Rupa-rupa Arisan

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat di Indonesia tentang arisan yang memberatkan ekonomi. Berat bagi kami yang masuk golongan ekonomi menengah ngehek, mungkin tak berat bagi mereka yang memang dilimpahi rejeki yang kekinian dan bisa digunakan untuk mengikuti banyak arisan.

Arisan, entah ditemukan oleh siapa, dibuat untuk membantu ekonomi para anggotanya dan juga untuk kegiatan sosial. Seperti kita tahu, dalam arisan semua orang sebenarnya mendapatkan kembali uang yang mereka setorkan, hanya urutannya saja yang berbeda. Arisan pun bermacam-macam tipenya, tak selalu soal uang, ada arisan panci, tas, emas, hingga arisan berondong. Nah kalau soal yang terakhir, tujuannya tentunya untuk membantu keadaan ekonomi si berondong dan kepuasan batin si pemenang arisan.

Menjadi perempuan jaman sekarang, apalagi di Indonesia, menuntut untuk ikut arisan di berbagai tempat. Arisan pertama level RT, rukun tetangga. Jika sang perempuan sudah memiliki anak, maka kesempatan arisan yang ada berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Punya tiga anak berarti memiliki setidaknya tiga kelompok arisan yang berbeda sesuai kelas si anak. Sebut saja ini arisan mama-mama di sekolah. Nanti ada pula grup arisan di luar sekolah anak, tentunya tergantung aktivitas si anak. Kursus ini itu, lalu bertemu dengan Ibu-ibu lainnya, dan membuat kelompok-kelompok arisan. Semakin banyak arisan yang diikuti, maka semakin banyak dana yang harus dialokasikan setiap bulannya. Ya hitung-hitung menabung.

Tunggu dulu, ternyata arisan jaman sekarang tak bisa dianggap sebagai kegiatan menabung, karena kebanyakan arisan menuntut dress code. Dress code ini akan disesuaikan dengan tema-tema yang disetujui atau ditentukan bersama. Arisan bulan ini temanya Gatsby, arisan bulan selanjutnya glamor, lalu arisan selanjutnya warna mejikuhibiniu, kemudian army look. Nanti begitu di saat bulan Ramadhan, kaftan putih menjadi dress code. Pendek kata runaway kalahlah. Lalu untuk mengabadikan momen spesial ini, fotografer kadang dipekerjakan, tapi jika tak ada fotografer cukup membawa kamera atau kamera dari telepon genggam. Jangan lupa meminta pelayan untuk membantu mengambil foto.

Tak cukup dengan dress code, lokasi arisan juga tak lagi di rumah. Sekarang arisan pindah ke ruang meeting di mall, seperti di sebuah mall di kawasan Sudirman. Hotel juga sering menjadi tempat tujuan arisan, ditemani dengan afternoon tea yang seringkali lebih mahal dari uang arisan. Restauran-restauran yang baru keluar dan banyak dibicarakan juga harus menjadi tempat tujuan arisan. Apalagi kalau restauran ini interiornya menarik dan punya banyak sudut untuk foto. Pemotretan memang menjadi bagian tak terlepaskan dari sebuah arisan.

Beberapa kelompok tertentu bahkan mengadakan penutupan arisan dengan jalan-jalan keluar kota, hingga keluar pulau. Penutupan arisan model ini mendorong pariwisata Indonesia berkembang dan tentunya memberikan kesempatan untuk lepas dari rutinitas rumah.

Arisan juga tak terlepaskan dari drama. Drama perkelahian anggota atau saling gosip-menggosip tentunya bukan hal baru lagi. Sementara mereka yang tak ikut arisan juga terkucilkan dari kelompok. Selain itu, drama urusan uang juga seringkali terjadi. Dari uang dibawa kabur oleh koordinator arisan hingga pembayaran yang susah ketika sudah menang. Yang repot, penerima arisan paling akhir biasanya tak langsung menerima uang arisan dengan penuh, karena ada saja anggota yang belum mengirimkan uang. Akibatnya, pembayaran jadi dicicil, apes banget kan udah dapat paling akhir, dicicil pula. Soal alasan pembayaran terlambat, jangan ditanya lagi, karena alasan mereka beraneka rupa & bikin geleng-geleng kepala.

Arisan keluarga sendiri menjadi arisan favorit saya, karena menjadi ajang berkumpul untuk bertemu keluarga. Apalagi jika tinggal di kota besar seperti Jakarta. Tapi bagi yang lajang atau belum kunjung hamil setelah kawin, ada baiknya arisan ini dihindari karena pertanyaan yang muncul bisa menusuk hati hingga berdarah-darah.

Kalian, ikut arisan atau kegiatan sosial lainnya?

xx,

Tjetje

Tak mau ikut arisan lagi

Advertisements

Cerita Badai Salju di Dublin

[Tulisan panjang]

Dari hari Senin kemarin berita badai akan datang di Irlandia sudah mulai ramai di mana-mana. Penduduk Irlandia juga panik berat hingga kemudian memborong segala macam makanan dari supermarket, utamanya roti dan susu. Gak di Irlandia gak di Indonesia, kelakuan manusia sama saja.

Stok susu habis diborong, begitu juga dengan daging, ikan, roti dan telur

Beruntung saya bisa hidup tanpa keduanya tapi tetap saja, Senin malam itu saya harus keliling mencari stok makanan. Malam itu memang kulkas kami kosong, jadi mau tak mau harus beli makanan. Saya pun akhirnya menemukan banyak makanan di Tesco lokal dan membeli secukupnya untuk beberapa makan malam saja serta air putih. Parno, takut pipa air beku.

Hari Selasa cuaca di Dublin begitu Indah, matahari bersinar terang dan suasananya kalem sekali. Suasana ini yang disebut calm before the storm. Kantor sendiri juga masih berjalan normal.

Rabu pagi saya bangun pagi sekali dan semua pemandangan jadi putih, tertutup salju. Hati saya riang gembira, bukan karena salju (saya bukan penyuka salju) tapi karena red warning dari pemerintah. Artinya, kami tak boleh kemana-mana dan tak perlu ke kantor. Pagi itu saya habiskan untuk keliling kompleks mengecek ketinggian salju, membersihkan rumah, beres-beres setrikaan, baca buku, nonton Netflix, baca buku hingga tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Baru satu hari saja, saya sudah bosan dikurung di dalam rumah.

Kamis pagi, salju sisa kemarin mulai tinggi lagi. Pemerintah sendiri menyerukan orang-orang harus berada di dalam rumah pada pukul 4 sore. Saya yang gerah di dalam rumah pun berjalan ke toko lokal tanpa ada niatan untuk belanja. Ternyata di toko lokal terjadi kehebohan, orang pada borong roti yang baru tiba. Dan antriannya mengular panjang sampai mengelilingi dalam toko. Panik rupanya. Tetangga saya bahkan ada yang membeli 10 bungkus roti (dan masuk TV). Roti segitu banyaknya mau dibuat apa?

Krisis roti: truk ini menjadi pemandangan indah

Urung membeli roti, saya keluar ke apotek langganan mertua untuk mengambil obat beliau. Rasanya sedih gitu ketika masuk apotek ada seorang Ibu-ibu agak tua yang kakinya patah harus mengambil obat ke apotek. Jasa layanan antar di apotek ini terpaksa dihentikan karena sang pengantar tak tercover oleh asuransi.

Menariknya, di belakang apotek ini terdapat pub lokal yang tentunya buka dan tak peminatnya tak surut. Sementara chipper (istilah lokal untuk warung yang jual kentang, burger, dan gorengan lain) bersiap untuk buka. Hujan badai, alkohol dan kentang tetaplah barang penting di sini.

Prioritas di Irlandia: bir dan wine!! Padahal antrian lumayan panjang

Hari Jumat situasinya masih sama dan kami yang terkena cabin fever ini memaksakan untuk keluar demi mendapatkan udara segar. Kami kembali lagi ke supermarket lokal dengan antrian panjang, hanya karena ingin mengambil foto. Rupanya antriannya sudah mencapai luar supermarket. Duh tak terbayang stressnya para pegawai.

img_4018-1

Orang-orang yang heboh antri di supermarket.

Begitu hari Sabtu tiba, kami keluar rumah pagi-pagi demi mencari bahan pangan. Ternyata di kompleks sebelah, saljunya tak kalah parah dan beberapa kendaraan harus ditinggalkan dipinggir jalan. Stasiun tram sendiri tertutup salju dan tak bisa dilewati tram.

Stasiun tram yang terendam salju hingga lebih dari 60 cm.

Supermarket yang kami pilih agak jauh, sekitar 20 menit jalan dan ternyata buka dengan jam normal, karena red warning juga telah berubah menjadi oranye. Oranye artinya kami sudah boleh keluar rumah. Saya berhasil membeli beberapa bahan makanan, baik untuk saya maupun untuk mertua yang tinggal tak jauh. Antrian kasirnya juga tak begitu panjang.

img_4041

Mobil yang diterlantarkan karena jalanan tak bisa dilewati lagi.

Bagi banyak orang yang tinggal di negeri salju mungkin badai salju ini sebuah hal yang biasa. Di Irlandia, negaranya tak sesiap negara lain dalam menghadapi salju. Begitu salju besar turun, dipastikan layanan publik, terutama transportasi akan melayani secara terbatas atau berhenti. Penerbangan dibatalkan, sekolah dan penitipan anak tutup, sementara petugas kesehatan terpaksa tidur di rumah sakit demi melayani masyarakat. Di beberapa tempat bahkan listrik tak tersedia. Aduh gak kebayang deh dinginnya.

Superheroes!

Penjarahan juga terjadi tak jauh dari kompleks saya tinggal. Tak tanggung-tanggung, mereka menjarah lemari besi Lidl (supermarket murah dari Jerman) dan kemudian menghancurkan Lidl dengan mesin besar yang mereka curi dari lokasi pembangunan tak jauh dari TKP. Di wilayah yang sama, mobil-mobil yang diparkir juga dibakar. Gak di Indonesia, gak di Irlandia, anarkismenya sama saja.

Bosan di dalam rumah, bikin snowman deh

Ketika tulisan ini ditulis, salju sudah berhenti turun dan mulai mencair. Yang tersisa sekarang hanya becek, salju yang bercampur tanah kotor dan tentunya kerja keras untuk menyekopi salju tersebut. Satu kompleks kami keluar rumah, kerja bakti tanpa ada yang mengkomando. Saya juga sesiangan ikut menyekop salju. Untung ya di Irlandia ini badai salju cuma datang sesekali dalam satu dekade.

Hari Minggu, jalanan besar mulai dibersihkan.

Tapi kerja keras kami untuk membersihkan salju ini tak ada apa-apanya dibandingkan para pekerja emergency dan kesehatan yang berjalan ke rumah sakit demi menjalankan tugas. Juga para pekerja supermarket yang harus berhadapan dengan kepanikan massa. Mereka adalah pahlawan!

Salju di halaman depan rumah kami. Perjuangan banget untuk keluar dari pintu utama.

Selamat hari Senin kawan, kalian sudah pernah terjebak badai salju? Atau mungkin terjebak banjir parah?

xx,
Tjetje

Jual Beli Makanan di Luar Negeri

Bulan Desember kemarin, Instagram saya meriah dengan instastory dan juga foto-foto risoles. Euphoria karena baru bisa bikin risoles dan risolesnya, kebetulan enak serta creamy. Rupanya peminat risoles ini banyak, bahkan ada yang mau pesan untuk sebuah acara ulang tahun. Mimpi apa anak yang tak bisa masak ini tiba-tiba dapat orderan? Tapi orderan berbayar itu saya tolak dan risoles pun saya berikan gratis sebagai hadiah ulang tahun. Saya, menolak menjual makanan karena banyak alasan.

Di Indonesia, jual makanan itu prosesnya gampang sekali dan tak memerlukan “banyak modal”. Cukup dengan bahan-bahan makanan dan meja, makanan pun bisa digelar di luar rumah. Peminatnya juga ada saja. Soal kualitas makanan, para pembelilah yang akan menilai. Jika enak, makanan tersebut akan bertahan, jika tak enak, pasti akan gulung tikar.

Para pelaku usaha makanan di Indonesia juga banyak, apalagi menjelang hari Raya. Semua orang mendadak berwirausaha dengan resep andalan keluarga. Dapur-dapur rumah pun berubah menjadi unit usaha kue kering dan juga makanan lain.

Pada usaha-usaha kecil dan rumahan ini, saya lihat tak ada mekanisme kontrol untuk melihat berapa kilo micin yang dimasukkan ke dalam makanan, apalagi mengontrol jenis daging yang dimasukkan. Bahkan bahan-bahan yang tak seharusnya menjadi makanan pun bisa dimasukkan, termasuk pewarna pakaian. Bicara micin, di dekat kantor saya di kawasan jalan Galuh Kebayoran Baru, ada tukang soto yang cukup terkenal. Suatu pagi saya mendapati bapak tukang soto dengan santainya memasukkan bungkusan besar micin ke dalam panci soto. Tak cukup satu bungkus besar, setiap meracik, satu sendok micin akan dituangkan ke dalam mangkok. Itu baru micin, soal kebersihan adalah isu lain yang tak terkontrol. Bila kemudian ada yang sakit perut, tak ada mekanisme pelaporan dan siapa yang peduli?

Di Irlandia, jual makanan itu bisnis yang tak mudah. Ada banyak aturan mengenai proses penanganan hingga penyimpanan makanan. Makanan di sini tak boleh dipajang hingga seharian seperti di Indonesia, apalagi dihinggapi lalat. Mereka yang berjualan pun wajib punya ijin, area masak yang memenuhi standar kesehatan dan tentunya wajib bayar pajak. Tak heran kalau kemudian harga jual makanan di luar negeri itu relatif “mahal”. Bahan-bahannya mungkin lebih murah karena bisa beli dalam jumlah besar dan tak bayar PPN, tapi ongkos tenaga kerja, asuransi dan lain-lain membuat harga menjadi tinggi.

Ketika mengalami reaksi tak biasa setelah maka, konsumen pun tinggal menelpon dan membuat laporan, seperti yang dilakukan seorang teman saya. Konon mereka yang banyak dilaporkan akan diinspeksi dan bisa kehilangan lisensi untuk berjualan sehingga usaha makanannya ditutup. Tiap tahun selalu ada beberapa restauran yang ditutup karena hal seperti ini dan nama serta alamat mereka akan diumumkan kepada publik.

Orang-orang Indonesia di berbagai belahan dunia membawa budaya berjualan makanan ini ke tempat mereka tinggal. Coba tanya deh sama yang tinggal di luar negeri, pasti ada yang bisa bikin bakso, nasi Padang, lapis legit, hingga aneka panganan lain. Budaya jualan secara informal tak hanya terbatas di satu negara, kadang bisa lintas negara juga. Makanan tinggal dibungkus vacuum lalu dikirimkan melalui pos. Para penjual makanan ini kemudian menjadi penyelamat bagi orang-orang yang tak pandai masak seperti saya.

Mereka tak hanya menjadi sumber penyelamat tapi juga menjadi sumber kritik; kritik utama biasanya soal harga yang terlalu mahal, apalagi jika bahannya-bahannya terbilang murah. Argumen terkuat dari pengkritik biasanya karena mereka tak bayar pajak, jadi tak seharusnya menjual dengan harga “mahal”. Biasanya, para pengkritik ini hanya ingat menghitung biaya bahan-bahan dan seringkali lupa menghitung ongkos tenaga kerja. Ongkos tenaga kerja di negara-negara Eropa, apalagi Eropa Barat tidaklah murah, apalagi jika waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan sebuah makanan cukup banyak. Kebiasaan mengkritik dengan pedas ini juga mungkin karena kita terbiasa dengan harga tenaga kerja yang kelewatan murahnya di Indonesia.

Selain mengkritik harga, rasa makanan yang tak sesuai di lidah membuat konsumen suka mengeluh. Kurang pedes, kurang asin, gak berani bumbu, kurang ini dan kurang itu. Mungkin juga kurang micin.

Selain karena alasan-alasan di atas, ketidakadaan ijin juga membuat orang kepanasan. Makin panas ketika terjadi keracunan makanan dan pembeli tak bisa membuat laporan. Eh bisa juga sih mereka menuntut, tapi urusannya akan panjang karena ijin usaha yang tak ada. Nah kalau sudah gini pun aparat dan tukang pajak akan ikut terlibat.

Kegiatan berdagang makanan ini tak hanya menjadi kebiasaan orang Indonesia, tapi saya perhatikan banyak dilakukan oleh orang-orang Asia. Melalui seorang rekan kerja, saya pernah membeli satu kilo bakso hasil buatan orang Thailand yang rasanya super enak. Orang-orang Filipina juga suka ada yang menjual lunchbox.

Bagi banyak orang, apalagi yang hobi memasak, berjualan makanan mungkin menjadi suatu kepuasan tersendiri. Menyiapkan banyak makanan, mengolahnya menjadi lezat dan kemudian memperoleh sedikit keuntungan. Bagi saya, mereka yang berjualan makanan ini menjadi penyelamat ketika saya merindukan makanan nusantara dan tak tahu, atau bahkan malas, memasak. Kalau kemudian ada kontroversi dengan pembeli yang lain, saya tak urusan. Yang penting makanan saya sesuai pesanan, tanpa sambal.

Untuk menjadi penjual sendiri saya enggan, karena saya enggan jual makanan tanpa ijin, apalagi kalau sampai bikin orang sakit perut dan sakit hati. Soal yang terakhir ini bahaya, karena sakit hati bisa dibawa ke media sosial dan petugas negara. Modyar. Bicara soal ijin, di sini makanan harus ketahuan asalnya dari mana dan isinya apa saja, apalagi kalau berkaitan dengan alergi, seperti kacang-kacangan, susu, dan panjang lagi. Lupa nyantumin orang bisa sampai meninggal. Ngeri deh urusan sama petugas negara.

Jadi, kalian beli makanan apa hari ini?

Xx,

Tjetje

Seputar Televisi

Sungguh saya kaget luar biasa ketika melihat perkawinan Angel Elga dan Vicky dimasukkan ke dalam televisi nasional dan kemudian menjadi TT di jagat Twitter. Kalau saya masih di Indonesia, saya akan lihat merek-merek apa saja yang bersedia membayari acara televisi model seperti itu dan berhenti membeli produk-produk mereka. Agak ekstrem mungkin, tapi televisi itu mestinya kan menjadi ajang pendidikan dan atau hiburan berkualitas. Bukan hiburan yang tak jelas manfaatnya apalagi memfasilitasi perusakan terhadap bahasa kita.

Di Irlandia, kami memilih untuk mempensiunkan televisi. TV-TV kami letakkan di gudang sejak lebih dari setahun terakhir. Ada banyak alasan mengapa saya tak mau ada televisi. Pertama, karena menggunakan televisi di Irlandia itu harus membayar pajak tahunan sebesar

€160 per tahunnya. Pajak ini mirip dengan pajak yang dibayarkan jaman Presiden Suharto dulu. Uang tersebut konon akan digunakan negara untuk membayar stasiun lokal, di sini namanya RTÉ. Nah, banyak orang ribut soal ini, karena gaji-gaji mereka yang kerja di RTÉ itu banyak yang berlebihan/ terlalu besar untuk ukuran Irlandia. Sementara tak membayar pajak televisi ini sendiri juga membuat orang bisa dipenjara.

Selain soal pajak, saya juga enggan membayar TV kabel sebesar €70-100 untuk televisi setiap bulannya, karena penggunaan TV sangat rendah. Kami berdua bekerja dan lebih memilih baca buku, ngobrol atau nonton netflix.

Kualitas televisi di Irlandia sendiri bermacam-macam, tergantung paket televisi yang kita ambil. Tapi tentunya film-film seri Amerika tak sebanyak di Indonesia. Kualitas drama di Irlandia sendiri saya tak bisa menilai, karena saya tak rajin menonton. Tapi saya paling tak suka dengan drama lokal yang panjangnya mengalahkan sinetron Tersanjung di Indonesia. Judul dramanya Fair City. Drama ini sudah ada di televisi sejak satu dekade lebih dan nampaknya belum akan usai. Yang mengerikan, tak seperti Tersanjung yang diputar tiap Jumat, drama ini diputar hampir setiap hari. Selain Fair City ada juga drama panjang Inggris berjudul East Enders, sama juga, panjang dan banyak pencinta fanatiknya.

Bagi saya, ini bukan kali pertama saya memilih tak punya TV, dulu ketika baru awal menjadi anak kost, saya pernah hidup bertahun-tahun tanpa TV, karena tak melihat manfaat positif. Kendati saat itu tak punya televisi, saya memiliki radio dan CD player. Jadi kalau butuh hiburan, koleksi CD bisa dimainkan.

Keteguhan saya untuk tak punya televisi goyah ketika SCTV menayangkan kembali telenovela Marimar yang dibintangi oleh Thalia bersama anjingnya. Saya langsung beli TV dong, demi nonton telenovela. Setelah beli TV saya hanya menonton satu atau dua episode saja, lalu beralih ke TV5 untuk melatih kemampuan telinga mendengar bahasa Perancis.

TV5 sendiri saya dapatkan dari TV kabel. Jaman itu, tahun 2009-2010an, TV kabel dibandrol dengan harga sekitar 300ribu Rupiah untuk berbagai macam stasiun televisi. Nah saya diberi tawaran untuk mengambil TV kabel sebesar 100ribu rupiah setiap bulannya. Tentu saja saya langsung setuju, karena murah.

TV kabel murah itu ternyata hasil menyogok saudara-saudara. Salah satu anak kos rupanya menyogok pegawai TV kabel untuk membuka koneksi TV kabel bagi beberapa orang. Ketika semua TV kabel sudah menggunakan dekoder, penyedia TV kabel yang ini masih manual, jadi tinggal colok kabel. Tagihan tiap bulan ini yang kemudian dibagi tiga, sesuai jumlah peminat.

Metode ini nampaknya banyak digunakan di kost-kostan, karena begitu saya pindah ke kost lain, mereka juga menggunakan sistem TV kabel yang sama. Bedanya di kost baru saya tak perlu membayar, semua sudah dibayar oleh pemilih kos. Ah kalau urusan ekonomi kreatif, Indonesia memang jawara.

Sayangnya TV kabel gratisan tersebut tak bertahan lama, karena perusahaan TV kabel tersebut memperbarui jaringannya dan saya pun harus bayar harga normal demi kualitas TV yang lebih baik. Setidaknya kala itu saya tak perlu nonton sinetron, debat politik yang tak jelas, apalagi kawinan nasional dipajang di TV nasional.

Jadi bagaimana kualitas acara TV di tempat kalian tinggal?

xx,

Ailtje

Serba-serbi Dana Kesejahteraan Sosial di Irlandia

Jaminan kesejahteraan sosial menjadi sebuah hal yang membuat Irlandia lebih baik dari banyak negara. Orang-orang yang bekerja membayar pajak cukup tinggi, berkisar dari 20-40%, sementara mereka yang sedang mencari pekerjaan bisa dibantu oleh negara.

Bantuan dari negara ini ada beberapa macam tipenya. Untuk mereka yang mencari pekerjaan misalnya, pemerintah menyediakan uang mingguan yang bisa mencapai hampir €200/ minggu. Jangan keburu silau dulu, karena cuma itu relatif tak banyak.

Selain uang mingguan, para pencari kerja juga bisa meminta penambahan keterampilan. Misalnya ingin menjadi tukang potong rambut, maka pemerintah akan mencarikan kursus dan membayar kursus tersebut. Seringkali, kursus-kursus tersebut tak murah, bisa mencapai ribuan Euro. Nanti, ketika sudah selesai kursus dan tak juga mendapatkan pekerjaan, bisa juga meminta kursus tambahan.

Kursus bahasa Inggris juga banyak diberikan untuk mereka yang memang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas dan kesulitan mendapat pekerjaan. Kursus ini untuk mereka yang bukan penutur asli, untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

Selain uang mingguan, pemerintah juga menyediakan rumah-rumah sosial. Soal rumah ini pernah saya bahas dalam tulisan terpisah. Nanti linknya akan saya taruh di bawah. Menariknya, seringkali orang menolak tawaran rumah dari pemerintah dengan beragam alasan, misalnya: tak ada tempat parkir, terlalu jauh dari tempat kerja, harus naik tangga, atau lokasin yang berada di daerah kurang baik. Orang-orang ini kemudian ditaruh di hotel berbintang dan berstatus homeless. Dari luar kita melihatnya mungkin wah, tinggal di hotel. Tapi ruang gerak di hotel itu sangat terbatas. Tempat menjemur pakaian tak ada, dapur apalagi. Jadi, banyak yang mengeluh dengan kondisi ini, bahkan ada yang bunuh diri.

Selain ditawari rumah, pemerintah juga memberikan rental allowance untuk yang tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah, alias uang sewa dibayari oleh Pemerintah. Tak semua landlord tapi menyukai rental allowance, jadi banyak dari mereka yang mendapatkan rental allowance ini kesulitan mendapatkan rumah kontrakan.

Irlandia yang memiliki sejarah gelap terhadap perempuan yang memiliki anak di luar perkawinan, sekarang menjamin Ibu-ibu tunggal. Rumah disediakan, atau melalui rental allowance, tunjangan juga diberikan. Pendeknya hidup mereka terjamin, walaupun tak berlebihan. Pepatah banyak anak banyak rejeki juga bisa diterapkan dalam situasi seperti ini, karena memang semakin banyak anaknya semakin besar tunjangan dari Pemerintah. Seorang teman bahkan bercerita ada yang mendapatkan tunjangan hingga €60,000/tahun, karena anaknya banyak. Jumlah ini 2,5-3 kali lipat lebih besar dari mereka yg bekerja dengan upah minimum.

Para istri yang kehilangan suaminya juga berhak mendapatkan tunjangan/ pensiun jika suaminya pernah bekerja selama sekian puluh minggu, saya lupa persisnya. Jumlah pensiun ini lagi-lagi tak banyak, tapi cukup untuk belanja kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu tersebut termasuk susu, roti, sayur dan daging.

Di lingkungan sehari-hari, orang-orang yang kehilangan pekerjaan tak perlu malu untuk mengambil tunjangan sosial hingga menemukan pekerjaan. Namun masyarakat juga suka gemas pada mereka yang bergantung pada social welfare sepanjang hidupnya. Sekali lagi, SEPANJANG HIDUP. Orang-orang seperti ini ada banyak di Irlandia dan mereka tak pernah bekerja selama hidupnya. Lucunya, orang-orang yang bergantung pada social welfare ini tak segan membicarakan bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak lagi. Padahal mereka ini selain mendapatkan dana mingguan, juga mendapatkan jaminan kesehatan gratis. Sementara mereka yang bekerja setidaknya harus merogoh hingga €60/ kunjungan ke dokter. Selain kesehatan gratis, mereka juga dibebaskan dari biaya TV license (ongkos punya TV). Dengan begitu banyaknya “kenyamanan”, tak heran kalau banyak yang memilih tak bekerja. Terkadang, dana social welfare ini jauh lebih banyak ketimbang bekerja.

Penyelewengan dana social welfare sendiri ini bukan sebuah hal yang aneh. Baru-baru ini misalnya seorang guru musik berkewarganegaraan Perancis diputuskan bersalah karena memalsukan identitas dan mengambil Dana Kesejahteraan hingga €175ribu. Begitu ketahuan, guru ini harus membayar kembali sebesar €100 setiap minggunya. Entah kapan lunasnya.

Social welfare ini tak hanya untuk mereka yang WN Irlandia, para pemegang passpor asing EU pun bisa mendapatkan dana ini. Orang Indonesia pub ada beberapa yang bergantung pada dole. Angka 180-200 ini memang terbilang kecil di Irlandia, tapi di banyak negara lain di EU menjadi cukup besar, karena sama dengan setengah gaji. Jaman dulu ada banyak yang memanfaatkan celah ini, mereka datang untuk mendaftar, kemudian kembali ke negaranya sambil menikmati uang pajak dari sini. Jumlah uang yang tak seberapa ini menjadi sangat berharga ketika mereka datang dari negara yang biaya hidupnya relatif rendah. Modus ini lama-lama ketahuan dan pemerintah membuat aturan yang lebih ketat. Di berbagi forum, kalau googling tentang model scam ini kita akan dihadapkan dengan banyak komentar-komentar rasis terhadap para pelakunya.

Connor McGregor adalah salah satu contoh orang yang bergantung pada social welfare. Sampai seminggu sebelum bertanding di UFC, McGregor masih mengambil cek welfarenya sebesar €180. Sekarang sih kondisinya berbalik, dia menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di negeri ini, apalagi ia masuk dalam daftar salah satu orang terkaya di Irlandia.

Di Indonesia sendiri pernah ada, entah masih ada atau tidak, dana serupa dengan nama Bantuan Langsung Tunai. Begitu dana ini keluar, harga kebutuhan pokok langsung melonjak. Oh inflasi.

Kalian, kalau ada dana serupa, apakah sudi membayar pajak tinggi?

xx,
Tjetje

Baca juga: Jaminan Rumah di Irlandia

Nostalgia Tiket Kereta Berdiri

Hampir satu dekade lalu, saya dan dua orang teman perempuan nekat pergi ke stasiun kereta api Gambir untuk membeli tiket berdiri kereta Gajahyana jurusan Jakarta-Malang, kampung halaman kami semua. Tiket normal sendiri sudah tak bisa didapatkan, karena kereta sudah penuh dan saat itu akhir pekan panjang.

Kenekatan kami membeli tiket berdiri, adalah keputusan tergila yang tentunya tak akan saya ulang lagi. Apa itu tiket berdiri? Tiket ekstra yang bisa dibeli dengan harga yang hampir sama, tapi penumpang harus berdiri, tak boleh duduk, karena memang sudah tak ada tempat duduk lagi. Perlu dicatat, ini bukan berdiri di gerbong tempat para penumpang eksekutif duduk ya, tapi di sambungan gerbong, dekat kamar mandi kereta yang baunya aduhai.

Saya tak ingat berapa persisnya harga tiket duduk tersebut, masih di kisaran 200-300ribuan. Tapi yang jelas perbedaan harga tiket duduk dan berdiri tidaklah terlalu signifikan. Tiketnya sendiri bisa dibeli di petugas yang berdiri di dekat kereta, ketika kereta sudah akan berangkat.

Ketika memasuki kereta tersebut kami berhasil duduk di restauran kereta dan mengamankan tiga kursi. Sayangnya, kami tak lama duduk di kursi tersebut karena beberapa penumpang, bapak-bapak, mulai bermunculan dan juga merokok sehingga membuat restauran bau. Ditambah lagi, saat itu tiga perempuan, berada di dekat bapak-bapak bukanlah ide yang bagus. Kami lebih rentan menjadi korban pelecehan apalagi ketika komen-komen dari mulut mereka yang bau alkohol sudah mulai keluar. Heran ya kalau di Indonesia orang mabuk itu jadi suka kurang ajar sama perempuan.

Jadilah kami pindah duduk ke dekat toilet. Hanya ada dua kursi di dekat toilet, kursi lipat, mirip kursi petugas di pesawat terbang. Salah satu dari kami harus duduk di lantai, beralaskan koran. Jangan tanya betapa tak nyamannya, apalagi ditambah dengan bau dari dalam toilet. Tapi momen itu kami bertiga jadi banyak ngobrol tentang hidup, pekerjaan dan juga pria, hingga tentunya kelelahan.

Tidur sendiri menjadi pilihan yang susah, karena kereta eksekutif ini berhenti di banyak stasiun dan banyak pedagang makanan yang mencari pembeli. Para pedagang ini memang tak diperbolehkan naik ke dalam kereta eksekutif, tapi mereka tak kehilangan akal, mereka menekan tombol khusus di pintu yang membuat pintu tak bisa otomatis tertutup.

Begitu pintu terbuka, teriakan nama makanan yang mereka jajakan akan membahana ke seantero gerbong. Wingko Babat, Bakpia Pathuk dan Pecel Madiun menjadi tiga nama makanan yang masih lekat di kepala saya, jangan dilupakan juga aneka minuman. Sisanya saya tak ingat lagi. Yang jelas teriakan perjuangan hidup itu bercampurkan dengan dinginnya malam, AC dari gerbong yang keluar, serta aroma toilet.

Tiket kami sendiri juga dicek oleh inspektur tiket dan agaknya sudah menjadi kegiatan tahu sama tahu jika ada penumpang berdiri. Penderitaan kami berakhir ketika beberapa penumpang mulai turun di kawasan Timur Jakarta dan kursi-kursi mulai kosong. Kami setidaknya bisa tidur sebentar, walaupun terus menerus cemas, karena takut jika kursi tersebut dimiliki oleh orang lain.

Sampai di Malang, kondisi tubuh saya jangan ditanya lagi. Lelah tak terkira dari perjalanan panjang tanpa istirahat, tapi hati bahagia karena sampai di kampung halaman. Pengalaman itu sendiri menjadi pengalaman yang meninggalkan trauma, hingga saya enggan pulang naik kereta lagi. Saat itu saya juga memilih kembali dengn Garuda Indonesia. Kembali ke Jakarta harus nyaman, setelah tersiksa semalaman.

Pengalaman gila ini sudah tak bisa tak bisa diulang lagi, karena PT. KAI sudah menghapuskan tiket berdiri (thanks God for this). Kalaupun mereka masih menjual tiket ini, saya tak akan pernah mau membelinya lagi, Selain karena ketidaknyamanan, juga karena saya sangsi para penumpang berdiri ini akan dilindungi dengan asuransi. Uang hasil penjualan tiket tersebut juga saya yakin tak tercatat di dalam buku keuangan.

Kalian, punya pengalaman menarik dengan kereta?

xx,
Tjetje

Baca juga pengalaman saya di kereta ekonomi yang manusiawi dan penuh cerita di sini.

 

Nostalgia Anak Jaman Dahulu

Kendati Ibunda saya menggemari fotografi, tak semua perjalanan kanak-kanak saya terekam dalam rol film. Foto-foto kanak-kanak saya terbatas, beberapa foto terlihat lucu dan tentunya ada beberapa yang memalukan. Foto-foto kanak-kanak tersebut tersimpan dengan aman dalam tumpukan album-album foto.

Dulu ketika saya masih bekerja di Jakarta, ketika saya pulang ke Malang, saya sering iseng membuka album-album tersebut sambil membahas orang-orang yang berada di foto tersebut. Dari sana, saya jadi tahu orang-orang yang pernah berada dalam hidup saya. Sambil melihat foto tersebut, kami juga membahas apa yang sedang terjadi pada saat foto tersebut diambil.

Beberapa foto masa kecil saya juga berada di sebuah meja kaca, bersama dengan foto-foto beberapa anggota keluarga kami yang lain, dari Oom, hingga para sepupu. Meja yang berada di ruang keluarga kami itu berfungsi sebagai pengingat tentang masa kecil kami dan perjalanan keluarga.

Ibunda saya tak punya catatan tentang bagaimana saya menjalani potty training, tak ada foto, apalagi video yang merekam momen tersebut. Kalaupun sekarang saya ingin tahu, mungkin Ibu saya tak akan ingat lagi momen tersebut, karena momen tersebut sudah lebih dari tiga dekade yang lalu. Tapi karena keputusan ini saya sangat bersyukur sekali, setidaknya jejak masa kecil saya tak berceceran di dunia maya.

Buku catatan nilai sekolah, atau yang lazim disebut raport, milik saya juga masih disimpan dengan baik oleh Ibunda saya. Raport saya dari TK, hingga SMA tersimpan rapi dan dihiasi foto hitam putih berukuran 4 cm x 6 cm yang diambil dari studio foto Abadi di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Keluarga kami sangat loyal dengan studio foto ini dan kami hanya diperbolehkan foto di sini, walaupun mereka mematok harga yang sedikit lebih mahal dan lokasinya tak dekat lagi dengan kawasan kami tinggal.

Raport saya, untungnya tak pernah dipamerkan kepada siapa-siapa, tidak kepada teman-teman Ibu saya, ataupun anggota keluarga kami. Untungnya, ketika Ibu saya arisan tak pernah ada momen untuk memamerkan hasil nilai saya kepada Ibu-ibu satu RT, atau bahkan ke teman-teman gaulnya. Selain karena nilai saya yang biasa-biasa saja, juga karena Ibu saya memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Terimakasih ya Tuhan!

Sebagai anak 90-an, saya juga bersyukur dengan fakta bahwa saya besar tanpa komputer, tanpa ipod, ipad dan i-i lainnya. Video game seperti Nitendo sendiri mulai hadir di hidup kami melalui teman-teman, kami harus main ke rumah mereka untuk main video tersebut. Sebagian besar waktu kanak-kanak saya dihabiskan dengan bermain petak umpet, gobak sodor, bentengan, saat malam minggu kadang-kadang kami bermain di bawah terang bulan, di jalanan perumahan. Ada kalanya juga kami pergi berenang ke sebuah tempat pemandian umum dan berenang di air yang sangat dingin, lalu pulang membeli jagung bakar. Jaman dulu, jagung bakar itu jauh lebih keren dari aneka Frappé ataupun kopi-kopi jaman sekarang yang bermandikan gula. Tak ada foto apalagi selfie untuk momen-momen tersebut, semuanya terekam dalam memori masa kanak-kanak.

Selama bulan Januari ini saya banyak bernostalgia tentang masa-masa saya tumbuh, di jaman 90an. Tak muluk-muluk kalau saya sangat bersyukur dengan masa-masa tersebut, karena besar tanpa media sosial, besar tanpa foto dan video yang tercecer di media sosial, sungguh hal tersebut merupakan sebuah keindahan yang tak ternilai. Sekali lagi saya bersyukur sekali karena saat ini saya tak perlu repot-repot menghubungi Google dan mengisi form “the right to be forgotten” supaya jejak-jejak tersebut dihilangkan.

Dua atau tiga dekade yang akan datang, anak-anak yang tumbuh di jaman ini mungkin akan sibuk mengisi formulir tersebut, sembari protes keras dengan keputusan orang tuanya untuk mengunggah foto dan video mereka berlarian tanpa pakaian, latihan pipis, hingga ketika mereka bermain sambil disuapin yang tersebar di aneka media sosial, atau bahkan di YouTube. Mungkin pada saat itu mereka akan mempertanyakan, apakah sungguh sepadan keputusan orang tua mereka untuk membagikan masa kanak-kanak mereka demi like dan juga pundi-pundi uang dari hasil iklan. Mungkin lho ya, karena tahu apalah saya yang besar di jaman 90an ini.

Kalian, adakah yang kalian syukuri dari masa kanak-kanak tanpa media sosial dan orang tua oversharing?

xx,
Tjetje