Seputar Televisi

Sungguh saya kaget luar biasa ketika melihat perkawinan Angel Elga dan Vicky dimasukkan ke dalam televisi nasional dan kemudian menjadi TT di jagat Twitter. Kalau saya masih di Indonesia, saya akan lihat merek-merek apa saja yang bersedia membayari acara televisi model seperti itu dan berhenti membeli produk-produk mereka. Agak ekstrem mungkin, tapi televisi itu mestinya kan menjadi ajang pendidikan dan atau hiburan berkualitas. Bukan hiburan yang tak jelas manfaatnya apalagi memfasilitasi perusakan terhadap bahasa kita.

Di Irlandia, kami memilih untuk mempensiunkan televisi. TV-TV kami letakkan di gudang sejak lebih dari setahun terakhir. Ada banyak alasan mengapa saya tak mau ada televisi. Pertama, karena menggunakan televisi di Irlandia itu harus membayar pajak tahunan sebesar

€160 per tahunnya. Pajak ini mirip dengan pajak yang dibayarkan jaman Presiden Suharto dulu. Uang tersebut konon akan digunakan negara untuk membayar stasiun lokal, di sini namanya RTÉ. Nah, banyak orang ribut soal ini, karena gaji-gaji mereka yang kerja di RTÉ itu banyak yang berlebihan/ terlalu besar untuk ukuran Irlandia. Sementara tak membayar pajak televisi ini sendiri juga membuat orang bisa dipenjara.

Selain soal pajak, saya juga enggan membayar TV kabel sebesar €70-100 untuk televisi setiap bulannya, karena penggunaan TV sangat rendah. Kami berdua bekerja dan lebih memilih baca buku, ngobrol atau nonton netflix.

Kualitas televisi di Irlandia sendiri bermacam-macam, tergantung paket televisi yang kita ambil. Tapi tentunya film-film seri Amerika tak sebanyak di Indonesia. Kualitas drama di Irlandia sendiri saya tak bisa menilai, karena saya tak rajin menonton. Tapi saya paling tak suka dengan drama lokal yang panjangnya mengalahkan sinetron Tersanjung di Indonesia. Judul dramanya Fair City. Drama ini sudah ada di televisi sejak satu dekade lebih dan nampaknya belum akan usai. Yang mengerikan, tak seperti Tersanjung yang diputar tiap Jumat, drama ini diputar hampir setiap hari. Selain Fair City ada juga drama panjang Inggris berjudul East Enders, sama juga, panjang dan banyak pencinta fanatiknya.

Bagi saya, ini bukan kali pertama saya memilih tak punya TV, dulu ketika baru awal menjadi anak kost, saya pernah hidup bertahun-tahun tanpa TV, karena tak melihat manfaat positif. Kendati saat itu tak punya televisi, saya memiliki radio dan CD player. Jadi kalau butuh hiburan, koleksi CD bisa dimainkan.

Keteguhan saya untuk tak punya televisi goyah ketika SCTV menayangkan kembali telenovela Marimar yang dibintangi oleh Thalia bersama anjingnya. Saya langsung beli TV dong, demi nonton telenovela. Setelah beli TV saya hanya menonton satu atau dua episode saja, lalu beralih ke TV5 untuk melatih kemampuan telinga mendengar bahasa Perancis.

TV5 sendiri saya dapatkan dari TV kabel. Jaman itu, tahun 2009-2010an, TV kabel dibandrol dengan harga sekitar 300ribu Rupiah untuk berbagai macam stasiun televisi. Nah saya diberi tawaran untuk mengambil TV kabel sebesar 100ribu rupiah setiap bulannya. Tentu saja saya langsung setuju, karena murah.

TV kabel murah itu ternyata hasil menyogok saudara-saudara. Salah satu anak kos rupanya menyogok pegawai TV kabel untuk membuka koneksi TV kabel bagi beberapa orang. Ketika semua TV kabel sudah menggunakan dekoder, penyedia TV kabel yang ini masih manual, jadi tinggal colok kabel. Tagihan tiap bulan ini yang kemudian dibagi tiga, sesuai jumlah peminat.

Metode ini nampaknya banyak digunakan di kost-kostan, karena begitu saya pindah ke kost lain, mereka juga menggunakan sistem TV kabel yang sama. Bedanya di kost baru saya tak perlu membayar, semua sudah dibayar oleh pemilih kos. Ah kalau urusan ekonomi kreatif, Indonesia memang jawara.

Sayangnya TV kabel gratisan tersebut tak bertahan lama, karena perusahaan TV kabel tersebut memperbarui jaringannya dan saya pun harus bayar harga normal demi kualitas TV yang lebih baik. Setidaknya kala itu saya tak perlu nonton sinetron, debat politik yang tak jelas, apalagi kawinan nasional dipajang di TV nasional.

Jadi bagaimana kualitas acara TV di tempat kalian tinggal?

xx,

Ailtje

Advertisements

Serba-serbi Dana Kesejahteraan Sosial di Irlandia

Jaminan kesejahteraan sosial menjadi sebuah hal yang membuat Irlandia lebih baik dari banyak negara. Orang-orang yang bekerja membayar pajak cukup tinggi, berkisar dari 20-40%, sementara mereka yang sedang mencari pekerjaan bisa dibantu oleh negara.

Bantuan dari negara ini ada beberapa macam tipenya. Untuk mereka yang mencari pekerjaan misalnya, pemerintah menyediakan uang mingguan yang bisa mencapai hampir €200/ minggu. Jangan keburu silau dulu, karena cuma itu relatif tak banyak.

Selain uang mingguan, para pencari kerja juga bisa meminta penambahan keterampilan. Misalnya ingin menjadi tukang potong rambut, maka pemerintah akan mencarikan kursus dan membayar kursus tersebut. Seringkali, kursus-kursus tersebut tak murah, bisa mencapai ribuan Euro. Nanti, ketika sudah selesai kursus dan tak juga mendapatkan pekerjaan, bisa juga meminta kursus tambahan.

Kursus bahasa Inggris juga banyak diberikan untuk mereka yang memang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas dan kesulitan mendapat pekerjaan. Kursus ini untuk mereka yang bukan penutur asli, untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

Selain uang mingguan, pemerintah juga menyediakan rumah-rumah sosial. Soal rumah ini pernah saya bahas dalam tulisan terpisah. Nanti linknya akan saya taruh di bawah. Menariknya, seringkali orang menolak tawaran rumah dari pemerintah dengan beragam alasan, misalnya: tak ada tempat parkir, terlalu jauh dari tempat kerja, harus naik tangga, atau lokasin yang berada di daerah kurang baik. Orang-orang ini kemudian ditaruh di hotel berbintang dan berstatus homeless. Dari luar kita melihatnya mungkin wah, tinggal di hotel. Tapi ruang gerak di hotel itu sangat terbatas. Tempat menjemur pakaian tak ada, dapur apalagi. Jadi, banyak yang mengeluh dengan kondisi ini, bahkan ada yang bunuh diri.

Selain ditawari rumah, pemerintah juga memberikan rental allowance untuk yang tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah, alias uang sewa dibayari oleh Pemerintah. Tak semua landlord tapi menyukai rental allowance, jadi banyak dari mereka yang mendapatkan rental allowance ini kesulitan mendapatkan rumah kontrakan.

Irlandia yang memiliki sejarah gelap terhadap perempuan yang memiliki anak di luar perkawinan, sekarang menjamin Ibu-ibu tunggal. Rumah disediakan, atau melalui rental allowance, tunjangan juga diberikan. Pendeknya hidup mereka terjamin, walaupun tak berlebihan. Pepatah banyak anak banyak rejeki juga bisa diterapkan dalam situasi seperti ini, karena memang semakin banyak anaknya semakin besar tunjangan dari Pemerintah. Seorang teman bahkan bercerita ada yang mendapatkan tunjangan hingga €60,000/tahun, karena anaknya banyak. Jumlah ini 2,5-3 kali lipat lebih besar dari mereka yg bekerja dengan upah minimum.

Para istri yang kehilangan suaminya juga berhak mendapatkan tunjangan/ pensiun jika suaminya pernah bekerja selama sekian puluh minggu, saya lupa persisnya. Jumlah pensiun ini lagi-lagi tak banyak, tapi cukup untuk belanja kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu tersebut termasuk susu, roti, sayur dan daging.

Di lingkungan sehari-hari, orang-orang yang kehilangan pekerjaan tak perlu malu untuk mengambil tunjangan sosial hingga menemukan pekerjaan. Namun masyarakat juga suka gemas pada mereka yang bergantung pada social welfare sepanjang hidupnya. Sekali lagi, SEPANJANG HIDUP. Orang-orang seperti ini ada banyak di Irlandia dan mereka tak pernah bekerja selama hidupnya. Lucunya, orang-orang yang bergantung pada social welfare ini tak segan membicarakan bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak lagi. Padahal mereka ini selain mendapatkan dana mingguan, juga mendapatkan jaminan kesehatan gratis. Sementara mereka yang bekerja setidaknya harus merogoh hingga €60/ kunjungan ke dokter. Selain kesehatan gratis, mereka juga dibebaskan dari biaya TV license (ongkos punya TV). Dengan begitu banyaknya “kenyamanan”, tak heran kalau banyak yang memilih tak bekerja. Terkadang, dana social welfare ini jauh lebih banyak ketimbang bekerja.

Penyelewengan dana social welfare sendiri ini bukan sebuah hal yang aneh. Baru-baru ini misalnya seorang guru musik berkewarganegaraan Perancis diputuskan bersalah karena memalsukan identitas dan mengambil Dana Kesejahteraan hingga €175ribu. Begitu ketahuan, guru ini harus membayar kembali sebesar €100 setiap minggunya. Entah kapan lunasnya.

Social welfare ini tak hanya untuk mereka yang WN Irlandia, para pemegang passpor asing EU pun bisa mendapatkan dana ini. Orang Indonesia pub ada beberapa yang bergantung pada dole. Angka 180-200 ini memang terbilang kecil di Irlandia, tapi di banyak negara lain di EU menjadi cukup besar, karena sama dengan setengah gaji. Jaman dulu ada banyak yang memanfaatkan celah ini, mereka datang untuk mendaftar, kemudian kembali ke negaranya sambil menikmati uang pajak dari sini. Jumlah uang yang tak seberapa ini menjadi sangat berharga ketika mereka datang dari negara yang biaya hidupnya relatif rendah. Modus ini lama-lama ketahuan dan pemerintah membuat aturan yang lebih ketat. Di berbagi forum, kalau googling tentang model scam ini kita akan dihadapkan dengan banyak komentar-komentar rasis terhadap para pelakunya.

Connor McGregor adalah salah satu contoh orang yang bergantung pada social welfare. Sampai seminggu sebelum bertanding di UFC, McGregor masih mengambil cek welfarenya sebesar €180. Sekarang sih kondisinya berbalik, dia menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di negeri ini, apalagi ia masuk dalam daftar salah satu orang terkaya di Irlandia.

Di Indonesia sendiri pernah ada, entah masih ada atau tidak, dana serupa dengan nama Bantuan Langsung Tunai. Begitu dana ini keluar, harga kebutuhan pokok langsung melonjak. Oh inflasi.

Kalian, kalau ada dana serupa, apakah sudi membayar pajak tinggi?

xx,
Tjetje

Baca juga: Jaminan Rumah di Irlandia

Nostalgia Tiket Kereta Berdiri

Hampir satu dekade lalu, saya dan dua orang teman perempuan nekat pergi ke stasiun kereta api Gambir untuk membeli tiket berdiri kereta Gajahyana jurusan Jakarta-Malang, kampung halaman kami semua. Tiket normal sendiri sudah tak bisa didapatkan, karena kereta sudah penuh dan saat itu akhir pekan panjang.

Kenekatan kami membeli tiket berdiri, adalah keputusan tergila yang tentunya tak akan saya ulang lagi. Apa itu tiket berdiri? Tiket ekstra yang bisa dibeli dengan harga yang hampir sama, tapi penumpang harus berdiri, tak boleh duduk, karena memang sudah tak ada tempat duduk lagi. Perlu dicatat, ini bukan berdiri di gerbong tempat para penumpang eksekutif duduk ya, tapi di sambungan gerbong, dekat kamar mandi kereta yang baunya aduhai.

Saya tak ingat berapa persisnya harga tiket duduk tersebut, masih di kisaran 200-300ribuan. Tapi yang jelas perbedaan harga tiket duduk dan berdiri tidaklah terlalu signifikan. Tiketnya sendiri bisa dibeli di petugas yang berdiri di dekat kereta, ketika kereta sudah akan berangkat.

Ketika memasuki kereta tersebut kami berhasil duduk di restauran kereta dan mengamankan tiga kursi. Sayangnya, kami tak lama duduk di kursi tersebut karena beberapa penumpang, bapak-bapak, mulai bermunculan dan juga merokok sehingga membuat restauran bau. Ditambah lagi, saat itu tiga perempuan, berada di dekat bapak-bapak bukanlah ide yang bagus. Kami lebih rentan menjadi korban pelecehan apalagi ketika komen-komen dari mulut mereka yang bau alkohol sudah mulai keluar. Heran ya kalau di Indonesia orang mabuk itu jadi suka kurang ajar sama perempuan.

Jadilah kami pindah duduk ke dekat toilet. Hanya ada dua kursi di dekat toilet, kursi lipat, mirip kursi petugas di pesawat terbang. Salah satu dari kami harus duduk di lantai, beralaskan koran. Jangan tanya betapa tak nyamannya, apalagi ditambah dengan bau dari dalam toilet. Tapi momen itu kami bertiga jadi banyak ngobrol tentang hidup, pekerjaan dan juga pria, hingga tentunya kelelahan.

Tidur sendiri menjadi pilihan yang susah, karena kereta eksekutif ini berhenti di banyak stasiun dan banyak pedagang makanan yang mencari pembeli. Para pedagang ini memang tak diperbolehkan naik ke dalam kereta eksekutif, tapi mereka tak kehilangan akal, mereka menekan tombol khusus di pintu yang membuat pintu tak bisa otomatis tertutup.

Begitu pintu terbuka, teriakan nama makanan yang mereka jajakan akan membahana ke seantero gerbong. Wingko Babat, Bakpia Pathuk dan Pecel Madiun menjadi tiga nama makanan yang masih lekat di kepala saya, jangan dilupakan juga aneka minuman. Sisanya saya tak ingat lagi. Yang jelas teriakan perjuangan hidup itu bercampurkan dengan dinginnya malam, AC dari gerbong yang keluar, serta aroma toilet.

Tiket kami sendiri juga dicek oleh inspektur tiket dan agaknya sudah menjadi kegiatan tahu sama tahu jika ada penumpang berdiri. Penderitaan kami berakhir ketika beberapa penumpang mulai turun di kawasan Timur Jakarta dan kursi-kursi mulai kosong. Kami setidaknya bisa tidur sebentar, walaupun terus menerus cemas, karena takut jika kursi tersebut dimiliki oleh orang lain.

Sampai di Malang, kondisi tubuh saya jangan ditanya lagi. Lelah tak terkira dari perjalanan panjang tanpa istirahat, tapi hati bahagia karena sampai di kampung halaman. Pengalaman itu sendiri menjadi pengalaman yang meninggalkan trauma, hingga saya enggan pulang naik kereta lagi. Saat itu saya juga memilih kembali dengn Garuda Indonesia. Kembali ke Jakarta harus nyaman, setelah tersiksa semalaman.

Pengalaman gila ini sudah tak bisa tak bisa diulang lagi, karena PT. KAI sudah menghapuskan tiket berdiri (thanks God for this). Kalaupun mereka masih menjual tiket ini, saya tak akan pernah mau membelinya lagi, Selain karena ketidaknyamanan, juga karena saya sangsi para penumpang berdiri ini akan dilindungi dengan asuransi. Uang hasil penjualan tiket tersebut juga saya yakin tak tercatat di dalam buku keuangan.

Kalian, punya pengalaman menarik dengan kereta?

xx,
Tjetje

Baca juga pengalaman saya di kereta ekonomi yang manusiawi dan penuh cerita di sini.

 

Nostalgia Anak Jaman Dahulu

Kendati Ibunda saya menggemari fotografi, tak semua perjalanan kanak-kanak saya terekam dalam rol film. Foto-foto kanak-kanak saya terbatas, beberapa foto terlihat lucu dan tentunya ada beberapa yang memalukan. Foto-foto kanak-kanak tersebut tersimpan dengan aman dalam tumpukan album-album foto.

Dulu ketika saya masih bekerja di Jakarta, ketika saya pulang ke Malang, saya sering iseng membuka album-album tersebut sambil membahas orang-orang yang berada di foto tersebut. Dari sana, saya jadi tahu orang-orang yang pernah berada dalam hidup saya. Sambil melihat foto tersebut, kami juga membahas apa yang sedang terjadi pada saat foto tersebut diambil.

Beberapa foto masa kecil saya juga berada di sebuah meja kaca, bersama dengan foto-foto beberapa anggota keluarga kami yang lain, dari Oom, hingga para sepupu. Meja yang berada di ruang keluarga kami itu berfungsi sebagai pengingat tentang masa kecil kami dan perjalanan keluarga.

Ibunda saya tak punya catatan tentang bagaimana saya menjalani potty training, tak ada foto, apalagi video yang merekam momen tersebut. Kalaupun sekarang saya ingin tahu, mungkin Ibu saya tak akan ingat lagi momen tersebut, karena momen tersebut sudah lebih dari tiga dekade yang lalu. Tapi karena keputusan ini saya sangat bersyukur sekali, setidaknya jejak masa kecil saya tak berceceran di dunia maya.

Buku catatan nilai sekolah, atau yang lazim disebut raport, milik saya juga masih disimpan dengan baik oleh Ibunda saya. Raport saya dari TK, hingga SMA tersimpan rapi dan dihiasi foto hitam putih berukuran 4 cm x 6 cm yang diambil dari studio foto Abadi di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Keluarga kami sangat loyal dengan studio foto ini dan kami hanya diperbolehkan foto di sini, walaupun mereka mematok harga yang sedikit lebih mahal dan lokasinya tak dekat lagi dengan kawasan kami tinggal.

Raport saya, untungnya tak pernah dipamerkan kepada siapa-siapa, tidak kepada teman-teman Ibu saya, ataupun anggota keluarga kami. Untungnya, ketika Ibu saya arisan tak pernah ada momen untuk memamerkan hasil nilai saya kepada Ibu-ibu satu RT, atau bahkan ke teman-teman gaulnya. Selain karena nilai saya yang biasa-biasa saja, juga karena Ibu saya memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Terimakasih ya Tuhan!

Sebagai anak 90-an, saya juga bersyukur dengan fakta bahwa saya besar tanpa komputer, tanpa ipod, ipad dan i-i lainnya. Video game seperti Nitendo sendiri mulai hadir di hidup kami melalui teman-teman, kami harus main ke rumah mereka untuk main video tersebut. Sebagian besar waktu kanak-kanak saya dihabiskan dengan bermain petak umpet, gobak sodor, bentengan, saat malam minggu kadang-kadang kami bermain di bawah terang bulan, di jalanan perumahan. Ada kalanya juga kami pergi berenang ke sebuah tempat pemandian umum dan berenang di air yang sangat dingin, lalu pulang membeli jagung bakar. Jaman dulu, jagung bakar itu jauh lebih keren dari aneka Frappé ataupun kopi-kopi jaman sekarang yang bermandikan gula. Tak ada foto apalagi selfie untuk momen-momen tersebut, semuanya terekam dalam memori masa kanak-kanak.

Selama bulan Januari ini saya banyak bernostalgia tentang masa-masa saya tumbuh, di jaman 90an. Tak muluk-muluk kalau saya sangat bersyukur dengan masa-masa tersebut, karena besar tanpa media sosial, besar tanpa foto dan video yang tercecer di media sosial, sungguh hal tersebut merupakan sebuah keindahan yang tak ternilai. Sekali lagi saya bersyukur sekali karena saat ini saya tak perlu repot-repot menghubungi Google dan mengisi form “the right to be forgotten” supaya jejak-jejak tersebut dihilangkan.

Dua atau tiga dekade yang akan datang, anak-anak yang tumbuh di jaman ini mungkin akan sibuk mengisi formulir tersebut, sembari protes keras dengan keputusan orang tuanya untuk mengunggah foto dan video mereka berlarian tanpa pakaian, latihan pipis, hingga ketika mereka bermain sambil disuapin yang tersebar di aneka media sosial, atau bahkan di YouTube. Mungkin pada saat itu mereka akan mempertanyakan, apakah sungguh sepadan keputusan orang tua mereka untuk membagikan masa kanak-kanak mereka demi like dan juga pundi-pundi uang dari hasil iklan. Mungkin lho ya, karena tahu apalah saya yang besar di jaman 90an ini.

Kalian, adakah yang kalian syukuri dari masa kanak-kanak tanpa media sosial dan orang tua oversharing?

xx,
Tjetje

Nostalgia Anak 90an

Jaman dulu, ketika sebuah program televisi usai lebih awal, entah lima atau sepuluh menit, saya selalu gembira menanti dengan sabar video klip yang akan muncul. Kalaupun saya berada jauh dari depan televisi, tapi pendengaran saya yang sangat tajam menangkap intro lagu-lagu Boyzone ataupun Backstreet Boys, saya akan lari sekencang-kencangnya menuju depan televisi. Dulu, tak ada YouTube, jadi lari demi melihat mereka di TV pun rela kulakukan.

Seperti beberapa anak-anak jaman dulu, saya juga rajin mencari tahu lirik lagu mereka, supaya bisa ikutan nyanyi. Modalnya: ketajaman telinga, kertas dan bolpen. Jika sudah benar, lagu ini kemudian dipindahkan ke buku lagu, yang cantik, dan ditulis dengan koleksi bolpen warna-warni. Setidaknya, bolpen cantik dengan aneka warna ini bisa digunakan dan dinikmati keindahannya, karena mereka dilarang digunakan di sekolah.

Ketika Kahitna pertama kali mengeluarkan lagu Cerita Cinta, saya pernah duduk di teras rumah, mendengarkan lagu ini diputar dari tape mobil tetangga. Si anak kos, yang saya bahkan masih inget namanya, sedang mencuci mobilnya sambil mendengarkan lagu ini, dengan kencang tentunya. Saat itu, saya tak terganggu sama sekali dengan musik kencang dari mobil kijangnya (yang kotak dan diceperkan. OMG, mobil ceper!)

Merekam lagu di kaset kosong seharga tujuh ribu Rupiah dari radio juga menjadi sebuah kegemaran. Begitu lagunya akan muncul, tangan siap sedia memencet tombol rekam. Sayangnya radio kemudian muncul dengan ide untuk menyebutkan nama radio mereka ketika intro lagu dimulai. Ah rusak deh kegiatan merekam ini. Bicara kaset, kaset-kaset saya sekarang masih ada, dirawat dengan baik oleh adik saya yang memang hobi koleksi kaset. Termasuk kaset band Stinky yang setia menjadi bahan olok-olokan, karena saya pernah mendengarkan mereka. #YaNasib

Best thing from 90', Barlow and cassette. #Casette #GaryBarlow #Indonesia

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Anak 90an pasti juga kenal yang namanya Laser Disk, disk besar yang digunakan untuk memutar film. Disk ini biasanya bisa disewa di tempat penyewaan, selama beberapa hari. Dulu, pergi ke tempat penyewaan laser disk itu menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Tapi kalau ingat besarnya disk tersebut, duh mendingan Netflix aja deh. Tinggal pencet komputer atau TV, beres deh.

Koleksi kertas surat juga menjadi sebuah hobi di tahun 90an. Satu bungkus kertas surat, yang biasanya juga berbau wangi, biasanya berisi sepuluh set kertas surat dan amplop. Sembilan set akan ditukarkan dengan teman lain, sementara yang satu disimpan sendiri untuk koleksi. Kenangan tentang hobi ini tiba-tiba kembali ke memori saya, ketika mantan kolega saya yang orang Jepang memberikan satu set kertas surat cantik dari Jepang. Selain itu, ia juga memberikan sebuah surat perpisahan yang begitu indah. Surat indah dikombinasikan dengan kertas cantik ternyata oke, sayangnya semua koleksi kertas surat saya sudah hilang tak ketahuan rimbanya.

Telepon umum juga berperan penting dalam komunikasi anak 90an. Nokia 5110, apalagi 3110 belum ditelurkan, jadi telpon rumah menjadi andalan gaul, modalnya pun murah, 100 rupiah untuk tiga menit. Koin 200 ataupun 500, saat itu belum muncul. Uang 100 Rupiah pada saat itu merupakan jumlah yang besar (bagi anak-anak), sehingga muncul kreativitas koin yang dilubangi, lalu diikat dengan seutas tali (supaya bisa bolak-balik telpon tanpa membayar). Teknik ini sendiri memerlukan kecepatan tangan untuk menarik koin ketika mesin akan menelan koin. Yang ditelpon siapa? ya cem-ceman dong ya.

Saya dan banyak anak lainnya juga gembira ketika telepon umum rusak, lalu banyak uang yang nyangkut di dalam mesin. Kalau sudah begitu, ranting atau lidi yang kuat akan dimasukkan untuk mendorong koin yang nyangkut. Dan jackpot, tiba-tiba beberapa uang koin akan berhamburan, cukup untuk membeli beberapa Chiki atau Anak Mas. Kebahagiaan sederhana ini sayangnya tak bisa muncul ketika telpon kartu dan telepon kartu chips muncul. Telpon-telpon itu hanya membuat pembicaraan interlokal lebih mudah dilakukan. Nostalgia telepon sendiri pernah saya tulis secara mendetail di postingan ini.

Tahun 90an itu menyimpan banyak kenangan manis, karena saya tumbuh besar di tahun itu. Melihat dunia berubah dan mengikuti perubahan itu, dari mulai berlari-lari di bawah terangnya bulan, hingga kemudian mengenal teknologi dan terjebak dalam teknologi. Beberapa tulisan nostalgia selama bulan Januari ini membuat saya merasa beruntung sekali, karena masa kanak-kanak dan masa muda saya begitu indah. Semoga generasi sekarang pun merasakan hal yang sama, atau setidaknya, kalian para orang tuanya membantu mereka membuat kenangan-kenangan indah.

Kamu, punya kenangan manis apa di tahun 90an?

xx,
Tjetje
Anak ’90an

Matinya Majalah Kita

Pagi itu, saya mengenakan seragam sekolah, siap untuk berangkat ke sekolah. Hari itu begitu tertancap di kepala saya, karena loper koran kami mengantarkan majalah Gadis. Sebelum berangkat ke sekolah, saya duduk membuka-buka lembaran majalah yang warna sampulnya hari itu kuning, sambil tak sabar ingin cepat-cepat pergi sekolah untuk pulang, karena ingin membaca majalah tersebut. Hari itu saya begitu girang, terlalu girang mungkin hingga memori majalah Gadis pertama saya begitu kuat menancap di kepala.

Jaman 90an, tak ada Twitter, boro-boro Twitter, internet saja tak ada. Majalah menjadi salah satu sumber informasi kami, apalagi bagi saya yang tinggal di Malang. Selain  menyambungkan saya dengan glamornya ibu kota dan informasi-informasi tentang artis ibu kota dan artis internasional, majalah Gadis juga sukses menempelkan ide tentang kaos H&R, kaos bikinan Bandung yang jaman itu ngetrend banget.

Saat itu, majalah kerap kali memberikan alamat rumah para artis atau Gadis Sampul. Salah satu teman SD saya (SD sodara-sodara!) ada yang hobi mencatat alamat dari majalah dan mengirimkan surat untuk artis-artis atau para Gadis Sampul. Surat-surat tersebut dibalas dengan surat template dan ditemani dengan foto studio yang diberi tanda-tangan. Saya sendiri tak pernah demen nulis surat ke mereka, karena bingung nulis apa.

Selain membaca majalah Gadis, saya juga membaca Kawanku, majalah yang dipenuhi pin-up atau poster para penyanyi dan artis-artis. Sebagai remaja 90an, poster-poster itu saya tempelkan di satu tembok di kamar saya. Beberapa poster itu masih ada di tembok kamar ABG saya (saya punya kamar ABG dan kamar dewasa) yang sekarang jadi kamar setrika. Nah suatu ketika, suami saya tak sengaja melihat koleksi poster-poster tersebut (OMG, malu 🤦‍♀️) lalu dia kaget sambil ketawa kencang ketika melihat sebuah band Irlandia yang salah satu anggotanya teman dia sekolah yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah mertua. Nama bandnya OTT, yang dulu nyanyi ulang lagu “All Out of Love”. Untungnya saya gak gitu ngefans.

Masih ada yang kenal sama OTT?

belakangan ini heboh karena upah jurnalisnya dicicil, juga menjadi salah satu majalah yang rajin saya baca. Ibu saya berlangganan majalah ini sejak lama dan saya jadi ikutan rajin membaca. Nah ketika membaca majalah ini saya selalu membacanya dari belakang. Yang saya baca duluan tentunya Gado-gado di bagian paling belakang. Tulisan yang dikirimkan oleh pembaca ini bisa membahas beraneka rupa cerita. Satu tulisan yang membekas di kepala saya soal Dutch treat, tentang pengalaman seorang pembaca yang menghadiri pesta ulang tahun dan berakhir harus membayar makanan sendiri & tidak dibayari. Femina sendiri menjadi majalah yang lumayan, cukup information dan tentunya iklannya tak seabrek.

Di Jakarta sendiri saya sempat berlangganan Femina, tapi akhirnya berhenti karena loper yang tak disiplin dalam mengantar majalah, juga karena harga yang dijual jauh lebih mahal ketimbang harga yang dibanderol. Harga jauh dari banderol ini kayaknya problem Jakarta dan para loper ini sering kreatif, harga majalah ditutup dengan corrective pen lalu harga baru ditulis di atasnya. Rekor saya ketipu, empat puluh ribu rupiah untuk majalah tempo yang aslinya tak begitu mahal.

Bagaimana dengan di Dublin? The Economist sempat menjadi pilihan saya selama beberapa bulan tapi akhirnya saya berhenti juga, karena lebih cepat membaca secara daring. Tsunami internet inilah yang berkontribusi besar pada mulai matinya industri majalah, termasuk majalah Hai yang sempat berjaya sekali. Tak hanya majalah sih, koran-koran pun berguguran satu-persatu dan mulai digantikan oleh koran daring yang judulnya sensansional, beritanya terpotong-potong dan tentunya clickbaity. Namanya juga gratisan.

Salah satu momen paling menyenangkan untuk membaca majalah itu, bagi saya, di salon, ketika kepala dan pundak dipijit saat creambath. Ah surga banget deh. Kalian, punya kenangan manis dengan majalah dan punya majalah favorit?

xx,
<<<<Ailtje

Juga membaca Panyebar Semangat & Bobo

Tentang Stasiun Radio

Siapa yang masih sering mendengarkan radio? Saya masih sering dong streaming dari Irlandia. Radio ini menjadi sahabat saya ketika menyetir, di kantor (ketika tak mengajar dan harus duduk di depan komputer) serta ketika pulang ke rumah sembari memasak di dapur. Bagi saya, radio gak ada matinya!

Pilihan stasiun radio saya sendiri di sesuaikan dengan kondisi dan lokasi saya. Di rumah dan di jalan, saya lebih sering mendengarkan radio lokal Dublin. Radio yang paling sering saya dengarkan di sini 98 FM yang diklaim sebagai Dublin’s Best Radio Station. Selain urusan musik dan mendengarkan berita, saya juga suka mendengarkan acara interaktif yang mengajak pendengar membahas berbagai topik aneh-aneh. Beberapa topik terakhir yang saya dengarkan soal pro-kontra memiliki akun tabungan bersama dan kejadian-kejadian horor hingga soal percintaan beda usia antara duda beranak satu yang berhubungan dengan anak kuliahan dengan beda usia 20 tahun. Soal yang terakhir ini komentarnya kejam-kejam.

Selain memberi inspirasi tulisan dan membuka wawasan, mendengarkan radio melatih telinga saya untuk mendengarkan aksen Irlandia, walaupun aksennya tak terlalu kental, serta memperkaya koleksi kosakata yang sering digunakan di Irlandia. Saya besar dengan Inggris Amerika, jadi ada perbedaan besar ketika pindah ke sini dari yang paling sederhana seperti antara chips dan crisps, hingga soal ukuran metrics.

Untuk mempertahankan kosakata Inggris Amerika saya, Kiis FM menjadi radio pilihan yang saya streaming dari computer. Bukan musik yang saya cari, tapi acara interaktifnya Ryan Seacrest dan pendengarnya yang berdiskusi (atau lebih tepatnya berdebat) karena satu hal. Entah karena dating gak berjalan, rent belum dibayar, atau karena ditinggal selingkuh. Seru sih karena lagi-lagi telinga harus cepat menangkap isi pembicaraan. Satu lagi yang saya suka dari programnya Ryan Seacretst, dia suka nanya: “Tell me something good“. Ini menyenangkan banget lho dengernya, karena kepala kita udah kebanyakan dengar hal-hal negatif yang bikin capek.

Radio Indonesia juga masih sering saya dengarkan, biar nggak ketinggalan hal-hal baru dan juga kosakata kekinian dari Indonesia. Radio yang saya dengarkan PramborsFM, biasanya sih saya mendengarkan Sunset Trip, walaupun saya gak demen dengan jumlah iklan di radio ini. Duh buanyaaak banget dan repetisinya, apalagi soal apartemen yang iklannya kenceng itu. Saya juga gak demen dengan Fakta Cemen Ala Mr. Lessman, karena garing berat & suatu ketika pernah becandaan soal suicide. Suicide is not a joke and should never be a joke.

Dari radio Indonesia saya jadi tahu tentang penyanyi-penyanyi Indonesia terbaru. Perkenalan pertama saya dengan lagu-lagu Tulus juga gara-gara PramborsFM. Lagu Gajah menjadi lagu Tulus yang pertama kali saya dengar. Di PramborsFM ini saya juga jadi ngeh kalau orang-orang itu suka kirim makanan untuk para penyiar. Malam-malam lagi siaran, tiba-tiba dikirimi martabak. OMG, saya dengernya merana gitu, karena tak ada martabak manis kaya kalori di Dublin.

Menariknya, ketika saya tinggal di Jakarta, saya justru tak terlalu menggemari radio. Saya hanya sesekali mendengarkan radio dan hanya radio Perancis saja. Sebelum dituduh sombong, saya mendengarkan radio Perancis untuk mengasah kemampuan bahasa Perancis saya. Sayangnya sekarang kemampuan saya udah menghilang, karena bahasa ini jarang saya gunakan.

Saat tinggal di Malang sendiri saya mendengarkan beberapa radio lokal seperti Makobu dan Kalimaya Bhaskara. Entah dua radio itu masih ada atau tidak. Tapi dulu, ketika masih berseragam (baca: masih muda dan masih sekolah, tapi tidak ingusan), saya pernah beberapa kali mampir ke stasion radio, untuk menuliskan request lagu serta mengirimkan salam kepada teman-teman. Seneng lho kalau dapat salam dari radio dari teman gini, rasa senang yang sederhana. Apalagi kalau yang ngirim salam cem-ceman.

Bagaimana dengan kalian, masih suka dengerin radio dan punya stasiun radio favorit? Atau kalau gak suka dengerin, just tell me something good 😉

xx,
Tjetje