Tak terhitung berapa kali saya diumpat, dicela dan dituduh pamer suami karena username saya: binibule. Yang ngumpat juga beragam, dari mulai diaspora Indonesia di Swiss yang langsung saya blok karena lambenya sangat turah, hingga orang Indonesia yang mungkin belum pernah merasakan tantangan menjadi bini bule. Sungguh sebuah fenomena dimana manusia suka banget mengontrol hal-hal yang bukan menjadi bagian dari hidup mereka.
Situ Harmoko kok pakai ngatur-ngatur presentasi diri di media?
Sejarah bini bule
Saya bekas blogger di Multiply, sudah berkecimpung di dunia blogging, jauh sebelum Facebook meledak. Di tahun 2012-2013 an, Multiply terpaksa harus ditutup dan blog pun tergusur, terpaksa pindah ke WordPress.
Satu malam, ketika pulang dari kantor saya di kawasan Senopati Jakarta, saya berjalan ke nyari Kopaja bersama seorang kolega. Kami pun ngobrol, kalau misalnya punya domain blog berbayar, mau dikasih nama apa ya? Mbak Rina yang ahli peta berkata ia pengen bikin tukang peta. Sementara saya iseng-iseng berujar: bini bule!
Dan lahirlah binibule.com.
Di jaman itu blog dengan tema perkawinan campur nyaris tak ada, kebanyakan blogger bercerita tentang keseharian, atau tentang travel. Saya sendiri dari awal tak akan mengglorifikasi perkawinan campur. Satu hal yang saya pelajari dari interaksi saya dengan banyak pelaku kawin campur di Multiply itu: pergaulan diaspora dan perkawinan campur itu penuh dengan tantangan.
Era bini bule di YouTube
Entah siapa dan entah kapan mulainya, munculah era di mana pelaku kawin campur berbagi tentang keseharian mereka dalam format video. Formatnya kebanyakan sangat clickbaity dan sangat menjual keluarga kawin campur. Suami bule makan jengkol atau anak-anak bule sarapan nasi goreng. Menariknya, konten-konten ini juga sangat diminati oleh pasar Indonesia.
Dan para pelaku kawin campur pun berlomba-lomba menjual kata “bule” dan segala keindahan perkawinan dengan bule dan kehidupan di luar negeri sebagai pelaku kawin campur. Dari mulai handle hingga judul pun mengandung kata bule.
Saya sangat paham, konten-konten glorifikasi ini kadang memang bikin mengernyitkan jidat. Tapi di sisi lain, permintaan pasar akan konten-konten seperti ini nampaknya tinggi. Akibat dari tingginya minat cringey ini juga sangat saya rasakan. Username saya yang tadinya baik-baik saja, tiba-tiba menjadi bahan olok-olokan.
Sinisme terhadap username binibule
Kemarin ada yang ngetag saya soal pengguna Thread yang berbisik-bisik tentang penggunaan kata bule di username media sosial. Repot banget sih jadi orang ngurusin dan ngetawain nama user orang lain. Ketahuan pula!
Gak bisa ngeles juga kalau lagi nggak nyindir saya, karena satu Thread sudah saya telusuri dan rasanya cuma saya yang menjadikan status perkawinan dengan bule menjadi username. Oops…

Pernah baca komenan trus (sic) nemu cewek yang nikah sama bule sampai kata ‘bule’nya dijadiin username, lucu sih kek ngapaiiinn (sic) 🤣
Tapi ya hidup terus berlanjut. Username gak saya ganti, walau sempat tergoda. Orang-orang yang judgy duluan dan menganggap saya dagangan laki bule juga terus bermunculan. Pergulatan internal bias mereka bukan urusan saya.
Penutup
Dari blog ini saya tak hanya punya banyak kenalan, tapi saya dibukakan pintu untuk bisa menolong perempuan-perempuan lain yang melakukan perkawinan campur. Salah satu yang kenal dengan saya melalui blog ini bahkan anaknya menjadi anak baptis saya. Semua karena blog.
Tulisan saya di blog ini juga sudah membantu banyak pasangan untuk melakukan perkawinan lintas agama di Hong Kong, dari pasangan kawin campur, hingga pasangan sesama orang Indonesia. Salah satu yang mengikuti jejak saya kawin di Hong Kong ini sekarang jadi kolega saya, kami kerja di kantor yang sama, dan bertetangga satu lantai.
Jadi kalau ada yang suka nyinyir urusan username orang, macam mbak Ulfa di atas, please go get a freaking life. Syukur-syukur kalau hidupnya bisa berdampak positif pada orang lain.
Selamat berakhir pekan, semoga kita dijauhkan dari keinginan untuk ngurusin dan ngetawain username orang lain!
xoxo,
Tjetje

















