Tukang Bohong 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan sebuah “riset kecil” di google untuk bahan pembahasan makan siang. Gelo emang, mau ngobrol makan siang aja pakai riset dulu dan bikin rangkuman singkat sepanjang hampir dua halaman yang didistribusikan lewat Email. Topik makan siang saya saat itu: mythomania atau yang kerap disebut pathological liar. Entah apa terjemahannya di dalam bahasa Indonesia,mungkin pembohong kronis. 

Perkenalan saya dengan mythomania sendiri berawal dari sebuah artikel di majalah Perancis, yang judulnya “Je Suis Mythomane”. Awalnya ketika membaca pengakuan tersebut, saya menganggap hal tersebut tak eksis. Sampai kemudian saya dan banyak rekan lainnya melihat sebuah kebohongan yang terjadi secara terus-menerus dari seorang teman. 

Awalnya, kami termakan kebohongan tersebut. Bahkan yang fantastis sekalipun. Namanya juga teman, tentu saya mempercayainya. Tetapi kemudian banyak fakta bergulir dan bertabrakan dengan informasi yang kami dengar. Ajaibnya, semua informasi ini sumbernya sama-sama dari satu orang, bukan dari orang yang berbeda. Bahasa gaulnya sih, bukan gosip. Jadi wajarlah kalau ketika itu kami sangat percaya. Bahkan saking meyakinkannya, hal-hal tersebut juga disampaikan kepada para penjabat tinggi dalam forum resmi. Kurang meyakinkan apa coba? 

Lalu beginilah hasil riset tak ilmiah saya….

Berbohong kronis ternyata bukanlah sebuah penyakit tapi merupakan sebuah gejala dari kelainan kepribadian. Hanya gejala dari narcissist personality disorder atau borderline personality disorder. Bagi para pelakunya, membeberkan kebenaran merupakan sebuah hal yang sulit. Sebaliknya, berbohong memberikan mereka kenyamanan dan bisa dilakukan dengan mudah. Nah jika kita menunjukkan bahasa tubuh yang tak nyaman ketika mengungkap kebohongan, para pembohong kronis ini bisa melakukannya dengan tenang. 

Kebanyakan kebohongan yang saya dengar saat itu sih tak merugikan, karena hanya bualan-bualan yang bisa dianggap angin lalu saja. Tapi dalam pertemanan, dimana kepercayaan menjadi sebuah landasan yang penting, kebohongan ini jadi sedikit mengganggu dan lama-lama melukai kepercayaan pertemanan. Dalam banyak kesempatan saya bahkan bertanya-tanya, mengapa sang pelaku perlu untuk berbohong untuk memukau orang lain? Dan saya yang bukan ahli pun membatin, mungkin memang tingkat kepercayaan dirinya terlalu rendah. Atau sebaliknya, terlalu tinggi sehingga merasa yang paling oke. Sementara orang lain dianggap sebagai pelupa yang tak punya daya rekam. 

Dari hasil baca-baca, ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengkonfrontasi dan membantu mereka. Saya sendiri tak tergoda mengkonfrontasi dan lebih tergoda untuk mengamati, untuk melihat sejauh mana level kebohongan yang akan dilakukan. Selain itu, saya juga sok-sokan pengen membaca latar belakang sang pelaku.

Jika berminat mengkonfrontasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Harus sabar mendengarkan segala kebohongan. Bahkan ketika tahu itu sebuah kebohongan besar, mulut harus ditutup rapat dan tak boleh menginisiasi argumentasi sementara telinga dibuka lebar-lebar.

2. Buat catatan hal-hal yang dibicarakan. Syukur-syukur kalau pembicaraan itu terekam dalam media chatting. Seringkali sang pelakunya lupa lho dengan hal ini. Atau bahkan sang pelaku membalikkan semua fakta dan menganggap kita sebagai tukang gosip yang kejam. Playing victim. 

3. Jika pertemanan tersebut worth it, tawarkan bantuan dengan membeberkan semua catatan kebohongan, tanpa memojokkan pelaku. Jika tak berharga, kabur aja. Hidup terlalu pendek untuk ngurusin Kebohongan-kebohongan yang seringkali tak masuk akal.

Pathological liar tidaklah sama dengan sociopath. Sociopath biasanya punya tujuan dan akan melakukan kebohongan apapun demi tujuan itu, sementara pathological liar hanyalah orang yang hobi berbohong. 

Nah, kalian pernah berurusan dengan pembohong kronis kah? Lalu apa yang kalian lakukan jika bertemu mereka?
xx,

Tjetje

Romantisme Tragis di Dublin Bay 

Masih dalam rangka membawa mama saja melakukan #JelajahIrlandia, kali ini kami sok romantis naik kapal menyusuri Dublin Bay dari Howth ke Dun Laoghaire. Howth sendiri merupakan sebuah area pelabuhan di County Dublin yang terkenal dengan seafoodnya. Saking terkenalnya mereka punya prawn festival.
Ada beberapa operator kapal di Howth dan pilihan kami jatuh pada Dublin Bay Cruise. Bukan hanya karena reviewnya bagus, tapi juga karena ada diskon di living social. Nah yang mau jalan-jalan ke Irlandia, kalau telaten boleh nih cari-cari disana atau di groupon karena banyak tiket murah. #BukanPesanSponsor. Ada beberapa route yang ditawarkan, selain dari Howth ke Dun Laoghaire (dua wilayah ini ada di County Dublin) ada juga route yang menawarkan perjalanan ke tengah kota Dublin dan akan berhenti persis di dekat jembatan cantik yang mirip harpa ini. 

Perlu dicatat, semua turis harus booking dulu sebelumnya dan gak bisa beli tiket mendadak di tempat. Eksistensi calo tiket juga tak ditemukan. Biarpun begitu, saya masih melihat beberapa turis yang nekat ngantri dan berakhir malang, karena tak ada ruang tersisa. Bahkan ada satu keluarga yang ngotot pengen naik dengan tiket salah booking. Sang Nakhkoda tak bergeming, tak berniat melebihi muatan demi beberapa Euro karena berkaitan dengan asuransi dan keselamatan. Saya masih suka terpukau kalau urusan beginian, karena pernah naik kapal kelebihan muatan dari Tidung ke Angke dan sepanjang jalan berdoa sambil pegang life jacket.

Ketika akan menaiki kapal kami sudah diwarning dulu bahwa laut hari ini agak choppy, berombak. Tapi semua penumpang, termasuk seekor anjing, semangat luar biasa. 30 menit pertama berlangsung dengan menyenangkan. Lautnya berombak sedikit, pemandangan sangat indah.

Sayangnya saya tak bertemu anjing laut yang beberapa minggu lalu sempat diabadikan oleh mama saya. Dengan riang gembira, kami juga naik turun dek ke atas dan ke bawah untuk memotret. 


Bagian atas penuh dengan turis latin Amerika yang nampaknya sedang belajar bahasa Inggris (Irlandia merupakan salah satu negara tujuan untuk belajar bahasa Inggris) sementara bagian belakang kapal dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang sedang merayakan ulang tahun. Anak-anak muda yang sibuk minum ini juga tak segan mengeluarkan f bomb, padahal banyak keluarga dan anak kecil yang ikut perjalanan tersebut. Sungguh kurang nyaman. 

Selepas 30 menit, perjalanan kami berubah menjadi mencemaskan. Dimulai dari siraman air laut ke kelompok anak-anak muda di belakang kapal. Dasar anak muda, disiram air malah seneng. Padahal air asin dan dingin itu lengket semua. Ombak kemudian mengombang-ambingkan kapal, perut mulai sedikit mual. Lalu, pemandangan horor pun terjadi. Bukan Nyi Roro Kidul yang memunculkan diri di laut Irlandia ya, tapi 

petugas kapal memegang gulungan plastik dan mulai membagi-bagikan pada penumpang yang terlihat pucat pasi. Bagi saya ini pemandangan mengerikan karena tandanya akan ada kompetisi mengeluarkan isi perut. 

Saya yang tadinya super pede, karena sudah mengalahkan ombak dari Ambon ke Banda (yang membuat hampir satu kapal mabuk laut), mulai ciut. Lalu ketika beberapa orang mulai mengosongkan perut, saya mulai pucat pasi. Semakin pucat ketika tahu tak ada antimo apalagi minyak angin. Tak ada abang-abang yang jual permen juga. Tak kehilangan akal, saya pun minta tobacco ke seorang pria yang sedang sibuk melinting rokok (disini buruh rokok mahal ya, jadi rokok mesti ngelinting sendiri). Ya lumayan lah buat diciumi jadi fokus kepala ke bau tembakau.

Pemandu yang berada dengan kami juga tak sibuk menerangkan apa-apa, mungkin ia mabuk laut juga. Baru di menit ke 70 atau 80 ia mulai menerangkan tentang Dun Laoghaire. Informasi yang diberikan sayangnya hanya sedikit, tak memuaskan. Kalaupun sang pemandu bicara banyak hal, mungkin juga tak ada yang peduli karena hampir semua orang sibuk menyelamatkan perutnya. 

Ketika kapal bersandar, kami disambut dengan pemandangan Dun Laoghaire yang kelam seperti ini. 


Mood yang sudah kelabu ini makin jelek ketika melihat cuaca yang tak bersahabat. Untungnya, hujan tak jadi turun. Dan sang Mama yang juga pernah naik kapal di beberapa lautan di Indonesia kapok, tak mau lagi naik kapal di laut Irlandia. Ketika saya menceritakan ini kepada mama mertua, mama mertua menceritakan pengalaman yang serupa. Lautan disana rupanya terkenal berombak dan bikin mual. Lesson learned, yang pengen sok romantis seperti saya, ada baiknya minum antimo dulu. 

Bagaimana dengan kalian, pernah menaiki kapal dengan kondisi laut yang super memabukkan? 
Xx,

Tjetje

Enggan Berobat ke Dokter

Di masyarakat kita ada anggapan yang beredar bahwa dokter-doktergampang memberikan antibiotik. Sakit apapun dihajar dengan antibiotik. Bahkan konon ketika tidak perlu, sehingga tubuh lebih kebal terhadap antibiotik. 

Terus terang saya tak tahu apakah anggapan ini hanya rumor yang berimbas buruk pada reputasi kebanyakan dokter di Indonesia, atau disebabkan oleh keengganan kita ke dokter hingga harus menunggu infeksi dulu (dan perlu dihajar antibiotik), ataukah memang dokternya mendapatkan fee yang lebih besar jika menjual antibiotik sehingga rela melanggar janji dokter. Entahlah, yang jelas, pengalaman saya dengan dokter tak selalu buruk, ada kalanya saya bertemu dokter yang enak dan bisa diajak diskusi tapi ada kalanya juga saya pulang bawa obat satu plastik (yang jika dihitung baru akan habis setelah tiga bulan) dan tentunya bikin asuransi bocor. Bahkan pernah saya dirawat secara heboh macam alkoholik veteran dengan biaya menjulang tapi ternyata second opinion menunjukkan saya hanya sakit demam! Deman saudara-saudara!!!!

Keengganan kita ke dokter, menurut saya disebabkan banyak hal. Faktor ekonomi salah satunya. Dokter di banyak tempat identik dengan jasa yang mahal. Wajar saja karena sekolah mereka juga tak murah. Munculnya BPJS harusnya menumbuhkan kesadaran untuk berkunjung ke sistem kesehatan masyarakat seperti puskesmas, tapi yang saya baca, masyarakat ke dokter bukan untuk minta pengobatan tapi minta langsung dirujuk ke rumah sakit. Padahal dokter tak bisa sembarang merujuk.

Selain faktor ekonomi, ada faktor lain, yaitu kepercayaan akan “penyakit mitos”, contohnya angin duduk atau masuk angin. Dalam dunia kedokteran, masuk angin bukanlah sebuah penyakit. Nah karena semua hal dianggap masuk angin (pegel-pegel, perut kembung, pusing), otomatis intervensi dokter tak diperlukan. Cukup disembuhkan dengan tolak angin, kerokan (dikerik) atau dibalur penghangat seperti minyak kayu putih atau balsem serta dilawan dengan berbagai macam ramuan herbal. Biasanya, hal-hal tersebut manjur, sehingga menguatkan ketidakperluan ke dokter.

Penyakit-penyakit mitos ini semakin memperlemah kebutuhan mengunjungi dokter, karena anggapan penyakit tersebut bisa diselesaikan secara alternatif. Ya kalau sakit sekelas “masuk angin” saja memang bisa disembuhkan dengan istirahat. Tapi penyakit seperti kanker, HIV/AIDS mana bisa dikasih jampi-jampi lalu mendadak hilang dari tubuh?

Selain itu, saya perhatikan masyarakat kita juga masih banyak yang takut dengan prosedur kesehatan. Contohnya, sakit amandel yang pernah saya bahas di sebuah postingan. Jika ditilik, ada beberapa komentar yang menanyakan pengobatan alternatif untuk mengecilkan amandel sehingga tak perlu operasi. Aneka rupa ramuan pun dicoba dengan harapan amandel bisa mengecil, sehingga tak perlu dioperasi. Tentu saja tak akan berhasil dan jika tak berhasil (serta kondisi sudah parah), barulah kembali ke dokter. Jangan salah, saya juga seperti ini lho, enggan dioperasi karena kebanyakan lihat Grey’s Anatomy. Keengganan ini tentu saja dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh tak lain tak bukan, para sales multi level marketing yang berdagang obat herbal. Sakit apapun, diklaim bisa disembuhkan dengan obat herbal. Bukannya saya anti obat herbal, tapi tak adil jika orang yang berjuang untuk hidup harus diberi harapan palsu dan “diperas” supaya sang pedagang MLM bisa naik jenjang ke tingkat  berlian atau bagian naik ke langit ke tujuh. 

Kendati takut pada dokter dan prosedur kesehatan, masih banyak juga orang yang  tak takut pada sangkal putung, alias dukun tulang. Dukun tulang ini mengobati patah atau retak tulang tanpa sekolah kedokteran dengan melihat hasil rontgent daerah yang patah. Harganya pun “Lebih mahal” dari dokter, apalagi jika di kemudian hari tulang ini salah pengobatan dan harus dipatahkan lagi untuk diperbaiki. Nah lo!!!  


Btw, baru-baru ini saya membaca orang yang menolak diobati dokter walau sudah didiagnosis sipilis. Lalu saya pun iseng menggoogle dampak negatif sipilis jika tak diobati, hasilnya mengerikan. Silahkan di Google sendiri.

Keengganan mengunjungi dokter, mendapat pengobatan yang tepat ini nampaknya banyak terjadi di masyarakat kita. Kesadaran asuransi kesehatan juga tak kalah rendahnya. Bahkan dengan BPJS yang cukup murah saja masih banyak  yang membayar iuran ketika sakit saja. Saat sehat tak mau bayar iuran.

Saya sendiri beruntung, bisa punya teman dekat dokter yang bisa dimintai pendapat kesehatan, masukan atau bahkan reset obat-obatan. Sang dokter bahkan bisa diajak berdiskusi tentang antibiotik tanpa merasa tersinggung dan mendadak defensif (pernah ketemu dokter yang model begini). Nah dokter seperti ini nih yang harusnya kita jadikan dokter keluarga. Sayangnya di Indonesia yang seperti ini jarang banget.

Bagaimana dengan kalian, suka ke dokter, dukun atau malah dokter Google? 
Xx,

Ailtje

Budaya Cium Tangan 

Konon Indonesia itu negara yang berbudi luhur. Salah satu wujud budi luhur ini tampak dari tradisi yang masih dijaga, yaitu penghormatan terhadap orang yang lebih tua dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua. Budaya ini tak jelas darimana asalnya. Ada yang bilang dari Arab, tapi ada juga yang mengatakan dari Eropa.

Kendati darah saya darah Indonesia (baca: bercampur dari banyak suku), tradisi Jawa jauh lebih kental dalam kehidupan saya, karena saya memang dibesarkan di tanah Jawa. Otomatis, tradisi mencium tangan jadi tradisi yang melekat dalam keseharian saya. Walaupun saya yakin tradisi ini juga ada di banyak tempat di tanah lain.

Cium tangan yang saya tahu ketika tumbuh dan besar hanya cium tangan kepada orang tua ataupun kepada keluarga yang lebih tua dan bertalian darah, seperti Tante, Budhe, Oom, Pakde, dan para Eyang. Dengan sepupu yang lebih tua pun saya tak pernah mencium tangan, hanya sebatas cium pipi kanan dan kiri saja, jika mereka mau.

Saat saya masih kecil, cium tangan kepada tante dan oom ini menjadi ritual yang menyenangkan karena para tante dan oom sering menyelipkan uang di tangannya. Salam tempel namanya. Saat itu nilai uang dan elemen kejutannya bikin saya girang. Ya namanya anak-anak, belum tahu susahnya kerja, jadi ya girang aja ditempelin uang jajan yang nilainya cukup besar. Tradisi ini tentunya sudah tak berlaku lagi dan sudah berbalik, karena sayalah yang sekarang menjadi tante-tante dan tugas sayalah menempelkan uang, supaya mereka bisa menikmati keriaan masa kecil saya.

Di sisi lain keluarga saya, yang keturunan Arab, tradisi cium tangan juga ada. Tapi bedanya, kami hanya menunjukkan niatan untuk mencium tangan, lalu tangan akan ditarik oleh sang empunya tangan sebelum tercium. Perbedaan yang mencolok ini tentu saja mengejutkan dan membingungkan saya. Untuk apa repot-repot mencium tangan jika buntutnya ditarik juga? Mending salaman aja sekalian kan? Tapi sekarang saya sudah berdamai dengan kebingungan ini dan malah sering melakukannya.

Semakin kesini saya semakin melihat bahwa tradisi cium tangan ternyata tak hanya untuk keluarga saja tapi sudah merembet ke lingkup yang lebih luas termasuk kepada kolega, teman dan juga kenalan dari orang tua. Anak-anak yang dibawa ke kantor misalnya, akan disapa oleh rekan-rekan orang tuanya dengan sapaan “Namanya siapa? Ayo *salim* dulu.” Ketika anak-anaknya itu menolak, karena orang-orang ini adalah orang yang tak dikenal dan biasanya sangat agresif (apalagi kalau anaknya lucu), akan muncul anggapan bahwa anak tak terdidik secara baik. Nggak pintar. Sementara kalau si anak menurut dan mau mencium tangan, mereka langsung dipuji anak pintar.

Tak hanya itu, saya juga juga banyak mengamati pasangan yang masih berpacaran berciuman tangan seusai pacaran. Bukan di Irlandia ya, tapi di Indonesia. Pasangan-pasangan seperti ini bisa dengan mudahnya ditemukan berpacaran di pinggir lapangan atapun di depan mall-mall ketika shift bekerja dimulai. Duh baru pacaran aja udah pakai cium tangan segala.

IMG_0840

Nggak nampak di foto, tapi adik kecil itu lagi nyium tangan si boneka gede. Ditemukan tahun kemaren di Car Free Day.

Bicara tentang cium tangan, saya paling tak suka dengan mereka yang dengan semena-mena menyodorkan tangannya untuk minta dicium. Bagi saya, mencium tangan itu bagian dari menghormati, jadi biarkan saya yang menentukan, kamu pantas dihormati atau tidak. Kalau engga, tapi jangan harap saya mau repot-repot cium tangan.

Bagaimana dengan kalian? Suka cium tangan sembarang orang?

Xx,
Tjetje
Tiap pagi selama summer cium tangan nyokap. Yaaaay!

Menengok Rumah Mewah Russborough House

Masih ingat dengan postingan saya beberapa waktu lalu tentang hutan kecil di Russborough house? Jika tak ingat, boleh ditengok di sini. Nah, akhir pekan ini, matahari bersinar sangat cerah. Wohoooo, jemuran pun bisa dibawa keluar dan ditinggal jalan-jalan dulu. #tetepYangDipikirJemuran

Memenuhi janji saya pada Mama yang kebetulan sedang liburan di Irlandia, saya pun membawa mama mengunjungi Rusbborough House. Rumahnya dikunjungi, tapi hutan  yang dipenuhi fairy doors kelupaan ditengok. Russborugh House ini merupakan rumah terpanjang di Irlandia dengan gaya Palladian yang dibangun 275 tahun yang lalu. Rumah yang super besar ini menghadap gunung Wicklow dan Blessington Lakes. Wicklow mountain terkenal sebagai tempat shooting film PS. I Love You, sementara Blessington Lakes yang juga tempat shooting film yang sama dan juga Braveheart, merupakan sebuah desa yang ditenggelamkan untuk menyediakan air minum bagi warga Dublin.

Rumahnya kepanjangan jadi hanya bisa difoto tengahnya saja.

Ada tiga keluarga yang pernah tinggal di rumah ini. Yang pertama keluarga Earls of Milltown (pada tahun 1740 – 1930), lalu rumah tersebut dibeli oleh keluarga Colonel & Maeb Daly (1931- 1951) seharga 9000 pound sterling. Lalu tahun 1952, Sir Alfred & Lady Beit yang punya bisnis berlian di Afrika Selatan membeli rumah ini. Mereka tinggal di rumah ini hingga tahun 2005, ketika ajal menjemput. Rumah ini sendiri sekarang dibuka untuk umum dan biaya pemeliharaannya didapatkan melalui The Alfred Beit Foundation.

Rumah yang memiliki 9 kamar tidur ini dibangun dengan batu granit lokal selama 10 tahun. Sementara langit-langit rumah ini sendiri dibangun selama 14 tahun. Langit-langit di rumah ini memang luar biasa kerennya dan hasil ukir-ukiran. Salah satu langit-langitnya bisa dilihat disini:

Ukir-ukiran dari langit-langit yang bulat seperti kubah ini desain untuk ruangan musik yang dilengkapi dengan dua buah piano yang kayunya pun didesain secara khusus. Uniknya, langit-langit ini didesain untuk bisa menciptakan gema suara yang tepat ketika penyanyi berdiri di tengah ruangan. Pemandu kami kemarin mempraktekkan hal tersebut, dan saya pun terbengong-bengong tak habis pikir bagaimana bisa mereka menciptakan hal tersebut.

Ruang makan super mewah. Piringnya dilukis hadiah dari Prince Wales (entah Prince Wales tahun keberapa), sementara di tengah-tengah keramiknya hadiah dari Madame Du Barry (dan ada logo sang Madame). Konon, sir Alfred Beit tertarik beli rumah ini karena lihat perapian mewah tersebut di sebuah majalah.

Rumah ini dilengkapi dengan dua wings, sisi barat dan sisi timur. Pada jamannya dulu, sayap-sayap ini digunakan untuk para pelayan. Satu sisi untuk pelayan pria dan satu sisi untuk pelayan perempuan. Pelayan pria sendiri lebih sering melayani, sementara pelayan perempuan harus membuang mukanya ketika bertemu dengan tuan rumah.

Sama seperti rumah-rumah orang kaya pada umumnya, rumah ini dihiasi dengan banyak tas Hermes lukisan. Nah salah satu ruang favorit saya adalah drawing room yang dilengkapi dengan empat lukisan karya pelukis Perancis, Claude Joseph Vernet. Lukisan berjudul, ‘Morning’, ‘Midday’, ‘Sunset’, dan ‘Night’ ini secara khusus dilukis pada sekitar tahun 1750an dan sudah berada di rumah ini selama 260 tahun terakhir.

Salah satu sudut di reading room. Di ujung, di bawah sebuah lukisan terdapat pintu yang tersembunyi. Can you spot it?

Dua hal menarik yang saya temukan disini adalah kursi tamu yang digunakan pada saat penobatan Raja George VI (Ini raja yang difilmkan di King’s Speech). Rupanya, pada saat penobatan Raja Inggris itu kursinya bisa dibawa pulang saudara-saudara. Selain itu ada juga satu set alat untuk mempelajari serangga. Alat tersebut rupanya merupakan hadiah pengantin untuk Marie Antoinette. Rupanya, Marie Antoinette itu suka mempelajari tentang serangga. Bagi saya ini menarik karena Marie Antoinette sering digambarkan sebagai perempuan yang kurang cerdas.

Perpustakaan dengan aneka rupa koleksi buku-bukunya. Konon, ruangan ini dulunya dipenuhi dengan lukisan. Pada jamannya lukisan itu menjadi simbol kekayaan sebuah keluarga.

Rumah ini sendiri sudah bolak-balik mengalami kecurian lukisan dan lukisan-lukisan yang dicuri memang bisa diambil kembali. Banyak dari lukisan tersebut kemudian didonasikan ke Galeri Nasional Irlandia. Nah, nampaknya saya harus kembali ke Galeri Nasional untuk mencari satu persatu lukisan hasil curian tersbut.

Peratan melihat serangga yang jadi hadiah perkawinan Marie Antoinette. Di atas alat ini (tak tampak di foto) ada topi yang khusus di buatkan untuk anjing! Horang kaya, anjing pun dikasih topi khusus.

Yang menyedihkan, yayasan yang berkewajiban mencari dana untuk rumah ini setiap tahunnya selalu defisit sekitar setengah juta dolar. Nampaknya, tiket masuk sebesar 12 Euro per orang, acara tahunan Russborough by candlelight serta sumbangan dari pencinta seni tak bisa mendongkrak pemasukan rumah ini. Akibatnya, beberapa lukisan dari rumah ini terpaksa dilelang dan publik Irlandia pun sudah bolak-balik ribut tapi pemerintahnya tak juga mau mendengarkan.

Salah satu sudut yang dipenuhi dengan plaster ukiran.

Oh ya Russborough by candlelight ini merupakan event tahunan dimana semua lilin-lilin dinyalakan dan kita bisa melihat sendiri betapa megahnya rumah ini di malam hari. Saya sangat ingin kembali ke rumah tersebut pada saat acara ini, karena penasaran dengan sebuah jam dinding. Jam dinding di rumah ini semuanya berasal dari Perancis dan ada sebuah jam (mungkin lebih tepatnya semacam termometer) yang khusus menunjukkan cuaca. Kemarin saat saya berkunjung, “jam” tersebut menunjukkan beau temps. Konon, jam ini memang terlihat lebih indah ketika ada lilin-lilin di bawahnya.

Suvenir: kursi. Ini bisa jadi inspirasi buat orang kaya di Indonesia. Kalau kawinan, kasih saja kursi sebagai suvenir. Biar macam raja ratu Inggris lah.

Sayangnya, tur mengelilingi Russborough House ini hanya selama satu jam saja. Bagi saya, tur tersebut tak cukup. Jika diperkenankan saya bisa menghabiskan seharian untuk memeloti semua benda-benda seni berharga yang tak ternilai harganya. Selain itu, saya juga pengen bertemu dengan hantu yang tinggal di rumah tersebut. Hantu tersebut konon sering berpindah-pindah dari kamar nomor satu hingga nomor sembilan. Jadi penasaran.

Bagaimana akhir pekan kalian?

xx,
Tjetje

Cerita menarik tentang rumah ini juga bisa ditengok di sini sementara galerinya bisa ditengok di sini.

Game of Thrones dan Irlandia Utara

Jika Irlandia terkenal dengan romantisme dan keindahan à la P.S I Love you (Braveheart, Star Wars dan sederet film lainnya) Irlandia Utara lebih dikenal sebagai rumahnya Game of Thrones. Kendati tak menggemari Game of Thrones (karena banyaknya kekerasan di dalam seri ini) kami nekat mengikuti tur khusus Game of Thrones karena tak bisa menolak iming-iming mengunjungi sudut-sudut cantik di Irlandia Utara. Seperti dark hedges ini:

IMG_7934

Deretan pohon-pohon beech ini ditanam oleh keluarga Stuart pada abad ke 18. Pada saat itu, pohon-pohon ini ditujukan untuk memukai para tamu yang akan melewati pintu masuk mansion mereka yang bergaya Georgia. Mansion ini sendiri diberi nama Gracehill House yang sayangnya tidak kami kunjungi. Sudut yang pernah dipakai shooting ini menjadi tempat favorit para turis, akibatnya jalanan ini dipenuhi turis-turis yang selfie di tengah jalan, sementara kendaraan yang akan lewat harus merayap. Coba saja kalau tempat ini ada di Indonesia, dipastikan diujung-ujung jalan ada anak-anak muda membawa tempat sampah, meminta uang kontribusi serelanya. Sementara disini: GRATIS.

Kenekatan kami dan juga Aling (celeb twitter yang dipopulerkan oleh ceritaeka.com dengan hashtag #JodohUntukAling)  mengakibatkan kami tak nyambung dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Tapi ya bodo amat, yang penting lokasi-lokasi yang kami kunjungi cantik walaupun agak muram durja, karena cuaca yang kurang bagus. Saking muramnya, perhentian pertama tempat Ned Stark mengeksekusi entah siapa yang dieksekusi, terpaksa dilewati karena kabut yang terlalu tebal.

Tur seharian yang dipatok seharga lebih dari 50 Euro ini dipandu oleh salah satu pemain figuran Game of Thrones yang sedang libur shooting. Kendati libur shooting, ia tetap memanjangkan janggutnya, karena janggut ini adalah aset yang berharga. Menariknya, di salah satu tempat kami bertemu dengan pemain figuran lain yang juga berjanggut panjang. Saya menduga-duga, semua pria berjanggut di Irlandia Utara adalah figuran Game of Thrones.

IMG_7941

Andrew, guide kami menunjukkan scene dimana dia jadi pemain figuran

Selain dibawa mengunjungi dark hedges, kami juga dibawa mengunjungi rope bridge. Bagi orang yang takut ketinggian seperti saya, jembatan ini jadi satu tantangan tersendiri, apalagi cuaca yang tak jelas dan berangin, rasanya badan seperti akan tersapu angin. Ternyata jembatannya tak terlalu mengerikan, yang mengerikan justru turun dari tangga menuju jembatan tersebut.

Ada batasan maksimal 8 orang yang diperkenankan untuk menyeberang bersamaan, dan tentunya tak boleh ambil selfie di jembatan ini. Nekat selfie bisa kena semprit petugas, tapi sayangnya petugas hanya nyemprit aja. Akibatnya banyak orang yang masih tetap ambil selfie dan menghambat puluhan orang lain yang akan menyeberang. Btw, di bawah jembatan ini juga dikenal sebagai kuburan kamera dan hp. Banyak orang yang kameranya jatuh dan tak terselamatkan lagi.

Belfast -1

Karena ikut tur, waktu kami untuk keliling tak begitu banyak. Jalan pun harus cepat-cepat dan tentunya tak bisa mengambil 1000 selfie #BuatApaCoba.  Saat keluar dari area ini, dua orang dari rombongan kami, termasuk satu orang Indonesia terpaksa ditinggal ke pub lokal untuk makan siang, karena mereka terlambat muncul kembali. Mereka tentu saja dijemput kembali.

Belfast -4

Makan siang tak termasuk dalam harga tur, masih harus rogoh kocek sekitar 8 – 10 pounds untuk pub food. Pub food itu makanan-makanan seperti fish and chips, guinness stew atau chicken goujon. Harga yang ditawarkan sendiri harga normal, tak ada pemalakan seperti di Indonesia. Seusai makan siang, kami dibawa kembali ke area rope bridge, tapi ke sisi yang berlawanan. Rupanya, ada tiga titik yang digunakan untuk shooting GoT. Salah satunya Larrybane yang menjadi lokasi camp King Renly Baratheon’s camp. Lokasi ini sendiri sekarang menjadi lapangan parkir kendaraan-kendaraan turis yang ke rope bridge.

Belfast -3

Dari sini, kami dibawa ke Ballintoy Harbour. Serunya, kami semua diperkenankan untuk menggunakan kostum-kostum sambil terus dijelaskan cerita-cerita dibalik pembuatan GoT dan dipertontonkan cuplikan-cuplikan GoT yang diambil di tempat tersebut. Sayangnya tak semua orang kebagian kostum, apalagi mereka-mereka yang bertubuh besar.

Kendati tempat ini sudah terkenal sebagai tempat shooting GoT, bahkan oleh pemerintah lokal diberi banyak papan-papan yang menjelaskan adegan yang diambil, jalan-jalan di wilayah ini dengan kostum tetap membuat kami jadi bahan tontonan. #KibasRambutBerasaArtis

Belfast -2

Nah kalau ini lokasi tempat pembabtisan Theon. Cakep ya?

Belfast

Selain mengunjungi tempat di atas, kami juga diajak menuju Dunluce castle. Sayangnya kami hanya dibawa melihat dari jauh sambil dijelaskan bagaiaman CGI merubah Dunluce Castle. Bonus tambahan di tour ini adalah jalan-jalan ke Giant Causeway, yang di dalam bahasa Irish dikenal sebagai Clochán an Aifir or Clochán na bhFomhórach. Aduh jangan tanya bagaimana melafalkan kata tersebut. Giant Causeway sendiri merupakan area dengan 40 ribu basalt columns. Bebatuan dengan bentuk hexagon yang terbentuk dari proses pendinginan lava basaltik.

Dengan kondisi yang dingin, berangin serta gerimis, area ini jadi sangat licin. Beberapa petugas berjaga untuk mengamankan orang-orang yang nekat naik ke bagian atas. Seperti biasa, peluit jadi modal untuk mengingatkan mereka. Tapi tak selamanya sistem ini berhasil, banyak juga yang masih nekat naik-naik ke atas.

Saya kemudian ngobrol dengan petugas, menanyakan berapa orang yang jatuh dan mati di Giant Causeway. Tak ada angka yang disebutkan petugas. Tapi yang jelas, banyak kejadian jatuh terpleset atau tersapu ombak karena KEBODOHAN. Obsesi selfie nampaknya menjadi salah satu alasan mereka mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, pencarian harus dilakukan dengan mengerahkan helikopter serta kapal. Menariknya, menurut sang petugas fotografer atau penghobi foto menjadi salah satu kelompok yang paling susah diberitahu dan paling nekat.

Di akhir perjalanan, saat saya akan naik bis kembali ke tempat parkir (disini bis dipatok dengan harga 1 pounds, sebagai alternatif bisa jalan, tapi jaaaaaaauh) saya bertemu dengan rombongan turis Cina yang tentunya tak bisa antri dan asal serobot sana sini. Duh!

Selamat berakhir pekan kawan-kawan. Apa rencana kalian akhir pekan ini?

Tukang Nyusuh

Pernah dengar tentang hoarder? Terus terang saya belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, yang saya tahu dalam bahasa Jawa kebiasaan ini dinamakan nyusuh. Jadi menyusuh ini berarti menimbun barang-barang yang sudah tak diperlukan lagi karena merasa di masa yang akan datang barang-barang tersebut akan diperlukan. Selain karena merasa masih diperlukan, ada perasaan cemas sehingga tak bisa membuang barang yang sebenarnya sudah bisa dimasukkan kategori sampah atau tak penting lagi. Selain barang tak berharga, menyusuh juga menyimpan barang-barang yang dianggap sentimental, contohnya tiket nonton ke bioskop, tiket kereta.

Kebiasaan nyusuh ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua, walaupun ada juga anak-anak yang muda yang hobi melakukan hal tersebut. Yang ditimbun apa aja? Pada prinsipnya segala macam hal yang bisa ditimbun ya harus ditimbun, karena ada keengganan untuk membuang. Yang saya tahu, orang-orang ini sering menimbun kertas, termasuk koran, tagihan dan bukti pembayaran dari jaman baheula (mungkin takut jika masih diperlukan), hingga peralatan mandi macam sampo yang sudah tinggal seiprit. Botol-botol shampo ini tak boleh dibuang karena masih ada sisanya, padahal produk-produk kecantikan tersebut punya masa kadarluarsa. Kantong-kantong belanjaan, label-label pakaian (label yang kertas ya), dan barang-barang gratisan juga sering ditimbun mereka.

Hoarding sendiri gak sama dengan koleksi. Jika koleksi disimpan secara rapi dan tertata bahkan dibeli dengan harga mahal (dan dipamerkan sebagai sebuah kebanggaan), barang-barang susuhan ini disimpan sekenanya saja. Karena tak tertatanya dan karena banyaknya barang ­­yang disimpan, sang empunya biasanya seringkali tak punya ruang penyimpanan lagi. Pada level yang belum parah, biasanya satu kamar akan dijadikan “korban” dan berada dalam kondisi berantakan, tapi pada kondisi yang sudah parah bisa-bisa satu rumah pun dihabiskan untuk menimbun harta karun. Seringkali kondisi ini menciptakan ruang gerak yang terbatas dan biasanya, sang pelaku sangat keras kepala hingga susah diingatkan. Pun kadang mereka tak tahu bahwa yang mereka lakukan ini salah dan tak sehat. Malah kadang kalau diingatkan yang begini suka ngamuk-ngamuk tak jelas, orang lain yang disalahkan. Kalau nekat membuang tanpa memberi tahu, bisa pecah perang dunia ketiga deh.

Salah satu keluarga jauh kami memiliki kebiasaan ini dan kebiasaannya masuk dalam kondisi parah. Rumahnya penuh dengan barang-barang, kamar mandinya juga dipenuhi dengan puluhan botol-botol shampo. Jika sedang membahas tentang si Tante ini, kami seringkali bertanya apa yang menyebabkan ia begitu tekun  menyimpan barang tak berguna dan kesusahan untuk letting go things. Di Indonesia saya juga mengetahui beberapa orang terdekat yang melakukan hal serupa.

source: bu.edu

Kami yang bukan ahli kejiwaan ini kemudian menarik benang merah bahwa orang-orang yang menimbun barang ini biasanya kehilangan anggota keluarganya sehingga mencari penghiburan dari barang-barang yang mereka timbun. Suatu hari ketika mereka memerlukan sesuatu, mereka akan ada pada posisi dimana mereka memiliki. Tapi ya itu kan teori abalabal dari obrolan pria Irlandia dan perempuan Indonesia yang lagi bosen ngebahas Brexit.

Rupanya, kebiasaan hoarding ini merupakan sebuah gangguan yang juga bisa menjadi gejala dari dari gangguan lainnya. Rupanya, menyusuh ini identik dengan obsessive-compulsive personality disorder (OCPD), obsessive-compulsive disorder (OCD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan tentunya depresi. Soal yang terakhir ini, di Indonesia saya jarang banget dengar. Sementara disini, banyak sekali orang-orang yang mengalami depresi.

Nah kalau sudah gini, saya hanya mengingatkan saja, jika punya teman atau anggota keluarga yang melakukan hal serupa, tolong dibantu supaya tak kebablasan. Paling utama tentunya ajak ngobrol dulu, kasih materi bacaan tentang hoarding, lalu jika orangnya sudah siap, bantu bersih-bersih juga. Jangan dipermalukan juga, karena kondisi ini akan semakin menekan mereka. Lalu, kalau sudah siap, bantu bersih-bersih.

Pernah melihat tukang nyusuh?

xx,
Tjetje