Entah sudah berapa kali saya ke Paris. Dari mulai sekadar nonton musik klasik di Versailles, janjian ketemu dengan adik saya, ketemu mantan bos, sampai sekadar jalan-jalan dengan sahabat saya menyusuri sudut-sudut kota. Dua minggu lalu saya kembali lagi ke Paris, kali ini untuk nonton konser.
Ritual ke Paris
Tiap ke Paris saya punya ritual, jalan-jalan di Jardin du Luxembourg di pagi hari, sambil nongkong di bawah air mancur Medici. Tahun ini, kunjungan saya spesial, karena saya janjian dengan seorang teman, yang juga guru bahasa Perancis saya. Dulu, tak lama setelah lulus SMA, saya sempat kursus privat dengan teman ini. Jadilah dua orang Aremanita ini pun duduk-duduk berbagi kabar.

Selain Jardin du Luxembourg, sebisa mungkin saya juga shopping ke La Grande Épicerie de Paris. Ini supermarket mewah dengan aneka pilihan rupa-rupa produk. Saya sangat menyukai jalan-jalan di supermarket. Kali ini saya berbelanja sablé, biskuit dengan rasa mentega yang kuat, garam Perancis, dan juga pasta chesnut untuk crêpe.

Tak Ramah
Paris juga sangat identik dengan ketidakramahan. Pelayannya seringkali dibilang tak ramah, tapi saya juga tak bisa menyalahkan. Mereka sangat sibuk, perlu bekerja dengan cepat, sementara turis-turis seringkali belum siap pesan dan sudah memanggil pelayan. Please deh, tugas pelayan itu bukan nungguin kita berpikir.
Pengalaman saya juga selalu baik kalau berurusan dengan jasa, mereka cukup ramah, bisa diajak ngobrol, bahkan bisa diajak guyon. Di sebuah sudut cafe, salah satu pelayan juga dengan ramahnya menyuruh saya pesan wine dan tak usah minum air. Lalu kami pun tertawa tergelak. Kalau di Perancis ya mesti minum wine.
Paris mungkin tak seramah Dublin, tapi Paris tak seburuk yang dipikirkan orang. Ini tentunya sangat bias, karena saya penutur bahasa Perancis.

Bau Badan
Berada di Paris pada saat heatwave juga berarti semua orang berkeringat, apalagi ketika tak ada AC. Bau badan dimana-mana, apalagi di dalam kendaraan umum. Sudah penuh, tangan sibuk berpegangan, ketiak terbuka lebar, dan baunya pun kemana-mana.
Tapi, perlu digarisbawahi juga: saya pun juga bau. Baru keluar dari kamar hotel tanpa AC saja saya sudah berkeringat dan sedihnya, parfum saya tak ampuh untuk membasmi keringat dan bau badan.
Makanan Indonesia
Selama ke bolak-balik ke Paris, saya cuma sekali makan makanan Indonesia. Kali ini, rekan perjalanan saya sudah minta makan nasi dan kurang terbuka dengan makanan Perancis. Akhirnya saya pun mencoba makanan Indonesia.
Ada dua restoran yang saya coba, Restoran Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1982 di dekat Jardin du Luxembourg dan juga Le Nusa, restoran Indonesia yang konon dimiliki oleh Raffi Ahmad.

Dua-duanya menawarkan hal yang berbeda. Di Resto Indonesia saya mencoba set menu dengan bakwan dan nasi rendang, sementara di Le Nusa saya mencoba bebek. Dua-duanya enak, harganya sangat reasonable dan tak mahal, dan yang paling penting saya berkesempatan duduk bersama, makan dengan rekan blogger yang saya kenal dari Multiply sejak belasan tahun lalu. Sungguh spesial!
Penutup
Sebagai penutur bahasa Perancis, Paris ini selalu punya tempat spesial di hati saya. Bertahun-tahun selama belajar bahasa Perancis di CCF (Pusat Kebudayaan Perancis) dan IFI (Institusi Perancis Indonesia) saya selalu diajarkan untuk bicara bahasa Perancis seperti Parisienne. Ini jadi mantra guru-guru saya dulu di IFI.
Selama kursus, saya juga banyak dikenalkan dengan budaya Perancis. Suara-suara di bandara dan juga di stasiun metro dan kereta menjadi suara yang sangat familiar dengan telinga saya. Dulu suara-suara ini rutin menjadi bagian dari ujian bahasa saya. Ah Paris!
Kamu, kapan terakhir menjejak di Paris?
A+ dans le bus Paris,
Tjetje


















