Obsesi Orang Indonesia: Makan-Makan

Disclaimer dulu ya, gak semua orang Indonesia itu terobsesi dengan makan-makan. Banyak yang berjuang setengah mati untuk bisa makan sesuap nasi. Yang saya gambarkan di sini tentunya hanya potongan kecil dari sebagain masyarakat Indonesia.

Selama tinggal di Indonesia, acara makan-makan di rumah itu bukan sesuatu yang saya pandang sebagai satu hal yang spesial. Makan-makan adalah bagian dari ritual dalam sebuah acara, semisal lamaran, pertunangan, arisan, perkawinan, ulang tahun, kumpul-kumpul keluarga, atau bahkan ritual keagamaan seperti pengajian, halal bi halal, misa bersama, ataupun odalan.

Begitu pula ketika bekerja, urusan makan-makan juga menjadi sebuah hal yang biasa saja, kalau ada yang ulang tahun makan siang rame-rame (minta dibayarin pula), atau ketemu teman/ kolega lama untuk sekedar catching up, pasti urusannya di seputaran makan. Kalau gak makan tentunya ngopi-ngopi cantik. But hey, makanan lebih penting daripada kopi.

Begitu pindah ke Irlandia, saya melihat kultur makan-makan orang Indonesia ini masih sangat melekat kuat. Undangan untuk ngumpul-ngumpul untuk makan siang bersama, dilanjutkan ngobrol panjang masih sangat sering dilakukan. Tentunya, situasi di sini berbeda, makan-makan harus potluck. Semua orang berkontribusi untuk membawa sesuatu dan dinikmati bersama. Kultur makan ini juga dibawa pada saat ketemuan, pasti akan nyerempet ke makan di luar bersama. Bagi kita, makan-makan adalah bagian besar dari hidup dan mungkin, hidup adalah makan.

Kultur ini masih diperkuat dengan hobi kita untuk melakukan wisata kuliner. Coba yang sering jalan-jalan, atau mengunjungi teman yang orang Indonesia, pasti pertanyaannya tak jauh-jauh dari “Pengen makan apa?”. Bagi kebanyakan dari kita, yang mungkin dipanggil kaum menengah ngehek, jarak jauh atau antrian untuk mencoba makanan bukanlah sebuah masalah. Kalau sudah sampai suatu daerah, ya wajib mencoba kuliner lokal. Terkadang, usaha untuk mendapatkan makanan ini dipandang aneh oleh mereka yang tak paham tentang makanan.

Ambil contoh, saya yang naik becak berkilo-kilometer di Banjarmasin demi makan semangkuk soto Banjar, karena gak nemu taksi. Jaman itu tak ada taksi online. Gila katanya membayar becak 100ribu demi soto yang jauh lebih murah dari ongkos becak. Atau jauh-jauh ke Ubud demi nasi ayam (padahal nginep di Sanur). Soal nasi ayam ini, saya bahkan pernah mampir bungkus nasi ayam untuk dibawa ke Jakarta, untungnya gak ketinggalan pesawat. Bicara ketinggalan pesawat, saya pernah jadi penumpang terakhir yang naik ke dalam pesawat dan dipanggil namanya hingga berkali-kali karena nekat makan ayam tangkap dulu di Banda Aceh.

Kegemaran kita dengan makan-makan juga dikukuhkan dengan kebiasaan lain, membawa makanan khas untuk dibagikan dengan teman, saudara, keluarga ataupun kolega. Oleh-oleh, topik yang jadi mimpi buruk bagi banyak traveler. Di setiap sudut nusantara, selalu ada oleh-oleh khas sebuah daerah yang berkaitan dengan makanan, dari mulai pia Sabang, kepiting dandito, hingga roti abon Manokwari. Obsesi kita terhadap makanan khas inilah yang kemudian ditangkap oleh usaha kecil menengah hingga para artis papan atas yang datang dengan ide tak orisinal.

Saya bukan termasuk penggemar kuliner, karena saya ini picky eater. Ribet kalau ngajak saya makan. Dengan latar belakang bukan penggila kuliner ini, saya tetap mengalami gegar budaya ketika tiba di Irlandia. Orang Irlandia tak punya obsesi terhadap makanan seperti kita. Restauran-restauran yang katanya happening itu menyajikan makanan yang meh, gak sepadan dengan harganya. Rasanya, polos dan tak kenal bumbu. Bahkan, ada restauran mewah yang makanannya didatangkan dari Inggris dan dipanaskan lagi ketika sampai Irlandia. Alamak!

Nah kalau kultur makan di restauran saja bisa begitu parah, bagaimana dengan di rumah? Ketika awal datang ke Irlandia dan mendapatkan undangan ulang tahun, saya tak makan banyak, takut terlalu kenyang. Eh begitu sampai di acara, ternyata makanan yang disajikan berupa keripik-keripik, roti lapis dan kue ulang tahun. Sungguh jauh berbeda dengan kultur kita yang pantang mengundang orang kalau mereka tak pulang kekenyangan dengan bungkusan di tangan.

Lemahnya kultur makan di negeri ini bisa dipahami, karena alcohol punya peran yang terlalu besar dalam kehidupan masyarakat. Ketemu teman ya di pub, sambil minum. Bukan makan. BBQ makan burger satu aja, lalu minum alcohol sebanyak-banyaknya. Pokoknya minum.

Di negara ini, kultur kuliner memang tak sekaya negara-negara tetangga. Dan kalaupun ada satu hal yang membuat saya bersyukur, saya bersyukur jadi orang Indonesia yang terobsesi dengan makanan dan makan-makan. Apalah artinya hidup tanpa makan enak tanpa rasa. Meh.

Kamu makan apa hari ini?

xx,
Tjetje

Baca juga:
Drama Makan-Makan
Undangan Makan-Makan

Advertisements

Ribetnya Urusan Ranjang

Judulnya sangat clickbaity

Menjadi dewasa itu menuntut banyak waktu untuk belajar terus-menerus. Dari belajar yang penting banget hingga belajar yang penting. Salah satu bagian dari menjadi orang dewasa adalah belajar mengenai hal-hal kecil di dalam rumah, dari mulai mengenali suara burung yang mematuki atap hingga soal bagaimana mengatur ranjang, dari mulai memilih sprei, bantal hingga duvet yang tepat. Merekalah yang membuat ranjang jauh lebih nyaman.

Dulu, jaman saya di Jakarta, memilih sprei itu mudah. Tinggal jalan ke mal Ambassador atau kalau rajin dikit ke Mangga Dua. Colek-colek kain dan pilih sprei sesuai pilihan dan tentunya sesuai anggaran. Pilihannya pun lumayan banyak. Setelah itu, keluarkan ilmu tawar-menawar supaya harga turun sedikit. Di Jakarta, sprei ini biasanya satu set, termasuk selimut, sarung bantal dan sarung guling. Tak seperti di sini, selimut yang dibeli tak bisa berganti sarung. Sementara di sini, sarung selimut bisa berganti-ganti. Mereka menyebutnya duvet.  

Pilihan sprei tak terbatas pada membeli, tapi juga dengan menjahitkan. Beberapa sprei yang saya punya dulu hasil menjahitkan. Bahannya tinggal pilih dari toko kain dan hasilnya lebih personal. Sesuai selera kita.

Begitu pindah ke Irlandia, saya dihadapkan dengan realita sprei yang sebenarnya. Memilih sprei tak semudah dulu lagi. Masalah pertama tentunya ukuran. Ukuran tempat tidur di Irlandia ternyata tak seperti di negeri lain, ada Irish standard. IKEA pun menyesuaikan dengan Irish standard dan punya dua standar, Irish dan non-Irish.

Saya juga dihadapkan dengan keribetan duvet. Tapi ternyata duvet ini tak susah, cukup pilih tog (tingkat kehangatan) sesuai musim. Untuk musim panas 4,5 dan musim dingin 13,5 tog. Urusan bulu bebek atau non-bulu bebek, selera masing-masing dan sesuai kantong masing-masing.

Selain duvet,  saya juga dihadapkan dengan pilihan tipe sprei yang dimau, mau flat atau mau fitted. Fitted pun ada pilihan deep fitted. Sprei flat sendiri merupakan sprei yang “lepasan”, biasanya digunakan untuk tambahan di bawa selimut. Pengalaman saya, pemilihan tipe sprei yang tak tepat bisa berakibat fatal, dari mulai cepat lepas, kasur tak seindah tahu (karena sprei tak pas) hingga sprei robek karena terlalu sempit.

Selanjutnya urusan thread. Thread terkait dengan bahan sprei dan jumlah benang yang digunakan dan berkorelasi dengan tingkat kelembutan kain. Setelah banyak membaca dan merasakan banyak kain, saya mengambil kesimpulan, semakin tinggi thread maka akan semakin nyaman spreinya. Harganya pun tak bohong, semakin mahal. Saya juga jadi ngeh, sprei di hotel itu bisa nyaman karena threadnya yang sangat tinggi, setidaknya di atas 400.

Hal lain yang pokok adalah bahan sprei. Ada begitu banyak bahan yang saya temui di label. Saya bahkan pernah mencatat bahan-bahan ini, hasil dari melototin label di toko, untuk mencari tahu perbedaannya. Beberapa hasil catatan saya:

  • bambu: Bambu ini boleh dibilang jadi alternatif bahan sprei yang kepopulerannya terus meningkat karena ramah lingkungan. Bahannya sendiri cenderung ringan.
  • katun: tak seperti bambu yang ramah lingkungan, pemprosesan katun melibatkan bahan-bahan kimia. Tapi kelembutannya, kalau menurut saya, jawara.

Nah katun ternyata  masih dibagi-bagi jadi aneka rupa & hasil belajar saya seperti ini:

  • Egyptian cotton: Ini katun terbaik, lembut dan biasanya threadnya tinggi. Tapi karena permintaan yang tinggi, banyak produk berlabel Egyptian kualitasnya tak oke punya lagi. Saking terkenal (dan mahalnya) Egyptian cotton ini sampai punya asosiasi untuk melindungi nama baik Egyptian cotton. Warbiyasak.
  • Pima/ Supima cotton: Amerika punya, halus dan berkualitas tinggi.
  • Katun mewah (luxury cotton): bilang aja bukan Egyptian cotton.
  • Enriched with cotton: dicampur- campur katun. Engga asli kalau gitu.
  • Organic cotton: engga ketahuan dari mana asalnya, tapi organik. Penting buat mereka yang memilih gaya hidup organik.

Pada akhirnya, urusan sprei ini saya selesaikan dengan beberapa elemen, anggaran, minimal thread dan yang paling penting tangan saya. Sprei yang saya beli harus lolos inspeksi colek-coleh dulu. Kalau berasa enak di kulit, baru di beli.

Urusan sprei beres, eh ternyata saya masih harus dihadapkan dengan salah beli ukuran duvet cover, alhasil duvet saya yang berukuran super king harus dilipat ujungnya karena sarung yang saya beli kekecilan. Tak cukup di sana, masih ada lagi keribetan soal sarung bantal, dilema antara housewives atau oxford. Bedanya? Cuma kelebihan kain lima centimeter. Ya ampun, sarung bantal aja ribet. Sama ribetnya dengan throw pillows.

Kalau begini, saya jadi pengen manggil Mbak Emoy, bekas pekerja rumah tangga yang dulu jadi andalan saya. Mbak Emoy ini jawara banget, kemampuan menata tempat tidur dan bersih-bersih sekelas mereka yang kerja di hotel. Rahasianya: peniti.

Kamu, seribet apa dalam menata ranjang?

Xx,
Ailtje

Kutukan Tetangga

Pernah punya tetangga terkutuk yang jahatnya ngalah-ngalahin bintang shit-netron di televisi? Saya tak ingat membaca di mana, mungkin di Kompas edisi hari Minggu, tapi ada satu artikel yang menuliskan bahwa hidup bertetangga itu seperti membeli lotere. Kalau kita dapat tetangga yang baik, rasanya seperti menang jackpot, sementara kalau dapat tetangga yang buruk, seperti dikutuk. Masuk akal sih, karena tetangga tak bisa diganti semudah kita mengganti pacar ataupun mengganti sepatu. Tetangga adalah takdirmu.

Selama beberapa dekade hidup bertetangga, saya menemui tetangga yang aneh-aneh. Dari mulai tinggal di dalam kos hingga tinggal di rumah, selalu ada aja cerita tetangga yang ajaib. Jangan salah, tetangga yang baik juga banyak yah, cuma saya pengen cerita tentang takdir hidup ketemu tetangga aneh-aneh, karena mereka membuat hidup lebih ceria.

Tetangga Berisik

Jaman saya ngekos di Jakarta dulu, tetangga kos saya sering didatangi teman-temannya.  Sambil merokok, mereka ngobrol panjang lebar di koridor kos. Jeleknya, mereka seringkali tak sadar waktu dan ngobrol hingga tengah malam. Tentunya suara mereka cukup menggelegar hingga bisa didengar dari dalam kamar saya. Kalau sudah mulai berisik gini saya suka menegur. Setelah lama tinggal di kos ini saya baru ngeh kalau tertangga saya ini ternyata bekas pemain olahraga yang menjadi artis. Saya baru ngeh kalau dia artis setelah dia nangis-nangis di televisi nasional gara-gara urusan dituduh punya anak di luar perkawinan. Halah, gak di kos gak di TV, berisik melulu. 

Tetangga berisik tak cuma di kos saja, di rumah juga banyak tetangga berisik. Apalagi kalau ada tetangga yang punya hajatan. OMG, mimpi buruk gak bisa tidur, apalagi kalau sudah melibatkan hajatan dan speaker. Runyam sudah waktu untuk bermesraan dengan bantal dan guling. 

Berbagi tembok dengan tetangga juga menimbulkan banyak masalah, apalagi kalau kemudian TV tetangga ditempelkan di tembok dan dinyalakan dengan suara kencang, karena pendengarannya tak baik. Ah kalau yang ini saya mah nyerah, karena tetangga yang satu ini mimpi buruk, mau ditegur berapa kali juga mereka gak akan ngeh. Ini tak hanya masalah di Indonesia ya, di Irlandia mereka yang rumahnya berdempetan ada kalanya mengalami masalah serupa, dari perkelahian, suara tv, hingga suara mesra dari kamar tidur.

Tetangga dan Sampah

Manajemen sampah di Indonesia itu buruk sekali. Semua sampah dicampur jadi satu dan jadwal sampah tak jelas. Di tempat saya tinggal dulu, tukang sampah bahkan tak segan meminta uang ekstra untuk sampah kompos (potongan rumput). Tiap bulan pun kami harus memberikan sedikit uang supaya semua sampah diangkut. Taka da uang, ya hanya separuh bak yang akan diangkut. Bak sampah kami terbuka, model semen persegi empat, yang mengakibatkan siapapun bisa memasukkan sampah. Bisa diduga, tetangga suka usil mengirimkan sampahnya ke bak sampah di rumah. Tak cuma sampah, beberapa kali bak sampah di rumah ditulisi dengan kata-kata kotor dari tetangga culas. Untungnya, rumah kami di Malang tak pernah kehilangan tutup tempat sampah. Tutup tempat sampah yang terbuat dari besi ini nampaknya sering dicuri karena bisa dikilokan. Dan ini menjadi problem ketika  saya tinggal di Jakarta. Duh…

Kalau ingat soal bak sampah ini saya suka tertawa sendiri, apalagi kalau kemudian melihat bapak mertua saya hobi memunguti sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa kali dalam seminggu mertua saya akan berjalan di sekitaran rumahnya untuk memunguti sampah. Bapak mertua yang sudah tua ini niat lho, punya alat penjepit sampah segala supaya tak perlu bolak-balik menunduk mengambil sampah. Lha kalau punya tetangga model gini mah, karunia Tuhan namanya.

Tetangga tukang fitnah & gosip

Nah kalau ini ada di mana-mana. Motifnya satu: iri hati melihat tetangga lain sukses atau bahagia. Waduh kalau yang model ini gak ada abisnya deh dan seringkali fitnahnya kejam-kejam, apalagi kalau kemudian ada janda muda di lingkungan tempat tinggal itu. Habislah pasti si janda dituduh macam-macam. Pergi ke luar kota dituduh kawin lagi, renovasi rumah dituduk jadi istri ke dua. Belum lagi tuduhan menjadi simpanan. Pendeknya perempuan, apalagi janda tak pernah dianggap mampu mandiri secara ekonomi, sehingga membuat tetangga terkaget-kaget.

Bagi saya, mereka ini adalah tetangga terkutuk, karena mereka begitu kejam pada mereka yang kehilangan suaminya di usia muda. Janda muda. Tenang, orang-orang seperti ini tentunya menjadikan semua orang sebagai bahan gosip.

Tetangga dari Surga

Tak semua tetangga itu buruk, apalagi terhadap janda. Tetangga yang baik itu ada banyak, banyak sekali. Dari banyak tetangga saya, ada satu yang membekas di hati saya, sampai sekarang. Tetangga saya ini hobi memberi makan para janda dan anak yatim. Setiap hari Jumat ia mengirimkan rantang yang berisi makanan untuk tetangga-tetangganya. Sementara saat bulan puasa, beliau tak putus memberikan makanan saat berbuka selama tiga puluh hari. Semua masakan yang ia kirimkan dimasak dari dapurnya. Dimasak dengan cinta dan niatan yang baik. Bless her, her kindness and her family.

Penutup

Seperti saya tulis di atas, tetangga itu rejeki kita dan tak mudah menggantinya. Apalagi kalau kemudian rumah yang kita tinggali itu kita beli, wah tambah susah lagi ganti tetangganya. Setelah melewati banyak tetangga aneh-aneh, di kampung tempat kami tinggal ini, kami diberkahi dengan tetangga yang baik-baik. Dari mulai orang Filipino (yang tentunya menyangka saya berasal dari negara mereka), hingga tetangga yang tak segan keliling mencari tahu rekomendasi internet terbaik untuk rumah kami.

Anjing tetangga keliaran dan saya selamatkan selama beberapa jam

Kebaikan di lingkungan pertetanggaan kami tak hanya berhenti di saling menyapa, saling menolong manusia, tapi juga terhadap hewan. Di kampung kami, anjing yang lepas dari rumah akan diselamatkan oleh tetangganya. Pemiliknya akan dicari hingga bertemu. Begitu juga dengan domba yang terluka ataupun kuda yang kelaparan. Semua terkena kebaikan manusia.

Kalian, punya tetangga terkutuk atau tetangga dari surga?

xx,
Tjetje

Racun Hoax Whatsapp Group

Para kerabat, sanak saudara, Oom, Tante serta teman-teman masa sekolah yang sebagian besar tak saya kenal dan tak saya ingat, ijinkan saya berceloteh tentang pengalaman berada di dalam WhatsApp Group atau yang umum dipanggil WAG. Sebagai warga negara Indonesia yang jauh dari kampung halaman, WAG bagi saya adalah pengobat rindu dan jembatan untuk menghubungkan saya dan kalian semua. Perannya vital, karena saya tak ingin ketinggalan berita tentang keponakan yang baru lahir, teman terdekat yang berjuang melawan kanker, hingga berita tentang keluarga yang jatuh sakit.

Sayangnya, beberapa WAG saya sekarang berubah menjadi media murahan untuk ajak menyebarkan berita bohong, hoax. Kalian, para saudara, tante, Oom dan teman-teman berebutan untuk menyebarkan informasi tanpa mengecek terlebih dahulu. Saya paham, sebagai orang Indonesia kita dididik untuk jadi kompetitif, jadi orang pertama yang paling tahu, rasanya jadi seperti jawara kan kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi tersebut?

Tak susah mengecek kebenaran berita-berita tersebut, tinggal copy dan paste, maka internet akan membawa kita ke grup yang bertujuan melawan hoax. Bahkan, beberapa hal yang berada di internet juga ada klarifikasinya dari institusi  yang terseret. Ah kalau saja semua penyebar hoax di Indonesia ditangkap, mungkin grup-grup keluarga, grup kawan, alumni akan sunyi dan senyap, karena sebagian anggotanya, terutama yang rajin posting, ditangkap aparat.

Pernah sekali waktu, saya mengklarifikasi sebuah berita bohong yang disebarkan di sebuah WAG, alasan yang saya terima, “saya cuma meneruskan“. Alasan ini bagi saya bukan sebuah hal yang bisa diterima, karena ada konsekuensi dari setiap informasi yang kita sebarkan, apalagi jika informasi itu tak valid dan tak bermutu. Berita yang kalian teruskan itu menunjukkan kualitas kalian dalam menyaring informasi.

Ambil contoh, seorang kenalan saya yang bermukim di Irlandia. Ia cemas tak karuan ketika membaca pesan di WAG, tsunami akan menghampiri lokasi di mana kebanyakan keluarganya tinggal. Saya yang bukan ahli tsunami ini sampai harus menjelaskan bahwa berita tersebut bohong. Lha kalau ia yang tinggal jauh saja bisa cemas, bagaimanakah dengan mereka yang berada di daerah bencana sana, apa gak tambah kalang kabut? Sudah tertimpa bencana masih harus ditakut-takuti lagi. Teganya kalian.

Hoax politik juga tak kalah sampahnya. Di sebuah malam, tiba-tiba notifikasi masuk bahwa bensin akan naik pada tengah malam. Maka ramailah omelan muncul, darah mendidih, tekanan darah meningkat, umpatan terhadap pemerintah tak terelakkan. Tunggu punya tunggu, harga BBM tak naik, permintaan maaf juga tak muncul, padahal  pesan kenaikan BBM itu dikirimkan ke beberapa group. Beda aliran politik itu wajar, normal di sebuah negara demokrasi, tapi menyebarkan informasi-informasi tak akurat seperti ini itu sampah benar. Benar-benar menunjukkan kualitas kalian.

Lucunya, beberapa dari kalian adalah orang-orang yang tak muda lagi.  Kukira dengan umur kalian yang jauh dari umur kami, anak-anak muda ini, kami bisa menghormati pengalaman dan kedewasaan kalian. Maaf, hilang hormatku ketika tahu kalian bahkan tak bisa mengecek kebenaran sebuah berita dan hanya bisa menyebar-nyebarkan.

Kadang dalam hati kecil saya, rasanya ingin teriak dan mengumpat, apa kalian tak ada kegiatan yang lebih bermanfaat saja untuk mengisi kesibukan? Ketimbang mengirim hoax, ada baiknya hidup dihabiskan untuk bermain dengan cucu, jika punya cucu. Berkebun dan menyiangi rumput di halaman, membaca koran sambil meminum teh. Melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat atau bahkan mendekatkan diri pada Tuhan (jika masih percaya Tuhan). Atau bahkan melahap buku, seperti bapak mertua saya, volunteering seperti Ibu mertua saya yang usianya sudah menginjak kepala tujuh, bikin kerajinan dan sibuk pameran seperti ibu saya. Bukan dihabiskan dengan menyebarkan hoax di grup-grup WhatsApp. 

Sebelum mengirimkan hoax, ada baiknya juga kalian baca sampai selesai. Selain mempertanyakan apakah topik tersebut benar, tanyakan pula apakah ini akan menyakiti orang lain. Bisa bayangkan bagaimana muka mereka yang bukan pemeluk agama Islam ketika membaca tulisan bahwa UNESCO mengeluarkan informasi bahwa Islam adalah agama paling damai di dunia. Tak susah mencari informasi kepanjangan dari UNESCO dan mandatnya. Tak susah juga mencari tahu bahwa berita ini adalah hoax basi yang sudah pernah diklarifikasi. Klasifikasinya bahkan masih terpampang di situs UNESCO.

Akhir kata, ijinkan saya anak muda ini memberi tahu kalian para orang-orang yang harusnya mengajari saya kebijaksanaan dan kehati-hatian, apalagi dengan segala kedewasaan umur kalian, bahwa hidup ini bukan kompetisi. Tak perlu kita berlomba-lomba jadi yang pertama untuk menyampaikan informasi yang salah. Salah-salah informasi hoaxmu itu bisa membuat orang jantungan. 

Sekali-sekali, kebo nusu gudel* ya, para Tante, Oom.

Salam sedikit hormat,
Ailtje

Kebo nusu gudel merupakan peribahasa Jawa yang berarti orang tua belajar dari yang lebih mudah. 

 

Perdebatan Cincin Berlian 

Pada saat maka siang beberapa waktu lalu saya dan teman kantor berdiskusi soal berita yang menjadi viral. Seorang perempuan di Australia, kalau saya tak salah, protes kepada pasangannya di media sosial. Protest perempuan ini tentang cincin pertunangannya yang berharga 1300 saja, entah euro atau dollar.

Ia nampaknya kecewa karena harga cincin ini tak sepadan dengan gaji pasangannya yang enam digit. Enam digit itu berarti setidaknya 100,000. Ini gaji per tahun ya, bukan gaji perbulan. Perempuan ini dihujat habis-habisan karena dianggap matre. Saya sendiri melihatnya tak pantas ngomel kepada tunangan di media sosial. Kenapa tak langsung kepada tunangannya saja, biar gak jadi benjolan di hati dan biar jadi pertimbangan apakah hubungan perlu dilanjutkan atau tidak. Walaupun aneh juga kalau tiba-tiba nanya: “Eh tunangan, kenapa kamu beli cincinnya yang murah meriah, gak beli yang super mahal?”

Nah pada saat makan siang itu semua orang berdebat panjang soal berapa jumlah angka yang pantas diinvestasikan untuk cincin berlian. Bagi saya, perdebatan soal harga cincin ini adalah perdebatan yang tak akan selesaikan, karena kemampuan dan selera orang berbeda-beda. Pendapatan orang, tabungan, cicilan dan hutang orang juga masing-masing. Kendati penghasilan tinggi, kalau cicilannya tinggi otomatis tak banyak uang tersisa untuk membeli cincin.

Bagaimana dengan norma kepantasan membeli cincin pertunangan. Soal ini pendapat orang bermacam-macam. Ada yang bilang setidaknya tiga kali gaji kotor. Berarti, dalam kasus di atas, setidaknya 25k, dua puluh kali lipat dari uang yang dia habiskan untuk membeli cincin. Tapi tentunya aturan tak tertulis ini tak bisa digunakan oleh semua orang, karena kasus orang berbeda-beda. Tengoklah Kate Middleton yang mendapatkan cincin warisan Lady Di. Kocek yang dirogoh mungkin hanya sebatas mengganti cincin yang ukurannya pas saja.

Balik lagi, pilih-pilih cincin ini memang kondisi keuangan masing-masing. Walaupun kenyataannya di beberapa kultur, pria-pria memaksakan diri mengambil pinjaman dalam  jumlah besar demi membeli cincin berlian dari butik ternama. Yang pelit sendiri juga ada, saya setidaknya tahu satu orang yang membeli cincin pertunangan dengan mata “sebesar pasir” yang kemudian menjadi bahan tertawaan banyak orang, termasuk pria-pria.

Di kultur kita sendiri, cincin pertunangan bukanlah sebuah hal yang penting. Di barat sendiri saya perhatikan cincin pertunangan sering menjadi acuan untuk menunjukkan sudah dilamar. Cincin yang dipasang di jari kiri ini juga menjadi pengingat bahwa yang bersangkutan sudah dilamar, tak boleh digoda-goda lagi.

Ketika saya bertunangan beberapa tahun lalu, teman-teman saya (yang orang asing) pada heboh ingin melihat cincin pertunangan. Setelah melihat cincin kawin, pembicaraan tentang rencana perkawinan pun dibahas. Mereka ini heboh bertanya rencana, tapi tak ada satupun yang minta diundang. Bagi mereka, mendengar orang lain bertunangan saja sudah menyenangkan.

Orang-orang Indonesia yang saya kenal juga bertanya hal yang serupa, tapi ada satu pertanyaan berbeda yang membuat saya tak nyaman. Berapa karat kah cincin tunangan saya? Padahal, mengukur sebuah berlian itu tak hanya dari karatnya saja, tapi ada faktor-faktor lainnya. Lagi pula, apa pentingnya.

Pada akhirnya, karat cincin itu, bagi saya, bukan sebuah hal yang penting. Yang terpenting tentunya, cinta kami berdua, dijaga supaya tak karatan. #ApaSih. Tapi kalau kemudian bagi orang lain carat, cutting, colour and clarity dari cincin mereka lebih penting, ya urusannya masing-masing. Yang penting dibawa seneng aja.

Cincin Tiffany seperempat juta yang saya temui di Prague. Kayaknya kalau pakai ini gak bakalan happy, tapi penuh ketakutan. Takut hilang.

Kalian, pakai cincin pertunangan juga?

Tradisi Kirim Kartu Ucapan di Irlandia

Memberi kartu ucapan pada hari-hari penting itu bukan sesuatu yang asing bagi kita semua. Tetapi di Indonesia tradisi ini di Indonesia bisa dikatakan hampir mati, atau di banyak tempat bahkan sudah mati.

Di Irlandia, tradisi mengirimkan kartu masih menjadi tradisi yang dijalankan banyak orang. BUAAAAANYAK lebih tepatnya. Mengirimkan kartu (dan minum teh) adalah bagian dari nafas orang Irlandia.

Natal dan kartu tentunya menjadi momen terbesar dalam urusan pengiriman kartu. Di toko-toko buku, kartu dalam wadah dan dalam jumlah banyak (setidaknya enam atau dua belas buah) dijual dengan harga yang tak begitu mahal. Bahkan, beberapa organisasi menggalang dana dari penjualan kartu ini. Dua tahun lalu misalnya, kartu-kartu pilihan saya jatuh untuk organisasi yang terkait dengan kanker, tahun kemarin saya tak begitu ingat.

Infographic: moo.com

Selain Natal, Valentine mungkin, mungkin lho ya, menduduki posisi penting lain untuk pemberian kartu. Saya bilang mungkin karena saya memang tak punya statistiknya. Di saat Valentine, kartu-kartu dijual dengan harga yang sedikit lebih mahal. Mungkin karena momennya.

Hari khusus lain yang juga dirayakan dengan kartu adalah hari Ayah dan juga hari Ibu. Toko buku biasanya tak hanya menawarkan kartu khusus, tapi juga berlomba-lomba memberikan inspirasi hadiah. Saya sendiri tak pernah ingat tanggal-tanggal ini, karena mengandalkan hiasan di toko.

Selain hari-hari khusus di atas, kartu juga banyak dikirimkan pada saat ulang tahun. Keluarga saya di sini tak absen memberikan kartu untuk setiap ulang tahun (kadang kartu ini juga diselipi dengan uang 🤣). Kartu juga seringkali menjadi alasan untuk bertemu. Kalimat yang sering saya dengar biasanya: “Oh saya harus mampir ke rumahmu untuk memberikan kartu”.

Selain pada tanggal penting dan ulang tahun, kartu juga diberikan pada momen penting lainnya. Lulus ujian SIM misalnya, dapat kartu. Pindah rumah baru atau membeli rumah juga diberi kartu. Promosi pekerjaan juga ada kartu khususnya. Pendek kata, koleksi kartu ucapan yang terkait momen hidup di Irlandia cukup lengkap. Dari mulai kelahiran, pembabtisan, komuni pertama, konfirmasi, kelulusan ujian, pertunangan, perkawinan hingga kartu ucapan duka atas kematian (di sini tak lazim mengirim bunga & keluarga biasanya menolak).

Dari semua momen memberikan kartu, saya paling suka dengan kartu ucapan terimakasih. Terimakasih untuk apapun, dari sekedar mendengarkan keluh kesah hingga menjaga binatang peliharaan. Rasanya senang sekali kalau dapat kartu ini.

Kartu-kartu yang diberikan akhirnya akan berada di tempat sampah. Tapi sebelum dibuang ke tempat sampah, kartu-kartu ini akan dipajang di rumah. Biasanya, di atas perapian. Saat Natal bahkan ada ornamen khusus yang berfungsi untuk memamerkan kartu ini; modelnya pun aneka rupa, salah satunya model tali jemuran (digantung).

Harga kartu ucapan sendiri beraneka rupa, dari yang murah hingga yang mahal. Biasanya, semakin tinggi kode kartu semakin mahal harganya. Misalnya, kartu dengan kode 30 akan lebih murah ketimbang kartu dengan kode 70. Ada banyak cara mengakali anggaran belanja kartu, salah satunya dengan membeli di toko yang menjual semua produk dengan harga 1.50 Euro. Tentu saja kualitasnya tak seperti Hallmark.

Tradisi memberi kartu ini juga melanggengkan hobi membuat kartu. Hobi yang memerlukan perhatian pada detail dan juga jiwa seni ini bisa menghasilkan uang, jika pelakunya mau menjual. Saya sendiri pernah membeli beberapa kartu buatan tangan, salah satu kartu yang saya beli kartu 3 dimensi yang bisa menjadi wadah kotak dengan berbagai bunga kertas. Kartu tersebut saya berikan ke Ibu mertua dan selama satu tahun terakhir berada di jendela rumahnya sebagai hiasan. Saya girang, yang membuat kartu juga senang mendengarnya.

Kapan terakhir kali kalian memberi kartu ucapan untuk orang-orang terdekat?

xx,

Tjetje

Susahnya Hidup Tanpa Plastik

Bulan Juli sudah berlalu, katanya bulan tersebut adalah bulan untuk diet plastik, atau tanpa plastik. Faktanya saya susah banget untuk tidak menggunakan plastik. Jadi izinkan saya untuk mengaku dosa, saya pendosa besar dalam mengkonsumsi plastik yang berkontribusi merusak lingkungan dan membuat hidup para hewan susah.

Air minum kemasan

Dosa terbesar saya dalam mengkonsumsi plastik adalah air minum kemasan. Di tempat saya bekerja, air minum kemasan ini disediakan secara gratis. Setiap hari saya setidaknya mengkonsumsi tiga hingga empat botol, tergantung berapa lama saya harus berbicara. Untuk mengurangi konsumsi plastik botol dari stainless steel sudah pernah dibagikan. Botol yang dibagikan pun oke punya, keluaran Klean Kanteen dengan insulasi yang sangat bagus. Air hangat bahkan bisa tetap hangat hingga lebih dari 12 jam. Sementara air dingin juga akan tetap segar, bahkan es batunya seringkali masih ada, tak sepenuhnya mencair. Saya punya beberapa botol ini, tapi selalu lupa membawa ke kantor dan tiap kali dibawa ke kantor, selalu terbawa lagi ke rumah. Tobat deh, mungkin sudah saatnya saya meninggalkan satu di kantor, satu di rumah dan satu di dalam tas saya untuk dibawa-bawa. Nampaknya bertobat itu memang tak murah, mengingat kalau beli sendiri, di Dublin, harganya mencapai lima puluh Euro.

Plastik rumah tangga

Selain botol plastik, saya mengkonsumsi banyak plastik di dapur rumah. Konsumsi terbesar saya untuk plastik pembungkus (zip lock). Freezer saya tertata rapi, dari tempe, cabai, hingga aneka rempah saya simpan dalam plastik individu. Kalau dilihat cantik dan sangat rapi. (Nanti kapan-kapan saya bikinkan tour freezer lagi ya di IG story). Soal yang satu ini sedang saya coba kurangi. Saya dengan mengumpulkan botol-botol kaca supaya cabe bisa langsung saya hancurkan untuk masuk ke botol. Tapi tempe, saya belum menemukan solusinya. Tempe-tempe saya tertata rapi dalam porsi delapan potong, supaya kalau menggoreng tak perlu repot. Kotak plastik freezer sendiri tak memungkinkan, karena sudah beberapa hancur akibat dinginnya freezer. Mungkin ada yang bisa membantu memberi ide?

Plastik dari supermarket

Di samping dua hal di atas, sampah plastik di rumah kami juga datang dari supermarket. Supermarket lokal kami menggunakan banyak plastik. Tomat terbungkus plastik, daun bawang dibungkus plastik dengan rapat, ketimun pun dibungkus satu-persatu dengan plastik. Banyak produk segar lainnya juga dibungkus plastik supaya tak cepat layu. Soal ini, sudah beberapa kali di bahas di media di Irlandia, tapi baru satu supermarket yang melakukan aksi nyata untuk mengurangi konsumsi plastik. Sisanya penuh dengan plastik.

Yang menyebalkan, beberapa banyak plastik yang kami gunakan ternyata tak bisa didaur ulang. Di sini, kebanyakan produk memberikan informasi materi pembungkusnya dan apakah pembungkus tersebut dapat didaur ulang atau tidak. Produk daging misalnya, seringkali plastik pembungkusnya plastik film yang tak bisa didaur ulang, otomatis plastik ini harus dibuang ke tempat sampah hitam dan biaya pembuangannya lebih mahal. Lima kali lipat dari pembuangan sampah yang bisa didaurulang. Lingkungan rusak, kantong pun bocor.

Plastik belanjaan

Di Irlandia sendiri plastik untuk membungkus belanjaan tak diberikan dengan gratis, harus membayar. Kantong plastik biasanya dihargai 70 sen. Kantong ini sendiri cukup kokoh dan biodegradable. Saya sendiri memiliki kantong belanja dari kain, buatan Ibu saya. Kantong-kantong ini saya simpan di bagasi mobil, jadi kapapun saya belanja, tak perlu repot beli plastik. Tahun ini, ibunda saya akan berkunjung lagi dan saya sudah pesan khusus, tas belanja dengan motif-motif Indonesia.

Sedotan

Dari segala dosa di atas, ada satu hal yang saya tak merasa berdosa: sedotan. Saya tak senang menggunakan sedotan, alasannya sederhana: sahabat saya yang menyukai ilmu pengetahuan berkata bahwa minum dengan sedotan itu tak sehat. Saya begitu mempercayai ucapan sahabat saya ini (dan tak pernah repot mengecek kebenarannya), yang jelas informasi ini terpatri di kepala saya. Jangan minum dengan sedotan, tak sehat. Alhasil, ketika melihat sedotan stainless Klean Kanteen beserta sikat penggosoknya di toko, saya tak tergoda. Minum buat saya ya harus ditegak, biar puas.

Bagaimana konsumsi plastik kalian?

Xx,
Ailtje