Bagi saya merendang itu adalah kata kerja, sebuah proses masak yang cukup lama. Biasanya saya lakukan untuk menghibur hati & menghilangkan stress. Makanya, kalau merendang saya selalu menyiapkan lebih dari satu kilo daging, karena saya pasti menghabiskan berjam-jam di depan kompor.
Ilmu merendang sendiri saya dapatkan dari dua orang mantan kolega saya waktu masih kerja di Jakarta. Dua-duanya orang Minang. Satu mengajarkan saya bagaimana menyiapkan santan, sementara yang satu mewariskan resep rendang ibunya untuk saya bawa ke Irlandia.
Soal resep ini mengharukan sekali. Ketika bersiap pindah ke Irlandia saya memang tak bisa masak. Lalu, beberapa rekan-rekan kantor saya ini menyiapkan buku resep penuh cinta yang berisikan resep andalan keluarga mereka.
Balik lagi ke rendang, merendang itu teknik memasak yang berfungsi untuk “mengawetkan” bahan makanan. Bahan dan bumbunya sendiri bisa beragam, dari kerbau, itik, daun pakis, telur, kentang, hingga kacang merah. Daging babi pun secara teori bisa dibuat rendang, tapi tentunya tak umum, karena mayoritas masyarakat Minang adalah masyarakat muslim yang berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam.
Bumbu rendang sendiri beragam, tergantung tradisi keluarga, pesisir atau bukan dan juga daging yang diolah. Kambing misalnya akan memerlukan bumbu yang lebih kuat karena dagingnya bau.
Soal bumbu ada yang sangat dominan di cabe merah, ada yang rempahnya teramat sangat kuat. Semuanya sah dan tak ada yang salah.

Rendang hitam
Proses menghitamkan rendang sendiri sangatlah mudah dan tidak perlu menggunakan kecap. Tolong ya, jangan pernah memasukkan kecap ke dalam rendang!
Menghitamkan rendang itu cukup dengan ambu-ambu, kelapa sangrai berwarna gelap yang ditumbuk hingga mengeluarkan minyak. Ini yang bikin rendang makin enak dan bumbunya makin kental.
Di Irlandia sendiri ambu-ambu bisa dibeli dengan harga kurang dari 1€. Produknya buatan Malaysia, sudah jadi rapi dan siap dimasukkan ke dalam rendang.
Harus diakui Malaysia sebagai negara tetangga terdekat Indonesia ini jempolan. Mereka tak hanya produksi ambu-ambu secara modern, tapi juga cabe giling siap pakai dalam wadah kecil-kecil yang bisa membuat proses memasak lebih mudah. Tentunya teknologi pangan seperti ini bikin harga cabe lebih stabil.
Penutup
Tulisan ini saya buat karena tiba-tiba saya teringat dulu saya pernah ditegur karena bumbu rendang saya kurang berempah. Yang menegur tentunya bukan orang Minang.
Gak cuma rendang saya yang ditegur, makanan buatan saya yang lain pernah ditegur karena bumbunya berbeda.
Sakit hati? Engga. Ketika itu saya bertanya di dalam hati “Kenapa?”
Lalu seperti biasa saya ulik aneka artikel psikologi dan sosiologi. Mengapa ada orang yang merasa cara memasak yang mereka kenal sebagai standar yang “paling benar”. Lalu mereka menilai variasi lain sebagai sebuah keanehan atau bahkan kesalahan.
Padahal, kuliner itu berkembang dan dipengaruhi banyak faktor. Dari perpindahan manusia, perubahan bahan pangan karena ketersediaan, hingga kondisi politik & ekonomi.
Saya pun berkesimpulan, mereka yang merasa paling tahu ini biasanya belum pernah keliling Indonesia, seperti katak dalam tempurung. Jadi memang tak pernah merasakan berapa beragamnya kuliner Indonesia.
Keberagaman ini tapi jangan diartikan gado-gado boleh disiram kecap ikan, rendang harus crispy dan rawon warganya kuning. Kalau ini sih namanya edan!
xoxo,
Tjetje













