Bukan sekali dua kali saya baca “witch hunt”, sebagian netijen memburu penerima beasiswa LPDP lalu melemparkan tuduhan tidak memenuhi kewajiban untuk kembali pulang ke tanah air. Dalam perburuan ini biasanya ada satu orang yang menggali mencari tahu tentang tertuduh; dari mencari tahu akun media sosial, jejaring profesional, hingga mencari thesis.
Lalu, hasil “investigasi” ini diumbar ke media, supaya tertuduh bisa dipermalukan dengan tuduhan tanpa bukti. Tak jarang perilaku ini melibatkan “koordinasi kekerasan” untuk mengeroyok dan menyerbu akun tertuduh.
Terkadang, ada netijen yang kemudian menuntut klarifikasi. Hah, atas dasar apa merasa paling punya hak untuk minta klarifikasi? Disangka mereka artis atau publik figur yang menggelapkan pengadaan Chrome notebook?
Hanya karena kalian bayar pajak, bukan berarti kemudian bisa mengkoordinasikan pengeroyokan daring seperti ini. Ada namanya proses & pengumpulan bukti. Tapi yang saya perhatikan, tuduhan-tuduhan ini seringkali tanpa bukti. Ya gimana mau mengumpulkan bukti, kalau perjanjian ini antara dua belah pihak: penerima beasiswa dan pemberi beasiwa. Kalau kemudian penerima beasiswa dapat pengeculian juga kita semua tak akan pernah dan tak berhak untuk tahu. Perjanjian ini kan antara penerima dan pemberi beasiswa.
Di satu kasus saya bahkan melihat orientasi seksual seseorang dipermasalahkan. Foto perkawinan diumbar ke media sosial, lalu jadi bahan hujatan untuk para homophobic. Sungguh beradab.
Rasa cemburu pada penerima beasiswa LPDP, khusus LPDP ya, saya perhatikan juga cukup tinggi. Satu masa, penerima LPDP ini juga dikritisi ketika mereka jalan-jalan, atau kalau hidup mereka terlihat “glamor”. Petty banget ini. Di Eropa, jalan-jalan ke negara lain itu murah dan mudah. Ada kereta, yang memberikan diskon untuk pelajar, dan ada penerbangan murah macam Ryan Air. Jaringan mahasiswa ini setahu saya juga cukup kuat. Mereka suka saling berkunjung dan menginap di tempat pelajar lainnya. Mumpung di negara orang.
Realita Kehidupan Mahasiswa

Dari beberapa interaksi saya dengan pelajar penerima beasiswa LPDP di Irlandia, saya belajar bahwa stipend atau uang saku mereka itu tak besar. Lebih besar UMR. Tapi saya juga paham kalau kepala sebagian orang, apalagi yang belum pernah menjejak ke luar negeri, suka merupiahkan uang saku yang tak seharusnya dirupiahkan. Yang sudah di luar negeri aja masih suka bikin konten beginian, eh…
“Tiap bulan dapat duit sekian puluh juta, itu kan banyak banget?”
Komentar seperti ini menggambarkan seakan-akan penerima beasiswa bermandikan uang. Sementara, bagi kami para diaspora, angka stipend mereka ini sangat kecil. Jadi kami pun paham kalau mereka yang kuliah di Dublin harus tinggal di kota yang berbeda, atau bahkan county yang berbeda provinsi.
Duit mereka tak hanya tak cukup untuk sewa di Dublin, tapi juga mereka harus nalangin biaya hidup di depan selama tiga bulan. Beasiswa mereka baru dibayarkan setiap tiga bulan sekali, dan pembayaran ini di belakang, bukan di muka.
Satu hal lagi yang sering saya perhatikan, sebagian netijen ini juga salah paham dan merasa bahwa orang mampu tak berhak untuk mengakses beasiswa ini. Padahal jelas-jelas LPDP ini targetnya bukan orang miskin, tapi semua orang yang punya kemampuan belajar. Jadi kalau ada artis berduit mengakses, gak perlu dengki. Toh mereka juga warga negara dan pembayar pajak.
“Ngapain orang kaya dapat beasiswa?”
Penutup
Semakin ke sini saya semakin melihat banyaknya perilaku-perilaku toxic terhadap penerima beasiswa LPDP di media sosial. Di beberapa kasus, ada rasa dengki yang dipelihara, disebarkan melalui media sosial, lalu disiram amarah yang membara supaya orang lain ikut-ikutan.
Lalu, tanpa tahu fakta, diajaklah orang lain untuk beramai-ramai menyerang.
Kenapa? Kalau memang ada pelanggaran dan ada bukti, kenapa tak dilaporkan saja melalui jalur yang baik dan benar? Tidakkah itu lebih baik ketimbang membangun pengadilan di media sosial?
Ah wait, kalau lapor lewat jalur yang resmi kan gak seru, gak bisa mengorek kehidupan pribadi, mempermalukan dan menyerang seksualitas, menyerang pemberi kerjanya dan kemampuan akademik orang lain.
xoxo,
Tjetje












