Teh Indonesia yang Tersisih di Negeri Sendiri

 

Sebagai orang Indonesia yang tinggal di negeri asing, kembali ke Indonesia berarti menyesap segala hal yang berbau Indonesia untuk melepas rasa rindu. Selain urusan perut, perjalanan pulang juga biasanya diwarnai dengan pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga dan juga teman-teman untuk sekedar berbagi kabar, ataupun diskusi dan ngobrol berbagai topik penting, termasuk politik yang sangat panas.

Di Jakarta, bertemu dengan teman-teman biasanya saya lakukan di berbagai tempat, dari hotel, kantor hingga mal. Tempat yang terakhir ini tentu saja menjadi tempat favorit warga ibukota. Biasanya, ngobrol-ngobrol  di pusat perbelanjaan ini jika tak di tempat makan ya di warung kopi, coffee shop, Café. Tempat-tempat ini biasanya menawarkan kenyamanan, dari colokan, hingga pilihan menu yang beragam, dari camilan ringan hingga makanan berat.

Ada satu hal yang bikin saya jadi norak dan nista banget ketika masuk kedai-kedai kopi mahal ini, karena saya selalu minta teh asli Indonesia. Permintaan saya ini selalu dibalas dengan tatapan aneh penuh penghakiman dan kemudian dibalas dengan jawaban TIDAK ADA TEH INDONESIA yang dijual karena mereka hanya menjual teh impor. Lalu, para barista mulai menyebutkan nama-nama teh yang mereka punya, dari earl grey, hingga English Breakfast. Sebagai orang Indonesia, saya SEDIH BANGET, karena saya ingin mendengarkan teh tubruk, teh melati atau Indonesian Breakfast. Salah satu barista yang saya curhati mencoba menghibur saya dengan mengatakan bahwa mereka punya kopi-kopi Indonesia. Btw, ini gak cuma kejadian di kota besar lho, di Malang saya juga mengalami hal yang sama dan tentunya bukan di warung kopi jaringan internasional.

When in Ireland, one has to enjoy a cup of "French tea". #Ireland #Dublin #Laduree #JelajahIrlandia

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Saya yang patah hati ini kemudian teringat dengan kunjungan ke sebuah perkebunan teh milik pemerintah di kawasan kabupaten Malang lebih dari satu dekade lalu. Disana saya dan rekan-rekan kuliah mendapatkan penjelasan tentang proses pembuatan teh, dari mulai pemetikan, pemrosesan serta proses ekspor teh tersebut. Disana pula saya terkejut ketika tahu bahwa ternyata daun teh yang memberikan teh berkualitas baik itu dikirimkan ke luar negeri, semuanya! Kalaupun ada, biasanya dijual dalam jumlah terbatas di koperasi milik kebuh teh tersebut. Bagi kantong saya saat itu, teh tersebut memang lebih mahal ketimbang teh di pasar. Selain teh pucuk pertama, teh lapisan ke dua juga dikirim ke luar Indonesia. Teh untuk konsumsi dalam negeri hanya sisa-sisa di bagian bawah. Saya menyebut teh Indonesia itu teh KW 3.

Terus terang itu pengalaman lebih dari satu dekade lalu, dan saya tak tahu bagaimana perkembangan industri the nusantara. Tapi apapun situasinya, rasanya menyedihkan sekali ketika teh yang ditanam dan dipetik ibu-ibu Indonesia ini bahkan tak layak untuk duduk bersanding dengan kopi-kopi nusantara.

Makin mampus begitu ngeliat cemilan seperti ini. #Meraung

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Bicara tentang teh saya pernah beberapa kali menulis bahwa di Irlandia konsumsi tehnya sangat tinggi dan mereka, orang Irlandia, sangat bangga terhadap tehnya, padahal mereka tak punya kebun teh. Saking bangganya, bagasi mama saya yang kelebihan beberapa kilo pun bisa lolos tanpa biaya tambahan ketika kami minta maaf karena koper dipenuhi dengan Irish tea dan juga Irish chocolate.

Kebanggaan itu yang tidak saya lihat di Indonesia, mungkin karena kita memang tak punya budaya minum teh yang kuat. Mungkin juga karena kualitas teh Indonesia dianggap tak layak masuk ke dalam warung-warung kopi. Teh kita cuma bisa disesap di abang-abang starbike, di rumah-rumah, ataupun di warung-warung sederhana tanpa pendingin ruangan, apalagi jaringan internet.

Ah sudahlah, mungkin saya yang mintanya terlalu banyak dan terlalu nyinyir. Kamu sukanya teh apa?

The joy of having a cup of tea and putu ayu. Oh life is good. #Dublin #Ireland #IndonesianFood

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

 

Xx,
Tjetje

Nasib Musik Indonesia 

Jaman kaset masih berjaya, saya termasuk orang yang rajin membeli kaset yang seingat saya harganya tiga puluh ribu rupiah. Saat itu, membeli kaset-kaset terbaru menjadi sebuah hal yang menyenangkan karena bisa update dengan musik terbaru, apalagi jika kemudian bisa menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Harap maklum ya, jaman itu belum ada internet, jadi anak-anak muda mengisi waktunya dengan aneka hal yang mungkin dianggap norak oleh anak jaman sekarang. Termasuk mengkoleksi lirik lagu yang pernah dibahas oleh Mas Agung Mbot di postingan ini.
Bagi yang tak tahu, mendengarkan kaset itu ada seninya. Apalagi jika lagu favorit ada di sisi A dan selalu ingin didengarkan kembali tanpa merewind supaya pita tak rusak. Saya mengakalinya dengan membalikkan kaset ke sisi B, lalu mendengarkan satu lagu dan membaliknya kembali ke sisi A. Terdengar ribet mungkin, tapi jaman dulu kami punya banyak waktu dan tak disibukkan dengan perkelahian politik dan agama di media sosial.
Aktivitas merekam musik secara ilegal marak dilakukan di rumah, dengan bermodalkan kaset kosong seharga lima ribu atau delapan ribu rupiah. Tergantung mereknya. Lagu-lagu kemudian direkam melalui musik yang diputar di radio. Tangan harus cepat tentunya supaya bisa menekan tombol rekam di detik yang pas, dan menghentikannya persis ketika musik berhenti. Butuh kecekatan khusus. Radio sendiri mengurangi perekaman ilegal dengan memutar nama stasiun radionya persis saat lagu dimulai. #Cerdas

Ketika CD mulai masuk, kaset mulai tergusur. Apalagi ketika muncul CD-CD bajakan, serta musik-musik digital yang tak memerlukan kecekatan tangan. Lagu-lagu juga bisa diunduh secara gratis kemudian didengarkan melalui komputer. Jaman kuliah, saya termasuk salah satu pelakunya.

Tapi kenikmatan mendengarkan musik dari komputer dan dari alat pemutar musik itu tak sama. Saya pun kembali ke cara konvensional dengan membeli pemutar CD dan mulai mengkoleksi CD. Tak cuma saya, Ibunda saya juga ikutan. Koleksi CDnya berjibun. Kami senang memutar lagu dengan kencang sambil melakukan hal-hal lain, termasuk duduk membaca majalah atau sambil ngobrol. Khas Indonesia bangetlah.

Cassettes which used to be our best friend. #TokoKaset #Casette #Indonesia #IndonesianShop #DutaSuara

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Ketika pindah ke Irlandia, sebagian CD saya saya berikan pada mama, sementara sebagian lainnya saya bawa ke Irlandia untuk menemani saya.Saat liburan kemarin, saya mengagendakan untuk membeli beberapa CD supaya bisa saya bawa kembali ke Irlandia. Ternyata, toko kaset dan CD di Jakarta tinggal satu saja, di Duta Suara, di jalan Sabang. Tokonya sendiri sepi, tak ada pembelinya. Dan saya pun kalap membeli banyak CD musik Indonesia.

Terus terang saya sedih sekali melihat kondisi ini. Tapi apa daya, dunia sudah berubah ke arah digital dimana akses terhadap musik terbuka luas melalui iTunes, Spotify atau perpustakaan lagu lainnya. Penikmat musik diberi akses pada jutaan lagu-lagu tetapi dibatasi oleh ketersediaan baterai pada gawai.
Perilaku kita yang masih mengunduh musik secara ilegal ini tak heran membuat banyak musisi meradang. Janji bersama dari para pedagang bajakan untuk tidak menjajakan musik ilegal Indonesia patut dihargai dan diapresiasi, tapi sayangnya tak bisa menyelamatkan musisi dari perampokan karya intelektualnya, karena masih banyak dari kita yang merampas hak mereka. Ah mentalitas gratisan ini.

Bagaimana dengan kalian, suka musik bajakan atau rajin beli?

xx,
Tjetje

Khas Indonesia Banget 

Mungkin beberapa hal yang saya tulis di bawah ini terdengar biasa-biasa saja bagi kebanyakan dari kalian. Tapi semenjak pindah ke luar, hal-hal sepele ini membuat saya melihat perbedaan mencolok dengan negara tempat tinggal saya. Lucunya, perbedaan ini tak saya lihat sebelumnya ketika saya kerap menengok pasangan di Dublin. Memang beda ya kalau tinggal dan liburan.

Musik
Pernah merhatiin gak kalau orang Indonesia itu suka sekali dengan musik dan selalu memainkan musik dimana-mana. Maksudnya sih biar ramai dan gegap gempita. Di salon (yang bikin susah ngobrol dengan hairstylistnya), di restauran (yang bikin susah ngobrol dengan teman) bahkan di kendaraan umum. Nulis ini saya jadi inget abang mikrolet yang suka pasang speaker segede gaban (gaban itu apaan sih?) dengan suara musik dangdut yang menggelegar. Kalau sudah gitu malas naik deh, karena kuping bisa sakit.
Di Irlandia saya jarang sekali mendengar musik di ruang-ruang publik, apalagi yang kenceng, kecuali mereka yang mengamen di jalanan. Pada kendaraan pun pemusik ini tak diperkenankan mengamen, tak seperti di Perancis yang jadi nyeni karena metronya diwarnai pengamen. 
Kehadiran musik dimana-mana tak diwarnai dengan usia toko kaset dan CD yang panjang. Di Jakarta saya kesulitan mencari toko kaset dan hanya tinggal satu Duta Suara yang tersisa. Nampaknya musik-musik ini hasil bajakan semua. 
Colokan dimana-mana 
Power bank saya teronggok di dalam laci sejak lama. Bagi saya colokan lebih baik ketimbang Power bank demi kelangsungan usia baterai yang lebih lama. Di Indonesia, menemukan colokan itu gampang banget. Bahkan di beberapa Café saya semakin banyak menemui charging station untuk meninggalkan handphone.
Nampaknya cara Restaurant, Café dan rumah makan di desain untuk mengakomodasi seribu colokan. Jauh berbeda dengan Irlandia yang miskin colokan. 
WiFi friendly 
Ada guyonan Warung-warung kopi di Indonesia itu sebenernya jualan wifi, bukan. Jualan kopi. Ya gimana, kopinya segelas, wifinya dipakai buat mengunduh film. Makenya pun berjam-jam.
Beberapa coffee shop bahkan meletakkan kata sandi untuk wifi di dekat kasir supaya tak ditanya lagi. Tingginya kebutuhan akan wifi ini memang harus dipahami mengingat mahalnya harga Internet di Indonesia. Saya yang pengguna setia Telkomsel ini menghabiskan lebih dari lima ratus ribu untuk liburan dua minggu. Ini internetnya paketan lho ya. Entah gimana data kayak kesedot mesin. Mungkin ini sebabnya orang lebih banyak menggunakan wifi ketimbang data di telepon genggam.
Kamar mandi tanpa kode


Di Irlandia itu kamar mandi diberi kode, termasuk yang Di Starbucks. Orang sini memang pelit dengan akses terhadap kamar mandi dan orang-orang yang akan akses kamar mandi harus memasukkan kode yang ada di tanda terima.
Di Indonesia mau ke kamar mandi gampang, gak perlu repot-repot cari kode atau berhadapan dengan barista yang nyolot ketika dimintai kode. Tapi, biarpun tanpa kode, kamar mandi di Indonesia joroknya masih luar biasa. Becek, bekas kaki, bahkan tissu berserakan.
Kamu, pernah merhatiin gak hal-hal yang Indonesia banget? 
xx,

Tjetje 

Seputar SIM dan Menyetir di Indonesia

Saya tak pernah melihat kebutuhan untuk bisa menyetir selama tinggal di Indonesia. Tapi cerita ini kemudian berubah ketika saya pindah ke Irlandia dan belajar menyetir dengan baik dan benar. Saya tulis baik dan benar, karena disana belajar menyetir itu jelas aturan mainnya.

Mudik kali ini, saya jadi memperhatikan bagaimana para pengemudi mengendarai kendaraan. Lalu saya yang anak ingusan ini jadi gemes, pengen mengoreksi cara beberapa supir menyetir, karena bagi saya mereka merusak mobil dengan gaya menyetirnya yang awut-awutan. Selain pasang gigi untuk kecepatan yang salah, mereka juga tak bisa jalan lurus dan mematuhi marka.

Suasana ujian SIM, ditemani blower-blower AC. Jangan bayangkan panasnya deh. Gak heran kalau foto SIM itu pada lecek semua.

Bicara tentang awut-awutan, saya juga gondok luar biasa dengan sepeda motor di Jakarta dan Malang yang entah gimana bisa dapat SIM dengan gaya menyetirnya yang amburadul, serobot kanan serobot kiri. Sepeda motor ini merasa memiliki seluruh jalanan di Indonesia dan merasa paling berhak menyetir dimana saja tanpa mengindahkan peraturan. Gak semua memang, tapi buanyaaaaaak banget yang gini dan membuat pengalaman menyetir jadi melelahkan jiwa.


Di media sosial dan di masyarakat sendiri ada stereotype untuk Ibu-Ibu yang katanya kalau nyetir ngawur. Dari kacamata saya stereotype ini salah, karena yang nyetir ngawur gak cuma Ibu-Ibu saja lho, tapi juga bapak-bapak, abang-abang, Mbak-mbak dan para remaja belasan tahun yang bahkan belum tahu pentingnya mengenakan helm. Semuanya ngaco dan saya yakin kalau tes SIM akan gagal.

Ngomongin soal SIM, saya ke Samsat dong untuk bikin SIM. Luar biasa, Samsat sekarang bebas dari calo. Semua orang harus mengurus sendiri dari tes mata sampai tes praktek. Tes mata yang dibandrol seharga 25ribu rupiah hanya menyajikan dua soal dan mata saya yang langsung dinyatakan sehat. Kelihatan sebagai formalitas aja kan? Tetapi begitu tes tertulis, semuanya berubah menjadi menyeramkan. Konon, dari 2000 aplikasi, yang gagal bisa mencapai 1300. Salah satunya saya. Tapi saya tak menyerah, setelah gagal mencoba lagi. Fiuh….

Anyway, waktu saya tes tertulis ada mbak-mbak media yang mengalungkan kalung media ternama berwarna hitam yang nampaknya meminta perlakuan khusus. Si Mbak sukses dibentak polisi, begini kalimat pak Polisi: “soalnya semua sama Mbak, gak ada soal khusus wartawan dan umum”. Agaknya Mbak wartawati ini tak tahu bahwa wajah kepolisian mulai berubah, bahkan anggota Polisi saja duduk mengikuti tes bersama saya. Bapak-bapak Polisi ini pelit lho, tak bisa dimintai jawaban jumlah denda jika tak memiliki SIM. Mungkin juga mereka tak tahu.

Saya senang melihat perubahan-perubahan di instansi di Indonesia. Tapi, hati kecil saya jadi ingin tau, apakah perubahan ini akan bertahan atau hanya hangat-hangat tai ayam? Entahlah, yang jelas jalanan Jakarta masih akan tetap berantakan, karena tak ada kendaraan yang bisa berjalan sesuai aturan. Di Jakarta, jalannya adalah rimba dimana semua orang bisa saling maju-mundur seruduk sana sini. Satu-satunya yang menyelamatkan Indonesia adalah fakta bahwa menyetir di sini kebanyakan setengah kopling dan gigi yang digunakan paling banter gigi tiga. Kendati kendaraan-kendaraan yang berlenggok-lenggok laksana merak yang lagi terbuai birahi ini berkecepatan rendah, kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Kamu punya SIM lokal? Jangan sampai terlambat perpanjang ya, satu hari keterlambatan saja harus mengulang proses.

Xx,
Tjetje

Basa-basi di Irlandia 

Dulu ada seorang blogger di Multiply  yang pernah cerita sama saya kalau orang Irlandia itu persis banget sama orang Indonesia, suka basa-basi. Jaman dia cerita itu saya gak punya ide sama sekali tentang Irlandia (selain boyband) dan gak begitu tertarik menjejak di Irlandia. Jadi cerita basa-basi itu melintas begitu saja dan tak pernah saya tanggapi dengan antusiasme.

Begitu nasib membawa saya ke Irlandia, saya terekspos pada basa-basi khas Irlandia. Interaksi basa-basi tak hanya terjadi dengan petugas atau pegawai yang melayani ruang publik (contohnya supir taksi, supir bis, petugas penjual tiket, kasir) tetapi juga dengan orang asing yang tak dikenal di dalam tram, bis ataupun di dalam kereta.

Ada aturan tak tertulis di Irlandia untuk menyapa dan bertanya kabar, sekedar “Hi, how are you?” sebelum berinteraksi. Ini basa-basi standar dimana-mana sih, bukan di Irlandia saja, mungkin sama standarnya dengan basa-basi Indonesia yang nanya “eh sudah kawin apa belum?” atau ketika berpapasan dengan tetangga yang nanya “Mau kemana?”#MauTahuAjaSih

Dengan pengemudi bis, pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya tak dijawab. Dalam pergaulan sehari-hari sendiri, jawaban standar untuk menanggapi pertanyaan kabar di Dublin biasanya grand, opsi lainnya untuk menjawab adalah not too bad. Untuk good atau fine sendiri saya malah jarang banget dengar dan kebanyakan saya dengar dari mulut saya sendiri.

Selain basa-basi menanyakan kabar, orang Irlandia juga suka memulai basa-basi dengan membicarakan cuaca. Obsesi banget, mau mendung, cerah, hujan dibahas semua. Saat cuaca buruk biasanya ngomel tapi dicampur dengan syukur, karena untung gak banjir, untung gak angin dan untung lainnya. Sementara saat cuaca indah, mood para basa-basier ini ikutan bagus.

Mereka yang ngobrol tentang cuaca biasanya suka nanya soal cuaca di negara asal saya. Menurut saya, ini metode menggiring dan bertanya tak langsung negara asal saya, tanpa terdengar kepo. Kebanyakan orang menyangka saya ini suster yang aslinya dari Filipina. Bisa dipahami sih, orang Filipina dan Indonesia kan memang mirip. Plus, di negeri ini suster (nurse ya, bukan nanny) memang banyak didatangkan dari Filipina. (nah tuh yang mau hunting bule sekolah suster aja, terus cari kerjaan di luar negeri). Negara Indonesia sendiri banyak ga dikenal sama orang Irlandia. Saking gak terkenalnya, mama saya sampai frustasi ketika jalan-jalan dan ditanya pihak museum. Biasanya, mama saya bilang dekat Australia atau deket Bali. Beres deh.

Cara saya mendeskripsikan Indonesia sedikit berbeda dengan cara mama. Saya selalu mendeskripsikan Indonesia sebagai negara asal matahari. Nah dari situ molor deh pembicaraan kemana-mana, tapi lagi-lagi topik cuaca diulas lebih dulu. Lucunya, begitu dengar Indonesia biasanya gak jauh-jauh dari 30 derajat mereka langsung keder. Terlalu panas katanya. Lha kok 30 derajat, orang Irlandia tuh ya dikasih 20 derajat dengan sedikit panas aja udah ngomel, kepanasan.

Plaza Senayan on a rainy day. #Indonesia #Jakarta

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Jika ada waktu kepo akan berlanjut dan menanyakan saya kuliah di mana. Ada anggapan umum bahwa orang Asia disini ini pelajar (yang kemudian dapat kerja). Sementara orang-orang berkulit lain, selalu identik dengan migran ekonomi. Dan tahu sendiri migran ekonomi sering dijadikan alasan untuk tak suka orang lain apalagi jika terjadi kegagalan integrasi.

Keponya orang Irlandia nanyain status kawinan juga lho, padahal gak kenal. Yang nanya soal anak juga ada, walaupun caranya halus banget. Saya perhatikan orang-orang yang kepo ini biasanya orang tua. Sementara yang muda cenderung cuek dan lebih individualis. Mereka lebih suka mendengarkan musik  dengan headset yang suaranya bisa kedengeran sampai kampung sebelah.

Bicara tentang basa-basi dengan orang asing, satu hari saya ngantri di sebuah supermarket. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang nanya asal saya dari mana. Kelihatannya memang agak gak sopan, gak kenal nanya-nanya. Tapi rupanya mbak ini emang tulus ingin tahu tentang negara asal saya. Dan saya berakhir bercerita panjang tentang Indonesia dan segala kekayaan budaya serta alamnya, sampai tenggorokan kering. Persis kayak duta pariwisata Indonesia, Di akhir perbincangan ia mengucapkan terimakasih telah tinggal di Dublin dan memperkaya Irlandia. Super sweet.

Anyway, gara-gara kebiasaan basa-basi Irlandia ini, pas pulang kampung ini saya jadi lebih demen basa-basi pada orang tak dikenal lho. Di parkiran, di toilet, di kasir, pramusaji, semuanya saya sapa dengan ramah. Padahal, biasanya saya kayak orang Jakarta pada umumnya, cuek dan gak merasa perlu basa-basi. Dan saya pun terheran-heran, ini karena saya hanya liburan di Jakarta, atau karena Irlandia telah sukses menyuktikkan kebiasaan basa-basi pada saya. Entahlah.

Kamu, kapan terakhir kali basa-basi dengan orang yang tidak dikenal? Ngobrolin apa?

Xx,
Tjetje

Reverse Culture Shock: Tantangan Pulang Kampung

Tiga belas bulan, tiga minggu sejak meninggalkan Jakarta, saya menjejak kembali ke tanah air. Sebelum pesawat mendarat, perasaan saya rasanya campur aduk, tapi didominasi dengan rasa senang dan semangat, dan tentunya sedikit kedongkolan, karena di pesawat toilet diwarnai dengan basah di sana-sini, khas orang Indonesia.

Menjejak di Soekarno Hatta, senyum dan sapaan selamat malam saya layangkan pada petugas imigrasi. Tapi ya, petugas imigrasi negara kita itu emang super ngebetein dan memasang kegalakan khas tentara. Padahal tentara Indonesia saja jauh lebih ramah. Mungkin petugas-petugas itu lelah, karena harus bekerja hingga malam, tapi tetep saja itu bukan alasan. Lalu saya mulai membandingkan dengan petugas imigrasi di Irlandia yang keramahan dan kebaikannya bikin saya merasa diterima dan tak terintimidasi.

Lokasi pengambilan bagasi sendiri masih semrawut, sementara ruangan itu begitu panas, karena ACnya kurang maksimal, mungkin karena ruangan itu begitu padat. Begitu kaki saya melangkah keluar, saya pun dihajar dengan panasnya Jakarta. Tak cukup itu, telinga saya juga disuguhi dengan suara klakson, padahal hari sudah malam. Setahun di Irlandia, saya tak pernah mendengarkan suara klakson sama sekali, lha disini, semuanya pencet klakson untuk hal-hal yang tak jelas.

My Jakarta. Photo was taken last night #Jakarta #Traffic #Indonesia

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Jalanan Jakarta Jumat tengah malam itu juga sangat macet. Mobil-mobil tak ada yang bisa berjalanan lurus, karena setiap mobil sibuk pindah dari satu lajur ke lajur lainya untuk mencari celah, konon supaya bisa cepat, tapi malah menghambat. Saya juga jadi memperhatikan bahwa kebanyakan orang yang menyetir kendaraan di Jakarta, kurang paham bagaimana menyesuaikan gigi dengan kecepatan, akibatnya saya banyak mendengar erangan mobil karena salah gigi, baik di kendaraan pribadi yang saya tumpangi, hingga Uber ataupun taksi.

Mal-mal di Jakarta sendiri masih dipenuhi dengan kaum menengah atas yang berdandan cantik dan bergaya, sambil menenteng tas-tas bermerek, entah asli ataupun KW. Rambut mereka sendiri begitu tertata rapi, dengan make up yang membuat penampilan menjadi lebih segar. Sungguh sebuah pemandangan yang bagi saya menarik karena di Dublin, saya terbiasa melihat orang-orang berbalut jaket tebal, pucat tanpa make up dan tentunya dengan rambut yang tak berkibar ibarat gadis shampoo

Bicara shampoo, saya juga jadi kaget melihat shampo khusus hijab yang harganya jauh lebih mahal dari shampoo di Irlandia. Tak hanya shampo, saya juga kaget lihat harga-harga kebutuhan pokok yang meroket. Begitu tingginya kah inflasi di Indonesia? Entahlah, yang jelas malam ini saya akan ngobrol dengan seorang sahabat untuk membahas topik ini. #ObrolanBeratYangTakSayaDapatdiIrlandia

Ekonomi negara ini bergerak cepat, tapi sayangnya, perilaku sebagian orang pada pelayan yang mengantarkan makanan masih tak ramah. Berulangkali saya melihat orang terlalu sibuk dengan gawainya hingga tak mengindahkan tangan-tangan para pelayan yang mengantarkan makanannya. Boro-boro makasih, ingat muka sang pelayan pun saya sangsi. Tapi saya salut, para pelayan disini begitu sigap mengambil foto, dengan cahaya minimal dan dengan sudut yang baik. Mereka mungkin harus beralih profesi menjadi fotografer.

Dalam satu kesempatan saya berkesempatan menaiki transjakarta, dua stop saja, dari Ratu Plaza ke Halte Polda dan dibayari seorang teman yang akan pulang karena saya tak punya kartu. Akibatnya, saya terjebak di halte, tak bisa keluar karena tak punya kartu. Sementara petugas halte ngotot tak bisa membantu mengeluarkan saya karena ia diawasi oleh CCTV (well done Ahok). Akibatnya, saya harus meminjam kartu orang lain untuk keluar. Beberapa orang yang berpenampilan profesional dengan galaknya menolak, tapi satu orang bapak dengan penampilan sangat sederhana berbaik hati meminjamkannya pada saya. Bless him for his kindness. 

Tj mungkin sudah berubah menjadi sedikit lebih nyaman, tapi trotoar Jakarta bagi saya menjadi mimpi buruk. Selain harus berjalan lebih hati-hati untuk menghindari lubang di trotoar, saya juga harus menghindari asap tukang sate yang akan membuat keringat saya bercampur dengan asapnya dan membuat pakaian dan rambut saja jadi aduhai. Pada saat yang sama, mata saya juga harus dijaga, karena butiran debu yang terbawa angin bisa membuat mata saya merah kapan saja. Soal polusi yang menerpa kulit, jangan ditanya lagi. Beberapa hari disini, saya jadi merindukan segarnya udara Irlandia yang membuat saya bisa berjalan dengan nyaman, ketika musim dingin sekalipun.

Tulisan ini tolong jangan dibaca sebagai keluh kesah, atau bahkan sebagai sebuah catatan kesombongan karena tinggal di luar negeri. Saya hanya kaget dan pada saat yang sama bersyukur dengan segala kenyamanan yang saya punya di hidup saya.  Membanding-bandingan sendiri merupakan sebuah kewajaran. Kok orang dewasa, sebagai Ailsa kecil yang kembali pulang dan tinggal di Indonesia saya pernah menolak dengan keras untuk masuk ke kamar mandi Indonesia hanya karena lantainya basah.

….anak Indonesia #chikiballs #supermarket #latergram #Indonesia #PulangKampung

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Tapi apapun kondisinya, saya masih orang Indonesia, memegang paspor hijau (jadi jangan panggil saya WNA ya) dan masih mencintai Nusantara ini dengan segenap hati saya. Dan dari lubuk hati terdalam saya berdoa, semoga Jakarta dan Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik dan satu hari nanti, saya, kamu dan dia, bisa menyusuri trotoarnya, tanpa perlu merasa tak nyaman dengan polusi atau bahkan lubang, serta genangan airnya.

xx,
Tjetje
Berulang kali hampir tersambar pintu, karena tak laki tak perempuan, tak menahan pintu  *Sigh*

Pulang Kampung 

Tradisi pulang kampung biasanya dilakukan menjelang hari-hari khusus, baik itu perayaan keagamaan maupun perayaan tahun baru. Di Indonesia, lebaran menjadi ajang pulang kampung terbesar, karena mayoritas penduduk  mudik bersama. Menjelang lebaran  jutaan orang berebut pulang, demi menikmati beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga terdekatnya. Jalanan yang diledaki dengan pemudik dan juga kendaraan pun tak menghentikan niatan untuk bergabung dengan keluarga. Tak hanya lebaran, menjelang Natal, Imlek, bahkan Nyepi, banyak juga dari kita yang mudik. Tentunya jumlah mereka tak sebanyak pemudik lebaran.

Pulang kampung, kendati pendek, menjadi sebuah ritual yang wajib dilakukan bagi yang mampu. Sederetan aktivitas dan kegiatan direncanakan untuk melepas rindu dan bernostalgia. Urutan pertama tentunya menghabiskan waktu dengan keluarga. Baik keluarga yang masih hidup ataupun yang sudah dikebumikan. Bagi mereka yang berstatus jomblo, kegiatan ini seringkali menjadi siksaan karena serangan pertanyaan-pertanyaan dari para tante dan oom. Jangan salah lho, tak cuma orang Indonesia yang suka bertanya blak-blakan. Beberapa teman saya yang bukan orang Indonesia banyak tersiksa dengan pertanyaan serupa.
Starbike

Halo Abang Starbike!

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan keluarga, dari mulai menghabiskan waktu di atas meja makan hingga piknik bersama ke tempat-tempat wisata. Tak heran jika pada saat liburan area wisata dipenuhi lautan manusia yang pergi beramai-ramai dengan keluarganya. Tempat wisata murah meriah, seperti Ragunan atau TMII misalnya, dipadati dengan pengunjung. Kendati setiap tahun masuk berita karena pengunjung yang luar biasa banyaknya, orang-orang masih tetap bersemangat. Semuanya demi momen indah bersama keluarga.
Selain urusan bertemu keluarga, pulang kampung juga berarti bertemu teman-teman. Baik teman sekolah maupun teman masa kecil. Menyambung kembali pembicaraan atau mengenang masa lalu. Bagi sebagian orang, bertemu teman masa lalu itu terkadang menjadi momen canggung, karena seringkali   pembicaraan sudah tak nyambung lagi.  Belum lagi adanya ketidakcocokan pemikiran. Yang satu mendadak jadi ekstrem dan rajin menyisipkan ayat  suci di setiap pembicaraan, sementara yang lain merasionalisasi dan bertanya tentang banyak hal. Biasanya, yang merantau merasa terbuka dan menganggap yang tak merantau tak modern; sementara yang tak merantau merasa temannya sudah terlalu banyak berubah dan terkena racun pergaulan ibu kota. Tapi tentunya tak sedikit yang masih bisa nyambung dengan teman-teman lamanya dan kemudian rajin meminjam uang #eh.
Sebagai negara yang memiliki kekayaan kuliner, urusan perut juga merupakan agenda penting dalam perjalanan pulang. Tumbuh dan besar dengan rasa-rasa makanan tertentu membuat lidah merindu untuk digoda dengan kelezatan rempah. Rempah-rempah yang mungkin ditemukan di sudut bumi lain, tapi pengolahan serta suasanya membuat rasanya jauh berbeda. Kegiatan makan-makan ini tentunya sedikit berbahaya, berbahaya bagi kantong karena harus terus-menerus jajan di luar dan tentunya berbahaya untuk kesehatan. Timbangan bisa melonjak, sementara bagi yang punya masalah kesehatan, kolesterol, asam urat, kadar gula bisa ikut meroket setinggi langit.
Urusan pulang kampung tak lengkap jika tak melibatkan belanja, dari mulai sekedar belanja barang-barang khas, seperti kain-kain tradisional di pasar atau pengrajin lokal hingga membeli aneka rupa buah tangan paling mutakhir dan paling gaul di toko oleh-oleh. Tahu sendiri bagaimana doyannya orang Indonesia berbelanja. Yang dibelanjakan satu kampung dan seringkali kalap, semuanya ingin dibeli. Tapi kebiasaan inilah yang menggerakkan ekonomi negara kita. Membuat para pengrajin-pengrajin kecil di berbagai sudut negara meraup pundi-pundi untuk penghidupan banyak orang.
Sebagai seorang migran, saya migran ya, bukan expat, yang tinggal di negeri jauh, mudik pun menjadi ritual yang diagendakan secara rutin. Tahun ini sebenarnya saya tak ingin pulang, inginnya jalan-jalan ke negara lain, tapi apa daya, kesempatan untuk menyesap harumnya aroma teh tubruk sembari menyesap kembali nikmatnya rempah yang menari-nari di lidah datang. Jadi siapa yang bisa menolak, apalagi jika kulit yang mulai terang ini rindu dibakar teriknya matahari khatulistiwa. Eh tapi kalaupun tak ada matahari, saya rela kaki terendam kotornya banjir yang menggenangi Jakarta, karena sesungguhnya, menjejak di rumah itu sebuah kemewahan dan obat rindu yang mujarab.
Kamu, kalau pulang kampung ngapain aja?
Xx,
Tjetje
Punya daftar makanan panjang dan tak tahu apakah akan mampu melahap semuanya dalam waktu dua minggu. Ikuti perjalanan berburu makanan di IG @binibule (bukan @ailsadempsey ya, karena itu work account)