Operasi Plastik

Tidak, saya tidak sedang membahas kebiasaan kita ketika acara makan-makan usai (yang kadang dilakukan sebelum acara usai), dimana para undangan sibuk mengambil kantong-kantong plastik kosong untuk diisi dengan sisa makanan. Operasi plastik yang saya bahas adalah tindakan perbaikan ataupun perubahan anggota tubuh dengan alasan kosmetik (bukan medis) dengan segala kontroversi yang mengiringinya.

Bicara tentang operasi plastik, kepala saya langsung memikirkan tentang prosedur untuk membesarkan ataupun mengecilkan payudara, memancungkan hidung, membuat pipi lebih tirus, lebih tembem, melancipkan dagu, membelah dagu, membuat garis mata (supaya tak terlalu sipit), hingga operasi sedot lemak yang bisa membuat badan lebih kurus dalam sekejap. Tak hanya itu, prosedur operasi plastik juga bisa menghilangkan tahi lalat, termasuk tahi lalat yang berbahaya. Pendek kata, apa yang ingin dirubah bisa dilakukan, selama kondisi kesehatan fisik dan kantong memadai.

Operasi plastik identik dengan mahal, karena harga jasa dokter bedah plastik memang tak murah. Kendati dianggap mahal, operasi plastik tak hanya diminati oleh mereka yang berada, mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi juga tak segan menabung untuk bisa berada di meja operasi. Bahkan, seseorang yang saya kenal pernah mleakukan liposuction dengan metode pembayaran cicilan. Proses penyedotannya sendiri dilakukan bertahap, karena ukuran badannya yang relatif besar.

Keterbatasan dana tak menghentikan orang-orang berhenti untuk membeli perubahan fisik. Alternatif dengan biaya yang dianggap lebih murah dicari dengan cara melakukan suntik silikon. Para penggemar suntik silikon alternatif ini kemudian banyak dikenal sebagai KHJ, korban Haji Jeje. Biasanya, hasil kreasi jarum suntik ini tak terlalu indah dan para ‘korbannya’ memiliki karakteristik muka yang hampir sama. Bibir penuh berisi cenderung bengkak, hidung juga tak kalah berisi, begitu pula dengan dagu, semuanya berisilah. Hasil karya suntik silikon ini kemudian banyak dicela karena kualitasnya yang dianggap kurang ciamik serta cetakannya yang kurang rapi, cenderung berisi. Ingin tahu contohnya? tengok saja salah satu bekas penjabat provinsi sebelah yang terkenal dengan mega korupsinya. Owalah bu..bu…korupsi segitu kok gak bisa operasi di Korea.

Korea Selatan sendiri dijuluki sebagai ibu kota dunia untuk urusan operasi plastik, karena tindakan operasi plastik perkapitanya sangat tinggi. Operasi paling standar disana adalah operasi kelopak mata supaya mata tak terlihat lelah karena bentuk mata yang monolid. Sementara operasi untuk merubah bentuk wajah dari yang kotak hingga oval pun tak segan dilakukan orang-orang sana. Tak hanya perempuan saja, pria-pria Korea pun tak enggan melakukan operasi plastik.

Mengapa operasi plastik tak begitu populer di Indonesia? Selain karena soal harga, juga karena kondisi sosial di masyarakat yang menghukum secara sosial orang-orang yang melakukan operasi plastik. Jauh berbeda dengan di Korea, dimana orang “berlomba-lomba” mempermak mukanya. Di Indonesia, perlombaan itu tak bisa dilakukan, karena masyarakat kita cukup pedas dalam membicarakan kecantikan hasil dari sayatan pisau dokter. Selain itu, operasi plastik juga kerap dianggap sebagai hal yang tabu, karena anggapan bahwa mereka yang melakukannya tak bersyukur terhadap hadiah dari Tuhan. Kendati begitu, artis-artis serta kaum menengah ke atas di Indonesia tak segan untuk melakukan operasi dan kemudian berbohong dengan mengatakan tak pernah operasi. Hanya beberapa artis, seperti Krisdayanti dan Titi DJ saja yang berani blak-blakan.

Situasi di masyarakat kita yang tak jelas ini sebenarnya sungguh membuat serba salah. Mereka yang berhidung pesek misalnya, seringkali dihina karena dianggap memiliki hidung yang tidak sempurna. Sementara ketika hidung dioperasi, orang-orang pun tak akan berhenti menghujat. Jadi sebenarnya, hidung itu harus bagaimana? pesek salah mancung pun salah. Saya sendiri tak ambil pusing dengan tindakan-tindakan medis yang diambil orang untuk memperbaiki kondisi fisik mereka. Tentu saja selama tindakan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kualifikasi. Jangan sampai hanya gara-gara ingin wajah yang lebih cantik berakhir di liang kubur.

Bicara tentang hidung, satu hari saya berada di dokter kulit langganan saya untuk melakukan perawatan wajah. Suster yang membersikan wajah saya kemudian bertanya, apakah hidung saya, yang dianggap mancung untuk ukuran Indonesia, asli atau merupakan hasil operasi. Saya pun menjawab, hidung saya asli. Tak puas, suster itu pun mencolek-colek hidung saya beberapa kali sambil berkata “Oh..hidungnya emang beneran mancung ya, bukan hasil operasi.” Dalam hati saya cuma bisa bisa mengumpat tak karuan.

Kamu, setujukah dengan operasi plastik?

xx,
Tjetje

Advertisements

Sebab Kematian

Every single death is a tragedy.

Dunia blogger Indonesia berduka cita ketika mendengar cumilebay.com, yang terlahir dengan nama Adi, berpulang. Sama seperti yang lain, saya juga kaget mendengar berita tersebut. Reaksi saya tentunya mengkonfirmasi berita kematian tersebut, karena di jaman yang katanya terbuka ini, tak semua informasi benar.

Rekomendasi pertama yang dikeluarkan oleh twitter adalah cumilebay sakit. Cuitan-cuitan yang muncul pun sebagian besar menanyakan sebab kematian almarhum dan ada beberapa informasi yang membahas tentang penyakit yang diderita Cumi sebelum meninggal. Tak hanya di Twitter saja, Facebook pun dipenuhi dengan pertanyaan mengapa dan kenapa, serta aneka rupa nama-nama penyakit yang tak ingin saya tuliskan satu-persatu.

Saya dan Cumi tak dekat, walaupun tak dekat, saya tetap merasa gerah melihat cuitan-cuitan yang berdiskusi tentang cara kepergian Cumi. Bagi saya, pertanyaan itu terdengar tak elok sama sekali.Kegerahan saya sebenarnya bukan saat kepergian Cumi saja, sudah sejak lama saya gerah melihat orang-orang yang ribut berbisik-bisik menanyakan sebab-musabab kematian seseorang. Pertanyaan di bawah ini mungkin terdengar biasa-biasa saja karena norma kita menganggap sebagai hal yang normal, tapi di telinga saja pertanyaan ini sangat tak elok.

“Meninggalnya kenapa?”

“Kejadiannya bagaimana?”

“Sakitnya apa?”

“Sudah berapa lama sakit?”

“Aduh kasihan banget ya, pasti tersiksa banget”

“Matinya sendirian, gak ada yang nemenin?”

Sebagai manusia, wajar jika kita memiliki kekepoan, rasa ingin tahu bagaimana sebuah tragedi terjadi. Saya pun sama, seringkali ingin tahu. Tapi pada saat yang sama, berpulang itu satu hal yang pasti, caranya macam-macam, ada yang sakit, ada yang kecelakaan, ada yang meninggal dalam tidur atau bahkan bunuh diri. Semua itu cuma cara, tak terlalu penting. Sebenarnya apa sih yang ingin kita dapat dari jawaban pertanyaan tersebut? Rasa kaget? rasa sedih? atau rasa puas karena misteri terjawab?

Kalaupun benar-benar ingin tahu, ditunggu saja cerita dari keluarga itupun jika keluarga mau bercerita. Jika tidak, privacy mereka harus menjadi prioritas untuk dihormati, karena sesungguhnya kehilangan itu sebuah proses yang menyakitkan dan tak mudah untuk dilewati. Jangan lagi ditambah dengan pertanyaan yang hanya akan membuat duka semakin dalam. Gak kenal dengan keluarganya? Itu berarti kalian tak cukup dekat, kalau gak cukup dekat, gak perlu lah rasanya ngepo-ngepoin.

Ereveld Ancol

Foto koleksi pribadi

Sesungguhnya, pertanyaan tentang penyebab kematian itu hanya penting jika kita merupakan bagian dari penegak hukum yang bertugas untuk menginvestigasi kematian. Ketimbang sibuk mereka-reka cara kematian, tidakkah lebih baik jika kita fokus untuk merayakan hidup dan berbagai kenangan-kenangan manis yang kita punya dengan ia yang berpulang. Lebih bagus lagi kalau pertanyaan itu diganti dengan niatan untuk membantu.

Btw, pertanyaan soal cara kematian bukanlah satu-satunya pertanyaan kepo yang sering saya dengar. Saya yakin kita semua sering mendengar pertanyaan aneh-aneh yang berkaitan dengan hidup yang meninggal. Dari mulai status perkawinan, apakah sudah kawin ataukah masih lajang. Jika masih lajang kemudian ada yang kurang sensitif lalu menertawakan karena belum merasakan surga dunia. Pertanyaan soal harta yang sebenarnya bukan urusan kita juga ada aja yang nanya. Soal yang terakhir, gak usah heranlah kalau di upacara pemakaman ada yang berbisik-bisik menanyakan berapa kira-kira jumlah warisan yang meninggal dan siapa yang akan menerima warisan tersebut. Apalagi jika yang meninggal orang yang cukup berpunya.

Seperti saya tulis di atas, kematian adalah sebuah tragedi. Dan dalam tragedi, jika pertanyaan kita tak penting, lebih baik kita diam saja.

xx,
Tjetje

Drama Makan-makan

Di Indonesia, hajatan makan-makan yang diadakan di rumah biasanya diadakan karena alasan khusus, seperti arisan, ulang tahun, khitanan, atau acara berdoa bersama. Sebaliknya, bagi kami yang tinggal di luar negeri, hajatan kumpul-kumpul dan makan-makan tak memerlukan alasan apapun. Di negara yang tak memiliki warung Indonesia berkualitas, makan-makan menjadi ajang obat rindu terhadap penganan nusantara.

Sebelum pindah ke Irlandia, saya sudah banyak mendengar tentang drama-drama seputar makan-makan dari berbagai teman di belahan dunia. Urusan makan-makan yang seharusnya sederhana, bisa menjadi meriah karena drama-drama ini, baik drama kecil maupun drama besar. Ilustrasi drama yang saya tuliskan di bawah ini berdasar pengalaman saya dan juga banyak orang yang namanya tak bisa disebutkan satu-satu. Kalau merasa tersindir, tak perlu baper, karena sesungguhnya saya gak nyindir orang-orang tertentu. Saya hanya memberi gambaran general saja. Perlu saya beri disclaimer terlebih dahulu bahwa hal-hal di bawah ini tak dilakukan oleh semua orang ya, hanya ada segelintir yang melakukan hal tersebut, tapi justru merekalah yang buat hidup jadi lebih berwarna dan tentunya penuh dengan drama.

Brutal dinner #Mandala #ChineseFood #IndonesianFood #Jakarta #indonesianchinesefood #MakanMelulu

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Ajang menghakimi  kekayaan orang lain

“Eh rumahnya si ini ternyata biasa-biasa aja ya, dia gak kaya-kaya amat”

Mengundang orang untuk makan bersama ternyata juga dijadikan ajang untuk memperkirakan berapa aset orang yang mengundang. Harap maklum, yang diundang mungkin bekas sales property, jadi begitu pintu dibuka lebar dan para tamu dipersilahkan untuk masuk, matanya langsung jelatatan melihat seluruh sudut rumah. Tak hanya melihat debu-debu yang terlewatkan ketika dibersihkan, tapi juga mulai memperkirakan berapa harga setiap barang yang jadi pajangan di sudut-sudut rumah.

Kita semua tahu bahwa hidup jaman sekarang memang sangat materialistis dan ukuran kesuksesan seseorang biasanya dilihat dari berapa banyak uang yang dipunya hingga soal tipe pekerjaannya. Dan gak perlu pakai munafik, kalau ke rumah temen yang uber kaya kita juga pasti langsung terpukau lihat gerbang yang super tinggi serta satpam yang berlari-lari buka pintu pagar. Tapi sungguh terkadang saya dan banyak orang jika ketemu yang model begini pasti akan langsung terpukau dengan kecepatan mata dan kecepatan kepala ketika melakukan aksi jelatatan. Mungkin dulunya bekas penari…..

Jangan juga gagal paham dengan orang-orang yang mau menyeleksi pertemanan dengan mereka yang hanya memiliki jumlah kekayaan tertentu. This is completely normal, kan pusing kalau mau ngopi di hotel bintang kejora, sementara temennya cuma mampu minum kopi di starbike. Atau ketika ingin ngajak temen shopping bareng ke Grand Indonesia, tapi temennya cuma mampu ke Grand Indonesia coret, alias Thamrin City. Bukankah pertemanan memang harus dinilai dengan mata uang?

Marah karena gak diundang

Tak seperti di Indonesia yang rumah bisa luas dengan kebun durian serta kandang kuda, di sebagian tempat di luar negeri orang-orang tinggal di rumah mungil. Dengan segala keterbatasan rumah, otomatis jumlah undangan juga harus dibatasi sesuai kapasitas rumah. Skala prioritas pun diterapkan, yang diundang yang dekat-dekat aja. Dong…dong…dimana-mana ini ternyata suka bikin drama karena sering banget ada yang sensitif karena gak diundang. Kalau nurutin orang-orang yang sensitif gini ya, acara makan-makan siang biasa bisa buka tenda biru deh, karena semuanya minta diundang.

Pot luck

Di banyak tempat, kumpul-kumpul makan orang Indonesia itu tipenya pot luck, undangan menyiapkan beberapa menu, sementara tiap tamu yang datang membawa makanan sendiri. Yang tak bisa masak seperti saya sih mudah, tinggal pesan atau beli makanan pencuci. Selesai? tentu saja belum, karena sebagian orang suka sekali mempermasalahkan harga makanan yang dibawa dengan jumlah makanan yang dibawa pulang. Sekali lagi, pertemanan harus dihitung dengan uang ya.

Gak salah juga sih tuan rumah ngomel-ngomel kalau tamunya datang bawa nasi putih satu kotak kecil, lalu kembalinya bawa ayam goreng satu kotak besar. Tamunya mungkin bekas pedagang, tak mau rugi. Nah karena kita bangsa yang berbudaya, tamu-tamu seperti ini tak ditegur langsung, hanya dibicarakan di belakang, lewat bisik-bisik tetangga lalu sang tamu tak pernah diundang lagi. Kapok sang pengundangnya.

Musuh bebuyutan bertemu

Jadi manusia itu tak harus selalu cocok, tapi pada saat yang sama kalau gak cocok juga mesti diplomatis, tak perlu berhenti ngomong selamanya. Kalaupun mau berhenti ngomong selamanya, itu pilihan. Tapi yang saya perhatikan mereka yang bermusuhan ini tak mau sendirian, kalau musuhan rame-rame ngajak teman satu geng dan tabiat ini disempurnakan dengan kebiasaan memboikot acara.

Tuan rumah yang tak punya masalah dengan kedua belah pihak harus memilih salah satu pihak untuk diundang, kalaupun dua-duanya diundang, biasanya salah satu pihak enggan muncul. Penyelenggara acara yang cerdas sih biasanya mengirimkan undangan secara terpisah dan pada saat hari H, dua musuh bebuyutan berada dalam satu ruangan. Duaaaar…seru deh, sementara para tamu pura-pura sibuk memandangi nasi panas yang mengepul.

Rendang jengkol galore #Jengkol #Rendang #RempahNusantara

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Owalaaaah mak, tinggal di luar negeri mau kumpul saudara sebangsa dan setanah air untuk makan rendang jengkol saja dramanya kok mengalahkan sinetron Tersanjung. Jadi kamu pernah mengalami drama urusan makan?

xx,
Tjetje

Tukang Lapor

Postingan tentang nyonya OKB kemarin menuai banyak kritik, pujian dan yang terpenting menuai cerita-cerita baru dari berbagai belahan dunia. Nah dari berbagai cerita yang saya dengar, ada satu topik yang kerap muncul, yaitu soal melaporkan orang lain untuk menjatuhkan individu tersebut. Parahnya, kegiatan lapor-melapor ini melibatkan aparat keamanan dan penegak hukum di negara tempat bermukim.

Melaporkan paspor ganda 

Bagi WNI memiliki paspor ganda itu tidak diperkenankan, kecuali untuk anak-anak yang memiliki orang tua dengan dua kewarganegaraan berbeda (lazimnya disebut sebagai anak perkawinan campur). Paspor ganda pun dibatasi hanya hingga usia tertentu. Tetapi, di beberapa negara memiliki paspor ganda itu dimungkinkan. Pada saat yang sama, negara juga memiliki sistem yang lemah untuk melacak mereka yang memiliki paspor ganda. Klop kan?

Ruang ini kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang ingin memiliki paspor ganda. Saya sendiri tak pernah mau menyalahkan mereka yang ingin memiliki paspor ganda, karena pastinya susah sekali melepas paspor Indonesia, walaupun pada saat yang sama memiliki paspor ini membuat urusan visa jadi rumit.

polisi

Source: toonpool

Salah satu kesalahan dari mereka yang memiliki paspor ganda, mereka tak tahan untuk tak cerita ke orang lain. Dan di komunitas Indonesia, hal seperti ini dengan mudahnya tersebar, hingga ke telinga tukang lapor yang tentunya tak segan membawa hal tersebut ke telinga para pegawai di KBRI.

Hasilnya? Kewarganegaraan dilepas dengan cara yang sering kali menyedihkan. Bahkan konon ada yang paspor Indonesianya dirobek dan dilemparkan oleh petugas imigrasi. Sang pelapor tentunya mendapatkan kepuasan batin luar biasa. Sementara yang dilaporkan mengalami duka nestapa karena kehilangan koneksi formal dengan Indonesia.

Lapor urusan jualan makanan

Jualan makanan di Indonesia itu gampang, tinggal modal minyak panas, pisang, tepung, kompor serta penggorengan sudah bisa berdagang. Eh jangan lupa ditambahkan, kertas koran untuk membungkus gorengan tersebut. Jualan bubur pun tak kalah gampang, cukup modal bubur, sebungkus micin, mangkok dan dua buah ember untuk mencuci mangkok kotor.

Di beberapa negara maju, jualan makanan itu susah, karena perlu ijin dan level kebersihan yang tepat. Ijin usaha tak hanya susah tapi juga mahal. Disini, konsumen sangat dilindungi, bahkan jika sampai sakit, restauran bisa dengan mudahnya dilaporkan. Laporan ini kemudian akan berdampak panjang, seperti inspeksi hingga pencabutan ijin usaha.

Tapi itu tak menghentikan orang-orang yang punya ketelatenan masak dan juga bakat berdagang. Ini mah hukum alam saja, yang gak bisa masak seperti saya butuh makanan, sementara yang punya hobi masak butuh menyalurkan hobinya, plus dapat bonus uang. Klop kan?

Nah tapi biasanya ada saja yang gerah dan gak tahan melihat orang lain berdagang tanpa ijin, hingga kemudian lapor ke otoritas. Sang pedagang makanan diperiksa, sang pelapor puas tak terhingga, kasusnya pun tak jarang masuk pengadilan, atau berakhir dengan pemeriksaan panjang karena tak membayar pajak. Yang tak kalah sial, konsumen merana luar biasa karena tak tahu cara meramu rempah nusantara. Walhasil, konsumen harus makan take away lagi take away lagi deh. Eh kalau take away yang di bawah ini saya saya gak keberatan, asal gak tiap hari:

Melaporkan perselingkuhan

Pernah melihat seseorang atau pasangan dari orang yang kalian kenal berselingkuh? Baik itu selingkuh tanpa komitmen atau selingkuh dengan komitmen (baca: punya simpanan). Jaman di Jakarta dulu saya sering melihat hal-hal seperti ini, dan pelakunya tak kenal suku, agama, dan ras. Saya sendiri punya prinsip tak akan melaporkan perselingkuhan seperti itu. Buat saya, itu urusan mereka berdua, dan saya tak mau berada di antara kedua pasangan tersebut.

Eh tapi banyak sekali orang-orang yang memilih untuk melaporkan ketidaksetiaan tersebut kepada mereka yang menjadi korban perselingkuhan. Ya jelaslah hal-hal seperti ini bisa bikin kawah candradimuka murka. Namanya orang murka tak kenal logika karena emosi sudah merasuk dan alhirnya membuat hubungan suami istri yang (mungkin) bisa diperbaiki jadi semakin runyam. Mending kalau perselingkuhan memang benar-benar terjadi, lha kalau sang pelapor matanya lupa dikasih kacamata? Makanya beli kacamata kuda aja.

Saya sendiri gak mau sok suci, saya juga hobi melapor, tapi saya pelapor yang selektif, yang saya laporkan hanya urusan kriminalitas ringan yang berhubungan dengan keamanan. Baru-baru ini misalnya saya melihat mayat terapung di salah satu sungai di Dublin. Tak hanya saya, ada banyak orang yang melihat dan mengambil foto, tapi kebanyakan dari mereka melenggang saja. Saya yang melapor ke aparat tentunya ‘kena getahnya’, karena kemudian tak diperkenankan ke kantor dan harus berdiri diterpa angin dingin, menunggu pemadam kebakaran, perahu karet, ambulans serta polisi untuk mengangkut jenasah tersebut. Untungnya polisi disini sigap, tak sampai sepuluh menit jenasah diangkut, kontak dan informasi saya dicatat. Sehari kemudian Pak Polisi datang ke kantor untuk mengambil pernyataan saya. Proses ini masih panjang, karena kemudian saya harus bersaksi di pengadilan. Ya bow, ini laporan berbuntut panjang.

Melaporkan orang itu hak prioritas masing-masing individu dan merupakan tanggung jawab masing-masing. Lapor melapor juga bukan eklusif punya orang Indonesia saja, tapi banyak dilakukan oleh komunitas lain juga. Seperti saya tulis di atas, saya sendiri enggan melaporkan teman-teman, atau bahkan kenalan saya, apalagi jika hal tersebut mengacaukan kehidupan dan keuangan mereka. Cukuplah saya ngelaporin jenasah mengambang atau melaporkan kenakalan remaja yang berakhir dengan polisi kejar-kejaran di depan rumah. Saya pun dengan tenangnya nonton dari atas, sambil minum sari jahe. Aaaah drama kehidupan.

Jadi, kalian pernah nemu tukang lapor model apa?

xx,
Tjetje

 

Dear Nyonya OKB: Kampungannya Ditinggal Dong

Selamat tahun baru saudara setanah air dan sebangsa. Jika awal tahun baru yang lalu saya mengeluarkan tulisan edisi bule hunter, tahun ini untuk pertama kalinya saya akan membahas urusan nyonya-nyonya kampungan yang seringkali menyandang predikat baru OKB, alias orang kaya baru atau nouveau riche. Perlu saya klarifikasi dulu, kampungan disini berarti perilaku yang udik, ingat perilakunya ya. Dari kota ataupun dari kampung tak masalah, yang masalah adalah perilaku  mereka yang norak.

Persaingan kekayaan 

Dear nyonya OKB, lemme tell you something, pamer tas mahal itu kelakukan norak dan mempertegas status sebagai OKB. Coba deh perhatiin, orang-orang yang nenek moyangnya udah pada kaya, kalau jinjing tas yang harganya bisa buat DP rumah  kelakuannya biasa-biasa aja. Gak ada yang repot naruh tas di atas meja kemudian dipamerkan kepada semua dunia. Oh mungkin nyonya gak tahu kali ya, karena gak pernah gaul sama orang kaya. Eh nyah, ini gak cuma urusan tas aja ya, duit dan semua barang material gak usah dipamer-pamerin nyah, iya kita tahu nyonya udah kawin sama bule dan tinggal di luar negeri, tapi nyah ingat kata habib nyah, dosa nyah. 

Satu lagi nyah, kalau ada nyonya tetangga yang beli barang baru gak usah ikutan panas terus beli ikutan beli yang lebih mahal. Engga penting banget itu nyah, jadi memperlihatkan kalau nyonya itu insecure. Kalau tetangga abis liburan ke ujung dunia, nyonya juga gak usah panas,  lalu booking liburan ke luar angkasa. Kalau bisa nyonya juga gak perlu ikutan ribut ngebahas kenapa tetangga bisa liburan ke ujung dunia sambil bahas-bahas duit suaminya yang gak banyak. Duileh, emang si nyonya kerja di bank sampai bisa ngintipin kekayaan orang lain?

Oh ya nyah, kalau nyonyah merasa tetangga nyonya itu ekonominya kurang kuat, tak perlu ambil toa dan teriak-teriak menuduh si X itu orang miskin. Duh norak banget ngata-ngatain orang lain itu miskin, udah nuduh orang lain miskin gak ngeluarin buku cek dan ngasih bantuan. Padahal nyah, orang kaya beneran itu kalau lihat orang kurang mampu juga langsung semangat untuk membantu. In case nyonya nggak tahu philantropy namanya nyah.

Rahasia

Saya ngerti sih nyah kalau cerita-cerita dari dalam rumah tangga itu tak boleh diceritakan ke orang lain, mendingan disimpan sendiri ataupun diceritakan kepada rumput yang bergoyang, atau sekalian kepada pakarnya. Tapi lho ya nyah, rasanya kok kampungan banget ketika nyonya sebarkan rahasia-rahasia dapur teman nyonya ketika ia mempercayakan masalah ranjang, keuangan hingga keluarganya. Nyah, seluruh dunia kan gak perlu tahu, cukup nyonya aja yang tahu. Dapat kebahagiaan apa sih dari ngebocorin cerita orang ke komunitas Indonesia yang kecil ini nyah? Nyonya dulu gak pernah diajarin menyimpan rahasia ya nyah? Nyah, lambemu turah nyah? Udah biar minceu aja yang mamam batako nyah.

Perkelahian

Satu lagi nyah, idealnya, sebagai orang sebangsa dan senusantara kita bersatu di luar negeri untuk saling gotong royong. Idealnya sih begitu nyah. Tapi kalau kemudian nyonya berkelahi dengan nyonya-nyonya lainnya, acara kenegaraan juga jangan diboikot dong. Cukup nyonya berdua aja yang berkelahi. Kok kayak di SMA aja, berkelahi bawa-bawa temen satu geng dan satu geng disuruh boikot. Kok ya acara kenegaraan, acara makan-makan biasa kalau diundang datang dong nyah, gak usah malas kalau ada nyonya sebelah. Kenapa takut nyah, takut wangi parfum kalah dari nyonya tetangga? Duh nyonya cemen banget sih.

chanel-meme

Photo: wonkette.com

Gosip dan perfitnahan

Masih ada lagi nyah, iri dan dengkinya juga sebaiknya disimpan aja nyah, eh salah dibuang nyah. Kalau kalah bersaing sama nyonya tetangga gak usah jelek-jelekin nyonya tetangga dong. Nuduh-nuduh nyonya tetangga ini itu, bahkan menyerang segala elemen pribadi nyonya tetangga, itu mah namanya ad hominem nyah. Nggak usah repot-repot mencari tahu latar belakang keluarga nyonya tentangga di Indonesia juga nyah, buang-buang waktu aja. Atau mungkin itu strategi nyonya biar bisa bilang: “Eh jeung…jeung….dia itu kan dasarnya keluarga biasa-biasa aja, bukan horang kaya-kaya?”. Ih nyonya, segala-segala dilihat dari kekayaan, dangkal nyah, dangkal. Ingat masa lalu nyah, sebelum ekonomi nyonya membaik karena ketemu meneer. Sadar nyah sadar.

Tapi saya salut lho sama nyonya tetangga, biar kata digosipin, difitnah, nyonya tetangga diam aja, gak sibuk gelar konferensi pers untuk mengklarifikasi. Kalau kata Michelle Obama sih itu namanya when they go low, we go high. Waktu yang akan mengungkap kebenaran nyah.

Duit suami jangan dihamburin nyah

Nyah di akhir kata ijinkan saya nitip pesan super, tapi ingat saya bukan MT ya nyah, duit suami sekarang emang kagak berseri,  tapi jaman bisa berubah lho. Krisis bisa menerpa dan suami tiba-tiba bisa tak punya uang. Bangkrut namanya nyah. Jadi duit suami itu jangan dihambur-hamburin buat belanja barang-barang yang tak perlu atau dipinjam-pinjamkan dengan alasan buat modal usaha keluarga di kampung sana. Aduh nyonya engga kasihan tuh suami kerja keras banting tulang dan berkeringat tiap hari, duitnya  dihamburkan keluarga dan usahanya bangkrut dalam sekejap mata. Kan suami jadi kecewa nyah.

Sudah dulu ya nyah, sahabat miskinmu ini mau kursus etiket dan kepribadian dulu. Biar gak norak-norak amat nyah. 

Penutup

Sedari lama saya sudah banyak mendengar cerita dan mendengar wejangan-wejangan baik dari para pelaku kawin campur, ataupun dari para ekspat, pelajar serta imigran Indonesia tentang kehidupan di luar tanah air. Peringatan yang diberikan oleh orang-orang ini bunyinya senada: HATI-HATI BERGAUL DENGAN ORANG INDONESIA, apalagi yang OKB, pada norak-norak. Peringatan-peringatan yang saya dengar ini termasuk peringatan keras lho, makanya saya tulis dengan hurus besar semua.

Faktanya, kenorakan ini ada dimana-mana, sebenarnya tak di Irlandia saja, tapi juga di tanah air, di Amerika sana, atau di daratan Eropa. Pelakunya juga tak hanya orang Indonesia, tapi dari semua latar belakang. Di Indonesia,  kita bisa dengan mudah menghindari hal-hal seperti ini, tapi di luar negeri, ketika komunitas Indonesia begitu kecil, pilihan satu-satunya adalah menghindari pergaulan dengan orang Indonesia. Jadi jangan heran kalau banyak orang-orang Indonesia yang memilih untuk tak gaul, karena drama ini. Drama yang dibuat oleh para nouveau riche yang baru menjejak di luar negeri, kemudian merasa orang paling kaya dan paling OK sejagat raya, tapi lupa meninggalkan kenorakan dan kampungannya. Dan kali ini saya setuju dengan ungkapan you can take the girl out of the kampung, but you can’t take the kampung out of her.

Tjetje

Yang tidak sirik ndengan yonya besar

PS: tulisan di atas bukan dimaksudkan untuk satu atau dua nyonya, tapi untuk semua nyonya-nyonya OKB yang belum kursus kepribadian di berbagai belahan dunia. Kalau nyonya merasa tersindir,  lalu merasa perlu nyinyirin saya, silahkan dibagi di media sosial ya Nyah! Dishare ya nyah, jangan lupa dikipasin biar panas. 

Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam)

Ada yang suka nonton Last Week Tonigh with John Oliver? Coba deh nonton di YouTube, acara ini kocak banget yang menyindir aneka rupa topik, dari mulai soal pemilihan umum di Amerika, kredit dan hutang, hingga soal pelecehan di internet. Dalam episode pelecehan di internet, John Oliver membahas sekilas tentang revenge porn. Topik ini sudah lumayan basi sih, karena sudah dibahas setahun lalu, tapi ya tahu sendiri saya ini kan blogger mood-moodan yang suka mengangkat topik-topik yang hampir basi supaya bisa jadi pengingat kembali.

Anyway, dalam episode tersebut, John membahas tentang pasangan yang putus, kemudian sakit hati dan mengunggah foto-foto atau video seksi ke media sosial untuk mempermalukan pasangannya. Pernah dengar tentang hal ini? Mungkin kalian pernah dengar dari kasus populer Kim Kardashian. Well,  engga bisa disamakan dengan kasus Kim, karena si Kim secara sadar atau setidaknya setuju dengan penyebaran video tersebut untuk mendapatkan populeritas. Sementara revenge porn jauh berbeda, korbannya tak mau photo atau video tersebut disebarluaskan, sementara pelakunya yang bekas orang terdekat dendam kesumat karena kisah cintanya gagal berantakan tak berujung di bawah tenda biru.

Pelaku revenge porn bisa dilakukan oleh perempuan ataupun pria, tetapi dari sebuah tulisan di economist, disebutkan bahwa pelakunya kebanyakan pria. Foto-foto atau video ini kemudian diunggah, tak hanya di media sosial, tapi juga di situs-situs pornografi, lengkap dengan kontak sang korban. KEJAM, KEJAM banget. Kontak yang diberikan bersamaan dengan foto ini kemudian membuat  beberapa korbannya diuber oleh orang-orang tak dikenal.

Nah, dalam episode Last Wek Tonight tersebut, John membahas satu elemen penting bagaimana pihak berwajib di Amerika sana masih ada yang tak tahu bagaimana cara menangani hal tersebut. Iya yo, Amerika yang sering digadang-gadangkan sebagai negara adidaya dan para bule-bule yang masih sering dianggap sebagai para dewa dengan kasta paling tinggi di antara semua makluk di bumi ini. Kebayang kan betapa frustasinya jadi korban dan harus berhadapan dengan mereka yang tak tahu cara menanganinya.

Para korban ini kemudian harus berhadapan dengan kenyataan bahwa foto-fotonya disebarluaskan di banyak web porno di internet, dan harus berjuang untuk membuat foto-foto tersebut dihapus. Di Amerika, untuk melakukan hal tersebut, mereka harus mendaftarkan hak atas foto-foto tersebut (yang mana artinya mereka harus mendaftarkan foto-foto telanjang tersebut) supaya kemudian bisa dihapus dari internet. Pening gak tuh? Di Eropa sendiri perjuangan menghapuskan foto-foto atau video pribadi ini bisa dilakukan melalui the right to be forgotten. 

Panjangnya perjuangan menghadapi hal tersebut dan beratnya konsekuensi sosial yang dihadapi oleh para korban, belum lagi besarnya biaya yang dikeluarkan, seringkali membuat korban-korbannya mengambil solusi cepat, bunuh diri. Tiziana Cantone merupakan salah satu contoh korban revenge porn yang berjuang habis-habisan dan kemudian mengakhiri hidupnya. Di tulisan ini kalian juga bisa menemukan salah satu korban revenge porn yang berjuang habis-habisan untuk memenjarakan mantan pacarnya. Ada satu kesamaan disini, dimana perempuan berada pada posisi yang sangat lemah.

Dalam kondisi begini biasanya kita akan mendengar kelompok-kelompok yang akan menyalahkan para korban dan mengatakan: makanya jangan ambil foto pribadi dan mendistribusikan foto-foto tersebut. Ngok…..para pelaku victim blaming ini gak menyelesaikan masalah malah nyalah-nyalahin korban (dan bukan menyalahkan pelaku). Bagi para korban, foto-foto tersebut diambil dan diberikan pada orang-orang yang mereka percaya, situasi kemudian berubah dan orang-orang tersebut menjadi orang-orang brengsek yang tak bisa dipercaya.

Herannya ya, dari beberapa kasus yang saya pelajari, media lebih banyak mengekpos nama korban dan menyembunyikan nama pelaku. Salah satunya kasus pelecehan seksual terhadap remaja bernama Audrie Pott yang juga bunuh diri karena dilecehkan secara seksual hingga kemudian foto-fotonya disebarkan di internet. Kisah Audrie sendiri difilmkan dalam sebuah documenter berjudul Audrie and Daisy dan diputar pertama kali pada Sundace Film Festival di awal tahun 2016 ini.

Dari kasus-kasus ini saya jadi bertanya-tanya, jika di negeri adidaya seperti Amerika saja para pihak berwajib masih tak tahu bagaimana menangani kasus sensitif seperti ini, bagaimana dengan di Indonesia? Boro-boro ditangani, ada juga para korban yang mengambil foto diri sendiri tanpa sehelai benang sudah terkena pasal UU pornografi lebih dulu. Sungguh berbeda dengan negara tetangga seperti Jepang, atau bahkan Filipina.

Kalian, pernah dengar soal revenge porn sebelumnya?

Xx,
Tjetje

Soal Sentimen Pada Imigran

Seperti banyak kita tahu, Eropa beberapa bulan, mungkin lebih tepatnya tahun, belakangan ini, sedang dibanjiri oleh imigran, pencari suaka, dan pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang. Sebagian dari mereka melarikan diri dari peperangan yang sudah berkecamuk sekian lama dan mengikuti proses menjadi pengungsi dengan mencari suaka terlebih dahulu, sedangkan sebagian lainnya lari dari kemiskinan (kemudian sering disebut sebagai economic migrant)

Imigran (pengungsi serta pencari suaka) banyak tidak disukai karena berbagai problematika yang dianggap muncul akibat kehadiran mereka. Ambil contoh yang paling gampang saja seperti Inggris yang kepanasan menghadapi imigran, hingga kemudian memutuskan #Brexit. Jauh berbeda dengan Canada yang adem ayem padahal negaranya berisi imigran semua.

Hal pertama yang diidentikan dengan imigran adalah pencuri pekerjaan. Yang lokal merasa terancam karena banyaknya pekerja dari luar yang mendapatkan pekerjaan. Ini di mana-mana, termasuk di Irlandia. Dulu, anak muda Irlandia lebih mudah menemukan pekerjaan di pub lokal, sementara sekarang posisi-posisi tersebut sudah digantikan dengan wajah-wajah serta aksen dari timur benua Eropa yang terkenal pekerja keras. Selain terkenal pekerja keras, mereka terkenal sebagai orang yang pandai menyimpan uang (untuk dikirim ke kampung halamannya). Ini juga yang kemudian bikin banyak orang kesel, karena duitnya didapatkan dari satu negara, tapi dihabiskan untuk membangun negara lain.

Selain itu, imigran juga diidentikkan dengan masalah sosial yang mungkin disebabkan kegagalan integrasi. Saya tulis mungkin, karena ini bukan tulisan ilmiah. Masalah-masalah sosial yang muncul beraneka rupa, dari mulai diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan, hingga stigma kuat yang muncul dan melekat akibat beberapa gelintir orang. Stigma-stigma tersebut termasuk malas, tak mau bekerja keras dan hanya mau memeras jaminan sosial saja. Ada sih yang begitu, saya pernah ketemu yang tukang sedot jaminan sosial, tapi gak semuanya seperti itu. Yang pekerja keras banyak.

Kecenderungan imigran untuk tinggal di satu area khusus, bercampur dengan orang-orang serumpunnya juga menjadikan proses integrasi semakin sulit. Tapi sejujurnya, ini sudah terjadi dimana-mana dan sejak lama di berbagai belahan dunia. Ambil contoh embong Arab, pecinan atau Chinatown, bahkan kampung keling (yang terdengar sangat derogatif) seperti di Medan.

Lucunya, saya melihat sentimen yang sama dari orang-orang Indonesia, baik yang tinggal di Indonesia, apalagi yang tinggal di luar negeri. Di luar negeri lebih parah, bahkan banyak yang sinis luar biasa ketika melihat para imigran (pencari suaka ataupun pengungs)i. Padahal, dirinya sendiri sama-sama imigran (tapi seringan ngaku expat, atau pura-pura lupa kalau imigran, padahal gak punya kualifikasi untuk jadi expat). Meminjam bahasa di Twitter, saya memanggil mereka sebagai kaum menengah ngehek. Terus makin ngehek dan gondok ketika tahu sebagai para imigran dan pencari suaka ini orang kaya.

Lha halo, bantuan itu kan hak mereka, tak peduli kaya atau miskin. Lagipula, untuk melarikan diri dari peperangan itu diperlukan biaya yang tak sedikit, jadi tak heran kalau yang kaya lari duluan, sementara yang miskin harus berjuang setengah mati mengumpulkan modal.

Kadang saya pengen banget nyentil yang sinis ini dengan pertanyaan: lha situ mau dipaksa pindah dari satu negara karena keadaan politik sehingga harus tercerai berai dari keluarga? Terus tentunya saya pinjamin kaca besar yang ada tulisannya: emang elu expat? Emang lu disini karena pekerjaan dan dapat visa dari kantor? Duh kualifikasi jadi expat aja kagak ada dan sesama migran ini kan, gak usah reseh deh. 

Nah, jika ada kelompok menengah yang ngehek, maka ada pula kelompok yang tak kalah ngeheknya. Kelompok ini memiliki kecintaan mendalam pada kelompok migran, terutama migran-migran dari timur tengah yang gagah, berparas tampan dan masih muda. Mereka banyak memburu para migran-migran ganteng ini untuk menghangatkan ranjang yang sudah mulai mendingin. Siapa mereka? Tante-tante di Jakarta.  Tante-tante ini juga tak segan memanjakan para pencari suaka ini dengan hadiah-hadiah. Tak hanya hadiah berharga, mereka juga seringkali diberikan hadiah tak berharga, penyakit menular seksual. Duhh….tante!!!!

Xx,
Ailtje
Imigran, bukan expat, yang sedang mencari kehangatan di Tenerife

Baca juga tentang migrant vs refugee di sini