Minggu lalu saya pergi ke Paris dan ini bukan kali pertama saya ke Paris ketika suhu panas, atau yang lazim disebut heatwave, la canicule menyerang. Beberapa tahun lalu saya juga berada di Paris saat musim panas. Kunci menjaga kesehatan jiwa dan raga saat itu ada dua: banyak minum air putih dan tentunya tidur di hotel dengan AC yang bisa diandalkan.
Saya pun berburu beberapa hotel di sekitaran 6 arrondissement. Sayangnya semua hotel yang saya tawarkan ditolak rekan perjalanan saya. Kamar-kamarnya dianggap terlalu kecil. Di Paris, ukuran kamar memang sangat kecil karena harga tanah yang tak murah. Sebuah hotel dengan kamar yang “agak lebih luas” pun ditawarkan dan tentunya harganya sedikit lebih tinggi beberapa Euro. Salahnya, saya tak mengecek, hanya mengiyakan dan membayar porsi harga kamar. Kesalahan fatal!

Satu hari sebelum pergi, saya iseng-iseng mengecek lokasi hotel untuk melihat-lihat restoran di sekitaran hotel. Hari itu saya dibuat kaget oleh sebuah review: Hotelnya tak punya AC. Jangan ditanya bagaimana pucat dan paniknya saya, apalagi saat itu Paris dalam kategori la canicule level oranye. Kekhawatiran saya tak digubris dan saya diminta tak banyak komplen.
“Gak usah kakean komplen” katanya…
Tiba di Paris, lantai kamar hotel panasnya tak terkira, floor is lava beneran. Dua kipas angin disediakan oleh hotel, tapi tentunya tak kuat untuk mengatasi panas. Hari itu saya mandi tiga kali, dan tentunya terus bermandikan keringat. Posisi jendela kamar juga menghadap sisi barat, kamar pun bermandikan sinar matahari hingga pukul 9.45 malam. Oven!
Jendela kamar dan korden sendiri baru dibuka pada malam hari, tapi karena lokasi hotel di perempatan yang tak jauh dari rumah sakit, tentunya jadi berisik. Suara ambulans dan suara kendaraan wira-wiri. Dua malam itu saya tak tidur dengan pulas.
RER dan Metro bau
Isu AC di daratan Eropa ini bukan isu baru. AC ini seringkali menjadi bahan olok-olokan netijen, dari netijen Indonesia sampai netijen Amerika. Kendaraan umum juga seringkali tak dilengkapi dengan AC. Selama saya di Paris kemarin, semua Metro dan RER yang saya naiki tak ada AC dan penuh sesak.

Untungnya saya membeli kipas angin portable yang bentuknya seperti headset. Kipas angin ini sedikit membantu. Sayangnya kipas angin ini tak bisa menghilangkan bau badan di kendaraan umum yang bikin mual. Apalagi badan saya tak tinggi, jadi seringkali saya berdiri, berdesak-desakan seperti sarden, sementara tangan ketiak orang-orang terbuka lebar. Baunya sungguh semerbak.
Penutup

Saking stresnya, belum sampai Paris saya sudah muntah-muntah duluan. La canicule atau heatwave itu adalah fenomena serius yang tak bisa diremehkan. Tahun ini, ruang jenazah di Prancis sangat kewalahan, karena lebih dari 2500 orang meninggal.
Perlu dicatat, gedung-gedung di Eropa, tak hanya di Paris dan Prancis, juga kebanyakan didesain untuk memperangkap panas. Mendidih dan tak bisa dibandingkan dengan Indonesia.
Lalu apa pelajaran berharganya? Pelajaran berharganya sederhana sekali. Kalau pergi jalan-jalan prioritaskan diri dan fasilitas-fasilitas yang penting. Jangan menggantungkan diri pada orang lain atau bahkan mengakomodasi hal-hal yang tak sesuai dengan standar kita.
Semoga kebodohan kecil ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kalian, apalagi kalian yang akan jalan-jalan ke negara-negara Eropa saat heatwave. Jangan lupa AC, AC dan AC!
xoxo,
Tjetje















