Hidup Tanpa PRT

Sudah hampir dua tahun saya tinggal di Irlandia dan tentunya tanpa pekerja rumah tangga (PRT). Di sini kami tak mau dan tak mampu membayar para pekerja rumah tangga, tukang kebun, apalagi supir. Jauh berbeda dengan  kaum menengah ke atas di nusantara yang dimanjakan dengan layanan PRT murah meriah. Lalu para Ibu-ibu teriak karena gaji PRT yang selalu di bawah UMR dianggap tak murah.

Paska Lebaran ini media sosial saya dipenuhi dengan keluhan para Ibu-ibu yang harus berjuang mengurus rumah dan anak. Foto cucian piring atau setrikaan yang menumpuk mendadak ngetrend. Tumpukan itu untuk menunjukkan tugas rumah tangga yang terpaksa dilakukan karena PRT sedang berlibur.
Duh Ibu-ibu, hidup tanpa PRT itu bisa kok. Ijinkan saya yang selalu dimanja dengan banyak fasilitas di Indonesia berbagi pengalaman saya menjadi anak mandiri.


Cucian setumpuk

Jaman sekarang cuci pakaian itu mudah, masukkan ke dalam mesin cuci, pencet tombol dan tunggu satu atau dua jam. Jemur baju juga relatif mudah, sebentar saja pasti kering karena cuaca Indonesia yang cenderung panas. Jika malas melakukan itu semua, tinggal tunggu laundry kiloan buka setelah lebaran dan masukkan semua ke laundry. Baju habis? Kalau gak mau repot dikit, beli baju lagilah, kan THR belum habis. 

Bagaimana dengan setrikaan? Kalau capek ya gak usah disetrika, tinggal dilipat aja. Saya serius ini. Kaos-kaos di rumah kami hanya disetrika kilat tapi sering kali langsung dilipat. Tadinya (dan saya masih sering melakukan) sprei dan bedcover yang seluas samudera itu juga saya setrika. Lama-lama, capek! Hidup mah yang praktis-praktis aja.


Mengatasi Cucian Piring

Saya tak punya mesin pencuci piring di rumah. Dan kendati tinggal berdua saja, cucian piring saya sering menggunung. Cuci piring masuk menjadi tugas saja, walaupun kadang pasangan saya suka ikut nimbrung. Cuci piring di Irlandia itu kilat, piring dimasukkan ke dalam bak berisi air panas mendidih dan sabun, tak dibilas dan langsung di lap. Saya mengadopsi gaya ini, tapi bedanya piring-piring yang saya rendam saya bilas kembali. Geli rasanya melihat piring bersabun tanpa dibilas. Metode ini menghemat waktu cuci piring karena lemak di piring terbilas air panas. 
Karena menggunakan air panas dan dibilas di bawah keran dengan air panas, piring-piring ini bisa saya lap dan langsung masuk lemari. Dalam waktu kurang dari 20 menit cucian piring menggunung bisa beres. Mudah kan? Lebih mudah lagi jika pasangan mau nimbrung ikut membantu. Kalau pasangan tak mau, ya berdayakan anak-anak.

Membereskan rumah

Di Indonesia, rumah itu wajib dibersihkan setiap hari, disapu dan juga dipel. Karena sudah terbiasa punya PRT, banyak rumah tangga yang enggan menggunakan vacuum cleaner, alasannya takut rusak atau takut PRT menjadi malas. Ya ampun tolong ya, teknologi itu kan disiapkan untuk menjadikan pekerjaan menjadi efisien. (Argumen yang sama juga digunakan untuk mencuci baju secara manual, ya jangan salahkan kalau PRT jadi gak betah).

Vacuum Cleaner lucu. Apapun yang ada di lantai pasti dibersihkan si puppy!


Jadi yang punya vacuum cleaner silahkan dikeluarkan dari dalam lemari. Sementara yang tak punya bisa bersih-bersih manual. Rumah, menurut saya tak harus dibersihkan setiap hari kok. Sesempatnya saja, yang penting rapi. Btw, saya sendiri tak pernah nyapu ngepel ataupun menggunakan mesin penyedot debut di rumah, semua dilakukan pasangan saya. Coba itu bapak-bapaknya daripada sibuk mainan hp dan nonton TV diberdayakan. Masak perempuan saja yang mengurus rumah.


Soal masak

Masak makanan Indonesia itu ribet, tapi bisa direncanakan. Bumbu jadi banyak dijual, di pasar traditional maupun di swalayan. Jika rajin, bumbu dasar ini bisa dibikin sendiri, lalu dimasukkan ke dalam freezer. Rasanya memang akan sedikit berbeda, tapi yang penting sedikit lebih praktis. Jangan lupa juga merencankan menu selama beberapa hari ke depan, sehingga bahan makanan tak terbuang.
Bagi yang tak bisa masak, buka aplikasi Gojek saja. Tapi sabar ya kalau menunggu makanan. Jangan sampai makanan sedang dimasak, pesanan dibatalkan karena tak sabar.

Penutup 

Selama beberapa Lebaran di Jakarta, saya tak pernah pulang kampung dan selalu ngantor. Tugas saya selain menjaga rumah kosong juga menyapu dan mengepel rumah yang sebesar lapangan sepakbola. Butuh hampir satu jam buat saya untuk nyapu dan ngepel.

Hidup tanpa PRT itu memungkinkan kok, sangat memungkinkan, kuncinya tak boleh alergi pada pekerjaan rumah tangga selain itu semua orang harus ikut serta melakukan tugas rumah tangga, jangan hanya dibebankan pada Ibu, istri atau perempuan saja. Lagipula, lontong, opor ayam dan rendang yang duduk manis di dalam perut kan juga perlu dibakar supaya tak jadi lemak.

Selain itu kerjanya juga harus fokus dan tak repot mengunggah foto di media sosial. Bukan tak boleh, tapi kalau terlalu sibuk menanti like di media sosial kapan selesainya?

Selamat Idul Fitri bagi kalian semua yang merayakan. Semoga masa liburan bersama keluarga menyenangkan.
xx,

Tjetje

Advertisements

Uang Baru dan Salam Tempel 

Ramadhan sudah hampir usai, THR sudah dibagikan (dan mungkin dihabiskan), baju baru sudah terbeli, begitu juga dengan aneka rupa kue kering di dalam toples cantik. Pendek kata, semua sudah hampir siap.

Eitssss…tunggu dulu, masih ada satu ritual lebaran yang belum dilakukan, menukarkan uang baru. Ritual ini menjadi ritual wajib bagi sebagian, mungkin sebagian besar, keluarga di Indonesia. Anak-anak kecil akan berebutan salam tempel.

Saya sendiri tak tahu bagaimana istilah salam tempel bermula. Yang jelas setiap kali bersalaman dengan yang tua, atau dituakan, akan ada uang yang ditempelkan di tangan. Tradisi ini tak hanya saat lebaran, tapi juga saat kumpul keluarga. Saya yang sudah berusia lebih dari tigapuluh pun masih menggemari diberi salam tempel. Bukan nilai uangnya yang saya suka, tapi elemen kejutan tiba-tiba mendapatkan hadiah. Uang tersebut biasanya saya sembunyikan di dalam dompet untuk keadaan darurat. Darurat sale.

Tradisi salam tempel ini membuat permintaan uang baru menjelang lebaran  melonjak. Sama melonjaknya dengan harga bawang merah, santan, daging serta daun janur. Mereka yang bekerja di institusi perbankan biasanya sering kejatuhan rejeki dititipi uang baru oleh keluarga dan teman-temannya. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya, bukan untuk lebaran, tapi untuk menimbun uang pecahan kecil di dalam brankas. Kadang, mereka yang dititipi tukar uang ini bisa menukarkan hingga puluhan juta rupiah. 

Tahun ini saya tak sempat mengecek apakah bank Indonesia punya tempat penukaran uang, tapi biasanya ada kendaraan khusus BI untuk memfasilitasi melonjaknya permintaan yang baru. Bisa dibayangkan betapa penuhnya tempat penukaran ini.

Karena negara kita penuh dengan wirausaha, para pedagang uang baru juga bermunculan di pusat-pusat kota. Di Jakarta sendiri, mereka biasanya ada di depan Museum Bank Mandiri, di daerah kota tua. Di daerah ini, mereka tak hanya berjualan pada saat menjelang lebaran saja, tapi hampir setiap hari. Mereka duduk  berteduh di pinggir jalan, bertemankan tas pinggang serta tumpukan uang baru.


Pecahan 2000 sebanyak 100 lembar, yang seharusnya bernilai 200.000 seingat saya dijual 5-10 ribu lebih mahal. Untuk ongkos keringat mereka tentunya. Jika uang yang ditukarkan lebih dari itu, silahkan dihitung sendiri berapa keuntungannya. Yang jelas pedagang uang baru bisa lebaran, bayar preman dan pembeli bisa menyenangkan keponakan. Semua orang senang. Beres.

Di Irlandia sendiri tak ada obsesi terhadap uang baru. Anak-anak cenderung diberi hadiah berupa barang ketimbang uang. Natal dapat hadiah, Paskah dapat coklat, ulang tahun menerima hadiah. Satu-satunya momen untuk menerima hadiah uang hanya pada saat first communion (komuni pertama bagi pemeluk agama Katolik), uangnya pun tak perlu baru. Yang penting nilainya bisa membuat mereka tersenyum lebar. Nanti kapan-kapan saya cerita soal perayaan komuni di sini ya.
Kembali lagi pada uang baru dan salam tempel, beberapa tahun lalu saya sempat kaget luar biasa ketika tahu para keponakan-keponakan ini bisa meraup jutaan rupiah dari satu Lebaran. Mereka bahkan punya target untuk memberi barang tertentu dari uang tersebut. Ada yang ingin beli iPad, ada yang ingin beli iPod, dan tentunya ada yang cukup bahagia ketika sudah bisa belanja jajanan di swalayan. Soal yang terakhir ini, saya beberapa kali menjumpainya di swalayan kecil di depan kost saya. Duh tiap kali bertemu mereka, saya rasanya sangat tertampar karena kesederhanaan mereka.

Selamat menjalanakan sisa ibadah Ramadan kawan, semoga tahun ini kalian diberkahi banyak rejeki supaya bisa menempelkan uang baru dalam pecahan yang jauh lebih besar.

xx,

Tjetje

Diskriminasi Lowongan Pekerjaan

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya di sebuah media sosial menuliskan lowongan pekerjaan di kantornya. Bunyi lowongan pekerjaan kurang lebih seperti ini:

Dicari [nama posisi]

Lulusan [kualifikasi yang di minta]

PEREMPUAN

Usia maksimal 2o-an

Gaji sumpah kecil banget

Lowongan pekerjaan seperti ini banyak ditemukan di Indonesia dan sejujurnya lowongan-lowongan seperti ini sama sekali tak mengenakkan untuk dibaca karena penuh dengan diskriminasi. Herannya, sejak saya mencari pekerjaan lebih dari satu dekade lalu, model lowongan diskriminatif seperti ini masih saja ada.

Usia minimal

Indonesia itu kurang bersahabat dengan pencari kerja yang berusia lebih dari 30 tahun. Lowongan-lowongan yang beredar, baik online maupun di media cetak, meminta usia pelamar di bawah 30 tahun. Bahkan, para pencari kerja di pusat belanja seringkali meminta usia pekerja di bawah 24 tahun. Yang dicari memang yang masih muda belia.

Saya mencoba memahami, tapi sampai detik ini saya tak pernah paham dengan usia maksimal ini. Ketika di banyak tempat orang berorientasi pada usia minimal, supaya tak ada pekerja anak, di negara sendiri malah terbalik. Bagi saya pembatasan usia ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi. Mereka yang berusia lebih dari itu, ketika memiliki kompetensi yang sama ditutup kesempatannya untuk melamar. Alasan klasiknya, yang lebih tua over qualified, gak sanggup bayarnya karena sejarah gajinya sudah terlalu tinggi.

Salah satu penjelasan jujur yang saya dengar, kecenderungan untuk memilih orang-orang muda, karena pemberi kerja menginginkan orang-orang yang pengalamannya belum banyak supaya bisa diatur, ditata dan tak ngeyel jika diberitahu. Mereka yang memiliki pengalaman dan berusia lebih dari usia maksimal, seringkali dianggap terlalu banyak tahu dan bebal. Duh…label.

Tinggi badan (dan berat badan)

Bertubuh pendek seperti saya itu banyak suka maupun dukanya, soal ini sudah pernah saya bahas di sini ya. Nah salah satu derita menjadi orang bertubuh pendek di Indonesia itu ya diskriminasi untuk banyak pekerjaan. Masalahnya, pekerjaan-pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang memang memerlukan tinggi badan seperti menjadi pramugari ataupun pramugara (yang perlu meraih compartment di pesawat). Jadi SPG yang menawarkan produk-produk tertentu saja, wajib hukumnya memiliki tinggi badan di atas 160 cm. Jika tinggi badan hanya 150 cm saja, seperti saya, ya lupakan saja.

To make it worse, ada beberapa pemberi kerja yang menentukan berat badan juga, karena mereka menginginkan orang-orang bertubuh kurus. Entah jenis pekerjaan apa yang mereka tawarkan sampai pekerja yang mereka cari harus memiliki berat badan tertentu yang dianggap ideal oleh pemberi kerja. Mungkin, pekerjaan itu dibagi berdasarkan kelas, kelas ringan, kelas berat, macam olahraga tertentu.

Agama

Satu dekade yang lalu saya pernah melihat lowongan pekerjaan yang dikhususkan untuk orang-orang yang beragama tertentu. Lucunya, sang pemberi kerja bukan pemeluk agama tersebut. Rupanya lowongan tersebut memang sengaja dikhususkan untuk pemeluk agama tertentu, karena mereka identik dengan hal-hal positif dan tak pernah mau mencuri. Nah kalau sudah begini, orang-orang yang beragama lain dan jujur kan jadi tak bisa mengakses pekerjaan tersebut?

Pada saat yang sama, ada juga posisi-posisi tertentu yang melarang penggunaan simbol agama seperti jilbab. Seorang pengemudi Uber, ibu-ibu yang mengenakan jilbab pernah bercerita bahwa ia ditolak mentah-mentah untuk bekerja di perusahaan taksi terkenal di Jakarta. Si Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga ini menolak melepas jilbabnya dan memutuskan menjadi pengemudi di Uber.

Berpenampilan menarik

Defisini berpenampilan menarik itu apa? Tergantung yang menilai tentunya, karena tak ada acuan yang jelas. Di Indonesia sendiri mereka yang berkulit putih, berambut lurus, berhidung mancung cenderung dianggap berpenampilan lebih menarik. Nah kalau sudah begini, apakah mereka yang berkulit sawo matang dan berambut keriting tak layak dapat pekerjaan? Entahlah, silahkan ditanyakan pada perusahaan-perusahaan yang mencantumkan penampilan menarik sebagai prasyarat. Tolong sekalian ditanyakan juga, yang menentukan menarik atau tidak siapa, para bapak-bapakkah atau justru ibu-ibu?

 

Di berbagai negara, menuliskan hal-hal di atas sebagai kualifikasi ataupun acuan kemampuan seseorang akan dianggap sebagai sebuah diskriminasi luar biasa, apalagi terhadap perempuan. Dan di banyak tempat, mencantumkan foto di lamaran pekerjaan sudah tak diperlukan lagi, berbeda tentunya dengan di negara kita yang masih sering minta foto. Lalu akan diapakan foto-foto tersebut? Mungkin sudah saatnya lowongan-lowongan ajaib di atas diperkarakan, karena kita tak boleh dinilai berdasarkan penampilan fisik.

Menurut kamu, kualifikasi apa yang tak perlu dicantumkan di lowongan pekerjaan?

xx,
Tjetje

Selamat berpuasa bagi rekan-rekan yang menjalankan ibadah puasa, semoga ibadahnya lancar ya. 

Cerita Dari Dalam Mobil

Di Jakarta dulu, saya sering melihat mobil dengan stiker seperti ini:

Real men use three pedals

Stiker ini biasanya ditemani dengan gambar gas, rem dan kopling untuk menegaskan mobil manual. Para penyuka kendaraan otomatis tak tinggal diam, ada stiker lain yang bergambarkan gas dan rem bertuliskan:

Rich men use two pedals

Perdebatan soal kendaraan otomatis dan kendaraan manual memang perdebatan yang tak pernah padam. Mobil manual dianggap lebih murah, lebih cepat dan pengemudinya lebih menguasai teknik, teknik mengganti gigi tentunya. Sementara mobil otomatis identik dengan mahal.

Di Irlandia sendiri, mobil manual jauh lebih populer ketimbang kendaraan otomatis. Kondisi jalanan di sini memang tak seperti di Indonesia. Jalanan relatif lengang dan kepadatan hanya ditemui di lampu merah saja. Tapi tak ada macet-macetan yang parah, seperti di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya. Eh kota kecil pun sekarang juga macet ya, apalagi ketika ada hajatan seperti kawinan, sunatan atau wisuda.

Popularitas kendaraan manual ini membuat mereka yang mengendarai kendaraan otomatis seringkali ‘dihina’ karena dianggap kurang kompeten sebagai pengemudi. Apalagi SIM Irlandia juga dibedakan, SIM manual bisa digunakan untuk kendaraan manual dan otomatis, sementara SIM otomatis hanya bisa digunakan untuk kendaraan otomatis. Mereka yang menggunakan kendaraan otomatis biasanya pengemudi taksi, atau orang-orang tua yang baru saja operasi hip replacement.

Padahal, mengendarai kendaraan otomatis itu praktis, tak perlu repot-repot ganti gigi. Tak perlu pegal menginjak setengah kopling ketika kendaraan harus merambat di kemacetan yang padat. Dan tentunya kaki kiri bisa diistirahatkan hingga kesemutan.

Proses mendapatkan SIM di Irlandia sendiri tak mudah. Harus lolos tes tertulis dahulu untuk kemudian bisa mendapatkan SIM pemula (learner). Setelah itu, kursus mengemudi dengan instruktur resmi selama minimal 12 jam wajib diambil. Konon, 12 jam ini termasuk ringan, karena di negara lain ada yang mencapai 30 jam. 1 jam kursus sendiri dibandrol dengan harga 25 hingga 49 Euro per jamnya, tergantung sekolah mengemudinya.

Pengemudi pemula juga tak diperbolehkan menyetir sendiri, harus didampingi. Kendaran pun harus diberi stiker L di kaca depan dan belakang. Selain itu, pengemudi L juga tak diperkenankan masuk ke jalan tol. Jika sudah percaya diri, bisa ambil tes mengemudi. Jangan dibayangkan tesnya seperti di Indonesia yang harus melewati balok-balok kayu. Di sini, tes mengemudi langsung di jalan raya. Tingkat kelulusannya pun rendah, hanya 50%. Jadi ya jangan heran kalau ada yang gagal tes mengemudi hingga lebih dari 10 kali.

Bicara soal mobil, harga mobil (yang bekas tentunya) sedikit lebih murah ketimbang Indonesia. Asuransi, yang wajib bagi semua pengemudi, seringkali jauh lebih mahal. Terkadang, ongkos asuransi per tahun bisa dua kali lipat dari harga mobil. Selain asuransi, ongkos parkir juga mahal, setidaknya 2 Euro setiap jamnya. Ongkos parkir ini dibayarkan di mesin-mesin parkir, persis seperti di beberapa tempat di Jakarta. Para pekerja yang menyetir ke kantor biasanya menyewa parkir harian, atau bulanan dan harus merogoh kocek sekitar 100-150 Euro. Tak heran orang-orang di sini lebih memilih untuk naik kendaraan umum ketimbang menyetir.

Satu hal yang pasti, di sini kendaraan bukan simbol kekayaan, apalagi simbol kesuksesan. Setiap kali bicara kendaraan sebagai simbol kesuksesan, saya selalu teringat pada sebuah acara yang melibatkan UKM beberapa tahun lalu. Ketika itu, sang donor yang mendukung kesuksesan si pengrajin berkata bahwa si Ibu pengrajin sudah menjadi pengrajin sukses di kampungnya, karena si Ibu baru-baru ini membeli mobil Kijang.

Ah padahal kan ukuran sukses berbeda-beda. Ada yang mengukur dari kendaraan, ada yang mengukur dari KPR, ada pula yang mengukur dari kecepatan untuk mendapatkan jodoh dan membangun rumah tangga. Hayo sana buruan kawin lulu nyicil mobil, biar orang tua di kampung sana  bangga, karena anaknya sudah sukses.

Jadi menurut kamu, sukses itu apa?

xx,
Tjetje
Penggemar taksi dan Uber yang belum sukses, karena tak pernah beli mobil sendiri.

 

Bahasa Inggris Bagus

Posisi baru saya sekarang mengharuskan saya untuk mengajari orang-orang dari berbagai belahan dunia. Sebagai orang yang terlahir dengan bahasa non-Inggris sebagai bahasa ibu, saya memahami bahwa tugas ini berat, saya harus kerja keras untuk memperkaya bahasa Inggris saya, membuka mulut saya untuk melafalkan kata per kata dengan jelas, berpikir secara cepat untuk menemukan sinonim, serta menggunakan bahasa yang sederhana dan dimengerti oleh semua orang.

Bahasa Inggris saya sendiri tak jelek-jelek amat. Saya terekspos dengan bahasa Inggris sejak saya berusia 3,5 tahun, ketika keluarga kami pindah ke Australia untuk mengikuti jejak Ayah saya yang melanjutkan sekolahnya di sana. Tapi tinggal di luar negeri, di usia muda, tak menjamin bahasa Inggris menjadi baik. Sekali lagi saya garis bawahi, tinggal di luar negeri tak menjamin bahasa Inggris seseorang menjadi baik. Yang tinggal selama berpuluh tahun di negeri asing pun tak sedikit yang memiliki bahasa Inggris berantakan.

Di Indonesia, saya menghabiskan berjam-jam, duduk bersama guru privat bahasa Ingris yang mengajari Inggris pada tiga generasi keluarga saya, dari nenek, ibu hingga saya. Guru bahasa Inggris saya, Ibu Kadarusman, luar biasa. Kelas saya diisi dengan mempelajari tata bahasa, mendengarkan, berbicara, membaca dan diakhiri dengan mengeja. Soal yang terakhir ini, tiap akhir kelas, saya diharuskan mengeja sebuah artikel, dari awal hingga akhir artikel tersebut. Ya bayangkan saja kalau artikelnya terdiri dari 700 huruf, ya 700 huruf itu saya eja.

Sebelum pindah ke Irlandia, saya juga mengambil kelas persiapan IELTS, supaya saya lebih dekat dengan Inggris-British yang tentunya jauh berbeda dengan Inggris Amerika yang saya pelajari seumur hidup saya. Di kelas ini saya menemukan bahwa word stressing saya suka lemah dan sampai detik ini saya tak bisa mengucapkan photography secara baik dan benar.

Dengan sahabat-sahabat terbaik, serta sepupu saya, kami juga berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Komunikasi ini kami campur dengan bahasa Indonesia, Perancis dan Jawa. Bukan untuk sombong-sombongan, tapi lebih kepada koleksi kata yang kaya pada bahasa Inggris dan juga untuk saling mengkoreksi. Di luar itu, saya juga memiliki sahabat-sahabat pena dan melahap banyak buku-buku bahasa Inggris (yang bikin tabungan jebol, karena di Indonesia buku itu mahal-mahal). Setelah Kindle hadir, saya mulai menggalakkan diri melahap buku-buku dengan Kindle dan memanfaatkan kamus yang sudah langsung terpasang di Kindle.

Pendek kata, saya belajar bahasa Inggris hampir sepanjang usia saya, tanpa henti. Dan saya yakin, saya bukanlah satu-satunya orang Asia yang menghabiskan sebagian dari hidup untuk belajar bahasa. Nah, interaksi saya dengan banyak orang, apalagi setelah kelas, biasanya ada saja yang mendekat kepada saya dan bertanya seperti ini:

“How come your English is so good?”

Di luar kelas sendiri ada yang yang spesifik berkomentar seperti ini:

“For Indonesian, your English is so good!”

Kadang, pertanyaan-pertanyaan ini didahului dengan keingintahuan rentang waktu masa tinggal saya di Irlandia. Ketika mereka tahu saya anak baru di Irlandia, orang-orang ini menjadi sangat kaget. Duh, sungguh kalau ketemu yang seperti ini, saya rasanya gemes, karena komentar-komentar itu di telinga saya merupakan sebuah hinaan manis. Hinaan yang terselubung bercampur dengan kebingungan melihat perempuan Asia bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik. Bagi mereka, orang Asia bisa berbahasa Inggris itu aneh, gak wajar dan harus dipertanyakan. Menurut mereka, orang Indonesia (dan Asia pada umumnya) itu kalau ngomong bahasa Inggris harus berantakan.

Keheranan ini tak hanya dialami saya, banyak kelompok-kelompok Asia yang mengalami hal ini. Mereka yang lahir dan besar di negara bahasa Inggris dengan karakteristik Asia pun seringkali dilempari pertanyaan ini. Dalam beberapa kesempatan saya secara blak-blakan mengatakan jika saya tak menyukai pertanyaan tersebut. Kalau mood saya sedang jelek, saya langsung bilang, keluarga kami dulu tinggal di Australia dan akan ditanggapi dengan oooooo panjang. Padahal, apa sih yang ditahu dan diingat anak usia 3,5 tahun?

Jika mood saya sedang baik, saya akan menjelaskan bahwa saya belajar bahasa Inggris dan mendengarkan apa kata guru saya. *huh*. Nah, dari mereka yang sudah lebih lama tinggal di luar negeri saya belajar untuk menanggapi pertanyaan ini dengan lebih pendek lagi: “Thank you, your English is good as well“. Diam deh gak bisa ngomong apa-apa. Lagi biasa aja kali kalau lihat orang bisa bahasa Inggris, kenapa juga mesti heran, jaman udah maju euy!

Kamu, pernah mengalami hal serupa?

xx,
Tjetje

PS: satu hal yang perlu dicatat, memiliki kemampuan bahasa asing baik bukan berarti menjadi orang yang lebih cerdas ketimbang orang lain. Orang-orang yang lemah dalam bahasa, biasanya memiliki kemampuan tinggi dalam bidang-bidang lain.

Tradisi Seputar Paskah di Irlandia

Selamat hari Paskah buat rekan-rekan yang merayakan.

Perayaan Paskah mengakhiri masa puasa Lent yang dimulai pada masa Rabu Abu dan berlangsung selama empat puluh hari lamanya. Satu hari sebelum Rabu Abu, dirayakan dengan makan pancake, hari ini sendiri dikenal dengan nama Pancake Tuesday (ada juga yang menyebutnya Shrove Tuesday). Menunya tentu saja pancake dan beginilah penampakan pancake saya enam minggu lalu:

Because it's #PancakeTuesday!

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Jika di Indonesia Paskah tahun ini diwarnai dengan tanggal merah pada Jumat Agung, di Irlandia Jumat Agung bukanlah hari libur. Tak heran jika banyak perkantoran dan toko-toko yang tetap buka. Sementara sekolah biasanya sudah libur selama dua minggu.

Jumat Agung dan alkohol

Orang-orang Irlandia itu konsumsi alkoholnya cukup tinggi, lebih dari 11 liter per kapitanya. Data juga menunjukkan bahwa satu dari lima orang tidak minun, jadi tentu saja konsumsi per kapita tentunya jauh lebih tinggi dari angka tersebut. Di Irlandia sendiri penjualan alkohol diregulasi, hanya boleh dijual setelah jam-jam tertentu. Hari Minggu misalnya, alkohol baru boleh dibeli setelah pukul 12.30.

Nah, selama 9 dekade, alkohol tak diperbolehkan dijual pada saat Jump Agung. Hari ini menjadi satu-satunya ‘hari tanpa alkohol’. Tadinya, pada saat St. Patrick’s Day alkohol juga tak diperkenankan, tapi kemudian peraturan ini dicabut pada tahun 1960. Akibat dari pelarangan alkohol ini, pub-pub akan penuh pada hari Kamis, semua orang akan berebut minum, seakan-akan tak ada hari lain lagi untuk minum.

 

Salah satu ritual menarik yang dilakukan orang-orang adalah menonton turis di Temple Bar area yang kebingungan karena semua pub tutup. Yang paling kocak tentunya melihat wajah-wajah mereka yang sedang melakukan bachelor party (stag party) tanpa alkohol sama sekali. Saat Jumat Agung, Dublin memang ‘mati’. Jika penasaran, baca salah satu artikel di sini.

Pada Jumat Agung, beberapa keluarga juga punya tradisi makan cross bun, roti manis yang di atasnya diberi tanda cross, mirip salib. Tradisi ini bukan tradisi unik milik Irlandia saja, karena di berbagai belahan dunia banyak keluarga-keluarga Katolik yang makan hot cross bun. 

Saat Paskah sendiri, beberapa keluarga juga memiliki tradisi makan lamb, bayi-bayi domba yang lucu. Tiap-tiap keluarga tentunya memiliki tradisi yang berbeda, termasuk urusan pulang kampung. Yang jelas, liburan panjang seperti ini banyak keluarga yang berkumpul bersama.

Because Easter is about bunnies and eggs. #Chocolates #EasterBunnies #Easter

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Tradisi berburu coklat Paskah juga banyak dilakukan oleh keluarga-keluarga. Telur-telur coklat ini disembunyikan di berbagai sudut rumah, lalu anak-anak mencari coklat-coklat tersebut. Saya sendiri mengirimkan coklat-coklat untuk keponakan saya di Dublin. Tahun ini saya mengirim tiga keranjang. Masing-masing keranjang diisi dengan satu kelinci besar, lengkap dengan loncengnya, serta berbagai telur serta coklat mungil. Anak-anak tersebut, saya yakin, akan jadi sangat aktif (dan mungkin sakit perut) karena terlalu banyak makan coklat.

Telur sendiri konon menjadi simbol kebangkitan Yesus. Jaman saya sekolah dulu (saya bersekolah di sekolah Katolik), kegiatan menghias telur rebus menjadi kegiatan rutin dan saya selalu menghias telur saya dengan kapas dan spidol. Sederhana dan tak kreatif sama sekali. Soal hubungan Easter Bunny (hare) dan telur sendiri, sampai saat ini saya belum benar-benar ngeh dimana hubungannya. Mungkin saya sama bingungnya dengan seorang adik kecil di Skotlandia sana (lihat video di akhir tulisan ini).

Akhir pekan Paskah ditutup dengan hari libur resmi pada hari Senin. Hari Senin ini merupakan hari yang bersejarah di Irlandia, karena 101 tahun yang lalu, terjadi Easter Rising, pemberontakan dan juga pembacaan proklamasi Irlandia. Saya sendiri memilih bekerja ketimbang libur, lha mau kemana, wong kotanya ‘mati’.

Jadi bagaimana perayaan Paskah serta akhir pekan panjang kalian? 

xx,
Tjetje

Percintaan Beda Agama

Percintaan beda agama di lingkungan kita merupakan sebuah hal yang tak hanya dianggap tabu, tapi juga dianggap sebagai sebuah dosa yang harus dihindari. Mungkin saya agak keras dalam mendeskripsikannya, tapi begitulah realitanya. Para pelaku percintaan beda agama, sering dihujat karena tak bisa mengendalikan dirinya, bahkan dituduh lebih mencintai manusia lainnya ketimbang Tuhannya. Padahal, cinta yang menyesap di hati itu datangnya dari Tuhan juga kan?

Di berbagai tempat di belahan dunia (tentunya tak semua) percintaan dengan perbedaan agama adalah sebuah hal yang normal. Dua orang dengan keyakinan yang berbeda, sekalipun keyakinannya bertabrakan bisa hidup bersama, bahkan bisa perkawinannya bisa disahkan secara legal karena negara mengakui hak masyarakatnya. Di Indonesia sendiri, percintaan beda agama identik dengan Jamal Mirdad dan Lidya Kandouw. Konon, karena perkawinan merekalah  UU perkawinan no 1 dirubah dan perkawinan beda agama menjadi sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Konon lho ya!

Sebagai pelaku percintaan beda agama, saya tak begitu melihat tantangan, karena sesungguhnya saya sangat cuek untuk urusan agama. Prinsip saya, agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku. Orang mau ngomong apa, saya juga cuek bebek, yang penting saya happy. Kalau soal cuek, saya memang gak beda-beda jauh lah sama Syahrini. Tapi kenyataannya tak semua orang bisa seperti, banyak tantangan yang dihadapi pasangan beda agama, apalagi kalau sudah melibatkan anak.

Photo: koleksi pribadi

Keluarga

Berhadapan dengan keluarga dan meminta restu untuk percintaan yang hampir terlarang ini dianggap mimpi buruk karena banyak ditentang. Bagus kalau cuma ditentang, yang dipaksa untuk putus cinta atau diancam dibuang dari keluarga serta dicoret dari daftar warisan juga tak sedikit.

Lalu bagaimana mengatasinya? Kalau nekat sih cuek bebek aja, melenggang kawin tanpa memberitahu keluarga, apalagi kalau pasangan memang dirasa pilihan terbaik. Tapi kalau gak bisa cuek, tentunya harus nyoba mati-matian untuk meyakinkan keluarga. Gimana caranya? ya dengan komunikasi yang baik, kadang berhasil, kadang tidak.

Tak cuma keluarga yang perlu dihadapi, masyarakat sekitar yang penuh dengan pandangan mata penuh hujatan dan mulut yang ngalah-ngalahin lambe turah juga perlu dihadapi. Apalagi mereka yang hobi banget ngingetin soal dosa, hingga nyinyir soal label-label, kebiasaan, atau jenis makanan yang dimakan sang pacar. Kalau sudah gini, kuping harus ditebalkan.

Pindah Agama

Memilih berganti keyakinan karena perkawinan itu menjadi sebuah hal yang biasa di telinga kita dan seringkali menjadi alternatif penyelesaian percintaan beda agama. Satu pihak kemudian diminta mengalah untuk mengikuti agama pasangannya. Biasanya, sang perempuan diminta berpindah, karena pria diidentikkan memimpin rumah tangga. Jika kemudian yang berpindah menjadi relijius, hal tersebut seringkali dianggap sebagai bonus dan sang pelaku biasanya dipuja-puja di agama barunya. Sementara jika tak menjadi relijius, banyak bisik-bisik  yang menghujat karena kepindahan agama hanya untuk urusan administrasi saja.

Pada saat yang sama, ketika hubungan percintaan tak berhasil dan yang berpindah kembali ke agama asalnya, pergunjingan pun tak berhenti. Ya intinya semua harus digunjingkan lah ya, apalagi kalau yang pindah-pindah agama ini artis papan atas Indonesia.

Makanan

Banyak pemeluk agama yang memiliki pantangan makanan tertentu. Yang satu makan babi, yang satu tak makan sapi. Gak usah dibikin ribet, meja makan tinggal ikan, sayur, kambing atau keluarga unggas deh. Repot ketika ada acara-acara keluarga yang melibatkan menu-menu khusus? Gak usah dibikin repot juga sih, karena sebenarnya pantangan makanan ini tak ubahnya seperti alergi. Tinggal bilang aja, alergi makan babi, atau alergi makan sapi. Pada saat yang sama, diperlukan toleransi yang cukup tinggi untuk membiarkan pasangan makan makanan yang diinginkan.

Soal Anak

Pertanyaan standar yang muncul dari orang ketika kedua belah pihak memutuskan memeluk agama masing-masing adalah soal membesarkan anak. Mau dibesarkan jadi apa anaknya nanti? Ya dibesarkan jadi orang baiklah!

Anak-anak belum bisa diminta memilih agama sejak usia dini dan banyak kasus dimana orang tua akhirnya berebut ingin mengajarkan agama yang dirasa paling baik. Gesekan juga muncul pada saat perayaan hari besar. Pada saatnya nanti, anak-anak ini juga akan ada pada posisi untuk memilih salah satu, atau sekalian tak memilih sama sekali. Hal-hal seperti ini sebaiknya dibicarakan jauh-jauh hari sebelum proses pembuatan anak dimulai. Lagi-lagi, toleransi dan negosiasi punya peran besar.

Penutup

Percintaan beda agama itu gampang-gampang susah, dibawa gampang yan gampang, dibikin ribet juga bisa. Tak semuanya bisa hidup berdampingan, karena seperti yang saya bilang di atas, perlu tingkat toleransi yang tinggi, kuping yang tebal serta kacamata kuda. Tantangan ini akan jadi semakin berat jika ajaran agama yang dianut jauh berbeda dan sangat bertabrakan. Para pelaku percintaan beda agama biasanya bergulat banyak dengan batinnya, dari soal keseharian hingga soal prinsip ajaran agama. Nah, sebagai penonton gulat yang baik, ada baiknya kalau kita duduk manis saja, gak usah membuat pusing dengan pertanyaan-pertanyaan nyinyir, apalagi sibuk ngitung dosa orang lain. Hitung dosa sendiri aja lah.

Punya cerita soal percintaan beda agama?

xx,
Tjetje