Tulisan panjang ini akan membahas topik perundungan dan mungkin akan triggering bagi sebagian dari kalian. Please mind yourself and your reactions.
Beberapa bulan belakangan ini, kalau ketemu dengan teman atau keluarga secara langsung, pertanyaan yang saya terima pasti soal hater saya yang menggunakan nama samaran: Dymphna. Ini pernah saya bahas sekilas di sini.
Mereka bertanya hal yang serupa:
“Bagaimana awal mulanya?”
Lalu mereka menanyakan kelanjutannya. Jadi mari kita bahas bagaimana awal mulanya Stephbun menjadi terobsesi dengan saya hingga detik ini.
Who, What, When, Where
Hater saya ini WNI yang tinggal di sudut Jabodetabek. Dia mulai aktif di media sosial dan berkoar-koar tentang Irlandia sekitar tahun 2025 lalu. Sebagai buzzer, dia juga aktif berkoar-koar soal politik Indonesia. Ada lebih dari 10ribu postingan debat kusir dia soal politik.
Di media sosial dia menampilkan diri dengan dua kepribadian yang bertabrakan: sebagai anak Katolik yang membela nilai-nilai Katolik, tapi juga menyebarkan ujaran kebencian pada semua orang. Ia sangat membeci diaspora dan sering kali menghina kami dengan kata-kata tak pantas. Tak cuma diaspora, dia juga teramat sangat benci terhadap orang Indonesia. Tak terhitung sudah berapa kali ia menggunakan aneka slurs ketika membicarakan orang Indonesia.
Dia menggambarkan diri di media sosial dengan aneka kesuksesan, beberapa di antaranya bisa dibaca di postingan awal saya di sini. Setelah saya disenggol, saya pun mulai mencari tahu tentang dia. Hasil investigasi saya sangat jelas: dia tidak tinggal di Irlandia dan tidak pernah menjejakkan kaki ke Irlandia. Dia hanya bermimpi punya suami orang Irlandia.
Dalam menggunakan media sosial, dia juga rajin melakukan pelanggaran. Sudah dua kali dia kehilangan akun, hangus karena aneka ujaran kebencian dan perundungan. Tiap kali akunnya hangus, dia akan kembali dengan akun baru. Kembali merundung dan kadang-kadang nekat tagging saya.
Kendati sudah saya blok, dia juga masih rutin memantau postingan saya, dari mulai di Thread sampai di blog, secara rutin. Screenshot di bawah ini menggambarkan perundungan yang dia lakukan baru-baru ini. Yang model gini termasuk ringan, karena tak ada incitement of violence.

Why
Ini pertanyaan yang selalu ditanyakan: Kenapa dia sangat terobsesi dengan saya?
Pertanyaan ini susah, karena cuma dia yang tahu. Dan dari teori-teori yang saya baca sekilas, tukang merundung itu haus pehatian. Mereka marah-marah dan menghina orang supaya dirinya merasa punya kekuasaan dan merasa lebih baik.
Menurut keyakinan saya, obsesi ini muncul karena sakit hati komentar tak dibalas, lalu dikombinasikan dengan iri hati melihat haya punya suami orang Irlandia dan kehidupan di Irlandia. Sebuah hal yang sebenarnya sudah dia kejar sehari dulu, tapi sampai detik ini belum juga terwujudkan.
Kenapa saya bisa memiliki keyakinan seperti itu? Well jawabannya bisa dicari di Instagram dia. Bless her mind for being so simple ya, foto-foto pria yang dia ajak ngobrol itu dia unggah di media sosial dia sendiri. Lalu, rekam jejak dia juga menunjukkan perubahan IG handle berdasarkan nama belakang pria ini. Pada satu masa namanya Townsend, di masa kini dia mengaku bernama McCrory.

What’s next?
Lalu gimana kelanjutannya? Apa ada yang akan saya lakukan?
Sempat ada perbincangan dari beberapa korban dia untuk melangkah lebih jauh. Beberapa korban juga siap untuk urunan. Tapi tiap kali topik ini muncul, saya selalu bertanya: “Untuk apa?” “Apa yang saya cari dari semua ini?”
Pun setelah bolak-balik diumbar kebohongannya oleh banyak netizen dia gak berhenti, terus ngelantur. Kalau saya bongkar ponakan saya sekolah di sekolah yang dia sebut, kalau saya sebut tante saya adalah anggota gereja yang dia akui sebagai parish-nya dan saya sudah duduk ikutan misa di gereja itu, apa terus dia akan mengaku malu? Kalau saya bilang saya sudah duduk makan di resto yang dia bilang lakinya kerja di sana, apakah dia akan mengakui kehaluannya? Nope. Justru dia akan membuat banyak alasan dan kemudian menuduh kita yang berbohong. Gaslighting much.
Urat malu dia sudah putus & tak ada gunanya dikonfrontasi. Buang-buang energi.
Plus, saya selalu berpikir tentang orang tuanya yang sempat dibahas di Thread oleh salah satu teman kuliah dia. Pasti berat banget hidup mereka ketika harus berhadapan dengan anak dewasa yang rajin tantrum di dunia maya dan hidupnya kurang produktif secara ekonomi dan intelektual. Sebagai orang tua, hidup mereka pasti diwarnai aneka kecemasan.
Penutup
Di Thread, saya rajin berbagi hal-hal receh tentang Irlandia. Tapi tulisan-tulisan ini asumsi saya sangat triggering buat dia, karena mengingatkan pada realitas bahwa dia tak bisa menjejak ke Irlandia. Dia juga menjadikan saya bahan kompetisi, kompetisi yang saya tak pernah ikutan daftar, dan dia tak akan pernah bisa menang.
Anyway, saya harap tulisan ini menjawab semua pertanyaan tentang Dymphna. Udah ya, saya gak mau menerima pertanyaan tentang dia lagi dan gak mau bahas dia lagi. Gak penting, pakai banget. Bagi saya, dia cuma seorang individu yang merasa lebih tinggi dari orang Indonesia dan merasa lebih tinggi ketimbang bini bule. Ironisnya, hidup kami, para bini bule yang menemukan cita dan cinta ini adalah hidup yang sangat dia impikan.
Bye Felicia, I wish you nothing but the best with your love and your life!
xoxo,
Tjetje





















