Susahnya Hidup Tanpa Plastik

Bulan Juli sudah berlalu, katanya bulan tersebut adalah bulan untuk diet plastik, atau tanpa plastik. Faktanya saya susah banget untuk tidak menggunakan plastik. Jadi izinkan saya untuk mengaku dosa, saya pendosa besar dalam mengkonsumsi plastik yang berkontribusi merusak lingkungan dan membuat hidup para hewan susah.

Air minum kemasan

Dosa terbesar saya dalam mengkonsumsi plastik adalah air minum kemasan. Di tempat saya bekerja, air minum kemasan ini disediakan secara gratis. Setiap hari saya setidaknya mengkonsumsi tiga hingga empat botol, tergantung berapa lama saya harus berbicara. Untuk mengurangi konsumsi plastik botol dari stainless steel sudah pernah dibagikan. Botol yang dibagikan pun oke punya, keluaran Klean Kanteen dengan insulasi yang sangat bagus. Air hangat bahkan bisa tetap hangat hingga lebih dari 12 jam. Sementara air dingin juga akan tetap segar, bahkan es batunya seringkali masih ada, tak sepenuhnya mencair. Saya punya beberapa botol ini, tapi selalu lupa membawa ke kantor dan tiap kali dibawa ke kantor, selalu terbawa lagi ke rumah. Tobat deh, mungkin sudah saatnya saya meninggalkan satu di kantor, satu di rumah dan satu di dalam tas saya untuk dibawa-bawa. Nampaknya bertobat itu memang tak murah, mengingat kalau beli sendiri, di Dublin, harganya mencapai lima puluh Euro.

Plastik rumah tangga

Selain botol plastik, saya mengkonsumsi banyak plastik di dapur rumah. Konsumsi terbesar saya untuk plastik pembungkus (zip lock). Freezer saya tertata rapi, dari tempe, cabai, hingga aneka rempah saya simpan dalam plastik individu. Kalau dilihat cantik dan sangat rapi. (Nanti kapan-kapan saya bikinkan tour freezer lagi ya di IG story). Soal yang satu ini sedang saya coba kurangi. Saya dengan mengumpulkan botol-botol kaca supaya cabe bisa langsung saya hancurkan untuk masuk ke botol. Tapi tempe, saya belum menemukan solusinya. Tempe-tempe saya tertata rapi dalam porsi delapan potong, supaya kalau menggoreng tak perlu repot. Kotak plastik freezer sendiri tak memungkinkan, karena sudah beberapa hancur akibat dinginnya freezer. Mungkin ada yang bisa membantu memberi ide?

Plastik dari supermarket

Di samping dua hal di atas, sampah plastik di rumah kami juga datang dari supermarket. Supermarket lokal kami menggunakan banyak plastik. Tomat terbungkus plastik, daun bawang dibungkus plastik dengan rapat, ketimun pun dibungkus satu-persatu dengan plastik. Banyak produk segar lainnya juga dibungkus plastik supaya tak cepat layu. Soal ini, sudah beberapa kali di bahas di media di Irlandia, tapi baru satu supermarket yang melakukan aksi nyata untuk mengurangi konsumsi plastik. Sisanya penuh dengan plastik.

Yang menyebalkan, beberapa banyak plastik yang kami gunakan ternyata tak bisa didaur ulang. Di sini, kebanyakan produk memberikan informasi materi pembungkusnya dan apakah pembungkus tersebut dapat didaur ulang atau tidak. Produk daging misalnya, seringkali plastik pembungkusnya plastik film yang tak bisa didaur ulang, otomatis plastik ini harus dibuang ke tempat sampah hitam dan biaya pembuangannya lebih mahal. Lima kali lipat dari pembuangan sampah yang bisa didaurulang. Lingkungan rusak, kantong pun bocor.

Plastik belanjaan

Di Irlandia sendiri plastik untuk membungkus belanjaan tak diberikan dengan gratis, harus membayar. Kantong plastik biasanya dihargai 70 sen. Kantong ini sendiri cukup kokoh dan biodegradable. Saya sendiri memiliki kantong belanja dari kain, buatan Ibu saya. Kantong-kantong ini saya simpan di bagasi mobil, jadi kapapun saya belanja, tak perlu repot beli plastik. Tahun ini, ibunda saya akan berkunjung lagi dan saya sudah pesan khusus, tas belanja dengan motif-motif Indonesia.

Sedotan

Dari segala dosa di atas, ada satu hal yang saya tak merasa berdosa: sedotan. Saya tak senang menggunakan sedotan, alasannya sederhana: sahabat saya yang menyukai ilmu pengetahuan berkata bahwa minum dengan sedotan itu tak sehat. Saya begitu mempercayai ucapan sahabat saya ini (dan tak pernah repot mengecek kebenarannya), yang jelas informasi ini terpatri di kepala saya. Jangan minum dengan sedotan, tak sehat. Alhasil, ketika melihat sedotan stainless Klean Kanteen beserta sikat penggosoknya di toko, saya tak tergoda. Minum buat saya ya harus ditegak, biar puas.

Bagaimana konsumsi plastik kalian?

Xx,
Ailtje

Advertisements

Obsesi: Rambut Lurus

Rambut saya itu tak jelas, kadang-kadang keriting, kadang-kadang ikal, tapi yang jelas rambut saya tak pernah lurus, melambai-lambai seperti para gadis iklan shampoo itu. Menjadi orang berambut keriting ikal bagi saya bukanlah sebuah hal yang mudah. Setidaknya, ini pengalaman saya sebagai anak remaja lebih dari satu dekade yang lalu.

Dengan berbagai tekanan sosial yang ada, berambut tak lurus itu berat. Bagaimana tak berat? rambut yang sudah diolesin minyak cem-ceman ini begitu susah diatur, baru disisir sebentar sudah berantakan lagi. Lalu, lingkungan sekitar memuja rambut lurus. Setiap kali ada yang berambut lurus dipuji-puji, rambutnya bagus, mudah diatur dan segala puja-puji indah lainnya. Sementara yang rambut keriting, boro-boro dipuji, diingat sama produk shampo juga engga. Semua model iklan shampo pada jaman itu menunjukkan rambut lurus, panjang, hitam dan berkilau. Yang keriting? gak ada, karena kami yang berambut keriting memang terpinggirkan dan tak pernah diingat.

Sebagai remaja labil, memiliki rambut yang kemudian tak dianggap sebagai rambut ideal, saya berusaha untuk fit in dengan kondisi lingkungan. Apalagi, komentar-komentar tak sedap tentang rambut keriting bermunculan (tambahkan pula warna kulit yang tak putih di situ, hidup makin berat). Saya pun memantapkan hati untuk meluruskan rambut, saat itu metode meluruskan yang tersedia hanya dipapan, entah kenapa namanya keriting papan. Rambut diluruskan dengan obat, kemudian papan-papan plastik ditempelkan untuk meluruskan rambut tersebut.

Proses meluruskan rambut dengan papan itu tak mudah, saya harus menghabiskan setengah hari duduk di salon, membaca banyak majalah, memakan banyak gorengan dan sakit leher dan pundak karena menyangga puluhan papan plastik demi rambut lurus. Belum lagi, hidung harus terus menghirup bau obat yang tak sedap. Perjuangan saya membuahkan hasil: rambut saya jadi lurus, lurus palsu tentunya. Tapi ternyata ada bencana kecil, salah satu bagian rambut saya masih keriting, lokasinya persis di bagian belakang dan di tengah, jadi tak mungkin tak terlihat. Salon Harry yang ketika itu berlokasi di jalan Gajahyana di Malang tak mau bertanggung jawab. Sejak itu saya tak berhenti menyumpahi mereka atas ketidakprofesionalannya dan menolak untuk kembali lagi. Ongkos kerusakan untuk rambut lurus setengah jadi ini 150 ribu rupiah.

Rambut lurus ini tak bertahan lama, karena kemudian rambut asli mulai bermunculan. Lalu timbulah bencana lain, rambut keriting kecil-kecil yang tumbuh di akar kepala, bersanding manis dengan rambut lurus hasil . Sungguh sebuah hal yang aneh, tapi juga namanya remaja labil, ya tak mau melihat keanehan tersebut.

Begitu kuliah, saya masih tetap meluruskan rambut, kali ini berpindah ke sebuah salon kecil di sebuah gang di jantung kota Malang. Biarpun kecil dan nyempil di sebuah gang, salon ini begitu terkenal. Proses meluruskan rambut tak menggunakan papan lagi, tapi menggunakan teknologi rebonding. Rambut dicuci bersih, kemudian dicatok hingga lurus dan indah, lalu diberi obat dan didiamkan selama beberapa jam. Setelah itu rambut dibilas dan dicatok kembali. Hasilnya rambut lurus palsu juga, tapi kualitasnya jauh lebih baik dan terlihat lebih normal. Saat itu biayanya 300 ribu rupiah. Untuk ilustrasi saja, biaya kuliah saya di sebuah kampus negeri saat itu 325 ribu rupiah setiap semesternya.

Sumber: http://tallncurly.com
Coba cek deh komiknya kocak-kocak.

Untuk menjaga keindahan rambut saya yang sudah lurus dan indah, saya pun rajin perawatan, bahkan lebih sering keramas di salon ketimbang keramas di rumah. Harap maklum, jaman itu belum tahu bagaimana kerasnya mencari uang. Lalu komentar apa yang diterima setelah rambut diluruskan? Tentunya pertanyaan tentang mengapa rambut harus diluruskan yang ditemani dengan rontoknya rambut karena terpapar bahan kimia.

Obsesi dengan rambut lurus ini tak hanya dialami oleh saya saja, tapi banyak orang lain yang mengalaminya, perempuan dan pria. Salah seorang teman pria di kampus saya meluruskan rambutnya, demi punya rambut gondrong yang oke punya. Tentu saja rambutnya jadi gondrong lurus palsu ditemani rambut-rambut keriting.

Sementara itu, teman kuliah lainnya nekat meluruskan rambut menggunakan setrika. Alat setrika untuk pakaian itu. Kepalanya diletakkan di meja setrika, lalu teman kosnya membantu meluruskan rambut tersebut. Saat itu catokan rambut masih sangat mahal, bukan ratusan ribu rupiah, tapi jutaan.  Saya kemudian merekomendasikan meluruskan rambut di salon langganan saya. Hasilnya,  teman saya puas dengan rambut lurus, saya pun mendapatkan perawatan gratis dan ekstra uang tunai sebagai tanda terimakasih dari pemilik salon, dua puluh ribu rupiah. Hati pun riang gembira.

Begitu saja beranjak dewasa, saya mulai belajar menerima dan mencintai rambut saya. Saya tak tergoda lagi untuk meluruskan rambut, apalagi ketika melihat betapa anehnya rambut saya ketika rambut-rambut keriting tersebut mulai tumbuh. Sejak lepas dari salon, saya merawat rambut sendiri dengan menggunakan produk shampo dan pelembab organik (di Jakarta saya menemukan beberapa produk organik impor yang begitu bersahabat dengan rambut keriting saya). Belajar dari pengalaman ini saya jadi tahu bahwa proses mencintai rambut sendiri tak mudah, perlu waktu lama. Dan saya tahu, masih banyak orang-orang yang berjuang mencintai rambutnya sendiri. Semoga satu saat nanti, mereka bisa mencintai rambutnya, seperti saya mencintai rambut saya.

Kalian, punya masalah dengan rambut?

xx,
Tjetje

 

Penitipan Anak

Beberapa waktu lalu, di Luas, tram Irlandia, saya mendengarkan dua perempuan mengobrol dengan kencang dan mereka tak sedang berdekatan. Nampaknya, mereka sudah lama tak bertemu dan mereka saling mengupdate status masing-masing.

Salah satu dari mereka sudah menjadi nenek dengan tiga orang cucu, kendati anak-anaknya baru menginjak awal dua puluh tahun. Dari nguping ini saya kemidian jadi tahu kalau si nenek tak mau menghabiskan hidupnya mengasuh cucu. She has life, begitu menurut si nenek. Makanya dia engga dititipi cucunya.

Sikap nenek ini berbeda dengan di Indonesia, begitu anak kawin langsung disuruh buru-buru punya anak supaya sang kakek dan nenek, yang biasanya menginjak usia hampir pensiun, bisa menghabiskan masa tuanya mengasuh cucu. Istilah setelah pensiun jadi MC pun muncul, bukan Master of Ceremony, tapi momong cucu (mengasuh cucu), gratis pula.

Saya, hobinya momong anjing orang

Di Irlandia, tak lazim memang menitipkan cucu pada neneknya, walaupun ada juga yang tak berkeberatan. Lalu di mana anak-anak ini dititipkan ketika orang tuanya bekerja? biasanya mereka dititipkan ke penitipan anak, mereka berada di sana sejak pagi hingga sekitar pukul tujuh malam.

Yang tak bekerja dan punya sedikit uang pun ada yang melakukan hal ini supaya bisa mendapat kebebasan, me time & sang anak bisa beninteraksi dengan anak kecil lainnya. Ongkos penitipan anak sendiri beraneka ragam, tergantung lokasi dan jumlah anak yang dititipkan. Kalau si anak punya kakak yang juga dititipkan, biasanya bisa mendapatkan sedikit diskon. Jadi berapa ongkos nitip anak? Bisa ratusan hingga ribuan Euro. Mahal? Relatif.

Di Irlandia sendiri juga ada penitipan gratis, tapi biaya penitipan gratis dari pemerintah hanya diberikan ketika si anak berusia dua tahun delapan bulan dan hanya hingga si anak masuk primary education. Setelah dan sebelum itu, orang tua harus merogoh koceknya. Tak heran kalau kemudian banyak ibu-ibu muda dengan gaji yang tak sepadan yang kemudian memilih untuk berhenti bekerja ketimbang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membayar penitipan anak.

Selain penitipan anak, banyak orang juga mengambil tenaga au pair, wah tenaga au pair di sini banyak diperas tenaganya karena tak ada aturan mengenai jam kerja mereka. Mereka juga tidak dilindungi hukum. Kebanyakan au pair ini berada di Irlandia untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Jadi mereka menjaga anak ketika hari kerja dan kursus bahasa Inggris di akhir pekan. Berapa uang yang mereka terima? Tergantung kebaikan, kalau apes ya tak dibayar/ dibayar minimum, disuruh jaga anak, bersih-bersih, hingga memasak. Lalu buntutnya harus ke pengadilan untuk menuntut gaji. Tentu saja kasus seperti ini jarang terjadi.

Penutup

Beberapa orang mungkin ada yang bertanya mengapa orang tua tega menitipkan & meninggalkan anaknya seharian pada orang asing. Lha mau gimana lagi? Kondisi di sini memang berbeda, gak bisa seenaknya meminta si nenek mengasuh anak 365 hari.

Lagipula, di penitipan anak ini mereka justru bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Tumbuh kembang mereka juga diawasi oleh tenaga profesional yang punya kualifikasi. Gak sembarangan orang bisa bekerja di penitipan anak.

Di penitipan anak juga mereka bisa jatuh cinta, cinta monyet tentunya. Seorang bocah ingusan yang belum genap empat tahun jatuh cinta pada keponakan perempuan saya & satu hari keponakan saya tak masuk untuk dititipkan. Bocah itu menangis histeris dan tak bisa dihentikan, sampai ipar saya ditelpon. Lha bisa apa ipar saya, wong gak ikut punya anak. Akhirnya, untuk menenangkan si bocah ingusan itu, dia diberi obat pereda demam, biar lebih tenang. Ah cinta monyet.

Di tempat kalian tinggal, anak-anak dititipkan di mana ketiga orangtuanya bekerja?

xx,

Tjetje

Belanja Properti di Irlandia

Indonesia yang terkenal dengan birokrasi ribet itu, ternyata tak begitu susah kalau untuk urusan beli properti. Pengalaman dan sepengetahuan saya, beli rumah di Indonesia itu “semudah beli kacang”, tentunya selama urusan surat-surat rumah beres. Urusan rumah juga seringkali tanpa makelar, langsung dibeli dari pemilik rumah. Urusan dokumen sendiri diselesaikan di notaris. Urusan cepat, tak perlu sampai berbulan-bulan, bahkan tahun.

Urusan KPR

Belanja rumah dengan mengambil KPR di Irlandia itu prosesnya ribet. Semenjak krisis, pemerintah Irlandia hanya akan memberikan maksimal 3,5 kali lipat dari gaji per tahun. Untuk profesi-profesi tertentu, aturan memperkenankan hingga 4,5 kali lipat saja. Sebagai ilustrasi, orang-orang yang bekerja penuh dengan gaji UMR bergaji 22k/ tahunnya, artinya mereka bisa mendapatkan KPR maksimal 77k. Cari rumah di Dublin dengan harga segitu itu sama dengan mission impossible. Apartemen? Apalagi.

KPR bagi pasangan sendiri sangat dimungkinkan, gaji pasangan digabung, tapi aturannya tetap sama, maksimal 3,5 kali lipat dari gaji berdua. Selain aturan di atas, orang-orang yang akan membeli rumah juga wajib memiliki setidaknya 10% uang muka. Uang muka ini hanya untuk pembelian rumah pertama, pembelian rumah kedua (dan seterusnya), harus memiliki uang muka setidaknya 20%. Bank di sini memang hanya diperkenankan memberi 90% KPR.

Sebagai WNI yang paspornya hijau, apalagi saya anak baru yang baru pindah ke Irlandia, eksistensi saya tak dianggap oleh banyak bank di Irlandia. Mau punya uang muka banyak pun, kebanyakan bank tak akan peduli, bagi mereka saya alien. Nah apalagi uang saya tak banyak. Makin tak peduli lah mereka.

Broker KPR

Nyari KPR sendiri di sini bisa lebih mudah, karena adanya broker. Broker berlisensi ini akan menguruskan permohonan KPR, mereview kondisi keuangan kita dan mencari bank dengan tawaran terbaik. Jeleknya, broker-broker ini cenderung akan memilih bank yang memberikan mereka komisi terbaik. Jasa broker ini macam-macam, ada yang gratis (karena bank memberi mereka komisi 1% dari KPR) ada pula yang biaya jasanya beberapa ratus Euro.

Memilih rumah

Begitu mendapatkan surat persetujuan KPR, perburuan rumah pun bisa dimulai. Bisa rumah baru, ataupun rumah bekas. Di Dublin dan sekitarnya, rumah baru sangat susah didapat, karena tak banyak pembangunan rumah baru. Sementara, mereka yang mencari rumah jumlahnya melebihi ketersediaan. Akibatnya, ketika penjualan dibuka dipagi hari, orang rela kemah dari semalam sebelumnya demi menjadi pembeli pertama.

Mencari rumah yang tak baru sendiri persaingannya tak kalah kejam. Open house untuk menunjukkan rumah pun biasanya dipenuhi dengan banyak orang. Akibat terbatasnya jumlah rumah yang ditawarkan, harga beli rumah pun sering melonjak tajam. Di sini, mimpi buruk pembeli rumah adalah bidding war. Bukanlah hal yang aneh jika pemilih rumah mengharapkan 20-30 ribu lebih dari harga rumah yang ditawarkan. Beberapa bahkan bisa dapat ekstra 50-60 ribu. Rumah baru pun juga sama, banyak yang rela membayar lebih mahal dari harga yang ditawarkan. Gila.

Silahkan tengok website ini kalau mau tahu gilanya properti di sini.

Proses pembelian rumah

Ketika sudah menemukan rumah yang dimau & terdapat kesepakatan harga, maka proses pembelian sudah bisa dimulai. Proses tawar menawar rumah sendiri berlangsung bersama agen rumah. Semua komunikasi melalui mereka.

Begitu pula dengan urusan legal, semua melalui solicitor. Dari tanggal masuk rumah hingga penutupan semua rekening di rumah (e.g sampah, listrik, gas) pun harus melalui solicitor.

Di awal proses legal ini, rumah harus disurvei terlebih dahulu. Akan ada ahli khusus yang melihat semua sudut rumah dan membuat rekomendasi perbaikan. Contohnya, perapian penuh dengan ranting dan harus diperbaiki, tangki air perlu diganti. Semakin banyak masalah di rumah tersebut, semakin panjang rekomendasinya. Survey ini sendiri juga tak gratis, bisa beberapa ratus hingga ribu Euro.

Proses legal pembelian rumah bisa memakan waktu lama, bahkan berbulan-bulan. Selain Birocrazy, kadang-kadang ini terkait dengan pemilik rumah. Mereka bisa minta beberapa bulan waktu menunggu, karena mereka harus mencari rumah pengganti, padahal cari rumah itu ribet. Beberapa orang yang saya kenal bahkan ada yang proses pembelian rumah mencapai satu tahun.

Begitu proses pembelian selesai, kunci rumah diserahkan oleh agen, jadi pemilik rumah lama tak bertemu dengan pemilik baru. Di sini, bertemu dengan pemilik lama memang kurang lazim.

Perjalanan kami berburu rumah idaman sangatlah panjang, lebih dari satu tahun. Akhir pekan habis untuk keliling mencari rumah dan furniture. Tapi perjalanan panjang ini membuat saya bersyukur atas banyak hal, termasuk bersyukur di sini tak ada adat kebiasaan “makelar tanpa guna” minta 2,5% dari harga rumah tanpa kontribusi yang signifikan. #IndonesiaBanget

Kalian, punya cerita berburu tempat tinggal dari kos, apartemen, rumah?

xx,

Tjetje

Melihat Lebaran Dari Jauh

Selamat Hari Raya Idulfitri teman-teman. Bagaimanakah Idulfitri kalian? Semoga kiranya lancar dan menyenangkan. Semoga juga lebaran kemarin berlalu tanpa teror pertanyaan tak sopan tentang hal-hal pribadi. Dari Twitter saya melihat ada beberapa orang yang sudah muali berani galak ketika ditanya pertanyaan tak sopan. Pertanyaan yang gak sopan ini pun dibalas dengan reaksi tak sopan juga. Banyak orang beranggapan ini gak sopan, tapi kita semua manusia yang punya emosi dan perasaan. Jadi ngerti bangetlah kalau dongkol banget, apalagi kalau berkaitan dengan hal-hal yang kita tak bisa kontrol. i.e jodoh, kehamilan.

Lebaran kali ini saya perhatikan juga banyak yang nyinyir politik, terutama tentang jalan tol. Yang pendukung Jokowi nyinyirin yang makai jalan tol, sementara yang anti-Jokowi nyinyirin orang-orang kecil di Pantura yang kehilangan penghasilannya karena Pantura sepi. Duh, lihat yang kayak gini ini saya bersyukur. Bersyukur tinggal di Irlandia karena gak harus berurusan dengan komentar-komentar politik panas gitu. Apalagi di saat suasana lebaran yang harusnya pada damai dan tenang.

Persoalan THR masih rame dan seru juga ya. Banyak yang udah mulai kepanasan oleh organisasi liar yang minta-minta duit THR. Mereka ini sungguh menyusahkan. Selama saya kerja, saya tak pernah dapat THR sama sekali. THR satu kali gaji itu mimpi di awang-awang. Paling banter dikasih duit dari bos menjelang lebaran. Jumlahnya gak satu kali gaji sih, tapi kejutan dikasih bonus itu yang luar biasa.

Nah, menjelang lebaran itu bagi saya saat terberat, karena pengeluaran bisa melonjak beberapa kali lipat. Semua elemen berharap THR, dari mulai jasa pengaman di kantor dulu (ini termasuk para petugas keamanan yang dibiayai negara), para satpam dan pekerja kost-kostan, hingga para remaja masjid dari kampung-kampung belakang kost yang saya tak pernah kenal. Tanpa segan mereka mengetuk pintu kos-kosan, tanpa nanya pula, apakah yang dimintai uang ini lebaran atau engga. Berbagi itu memang indah, tapi kalau udah pakai maksa-maksa gini kok jadi gimana ya?

 

Persoalan minta-minta ini juga dialami oleh para bule-bule yang tentunya gak kenal dengan model THR. Di Eropa sini yang model minta-minta uang biasanya buat fundraising untuk kegiatan sosial, bukan untuk kepentingan kantong sendiri. Para bule yang tak kenal budaya THR ini kemudian dimaki-maki pelit, karena tak mau berbagi, padahal digaji ribuan dollar. Padahal, konsep minta-minta ini asing bagi mereka. Beberapa dari mereka bahkan ada yang meminta penjelasan secara mendetail kepada saya kenapa ada budaya seperti ini.

THR juga banyak diberikan buat anak-anak. Uang pecahan baru jadi serbuan masa untuk ditukarkan dan dibagi-bagikan. Saya sendiri biasanya gak repot-repot nyari uang baru, cukup uang lama, yang penting niatannya. Bicara tentang anak-anak, dulu di rumah saya ada segerombolan anak kecil yang entah dari mana asalnya, datang bertamu. Anak-anak ini berpakaian rapi dan baru, keliling kompleks rumah. Rupanya, mereka ini datang untuk merasakan penganan dan juga secara implisit mengharapkan uang lebaran, di Malang, kami menyebutnya galakgampil.  Saya sendiri tak pernah tahu tradisi ini sampai anak-anak itu muncul di depan rumah.

Ramadan di Irlandia sendiri sangat panjang, karena sudah mulai masuk musim panas. Sungguh salut saya melihat teman-teman kerja saya yang kukuh menjalankan ibadahnya, kendati panas menyengat. Panas di Irlandia memang tak seperti daratan Eropa, tak sampai menginjak 20 derajat, tapi tetap panas.

Warga Indonesia di Irlandia sendiri banyak yang mengadakan open house, konsepnya pot luck. Tamu datang membawa makanan. Tahun kemarin saya bergabung dengan salah satu open house. Orang-orang berkumpul, membawa makanan khas nusantara sambil melepas rindu mengobrol dengan bahasa Ibu. Rasanya mungkin tak sama dengan lebaran di negeri sendiri, apalagi tak ada tante-tante yang memberikan beberapa ratus ribu rupiah sebagai hadiah lebaran, tapi setidaknya mereka bisa merasakan kebersamaan.

Bagaimana liburan lebaran kalian?

Irlandia dan Aborsi

Hari ini, Jumat 25 April 2018 akan menjadi hari bersejarah bagi Republik Irlandia. Warga negara Irlandia, hanya mereka yang memiliki paspor Irlandia, akan menyuarakan pendapanya, melalui referendum, tentang Amandemen ke delapan. Amandemen yang berada di konstitusi ini melarang perempuan untuk mendapatkan akses aborsi. Akibatnya, ribuan perempuan harus terbang ke Inggris untuk melakukan aborsi serta banyak dari mereka yang harus membeli pil dari internet untuk aborsi, yang dianggap sebagai pil terlarang di negeri ini.

Tak seperti di Indonesia yang memperkenankan aborsi ketika kondisi ibu terancam, di sini aborsi dalam kondisi apapun tak diperkenankan. Maka, ketika perempuan-perempuan mengalami kehamilan bermasalah, di mana fetus yang berada di kandungan mereka memiliki ketidaknormalan, mereka tak bisa mendapatkan pertolongan di sini. Salah satu kasus yang ramai memicu perubahan kondisi ini adalah kasus Savita yang sekilas pernah saya bahas di tulisan saya pada hari perempuan. Link tulisan ini akan saya sertakan di akhir artikel ini.

Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Irlandia memanas. Negara ini terbagi dua, sebagian orang berada dalam posisi Yes, atau Tá dalam bahasa Irlandia. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan perubahan, supaya para perempuan bisa memutuskan apa yang mereka bisa lakukan terhadap tubuhnya. Jika pemilih Yes ini menjadi mayoritas dan menang, maka amandemen ke delapan yang berada di konsitusi negara (iya, di dalam konstitusi sodara-sodara) akan dihapus. Akses aborsi akan dibuka hingga usia 12 minggu, atau jika di atas 12 minggu ketika kondisi ibu tak memungkinkan dan ada persetujuan dari setidaknya 2 tenaga medis.

Perubahan ini tak diinginkan oleh mereka yang berada di sisi kampanye No. Mereka, termasuk institusi keagamaan (dalam hal ini gereja), aktif berkampanye untuk menyelamatkan amandemen ke delapan ini (di sini sebut sebagai the eight amandement). Jika mereka menang, artinya tak akan ada perubahan. Perempuan-perempuan yang mengalami masalah dengan kandungan, harus pergi ke Inggris, bayar ongkos pesawat, melakukan aborsi, kembali lagi ke Irlandia (kadang mengalami pendarahan di dalam pesawat), lalu kembali ke Inggris lagi untuk mengambil kremasi bayi mereka.

Panasnya situasi ini juga merambah hingga ke Google dan Facebook. Google membuat policy untuk tidak menerima iklan terkait dengan referendum, sementara Facebook hanya menerima iklan yang berasal dari Irlandia. Isu aborsi ini memang menjadi isu penting bagi banyak negara lain, utamanya dengan gereja.

Dari pantauan saya di jagat maya dan juga dari lingkungan teman-teman, kelompok Pro Choice, atau Yes Campaigner, nampaknya banyak diperlakukan tak baik karena pilihan mereka. Ada beberapa orang yang diludahi ketika mereka mengenakan pin bertuliskan Yes. Meja kampanye mereka juga diporak-porandakan oleh pendukung kampanye No.

Saya sendiri, dipanggil pembunuh bayi. Padahal saya tak pernah membunuh bayi manusia. Panggilan ini muncul karena pilihan untuk menjadi pro choice, karena pilihan untuk mempercayai perempuan dan menginginkan perempuan memutuskan hal yang terbaik bagi tubuh mereka. Agaknya menjadi perempuan itu memang tak pernah mudah, dikala memutuskan untuk melakukan aborsi, dituduh pembunuh bayi, tapi ketika memutuskan untuk melanjutkan kehamilan juga tetap dihujat karena memiliki kehamilan di luar perkawinan. Semuanya salah.

Satu hal yang orang seringkali lupa, memutuskan untuk menggugurkan bayi adalah keputusan yang tak akan pernah mudah, bagi siapapun. Jikalau kemudian perempuan memutuskan untuk melakukan itu, kita harus percaya bahwa keputusan itu sudah didahului dengan pertimbangan matang-matang. Tentunya, sebagai penonton dari luar, kita tak pernah tahu pergulatan batin mereka ketika kemudian mereka memutuskan hal tersebut. Who are we to judge them, apalagi nuduh-nuduh dosa dan rentetan panjang penghujatan lainnya? 

Dari beberapa hari ini, jagat twitter diramaikan dengan hashtag #HomeToVote. Beberapa orang-orang Irlandia terbang kembali dari Canada, Hanoi, Swedia, untuk mendukung perempuan-perempuan di Irlandia. Penerbangan mereka tentunya bukanlah penerbangan yang susah, mengingat ribuan perempuan Irlandia harus terbang ke Inggris, dalam kondisi pucat, kesakitan, tubuh dan hatinya berdarah karena harus kehilangan bayi mereka.

Sebagai pemegang paspor hijau, saya hanya bisa melihat dari kejauhan riuhnya voting amandemen ini. Tapi dalam lubuk hati terdalam saya, saya berharap hari ini perempuan menang. Semoga kiranya pilihan itu tersedia dan perempuan Irlandia tak perlu melakukan perjalanan jauh lagi.

Good luck Ireland, Tá, Tá, Tá!!

xx,
Tjetje

Baca juga: Perempuan dan Aborsi

Warna-warni Forum Internet

Suka ikutan forum-forum di internet atau group di media sosial? Saya mengikuti beberapa group dan forum seperti ini. Dari beberapa group yang saya ikuti, beberapa bermanfaat, tapi ada pula yang manfaatnya tak ada dan hanya jadi forum orang ngobrol tanpa jelas arahnya.

Ada beberapa hal menarik yang bisa juga menjengkelkan yang saya lihat dari berbagai group. Pilihan untuk menjadikan ini menarik atau menjengkelkan memang tergantung bagaimana kita melihatnya dan beberapa di antaranya saya rangkum di sini:

Tukang males cari informasi

Sebenarnya gak hanya di grup sih, orang malas kayak gini ada di mana-mana. Padahal sudah ada teknologi yang bisa membantu mencari informasi dengan kata-kata kunci. Contoh paling sederhana, nanya di forum gimana cara perpanjangan sebuah dokumen. Nah, informasi untuk perpanjangan itu sudah ada di website resmi dan juga pernah dibahas berkali-kali di pos sebelumnya. Pos sebelumnya memang sudah tenggelam dalam lautan diskusi, tapi kalau rajin, bisa dicari dengan bantuan kolom search. Kasihan lho para insinyur yang bikin fungsi itu kerjanya bikin fungsi gak gampang, gak dipakai pula.

Tukang kepo

Pada dasarnya semua manusia itu kepo, pengen tahu tentang segala sesuatu. Tapi ada tempat, ada waktu dan ada cara untuk melakukan hal ini. Di sebuah forum kelompok orang yang berada di satu wilayah, serta di sebuah forum perkawinan lintas bangsa saya seringkali menemukan hal seperti ini. Yang pertama di forum berbasis wilayah saya menemukan orang bertanya bagaimana ceritanya netizen berada di forum tersebut berada di lokasinya masing-masing. D’oh…tolong lah ya, keponya gak bisa disimpan di rumah aja apa ya. Jaman sekarang orang pindah ke luar negeri itu bukan sebuah hal yang aneh lagi. Ada yang kerja, kawin, sekolah, ada pula yang lagi liburan panjang atau mengikuti pasangan yang kerja atau sekolah. Kok ya reseh pengen tahu.

Di forum perkawinan lintas bangsa sendiri banyak yang suka menanyakan soal pertemuan dengan pasangan. Cerita perkawinan lintas bangsa itu macam-macam, tapi gak jauh-jauh dari ketemu waktu kerja, sekolah, liburan, situs jodoh, dikenalin temen dan lain-lain. Cerita pertemuan perkawinan lintas bangsa itu sebenarnya sama saja seperti cerita perkawinan satu bangsa, cuma herannya banyak banget yang kepo tapi tak pernah nanya hal serupa kepada pelaku perkawinan satu bangsa.

Harus Jawab

Yang model seperti ini banyak banget. Pertanyaan sudah dijawab dengan jelas dan gamblang oleh orang lain, bahkan sudah dijawab dari beberapa hari lalu. Udah basi lah ya pertanyaannya, tapi masih ada pengen jawab. Mending gitu kalau jawabannya informasi baru, jawabannya informasi yang sama diulang lagi. ya kali, ini kan bukan kuis yang pertanyaan sama harus dijawab ratusan kali. Model orang kayak gini gak mau repot-repot baca komentar-komentar sebelumnya, langsung nyamber aja dan menuh-menuhin notifikasi. Clearly, saya agak gemes kalau lihat yang model gini.

Jawaban Gak Nyambung
Tukang jawab nggak nyambung ini biasanya motifnya sama dengan orang yang harus jawab. Pokoknya harus nimbrung aja biar keliatan berkontribusi. Pertanyaan gimana cara ganti oli Mini Cooper, eh dia ngasih jawaban nggak tahu, tapi ngasih cara ganti oli honda bebek. Di forum kawin campur ini sering terjadi, biasanya nanya cara kawin di sebuah negara dan akan dijawab dengan cara kawin di negara lain-lain. Kasihan baca ginian, karena yang nanya jadi kebanyakan informasi.

Yang model ini lebih seru lagi. Pertanyaan beli telur bebek di kampung A di mana, tiba-tiba nyamber paling pertama ngasih tahu beli telur di warung sebelah, salah pula jawabannya dan ternyata orangnya gak di kampung itu, ya capek deh ya. Model-model orang yang sok tahu tapi gak punya konteks ini banyak banget, biasanya jawabannya berdasarkan kebiasaan di mana orang tersebut berada, atau hasil google kilat.

Penegasan Melakukan Hal Ilegal & menawar aturan

Nah ini favorit saya. Orang-orang yang mencari dukungan bagaimana melakukan hal ilegal. Orang-orang model gini biasanya sudah tahu aturan dan sudah baca, tapi terbawa kebiasaan menawar. Jadi aturan 10, nawar minta jadi 5. Masalahnya, mereka nawar dengan orang yang salah, di forum yang ramai pula. Jadilah makin ramai dan makin kocak lihatnya.

Seperti saya tulis di atas, tak selamanya orang-orang ini mengesalkan, kadang bisa jadi hiburan murah meriah. Pilihan kita untuk menjadi sebal, atau tertawa melihat hal-hal seperti ini. Mungkin malah beberapa dari kita bersalah atas hal-hal di atas. I certainly do, sometimes.

Kalian, punya pengalaman berinteraksi dengan yang aneh-aneh di forum?

xx,
Tjetje