Mudik Saat Dunia Gonjang-Ganjing

Paskah kemarin saya liburan ke Spanyol, baru juga sampai di Irlandia, tiba-tiba saya diberi tugas untuk pergi ke Singapura. Saya pun memutuskan untuk sekalian mampir ke Indonesia, walaupun hanya sebentar.

Selamat datang di Indonesia!



Nilai Tukar Rupiah & Harga Bensin

Pulang saat harga minyak dunia dan dunia sedang gonjang-ganjing itu memang sesuatu. Harga tiket pesawat melonjak, karena penerbangan melalui Timur Tengah banyak yang tak beroperasi. Tiket ekonomi dibandrol mulai dari tiga ribu Euro, sementara tiket bisnis mulai dari enam ribu saja. Sementara harga tiket dari Singapura ke Jakarta 300 Euro. Saya tak tahu apakah ini harga normal, atau “harga perang”.

Waktu saya datang, keluarga geger, karena harga bensin Pertamina Dex tiba-tiba naik, tanpa pengumuman. Yang sudah mengisi bensin full tank bersyukur, karena “beruntung”, sementara yang belum ngisi cuma bisa bersedih hati. Bicara soal bensin, ketika saya pergi, Irlandia lagi ribut dengan harga diesel yang sudah di atas 2 euro per liter. Traktor-traktor dan truk diparkir di jalan tol dan jalan utama sebagai bentuk protes. Akses ke bandara pun sebagian terkena dampak protes ini.

Nilai tukar rupiah terhadap Euro saat saya sampai di Indonesia sudah lemah. 1 Euro sudah lebih dari 20 ribu rupiah. Ketika tulisan ini saya buat juga nilai tukar rupiah belum juga menguat, masih di atas 20 ribu rupiah. Gara-gara nilai tukar yang hancur ini, belanja di Indonesia jadi kelihatan sangat murah.

Barang dan jasa jadi murah bukan berarti saya menari-nari di ekonomi yang sulit ini. Saya malah banyak mendengar dan melihat hal-hal yang bikin hati saya tersayat. Orang-orang kecil yang berjual mati-matian untuk bisa bertahan hidup.



Denyut Ekonomi Melemah

Jalanan Jakarta jadi ‘sepi’, rupanya banyak pegawai kerja dari rumah untuk alasan penghematan listrik dan bensin. Saya sendiri diuntungkan dengan jalanan yang sepi ini. Ceritanya saya mau ke Malang, tapi nggak ngeh kalau penerbangan ke Malang sudah sangat menurun drastis dari Halim. Jadi saya salah bandara. Harusnya berangkat dari CGK, tapi saya pergi ke Halim. Saya tiba di Halim jam sekitar jam 7 pagi, pesawat saya boarding dari CGK jam 8 pagi. Akhirnya saya ngebut naik taksi dari Halim, jam 7.30 saya udah sampai di bandara. Pak supir taksi sampai bilang: “Ibu bisa ngopi-ngopi dulu ini”.

Tiap mudik saya selalu belanja produk-produk Indonesia. Di salah satu mall di Malang, saya masuk toko dan ada dua pegawai yang jaga. Si Mbak kemudian meminta supaya belanjaan saya dipisah jadi dua pembayaran. Rupanya, ini supaya mereka berdua sama-sama bisa mencapai target. Penjualan lagi susah katanya.

Belanja oleh-oleh di Sarinah ternyata seru banget!


Gimana dengan supir taksi? Kadang sepi tak bisa mencapai target. Kalau sudah gini, penghasilan jadi sering minus. Pada satu Subuh, saya diantar pengemudi, lalu si bapak nawarin nganter saya ke bandara sore itu. Saya yang tadinya akan diantar supir pun memilih naik taksi biar ekonomi bergerak. Gerakan naik transportasi umum ini juga dijalankan oleh satu keluarga yang saya kenal. “Naik Grab aja, biar gak keluar bensin dan parkir”.

Penutup

Pulang yuk! Udah ditunggui sama Warung Masakan Padang

Sebagai diaspora, saya termasuk salah satu yang sudah malas pulang karena penerbangan yang cukup panjang. Beberapa tahun belakangan ini saya lebih memilih jalan-jalan di Eropa saja. Lebih dekat dan secara akses lebih mudah ketimbang keliling Indonesia.

Tapi setelah melihat kondisi Indonesia, saya berteriak dengan lantang: “Pulang yuk!“. Mari kita bawa dollar, euro dan segala mata uang asing untuk jajan di desa-desa di Indonesia. Desa Penglipuran, Desa Trunyan, atau bahkan di ibukota. Tak lupa berikan tips yang agak lebih banyak untuk para supir Gojek, karena menurut keyakinan saya, ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Tabik!
Tjetje

Perempuan dan Belajar Sejarah

Ada satu pengguna sosial media yang menuliskan bagaimana ia mencintai sejarah Inggris. Dikeroyok tentunya, karena sejarah Inggris penuh dengan luka. Saya pun bertanya, bagian sejarah yang mana yang disukai sambil menuliskan genosida di Irlandia yang dilakukan oleh Inggris. Akibat genosida itu, jutaan orang Irlandia mati kelaparan dan banyak yang harus meninggalkan Irlandia untuk bermigrasi.

Sampai sekarang dampak genosida ini masih bisa dilihat di Irlandia. Ada desa-desa yang ditinggalkan penduduknya karena Potato Famine dan sisa-sisa kerangka rumah seperti foto di bawah ini masih cukup banyak.


Irish Hunger Memorial, Battery Park, NYC

Eh tiba-tiba, ada diaspora nyamber ngata-ngatain orang Irlandia dan menggeret suku asli Amerika. Tak lupa dia ikutkan maki-makian seperti setan dan babi. Kemudian, ia mengatakan orang Irlandia menderita, tapi bikin penduduk asli di Amerika menderita. Yang nulis, diaspora Indonesia di Inggris.

Dari komentar ini, saya sudah bisa membaca sentimen negatif dan rasis terhadap orang Irlandia. Saya yang waras pun berbagi informais tentang sejarah kedekatan orang Irlandia dengan masyarakat Choctaw. Eh lha kok malah gantian saya yang diumpat:

“Halah udahlah sejarah bangsa sendiri aja lue gak tahu, gak usah sok-sokan ngomong sejarah orang, hanya karena suami lu bule Irish. Gw benci orang Irish”.

Tulisan ini sudah dirapikan, karena aslinya berantakan tanpa tanda baca.


Gak pakai babibu sampah-sampah model gini saya blok aja. Saya gak mau berinteraksi dengan diaspora model rasis dan penuh kebencian seperti ini. Udah gak ketolong juga jadi manusia, karena profilnya sangat anti imigran. Padahal, dia sendiri adalah imigran. Gaya menulis dia juga menunjukkan keterbatasan pengetahuan dasar menulis, karena tak kenal tanda baca. Jadi ya kalau paragraf saja tak diuraikan dengan tanda baca yang tepat, gimana bisa mengurai sejarah masa lalu yang kelam?

Label untuk pelaku kawin campur

Mari kita membahas asumsi bahwa saya, perempuan yang juga pelaku kawin campur, hanya tahu sejarah Irlandia karena melalui jalur perkawinan dengan orang Irlandia. Pendeknya, saya dianggap tak cukup cerdas untuk tahu sejarah Irlandia. Terus terang saya “gak kaget” karena sebagai pelaku kawin campur seringkali ada asumsi bahwa pelaku kawin campur itu kurang cerdas, kurang berpendidikan, tak punya keterampilan. Makanya sampai muncul label negatif diaspora jalur perkawinan.

Di keseharian, stereotype seperti ini dapat tersirat dari komentar atau pertanyaan basa-basi soal kemampuan bahasa Inggris. “How come your English is so good?”. Atau kemudian pertanyaan ini dikaitkan dengan lama waktu tinggal di Irlandia: “How long have you been in Ireland, your English is good?”.

Pemikiran-pemikiran ini datangnya tak jauh-jauh dari bias pribadi dan asumsi kalau pelaku kawin campur itu tak memiliki kemampuan mengedukasi diri sendiri. Entah itu belajar bahasa, atau bahkan baca sejarah sebuah negara.

Di blog ini, saya juga pernah bercerita bagaimana asumsi seperti ini juga bisa datang dari bapak-bapak pelaku kawin campur. Saya pernah nekat duduk di ruang tamu dengan para bapak-bapak berdiskusi tentang politik Indonesia dan membahas Papua. Sementara, ibu-ibu lebih memilih ngobrol di dapur dengan bahasa Indonesia.

Kala itu saya mendapatkan komentar “You are a very unusual woman”. Tak cukup sekali, di lain kesempatan saya bertemu lagi dan dia berkomentar “Ah I forgot that you are not like the rest of them“. Them di sini maksudnya para ibu-ibu yang lagi ngerumpi di dapur dan melepas rindu berbicara bahasa Indonesia.

Penutup

Saya tidak menampik bahwa pasangan bisa mempengaruhi cara kita berpikir dan pengetahuan yang kita serap. Ambil contoh yang paling tragis, diaspora Indonesia yang jadi anti imigran. Mereka lupa warna kulit dan identitas diri sebagai imigran. Tak jarang pola pikir ini muncul karena dipengaruhi pasangannya yang juga anti imigran (serta keengganan untuk edukasi diri sendiri). Agak ironis.

Di kasus di atas, komentar ini bisa jadi muncul karena si penulis hanya tahu sejarah negara tempat dia tinggal karena suaminya yang bercerita. Mungkin, bagi dia, pengetahuan tentang negara pasangan itu diwariskan melalui tali perkawinan, bukan dari baca buku, nonton dokumenter, atau mengulik Microsoft Encarta.

Tahun udah 2026, masih saja ada generalisasi model begini. Perempuan gak perlu nungguin laki-laki untuk cerita kok untuk tahu, kami para perempuan bisa baca buku-buku sejarah dan menurunkan informasinya pada generasi selanjutnya.

xoxo,
Tjetje

Bergaul dengan Diaspora

Disklaimer: diaspora di sini mengacu ke diaspora Indonesia.

Berapa bulan lalu, salah satu pelajar Indonesia yang sedang sekolah di Barat Irlandia bikin status kalau diaspora Indonesia di Irlandia itu terbagi menjadi tiga: mahasiswa, pekerja dan yang kawin dengan bule. Lalu ia menambahkan: yang jalur kawin sama bule biasanya norak, istilahnya “kere munggah bale”. Mahasiswa penerima beasiswa S3 ini mengalami sendiri ketika berkumpul-kumpul dengan istri bule di Irlandia yang sibuk membahas harta, termasuk tas bermerek.

Kere munggah bale ini sangatlah kasar, artinya orang sangat miskin naik ke atas balai. OKB. Noveau Riche.

Anyway, hasil observasi di atas itu tentunya ramai dengan aneka komentar (termasuk komentar kasar), karena si pelajar dianggap sangat judgmental walaupun sudah sekolah tinggi. Si pelajar pun dihina-dina karena memilih bergaul dengan orang Indonesia dan bukan orang Irlandia.



Gegar Budaya Topik Obrolan

Saya pun ketawa, karena tiba-tiba jadi teringat perjuangan diri sendiri ketika baru pindah ke sini. Ketika baru pindah ke sini, saya sempat mengalami gegar budaya soal kualitas obrolan dan isi obrolan dengan diaspora.

Obrolan mereka gak jauh-jauh dari aset dan finansial dengan nada dasar pamer. Dari mulai harga tas bermerek (ditemani dengan keluh kesah karena pasangan yang “pelit” dan tak mau membelikan tas), tipe rumah, jenis kendaraan, hingga jumlah isi tabungan. Ada pula obrolan yang menyertakan slip gaji, dari gaji sendiri hingga gaji pasangan.

“Tje, coba lihat deh berapa banyak aku bayar pajak bulan ini!” Sambil menyodorkan dengan paksa slip gaji yang sudah dilipat sedemikian rupa untuk menutupi nama dan PPS. Effort banget pamernya.


Nyari diaspora yang bisa diajak ngomongin tema umum, atau sekedar bahas politik Indonesia itu tak mudah. Kalau mau nyari obrolan berbobot ya mesti ngobrol sama pelajar. Btw, peta diaspora kita sekarang sudah lebih beragam ya, bahkan ada diaspora yang bisa diajak bahas lukisan.

Mainnya sama orang Irlandia dong!

Komentar asbun soal gaul sama orang Indonesia ini menunjukkan betapa orang gak paham kalau nyari teman orang Irlandia itu susah. Mereka ini ramah, pakai banget, tapi nggak nyari teman. Kebanyakan dari mereka sudah punya teman dari kecil dan lingkar pertemanan mereka ini sangatlah rapat.

Gak semua orang juga cocok dengan gaya pergaulan orang Irlandia. Gaulnya orang Irlandia itu di pub, minum. Gak harus minum alkohol, tapi kalau harus nongkrong di pub berjam-jam, perut bisa kembung dan gula darah melonjak karena kebanyakan soda.

Tak cuma itu, orang-orang yang baru pindah biasanya mengalami fenomena “tiba-tiba rindu aja pengen ngobrol sama orang Indonesia” dan pengen makan makanan Indonesia. Jadi ya wajar kalau tiba-tiba pengen aja duduk sama orang Indonesia.



Penutup

Pergaulan diaspora di luar Indonesia itu penuh dengan warna. Observasi saya, di Indonesia pergaulan kita sangat terkotak-kotak dan biasanya hanya dengan mereka yang punya banyak kesamaan. Dari kesamaan hobi, tingkat ekonomi atau pendidikan. Begitu pindah ke luar negeri, pergaulan kita melebar, lebih beragam dan hanya disatukan oleh satu kesamaan: sama-sama orang Indonesia!

Kotak-kotak yang membagi kita di Indonesia, kotak kelas sosial, tak jarang memunculkan gesekan karena perbedaan prinsip. Ketika terbiasa pamer pencapaian pendidikan tiba-tiba ketemu diaspora yang ngotot bahas Louis Vuitton. Gak cuma gak cocok, tapi pasti langsung kaget.

Nanti pada saatnya, diri sendiri akan belajar menyaring diaspora model begini. Gak perlu sampai mereka buka mulut, dilihat dari covernya aja, udah langsung ketahuan mana yang bisa diajak ngobrol berbobot, dan mana yang ahli aset dan finansial. Biasanya kalau udah ahli gak akan ngumpat lagi, tapi otomatis menjauh untuk melindungi diri. Ini semua proses, perlu waktu dan tentunya perlu kepleset ketemu diaspora aneh dulu.

xoxo,
Tjetje

Konser dan Telepon Genggam

Tahun kemarin saya nonton beberapa stand up comedians dari Amerika yang lagi tur di Irlandia. Tak seperti ketika nonton Ricky Gervais, di pertunjukan ini, telepon genggam saya harus dimasukkan ke dalam wadah khusus. Selama pertunjukan berlangsung saya tak bisa ponsel, mereka yang punya smart watch pun juga harus mematuhi aturan ini.

Nonton pertunjukan tanpa ponsel ini kemudian membawa kepala saya pada masa SMA dan kuliah dulu di Malang. Kota Malang dulu banyak di kunjungi artis-artis ibu kota yang konser. Dari Dewa 19 (sampai kemudian jadi Dewa), Gigi, Melly Goeslaw dan Erik dengan AADC konsernya, Sheila on 7.

Konser paling melekat di hati saya itu salah satu konser Dewa 19 di Unmer Malang. Waktu itu penonton sibuk loncat-loncat hingga gedung pertunjukan goyang. Esoknya, pertunjukan ini masuk TV karena penonton yang heboh.

Kala itu tak ada ponsel untuk merekam, yang ada hanya memori di dalam kepala. Saya menonton konser tersebut berdua, bersama sahabat dekat. Kami masih remaja dan tentunya punya tenaga untuk loncat-loncat dengan heboh tanpa takut keseleo. Yang saya ingat, karena kami berdua perempuan, ada segerombolan pria yang “melindungi” kami. Mereka teriak-teriak: “Wooooi ini cewek-cewek woi, jangan disenggol”. Sungguh sebuah gesture yang baik!

Sheila on 7 sendiri bolak-balik mampir ke Malang. Rajin bener di jaman itu. Satu kali, setelah konser, teman saya nguber rombongan Sheila on 7 ke hotel Montana dua di daerah Soekarno Hatta di Malang. Mobil yang kami tumpangi sampai dihalangi ketika masuk hotel, tapi kemudian berhasil masuk. Berhasil ketemu Duta dan teman-teman. Ngajak foto? Boro-boro. Kamera hape belum eksis, kamera saku tak selalu dibawa. Jadi kami hanya sekedar nongkrong dan ngobrol dengan pak Duta.

Di kesempatan lain, beberapa teman saya yang ngejar SO7 bahkan berkesempatan ngajakin Duta jalan-jalan ke Batu. Pak Duta sampai permisi dulu ke orang tua teman-teman saya. Minta ijin mau ngajak mereka ke Batu. Sesopan itu. Punya bukti gak? Tentu saja tak ada. Tak ada selfie, tak ada sosial media. Semua terekam di dalam kepala. Syukurnya tak ada bukti ya, kalau ada bisa viral nanti di media sosial.

Nonton Konser Jaman Sekarang

Nonton konser sekarang berubah. Ponsel (dan power bank) menjadi bawaan wajib, karena tiket konser pun sudah banyak beralih ke tiket digital. Ponsel ini juga penting untuk merekam momen menuju tempat konser, ketika sudah duduk dan tentunya ketika konser berjalan.

Bagi sebagian orang, nonton konser berarti merekam konser dengan ponsel dari awal hingga akhir. Nanti setelah konser usai, potongan rekaman video ini harus diunggah ke Instagram atau media sosial lainnya.

Saya termasuk salah satu orang yang tadinya membuat banyak rekaman ketika nonton konser. Lalu pada satu masa ketika melihat aneka rekaman yang kualitasnya buruk ini, saya mendengar suara cempreng yang ikutan nyanyi dan mengganggu. Suara saya sendiri. Sejak itu saya berhenti merekam banyak-banyak dan hanya merekam segelintir video yang tak lebih dari 20 detik.

Penutup

Pada satu musim panas, saya nonton Coldplay. Hari itu sang vokalis meminta seluruh penonton untuk being in the moment. Untuk satu lagu saja. Apakah Chris didengarkan? Oh tentu tidak. Mayoritas orang memang menyimpan ponsel mereka, tapi masih tetap banyak yang merekam momen ini.

Mau nonton sambil merekam, atau tanpa merekam itu pilihan masing-masing. Bagi saya sendiri, nonton konser tanpa sibuk merekam itu jauh lebih menyenangkan. Saya benar-benar bisa present. Tapi satu hal yang cocok dan nyaman buat saya belum tentu cocok untuk orang lain. Sebagai orang dewasa, kita bebas memilih!

Eh tapi, kalau pas nonton konser sebelahan sama saya, baiknya gak usah direkam. Nanti pas lihat video-video itu bisa kaget denger suara cempreng saya yang menggelegar.

xoxo,
Tjetje

Label NPD di Media Sosial

Sejak beberapa tahun belakangan ini saya banyak menuliskan tentang perilaku narsistik. Sumber coretan-coretan saya ini dari berasal dari pengalaman pribadi berada di lingkungan yang tidak sehat. Selama bertahun-tahun saya terjebak dalam lingkaran setan berteman dengan orang yang pola perilaku narsisnya sangat konsisten. Tragisnya, pengalaman berada di lingkaran setan ini punya dampak nyata pada diri saya sendiri.

Tak cuma itu, selama dalam lingkaran setan itu saya juga berdiam diri, melihat bagaimana orang lain dimanfaatkan, dihancurkan reputasinya, bahkan kemudian dibuang dari hidupnya. Sebuah pola klasik yang tanpa belas kasih. Korbannya pun dari yang mulai masih hidup, hingga yang napasnya tak bersisa lagi. Pendeknya, tak ada tempat untuk bisa beristirahat dengan damai dan tenang.

Saya mengalami fase love bombing dan diguyur aneka hadiah yang terlihat menyilaukan mata, bahkan dibukakan akses untuk dapat privilese yang tak semua orang dapat. Pada saat yang sama selama bertahun-tahun saya berkeluh-kesah. Energi saya habis, lelah dengan segala kepalsuan, manipulasi dan juga kontrol tak berkesudahan. Tapi keluar dari lingkaran busuk seperti ini tidaklah mudah.

Ketika saya mulai diinjak-injak, saya mulai banyak memberontak. Asal dia buka mulut, saya pun menjadi devil’s advocate. Terus-menerus menunjukkan ketidaksetujuan. Tentunya ada banyak konsekuensi yang harus saya bayar. Dari mulai dimaki-maki, dibentak-bentak, diremehkan, dihina, bahkan yang terakhir, saya dieklusi secara terorganisir.

Proses ini memakan waktu selama bertahun-tahun, dan punya dampak pada saya. Apalagi di akhir proses, saya dirundung rame-rame, reputasi saya dihancurkan, bahkan dalam proses ini saya harus memutus hubungan dengan banyak orang. Good riddance.

Menata hati dan menata diri setelah pertemanan busuk seperti ini sangatlah tidak mudah. Perlu proses yang panjang. Dalam proses ini pun saya selalu berhati-hati dan tidak mendiagnosis orang lain memiliki Narcissistic Personality Disorder. Saya bukan ahlinya. Pada saat yang sama, saya belajar untuk tidak melabeli diri sebagai korban orang dengan karakteristik NPD. Ini bukan identitas saya.

Sekarang saya bisa berkata kalau saya “survived” pertemanan dengan orang yang pola perilaku narsisnya sangat konsisten. Saya keluar dari lingkaran ini dengan lecet-lecet, tapi setidaknya saya keluar. Bebas merdeka dari manipulasi murahan.


Tulisan ini tidak dimaksudnya untuk berkeluh-kesah tentang pengalaman saya selama bertahun-tahun. Tapi dimaksudnya untuk memberi ilustrasi betapa panjang, rumit dan kompleknya punya hubungan dengan orang yang “ruwet” dengan karakteristik narsistik yang tak berubah. Konsisten.

Nah di media sosial sendiri saya banyak sekali melihat orang-orang yang dengan mudahnya mendiagnosis orang lain sebagai NPD. Diagnosis ini muncul hanya karena satu perilaku yang tak sesuai norma, satu cuitan yang menunjukkan keegoisan diri, atau karena salah berlaku dan terekam video, lalu tiba-tiba diberi label NPD. Mendadak semua orang menjadi ahli untuk urusan NPD dan dengan semena-mena dan sembarangan mendiagnosis orang.

Tunggu dulu!

Kalian yang tiba-tiba melabeli orang lain NPD itu paham gak sih kalau banyak dari kita yang juga bisa menunjukkan karakteristik orang narsis. Pegang cermin gak? Karena diri sendiri pun bisa menunjukkan karakter ini. Orang-orang yang menunjukkan karakter ini bukan berarti punya gangguan narsistik. Yang berhak mendiagnosis ini yang hanya mereka yang memang merupakan tenaga medis yang terlatih.

Penutup

Belakangan ini topik NPD banyak dibicarakan & banyak orang yang semakin sadar tentang karakter narsis. Banyak orang berbagi pengalaman mereka terpleset dalam lingkaran beracun ini. Ada yang temannya beracun, tapi tak sedikit yang pasangan ataupun keluarganya beracun.

Belajar mengenai pola dan karakteristik orang narsis itu buat saya penting. Supaya tahu semuanya akan diawali dengan love bombing, lalu dimanipulasi, dikontrol. Kalau nekat melawan akan diinjak-injak seakan tak ada harga, tak jarang kepercayaan diri dihancurkan, lalu di-gaslight. Dan gong-nya, tentu saja dibuang. Mengenali fase ini membuat kita bisa bertahan dan bikin rencana keluar yang kita kontrol sendiri.

Mengenal dan mengalami fase-fase ini, membaca satu dua artikel tentang topik ini tak membuat kita menjadi ahli. Self-proclaimed, lalu jadi ahli dalam mendiagnosis orang lain. Urusan diagnosis itu urusan tenaga kesehatan jiwa. Kita sebagai orang awam yang tak punya ijasah sebagai tenaga ahli kesehatan jiwa baiknya diam saja dan tak sembarangan melabeli orang hanya karena kelakuannya menyebalkan.


xoxo,
Tjetje
Bukan self-proclaim coach yang ahli healing luka NPD dengan bio di IG yang memuakkan LOL

Lonely Planet & Backpacking

Tahun 2012 saya off dari kantor selama satu bulan penuh. Berbekal Lonely Planet yang tebalnya tak karuan, 30 liter tas ransel, satu set kamera dan sandal gunung saya pun menjelajah beberapa negara-negara Asia Tenggara lewat jalan darat. Tanpa itinerary.

Foto-foto saya backpacking keselip, hard disk entah ada di mana…

Dari Jakarta saya terbang ke Penang, lalu memulai perjalanan darat ke Hat Yai, belok ke Phuket, lanjut ke Bangkok & nginep di Khao San Road. Dari Bangkok, lanjut ke Nong Khai. Lalu naik kereta dari Nong Khai ke Laos. Perjalanan di Laos berawal di Vientiane, lalu naik bis ke Vang Vien untuk merayakan Songkran. Dari situ balik turun ke Bangkok untuk pulang ke Jakarta.

Tanpa rencana, tanpa reservasi hotel. Semuanya serba mendadak & spontan. Jaman itu, Lonely Planet adalah barang paling berharga. Membolak-balik halaman untuk mencari tahu tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, hostel murah, hingga tempat makan yang terjangkau. Semuanya berdasarkan kepercayaan bahwa Lonely Planet akan menawarkan tempat-tempat yang terbaik.

Perjalanan backpacking di atas bukanlah perjalanan pertama saya dan bukan satu-satunya. Tapi tahun itu bersejarah karena satu tahun setelahnya, saya gak bisa off selama sebulan penuh lagi. Padahal jatah cuti tahunan saya 30 hari. Boss saya rupanya merana karena saya off terlalu lama. Dan Lonely Planet saya pun duduk diam di rak, kesepian sambil menangkap debu.

Tsunami informasi & Lonely Planet

Sekarang dunia berubah. Kita mengalami tsunami informasi karena media sosial menawarkan aneka informasi tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi. Lengkap dengan visualisasi dan review bias sang influencer.

Saya sebut bias karena tak jarang influencer memberikan penilaian negatif karena mereka tak dapat imbalan, atau bahkan berlebihan memuji kecantikan satu tempat hanya karena faktor “Instagrammable”.

Kekuatan media sosial juga membuat tempat-tempat wisata jadi populer, hingga pengunjungnya membludak.

“Oh ini yang kemarin viral di TikTok?”

“Aduh bentar foto dulu, gak papa antri beberapa jam, buat Instagram”.

Saya pun tak memungkiri media sosial dan juga umur mengubah gaya jalan-jalan saya. Ransel yang sudah berusia 15 tahun lebih saya tinggalkan di Indonesia, dan saya ganti dengan koper kecil. Kamera DSLR dengan aneka lensanya pun saya hibahkan & saya gantikan dengan kamera iPhone.

Lonely Planet? Aduh gak inget lagi kapan terakhir saya pegang Lonely Planet. Lalu barusan saya buka-buka situs mereka dan ternyata mereka masih memproduksi banyak buku panduan jalan-jalan yang menarik. Kayaknya jalan-jalan selanjutnya mesti beli Lonely Planet deh, demi nostalgia masa lalu!

Selamat berakhir pekan!

xoxo,
Tjetje

Cerita Dari New York

Musim gugur tahun kemarin saya terbang melintasi Atlantik untuk urusan pekerjaan. Saya pun terbang lebih awal untuk berlibur terlebih dahulu dan menjelajah New York, the big apple, yang hanya berjarak tujuh jam penerbangan saja dari Dublin.

Enaknya kalau terbang dari Dublin, bandara ini punya namanya US-preclearance. Jadi urusan imigrasi diselesaikan di Dublin dan begitu tiba di US kita tinggal melenggang kangkung tanpa perlu antri imigrasi lagi. US-preclearance ini gak hanya ada di Dublin, tapi juga di bandara Shannon, Cork.

Petugas imigrasi yang melayani saya sangat baik dan gak galak. Dia lihat saya ngajak suami, pertanyaannya yang ditanya malah soal shopping. “Jadi kamu kerja, suami kamu yang belanja? Do you have his credit card?” Saya pun langsung ngaku kalau saya bawa koper kosong buat belanja.

Kesan pertama

Buat saya, NY itu kayak area Sudirman di Jakarta yang dipebesar. Ukuran trotoarnya pun tak kalahlah dengan trotoar di Jakarta. Bedanya, karena saya datang pada saat musim gugur, hawanya sedikit lebih adem dari Jakarta. Minggu itu NY juga sedang sibuk banget, karena UNGA, General Assembly, acara tahunannya NY. Jalanan banyak yang ditutup karena tamu negara. Makin mantap lah saya melabeli NY sebagai Jakarta yang digedein beberapa skala. Tentunya NY jauh lebih diverse dengan penduduk dan turis dari berbagai belahan dunia.

Transportasi di NY sendiri sangatlah mudah dengan adanya Subway. Jempol deh transportasi umumnya, walaupun di Subway banyak orang aneh-aneh. Boss saya yang orang Amerika tapi udah ngewanti-wanti “NY ini bukan standar umum Amerika ya! Gak semua Amerika kayak NY”. Sementara kolega saya dari LA bilang: “Gw tiap kali ke NY pasti takjub dengan publik transportasi, karena di LA engga punya transportasi publik kayak gini”.

Pemandangan dari kantor saya di kawasan Times Square.



Uang Tunai, Tips dan Pajak Belanja

Belanja di Amerika itu pengalaman baru buat saya, karena harga yang terpampang belum termasuk pajak, ada tambahan beberapa persen. Kalau urusan makan, lebih ribet lagi karena ada pajak, plus ada tips. Yang seru kalau makannya di China town dan bayar tunai, bisa dapat diskon. Cash is king!

Nah soal tips dan pajak ini, salah satu hotel tempat saya menginap menyediakan sarapan untuk dua orang. Tapi ada batas maksimum, 50 dollar untuk dua orang. Angka ini buat di NY sangatlah kecil. Model sarapannya persis kayak di self-service cafe. Kita mesti ke kasir, order apa yang kita mau dari menu, lalu bawa sendiri ke meja. Tiap barang diberi harga yang jauh lebih mahal dari toko biasa. Saya yang anti rugi pun setengah mati ngitungin harga, pajak dan tips. Lama-lama saya capek, 50 dollar ini saya pakai buat sarapan suami, sementara saya sarapan di kantor. Sungguh konsep yang sangat absurd, seabsurd piring kertas, dan peralatan makan sekali buang di hotel yang ngakunya berbintang.

Irish dan NY

Orang Irlandia itu termasuk salah satu diaspora terbesar di NYC. Di daerah Battery Park di Manhattan ada reruntuhan rumah khas Irlandia yang menjadi simbol memperingati Irish Famine. Random banget tiba-tiba merasa di Irlandia tapi dikelilingi gedung pencakar langit. Ternyata oh ternyata rumah ini emang didatangkan dari Irlandia.

Selama di NYC saya juga pergi ke beberapa pub Irlandia di NY. Fun fact ternyata ukuran gelas pint untuk bir di NY tidaklah sama dengan di Irlandia. Di NY gelas pintnya lebih kecil dan isinya 95 ml lebih sedikit ketimbang di Irlandia. Gak cuma ke pub, biar seimbang, saya juga ke St. Patrick’s Cathedral. Katedral katolik yang terletak di 5th Avenue. Dan suami pun saya duduk manis untuk ikutan misa. Berdoa biar bisa balik lagi.

Penutup


NY ini kota yang “mempesona” dengan cerita gado-gado yang tak bisa saya tuliskan dalam satu blog post. Saya terpukau melihat tukang antri profesional yang rela tidur di luar demi perempuan-perempuan yang mengejar sale sepatu Jimmy Choo, hingga antrian turis yang berebut ingin memotret Starry Night-nya Van Gogh di MoMA.

Kota ini sungguh dimanjakan dengan berbagai kegiatan seni, tapi pada saat yang sama juga bergulat dengan bangkai tikus, bau pesing, dan tentunya bau ganja yang menyesaki sukma. Kendati begitu, saya masih ingin kembali. Satu wish list saya yang belum keturutan, saya pengen banget ikutan walking tour Hasidic Culture di Williamsburg!

Kamu, sudah pernah ke NY? Punya cerita apa soal NY?

xoxo,
Tjetje

Cuti Sakit

Di Irlandia, kalau kita kena pilek (ini gak sama dengan flu ya), dokter tak segan memberikan instruksi untuk istirahat, tak cuma satu dua hari, tapi bisa satu minggu. Sementara jika kita kena flu (ini mematikan dan orang tak bisa bangun dari tempat tidur, mesti ditawari uang segepok), dokter bisa memberikan surat sakit setidaknya sepuluh hari. Kalau pasien perlu istirahat ya harus istirahat.

Begitu juga ketika kita mengalami gangguan kesehatan jiwa. Di musim dingin seperti ini, dokter-dokter sudah sangat paham kalau banyak orang yang mengalami depresi. Mereka yang sibuk kerja hingga kelelahan, burn out, juga bisa dengan mudahnya mendapatkan ijin untuk istirahat. Dokter Irlandia tak segan memberikan waktu istirahat hingga hitungan bulan, tak lagi minggu. Mereka juga memberikan obat atau bahkan instruksi untuk terapi kejiwaan dengan profesional.

Perlu dicatat, tidak semua dokter seperti ini. Saya memperhatikan dokter-dokter Irlandia jauh lebih perhatian untuk hal-hal seperti ini. Sementara dokter yang dari luar Irlandia cenderung memberikan ijin yang lebih pendek, lalu diperpanjang jika diperlukan. Alhasil, pasien harus bolak-balik ke dokter dan bayar ongkos konsultansi.

Penghasilan ketika sakit

Cuti sakit sendiri tak selalu dibayar penuh. Ada banyak perusahaan yang memberikan 100% gaji selama beberapa masa, lalu persentase ini akan diturunkan. Jika pasien masih sakit, ada asuransi proteksi penghasilan yang akan membayarkan persentase penghasilan.

Tak semua perusahaan membayar cuti sakit. Nah kalau perusahaan tak membayar cuti sakit, negara yang akan hadir untuk membayar cuti sakit. Ini gak gratis ya, karena uang ini datangnya ya dari pajak-pajak yang kita bayarkan. Jumlahnya tak banyak, maksimal 110 Euro per hari selama tujuh hari.

Sick payment ini baru diperkenalkan awal tahun ini, tujuannya supaya orang-orang yang sakit, misalnya kena covid, gak perlu ke kantor dan menulari rekan-rekan kerjanya. Angka ini sendiri kelihatan besar kalau dirupiahkan, tapi bagi mereka yang mendapatkan penghasilan di atas 110 Euro per hari, angka ini ya jelas recehan.

Cuti sakit bukan berarti harus di tempat tidur terus. Bisa jalan-jalan dan healing.


Cuti sakit adalah hak

Sekali lagi cuti sakit adalah hak pekerja. Kalau mereka sakit ya harus istirahat. Pemberi kerja pun tak bisa memaksa mereka untuk bekerja, apalagi kalau dokter sudah memutuskan mereka “gak sehat” untuk kerja. Kalau dipaksa kerja ya malah berisiko.

Sayangnya, tak semua orang melihat cuti sakit ini sebagai hak. Baru-baru ini saya melihat sebuah Thread yang ngomel-ngomel karena koleganya sakit, dianggap memanfaatkan situasi karena sering ijin sakit hingga beberapa minggu. Lalu masih ditambah stempel “sus”, mencurigakan. Bagi saya, ini sebuah komentar yang tak hanya sinis, tapi juga jahat dan tanpa empati. Mentang-mentang sehat, terus yang sakit harus dituduh ini itu…

Oh btw, di sini kita gak perlu tahu (dan gak elok juga untuk tanya) bagaimana kondisi kesehatan jiwa dan kesehatan fisik orang lain. Orang lain tak perlu menjelaskan masalah kesehatan mereka, ini urusan mereka dengan dokter. Kalau kemudian mereka cerita, itu sih lain cerita. Tapi sekali lagi, urusan kesehatan orang bukan urusan kita, dan kita juga gak berhak tanya, apalagi ngurusin. Dokter sebagai profesional berhak memutuskan apapun yang terbaik untuk pasiennya.

Penutup

Selama saya bekerja di Eropa, saya sudah bolak-balik melihat kolega yang kelelahan kerja, hingga harus istirahat dan cuti sakit panjang. Tak jarang ketika mereka sakit, mereka masih menikmati hidup dan jalan-jalan. Ketika mereka kelelahan jiwa, penting emang buat mereka supaya bisa jalan-jalan. Saya yang sehat, kerja normal dan tentunya mengerjakan kerjaan mereka yang sedang sakit.

Ketika saya sakit, hingga harus tak bekerja selama beberapa minggu, ya gantian, kolega saya yang ngurusin kerjaan saya. Gak perlu ikut kelelahan juga, cukup ngerjain apa yang bisa dikerjakan selama 8 jam. Kalau kemudian kerjaan menumpuk, ya tinggal minta bantuan kolega lain.

Terus kalau nggak pernah sakit dan gak pernah cuti? ya disyukuri, karena punya imunitas tubuh yang bagus itu kayak menang lotere!

xoxo,
Tjetje



Halloween: Tradisi Pagan dari Irlandia

Halloween baru saja usai pada pada akhir bulan Oktober kemarin. Di Irlandia, rumah dan tempat asal dari Halloween, perayaan ini disebut sebagai Samhain. Tradisi ini merupakan tradisi yang berasal dari Celtic pagan untuk memperingati perubahan musim, dari musim panas menuju musim dingin yang gelap. Oh ya, Halloween sendiri merupakan tradisi yang sudah ada jauh sebelum agama Kristiani masuk ke Irlandia.

Pada saat Halloween, masyarakat mempercayai bahwa tabir antara orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati semakin menipis. Tak hanya jiwa-jiwa yang berkeliaran, tapi juga para hantu dengan energi negatif. Makanya kemudian orang-orang berdandan menyerupai hantu supaya mereka tak diganggu dengan hantu dengan energi negatif.

Saya sendiri sangat percaya dengan tabir tipis pada saat Halloween. Beberapa tahun lalu, saat Halloween, saya sempat ditumpangi oleh jiwa yang lagi berkeliaran. Dia duduk di kursi penumpang di mobil saya, sampai lampu indikator sabuk pengaman tak mau berhenti berbunyi. Saya tak tahu nama jiwa yang lagi jalan-jalan, yang saya tahu dia seorang laki-laki dan saya tahu persis dimana hidupnya berakhir. Perlu beberapa tahun bagi saya untuk memecahkan misteri siapa pria ini. Ternyata, cara paling mudah untuk mencari tahu hal seperti ini adalah bertanya pada pemilik pub lokal. Mereka langsung tahu siapa pria ini.

Di masa lalu, orang-orang di Irlandia juga berkeliling di wilayah tempat tinggal mereka. Mereka juga memahat lentera, tapi bukan dari labu, melainkan dari turnip, sejenis lobak. Bagi saya, turnip yang dipahat ini jauh lebih menyeramkan daripada labu.

Lalu, bagaimana ceritanya turnip ini berubah menjadi labu? Para diaspora Irlandia membawa tradisi ini ketika mereka pindah ke Amerika. Mereka memahat labu, karena labu lebih mudah ditemukan di Amerika ketimbang turnip. Akhirnya, labu jadi lebih banyak digunakan ketimbang turnip. Mereka pulalah yang membuat Halloween menjadi perayaan meriah yang mendunia.

Di Irlandia sendiri perayaan Halloween bisa dibilang cukup meriah. Kantor-kantor biasanya mengadakan pesta Halloween bahkan memberikan hadiah untuk mereka yang menang kostum terbaik. Ada banyak festival dan juga parade yang dilakukan di banyak tempat di Irlandia. Salah satunya festival Púca. Tak hanya itu, di Irlandia juga banyak bon fire yang dibakar pada saat Halloween.

Kembang api dan petasan sendiri mulai sering dinyalakan beberapa minggu sebelum Halloween. Di kampung saya malah sudah mulai sejak awal Oktober. Yang kasihan tentunya hewan-hewan ternak dan hewan peliharaan seperti anjing, karena ketakutan bahkan bisa melarikan diri dari rumah. Di Irlandia, petasan ini merupakan barang terlarang, tak boleh diperjualbelikan. Biasanya, mereka yang menyalakan petasan ini membeli dari Utara Irlandia, karena mereka bukan bagian dari Republik.

Menjelang Halloween di sekolah anak-anak juga ada “dress up day”. Hari dimana mereka menggunakan kostum ke sekolah. Lalu pada tanggal 31, ketika matahari tenggelam, sekitar pukul 5.30 sore, anak-anak di desa saya akan berkeliling untuk mencari permen. Mereka melakukan tradisi “Trick or Treat”, lalu berdandan dengan aneka kostum dan juga menggunakan make up. Anak-anak ini kemudian akan mengetuk pintu untuk minta permen.

Tiap tahun saya menyiapkan wadah kecil yang saya isi aneka permen dan coklat untuk anak kecil-kecil yang mengetuk pintu rumah kami. Tahun pertama saya membuat 30 wadah, lalu tahun selanjutnya 40, angka ini terus naik karena anak-anak makin banyak yang mampir ke rumah kami. Tahun ini saya pecah rekor membuat 100 wadah kecil. Saya mengisi tas ini dengan permen lollipop, coklat, dan juga jelly. Tak cuma itu, anak pertama yang datang ke rumah saya juga dapat coklat spesial.

Tiap tahun saya selalu dapat komentar “niat banget bikin tas kecil gini”. Ya gimana gak niat kalau anak-anak ini bisa dapat secuil kebahagiaan. Anak-anak ini juga gak enggan untuk mengekspresikan kesenangan mereka.

Tahun kemarin, paska Halloween, beberapa anak kecil di komplek berlarian menemui saya dan bercerita kalau mereka dapat Kitkat Witch dari rumah saya dan mereka senang tak karuan. Tahun ini, seorang anak kecil berteriak dengan antusias di depan rumah saya: “Lindsay, we got a bag in this house”. Lalu Lindsay pun buru-buru lari menghampiri saya. Dan saya pun berteriak: “Come back again next year, we always do this every year”.

xoxo,
Tjetje

Diaspora Palsu: Duta Cuih & Dublin 18

Selama tinggal di Irlandia, saya sudah banyak melihat media sosial menjadi alat untuk berbagi kepalsuan yang sudah dipoles sedemikian rupa supaya supaya orang tampak “wow”. Tapi begitu layar disibak, banyak kebohongan yang diunggah di media sosial demi mencari validasi. Dari yang paling sederhana, gelas cocktail pinjaman untuk konten “have fun“, kunci rumah sewaan yang dipamerkan seolah hasil beli rumah baru, hingga pamer suami baru yang secara hukum masih menjadi suami orang. Semua demi validasi.

Studi kasus: Stephanie, Dymphna, or whoever her name is

Di Irlandia itu gak cuma nama chef aja yang dipasang di situs resto, sommelier pun juga suka ditulis di sana.


Salah satu kisah paling absurd yang pernah saya temui adalah dari seseorang yang menyebut dirinya Dymphna, Stephanie, istri Logan. Di Threads ia memperkenalkan diri sebagai guru lulusan kampus ternama Irlandia, istri selebriti chef yang punya TV show dan bekerja di restaurant Michelin berbintang dua. Suaminya diklaim sebagai korban bom Omagh. Tak cukup, ia pun mengaku sudah mendapat paspor Irlandia hanya dalam waktu 7 bulan ketika lari dari peristiwa politik di Indonesia. Keluarga suaminya dijabarkan sebagai anggota DPR Irlandia yang memiliki supir pribadi dan punya rumah berjejer di Dublin 18.

Ia menggambarkan diri sebagai diaspora yang masih sangat peduli dengan Indonesia. Tapi, kemudian ia dinobatkan sebagai “Duta Cuih” karena perilakunya yang menghina banyak orang Indonesia. “Dasar miskin, dasar 62” menjadi hinaan yang dengan mudahnya ia lontarkan kemana-mana. Tak terhitung berapa banyak diaspora yang suaminya dia hina. Belum lagi banyak ujaran kebencian terhadap seluruh pemeluk agama. Katanya paling peduli sama Indonesia, tapi perilakunya sangat membenci Indonesia dan masyarakat Indonesia.

Saya tadinya tak peduli dengan keanehan dia. Komen-komen dia tak saya gubris, karena saya tak mau berinteraksi dengan manusia sampah yang kerjannya menghina dina orang Indonesia. Sampai kemudian saya dan seorang netijen lain disenggol. Diumpat.

Kami pun menelurusi klaim dia dan menemukan cerita si Dymphna ini penuh dengan kebohongan. Dari soal suami yang tidak eksis dan nama sang chef tidak ada di restauran manapun di seluruh tanah Irlandia. Tidak ada kandidat ataupun TD dari partai apapun yang diklaim sebagai mertua dia. Bahkan cerita mendapatkan kewarganegaraan pun tidak masuk akal, karena bertentangan dengan aturan resmi imigrasi Irlandia.

Sementara di Irlandia pakai ISL, bukan BSL. Dan gak mandatory juga…



Lubang-lubang di cerita dia pun masih banyak, bisa jadi sebuah artikel berseri jika semua lubang ini saya buka. Tapi dari seluruh penelusuran ini, hasil temuan paling epik adalah mbak Stephanie ini masih tinggal di Indonesia, masih memegang paspor Indonesia, bahkan masih nyoblos di Indonesia, bukan di Dublin 18. Ada yang mengklaim ia seorang buzzer, makanya konten yang ia buat sangat vocal menyuarakan ketidaksukannya pada pemerintah dan rajin menyulut amarah dengan ujaran kebencian.

Pajak di Irlandia itu sama untuk seluruh lapisan masyarakat. Gak ada gaji TD bayar pajak lebih tinggi, apalagi gaji mereka gak gede-gede amat. Dokumen pajak di sini juga cuma selembar, bolak-balik, bukan segepok.


Kesimpulannya

Kebohongan si Stephanie ini mungkin terlihat gak harmful, tapi bagi saya, cerita-cerita dia yang tak akurat ini menyesatkan. Fakta kehidupan di Irlandia yang dia bagikan ngaco, sejarah Irlandia dikacaukan. Contoh sederhananya, harga tempe dan bahan pakan untuk masak makanan Indonesia yang murah dan mudah ditemukan ia diceritakan sebagai bahan mahal yang susah ditemukan.

Tempe di Irlandia cuma 2.8, sekilo engga sampai 7 Euro dan ini barang murah, bukan sebuah hal mewah.

Tak hanya itu, narasi palsu soal mencari suaka secara kilat di Irlandia ini juga berbahaya. Orang jadi melihat sistem imigrasi Irlandia itu longgar dan proses pengambilan kewarganegaraan bisa dimanipulasi “hanya dengan jadi mantu TD”. Padahal, prosesnya tak mudah, dan perlu waktu bertahun-tahun.

Stephanie menjadi pengingat bahwa sosial media bukanlan dunia nyata. Banyak orang terobsesi pada validasi hingga harus menciptakan cerita fiktif. Mereka haus dengan interaksi kita, karena interaksi yang kita berikan, memberikan traffic, engagement dan mungkin cuan. Akun dia juga mengingatkan kita untuk tidak mudah percaya dengan media sosial. Jangan pernah lupa untuk mengecek ulang cerita orang.
 
Lalu, dari sekian banyak pengguna media sosial, tetangga dan keluarganya Stephanie ada di mana? Sudah menyerahkan kalian dengan kehaluan dia?

xoxo,
Tjetje

PS: Rentetan kehaluan ini bisa dilihat di pin Thread saya

PPS: Sudah ada temen kuliahnya yang bahas, ternyata emang dia punya gangguan kesehatan dan hidupnya miserable banget. Jadi kehidupan daring adalah “segalanya” buat dia. Semoga dia dapat bantuan, karena dia bener-bener perlu.