertumpuk. Beberapa orang yang sangat polos bahkan merelakan namanya dipakai pasangannya mengambil hutang lagi, tanpa berpikir panjang soal resiko di masa depan. Modyaaar….

Penutup

Seusai resepsi perkawinan, saya menemukan uang dalam jumlah agak banyak di jaket suami. Dasar anak media sosial (jaman itu masih main Path hanya untuk orang-orang terdekat), langsung jadi status. Tante saya langsung memberi wejangan yang harus dipegang sangat teguh: jangan pernah mengambil uang suami sepeserpun.

Pesan yang menempel dan melekat di kepala saya. Sampai hari ini, uang yang saya temukan di kantong celana ataupun di sofa, tak pernah masuk ke toples khusus. Jumlahnya tak pernah banyak, karena transaksi tunai di negeri ini sangatlah jarang. Tapi prinsipnya, kalau soal uang, harus terbuka dan jujur. Kalau engga, ya modyar.

Oh ya, tentunya tak lupa anak rajin harus menabung dan tak menghamburkan uang, supaya bisa liburan lagi.


Jadi, kamu diskusi soal keuangan gak dengan pasangan?

xoxo,
Tjetje

Ngobrolin Civil Partnership

Disclaimer dulu: tulisan ini saya tulis dengan konteks dan kacamata di luar Indonesia. Dalam kacamata Indonesia, civil partnership itu tidak diakui, karena UU no. 1/1974 UU ini mengatur bahwa perkawinan yang diakui negara adalah perkawinan berdasarkan upacara keagamaan.

Salah satu perbincangan yang muncul dari tulisan Bobot, Bibit, Bebet yang saya unggah minggu kemarin adalah soal civil partnership versus kawin di negara tetangga. Bukan di Irlandia.  Diskusi kami membahas soal CP yang dianggap hanya untuk pasangan sesama jender, sementara perkawinan untuk pasangan heteroseksual. Memang, di awal sejarah, CP banyak digunakan untuk pasangan dengan jender yang sama.

Tapi peminat CP kemudian meluas hingga banyak mendorong CP menjadi jender netral dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Alasannya aneka macam, dari karena biaya, kultur, kemudahan untuk pembubaran, patriarkisme pada perkawinan, hingga ketidakpercayaan pada institusi perkawinan. Perancis, Portugal, Belanda, Belgia, Luxemburg, Estonia, Yunani, adalah beberapa negara yang sudah mengadopsi CP di Eropa.

CP di tiap-tiap negara itu berbeda-beda, perlakuannya beda, hak-haknya juga beda. Dalam konteks Irlandia, CP dan perkawinan itu tak setara, apalagi dalam hal hak-hak. Pasangan CP misalnya tak diperkenankan untuk mengadopsi anak, tak seperti mereka yang kawin. Ini diskriminatif banget. Tak heran kalau kemudian di Irlandia ada perjuangan untuk mencapai kesetaraan terutama dari komunitas LGBT. Dan mereka kita semua menang di tahun 2015.

Di negeri ini, pencatatan CP sudah tidak dimungkinkan lagi sejak amandemen konsituti ke 34. Irlandia menorehkan sejarah dengan menjadi negara pertama di dunia yang memperbolehkan perkawinan tanpa melihat jender berdasarkan voting langsung oleh rakyatnya (referendum). Jadi prinsipnya, semua orang di sini boleh kawin secara resmi, apapun orientasi seksualnya dan pilihannya hanya kawin resmi. Tak hanya Irlandia saja, di Denmark dan Jerman juga sama. Begitu perkawinan setara legal, maka CP dihapuskan.

Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin memilih untuk CP? Bisa, tapi di luar Irlandia. Pengakuan perkawinan ini ada banyak hal, misalnya visa. Tapi tidak untuk kepentingan pajak. Di Irlandia, hanya ada beberapa CP yang diakui, daftarnya bisa ditengok di sini.  Nah, apa dampaknya? Penghitungan pajak harus dilakukan sebagai lajang dan bukan sebagai pasangan.

Pengakhiran atau pembubaran CP seringkali dianggap lebih mudah. Di negara-negara lain mungkin sangat mudah dan hanya perlu minta dissolution. Di Irlandia, waktu CP masih bisa didaftarkan, prosesnya tetep ribet. Sebelum berpisah resmi ke pengadilan, ada proses untuk hidup berpisah dulu selama 2 tahun dari 3 tahun terakhir. Ini sudah lebih pendek, tadinya harus empat tahun hidup terpisah dulu.

Image by Free-Photos from Pixabay

Penutup

Civil partnership menjadi pilihan banyak orang, terutama di kalangan orang-orang muda karena banyak hal. Kesetaraan menjadi satu alasannya. Dalam konsep CP tak seperti perkawinan, di mana laki-laki idealnya menjadi tulang punggung. Apalagi konsep hartamu adalah hartaku, hartaku adalah hartaku. Perlindungan terhadap aset dengan CP juga lebih mudah ketimbang perkawinan. Dan jika terjadi perpisahan, akan jauh lebih mudah dan tak perlu rebutan aset.

Konsep perkawinan di negara tetangga yang mengharuskan prosesi agama, dan pengucapan sumpah juga menjadi hal lain yang membuat CP lebih populer. Belum lagi soal nama keluarga yang cenderung patriarkis.

Pilihan untuk kawin atau civil partnership itu tergantung situasi masing-masing. Selain soal pilihan, juga soal kondisi negara masing-masing. Nah kalau kemudian ditawari pasangan untuk CP ketimbang kawin, ya coba diriset dulu, baca seluruh informasi terutama tentang positif dan negatifnya, apalagi kalau sudah menyangkut hak setelah pembubaran.

Surat-surat itu memang hanya secarik kertas, tapi ada cerita hukum dan hak-hak dibaliknya. It’s not just a piece of paper.


xoxo,
Ailtje

Bobot, Bibit, Bebet

Alkisah, di jaman tahun 90an, ada satu artis ternama yang pacaran dengan salah satu anak orang kaya di Indonesia. Sejoli ini kemudian berniat untuk kawin dan mengikat janji sehidup semati. Tapi rencana ini bubar di tengah jalan. Penyebabnya sederhana: bobot, bibit, bebet, padahal mereka bukan orang Jawa. Keluarga si kaya menolak sang artis karena tak lolos standar 3B.

Seleksi pasangan adalah sebuah hal wajar yang dilakukan semua manusia. Apapun latar belakangnya. Ketika calon dianggap memenuhi kriteria, maka cincin pun akan dipasangkan untuk mengikat janji. Kalau engga sesuai kriteria hati, mau ngemis kaya apa juga bukaan kaleng soda pun gak akan dipasang di jari manis.

Kalau ini sih bukan bukaan kaleng soda.



Bertahun-tahun sejak si artis itu putus, saya jadi suka observasi pasangan-pasangan di sekitar saya, apalagi orang-orang yang ngedumel soal hubungan perkawinannya. Jangan salah, perkawinan itu tak mudah, tak selalu manis, banyak tantangannya dan tak akan pernah sempurna. Nah ketika denger cerita aneh-aneh soal pasangan ini saya jadi suka ngedumel balik. Bobot, bibit, bebet waktu pacaran dulu kagak dinilai?

Bobot

Saya mengartikan ini sebagai kualitas diri dan cara membawa diri. Salah satu elemennya pendidikan. Gak perlu harus pendidikan PhD dan akademis. Punya pendidikan yang benar wawasannya terbuka dan mau terus-menerus belajar sudah cukup. Pendidikan itu membentuk cara pikir dalam menghadapi masalah dan mencari solusi. Biar engga cupet.

Ini kalau pacaran cara tahunya gimana?  Ya dari ngobrol tentang banyak hal, jadi ketahuan bagaimana pola pikirnya. Gak bisa bahasanya? Belajar! Belajar bahasa itu tak hanya soal tata bahasa tapi juga belajar tentang kultur suatu negara. Jadi kalau kawin gak kaget tahu pasangannya pendukung partai kiri, suka makan keju bau kaos kaki, atau ketika pasangan hobi minum di pub.

Bobot ini juga membahas soal kedudukan di lingkungan sosial dan tentunya soal moral. Standar ini beda-beda ya buat tiap orang, tapi pastikan nilai yang dianut harus sama. Ada yang menerima perkawinan tanpa kesetiaan, ada yang kesetiaan harga mati. Nah tapi kalau memulai hubungan karena perselingkuhan di lapangan golf juga gak usah kaget kalau pasangannya ngelirik caddie lain. Lalu sibuk koar-koar nyalahin orang lain. Konon, once a cheater always a cheater.


Bibit

Anaknya siapa? jelas gak orang tuanya? Gimana masa kecilnya? Ini relevansinya apa? Banyak. Cara dan lingkungan dibesarkan serta trauma masa lalu itu berpengaruh besar pada masa dewasa, termasuk bagaimana individu tersebut menjalin hubungan.

Nenek moyang, selain mewariskan resiko kesehatan (diabetes, jantung) juga mewariskan perilakunya, baik secara sadar atau engga sadar. Perilaku yang diwariskan tak hanya yang baik-baik saja, tapi juga yang buruk. Ketergantungan pada obat atau alkohol konon berhubungan kuat dengan genetik. Mental mengemis, self-entitlement, atau hobi bersedekah juga bisa dengan mudahnya diwariskan dari ajaran keluarga. Begitu juga dengan tata krama dalam kehidupan sosial yang biasanya diajarkan dari usia dini di rumah, oleh siapa? keluarga.

Tak hanya itu, kesehatan jiwa juga cenderung diwariskan.

Jadi kalau pacaran minta ketemu keluarganya, biar engga kaget. Lihat gimana interaksi pacar dengan keluarga. Harmonis gak hubungan keluarganya, atau chaotic? Jalin hubungan juga dengan calon mertua, jadi gak kaget. Jangan sampai ada drama perkelahian berdarah-darah di keluarga yang bikin jantungan, gak berani keluar rumah, panggil polisi, apalagi sampai ke pengadilan.

Bebet
Nah bebet ini soal pekerjaannya. Gak perlu jadi CEO macam anak-anak ClubHouse. Yang penting pekerjaan yang baik dan bisa menghidupi keluarga. Punya keahlian untuk bekerja dan memang mau kerja. Kalau pasangan tak bekerja, cari tahu kenapa alasannya? OK gak dengan alasan ini. Siapkah untuk jadi tulang punggung?

Soal bekerja ini udah berulang kali saya bahas. Banyak yang keblinger ketika pacaran dimanja dengan limpahan mata uang asing dan liburan. Begitu kawin, kaget melihat tagihan ongkos liburan dan hutang yang menumpuk. Sukur-sukur kalau namanya tak dicatut untuk ikutan pinjam utang yang bikin rating kredit memburuk.

Kalau tak bekerja dan punya bisnis, cari tahu dulu bisnisnya. Kalau perlu beli laporan keuangannya. Sehat gak kondisi bisnisnya, kalau merugi terus selama bertahun-tahun, kenali resikonya kalau pasangan gulung tikar. Jangan sampai ada drama merasa tertipu karena pasangannya punya bisnis, tapi ternyata skala bisnis tak sebesar harapan.


Kesimpulannya

Kultur orang Indonesia memang mengharuskan kita cepat-cepat kawin. Tapi seringkali kultur ini membuat kita lupa untuk melihat dengan teliti latar belakang pasangan. Terlanjur silau melihat kemungkinan hidup yang dianggap lebih nyaman di Eropa. Pandemi juga tak menghentikan ngebet kawin, pokoknya kudu buru-buru dikawini walaupun lockdown.

Manusia, apapun latar belakangnya dan warna kulitnya kalau memilih pasangan itu pasti mau yang baik, benar dan jelas latar belakangnya. Syukur-syukur kalau bisa bikin bangga dan gak malu-maluin. Kalau semua indikator terpenuhi, baru jari dan hati pun diikat dalam janji sehidup semati di catatan sipil. Ditambah pesta 7 hari 7 malam kalau perlu, sambil mengundang dalang, sinden dan rombongan perwayangan.

Kesimpulannya, kalau mau kawin, milih-milih dulu gih. Inget bobot, bibit bebet. If he is into you, he’ll put a ring on your finger. Kalau tak kunjung, dikawini? Well kalau menurut Sex and the City sih, maybe he’s just not that into you.

Nggak usah ngemis-ngemis kalau gini. Balik badan aja, thank you, next!

xoxo,
Tjetje

Bicara Petani Irlandia


Masih soal menghina pekerjaan orang lain, kali ini saya akan membahas pekerjaan lain yang dihina: PETANI. Tidak di Indonesia, tapi di Irlandia. Hinaan ini ditujukan untuk merendahkan pilihan pekerjaan sebagai petani dan mencemooh fakta bahwa petani ini disubsidi oleh pemerintah. Menghina pekerjaan orang itu nista dan menunjukkan kecongkakan hati. Tapi menghina petani karena menerima subsidi itu tak hanya nista tapi juga pandir. Menunjukkan kebodohan dan ketidaktahuan tentang skema subsidi terbesar di dunia yang juga salah satu kebijakan EU yang sukses.


Maka, supaya tak menjadi pandir, saya pun sekilas mempelajari tentang subsidi dan bagaimana para petani di sini disokong kebijakan pemerintah. Disclaimer: ini belajarnya sekilas ya, jadi pengetahuan saya sangatlah dangkal.

Subsidi petani ini tak hanya dilakukan di Irlandia, tetapi di Uni Eropa. Seperti saya sebut di atas, subsidi ini merupakan subsidi terbesar di dunia dan memakan banyak anggaran dari Lembaga Uni Eropa. Pemberian subsidi sendiri berdasarkan luas ukuran lahan yang dipunyai. Semakin besar lahan yang dimiliki, semakin banyak subsidi yang diterima, karena semakin banyak pekerjaan dan hasil yang bisa didapatkan. Tak heran kalau kemudian petani yang turun-temurun memiliki lahan yang sangat luas bisa mendapatkan subsidi yang sangat besar. Petani di sini juga cenderung jarang menjual lahan pertaniannya. Kok jual lahan pertanian, diminta sedikit untuk lajur jalan kaki saja bisa ribut tak karuan & mereka akan mati-matian mempertahankan. No gusur-gusur.

Di Irlandia sendiri, bukanlah sebuah hal yang aneh kalau melihat petani kaya dengan rumah megah, kendang kuda, tanah yang sangat luas, tapi di halaman depan rumah banyak sapi merumput. Saking “kayanya”, mereka tak segan mengendari kendaraan bagus-bagus untuk menarik rumput. Ini orang Indonesia kalau lihat bisa geleng-geleng kepala. Tak semua petani kaya. Ada banyak sekali petani yang pas-pasan, apalagi petani yang sudah tua atau mereka yang lahannya kecil. Di sini, peternak sapi, termasuk peternak sapi perah yang kaya raya. Semakin banyak sapinya, semakin makmur.


Skema subsidi ini sendiri disebut sebagai CAP, Common Agricultural Policy. Para petani yang menerima subsidi ini gak sembarangan bisa menerima dana begitu saja, mereka harus mematuhi aturan lingkungan, keamanan pangan, kesehatan tanaman hingga kesejahteraan hewan. Kalau mereka tak patuh, maka subsidi yang mereka terima bisa terkena dampaknya.


Nah, jadi kenapa para petani ini disubsidi? Ada banyak alasannya, dari untuk meningkatan produktifitas, stabilitas pasar (biar gak impor terus dan harganya naik turun kayak harga cabe di Indonesia), mengamankan pasokan, hingga untuk memastikan konsumen bisa beli dengan harga yang layak (baca: murah!). Pembangunan pedesaan pun juga bisa terus dilakukan karena petani sejahtera. Nah kok bikin inget sama Pak Harto dan kelompok taninya ya…

Kita yang di Eropa memang dikenai pajak penghasilan yang cukup tinggi, tapi dari kontribusi pajak kita, bisa dipastikan bahwa pasokan makanan dengan kualitas tinggi terjaga, dan lingkungan kita juga terjaga. Plus, masih banyak orang yang masih mau menjadi petani karena mereka bisa hidup dengan layak.

Bertani cabe tapi tak layak dapat subsidi

Subsidi ini membuat harga daging, sayur-mayur dan buah cukup terjangkau. Harga wortel satu kilo bisa hanya beberapa sen Euro saja. Harga apel per kilo juga bisa hanya 1-2 Euro, tak seperti di Indonesia yang sebijinya dijual hampir 1 Euro. Cabe merah sendiri tak bisa digunakan sebagai pembanding, karena konsumsi cabe di sini tak setinggi di Indonesia, harga cabe merah besar sendiri berkisar di 16 Euro untuk 3 kilo; tak bisa dibandingkan dengan harga cabe merah yang hanya 34ribu rupiah di Indonesia. Daging-dagingan dan susu sendiri juga bukanlah hal yang mahal dan tak terjangkau oleh orang kebanyakan.

Penutup

Menghina pekerjaan orang itu tidaklah elok sama sekali. Lebih tak elok lagi menghina para petani yang memastikan kita bisa mengakses makanan berkualitas dengan harga terjangkau. Semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang yang pandir dan kepandiran; semoga juga suatu saat nanti kebijakan pemerintah di Indonesia bisa memastikan para petani kita hidupnya layak dan harga pangan yang stabil.

xoxo,
Tjetje


Gotong Royong di Irlandia

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa teman-teman.


Selama tinggal di Irlandia ini saya sudah beberapa kali pindah, dari yang berjarak 5 menit dari pusat kota, pinggiran Dublin, hingga Dublin coret. Di tengah Dublin, individualisme itu sangat-sangat kuat. Komplek apartemen dipenuhi oleh para pekerja profesional yang tak hanya orang-orang Irlandia. Kerja pagi hingga sore, lalu kalau ketemu di lift hanya senyum atau menyapa apa kabar. Semua orang sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Begitu kami pindah ke pinggiran kota Dublin, individualisme masih sangat kuat, walaupun tak seperti di tengah kota. Interaksi dengan tetangga sendiri sangat terbatas dan baru meningkat ketika Natal tiba dengan bertukar kartu atau kue-kue Natal.

Di luar Dublin sendiri, komunitas tempat saya tinggal bersatu-padu dalam banyak hal, dan gotong-royong ini sudah kuat sejak sebelum pandemik.

Gotong-royong skala kecil

Di Irlandia, menyetir dengan kadar alkohol itu tak diperkenankan. Ketika ada pesta atau pulang dari pub, alih-alih mencari taksi seperti di Dublin, yang tak minum memberikan tumpangan pulang untuk mereka yang minum. Saya sendiri, karena sudah tak rajin minum, berulang kali mengantar mereka yang minum, bahkan di tengah malam.

Sekali waktu, saya pernah memberi tumpangan tetangga saya pulang seusai pesta di kampung kami. Beberapa kemudian, cerita saya memberi tumpangan ini sudah sampai ke telinga orang Indonesia lain yang tinggal di kampung lain, bahkan beda county. Rumpi….

Tumpangan tak hanya diberikan pada mereka yang minum. Perlu tumpangan untuk mengambil tanaman yang ukurannya besar, perlu ke bandara, perlu ambil mobil ke bengkel, semua bisa minta tolong tetangga. Kuncinya gak segan minta tolong kalau butuh pertolongan.

Bantu-membantu di sini gak cuma urusan tumpangan. Butuh kursi karena ada pesta, gak usah repot-repot nyari penyewaan kursi, pinjem kursi-kursi tetangga aja. Mau beli bel rumah yang pakai kamera, tetangga pun siap nunjukin kamera mereka dan bantu install. Pintu rumah agak rewel, tetangga dengan senang hati ngebenerin. Gak perlu pakai bayar (di sini biasanya kalau dibantuin tetangga kita beliin mereka minum waktu ke pub). Warbiyasak banget deh.

Rujak Cingur tanpa cingur dengan kangkung dari hasil kebun tetangga

Nitip anak, pinjam anak tetangga buat diajak mainan, nitip anjing, atau bahkan kalau ada anjing ilang diambil dulu sama tetangga sampai pemiliknya ketemu. Kalau liburan, nitip rumah juga sama tetangga sebelah, bahkan titip minta sampah di keluarin.

Ketika awal pandemi, salah satu keluarga di kampung kami ada yang harus isolasi mandiri. Bantuan yang diberikan tetangga, dari dibantuin belanja sampai dikirimi makanan mengalir. Perlu apa-apa aja, tinggal minta tetangga. Balik lagi, tinggal bilang aja, tetangga datang dengan pertolongan.

Bedah Rumah

Salah satu gotong royong terbesar yang saya lihat adalah program bedah rumah versi Irlandia. Program ini berlangsung dimana-mana dan pernah berlangsung di kampung kami. Ada salah satu keluarga di kampung kami yang rumahnya perlu direnovasi karena mereka memiliki anak-anak berkebutuhan khusus.

Satu desa, bahkan desa-desa sebelah, bergotong-royong memberikan dukungan. Gula, kopi, teh, air panas, aneka kue-kue dan biskuit pun diberikan oleh para tetangga. Sampai ada jadwalnya, supaya orang-orang bergantian. Ini persis ketika jaman tinggal di Jakarta ataupun di Malang, ada jadwal mengirimkan kue dan kopi untuk satpam komplek yang ngeronda.

Mereka yang tak bisa bikin kue, tapi punya kebisaan untuk membangun rumah menyumbangkan tenaga dan waktunya. Tergantung specialisasi mereka, tukang ledeng, tukang listrik, tukang lantai, semuanya kerja bareng tak dibayar. Yang tak punya pengetahuan pertukangan, seperti suami saya, ngeronda untuk jaga peralatan bangunan. Yang gak kebagian jadwal ngeronda, seperti tukang es krim, datang bawa truk es krimnya dan bagi-bagi es krim gratis untuk seluruh kru yang berpartisipasi.

Kalau ini gotong-royong khas Indonesia

Tak cuma makanan dan skill saja, bahan bangunan, dari paku sampai tanaman juga hasil swadaya masyarakat sekitar. Tak hanya individu tapi juga bisnis. Semuanya gotong-royong demi membantu salah satu tetangga desa kami.

Penutup

Irlandia ini konon masuk sebagai salah satu negara yang individualis. Tapi dari pengalaman yang saya alami, engga juga kok, banyak tolong-menolong dan gotong-royong. Ada yang mungkin berargumen, ah ini mungkin karena desa tempat saya tinggal kecil. Tapi salah satu cerita yang saya tulis di atas kejadiannya di kota terdua terbesar di Irlandia.

Kesimpulan saya, individualisme itu tak hanya masalah kultur, tapi juga masalah mentalitas.
Tetangga saya, orang Irlandia, yang saya anterin pulang beberapa minggu lalu menanyakan satu pertanyaan yang penting dan vital: “Do you know anyone in the village?” Kamu kenal sama orang lain gak?

Lha kalau engga kenal dan kalau kita bawa mental individualis, gak nyapa orang, gak ngajak orang ngobrol, apalagi karena tinggal hanya sementara saja, tak mau repot berkenalan dan berinteraksi dengan masyarakat loka, ya orang-orang Irlandia akan menawarkan individualisme.

xoxo,
Tjetje
Dapat kangkung organik satu kresek dari tetangga sebelah rumah.

Cari Perhatian

Manusia itu pada dasarnya memerlukan tak hanya sandang, pangan dan papan, tetapi juga perhatian. Udah dari sononya perhatian menjadi kebutuhan kita. Namun, di media sosial, kita seringkali bertemu dengan orang-orang yang haus perhatian, seakan-akan mereka baru selesai marathon mencari perhatian di tengah padang pasir.

Mencari perhatian, kendati sebuah kewajaran berubah menjadi hal yang aneh ketika kebutuhan ini terlalu tinggi, hingga kemudian menciptakan aneka drama untuk mencari perhatian. Sebuah hal yang sebenarnya tak penting karena kita bukan para pejuang rating reality show seperti Kim Kardashian.

Cara mencari perhatian ini beraneka rupa, dari yang sekedar pamer cerita hidup secara berlebihan, ada yang mengumbar emosi dari satu sisi (baca: marah-marah di media sosial, tapi ceritanya gak berimbang), ada yang menyindir tetangga sebelah, hingga yang mati-matian mencari like tapi malah mengundang cemooh di R/LinkedIn Lunatics (sub-reddit ini sangat dianjurkan).

Lalu kenapa orang dewasa masih suka mencari perhatian, “apa yang salah” dalam kehidupan dan upbringing mereka sampai benar-benar harus perhatian? Saya iseng membaca aneka literatur tentang psikologi manusia pun menemukan banyak alasan.

Disclaimer dulu, ini bukan tulisan ilmiah dan saya tak selalu benar. Sumber bacaan saya juga belum tentu benar. Jadi jangan dianggap sebagai kebenaran absolut ya. Karena sesungguhnya yang paling benar adalah mereka yang suka mencari perhatian. Lainnya salah semua. #Eh

Kesepian

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Jadi kegaduhah yang dimunculkan di media sosial itu ternyata bermula dari akar penting, rasa kesepian. Bikin konten demi mengundang engagement supaya tak kesepian.

Ya ini sih masuk akal, kalau orang sibuk mah, boro-boro mikir bikin content drama, mau nengok media sosial juga gak sempet, apalagi mikir bikin konten yang mengundang reaksi. Bikin konten itu kan pakai mikir, menata kata-kata dan mengunggah pada waktu yang tepat.

Kesepian tak bisa dipahami sebagai tak ada yang menemani ya. Terkadang ada orang-orang yang dalam keramaian pun masih merasa kesepian karena kebutuhan untuk interaksi dengan manusia dewasa lainnya tak terpenuhi. Pssst… dalam perkawinan hal seperti ini biasanya mengundang perselingkuhan, fisik maupun batin.

Gak Pede

Ketika saya masuk kelas theater, saya diminta untuk berdandan seperti orang yang tak mandi, rambut tak diatur dan berlaku seperti orang dengan gangguan kejiwaan. Kami diminta berjalanan keliling kota Malang. Sendirian.

Tujuan dari proses ini untuk membangun kepercayaan diri & supaya kami tak peduli dengan apa kata orang tentang penampilan kami. People will always comment anyway, tapi yang penting pede dulu.

Kendati terlatih percaya diri, sebagai manusia saya masih tetap punya kecemasan dan nervous ketika harus melakukan public speaking (padahal ini kerjaan saya). Namanya juga manusia.

Nah, orang-orang yang nervous ini banyak yang bergantung pada pujian dari orang lain. Pujian tentang penampilan, skill serta hidup mereka menjadi booster untuk kepercayaan diri mereka. Kerja pujian ini tak datang, ya harus dicari dengan berbagai cara. Tanpa pujian ini, insecurities jadi merajalela.

Makanya saya tak pernah mempercayai keglamouran dan kepedean berlebihan di media sosial. Seringkali, begitu ketemu langsung, banyak yang bergulat dengan insecurities yang dimanifestasikan ke aksi-aksi cari perhatian.

Cemburu

Tak pede ini juga bersahabat dekat dengan kecemburuan. Kecemburuan ini muncul karena banyak alasan dan karena dipicu hal-hal yang sepele, dari kedekatan, materi, kesuksesan. Apa aja bisa menjadi pemicu kecemburuan.

Melihat teman yang dianggap kesayangan lebih dekat dengan orang lain, lalu cemburu dan posesif. Buru-buru membuat statement kedekatan, persis seperti anjing yang mengencingi pohon untuk marking dominance. Masalahnya, kedekatan manusia itu tak perlu statemen, hanya perlu aksi dan hubungan pertemanan yang kokoh.

Yoda, punya anxiety dan FOMO. Maunya ditemenin melulu, kalau engga dia cari perhatian cakar-cakar kaki orang.

Ketika tak diajak keluar, kemudian muncul FOMO (fear of missing out) yang dibarengi dengan permintaan untuk diajak. Kalau tak diajak, ada saja metode mencari perhatian yang akan dibuat. Dari mengaku diajak tapi tak bisa, hingga membuat acara tandingan yang mengikutkan banyak orang.

Melihat harta dan tahta orang lain juga seringkali menjadi cemburu. Kenapa rumput tetangga lebih hijau, plastik sekalipun? Kenapa aku tak punya ini dan itu, kenapa aku kok masih gini-gini aja, sementara orang lain lebih sukses.

Namanya juga manusia, kadang, atau bahkan seringkali lupa bersyukur.

Penutup

Manusia itu kompleks dan sangat menarik. Sebagai manusia, saya sendiri pernah bergulat dengan aneka hal yang saya sebut di atas. Dulu tapi, jaman masih pakai seragam warna biru dan kerepotan mencari tahu identitas diri.

Selayaknya manusia, kita berproses dengan berjalannya waktu dan juga pengalaman hidup. Sekarang kalau melihat hal-hal seperti ini, jadi bikin flash back ke masa di mana otak belum berkembang secara sempurna, mencari tahu tujuan hidup dan penuh insecurities.

Nah bagaimana kalau ketemu manusia yang hobi banget cari perhatian gini? Ya itu pilihan masing-masing. Kita bisa mengatur reaksi yang kita mau. Kalau punya tenaga dihadapi. Kalau saya, sekarang tak punya energi untuk menghadapi orang-orang kesepian yang caper gini.

Tjetje
sedang belajar menikmati JOMO

Tentang Masker & Vaksin

Disclaimer: Setiap orang berhak memilih prosedur kesehatan yang sesuai dengan kepercayaan mereka, apalagi prosedur yang akan mempengaruhi tubuh mereka. Tidak semua orang harus memilih hal-hal yang dianggap populer.

Jennifer Aniston kata media memilih untuk tidak berteman lagi dengan teman-temannya yang tidak divaksin karena takut menularkan (dan atau ditulari) virus. Ia juga enggan berhubungan dengan mereka yang tak mau membeberkan kondisi atau pilihan mereka. Soal yang terakhir ini cukup kontroversial, karena ini merupakan urusan yang sangat pribadi dan membuat beberapa orang cukup geram. Kegeraman ini membuat saya bertanya, berapa banyak dari kita yang harus kehilangan hubungan dengan orang-orang tercinta karena perbedaan pilihan?

Vaccine Hesitancy & Anti Vaksin

Beberapa orang yang saya kenal, menolak vaksin dan menolak menggunakan masker. Ada yang menolak sepenuhnya. Tetapi ada juga yang menolak vaksin C19 saja. Di era pandemi ini, mereka dikotak-kotakkan. Yang ragu dikategorikan dalam kelompok vaccine hesitancy.

Sementara yang gak mau sama sekali dikategorikan sebagai anti-vaksin. Sejarah mencatat, kotak-kotak terhadap kelompok anti vaksin sendiri sudah ada sejak sebelum pandemi ini mulai dan ada nada yang negatif dari masyarakat terhadap pilihan mereka.

Mereka yang memilih tidak divaksin, atau ragu-ragu tidak hanya orang Indonesia saja, tetapi juga orang asing. Perancis sendiri menjadi salah satu negara yang cukup tinggi angka keragu-raguannya di Eropa.

Lalu, saya ngobrol dengan pilihan mereka dan bertanya karena saya ini kepo. Perlu dicatat, mereka tak berutang penjelasan atas pilihan hidupnya. Tapi karena pilihan mereka tidak populer, ada baiknya juga memahami pandangan mereka. Saya bertanya karena ingin tahu, tanpa rasa menghakimi dan tak datang untuk berdebat.

Yoda sudah divaksin secara penuh dan boleh bermain dengan anjing-anjing lain.
Sebelum divaksin, ia tak diperkenankan bermain dengan anjing lain karena resiko terinfeksi penyakit yang lebih tinggi.

Masker

Penolakan terhadap masker ada banyak alasannya. Salah satu alasan utama yang sering kali saya dengar adalah sesak napas, apalagi jika mereka memang punya kondisi kesehatan. Kebijakan yang mengharuskan orang mengenakan masker, bahkan selama 8 jam saat kerja membuat orang-orang ini ketakutan. Takutnya nyata sekali; dulu beberapa orang yang saya kenal sampai harus dipulangkan dari kantor dan bekerja dari rumah karena ini (ini sebelum pandemi meledak ya).

Menariknya, ada yang merasa identitasnya tercabut karena pakai masker. Ekspresi muka tak kelihatan dan interaksi menjadi sangat terbatas dengan adanya masker. Selain itu, kekesalan dengan kebijakan pemerintah juga memicu sisi rebelious. Capek dan kesal dengan pemerintah yang mengganti-ganti aturan terus-menerus dan menberi pembatasan.

Untuk konteks, aturan di Irlandia memang berubah terus dan seringkali konyol. Ditambah lagi selama pandemi ini pemerintah di sini membuat beberapa skandal, dari bikin pesta, melanggar aturan travel, pesta yang melepas maker, dan tentunya ketahuan. Tak heran kalau kemudian orang jadi eneg dan menentang masker. Masker agaknya dilambangkan sebagai simbol penekanan.

Bagaimana dengan vaksin?

Ada banyak keraguan, ketakutan dan keengganan karena vaksin. Pertama karena mRNA, masih digolongkan “baru”, lalu pembuatan vaksin yang tergolong cepat juga menambah keengganan. Ada pertanyaan besar apakah vaksin ini benar-benar aman atau tidak, apalagi vaksin tidak 100% melindungi dari C19.

Efek samping vaksin terhadap tubuh juga menjadi alasan lain lagi. Badan baik-baik saja kok secara sengaja dimasuki benda asing hingga mengalami banyak reaksi seperti demam dan pusing tak terkira. Ditambah lagi, mereka yang mengalami efek samping ini, apalagi yang cukup parah, seringkali tak boleh berbagi di media sosial. Postingan atau bahkan akun mereka dihapus oleh media sosial ini. Padahal yang mereka bahas itu reaksi faktual dari vaksin & yang posting tak anti vaksin sama sekali.

Selain hal-hal di atas, ada keengganan dan ketidakmauan yan tinggi ketika tubuh mereka sendiri memiliki imunitas yang cukup tinggi. Tak pernah mengalami sakit menjadi salah satu alasan. Gaya hidup yang lebih alami, tanpa bahan kimia juga dipercaya, dan menurut mereka terbukti membuat tubuh mereka jauh lebih sehat.

Diskriminasi?

Lalu, bagaimanakah mereka diperlakukan di Irlandia yang sudah mulai membuka diri? Membuka diri di sini termasuk kegiatan ekonomi bergejolak lagi, hotel dibuka, restauran buka untuk makan di luar dan juga di dalam bangunan. Menurut aturan yang berlaku saat ini (ini besok bisa ganti lagi), mereka yang sudah divaksin boleh duduk di dalam selama mereka menunjukkan bukti vaksin. Sementara mereka yang tak divaksin, boleh duduk di dalam jika menunjukkan hasil tes PCR, atau menunjukkan bukti pernah terkena Covid dalam waktu 6 bulan terakhir. Penerapannya di lapangan bermacam-macam, ada yang dicek, ada yang tak dicek, dan ada yang disuruh keluar.

Traveling sendiri juga sama. Yang sudah divaksin bisa melenggang dengan EU vaccine passport sementara yang tak divaksin harus merogoh kocek untuk tes PCR di instasi private. Tes gratis yang disediakan pemerintah tak diperkenankan untuk keperlukan jalan-jalan.

Pendeknya, tak ada diskriminasi, mereka semua bisa mengakses hal-hal yang sama, hanya saja dokumen yang diperlukan berbeda. Lalu bagaimana jika mereka dikonfrontasi, seperti ketika masuk ke dalam toko dan harus menggunakan masker. Di sini, penggunaan masker di dalam toko diwajibkan.

Nah, mereka ternyata sudah siap untuk berhadapan dengan para pegawai toko. Jika diminta menggunakan masker, mereka akan mengatakan sebagai pengecualian. Di Irlandia sendiri pengecualian hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang rentan. Tanpa dokumen ini semua harus mengenakan masker.

Ketika mereka tak bisa memberikan dokumen ini, biasanya, mereka akan diminta keluar dari toko. Ya keluar aja dan tak pernah kembali ke toko yang sama. Supermarket yang mengakomodasi orang-orang tanpa masker sendiri biasanya banyak menerima komplen di media sosial.

Penutup

Pandemik mengubah cara interaksi kita dengan manusia lain. Kebijakan publik juga berubah untuk menekan angka infeksi, kapasitas rumah sakit. Kegiatan ekonomi sendiri juga turun drastis.

Memahami pilihan vaksin dan masker itu membuka saya tentang cara pandang orang lain yang berbeda dari cara pandang kebanyakan dari kita. Ada banyak faktor di belakangnya, ada ketakutan, keengganan, ketidakpercayaan, kepercayaan dan pandangan yang berbeda atau bahkan perlawanan pada otoritas. Apapun pilihannya, itu pilihan masing-masing.

Yang pasti, pandemi ini mengubah banyak hal. Kita hidup dalam kondisi yang semakin tak pasti, diiringi sedikit (atau banyak), ketakutan dan kecemasan. Apalagi dengan berita kematian yang belum juga berhenti. Semua orang, merasa kelelahan jiwa dan juga kelehan mental.

Lalu, kalau kemudian pertemanan tak bisa dilanjutkan lagi karena pandangan yang berbeda ini, ya tak usah dilanjutkan. Manusia itu tak selalu harus cocok, tak selalu harus memiliki pandangan yang sama. Kalau memang memilik tak bisa mentolerir pandangan yang berbeda, tinggal hapus aja dari daftar pertemanan atau kalau lebih ekstrem, blok aja.



Kamu, seperti Jeniffer Aniston juga?


Tjetje
Pengguna masker yang sudah divaksin secara penuh.

Tapi, bukan teman Jeniffer Aniston.