Tata Krama Bertemu Orang

Sebagai orang Indonesia di luar negeri yang baru datang ke negeri asing, seringkali timbul rasa rindu untuk berkumpul dan sekedar ngobrol-ngobrol dengan sesama orang Indonesia. Selain untuk melepas rindu pada tanah air, juga untuk bisa bebas berbicara dalam bahasa ibu lagi. Setidaknya, dengan bertemu dengan saudara sebangsa, rasa rindu terhadap tanah air bisa sedikit terobati.

Sama seperti di Indonesia, ada tata krama tertentu yang harus kita ikuti. Beberapa yang saya ingat, saya rangkum di bawah.

Tanya kabar

Lebih dari satu dekade lalu ketika saya pulang kampung ke Malang (ketika itu saya masih bekerja di Jakarta), di sebuah parkiran mall saya bertemu dengan teman sekolah yang tanpa ba bi bu langsung bertanya “anakmu sudah berapa?”. Saya terhenyak menerima pertanyaan dari orang yang tak dekat dengan saya, tapi juga dengan tata kramanya.

Penting bagi kita untuk bertanya tentang kabar dulu, bukan hanya penting, tapi wajib untuk menanyakan kabar orang yang kita temui. Pertanyaan pembuka ini sangat  powerful untuk mengetahui bagaimana kondisi orang yang kalian temui. Beberapa orang yang mungkin bergulat dengan berbagai masalah bisa ambrol pertahanannya ketika ditanya kabarnya dan akan bercerita tetang pergulatan mereka. Pertanyaan kabar bukanlah sebuah pertanyaan basa-basi dan pertanyaan ini harus ditujukan kepada siapaun yang kita temui.

Buah tangan

Jika diundang datang ke rumah orang yang kalian baru kenal, bawalah buah tangan. Sebuket bunga, panganan (biasanya cake) atau mungkin sebotol minuman. Tak perlu membawa alkohol jika memang tak menyetujui alkohol, bisa membawa botol jus ataupun minuman soda tapi setidaknya tak datang dengan tangan kosong. Pastikan juga makanan yang dibawa merupakan makanan yang bisa kalian makan, karena seringkali makanan ini kemudian akan disajikan kembali dan dimakan bersama-sama.

Jangan bawa tangan kosong, kecuali jika kalian kenal baik dengan sang pengundang dan sang pengundang memang menyatakan tak perlu membawa apa-apa. Seringkali ada tuan rumah yang basa-basi tak perlu membawa apa-apa, tapi sesungguhnya ngarep sesuatu. Kalau ketemu host seperti ini, repot tak karuan, apalagi kalau kemudian ia berhitung-hitung. Berapa ongkos makanan yang kalian bawa dan berapa ongkos yang ia keluarkan untuk hosting, lalu ketika angkanya tak sesuai kemauan hati, ribut ngomong kemana-mana. Nah kalau ketemu yang kayak gini, mendingan ngedekem di rumah aja deh.

Tepat waktu 

Di Jakarta dulu kalau janjian jam 12, maka jam 12 baru jalan. Di tengah jalan nanti pasti akan saling berkirim pesan, mengatakan terlambat karena macet luar biasa. Pun kalau berangkat lebih awal, seringkali kemacetan menghadang. Keterlambatan menjadi satu hal yang sangat ditolerir karena kondisi jalanan Jakarta yang memang tak ramah.

Di Irlandia, orang-orangnya tak setepat waktu negara-negara lain di daratan Eropa. Pukul enam bisa molor sedikit, sedikit tentunya. Tapi juga bukan berarti janjian bertemu pukul enam baru muncul pukul 8, kalau ini sih namanya tak elok dan tak tahu diri.

Kalau kemudian terlambat, penting juga untuk memberi informasi akan terlambat dan berikan estimasi waktu pukul berapa akan tiba. Mengapa begitu? supaya setidaknya tuan rumah tak cemas dan bisa melakukan hal lain sambil menunggu. Jangan salah, ada banyak orang yang tak tahu etika dasar untuk mengirimkam update jika akan terlambat. Padahal tak semua host itu punya waktu seharian untuk menunggu tamunya.

Ngobrol

Kalau sudah bertamu ke rumah orang, jadilah tamu yang sopan dan baik. Ngobrol dengan tuan rumah dan jangan sibuk mainan handphone melulu. Saya sendiri pernah dapat tamu model begini, datang untuk makan, setelah makan yang lain ngobrol-ngobrol, si tamu repot sendiri dengan handphonenya. Oh please deh.

Pun kalau ngobrol, jangan hanya ngobrol dengan mereka yang berbahasa Indonesia. Ngobrollah dengan semua orang, termasuk para bapak-bapak. Konsekuensinya tentu harus ngobrol dengan bahasa Inggris (ataupun bahasa lain tergantung tempat tinggal kalian). Jangan jadi bagian dari stereotype, perempuan ngobrol di dapur dengan perempuan lainnya, sementara bapak-bapak ngobrol di ruang tamu dengan dengan bapak-bapak.

Pada saat yang sama, jika ada tamu lain yang tak bisa berbahasa Indonesia, jangan terus-menerus ngobrol dalam bahasa Indonesia dan tak melibatkan orang tersebut. Tak sopan, apalagi kalau terus-menerus tertawa bercanda, sementara tamu di sebelah tak tahu mesti harus bagaimana.

Penutup

Pada saat diminta bungkus-bungkus, pastikan tuan rumah benar-benar niat untuk melakukan hal tersebut. Seperti saya tulis di atas, ada tuan rumah yang hanya basa-basi dan sangat perhitungan. Kalau ketemu yang model gini, gak usah bungkus apa-apa, langsung pamit pulang aja.

Pada saat yang sama kalau ditawarin membungkus juga tahu diri. Suka makanan yang disajikan bukan berarti otomatis boleh makan sepuas-puasnya, lalu bungkus semuanya. Ingat sama si tuan rumah, juga tetamu lain.

Terakhir, kalau memang tak mau diundang, sebaiknya tak perlu datang. Saya pernah ketemu tamu yang begitu keluar dari rumah menghela napas panjang dan keras (di depan saya) seakan tersiksa selama diundang makan di rumah saya. Ooops…nggak lagi deh undang-undang.

Ada tambahan lain lagi mungkin?

xoxo,
Ailtje

Mitos Tinggal di Luar Negeri

Selama lockdown ini, saya banyak mendapatkan tautan-tautan dari Youtube yang berisi video-video tentang kehidupan di luar negeri. Beberapa video yang dikirimkan, memiliki garis besar yang sama: menjual mimpi indah tinggal di luar negeri. Sebuah hal yang lumrah, karena pada dasarnya, kita semua suka bermimpi.

Untuk menyeimbangkan mimpi-mimpi ini, saya ingin membawa kembali ke realitas. Bukan apa-apa, selama seumur jagung di sini, saya melihat banyak orang yang ribut diberbagai media sosial atau ketika kumpul-kumpul untuk mengumbar kekecewaan mereka, ketika mimpi mereka tak seindah realitas.

Generalisasi: pasangan romantis

Bagi mereka yang mendambakan pasangan romantis, ada harapan tinggi ketika mereka diiming-imingi dengan ide bahwa para orang asing (baca: bule) adalah orang-orang yang romantis, seperti film-film Hollywood yang tak hanya suka berkata manis tapi juga tak henti-hentinya memberikan hadiah pada pasangannya.

Faktanya,  pria-pria dari Indonesia ataupun dari berbagai belahan dunia lain, tak bisa disamaratakan. Yang romantis ada, yang tak peduli setengah mati juga banyak. Ada yang rela makan nasi dan telur dadar demi menabung berbulan-bulan untuk hadiah mewah, ada yang suka memberi bunga, ada pula yang tak suka memberi hadiah tapi menunjukkan tindakan yang dianggap romantis. Yang cuek bebek juga banyak.

Image by Free-Photos from Pixabay

Setiap individu dibesarkan dengan cara dan nilai yang berbeda-beda, tak peduli rasnya apa. Keluh kesah tentang keromantisan yang sering saya dengar ini sebenarnya bisa diantisipasi, ketika pacaran. Cari tahu dulu karakter pacarnya seperti apa, apakah cuek bebek atau romantis? Kalau memang tak cocok karena kurang romantis, kenapa gak cari yang lain aja? Thank you, next please! 

Mitos: Orang asing selalu kaya

Nah kalau yang ini sih panjang.

Definisi kaya bagi satu orang ke orang yang lain itu tak pernah sama. Tapi ada pengharapan bahwa mengawini orang asing berarti bermandikan pundi-pundi uang asing, bisa membeli apa saja dengan mudah, bisa mengirim uang ke keluarga di kampung atau bahkan seluruh orang di kampung, membangunkan rumah gedong bagi keluarga, menyekolahkan semua anggota keluarga dan kalau perlu membawa keluarga jalan-jalan keliing dunia dan melihat rumah Tuhan.

Tunggu dulu, mari kita kembali ke realitas. Seperti di banyak tempat, di berbagai belahan dunia ada orang dengan penghasilan minim, cukup, hingga berlebih. Dalam kelas sosiologi ini dibagi menjadi lapisan masyarakat kelas bawah, menengah atau atas. Penghasilannya berbeda-beda, daya belinya juga berbeda-beda.

Keinginan untuk memiliki pasangan yang kaya-raya itu wajar, tapi kalau memang tujuannya cari yang kaya raya, seleksinya mbok ya yang bener. Ketika masih berpacaran, riset dengan baik dan benar, cari tahu berapa penghasilannya, berapa biaya hidup di negeri tersebut, berapa pajak yang dibayarkan. Jadi ketahuan berapa sisa uang yang bisa dihambur-hamburkan. Ketika tahu pasangan bergaji mata uang asing juga jangan dirupiahkan dulu, karena PASTI terlihat wow. Padahal realitasnya, beras dan tempe di luar Indonesia tak dijual dengan harga rupiah, harganya berkali lipat dari di tanah air.

Jangan sampai cita-cita pengen jadi istri orang kaya pupus  karena ketidakbisaan untuk menyeleksi. Sampai di negeri asing kaget karena hanya diberi uang saku yang minim dari pasangan, sehingga tak cukup untuk membeli tas untuk dipamerkan di media sosial. Kalau sudah tahu pasangannya memang tak berpenghasilan banyak juga gak usah ngomel kemana-mana (I’ve heard this too many times), mengatakan pasangannya pelit, kejam dan parahnya tak bertanggung jawab. Woi….yang kejam siapa? penghasilan hanya cukup untuk memberi uang jajan 100 Euro per bulan, ya mana bisa beli berlian tiap bulan. Perlu dicatat di sini banyak orang-orang yang sederhana ya, yang bahagia selama semua kebutuhan tercukupi dan tak bermimpi muluk-muluk.

Mitos: Dapat duit gratis di luar negeri

Image by Pijon from Pixabay

Salah satu hal yang seringkali diumbar dan membuat orang menjadi sangat terpana, hingga memunculkan asumsi bahwa mereka yang tinggal di luar negeri itu selalu enak adalah soal mata uang asing yang jika dirupiahkan terlihat wow. Lembaran uang-uang ini kemudian dipamerkan lengkap dengan kalkulator untuk menghitung berapa banyak pundi-pundi tersebut, termasuk ketika dana tersebut didapatkan dari pemerintah yang dijual sebagai “dana gratis dari pemerintah gaes“.

Faktanya, tidak ada yang cuma-cuma, baik di luar (maupun di Indonesia). Ada berbagai tunjangan yang diberikan bagi mereka yang tidak mampu ataupun berpenghasilan rendah. Tunjangan ini bersumber dari para pembayar pajak yang setiap harinya harus bekerja dan berkontribusi hingga 50% penghasilan mereka setiap bulan (beda negara beda tarif pajak ya). Dana pajak tersebut digunakan untuk memberi tunjangan mereka yang mencari kerja, memiliki disabilitas, hingga untuk biaya sewa rumah bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Makanya kalau kemudian ada yang pamer karena dapat uang beberapa ratus Euro, para pembayar pajak biasanya cuma nyengir sinis. Uang-uang tersebut dari keringat para pembayar pajak untuk mereka yang memang dianggap kurang mampu. Kita kerja keras tiap hari, mereka pamer-pamer karena menadah duit bantuan. Selain untuk mereka yang kurang mampu, ada tunjangan yang diberikan untuk mereka yang punya anak, fungsinya untuk memastikan anak-anak kebutuhannya tercukupi. Tunjangan ini untuk semua orang tanpa memandang berapa penghasilannya.

Jadi kesimpuannya, tak ada duit gratisan di luar negeri, kalau ada yang pamer dapat dana dari pemerintah, tanya kenapa mereka dapat bantuan langsung tunai, kurang mampu sehingga harus dibantu pembayar pajakkah atau itu uang yang seharunya untuk memenuhi gizi anaknya? 

Penutup

Bagi mereka yang bermimpi untuk mendapatkan pasangan asing (for whatever reason), penting untuk melihat dua sisi, ada yang indah dan tentunya ada tantangan-tantangan tertentu. Samalah seperti di Indonesia, tapi tentunya tantangan di luar jauh berbeda, ada cuaca, homesick, beda budaya hingga beda cuaca. Yang jelas, semua yang diumbar di media sosial itu tak selalu adem ayem dan indah. Jadi jangan lupa untuk menjadi realistis.

Mimpi-mimpi hidup seperti di tivi yang tak tercapai ketika mengikat janji itu tak perlu ditambah dengan kecemburuan sosial. Makan hati dan lelah jiwa nanti kalau terus-menerus tak terima ketika melihat rumput tetangga lebih hijau. Padahal siapa yang tahu kalau rumput-rumput tersebut adalah rumput plastik. Terlihat hijau dan indah, tapi KW.

Selamat berakhir pekan dan selamat liburan!

xoxo,
Ailtje

Kekerasan Rumah Tangga

Anggapan menikahi orang asing itu SELALU menyenangkan tak bisa begitu saja dihapus dari pikiran banyak masyarakat kita. Ya mungkin karena dari jaman baheula kita sudah melihat bagaimana para Nyai hidupnya terlihat lebih enak dari kebanyakan orang. Terlihat lho ya. Akibatnya, banyak ilusi bahwa semuanya akan indah-indah saja, tanpa masalah dan tanpa tantangan sama sekali.

Image by Sammy-Williams from Pixabay

Hal ini kemudian disempurnakan dengan glorifikasi keindahan perkawinan campur. Tengoklah di Youtube sana. Perkawinan dengan WNA kemudian dianggap sebuah hal yang indah, sempurna dan lebih baik daripada perkawinan lainnya. Padahal, seperti perkawinan pada umumnya, perkawinan itu seringkali bertemu dengan kerikil, atau dalam postingan ini badai besar.

Satu hal yang seringkali menjadi bahan perbincangan, dan sumber keprihatinan bagi kami yang tinggal di luar negeri adalah kekerasan rumah tangga dalam perkawinan campur. Kekerasan ini berlaku bagi dua belah pihak, tak mengenal jender, baik itu kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Ada banyak model kekerasan yang tak disadari sebagai kekerasan, dan kami-kami yang berada di luar perkawinan tersebut, seringkali hanya bisa mengelus dada karena prihatin.

Kekerasan Fisik

Kekerasan yang paling mudah dilihat tentunya kekerasan fisik, buktinya paling mencolok, tapi seringkali disembunyikan, karena korbannya, entah malu atau mungkin terlalu sayang pada pasangannya. Dalam kepala saya masih kuat bayangan seorang kenalan perempuan yang matanya membiru, pastinya kena tonjok. Bekas tonjokan itu disembunyikan di bawah topi. Kekerasan fisik tak hanya soal “tonjok-menonjok”, bisa beraneka rupa, bahkan menyebabkan kematian.

Kontrol Berat Badan dan Makanan

Kekerasan psikis sendiri tak kalah menyayat dari kekerasan fisik, apalagi kalau sudah berkaitan dengan kontrol. Salah satu pengontrolan yang saya lain adalah berat badan.  Pelakunya pun tak segan merisak kondisi berat badan pasangan di depan orang-orang lain. Memanggil pasangannya gendut, hingga mengolok-olok ukuran bagian tubuh tertentu karena dianggap terlalu besar. Keterbukaan ini seringkali membuat orang lain yang melihatnya jengah dan tak nyaman.

Pada kondisi yang ekstrem pasangan bahkan disuruh naik ke atas timbangan untuk dicek berat badannya secara berkala. Obsesi terhadap berat badan ini kemudian dibarengi dengan kontrol asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali porsi makanan Indonesia harus dikurangi, atau bahkan tak boleh sama sekali karena dianggap tak sehat. Terlalu berlemak, karena gorengan atau karena penggunaan santan.

Larangan ini juga karena bau yang timbul akibat hobi goreng-menggoreng (ini belum goreng terasi ya), baru level goreng tempe, kerupuk atau tahu.  Alasan kesehatan seringkali digunakan, tapi tentunya dengan standar ganda. Hanya berlaku pada pasangan yang dikontrol, tapi tidak pada diri sendiri. Sang pengontrol bebas makan dan minum apa saja. Dampaknya, pasangan yang dikontrol secara perlahan tapi pasti, kepercayaan dirinya menurun.

Kontrol keuangan & aktualisasi diri 

Namanya juga tukang kontrol, apa saya yang bisa dikontrol akan dikontrol. Salah satunya akses keuangan. Pasangan tak diperkenankan untuk bekerja, alasannya beraneka rupa. Di beberapa kasus yang saya tahu, pelarangan bekerja ini supaya tax credit* bisa digunakan satu pihak saja. Sehingga pasangan membayar pajak lebih sedikit. Tak hanya itu tapi seringkali bekerja juga untuk menghentikan pasangan mengaktualisasikan diri.

Ketidakbolehan bekerja ini kemudian dibarengan dengan pembatasan akses keuangan (bukan karena kondisi keuangan terbatas), tapi lebih pada pemuasan hasrat mengontrol. Tak ada kesetaraan atau dikusi keuangan. Seringkali, yang saya tahu pasangan hanya diberi jatah beberapa Euro saja untuk berbelanja.  Yang paling ekstrem, 20 Euro per minggu untuk beberapa kepala di rumah. Nominal ini jangan dirupiahkan, karena 300 ribu di Irlandia tak sama dengan di sini. Sekali lagi, bedakan juga antara kondisi keuangan terbatas, atau karena pelit yang sangat ekstrem. Kelewatan.

Ada pula dimana pasangan dipaksa bekerja, tapi kemudian uang yang dihasilkan dengan semena-mena dikontrol oleh pasangannya, atau bahkan dihabiskan untuk berhura-hura oleh pasangannya. Entah dihabiskan untuk memuaskan hobinya, atau bahkan berjudi. Syukur-syukur kalau namanya gak dipakai untuk meminjam uang (banyak yang seperti ini). Atau yang lebih parah, disuruh antri minta makanan gratis hingga pasangannya mengaduk-aduk tempat sampah mencari sisa makanan. Sedih sekali kalau mendengar yang seperti ini.

Red flags

Bagi mereka yang masih pacaran, ada baiknya jika saat pacaran mengenal lebih dalam dahulu sebelum ke jenjang yang lebih lanjut. Kenali baik-baik pasangan, dari berbagai aspek, sehingga tahu tanda-tanda yang perlu diwaspadain. Pacaran jangan buru-buru langsung diseret ke pelaminan, apalagi di negeri jauh.

Beberapa tanda yang harus diperhatikan antara lain:

  • Membatasi pertemanan & mengontrol pergerakan kita (dari mulai kemana pergi, hingga pakaian yang digunakan)
  • Kebutuhan dasar tak dipenuhi
  • Tukang cek waktu dan perilaku (lagi ngapain, sama siapa, di mana, kapan pulang?)
  • Memata-matai komunikasi kita
  • Seringkali merendahkan dan memalukan pasangan, bahkan di depan publik.
  • Kontrol keuangan
  • Mengancam dan atau mengintimidasi
  • Merusak barang (serta fisik kita).

Terakhir, kasus-kasus rumah tangga berkaitan dengan kontrol dan kekerasan, sayangnya bukan hal yang aneh bagi kami yang tinggal di luar negeri. Selalu ada saja cerita seperti ini. Para korbannya seringkali mencari bantuan ke kedutaan, tapi tentunya bukan kewenangan KBRI untuk menangani urusan domestik rumah tangga. Sebagai sesama orang Indonesia, kita pun tak berwenang menolong. Sementara, pihak berwenang pun hanya bisa memberi bantuan jika korbannya secara sadar meminta pertolongan.

Seringkali malu, dibarengi  keinginan untuk membuktikan kesuksesan tinggal di luar negeri, atau ketakutan tak memiliki penghasilan, tambahkan pula dengan kepercayaan diri yang sangat rendah (karena hasil abuse selama bertahun-tahun), membuat korbannya bertahan. Tak mau keluar dari kemelut tersebut. Jangan lupakan juga cinta, cinta dan harapan bahwa pasangan satu saat nanti akan berubah.

Jika kalian korban kekerasan rumah tangga, please get help! 

xoxo,
Ailtje

Bicara Bakul

KBBI menjelaskan bahwa bakul /ba·kul/ n adalah wadah atau tempat terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada ukuran bagian mulutnya. Dalam bahasa Jawa, bakul sendiri berarti pedagang, ada yang beranggapan bahwa konotasi bakul sendiri agak negatif. Entahlan, tapi hari ini saya lebih nyaman menggunakan kata bakul sebagai judul postingan ini, karena saya ingin membahas sisi mengesalkan dari sebagian, sebagian lho ya, bakul di media sosial.

Sudah sedari lama saya ini sebel sama kelakukan bakul-bakul di jagat media sosial. Suara hati saya kemudian disuarakan dengan lantang oleh selebtwit yang tentunya membuat jagat media sosial heboh. Orang-orang yang selama ini berdiam seperti saya, perlahan-lahan bersuara keras dalam menyuarakan kerisihan mereka dan berbondong-bondong menunjukkan kata kunci yang dimute. Rupanya, saya tak sendirian.

Capek lihat iklan

Pengguna media sosial itu sudah sangat lelah sekali melihat iklan bertaburan, tak hanya iklan model spam dari para bakul tapi juga iklan berbayar yang bertaburan dimana-mana. Pendeknya, kita ini memang dibombardir dengan iklan dimana-mana. Salah satu hasil survei sebuah perusahaan survey menyatakan bahwa pengguna media sosial ini lelah, karena terlalu banyak iklan di media sosial dan banyak dari iklan ini tak relevan dengan yang mereka cari.

Tak heran kalau kemudian orang-orang berinvestasi (baca: bayar dan gak gratisan) pada ads blocker. Demi pengalaman berselancar di internet yang lebih menyenangkan, bebas iklan.

Repetisi informasi dan Etika

Sorry not sorry, tapi ketidaksukaan ini juga karena adanya mental spammer dari para bakul. Mereka tak ubahnya spammer professional yang menggunakan prinsip promosi: repetisi informasi yang sama, jika perlu hasil copy paste sehingga minim usaha dan tak kreatif. Lakukan berulang kali, setiap hari, dan di mana-mana.

Gratis menjadi kata kunci dalam berpromosi. Tak perlu keluar modal untuk bayar iklan di media sosial.  Cukup bajak postingan dan komentar orang supaya orang tak memiliki pengalaman yang menyenangkan di media sosial. Tak hanya di tweet atau postingan orang, tapi juga di berbagai forum atau grup di media sosial.

Sekali lagi, harus berulang kali, syukur-syukur kalau admin group gak memperhatikan. Posting setiap hari, dimulai dari tiga hari berturut-turut, lalu jadi 7 hari, kemudian 40 hari. Setelah itu non-stop. Kalau ditegur admin, tinggal tuduh adminnya tak suportif saja.

Interupsi

Salah satu argument yang saya baca, mengatakan bahwa para pedagang ini menginterupsi kehidupan kita. Lagi asik-asik ngobrol tentang pandemic, eh tiba-tiba ada yang teriak misi kakak, akun Netflixnya, akun Spotifynya. Dagangan illegal pula. Nah ini persis kayak lagi asyik ngobrol-ngobrol di kereta jurusan Bogor, tiba-tiba diinterupsi oleh tukang tahu. Tahunya kakak, tahu kuning, tahu pong, tahu isi, tahu walik atau tahu gejrot.

Pedagang ini menginterupsi kenyamana pada pengguna media sosial demi keuntungan beberapa rupiah tentunya. Sayangnya, dalam proses menginterupsi itu, tak ada  pemikiran untuk menjadi kreatif dalam menyampaikan pesan, dan tentunya tak ada etika dalam berkomunikasi. Selain itu, kebanyakan pedagang juga tak riset pasar dulu untuk mencari tahu apa yang diperlukan. Pendeknya bagaikan orang haus ditawari akun Spotify.

Ribut-ribut ini kemudian ditambahkan dengan self-entitlement, bahwa sebagai pedagang berhak untuk beriklan. Beriklan itu tentu saja boleh, tapi mbok ya yang etis. Bilang permisi saja tak cukup, harus tahu menempatkan diri. Kalau mau suka-suka sendiri, bayar iklanlah di Twitter, atau Facebook, sewa lapak di pasar atau promosi dagangan di tempat yang memang diperbolehkan pada hari-hari tertentu.

Lagipula, profilmu kenapa gak dipakai buat jualan juga? Coba 40 hari hari berturut-turut promosi dagangan yang sama, daripada bagi-bagi spam di lapak orang kan mendingan dagangan di lapak sendiri?


Ailtje
Sukses mempromosikan sebuah Kios di Belanda se-Irlandia (bahkan sampai Wales), tanpa nyepam. See? 

Celaan Fisik

Nggak biasa-biasanya saya bawa-bawa Tuhan, tapi gara-gara kelamaan lockdown say jadi banyak refleksi, refleksi atas banyak hal. Katanya kita ini orang-orang yang relijius, menerima semua pemberian Tuhan dan bersyukur dengan semua yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Katanya sih gitu, tapi realitanya tentu saja berbeda, masyarakat kita seringkali tak terima ketika melihat hal-hal yang tak sesuai standar kecantikan kolektif.

Kulit-kulit kebanyakan orang Indonesia itu tak putih cemerlang seperti Yoda si anjing saya ini. Kulit kita itu kebanyakan coklat, mengandung melanin yang berfungsi untuk melawan kanker kulit. Kulit coklat ini juga berguna banget ketika kita harus banyak beraktivitas di luar dari mulai nanam padi di sawah sampai goler-goleran di Spanyol dengan alasan mencari vitamin D.

Tapi realitanya, kulit coklat ini dianggap sebagai kulit yang hina dan tak berkelas. Yang menghina-dina nampaknya belum pernah sampai ke Eropa di mana kulit coklat bisa dielus-elus oleh orang tak dikenal karena mereka takjub (dan tentunya menganggap kita horang kaya yang kerjaannya goler-goleran di negeri asing).

Parahnya, ketidaksukaan terhadap warna kulit yang gelap ini juga dengan nyata-nyata ditunjukan kepada orang lain, dari berbagai ras dan tentunya berbagai usia, termasuk anak-anak. Di usia saya yang masih piyik, dengan penuh tawa dari banyak anggota keluarga saya dipanggil burit rinjing, bahasa Banjar yang berarti pantat penggorengan. Kulit saya yang tak putih cemerlang seperti para bintang iklan itu menjadikan saya layak dijadikan bahan tertawaan. Untungnya, saya tumbuh besar tanpa terobsesi untuk memutihkan kulit.

Tak cuma kulit saja yang tak disyukuri bersama-sama oleh masyarakat kita, tapi hidung juga menjadi obsesi ketidakpuasan. Hidung yang mancung dianggap sebagai keindahan yang patut disyukuri, sementara hidung-hidung lain layak dianggap bahan olok-olokan dan tertawa. Dan olok-olokan ini dimulai sejak dari kecil juga; adik bayi yang baru lahir pun sering dikomentari hidungnya.

Hidung saya sendiri konon tergolong mancung. Suatu hari di sebuah RS di Jakarta, saya berbaring sebelum melakukan perawatan wajah. Si suster yang berdiri di belakang saya sambil membersihkan muka bertanya tentang keaslian hidung saya; mungkin dia pikir saya yang pendek, berkulit kelam dan berambut keriting ini tak layak punya hidung mancung. Pernyataan saya bawa hidung saya asli tak cukup buat di suster, pelan-pelan jarinya ditempelkan ke samping hidung saya dan hidung saya ditowel-towel. “Oh iya asli”, kata si suster.

Selain warna kulit dan hidung, rambut menjadi hal lain yang tak masuk dalam daftar standar kecantikan yang kemudian “tak patut disyukuri”. Rambut saya yang ikal dan keriting ini menjadi bahkan olok-olokan sedari dulu kala. Keriting seperti sapu ijuk katanya. Belum lagi komentar pedas yang menuduh saya tak merawat rambut hingga tekanan sosial untuk meluruskan rambut supaya terlihat cantik. Tekanan ini dialami oleh banyak perempuan berambut keriting, salah satu teman kuliah saya bahkan rela meluruskan rambutnya dengan setrika demi terlihat “cantik”.

Nah saya pikir dengan rambut yang sudah diluruskan saya akan sesuai dengan standard kecantikan Indonesia. Tentu saja saya salah, karena kemudian banyak bermunculan komentar-komentar pedas soal rambut yang tak asli karena diluruskan. Apalagi jika rambut-rambut keriting sudah mulai bermunculan. Tuduhan tak bersyukur pun meluncur. Ah ribetnya mulut orang.

Masih banyak sekali kerja kolektif masyarakat kita yang sering menertawakan anggota tubuh, memberikan tekanan pada orang lain karena warna kulit yang berbeda, hingga soal muka yang berjerawat. Belum lagi mereka yang kemudian memperbaiki anggota tubuh melalui operasi plastik juga dijadikan bahan tertawaan. Pendeknya, semua salah.

Mau rambut ikal, lurus, keriting, hidung mancung, bulat, pesek, sekalipun, kita semua makluk Tuhan yang paling indah!

xoxo,
Ailtje

Peran Penting Pub di Irlandia

Tanggal 27 Maret yang lalu, pemerintah Irlandia mengumumkan lockdown, seluruh sektor tutup dan orang-orang tak diperkenakan keluar kecuali untuk hal-hal yang dianggap penting. Polisi pun mengadakan pengecekan dan memastikan kita patuh terhadap aturan-aturan ini. Ketika kasus Covid sudah mulai menurun, pemerintah Irlandia mengeluarkan roadmap untuk kembali ke normal, ada lima tahapan dan di tahap ke lima, kita akan kembali ke normal. Normal yang baru tentunya.

Minggu lalu, pemerintah mengumumkan kita tak akan ke tahap ke empat sampai awal Agustus. Penyebabnya, R number (reproduction number) masih dianggap terlalu tinggi dan negara ini dianggap belum siap menuju langkah selanjutnya. Akibatnya, pub masih tetap tak boleh dibuka. Hanya pub-pub yang menyajikan makanan yang boleh tetap buka, dengan pembatasan maksimum 90 menit per konsumen. Mereka boleh buka karena secara teknis restauran, bukan pub.

Di negeri yang pub punya peran penting, terutama di daerah masyarakat pun ribut. Bagi masyarakat Irlandia, pub adalah tempat orang-orang berkumpul dan bersosialisasi. Pulang kerja, atau bahkan usai melakukan kegiatan olahraga seperti golf, orang-orang berkumpul sembari minum. Tak melulu alkohol, ada juga mereka yang turut bergabung sambil minum minuman alkohol.

Pub juga punya peran penting sebagai tempat untuk menonton olahraga, pertandingan apapun akan jauh lebih menyenangkan jika ditonton beramai-ramai di pub. Masyarakat akan datang dengan jersey tim kebanggaannya, dari mulai rugby, GAA games (eg hurling, camogie, gaelic football), hingga sepakbola. Berbeda tim juga tak akan membuat orang berkelahi di dalam pub, kalau kalah diterima dengan lapang dada, bahkan diakhiri dengan ucapan selamat pada pendukung tim sebelah. Sportiflah, tak seperti Arema dan Persebaya yang pakai deg-degan ketika bertanding, bahkan mobil dengan plat nomor Surabaya atau Malang pun harus disembunyikan supaya tak diserang supporter.

Karena fungsinya yang begitu kuat di masyarakat, pemilik pub biasanya kenal dan tahu berita teranyar di lingkungannya. Di kampung saya sendiri ada tiga pub, untuk kampung kecil, tiga pub ini cukup banyak. Dan tiap malam, apalagi akhir pekan pub-pub ini akan ramai dengan orang ngobrol, bahkan musik dengan DJ lokal. Tiap-tiap orang biasanya punya pub favorit dan cenderung kembali ke pub yang sama, jika di kampung.

Soal musik, pemain musik tradisional Irlandia (biasa juga disebut trad musik), juga sering berkumpul di pub untuk minum sambil main bermain musik. Jika bertemu mereka, kaki tak henti-hentinya bergoyang menikmati musik. Setelah menulis tentang persepsi salah di pub ini, saya berkali-kali bertemu kelompok trad, dari Galway di sisi barat, hingga Cork di ujung selatan.

Sebagai tempat berkumpul orang lokal, pub juga menjadi tempat yang paling OK untuk mencari tahu tentang orang-orang lokal. Dari mulai mencari tahu tentang anggota keluarga, biasanya ini mereka yang pindah ke Amerika mencari tahu tentang keluarga jauhnya di Irlandia, hingga nyasar. Google map seringkali tak bisa diandalkan, apalagi di daerah yang sinyal internetnya kurang bagus. Masuk saja ke pub, beli segelas minuman, lalu tanya di manakan rumah si A, B, atau C. Syukur-syukur kalau yang kita cari bukan Patrick atau Paddy, karena nama ini sangat populer di sini. Sepopuler nama Bambang di Jawa pada masanya.

Hidup tak lepas dari pub, begitu juga dengan kematian. Setelah pemakaman, biasanya orang-orang berkumpul di pub untuk merayakan hidup dari mereka yang berpulang. Tak semua pesta kematian ini kemudian berakhir dengan baik, ada kalanya pesta kematian berakhir dengan mabuk dan berkelahi. Berdasarkan pengalaman masyarakat di sini, seringkali rusuhnya pesta ini terjadi hanya pada kelompok-kelompok tertentu, salah satunya kelompok Traveller. Labelling memang, jadinya setiap ada penguburan, masyarakat parno duluan.

Apa jadinya? Seluruh pub di wilayah penguburan ditutup. Semua pemilik pub janjian tak mau membuka pubnya karena enggan menanggung resiko jika orang-orang ini rusuh. Label dan generasasi memang, tapi pengalaman mereka mengajarkan lebih baik kehilangan keuntungan satu atau dua hari, daripada menanggung kerusakan (yang pastinya ditanggung asuransi).

Nah kembali lagi pada keributan soal pub, masyarakat di sini sebal karena pub tak diperkenankan dibuka, sementara turis-turis dari Inggris dan Amerika mulai berdatangan. Musim panas memang musimnya liburan bagi turis-turis dan sebagian sektor di negeri ini bergantung pada 3 juta turis yang datang untuk menikmati keindahan Irlandia sembari menyesap Guinness. Sayangnya, pemerintah memperbolehkan para turis berdatangan (awalnya tanpa prosedur isolasi diri yang jelas), sementara masyarakat-masyarakat di kampung sudah sangat merindu untuk bisa berkumpul dengan para tetangga satu desanya untuk menyesap bir sembari mengobrol.

Penutupan yang lebih lama juga ditakutkan membuat pub lokal tutup, karena tak sanggup membayar biaya operasional, seperti biaya kontrak. Ah semoga ini semua segera berakhir.

Kamu, sudah pernah masuk Irish pub?

xx,
Tjetje

Menjadi Pawrent di Irlandia

Tadinya saya takut sama anjing. Takut seperti layaknya kebanyakan orang di Indonesia. Setiap kali melihat anjing, hati saya komat-kamit memanggil Tuhan dan berharap si anjing tak memperhatikan saya. Semuanya berubah ketika saya dikenalkan dengan anjing dan tentunya jatuh cinta tak karu-karuan pada anjing. Hingga kemudian memiliki anjing sendiri dan patah hati ketika si anjing melintasi jembatan pelangi. Jembatan pelangi ini istilah manis para pemilik anjing untuk para anjing yang meninggal.

Semenjak patah hati kehilangan anjing, saya engga untuk punya anjing lagi. Tapi suami saya sudah siap untuk memiliki anjing. Keputusan yang selalu saya veto karena keengganan saya untuk patah hati lagi. Hingga kemudian saya memutuskan untuk memberi suami anak anjing sebagai hadiah ulang tahunnya. Anjing yang berbagi hari ulang tahun dengan saya.

IKC (Irish Kennel Club)
Kasus puppy farm di Irlandia cukup banyak. Puppy farm itu peternakan anjing dimana anjing betina terus-menerus dibuat beranak tanpa jeda demi profit sang pemilik. Anjing-anjing ini seringkali disilangkan, hingga meningkatkan resiko kesehatan. Harga anjing-anjing ini juga cenderung murah karena mereka tak memiliki surat-surat.

Kami sempat melihat opsi untuk adopsi, bahkan sudah mengikuti proses seleksi. Tapi kemudian harapan pupus dan sirna.

Setelah riset cukup lama, dan mencari kennel terpercaya, saya memutuskan mengambil anjing dari IKC. Harganya jauh lebih mahal dari anjing-anjing tak bersurat dan proses pembeliannya tak mudah. Saya juga diwawancara panjang terlebih dahulu, dari mulai latar belakang dan pengetahuan saya tentang perawatan anjing hingga tujuan membeli anjing.


Asuransi
Di Indonesia, saya tak punya asuransi untuk anjing. Ketika itu saya harus merogoh kocek untuk membawa anjing ke dokter, atau bahkan memanggil dokter hewan ke rumah.

Di Irlandia, dokter hewan yang saya kunjungi memberikan asuransi gratis selama enam minggu. Setelah enam minggu, perusahaan asuransi kemudian akan memberikan harga tahunan/ bulanan. Tergantung dari usia anjing, jenis anjing, dan kondisi kesehatan. Pembayarannya pun cukup mudah, cukup didebit setiap bulan, atau bayar dimuka selama satu tahun penuh.

Dog License

Di negeri ini ada aturan yang mengharuskan kita memiliki lisensi anjing. Aturan ini sudah dikenalkan sejak tahun 1865. Tujuannya untuk mencari tahu pemilik anjing. Dog license bisa dibeli di kantor pos dengan harga 20 Euro per tahun, atau 140 Euro untuk seumur hidup.

Lisensi ini sendiri wajib dimiliki begitu si anjing berusia di atas empat bulan. Anak anjing yang berusia di bawah empat bulan dan masih bersama induknya tak perlu dibelikan lisensi ini.

Tak semua anjing harus memiliki lisensi. Anjing untuk menuntun orang dengan gangguan penglihatan, atau anjing polisi misalnya tak memerlukan lisensi. Nanti, jika ada inspeksi, kita bisa ditanya lisensi anjing. Jika ketahuan tak memiliki, bisa didenda ditempat sebesar 100 Euro, atau bahkan dibawa ke pengadilan.

 

Puppy Playdates

Kami mengambil anjing dua jam sebelum lockdown, karena kennel dan kami sama-sama tak tahu kapan lockdown berakhir, sementara si puppy harus bonding. Keputusan yang tepat sekali, karena lockdown kami lebih berwarna.

Dengan kondisi lockdown ini, agak susah buat si puppy untuk bisa berkenalan dengan anjing lain. Dan karena anjing ini makluk sosial, penting banget buat mereka untuk bisa bermain dengan anjing lain. Solusinya? Puppy playdate.

Di kampung tempat saya tinggal, ada dua trainer anjing yang tiap minggu mengadakan playdate ini. Anjing-anjing ini akan bermain dengan anjing lain di bawah pengawasan si trainer. Peminatnya? Buanyaaaak. Dan sebagai trainer, mereka mencocokkan karakter masing-masing anjing, supaya tak terjadi perkelahian.

Penutup

Menjadi pawrent itu tak mudah, karena punya anjing itu perlu komitmen besar, dari komitmen finansial, hingga komitmen waktu. Kunjungan ke dokter hewan untuk memastikan kesehatan anjing juga harus dibarengi dengan asupan gizi yang cukup untuk si anjing. Sayangnya, tak banyak orang yang memiliki anjing tanpa tahu hal-hal seperti ini, mereka hanya mengambil anjing karena lucu lalu tiba-tiba menelantarkan si anjing, membiarkan si anjing sakit, atau bahkan mati karena abai terhadap banyak hal.

Beberapa bulan terakhir ini, kami membangun sistem dan rutinitas untuk anjing dan belajar disiplin dalam mematuhi sistem itu. Punya anjing di Irlandia itu tak semudah di Indonesia, tapi tentunya worth it. Kalian, suka binatang peliharaan?

xx,
Ailtje

Menjaga Kesehatan Jiwa

Sebelum saya mulai postingan ini, disclaimer dulu ya kalau saya bukan pakar kesehatan jiwa, wellness, atau pakar-pakar lainnya. Saya cuma manusia biasa yang penuh nista dan dosa. 

Pandemik global yang berlangsung saat ini membuat banyak orang harus berdiam diri di rumah masing-masing. Di Indonesia, ada pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di Irlandia, negeri tempat saya tinggal juga ada pembatasan gerak. Keluar dari rumah hanya untuk hal-hal yang penting, hanya bisnis yang penting yang diperkenankan untuk buka dan olahraga hanya diperkenankan 2 km dari tempat kediaman. Jadi tak ada kegiatan kegiatan ku lari ke hutan, atapun ku lari ke pantai, kecuali kalau tinggal tak jauh dari hutan ataupun pantai.

Bukan kali ini saja dunia menghadapi pandemik, sebelumnya ada flu babi yang juga melanda Indonesia. Tentunya skalanya tak sebesar dengan kondisi kita sekarang ini. Aktivitas kita pada saat itu masih normal. Pendek kata, saat itu kita masih bisa hura-hura ke cafe, jalan-jalan ke mall dan tentunya masih takut sinar matahari karena takut kulit menjadi kelam.

Olahraga

Pembatasan ruang gerak ini berdampak besar terhadap kesehatan jiwa kita. Mendadak, kita terpenjara di dalam rumah sendiri. Dalam kasus saya, ada pembatasan 2 km dan seringkali ada polisi yang mengecek tujuan kita. Mereka juga berhak mengirim kita pulang jika dirasa hal tersebut tidak penting.

Jalan kaki menjadi satu hal yang sangat berharga sekali. Sehari saya bisa berjalan kaki hingga tiga kali, di pagi hari, di saat makan siang dan usai kerja. Musim semi yang membawa hawa hangat juga membuat hal ini lebih mudah. saya tak bisa bayangkan apa jadinya jika pandemi ini berlangsung ketika memasuki musim dingin.

Makan Sehat

Olahraga juga harus dibarengi dengan makan yang sehat. Tak seperti di Indonesia yang punya banyak opsi untuk pesan makanan melalui aplikasi, di sini pilihannya sangat terbatas. Apalagi saya tinggal di kampung yang lebih dekat dengan sapi dan domba ketimbang dengan rendang dan tongseng.

Alhasil, saya pun harus masak sendiri, sehari tiga kali. Padahal sebelumnya saya hanya perlu masak satu kali, karena makan pagi dan siang disediakan kantor. Tapi pilihan untuk masak sendiri ini membuat diri lebih menyadari untuk memasak makanan yang jauh lebih sehat. Walaupun tetep sebagai anak Indonesia sejati, selalu pengen bikin gorengan. Prinsipnya, minyaknya engga pakai sedotan.

 

Ngobrol

Interaksi kita secara langsung dengan manusia berkurang sangat dratis. Saya beruntung tinggal bersama suami yang bisa diajak ngobrol, tapi saya tahu ada banyak orang di luar saya yang tinggal sendirian. Kesepian pasti merasuk banget, apalagi mereka yang usianya sudah tua.

Nah, kalau kalian punya anggota yang tinggal sendiri, jangan lupa ditelponin untuk bertanya kabar. Kalau kalian mampir ke rumah mereka, pastikan jaga jarak, jangan dekat-dekat dan tak perlu cium tangan, atapun cium pipi. Pastikan juga ketika kalian menelpon siap ditanyak dengan pertanyaan kapan kawin, kapan beranak dan panjaaaang…Kalau tak siap (dan daripada makin stress), cukup dikirimi pesan saja untuk menanyakan kabar dan berharap mereka sehat.

Media Sosial

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Irlandia sempat mengingatkan untuk menjaga kesehatan jiwa dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Media sosial itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi tempat senang-senang dan bisa menjadi tempat yang muram durja. Kita sendiri yang punya kontrol.

Di masa seperti ini mendadak banyak orang yang menjadi pakar. Pakar data, pakar penyakit, jadi dokter, hingga yang beraksi jadi jurnalis dan membuka informasi center dan terus-menerus membagi informasi tentang COVID 19. Dalam lingkungan pertemanan kalian pasti ada saja yang seperti ini.

Berhubung kita punya kontrol, ada baiknya media sosial digunakan untuk hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif dimute saja. Saya sendiri membatasi penggunaan media sosial dan hanya baca sumber-sumber yang terpercaya. Sehari cukup satu atau dua kali, tak perlu terus-menerus mendengarkan tentang pandemik di seluruh dunia. Nanti bisa stress sendiri.

Banyak juga orang yang melakukan hal positif di media sosial. Menyenangkan sekali melihat orang-orang bermain tebak-tebakan, sekadar menyapa menanyakan kabar, pamer hasil karya dari dapur masing-masing,  membuat komik, hingga membuat konten lucu di TikTok. Saya sendiri, aktif menuliskan lockdown diary di IG saya. Silahkan ditengok dan mari berinteraksi ngobrol-ngobrol ringan di IG saya di sini.

Kalian, punya tips dan trick khusus untuk menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi ini?

xx,
Ailtje

 

Lotere

Masih ingat dengan program pemerintah jaman dahulu yang judulnya SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah? Saya sendiri tak sempat merasakan bermain SDSB, karena usia saat itu yang dibawah umur. SDSB sendiri kemudian dilarang karena konsepnya yang mirip dengan judi, sehingga bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Kendati dilarang, konsep perjudian serupa masih tetap ada di Indonesia. Toto gelap, atau togel marak beredar di Indonesia. Sekali waktu saya pernah mencobanya, menitipkan lewat teman yang membeli. Entah bagaimana proses pembeliannya, yang jelas saya tak pernah melihat uang tersebut kembali lagi dan saya tak pernah menang sepeserpun.

Di banyak negara-negara Eropa, konsep SDSB dikenal sebagai lotere. Di Irlandia sendiri, ada dua lotere yang kami kenal, lotere Irlandia dan juga lotere Eropa (disebut sebagai Euromillions). Seperti namanya, lotere Irlandia hanya dikocok di Irlandia, sementara Euromillions untuk beberapa negara Eropa.

Karena jangkauannya yang lebih luas, jumlah uang yang bisa dimenangkan di Euromillions jauh lebih besar ketimbang Lotto Irlandia. Probabilitas atau peluangnya tentu jauh lebih kecil, karena lebih banyak orang yang bermain.

Bermain lotere di Irlandia cukuplah mudah, tiketnya bisa dibeli di supermarket ataupun toko-toko kelontong dan kita bisa memilih, quick pick (nomor dipilih acak melalui system) atuapun mengisi kertas dan memilih nomornya satu per satu. Tak hanya bisa dibeli di toko, tiket lotto juga bisa dibeli melalui app.

Tipe-tipe tiket lotere sendiri ada bermacam-macam, ada yang dikocok harian, ataupun dikocok pada hari-hari tertentu. Harganya, bermacam-macam, satu garis nomor jika saya tak salah mengingat dihargai 3 Euro. Nomor yang harus dipilih sendiri beragam, dari 5 hingga 6 nomor untuk satu garis. Tak hanya tipe lotere ini, ada pula scratch card, kertas kecil dengan beberapa angka yang bertuliskan nominal Euro  yang bisa dimenangkan dan pembeli harus setidaknya mendapatkan tiga angka yang sama.

Seperti saya sebut di atas peluang untuk menang lotere itu sebenarnya cukup kecil, apalagi jika membeli iseng-iseng. Walaupun terbukti sudah banyak orang yang iseng membeli tiba-tiba menjadi jutawan dadakan. Nah untuk memperbesar kemungkinan untuk memang, sindikat menjadi solusinya.

Apa itu sindikat? Sindikat merupakan kumpulan beberapa orang yang secara rutin mengumpulkan uang dalam jumlah yang sama untuk dibelikan tiket lotere. Jika tiket tersebut menang, maka hasil kemenangan dibagi rata. Sindikat ini bisa anggota keluarga, rekan-rekan kantor ataupun teman-teman. Yang jelas, sindikat ini cenderung konsisten dan rutin dalam membeli tiket. Kuncinya di dalam sindikat adalah keterbukaan. Begitu tiket dibeli, foto tiket langsung dibagikan, jadi tak ada yang membawa lari kemenangan.

Di Irlandia, toko-toko yang menjual lotere juga akan merayakan kemenangan ketika tiket yang mereka jual memenangkan hadiah. Toko ini juga akan mendapatkan bonus atas kemenangan ini. Biasanya, toko-toko yang pernah menjual tiket seperti ini ditempeli stiker bertuliskan: kami menjual winning ticket serta nominal kemenangan. Di sini, orang-orang ada yang suka membeli dari toko yang menjual winning ticket. Ada pula yang mempercayai bahwa toko yang sudah menjual winning ticket tak akan menang lagi.

Menjelang Natal dan tahun baru sendiri sendiri, badan lotere Irlandia juga akan menjual tiket khusus edisi Natal yang harganya lebih mahal. Raffle, begitu mereka menyebutnya.  Dan satu orang dijamin akan menjadi pememangnya. Lotere sendiri juga banyak dijadikan hadiah, hadiah kecil untuk Natal ataupun tahun baru, atau bahkan ulang tahun.

Bagi masyarakat Indonesia mungkin konsep lotere dianggap sebagai sebuah hal yang negatif. Di Irlandia sendiri, lotere tak hanya untuk mereka yang menang, tapi dananya kembali ke masyarakat melalui program Good Funding. Ada beberapa area yang bisa mendapatkan dana bantuan, seperti olahraga, bahasa Irlandia, komunitas, kesehatan, pemuda (youth), seni dan warisan kebudayaan. Tak heran kalau kemudian masyarakat di sini begitu terbuka dengan budaya membeli lotere.

 

Kalian, pernah beli lotere?

xx,
Ailtje

 

 

Nostalgia: Hobi Baca di Tahun 90-an

Jaman saya besar tak ada telepon genggam, media sosial ataupun Netflix untuk menghibur diri. Di jaman itu, hanya ada satu stasiun TV, televisi swasta belum ada dan remote televisi pun (kalau saya tak salah mengingat) tak punya. Cukup tekan-tekan 10 tombol yang berada di sisi televisi. Saya, besar di kota Malang, kotanya pelajar dan bukan kota metropolitan.

View this post on Instagram

Salam satu jiwa! #Aremanita #Arema #SingoEdan

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Tapi saya (dan banyak anak-anak lainnya) tak kekurangan hiburan. Kami bermain di ruangan terbuka, lapangan, sungai, sawah, mendengarkan radio (dan mengirimkan salam), dan membaca aneka majalah, buku hingga koran. Pendeknya, selalu ada jalan untuk mengisi waktu senggang.

Perjalanan saya pulang ke Malang tahun lalu membawa kenangan saya ke tempat persewaan buku. Dulu di sebuah jalan yang padat dan selalu macet, jalan Gajahyana, ada sebuah perpustakaan pribadi, atau tempat persewaan buku Perpustakaan Eddy namanya. Perpustakaan ini bukan milik negara, ataupun milik pemerintah kota, murni milik Pak Eddy.

Jaman itu, kalau saya tak salah mengingat, buku-buku komik dijual dengan harga tiga ribu rupiah. Komik Candy-candy yang 9 seri jika ditotal bisa menghabiskan uang 27 ribu rupiah. Membeli buku, mungkin menjadi opsi bagi mereka yang punya ekstra uang saku, tapi tidak bagi saya ataupun banyak anak-anak (dan juga orang dewasa lainnya).

Perpustakaan Pak Eddy ini jadi penyelamat, kami bisa pinjam buku dengan harga yang jauh lebih murah. Apalagi di saat musim libur, saya bisa melahap banyak buku. Untuk “menghemat” ongkos peminjaman, saya dan seorang teman bahkan sering bertukar buku yang kami pinjam di perpustakaan. Satu buku dibaca dua orang.

Proses peminjaman buku sendiri sangat sederhana. Kami cukup membawa kartu identitas, seperti kartu mahasiswa, SIM, ataupun KTP. Tapi jaman itu saya masih anak piyik, belum juga lulus SD. Kartu pelajar sebenarnya bisa digunakan, tapi masalahnya, sekolah saya tidak memberikan kartu pelajar. Alhasil, saya  nebeng kartu pelajar seorang teman, atau terkadang KTP orang tuanya. Kondisi jaman tersebut jangan dibandingan dengan kondisi jaman sekarang, di jaman ini KTP menjadi barang berharga yang mudah disalahgunakan. 

Peminjaman buku sendiri bisa dilakukan saat persewaaan buku tersebut buka, bisa di pagi hari hingga pukul dua siang (jika ingatan saya tak salah) atau di sore pukul enam hingga pukul sembilan malam.

Pencatatan buku-buku ini cukup sederhana. Pak Eddy ini punya satu wadah kotak yang berisikan kertas-kertas serta kartu identitas. Kertas-kertas ini berfungsi untuk mencatat judul buku yang kita pinjam serta tanggal pengembalian. Jika buku-buku tersebut sudah dikembalikan, tulisan-tulisan di kertas tersebut akan dicoret.

Buku-buku yang bisa dipinjam sendiri beraneka rupa, dari komik-komik silat, aneka komik, hingga novel-novel. Aneka komik-komik Jepang atau novel detekfif yang sudah dialihbahasakan. Ada juga Olga dan Lupus, buku bacaan remaja 90-an yang selalu ditunggu-tunggu. Hingga kemudian Mira W dan Marga T.

Pak Eddy ini merawat buku-bukunya dengan baik dengan cara menyampul hardcover lalu dibungkus dengan plastik. Di bagian belakang buku ini disertakan kertas untuk mencatat tanggal peminjaman. Jaman itu kami hanya boleh meminjam maksimal 10 buku. Semakin banyak buku yang dipinjam, semakin lama waktu pinjamnya. Tapi untuk buku-buku baru biasanya harus kembali dalam jangka waktu satu hari.

Dengan uang saku yang sangat terbatas, saya saat itu sangat takut terlambat mengembalikan buku. Takut didenda. Untungnya, saya tak pernah menghilangkan buku, tapi teman saya tak seberuntung itu. Duh….proses ganti rugi buku yang hilang ini tak mudah, apalagi karena jaman itu tak ada T&C. Dana yang dikembalikan tak hanya harga buku serta ongkos menyampul, tapi juga biaya tambahan yang tak pernah dituliskan di mana-mana. Buntutnya, negoisasi harga.

Ketika saya kembali ke Malang bulan Oktober lalu, saya melewati lokasi di mana tempat persewaan buku tersebut berada. Tak jauh dari toko daging di ujung jalan Gajahyana. Bangunannya masih ada, tapi tak ada aktivitas seramai tahun 90-an.  Persewaan tersebut mungkin sudah tak ada, tapi kenangan dan kegembiraan ketika melihat buku-buku baru bisa disewa rasanya tak terkirakan.  Dengan 300 ataupun 500 rupiah, saya bisa memuaskan Hasrat membaca buku.

Dulu, saya tak perlu media sosial untuk membunuh waktu. Bagaimana dengan kalian, pernah menyewa buku di tempat serupa?

xx,
Ailtje