Kerampokan Tas

Akhir pekan lalu, saya dan rombongan teman-teman berada di Malang untuk menghadiri perkawinan seorang sahabat. Di sela-sela waktu, kami menyempatkan untuk berwisata, mengunjungi beberapa tempat wisata di Batu serta menikmati kuliner Malang. Di salah satu kesempatan, salah satu rekan kami kehilangan tas di Warung Soto Lombok di daerah Raya Tlogomas. Tulisan ini akan berisikan kronologi, serta beberapa informasi. Tulisan ini akan saya link di Facebook, untuk mencari pemilik KTP serta terduga pelaku.

Sabtu, 12 Agustus 2017 19.45
Kendaraan yang kami sewa parkir di Soto Lombok di jalan Raya Tlogomas. Kami berlima duduk di sebuah meja dengan kapasitas delapan kursi yang terletak di dekat tembok di bagian tengah. Sementara dua pengemudi kendaraan sewaan kami duduk di meja yang lebih dekat dengan pintu keluar. Meja di belakang kami dalam kondisi kosong.

Teman saya yang kebetulan sedang sakit meletakkan tasnya di atas kursi di samping tembok. Ia duduk di samping kursi tersebut dan meletakkan kepalanya di atas meja karena sedang sakit. Kami sempat melihat dua orang pria duduk di meja belakang kami. Mereka duduk di dekat lorong, tidak di dekat tembok. Tapi kami tak terlalu memperhatikan mereka.

Sabtu, 12 Agustus 2017 20.13

Terjadi transaksi pembelian telepon genggam merek Oppo di Ivan Cell yang terletak di daerah Dinoyo. Transaksi menggunakan kartu kredit teman saya dan jumlahnya lebih dari 6,6 juta. Transaksi tanpa PIN ini diperbolehkan oleh toko dengan syarat menunjukkan kartu identitas. Kartu identitas yang ditunjukkan, saya rasa kartu identitas curian karena tak sama dengan muka yang membeli handphone. Pada saat yang bersamaan, beberapa transaksi dengan kartu kredit lainnya dilakukan di toko yang berbeda, tapi gagal karena ketidakadaan limit.

Sabtu, 12 Agutus 2017 20.20

Saya membayar soto dan teman saya mulai menyadari tasnya tak ada. Seusai membayar, saya menemukan sebuah dompet berwarna coklat di meja tempat dua orang pria tersebut duduk. Dompet tersebut saya serahkan kepada bagian kasir di warung soto tersebut.

Sabtu, 12 Agustus 2017 20.25

Kami mulai menghubungi beberapa bank untuk memblokir kartu-kartu. Ternyata proses blokir itu super panjang, karena petugas memiliki banyak pertanyaan untuk verifikasi. Salah satu bank menginformasikan telah terjadi transaksi yang terjadi pada pukul 20.13.

Pada saat bersamaan saya meminta kembali dompet yang saya temukan. Di dalamnya saya menemukan beberapa receh ringgit, uang dua ribu rupiah, bukti transaksi di toko emas di Solo sebesar lebih dari 30 juta rupiah serta kartu identitas ini:

Sabtu, 12 Agutus 2017 20.48

Kami mengarah ke Ivan Cell dan tiba di sini sekitar pukul 20.55. Pintu toko sudah hampir tertutup semua, tapi lampu masih menyala. Satpam pun sudah menginformasikan bahwa toko sudah tutup. Tapi kami tak peduli dan beramai-ramai masuk untuk bertanya mengenai transaksi HP sebar 6,6 juta. Petugas langsung ngeh dengan transaksi tersebut dan mengambil bukti transaksi. Mereka menceritakan kronologi pembelian, dimana pelaku enggan melakukan pengecekan handphone yang katanya untuk hadiah anaknya.

Kami pun meminta berbicara dengan manajer toko, karena minta CCTV. Mereka menginformasikan tak punya akses terhadap CCTV dan harus menunggu orang IT. Kami pun bertukar nomor telpon.

Sabtu, 12 Agustus 2017 21.40

Kami lapor ke Polsek. Jangan tanya soal pengalaman di sini. Petugas yang menyambut kami tak hanya tak ramah sama sekali tapi malah menyarankan kami untuk membuat laporan di JAKARTA padahal TKP ada di Malang. Akhirnya setelah menjelaskan kronologi, laporan bisa dibuat dan proses pelaporan usai pada saat tengah malam. Ada lebih dari 10 lembar laporan yang dibuat dan tentunya ada biaya administrasi.

Minggu, 13 Agutus 2017

Toko menghubungi kami, belum bisa memberikan CCTV karena menurutnya orang IT pergi ke luar kota. Ia berjanji menghubungi saya pada hari Senin.

Selasa, 15 Agustus 2017

Setelah komunikasi di hari sebelumnya tak direspons, hari ini saya menghubungi toko. Berita buruknya, CCTV ternyata tak terekam karena datanya penuh. Tapi ia memberikan foto orang yang menggunakan kartu kredit teman saya untuk membeli HP.

Ini terduga malingnya yang bohong dan mengatakan HP ini untuk anaknya. Ada yang kenal?

Untuk transaksi tersebut, Bapak terduga maling ini menggunakan kartu identitas sebagai berikut:

 

Kartu identitas ini tak ada bersama saya, tapi berada bersama komplotan sang maling. Tolong jangan tanya kenapa Ivan Cell mau menjual HP dengan kartu kredit atas nama perempuan, kepada bapak-bapak yang mukanya jauh berbeda dengan kartu identitas ini. Semuanya terlihat tak beres!

 

Penutup

Kejadian pengambilan tas di Soto Lombok (cabang Tlogomas) ini bukan kejadian yang pertama. Tempat ini sudah sering diincar dan menurut Pak Polisi, setidaknya sudah ada tiga kejadian. Kartu identitas yang kami temukan, diduga merupakan milik korban lainnya.

Update:
Tadinya saya mengira KTP ini milik seorang korban, tapi ternyata KTP ini digunakan untuk kejahatan serupa di Bandung. Jadi saya menduga KTP ini KTP palsu!

Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal dan orang-orang yang tidak baik.

xx,
Tjetje

Advertisements

Nostalgia Anak Pramuka 

Tepuk pramuka

Prok…Prok…Prok…
Prok…Prok…Prok….
Praja Muda Karana
Hayo siapa yang masa mudanya pernah dihabiskan menjadi anak pramuka? Saya salah satunya dan saya masih memendam kebanggaan karena menjadi anak Pramuka Indonesia. Indonesia sendiri merupakan negara dengan anggota Pramuka terbesar di dunia, karena semua pelajar wajib jadi anak Pramuka. Walaupun tak wajib ikut kegiatannya setiap minggu.

Kakak #Ahok memimpin upacara pagi ini. #hariPramuka #Pramuka #Jakarta #Indonesia

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Perkenalan pertama saya dengan Pramuka bermula saat sekolah dasar. Tapi tentunya saat itu di sekolah swasta saya, pramukanya “priyayi abis”. Tak ada ceritanya bermain pasir, masuk sungai ataupun terekspos dengan perkemahan. Hanya sekedar baris-berbaris dan tali-temali ketika matahari sudah mulai meredup. Kami yang “priyayi” ini tak pernah terpapar teriknya matahari.
Lalu, di masa SMP saya mulai berkenalan dengan pramuka yang sesungguhnya. Pramuka yang mengharuskan kami semua menggunakan sepatu warrior yang murah meriah. Jaman itu saya super kaget ngelihat warrior yang harganya hanya 30 ribu (ini jaman sebelum Pak Harto lengser ya). Saya juga merasakan kemah yang sesungguhnya di saat SMP. Kemah pramuka saya bermula di sebuah kabupaten di Malang. Persis di tanah kosong di belakang SMP 7 Malang. Saat itu, di belakang lahan kemah kami terdapat sungai yang digunakan oleh masyarakat setempat. Ketika pertama kali diberitahu penduduk lokal untuk sikat gigi di sungai tersebut saya hanya mengiyakan, tapi menunggu matahari terbit terlebih dahulu, untuk melihat kondisi sungai. Keputusan yang tepat karena  seperti layaknya sungai di berbagai tempat, segala aktivitas kehidupan dipusatkan disini. Segalanya! Dari mulai buang air, mandi, mencuci piring, hingga mencuci beras. Dan tak seperti di Badui yang mengatur perempuan untuk menggunakan sungai bagian atas (karena mereka yang mencuci beras), di sungai ini tak ada pembagian. Jadi ya jangan heran kalau tiba-tiba melihat bongkahan emas mengembang ketika sedang mandi. Selama masa kemah beberapa hari tersebut, saya sukses tak mandi tapi tetap sikat gigi dengan air kemasan.
Kekagetan saya tak berhenti disitu saja, ketika mengikuti jelajah Malang kota dan desa, kami nyemplung ke dalam sungai untuk menyeberangi sebuah area. Padahal tak jauh dari tempat kami nyemplung ada jembatan yang sudah susah payah dibangun dengan uang para pembayar pajak. Semua yang tergabung dalam regu kami, saya tak ingat lagi naa regunya, saling memegang tongkat kayu panjang yang menjadi senjata wajib anak Pramuka. Di dalam sungai itulah saya terjebak bersama bongkahan emas yang mengambang, lewat dengan tenangnya. Sialnya saya tak bisa langsung mandi tujuh kembang, karena harus melanjutkan perjalanan yang masih beberapa puluh kilometer. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan kepulangan saya ke rumah dengan kaki sekeras batu. Jaman itu cari tukang pijit di malam hari tak dimungkinkan. Tak kekurangan akal, kaki saya pun dipijat dengan botol kaca yang diisi air hangat. Mama saya pintar! 😀
Pramuka tak selamanya soal terpapar matahari hingga kulit kelam, berjalan jauh hingga kaki membatu, menghapalkan morse atau semaphore yang sampai sekarang tak pernah digunakan lagi, tali-temali, memanggul teman yang paling kecil, tapi juga melihat realita kota Malang dan Kabupatennya saat itu. Labelnya mungkin kota, tapi akses air bersih dan sanitasi pada tahun itu begitu buruk. Begitu juga dengan kondisi jalanan. Buat saya yang selalu melihat keindahan kota modern, Pramuka membuka mata saya akan dunia lain, dunia yang belum sepenuhnya terbangun dengan baik dan akhirnya menjadi bagian dari dunia pekerjaan saya. Pramuka juga membuat saya melihat kebaikan orang-orang desa yang menyemangati kami untuk terus melakukan perjalanan. Mereka yang rela memberikan semua air matang yang mereka punya untuk bekal minum kami.
Hubungan saya dengan Pramuka berhenti di tahun ketiga, saat saya harus fokus dengan ujian nasional. Sementara teman-teman saya sibuk ikut Jambore di Cibubur, saya asyik menikmati liburan saya di Jakarta sambil melihat mereka dari televisi (jaman dulu hebohnya luar biasa ketika melihat teman masuk TV).
Dua tahun yang lalu, sebelum saya meninggalkan kantor saya di Jakarta, saya ditugaskan bos besar di kantor untuk menghadiri upacara hari Pramuka dengan koh Ahok. Upacara ini pernah sekilas saya tulis di postingan berbahasa Inggris ini. Penugasan menyenangkan ini menghidupkan kembali banyak kenangan saya tentang Pramuka.
Ternyata setelah lebih dari dua puluh tahun saya masih bisa menyanyikan hymne dan membacakan Dasa Dharma Pramuka. Sang pemimpin upacara, Koh Ahok juga kocak. Beliau rupanya tak pernah jadi anak Pramuka sehingga tak tahu urutan dan protokol upacara. Akibatnya ketika baru memberikan pidato, beliau kembali menuju kursinya. Untung saja beliau segera dihentikan. Seperti diduga, sebelum upacara berakhir pun, hadirin menyeruak ke atas panggung untuk selfie. Ah anak pramuka sekarang tak sama lagi dengan anak pramuka jaman saya dulu. Satu hal yang agak saya sesalkan dari penugasan itu, saya tak bisa bersalaman dengan Ahok, padahal saya mewakili bos besar kantor. Koh Ahok hanya menyalami beberapa pejabat saja Deretan tempat saya duduk, kendati deretan terdepan dan VIP tak disalami. Dalam situasi seperti ini, saya agak baper, karena sebagai perempuan seringkali dianggap invisible dan tak lihat. Mungkin postingan ini harus saya cetak dan saya kirim ke Koh Ahok, supaya semua orang di deretan terdepan disalami oleh beliau.
Anyway, Selamat hari Pramuka! Semoga Pramuka Indonesia makin maju. Kalian, punya kenangan manis dengan Pramuka?
Xx,
Kakak Ailtje

Refleksi Tinggal di Negeri Orang

Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa saya sudah hampir dua tahun tinggal di Irlandia. Meninggalkan keluarga untuk membangun keluarga baru; meninggalkan teman-teman selama belasan, bahkan puluhan tahun dan harus memulai pertemanan yang baru, serta meninggalkan pekerjaan yang begitu saya cintai dan memulai bekerja dari nol, dari bawah.

Proses perubahan ini tentu saja merubah saya sebagai individu dan merubah cara saya melihat berbagai hal. Bullshit, kalau orang bilang tinggal di luar negeri itu tak akan merubah apapun dari kita. Tinggal di luar negeri dan melihat hal-hal yang ajaib dan yang indah itu merubah banyak sekali cara berpikir saya. Saya juga mendapat banyak pelajaran berharga yang tak saya dapatkan di sekolah.

Soal telepon genggam

Seperti yang pernah saya tulis di sini, transportasi umum di Irlandia itu lumayan okay. Kebanyakan tepat waktu, walaupun ada meleset-melesetnya satu atau dua menit. Tergantung kondisi jalan. Meleset yang sampai sejam gak muncul pun juga bisa kejadian, tapi biasanya kondisi seperti ini diumumkan di media sosial supaya penumpang gak bengong nungguin bis.

Karena bis umum tak muncul setiap saat, saya belajar untuk tepat waktu. Biasanya saya sudah berada di halte bis beberapa menit sebelum jadwal. Suatu hari, saya datang 10 menit lebih cepat, lalu membunuh waktu dengan menjelajah internet. Sementara itu bis saya tak kunjung muncul. Tunggu punya tunggu, bis saya tak muncul dong ya. Berhubung sudah agak gelap, saya pun menelpon ke pusat bis menanyakan apakah bis saya mengalami masalah. Petugas tersebut menginformasikan bahwa bis saya sudah berada sekitar lima stop dari halte saya. Berhubung bis selanjutnya baru akan muncul lebih dari satu jam, saya pun terpaksa naik taksi (dan jangan dibayangin naik turun taksi di sini semurah di Jakarta ya). Sejak saat itu saya KAPOK dan gak mau lagi terlalu terpaku pada media sosial ketika menunggu bis.

Menghargai matahari

Matahari di Irlandia itu barang langka, cuaca di sini cenderung mendung dan kelabu. Bagi kami, hari yang kering dan tak hujan itu, adalah hari yang menyenangkan. Sementara hari yang indah itu ya yang ada mataharinya. Dikasih matahari 15 derajat aja kami sudah bersyukur banget. Kalau dikasih 20-24 derajat, yang mana sangatlah jarang, pantai-pantai di sini bakalan penuh dengan orang-orang yang berjemur.

Bagi kalian yang tinggal di Indonesia yang terik mataharinya bisa bikin kulit terbakar, hal-hal sederhana ini tentunya satu hal yang biasa saja. Tapi Irlandia mengajarkan saya bahwa matahari itu menyenangkan, kulit terpapar matahari (dengan sunblock ya), juga sebuah hal yang menyenangkan. Irlandia juga mengajarkan saya untuk selalu aktif, asal ada matahari harus keluar jalan kaki, biar gak depresi kekurung di dalam rumah terus karena cuaca yang hujan melulu. 

Hidup sederhana

Satu hal penting yang saya hargai dari orang-orang Irlandia adalah kesederhanaan mereka dalam menjalani hidup. Kebanyakan orang Irlandia gak diburu dengan gaya hidup yang mengejar kemewahan. Bagi mereka, bisa beli baju murah meriah Penney’s (di luar Irlandia disebut Primark) adalah sebuah kebanggaan luar biasa. Gak punya tas bermerek di sini juga bukan hal yang memalukan. Sungguh jauh berbeda dengan gaya hidup Indonesia yang rela nyicil tas bermerek atau bahkan menghabiskan seluruh gaji demi sebuah tas.

Menariknya, dengan gaya biasa-biasa saja kita sebagai konsumen sangat dihargai. Coba di Jakarta, gaya biasa-biasa aja masuk mall. Kok ya di Jakarta, di Malang saja deh, gaya biasa-biasa aja bakalan menimbulkan pertanyaan. Saya sendiri pernah mengalami berhadapan dengan kasir yang ragu-ragu (dan tak enggan mempertanyakan keraguannya pada saya belanja dengan kartu kredit).

Pertemanan

Pertemanan saya rata-rata awet, berusia belasan, hingga puluhan tahun. Mencari teman itu memang seperti mencari jodoh, memerlukan proses panjang untuk mencari tahu kecocokan. Sejak menjelang pindah ke Irlandia, saya sudah banyak menerima wejangan dari para sesepuh yang tinggal di berbagai tempat di Eropa untuk berhati-hati dalam berteman dengan orang Indonesia. Pilih dengan hati-hati dan jangan terlalu banyak gaul dengan orang Indonesia.

Terus terang, cultural shock saya terbesar di Irlandia adalah soal pergaulan orang Indonesia. Memfitnah, melempar gosip, berargumentasi dengan emosi, atau bahkan menceritakan kembali rahasia dapur orang itu menjadi sebuah hal yang “biasa”. Orang-orang yang dengan entengnya membicarakan “teman-temannya” ini membuat saya mempertanyakan, apa yang akan mereka bicarakan tentang saya dengan orang lain?

Hidup dan pergaulan di Jakarta yang katanya kejam itu, ternyata gak ada apa-apanya dengan pergaulan di luar negeri. Pergaulan di sini keras, sangat keras. Satu wejangan yang saya pegang dengan teguh adalah untuk tidak menceritakan apapun dari dalam rumah tangga, yang baik, apalagi yang buruk, karena satu Irlandia (dari Selatan sampai Utara) bisa dengar. Tentunya dengan bumbu sana-sini. Beruntungnya, saya sudah dididik oleh Ibunda untuk menyimpan semua yang saya dengar dan tak menyampaikan apapun ke orang lain.

Now,
ijinkah saya pulang sejenak ke Indonesia, untuk menikmati matahari dan sembari bercanda-tawa dengan teman-teman terbaik saya, because I terribly miss them.

Kalian, punya pengalaman yang merubah cara pandang dalam melihat hidup? Sharing dong!

xx,
Tjetje

Bapak Bule Yang Tersisih 

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan Mbak Yoyen beberapa tahun lalu. Terimakasih idenya Mbak.

Suatu hari, suami dari seorang teman yang sudah kawin dengan WNI selama lebih dari satu dekade mendekati saya sambil berkata: “You are not a usual Indonesian”. Saya pun bertanya mengapa ia mengambil kesimpulan tersebut, alasannya sederhana, karena saya mau ngobrol dengan bapak-bapak orang asing. Oh sungguhlah aneh ketika mengobrol dengan mereka dianggap sebagai keajaiban.

Komunitas Indonesia di banyak negara, terutama komunitas perkawinan campur, memiliki kecenderungan untuk berkelompok menjadi dua ketika ada acara; baik itu acara makan-makan, ataupun acara resmi. Yang Ibu-ibu biasanya cenderung berkumpul di dapur atau di tempat yang lebih dekat dengan akses makan, sementara yang bapak-bapak berkumpul di living room. 

Ilustrasi Pixabay


Yang kemudian saya perhatikan, jarang sekali terjadi interaksi antara bapak-bapak dengan para Ibu-ibu. Beberapa hasil observasi saya adalah sebagai berikut:


1. Tabu berbicara dengan laki orang 

Jangan meringis, apalagi sampai ketawa deh. Masih banyak kok perempuan yang panas membara ketika melihat suaminya berbicara dengan perempuan lain. Dalam beberapa kamus, kondisi ini namanya insecure. 

Pada saat yang sama, ada juga yang tak ikut punya suami panas dan mulai menyulut api pergosipan dengan kalimat: “Wih….lihat tuh, laki lu diajak ngobrol sama X”. Reaksi ini muncul karena lingkungan kita dimana ngobrol biasa dengan lawan jenis dianggap sebagai kecentilan. Kepala dari sebagian orang juga terlatih untuk berpikir bahwa obrolan tersebut terlarang. Maka tak heran kalau ada keengganan ngobrol antara Ibu-ibu dengan bapak-bapak bule.

2. Tak mau melibatkan bule dalam pembicaraan 

Pernah ngalamin situasi dimana orang asing dicuekkin (biasanya satu orang) dan seluruh dunia ngomong bahasa Indonesia? Saya sering melihat hal seperti itu. Ngobrol-ngobrol kita seringkali kurang inklusif dan gak mikir untuk melibatkan mereka. Di beberapa kesempatan bahkan kelompok orang-orang Indonesia tak segan untuk ketawa cekakan sementara sang bule kagok karena tak mengerti apa-apa.

Kejadian seperti ini biasanya diakhiri dengan permintaan maaf karena berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi kemudian pembicaraan akan dilanjutkan kembali dalam bahasa Indonesia. Dan sang bule pun kembali dicuekkin. Kelompok ini biasanya emang males aja ngobrol dengan bule dan menunggu mereka menyingkir.

3. Gak ngerti pembicaraan bapak-bapak 

Dari berbagai pengalaman saya maupun pengalaman beberapa orang lainnya, pembicaraan bapak-bapak itu sangat menarik. Politik, olahraga, lokasi wisata, sejarah, diskusi tentang filosofi atau bicara tentang topik-topik di berita. Nampaknya tak banyak orang mau mengikuti topik-topik ini karena dianggap sebagai hal yang berat. *sigh*

Pembicaraan dengan Ibu-ibu sendiri, tak semuanya ya, tapi cenderung lebih ringan dan seringkali mendiskusikan gosip teranyar, dari gosip artis lokal di Indonesia, hingga orang-orang yang rajin ditemui. Diskusi dengan kualitas, atau brainstorming satu topik biasanya jarang sekali ditemukan. Dicatat ya, jarang bukan berarti tak ada.

4. Capek ngomong bahasa asing terus 

Wajar sih kalau otak itu ingin berbicara dalam bahasa Ibu karena lebih nyaman dan lebih mudah. Ngomongnya pun lebih cepat tanpa perlu mikir bahasa lain. Tapi ya kapan majunya? Bicara dalam bahasa asing itu, selain melatih kepala supaya bisa cepat mengemukakan pendapat dalam bahasa asing juga memperkaya koleksi kata. Gak ada ruginya kok. 

Penutup

Kultur memisahkan bapak-bapak dan Ibu-ibu ini kultur Indonesia banget. Tumbuh besar di Indonesia, saya melihat pemisahan ini kuat banget, baik dalam kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan formal. Sungguh berbeda dengan kelompok asing dimana di mana perempuan dan pria saling ngobrol dan berdiskusi tentang berbagai topik. Di kultur ini, ketika ada acara ya harus membaur dengan semua orang dan bicara dengan semua orang. Agaknya anggapan tinggal di luar negeri akan kebule-bulean itu sangatlah salah. Masih banyak kebiasaan dari Indonesia yang tak mau atau mungkin tak bisa diganti. 

Kamu, pernah lihat hal-hal seperti ini? Menurut kalian, kenapa hal seperti ini terjadi? 

Xx,

Tjetje

Alat Elektronik Pengubah Hidup

Sebagai anak 90an saya masih sempat diajari bagaimana mengaron nasi hingga mengukus nasi di dandang supaya nasi menjadi punel dan enak. Jaman itu, tiap kali akan makan, nasi putih harus dihangatkan di atas kompor. Teknologi rice cooker pada saat itu baru sampai pada memasak dan belum pada menghangatkan. 

Seingat saya, magic com yang bisa menghangatkan nasi baru hadir di tahun 2000an dan harganya cukup mahal. Waktu itu, magic com kami dibawa langsung oleh keluarga dari Jakarta ke Malang. Rasanya amazed gak karuan, karena tiba-tiba hidup berasa jauh lebih mudah. Sejak itu, saya tak pernah mengaron nasi lagi, kecuali ketika membuat nasi kuning. 

Hingga kemarin rice cooker tercinta yang saya bawa ke Dublin rusak. Alih-alih beli rice cooker, saya malah bertanya, siapakah yang menemukan rice cooker? Ternyata namanya Yoshitada Minami dan beliau ini bekerja pada Toshiba.

Masak nasi manual yang memakan banyak waktu dan tak bisa ditinggal.

Mesin cuci

Selain rice cooker, mesin cuci juga menjadi mesin yang super berguna bagi hidup saya (dan saya yakin banyak orang di luar sana). Mesin cuci merubah hidup, karena kita gak perlu repot-repot kucek baju, apalagi sprei. Semuanya bisa dilakukan dengan cepat, tinggal memilah pakaian dan memencet tombol.

Kendati begitu, di Indonesia masih ada saja yang melarang pekerja rumah tangga (PRT) untuk menggunakan mesin cuci dan memilih untuk menggunakan tenaga mereka dengan alasan supaya mereka tak malas-malasan. Eh tapi jangan kaget, di Indonesia kan banyak banget alat canggih yang cuma jadi pajangan; coba tengok kompor 4 tungku dengan oven yang sering jadi hiasan belaka di dapur kering. #HorangKaya

Mesin Pengering Baju 

Bagi kalian yang ada di Indonesia, mesin ini pasti gak ada gunanya karena kalian bisa gantung baju di bawah matahari. Kalaupun musim hujan, pakaian masih bisa digantung di dalam ruangan. Sementara di negara empat musim ini (di Irlandia sih musimnya hujan terus), mesin pengering menjadi andalan, apalagi pada saat musim dingin.  Penggunaan mesin ini  tak boleh sering-sering sih, karena konsumsi energinya tinggi dan bikin tagihan listrik jebol.

Penyedot Debu 

Nah ini satu lagi, penemuan yang bikin bersih-bersih rumah lebih cepat. Apalagi kalau punya binatang peliharaan yang bulunya rontok, cukup pencet tombol. Sama seperti kompor empat tungku, mesin penyedot debu juga seringkali disimpan tanpa digunakan. Banyak #horangkaya yang beli supaya punya tapi ogah bayar listrik. 

BTW mesin penyedot debu kami semuanya berkabel, tak ada yang cordless. Tapi baru-baru ini kami ngeh kalau mesin tanpa kabel itu merubah hidup. Bersih-bersih rumah bisa lebih kilat tanpa perlu menarik kabel dan menarik mesin.  Jeleknya mesin ini hanya bisa menyedot selama belasan menit saja.

Foldimate yang belum bisa setrika sampai licin


Masih banyak lagi penemuan-penemuan elektronik yang membuat hidup kita jauh lebih mudah, dari mesin pencuci piring hingga pengering rambut. Penemuan yang sedang saya tunggu adalah mesin setrika. Sampai detik ini teknologi baru sampai pada mesin pelipat baju yang tak bisa menyeterika dengan licin. Coba jika ada, setrikaan tak perlu menggunung.

Kamu, punya alat elektronik lain yang bikin hidup lebih mudah? 

xx,

Tjetje

Mewahnya Rapat Nusantara

Semenjak bekerja, saya lebih banyak bekerja dengan institusi pemerintahan ketimbang dengan swasta. Dari banyak interaksi saya untuk rapat atau pun tipe-tipe lain rapat, saya perhatikan di Indonesia itu jauh lebih mewah. Mau buktinya? 
Rapat di Indonesia, jika dijadwalkan sehari penuh di hotel setidaknya menawarkan dua kali coffee break dan satu kali makan siang. Penganan yang ditawarkan, serta porsi makan siang yang diberikan biasanya melebihi kebutuhan kalori harian kita. Sebuah hotel mewah di dekat Sudirman bahkan memberikan menu sarapan.
Soal makan siang, jangan ditanya lagi, kita dimanjakan dengan makan siang prasmanan yang menunya beraneka rupa dan terdiri dari daging ayam, sapi, ikan dan juga menu vegetarian. Tak lupa disertakan juga aneka makanan penutup yang akan berdiam seumur hidup di pinggul. 


Rapat di luar hotel pun tak kalah meriah dari rapat di hotel. Aneka rupa jajanan nusantara hingga pastry disajikan di dalam kotak untuk para partisipan. Saat pemerintah baru naik posisi, jajanan ini digantikan dengan jajanan yang dianggap ndeso, seperti ketela rebus, kacang rebus. Terus terang saya gak suka dengan model jajanan baru ini, karena mereka disajikan dingin. Padahal rebusan itu lebih enak ketika hangat. 

Makan siang sendiri tergantung tingkatan rapat. Jika melibatkan menteri, makanan yang disajikan biasanya oke dan disajikan secara prasmanan. Tapi jika melibatkan pejabat ecek-ecek, makannya “hanya” di dalam kardus. Semua tergantung anggaran tentunya. Makanan kardus sekalipun kualitasnya cukup okay. Jika banyak rapat diadakan, saya dulu seringkali tak perlu repot membeli makan siang. Tapi konsekuensinya harus rajin pergi ke gym.

Nah bagaimana dengan rapat di Irlandia? Rapat dengan makanan-makanan tersebut di atas itu barang mewah. Sekali waktu saya pernah terlibat dengan rapat yang dibuka bapak menteri dan melibatkan partisipan dari banyak negara di dunia. Makanannya prasmanan juga, tapi gak boleh ambil sendiri harus diambilkan. Niatnya mungkin baik, melayani. Tapi begitu lihat makanannya nasi putih, plus kentang goreng dan sepotong salmon; saya langsung hilang selera karena menunya gak nyambung! Untuk coffee break sendiri, mereka menyajikan shortbread. Tapi saking enaknya banyak orang tak kebagian. Beda banget dengan di Indonesia yang kuenya selalu berlebihan, bahkan bisa di bungkus panitia. 

Nasi kentang salmon tersebut tergolong mewah, karena di rapat biasa makanan yang disajikan biasanya roti lapis (sandwich) dan keripik kentang. Jajanan pada saat coffee break biskuit-biskuit yang dibuka dari bungkusnya. Beda kualitas dengan shortbread di atas. 

Tidak semua kantor punya anggaran berlebih untuk kue dan makan siang. Institusi terakhir  tempat saya bekerja tak pernah punya anggaran hura-hura, karena kami harus tanggung jawab pada para donor, donor kami ya para pembayar pajak di berbagai sudut dunia. Alhasil, kami seringkali membeli kue-kue rapat dari kantong sendiri. Kuenya disajikan di piring dan orang mengambil secukupnya.

Dari berbagai rapat yang saya hadiri, kue yang paling berkesan justru bukan kue ketika bertemu Presiden. Yang paling berkesan justru ketika saya menghadiri sebuah rapat di Medan. Kuenya di masukkan ke dalam kotak nasi dan isinya sembilan biji untuk masing-masing orang. Dimakan perut meledak, dibuang tak pantas, akhirnya diberikan mereka yang orang Medan untuk dibawa pulang.

Selain momen itu, ada satu rapat yang paling berkesan ketika saya masih anak baru. Ketika itu saya ditugasi untuk menjaga meja tamu yang dipenuhi kotak kue di sebuah kementerian.  Kue-kue tersebut untuk para partisipan yang baru mencatatkan namanya di daftar hadir. Eh ditinggal meleng sedikit, beberapa kotak makanan tersebut hilang diambil beberapa wartawan yang sedang menunggu menteri. Lalu mereka menikmati kue-kue tersebut di depan saya dengan penuh kemenangan. Duh! 

Kalian punya cerita makanan dari rapat? 

Xx,

Tjetje

Baca juga soal perjalanan dinas. 

Hidup Tanpa PRT

Sudah hampir dua tahun saya tinggal di Irlandia dan tentunya tanpa pekerja rumah tangga (PRT). Di sini kami tak mau dan tak mampu membayar para pekerja rumah tangga, tukang kebun, apalagi supir. Jauh berbeda dengan  kaum menengah ke atas di nusantara yang dimanjakan dengan layanan PRT murah meriah. Lalu para Ibu-ibu teriak karena gaji PRT yang selalu di bawah UMR dianggap tak murah.

Paska Lebaran ini media sosial saya dipenuhi dengan keluhan para Ibu-ibu yang harus berjuang mengurus rumah dan anak. Foto cucian piring atau setrikaan yang menumpuk mendadak ngetrend. Tumpukan itu untuk menunjukkan tugas rumah tangga yang terpaksa dilakukan karena PRT sedang berlibur.
Duh Ibu-ibu, hidup tanpa PRT itu bisa kok. Ijinkan saya yang selalu dimanja dengan banyak fasilitas di Indonesia berbagi pengalaman saya menjadi anak mandiri.


Cucian setumpuk

Jaman sekarang cuci pakaian itu mudah, masukkan ke dalam mesin cuci, pencet tombol dan tunggu satu atau dua jam. Jemur baju juga relatif mudah, sebentar saja pasti kering karena cuaca Indonesia yang cenderung panas. Jika malas melakukan itu semua, tinggal tunggu laundry kiloan buka setelah lebaran dan masukkan semua ke laundry. Baju habis? Kalau gak mau repot dikit, beli baju lagilah, kan THR belum habis. 

Bagaimana dengan setrikaan? Kalau capek ya gak usah disetrika, tinggal dilipat aja. Saya serius ini. Kaos-kaos di rumah kami hanya disetrika kilat tapi sering kali langsung dilipat. Tadinya (dan saya masih sering melakukan) sprei dan bedcover yang seluas samudera itu juga saya setrika. Lama-lama, capek! Hidup mah yang praktis-praktis aja.


Mengatasi Cucian Piring

Saya tak punya mesin pencuci piring di rumah. Dan kendati tinggal berdua saja, cucian piring saya sering menggunung. Cuci piring masuk menjadi tugas saja, walaupun kadang pasangan saya suka ikut nimbrung. Cuci piring di Irlandia itu kilat, piring dimasukkan ke dalam bak berisi air panas mendidih dan sabun, tak dibilas dan langsung di lap. Saya mengadopsi gaya ini, tapi bedanya piring-piring yang saya rendam saya bilas kembali. Geli rasanya melihat piring bersabun tanpa dibilas. Metode ini menghemat waktu cuci piring karena lemak di piring terbilas air panas. 
Karena menggunakan air panas dan dibilas di bawah keran dengan air panas, piring-piring ini bisa saya lap dan langsung masuk lemari. Dalam waktu kurang dari 20 menit cucian piring menggunung bisa beres. Mudah kan? Lebih mudah lagi jika pasangan mau nimbrung ikut membantu. Kalau pasangan tak mau, ya berdayakan anak-anak.

Membereskan rumah

Di Indonesia, rumah itu wajib dibersihkan setiap hari, disapu dan juga dipel. Karena sudah terbiasa punya PRT, banyak rumah tangga yang enggan menggunakan vacuum cleaner, alasannya takut rusak atau takut PRT menjadi malas. Ya ampun tolong ya, teknologi itu kan disiapkan untuk menjadikan pekerjaan menjadi efisien. (Argumen yang sama juga digunakan untuk mencuci baju secara manual, ya jangan salahkan kalau PRT jadi gak betah).

Vacuum Cleaner lucu. Apapun yang ada di lantai pasti dibersihkan si puppy!


Jadi yang punya vacuum cleaner silahkan dikeluarkan dari dalam lemari. Sementara yang tak punya bisa bersih-bersih manual. Rumah, menurut saya tak harus dibersihkan setiap hari kok. Sesempatnya saja, yang penting rapi. Btw, saya sendiri tak pernah nyapu ngepel ataupun menggunakan mesin penyedot debut di rumah, semua dilakukan pasangan saya. Coba itu bapak-bapaknya daripada sibuk mainan hp dan nonton TV diberdayakan. Masak perempuan saja yang mengurus rumah.


Soal masak

Masak makanan Indonesia itu ribet, tapi bisa direncanakan. Bumbu jadi banyak dijual, di pasar traditional maupun di swalayan. Jika rajin, bumbu dasar ini bisa dibikin sendiri, lalu dimasukkan ke dalam freezer. Rasanya memang akan sedikit berbeda, tapi yang penting sedikit lebih praktis. Jangan lupa juga merencankan menu selama beberapa hari ke depan, sehingga bahan makanan tak terbuang.
Bagi yang tak bisa masak, buka aplikasi Gojek saja. Tapi sabar ya kalau menunggu makanan. Jangan sampai makanan sedang dimasak, pesanan dibatalkan karena tak sabar.

Penutup 

Selama beberapa Lebaran di Jakarta, saya tak pernah pulang kampung dan selalu ngantor. Tugas saya selain menjaga rumah kosong juga menyapu dan mengepel rumah yang sebesar lapangan sepakbola. Butuh hampir satu jam buat saya untuk nyapu dan ngepel.

Hidup tanpa PRT itu memungkinkan kok, sangat memungkinkan, kuncinya tak boleh alergi pada pekerjaan rumah tangga selain itu semua orang harus ikut serta melakukan tugas rumah tangga, jangan hanya dibebankan pada Ibu, istri atau perempuan saja. Lagipula, lontong, opor ayam dan rendang yang duduk manis di dalam perut kan juga perlu dibakar supaya tak jadi lemak.

Selain itu kerjanya juga harus fokus dan tak repot mengunggah foto di media sosial. Bukan tak boleh, tapi kalau terlalu sibuk menanti like di media sosial kapan selesainya?

Selamat Idul Fitri bagi kalian semua yang merayakan. Semoga masa liburan bersama keluarga menyenangkan.
xx,

Tjetje