Desember tahun kemarin saya menghabiskan dua minggu berkeliling dari Puerto Banús di Marbella, Granada, Cordoba dan Granada. Sungguh saya langsung jatuh cinta dengan Andalusia. Tak cuma kaya sejarah, Andalusia juga menawarkan kuliner yang menyenangkan.
Belum juga selesai membongkar koper, saya langsung beli tiket untuk kembali ke Andalusia, kali ini untuk menghabiskan pekan suci Semana Santa. Dua kota saya pilih: Malaga & Seville.
Jadi apakah Semana Santa itu?
Semana Santa adalah pekan suci menjelang Paskah. Selama satu minggu ada perayaan sakral agama Katolik untuk mengenang kisah Yesus yang sengsara, wafat hingga kemudian bangkit kembali pada saat Paskah.
Tandu besar yang menggambarkan kisah Yesus, dari mulai ditangkap, disalib, meninggal, hingga kebangkitan digotong beramai-ramai. Tandu ini ini kemudian ditemani dengan ratusan orang yang beriringan melakukan jalan tobat, mengenakan jubah-jubah dengan topi runcing. Beberapa dari mereka membawa lilin sepanjang 1.5m dan tak sedikit dari mereka yang nyeker, tak mengenakan alas kaki. Orang-orang ini disebut sebagai nazarenos atau penitentes
Di belakang tandu Yesus ini selalu ada tandu Bunda Maria yang menemani. Lalu ada sekelompok pemain musik yang menemani mereka. Musik-musik yang mereka mainkan pun terkadang menyayat hati.
Prosesi ini dimulai di siang hari lalu berakhir di malam hari, dan biasanya “berakhir” di katedral. Saya tulis “berakhir” karena dari katedral para brotherhood yang membawa paso ini masih harus kembali pulang membawa paso ini. Jadi tak sepenuhnya berakhir.

Malaga atau Seville?
Ada sensasi yang berbeda dari dua kota ini. Malaga jauh lebih “kecil” jadi sensasi terjebak di tengah parade ini jauh berbeda dengan Seville.
Kendari demikian, kalau disuruh balik lagi saya akan memilih Seville. Mungkin karena selama di Seville saya banyak diberkati dengan keajaiban. Hotel yang kami tinggali tak seharusnya jadi rute prosesi, tapi khusus tahun ini dilewati karena ada perbaikan jalan. Alhasil saya tinggal buka balkon dan melihat parade tanpa merogoh kocek dalam-dalam.

Resepsionis di hotel bahkan sempat bilang: “Kalian beruntung bisa lihat dari balkon dan cuacanya yang bagus”. Tampaknya beberapa tahun sebelumnya hujan mengguyur hingga prosesi terpaksa dibatalkan.

La Madrugá
Dari semua prosesi, satu prosesi yang saya bagi saya sangat menakjubkan adalah La Madruga. Prosesi ini berlangsung semalam suntuk dan baru usia di pagi hari keesokannya.
Semalam suntuk itu ribuan nazarenos berjalan di bawah balkon hotel kami, dalam senyap, tanpa suara dan hanya ditemani temaram lilin. Dan tetesan lilin itu tak hanya jatuh di tangan mereka tapi juga di jalanan-jalanan yang mereka lalui.
Saya tak tidur dengan nyenyak karena terbangun. Tapi saya tak keberatan sama sekali.
Orang-orang Spanyol sendiri berkeliling Seville hari itu. Mereka “mengejar” pasos yang datang dari berbagai penjuru. Menariknya, mereka mengenakan pakaian berwarna hitam untuk menunjukkan rasa duka mereka. Anak-anak perempuan hingga nenek-nenek juga mengenakan mantilla, jubah renda-renda. Sungguh menambah syahdu.

Penutup
Untuk kalian yang pengen mengikuti semana, saya sarankan untuk mengatur perjalanan dari jauh-jauh hari. Jangan mendadak seperti saya, karena harga penginapan pada saat pekan suci ini tidaklah murah.
Jangan lupa pula mengecek peta rute Semana Santa. Tiap hari rute parade mengalami perubahan dan waktu parade pun dimulai pada jam-jam yang berbeda.
Yang paling penting, rencanakan waktu makan kalian dengan baik dan benar. Biar gak terjebak di tengah kerumunan penonton, sementara perut kelaparan.
xoxo,
Ailtje












