Gaslighting

Bicara soal orang-orang narsistik tak akan bisa lepas dari gaslighting. Sebuah bentuk manipulasi psikologi yang belakangan ini makin populer karena banyak dibahas dimana-mana. Termasuk di lagunya Taylor Swift, All Too Well.

Definisi

Secara sederhana, gaslighting saya rangkum sebagai manipulasi psikologi oleh orang-orang narsistik untuk bikin korbannya meragukan dan menyalahkan diri sendiri. Inti dari gaslighting ini, emosi, kata-kata dan pengalaman korban diputarbalikan. Akibatnya si korban jadi menyalahkan diri sendiri.

Gaslighting bisa terjadi dimana-mana, termasuk di tempat kerja, keluarga, pasangan, atau bahkan dengan teman. Bentuknya macam-macam, bisa kebohongan, penyangkalan, atau dalam bentuk hal-hal bahaya lain yang destruksif dan kejam. Saya bilang kejam karena dampaknya secara psikologi cukup dalam dan panjang.

Tujuannya utama dari gaslighting ini satu, untuk bikin korban diam. Gaslighting sendiri teman dekat banget dengan silent treatment, sebuah mekanisme untuk menghukum dan mempermalukan korban narsisme yang pernah saya bahas di sini.

Contoh gaslighting

“Aduh maaf ya kalau kamu berpikir aku menyakiti kamu”.
“Kamu sih terlalu sensitif”.

Contoh pertama kejadian dimana-mana, termasuk waktu Zara dapat backlash soal promosinya yang gak sensitif (no pun intended). Alih-alih mengakui kesalahan, atau minta maaf, yang salah adalah pikiran korban. Sementara, di contoh kedua, yang salah adalah perasaan korban. Intinya, yang salah si korban.

Patut diingat, para tukang gas narsis ini empatinya rendah atau bahkan gak ada. Berdiri di depan kaca sambil evaluasi diri sendiri pun tak bisa, apalagi minta maaf. Aware dengan diri sendiri itu bagi orang-orang ini sangat menyakitkan, kenapa? Karena mereka mesti mengakui kesalahan. Sementara balik lagi ke nilai orang narsis, mereka menggambarkan diri sebagai orang-orang yang sempurna.

Nekat keluar dari lingkaran setan ini juga gak mudah. Ambil contoh nekat mengakhiri hubungan beracun seperti ini. Biasanya gaslighter ini akan dibela oleh sesamanya (fellow gaslighter), yang mempertanyakan kenekatan keluar, lalu menyalahkan korban karena keluar dari hubungan dan tentunya menyalahkan korban karena tak menyelesaikan masalah. Padahal biasanya si korban didiemin (silent treatment) dan diisolasi. Ketika mau menjaga kewarasan digaslight lagi. Lingkaran setan.

Lalu, untuk menyempurnarkan gaslighting, disuruh let it go.

“As one of my interviewees put it: gaslighting breathes on isolation.”

Paige Sweet, PhD



Penutup

Manusia itu kompleks dan gak harus cocok dengan manusia lainnya. Wajar kalau manusia berkonflik, dengan diri sendiri pun kadang berkonflik. Tapi diinget-inget ya, gaslighting bukan bentuk konflik. Ini bentuk kontrol atau manipulasi orang lain. It’s sickening.

Kalau kalian mengalami gaslighting, segera cari jalan keluar. Lari sekencang-kencangnya karena dampak gaslighting (apalagi ditambah dengan isolasi dan pengucilan) sekali lagi panjang dan bermacam-macam. Yang jelas menciptakan luka dan trauma mendalam, berdampak pada kesehatan jiwa, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk berhubungan dengan manusia lainnya. Sekejam itu.

Kalau kalian pelakunya, basically tukang bully, who the hell hurt your head? Damn, go get a help!

Selamat berakhir pekan, semoga kalian semua dikaruniai hubungan yang sehat dan tidak melibatkan silent treatment, isolasi apalagi gaslighting.

xoxo,
Tjetje

Masih tentang Narsistik

Tiga tahun yang lalu, saya pernah menulis tentang narsistik yang bisa dibaca di sini serta soal silent treatment yang merupakan contoh manipulasi narsisme di sini. Tulisan tersebut membahas beberapa indikasi narsisme yang saya lihat dan alami dari lingkaran saya. Melepaskan diri dari pergaulan dan lingkungan yang penuh dengan racun narsisme, ternyata tidaklah mudah dan perlu proses sangat panjang.

Disclaimer dulu bahwa saya bukan pakar kesehatan, apalagi kesehatan jiwa. Saya cuma blogger mood-moodan yang hobi merhatiin kelakuan orang lain dan suka baca-baca buku psikologi. Tulisan ini berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya.

Definisi saya

Saya mendefinisikan orang-orang narsis sebagai orang yang merasa dirinya teramat sangat penting dan tak berempati. Mereka haus akan perhatian, sangat kompetitif dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Pedenya setinggi langit, tapi sebenernya sensi luar biasa dan gak bisa dikritik. Orang narsis ada yang teramat sangat jelas narsisnya, tapi ada pula yang terselubung. Dua-duanya, buat saya, sama berbahayanya, karena mereka merusak jiwa dan nilai diri kita.

Bahayanya

Berdasar pengalaman saya, ketika pergaulan kita diwarnai dengan narsisme, pergaulan jadi sangat beracun. Gak ada ceritanya bisa cerita tentang satu hal tanpa ada kompetisi, soal ini pernah saya ulas di sini. Siapa yang diajak kompetisi? Dari teman, keluarga, pasangan, mantan pasangan hingga mantannya pasangan. Pendeknya: semua orang.

Mereka perlu kompetisi ini karena perlu validasi. Mereka juga tak segan menunjukkan kecemburuan atas keberhasilan kita menukarkan baseball cap dengan crown. Bergaul dalam lingkungan yang penuh kecemburuan ini sangatlah tidak menyenangkan. Ada banyak kepalsuan dan kita harus terus-menerus berhati-hati jika bercerita tentang apa saja dalam hidup, terutama yang berkaitan dengan berita baik dan pencapaian. Salah cerita, malah menyulut kecemburuan.

Gimana kalau kemudian mereka kalah dalam kompetisi? Syukur-syukur kalau cuma dikasih muka kecut atau cuma dikasih eye rolling. Mereka bisa nasty, kejam, tak segan bentak-bentak atau bahkan mempermalukan kita. Pada tahap yang ekstrem, kita bisa dikucilkan dari pergaulan. Ini jadi sebuah peringatan untuk yang lain, jangan macam-macam, kalau macam-macam, bisa berakhir dikucilkan. Lha sing waras sopo?

Para narsis ini juga gak segan untuk take, take, take, kalapun mereka give, tujuannya supaya terlihat baik, dapat pujian dan sekali lagi dapat validasi. Gak ada yang tulus dari pergaulan dengan mereka. Semuanya dikalkulasikan dengan baik, untuk kepentingan mereka.

Orang narsis punya empati yang sangat rendah dan sangat menyukai drama. Kalau masih muda dan punya banyak tenaga untuk main drama sih monggo. Masalahnya, semakin bertambah usia kita, semakin males berurusan sama drama (kecuali K-drama tentunya). Energi harus disimpan sebaik mungkin supaya diri tak jadi lelah jiwa. Kalau sudah lelah jiwa, isi kepala dan hati bakalan semrawut semua.



Penutup

Pengalaman saya menyadari pergaulan toxic itu bukanlah sebuah hal yang mudah. Perlu waktu dan kesadaran untuk mengurai penyebab lelah jiwa. Bagi saya, indikasi lelah jiwa itu bisa dilihat dari efek setelah nongkrong. Jiwa melelah tak dapat asupan intelektual, lalu energi level drop, tak bisa segera kembali walaupun didongkrak dengan aneka vitamin dan suplemen. Perlu beberapa hari untuk normal kembali.

Begitu sadar diri terinjak-injak, ada proses untuk melepaskan diri. Bisa melepaskan perlahan-lahan, atau cara paling ekstrem, cut them loose. Pada akhirnya ini kan racun, kalau jiwa terpapar racun begitu lama, ya harus disegeraan diputus supaya racun tak merambat kemana-mana. Langkah selanjutnya, detoks diri, atau meminjam istilah generasi jaman sekarang, perlu healing.

Orang-orang narsistik bergaul untuk mendapatkan empati dan validasi. Mereka bisa ditemukan di mana saja. Dalam pergaulan keseharian, dalam kehidupan perkantoran, bahkan dalam hubungan percintaan. Teruntuk kalian yang bergulat dengan orang-orang narsis dalam hidup, semoga kalian bisa segera keluar dari hubungan penuh racun ini.

Kalian, pernah bergulat dengan orang narsis?

xoxo,
Tjetje



Pesta Lajang

Di Amerika (dan di Indonesia), pesta ini disebut sebagai bachelorette party, sementara di daerah Inggris dan Irlandia, pesta ini sebut sebagai hen party. Jangan diterjemahkan menjadi pesta ayam, karena ayam berpesta, bisa diartikan lain lagi.

Di Indonesia, pesta lajang ini seringkali berupa staycation di hotel bintang lima yang ditemani ngerumpi sampai pagi. Calon pengantin perempuan dan sahabat-sahabatnya, kemudian mengenakan baju kembar, pergi minum teh, makan malam bersama, atau bahkan spa rame-rame. Ongkos pesta, tergantung, bisa ditanggung teman-teman, tapi tak jarang ditanggung sang pengantin yang berbagi kebahagiaan.

Di Irlandia, biasanya, salah satu teman dekat pengantin akan didaulat untuk mengatur pesta. Seringkali tema pesta ini dirahasiakan dari sang pengantin, untuk memberi elemen kejutan. Si calon pengantin cukup memberikan daftar nama orang-orang yang akan diundang ke perkawinan serta nomor telpon genggam. Setelah itu, grup Whatsapp akan dibuat (atau di masa lalu pakai email). Biasanya, yang diajak adalah teman-teman dan anggota keluarga perempuan, termasuk ibu dan calon ibu mertua si pengantin.

Perlu dicatat, tamu yang tak diundang ke pesta perkawinan, tak perlu diundang ke pesta lajang. Malah aneh dan tak elok kalau mengundang orang-orang yang tak diundang ke pesta perkawinan. Di sini, bukanlah hal aneh jika perkawinan hanya mengundang teman-teman terdekat. Teman-teman yang tak dekat, atau hanya sekedar kenalan, tak perlu diundang. Ongkos menghadiri perkawinan soalnya tak sedikit, dan tak jarang orang enggan menghadiri perkawinan jika tak kenal dekat dengan calon pengantin.

Bicara soal ongkos, ongkos pesta ini ditanggung ramai-ramai dan calon pengantin tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Ongkos hotel, restauran, seragam, minum, kostum, alat-alat untuk permainan, bahkan biaya perjalanan akan diperhitungkan di depan, lalu dibagi jumlah orang yang konfirmasi akan datang ke pesta tersebut. Jumlah saweran sangat bergantung dari aktivitas pesta, berapa hari, serta dimana pesta tersebut dilangsungkan (di dalam kota, di luar kota, atau bahkan di luar negeri).



Apa saja aktivitas pesta lajang ini? Spa barengan, makan di restauran, minum ke beberapa bar (ini kalau beruntung bisa keliling bar, karena satpam bar biasanya gak suka dengan kerumunan pesta lajang) kemudian lanjut dugem. Ada pula aktivitas yang memerlukan fisik, seperti naik sepeda keliling kota (sambil minum alkohol) atau bahkan aktivitas belajar menjahit bersama nenek sambil diberi wejangan perkawinan. Selain aktivitas ini juga ada permainan-permainan (yang seringkali melibatkan cerita dari ranjang). Selain untuk fun, juga untuk mengenal teman-teman calon pengantin.

Kunci dari suksesnya pesta ini ada di orang yang ditunjuk untuk mengatur acara. Mesti tahu gimana caranya ngatur anggaran dan memastikan pesta ini gak jadi terlalu mahal dan bisa memastikan fokus aktivitas ke pengantin dan tentunya bisa memastikan semua orang termasuk lintas generasi bisa menikmati acara. Termasuk memastikan aktivitas yang sesuai dengan kapasitas jantung para tante, ibu atau calon mertua sang pengantin.

Penutup

Menghadiri pesta lajang ini tak wajib, yang lebih penting tentunya menghadiri pesta perkawinan. Apalagi biaya pesta ini seringkali tak murah, perlu beberapa ratus Euro dan menjadi biaya tambahan ekstra dari ongkos menghadiri perkawinan. Jika ongkos saweran pesta dirasa terlalu mahal, orang juga bisa menolak hadir. Konsekuensi ketika ada orang-orang yang tak bisa hadir, tentunya, saweran bagi yang hadir akan meningkat, karena bilangan pembagi mengecil.

Kalau boleh memilih, saya lebih suka konsep pesta lajang model malam midodareni. Lebih seru dan seluruh keluarga berkumpul. Bagaimana dengan kalian, suka menghadiri pesta lajang?

xoxo,
Tjetje

Pinjam Saldo

Beberapa tahun lalu, ada salah satu orang pembaca blog yang menghubungi saya lewat Instagram. Ia mengirim pujian. Komunikasi ini kemudian tidak berlanjut hingga dua hari lalu.

Mbak IG ini mengaku namanya Aprillia, tapi saya yakin ini nama palsu. Tak ada angin tak ada hujan, tak tanya kabar, tiba-tiba menanyakan apakah saya punya M- banking. Yang dilanjutkan dengan pertanyaan apakah ada saldo sebesar 550ribu rupiah. Saya jawab saja “Oh kalau 550 juta sih ada”.

Rupanya ia tak terpancing untuk jadi tamak & mengutarakan niat meminjam saldo 550 ribu saja untuk bayar belanjaan online. Bahasa baru, pinjam saldo. Dan ia pun memberi nomor rekening milik Ika. Lha dari Aprillia jadi Ika. Tak lama setelah mengutarakan niat pinjam uang, akun ini berganti nama hingga beberapa kali. Ah Instagram…

Singkat cerita, saya tak meminjamkan satu sen pun. Wong saya ini anti dipinjemin duit. Anti pakai banget & ini selalu saya gembar-gemborkan kemana-mana. Bahkan sempat saya tulis di blog tahun 2016 lalu ketika saya membahas tema hutang.

Saya mengkategorikan orang yang pinjam uang menjadi dua: kepepet tak punya uang karena kondisi ekonomi yang lemah, atau karena tidak bisa mengatur keuangan.

Tukang pinjam uang yang paling menarik buat saya adalah orang yang tak bisa mengatur keuangan. Orang-orang ini, berdasar pengalaman saya, biasanya punya pekerjaan, terlihat glamor, dari rambut yang mengalahkan gadis Sunsilk, kuku yang dipoles cantik, kendaraan mewah, hobi nongkrong di tempat-tempat gaul, dan gaya hidup lainnya yang dianggap wah. Pendeknya, mereka tak pernah kelihatan tak punya beras.

Karena penampilan mereka yang begitu glamor, punya penghasilan, otomatis mereka dianggap sebagai orang-orang yang bisa dipercaya. Jadi ketika si glamor datang meminjam uang, banyak yang tak keberatan, karena mereka dianggap punya kemampuan untuk membayar.

Di sinilah kemudian bencana terjadi. Pinjam uang jumlah kecil, tak kunjung kembali. Mau nagih, seringkali uang yang dipinjam recehan, seharga beberapa gelas kopi. Sekalinyanagih, disuruh nunggu tanggal gajian. Mau maksa nagih, gak enak sendiri. Btw, uang yang dipinjam tak selalu kecil ya; orang yang dianggap berada, biasanya dipinjami uang dengan jumlah lebih besar. Apes mah kalau gini.

Hobi meminjam uang yang bermula dari ketidakbisaan mengatur gaya hidup dan anggaran ini biasanya parah. Target yang dipinjami pun tak hanya satu, tapi banyak orang. Bahkan kadang mereka tak malu meminjam uang pada orang yang baru dikenal.

Penutup

Orang-orang yang saya bahas di atas, meminjam uang untuk gaya hidup. Bukan karena kepepet tak punya secangkir beras di rumah. Ada standar gaya hidup tertentu yang mereka mau tunjukkan pada dunia, supaya reputasi dan keglamoran mereka bisa terdongkrak. Tapi dibalik glamor palsu itu, ada rekening bank yang menjerit, tiang yang terinjak pasak, gali lubang, tutup lubang. Pinjam uang kemana-mana.

Tak lupa ada bisik-bisik tentang kepalsuan yang dibarengi dengan rasa kasihan. Kadang bisik-bisik ini melintas hingga antar negara. Apalagi kalau ada yang menjerit sakit karena uangnya tak dikembalikan. Akhirnya, daripada terlalu sakit, memilih untuk merusak reputasi si glamor. Padahal, dunia sudah tahu.

Kalau sudah kaya gini, mendingan kayak saya, prinsip banget gak minjemin duit kemana-mana, tidak satu sen pun. Gpp dibilang pelit, yang penting tak ada yang pinjam 100, apalagi pinjam saldo 550.

Gimana, udah dibalikin duit kalian?

Junkie

“Hati-hati ya, di Dublin banyak junkie yang suka minta duit. Kalau dimintain duit mereka, jangan kaget”. Wejangan ini saya berikan pada salah satu teman blogger yang beberapa waktu lalu mengunjungi Dublin. Teman blogger saya menjawab dengan santai, kalau soal junkie, di Perancis, tempat ia tinggal, juga punya masalah yang sama. Ah Eropa dengan drug problemnya…


Di negeri kita, di Indonesia, pengguna narkoba dan pengedar obat hukumannya tak main-main. Di Irlandia, hukuman pengedar (bukan pemakai), relatif lebih santai. Apalagi kalau yang mengedarkan narkoba tersebut anak-anak remaja di bawah umur yang tak bisa mendapatkan catatan kriminal karena usianya. Tak heran kalau Irlandia masuk menjadi top 4 negara pengguna kokain terbesar di dunia.

Penggunaan narkoba di negeri ini merajalela dan menariknya, sangat dinormalisasi. Bukan sekali dua-kali, saya mendengar orang lokal dan juga diaspora menormalisasi penggunaan narkoba dan menawarkan secara gratis. Sekali aja yang gratis, kalau pengen lagi tentunya harus beli. Narkoba itu tak murah. Jadi ya gak heran kalau penggunanya kemudian membiaya gaya hidupnya dengan cara berdagang lagi, atau kalau untuk weed, nanam sendiri di rumah. Prinsip dagangnya, kasih gratisan dulu biar suka, lalu bikin ketagihan.

Bicara narkoba, ada aneka macam, aneka level. Dari yang paling umum, cannabis, marijuana, atau bisa disebut weed. Di negeri ini, bau weed ini dimana-mana. Baunya gak enak dan cenderung nempel. Ada pula obat-obat yang perlu resep dokter, macam codeine, tramadol, atau yang bikin banyak orang jadi seperti zombie, fentanyl.

Kalau soal narkoba yang keras, macam kokain, banyak diselundupkan lewat Irlandia. Tahun kemarin, ada 60 kilo ditemukan terdampar di pantai di Irlandia. Kalau bocor di laut, para ikan-ikan pun party dan high. Perdagangannya pun juga marak, dimana-mana. Menariknya, mereka yang makai, bisa dengan mudahnya mengenali pemakai lain untuk dapat stok. Ini kejadian sendiri di pub lokal saya, ada visitor dari negeri sebelah, pemakai, masuk pub, langsung nyapa pemakai lain untuk beli barang.

Pengguna narkoba di sini aneka lapisan masyarakat, dari yang profesional hingga kerah biru. Bisa pakai secara rutin tiap hari, tiap minggu, atau sesekali kalau lagi pesta. Mereka juga tak pandang bulu, dari masyarakat perkotaan hingga masyarakat desa di kampung-kampung. Makainya, bisa di rumah, atau bahkan di kamar mandi pub. Di kampung saya, gak sekali dua kali janitor nemu bungkusan bubuk putih jatuh di kamar mandi.

Ngomongin dampak narkoba mah gak ada abisnya, tapi namanya udah ketergantungan juga siapa yang peduli? Kesehatan hancur, kulit kusam, gigi rontok, badan mengurus, napsu makan hilang, duit juga abis. Makai narkoba di rumah juga membuat keluarga dan anak menormalisasi penggunaan narkoba. Lingkaran setan, di masa depan anak-anak ini mungkin tak akan segan untuk menggunakan narkoba.

Soal duit mah gak usah dibahas lagi, abis. Habis. Contoh konkret tetangga saya (ngegosip tetangga). Duit abis dipakai beli obat. KPR rumah engga kebayar, padahal di sini dapat KPR itu setengah mati dan proses penyitaan rumah itu bisa bertahun-tahun. Hubungan percintaan hancur, karena pasangannya tak mau berurusan dengan pemakai narkoba. Lalu, nyetir dalam kondisi high, mobilnya tabrakan, masuk ke got. Mobil yang dipakai buat kerja ini pun hancur. Tenang, cerita tragis ini berakhir dengan agak baik. Para tetangga yang baik, urunan rame-rame buat beliin mobil lagi, supaya bisa balik kerja lagi.

Penutup

Memahami pengguna narkoba itu tak mudah, ada banyak masalah psikologis di belakangnya dan sang pengguna biasanya perlu bantuan. Alih-alih menyelesaikan masalah psikologis, narkoba ini kemudian digunakan sebagai media untuk melarikan diri dari masalah atau rasa sakit yang dihadapi. Di sini, melarikan diri dari masalah itu tak hanya lewat narkoba, tapi juga lewat alkohol. Nanti kapan-kapan saya bahas soal alkohol ya.

Gak membantu juga kalau kemudian lingkungan sekitar, seperti pasangan, menjadi enabler. Memfasilitasi dan mensupport addiction ini. Padahal ekonomi lagi sulit, harga beras aja naik, apalagi harga narkoba. Tapi dengan dukungan enabler, addiction juga bisa jalan terus.
Kalau sudah begini, mereka yang sebenarnya perlu pertolongan ini malah semakin terjerumus dan semakin tergantung pada narkoba. Bubrah…namanya juga lingkaran setan.



Emas

Sedari kecil saya sudah dikenalkan dengan emas dan tabungan emas. Dalam bahasa saya, menyimpan emas itu aman, tanpa deg-degan karena nilainya yang cenderung stabil, terus melaju seiring dengan inflasi. Kebiasaan ini terpatri dengan kuat dan ketika kali pertama magang, dapat honor, hal pertama yang saya lakukan adalah pergi ke pasar. Beli emas.

Emas merupakan logam mulia. Nilainya jauh lebih berharga ketimbang perak dan bisa dengan mudah dibeli. Di Indonesia, perhiasan emas cukup populer dan sering menjadi bagian dari harta yang diwariskan. Dari ibu ke anaknya, atau dari nenek ke cucu-cucunya. Sentimentalnya dapat, nilainya pun masih ada. Tak hanya warisan, emas juga dapat menjadi hadiah ataupun token ucapan terima kasih.

Suvenir perkawinan dan ucapan terima kasih karena menghadiri perkawinan. Hadiah untuk pengantin. Hadiah ulang tahun. Hadiah untuk bayi yang baru lahir (biasanya bayi perempuan), atau bahkan hadiah natal. Lebih menyenangkan ketimbang parfum ataupun barang bermerek yang nilainya langsung anjlok.

Emas juga bisa menjadi tabungan. Saya cenderung menyebutnya sebagai tabungan ketimbang investasi, karena nilai emas tidak akan tumbuh tinggi seperti ketika kita investasi saham. Soal menabung ini, bukan sekali dua kali saya mendengar cerita teman yang orangtuanya membeli rumah dengan menabung emas. Ketika punya uang, membeli emas sedikit demi sedikit. Lalu ketika sudah cukup, dijual untuk dibelikan rumah. Emas yang dibeli tentunya emas tua, yang karatnya tinggi, ataupun emas batangan 24 karat. Bukan emas muda, apalagi emas sepuhan.

Membeli perhiasan emas, walaupun “sedikit merugi” jika dibandingkan emas batangan, karena nilainya terpotong ongkos membuat perhiasan, juga memberi kesempatan untuk bisa bergaya. Jika ingin melihat mereka yang memamerkan emasnya, jalan-jalan saja ke tukang daging di Pasar Besar Malang. Banyak pedagang daging yang dibalut aneka perhiasan emas, berpuluh atau beratus gram. Jangan lupa pakai kacamata hitam, karena silaunya tak karuan.

Emas tak hanya digunakan sebagai tabungan, tapi juga sebagai mas kawin. Di Aceh (paska-tsunami 2004, saya sering mondar-mandir ke Aceh untuk urusan pekerjaan), gadis-gadis yang menikah biasanya dilamar dengan emas. Satuannya mayam. 1 mayam kurang lebih 3,3 gram emas. Mas kawin yang diberikan beraneka mayam, bisa puluhan, bahkan ratusan. Rekor tertinggi yang saya dengar ketika saya ke Banda Aceh 100 mayam. Konon pengantinnya cantik dan berpendidikan tinggi. Waktu itu, jumlah mayam ini jadi talk of the town, karena nilainya cukup besar.

Perhiasan emas Aceh sendiri bagi saya masih jadi perhiasan emas yang pengerjaan dan kualitasnya bagus. Ini saya bandingkan dengan emas di Jawa ataupun emas di Bali. Bagi saya, tak lengkap rasanya kalau ke Banda Aceh jika tak mengunjungi Keuchik Leumiek, toko emas yang bikin tak mau pulang. Konon saya dengar emas di Sulawesi juga punya kualitas yang sama. Tapi kaki yang sudah beberapa kali melangkah di Sulawesi ini, belum sampai ke toko emas.

Di Eropa sendiri tradisi emas tak seperti di Indonesia. Emas yang dijual seringkali emas muda dan harganya mengalahkan harga emas murni. Tentu saja yang mereka jual di sini gengsi serta merek. Tak lupa bungkus yang cantik dan bisa dipamerkan di media sosial. Tak seperti bungkus emas dari pasar yang jeleknya tak karuan. Tak percaya, coba tengoklah merek Van Cleef atau Bulgari, yang emasnya hanya 18 karat, sementara harganya cukup tinggi. Dengan harga ribuan Euro ini, di pasar bisa dapat berpuluh, atau ratus gram emas. Dan jika ke pasar pun, mereka punya versi KW perhiasan bermerek ini dengan karat yang lebih besar. Kocak!

Bukan emas, tapi harganya di Eropa bisa seperti emas.

Tradisi menyimpan emas sendiri bukan hanya tradisi Indonesia. Ada banyak penduduk negara lain yang gemar menyimpan perhiasan emas. Tak heran kalau kemudian pelajar-pelajar di daratan Eropa sering membawa emas untuk dijual di Eropa, pada komunitas imigran yang punya kultur menyimpan emas. Lumayan, untungnya bisa digunakan untuk uang saku!

Di Eropa sendiri menabung emas bisa dilakukan dengan mudah. Tapi, tak semua negara punya opsi ini. Berdasar pengalaman saya, Swiss adalah negara paling menyenangkan untuk menabung emas. Emas batangan tentunya, dari beberapa gram hingga kilo. Belanjanya bisa online dan emas bisa disimpankan di Swiss. Menjual emas yang agak repot di sini, karena tentunya, wajib bayar pajak. Sementara, jika ingin beli emas batangan dengan pilihan gram hingga kilo, tinggal cari saja komunitas Yahudi, seperti di diamond district di Antwerp, Belgia.

Tulisan ini saya buat karena rupanya masih ada yang tak tahu tentang nilai emas dan fungsi emas sebagai bagian dari tabungan. Semoga ke depannya makin banyak yang tahu tentang emas sebagai logam mulia dan bisa menghargai emas. Apalagi jika diberi. Ingat, kalau beli emas, yang tua atau batangan 24 karat ya. Jangan pernah beli emas muda.

Xoxo,
Tjetje

Titipan

Topik ini bukanlah topik baru lagi, sudah berulang kali dibahas beberapa blogger, tapi tetap jadi topik yang bikin banyak orang meradang, kesal dan jengkel. Kebiasaan nitip-nitip ini selain merepotkan, juga bisa dengan mudahnya merusak hubungan pertemanan. Apalagi kalau sifat egois mulai nampak dan merasa punya hak atas bagasi orang lain. Halo…situ ikut bayar bagasi?

Titip kucing satu!

Jatah bagasi ekonomi promo untuk penerbangan internasional sekarang bermula di angka 20 atau 23 kg saja, tergantung harga tiket. Sementara untuk kelas bisnis, bagasi agak longgar, 40 kg. Untuk frequent flyer sendiri ada tambahan bagasi, lumayan ekstra kilo bisa untuk bawa kerupuk. Banyak atau tidaknya jatah bagasi ini sendiri, tergantung dari individu masing-masing. Tapi yang pasti, bagasi ini dibeli dengan keringat dan darah, hasil kerja keras dan tidak gratis.

Titipan ilegal

Saya, ketika masih mau menerima titipan, tidak pernah mau menerima titipan yang dibungkus. Semuanya harus saya buka, tanpa terkecuali. Ini bukan hanya urusan tak percaya dengan penitip, tapi juga urusan tanggung jawab pada pihak cukai jika ditanya.

Nah salah satu barang yang sering dititip adalah rokok, karena harga rokok di Irlandia sangatlah mahal. Untuk antar Eropa sendiri jatah rokok bebas cukai cukup banyak, 800 batang. Tapi dari luar Eropa hanya 200 batang. Dan tentunya ada aja yang nekat minta nitip lebih dari jatah yang diperbolehkan dengan meminta kita bagi-bagi rokok di beberapa tas. Siapa yang nanggung resiko kalau tertangkap? Ya tentunya yang bawa rokok. Kalau sudah ketemu penitip model begini, lebih baik tolak mentah-mentah. Bikin repot dan resikonya tinggi.

Titipan dan pembayaran

Ini model baru, atau setidaknya saya baru kena. Nitip-nitip minta ini dan itu, begitu barang sampai gak dibayar sepeserpun. Kalau berubah pikiran dan minta dikembaliin sih masih okay, duit masih bisa direfund. Ini nitip barang mahal-mahal lalu tak dibayar sepeserpun. Gondok? jelas gondoknya apalagi seringkali titipan-titipan ini tak murah. Tapi ya memang salah sendiri. Ingat ya, kalau dititipin dengan mantra “beliin dulu, nanti guwe ganti” jangan pernah mau. Kalau nitip wajib bayar dulu, gak bisa bayar belakangan.

Titipan tak tahu diri

“Bagasinya banyak, asyik dong, bisa nitip banyak”.

Tukang titip tak tahu diri

Namanya manusia, ada saja yang merasa punya hak atas bagasi orang lain. Nitip minta dibawain A & B, sedikit kok. Eh tahu-tahu yang muncul banyak banget, dari A sampai Z. Tak cukup volume saja yang besar dan bisa menghabiskan seperempat koper, tapi juga datang berkilo-kilo. Saya sudah pernah berulang kali ngalamin hal seperti ini. Awal-awal masih saya bawa, lama-lama barang-barang titipan itu saya tinggalkan di Indonesia, tak saya bawa semuanya. Prioritas urusan bagasi HARUS untuk diri sendiri dan bukan orang lain. Ingat ya, bagasi dibeli dengan keringat dan darah.

Kocaknya, ada yang tak dekat, jarang ngobrol. Begitu tahu kita akan pulang (di sini orang membahas kalau ada orang lain yang akan pulang), mendadak kirim pesan manis dan titip barang untuk keluarganya. Hadiah ulang tahun lah, atau gak bisa dapat di Indonesia lah. Banyak alasannya, padahal barang yang sama bisa di beli di Plaza Senayan atau bahkan Mangga Dua dengan selisih harga yang tak seberapa. Bilang aja gak mau ngeluarin duit, tapi jadi membebani orang lain.

Penutup

Ketika pulang ke Indonesia kemarin, saya sengaja tak woro-woro kemana-mana, kecuali ke keluarga besar dan teman-teman terdekat. Cuma mereka yang saya perbolehkan nitip dan cuma untuk mereka saya rela nyariin semua titipan. Dengan ketatnya aturan cukai Indonesia, menerima titipan itu juga banyak resikonya. Apalagi jika titipannya barang-barang yang nilainya melebihi aturan yang ditetapkan.

Mudik tanpa bawa titipan orang banyak itu menyenangkan. Gak perlu repot ngatur-ngatur pengiriman titipan kesana-kemari layaknya jasa ekpedisi. Atau sibuk ngatur ketemuan untuk ngambil barang-barang titipan. Tentunya, saya juga gak perlu ribet menjelaskan kenapa kembalian ongkos Gojek saya berikan kepada abang Gojek untuk tips. Recehan aja ribut.

Sebelum balik ke Irlandia ada beberapa teman yang nitip dibawakan barang dan dibelikan bumbu. Yang minta bumbu, saya yang memutuskan berapa banyak yang saya mau bawa. Sementara yang nitip barang, sudah saya tanya berapa kilo. Jadi bagasi, bisa diatur tanpa drama. Tentunya, cuma yang spesial saja yang boleh titip 😉

Kamu, pernah punya drama titipan?

Xoxo,

Tjetje

Juga pernah titip bagasi

Tahanan Anak-Anak


Peringatan: tulisan ini membahas kekerasan dan pelecehan seksual.

Beberapa hari terakhir ini, Kompas edisi cetak mengeluarkan artikel-artikel tentang tahanan anak-anak di Indonesia. Saya tidak akan membahas soal tulisan Kompas, tapi akan membahas sekilas, sekilas saja, tentang anak-anak (yang usianya di bawah 18 tahun), hukum dan penjara di negeri ini, Irlandia (Republik ya, bukan Irlandia Utara). Perlu dicatat, tulisan ini tidak untuk membandingkan sistem dari Indonesia dan Irlandia, tapi hanya sekedar untuk berbagi.

Di Irlandia, anak-anak sangat dilindungi. Prinsipnya, memenjarakan anak-anak itu menjadi pilihan terakhir dan sejak tahun 2017, anak-anak yang harus dipenjara tidak dicampur dengan orang dewasa. Saya menyederhanakan perlidungan anak-anak dalam satu kalimat: anak-anak yang melakukan tindakan kriminal remeh tidak tersentuh hukum, dan anak-anak di sini juga tahu tentang hak mereka.

Di sini,anak-anak dimulai dari usia 10 tahun bisa dihukum jika terkait dengan kriminal serius, seperti pembunuhan, pembunuhan tak berencana (manslauhgter), pemerkosaan, ataupun pelecehan seksual yang serius. Proses pengadilan anak-anak ini pun juga tak memperbolehkan publik untuk datang dan melihat.

Lalu, apakah ada kasus pembunuhan yang melibatkan anak-anak? Sayangnya ada beberapa. Di negeri ini, ada dua anak berusia 13 tahun yang tercatat menjadi pembunuh termuda, mereka berdua terlibat dalam pembunuhan anak remaja berusia 14 tahun. Tiga tahun kemudian, anak remaja berusia 17 tahun membunuh seorang perempuan yang berasal dari Mongolia. Ia dihukum seumur hidup, tapi putusan hukum ini akan dilihat lagi ketika ia berusia 28 tahun.



Media

Ketika anak-anak terlibat dengan kriminalitas, misalnya pembunuhan, media di sini sudah ditatar sedemikian rupa untuk tidak membahas nama-nama anak yang terlibat. Biasanya media akan menulis bahwa nama anak-anak ini tidak bisa disebutkan karena alasan hukum.

Ini di media resmi, bagaimana di media sosial? Tetep engga boleh dan kita para pengguna media sosial, sekalipun tahu nama mereka juga tidak boleh menyebarluaskan nama mereka. Dalam sebuah pembunuhan seorang anak remaja yang bernama Ana Kriegel di sini, perwakilan media sosial pernah dipanggil pengadilan karena nama-nama dan foto pelaku beredar di media sosial. Media sosial kemudian harus menghapus informasi nanma dan foto yang disebarluaskan masyarakat.

Bagaimana dengan individu yang menyebarkan? konsekuensinya konon serius, tapi saya belum melihat publik yang dihukum karena melakukan hal tersebut. Tapi di negara tetangga, di Inggris, hal ini sudah diimplementasikan. Hukumannya, percobaan.

Soal ketidakbolehan menyebar nama ini, dalam kasus pembunuhan Ana Kriegel di atas, ketika mereka berusia 18 tahun pun nama mereka tetap tak boleh disebarluaskan. Nantinya ketika mereka keluar dari penjara, mereka akan diberi identitas baru.


Dampak di masyarakat

Kriminalitas anak-anak atau remaja itu di sini bikin pusing semua orang. Apalagi kalau sudah musim liburan, ketika anak-anak tak ada aktivitas dan berakhir dengan nongkrong-nongkrong dan bergerombol. Seperti saya sebut di atas, anak-anak tahu kalau mereka dilindungi hukum dan mereka pun jadi jemawa. Bukanlah hal yang aneh jika kita melihat anak-anak remaja bergerombol lalu menyerang turis, orang lewat, atau pengantar makanan (yang biasanya imigran).

Cerita-cerita soal anak-anak menyerang orang ini tak sekali dua kali saja. Sayangnya saya terlalu sering membaca cerita orang-orang yang diganggu anak remaja, biasanya di sekitaran Dublin. Di kampung-kampung sendiri cerita ini agak jarang (bukan tak ada), karena kampung cenderung kecil dan orang kenal satu sama lain.


Dalam dunia obat-obatan terlarang pun, anak-anak ini juga sering dimanfaatkan oleh para pengedar untuk mendistribusikan obat terlarang. Obat terlarang di sini tak hanya banyak lagi, tapi kalau menggunakan bahasa Malangan, buanyaaaaaak. Menariknya, remaja yang menyebarkan barang-barang terlarang ini (engga semua lho ya), seringkali punya hobi mengenakan jaket merek-merek tertentu. Jaket ini bukanlah barang murah, harganya bisa ratusan hingga ribuan Euro.

Penutup

Dalam beberapa minggu terakhir ini, di Dublin, beberapa turis asing juga diserang oleh anak-anak remaja. Satu turis Amerika bahkan hingga koma ketika diserang tiga anak remaja. Gara-gara tiga anak remaja ini, kedutaan Amerika sampai mengeluarkan peringatan keselamatan untuk warga negaranya.

Berdasar pengalaman saya, Dublin ini termasuk aman, tapi kalau sudah lihat remaja bergerombol, saya mendingan jauh-jauh, karena udah kapok pernah diganggu di angkutan umum, dan engga ditolong.

Terakhir, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa anak-anak nakal ini tak digebukin aja (kayak maling di Indonesia). Balik lagi, anak-anak di sini sangat dilindungi dan orang dewasa tidak dilindungi. Jadi kalau ada pemukulan, yang salah ya tetap yang dewasa. Salah satu teman saya bercerita, tokonya kemalingan, malingnya di bawah umur, dikejar oleh sang empunya toko, dan yang diputuskan bersalah, tentu saja bukan si maling!

Kompetisi Dengan Teman

Mama saya bertutur, di usia matang ini, orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang memiliki teman baik. Tak perlu banyak-banyak, cukup segelintir tapi berkualitas dan bertahan sepanjang usia hidup kita.

Akhir bulan lalu, saya merayakan pertemanan yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade di Paris. Sepulang dari Paris, saya bercerita pada suami betapa bahagianya saya bertemu teman baik. Kaki boleh lelah setelah lebih dari 30 ribu langkah menyusuri jalanan di Paris, tapi hati saya tidak lelah. Suami lalu berujar: dalam pertemanan kami, tidak ada one up-manship. Makanya pertemanan ini awet dan langgeng hingga sekarang.


Definisi dan contoh

Setelah membaca banyak artikel, saya mendefinisikan one-upmanship sebagai persaingan atau kompetisi dengan teman yang tidak sehat. Akar persaingan ini dari keinginan untuk mendapatkan pengakuan serta status sosial. Pendeknya seluruh aspek dalam pertemanan itu dijadikan sebagai sebuah kompetisi dan mereka yang melakukan one up-manship ini selalu merasa harus menjadi nomor satu, harus jadi jawara. Kebutuhan untuk menang ini timbul karena kepercayaan diri yang sangat rendah dan harus didongkrak dengan “hasil dari kompetisi ini”. Akibatnya, pertemanan jadi toxic, muncul konflik dan tentunya suasana pertemanan jadi tak menyenangkan lagi.
Dalam pertemanan, kita sering kali bercerita hal yang baik maupun hal yang buruk. Nah teman yang kompetitif ketika mendengarkan cerita ini sudah langsung menyiapkan cerita tandingan yang jauh lebih spektakuler. Salah satu contoh yang sering muncul jika membahas topic ini adalah tentang Elevenrife. Jika kita bercerita tentang liburan di Tenerife (salah satu pulau milik Spanyol di Afrika), mereka akan bercerita liburan tandingan di Elevenrife. Even if Elevenrife doesn’t exist.



Contoh sederhana lain, sebut saja A. A baru mengadopsi anak kucing, lalu ia bersemangat menceritakan anak kucing dan kelucuannya. Si kompetitif, tak ada keinginan untuk tahu tentang si anak kucing ini, lalu ia sibuk menceritakan tentang anak macan, entah macan tetangga, macan yang akan dibeli, atau macan dalam angan-angan. Yang jelas lebih spektakuler dari si anak kucing.

Mata dan telinga tak boleh memberikan banyak perhatian pada anak kucing karena semua harus ditujukan pada anak macan. Kucing dan macan ini bisa diganti dengan apa saja, dari mulai berita gembira, hingga berita sedih. Iya, berita sedih pun dipakai kompetisi untuk menuai simpati.

Menurut ilmu psikologi, mereka yang kompetitif gak penting gini ini dikarenakan rasa percaya diri yang rendah serta kecemburuan dengan kesukseksan temannya. Ada pula rasa takut kalau dirinya dianggap tak penting, sehingga seringkali mereka harus membual untuk bisa menang dalam kompetisi imajinatif ini.

Tentunya, mereka yang memiliki kepribadian seperti ini seringkali tak sadar tentang ini.

Menyusuri Paris bersama sahabat.

Penutup

Berteman dengan orang yang memiliki kepribadian ini tuh melelahkan sekali. Segala aspek dalam hidup dijadikan bahkan kompetisi. Lagi ngobrol, lagi beraktivitas bareng, tiba-tiba jadi kompetisi, bahkan tak jarang disertai komentar-komentar yang membuat diri sendiri jadi down.

Kalau betah, tentunya hubungan tak sehat ini bisa dilanjutkan. Tak perlu terseret dalam jiwa kompetitif dan biarkan mereka selalu menang. Lalu jadi pendengar yang baik, dan tertawa-tawa dalam hati ketika melihat up-manship ini. Tiap orang tentunya punya toleransi yang berbeda-beda dalam menghadapi hubungan melelahkan seperti ini. Ketika diri sudah tak kuat, dan ingin keluar dari pertemanan tak sehat seperti ini. Mundur saja secara teratur tanpa stonewalling atau silent treatment.

Semoga kalian semua dikelilingi teman-teman yang baik dan diberkahi dengan pertemanan yang berkualitas dan awet sepanjang usia hidup!

xoxo,
Tjetje

Ekspektasi Perkawinan Campur

Tema tulisan ini mungkin sudah dibahas berulang kali oleh banyak orang dan tentunya sudah berulang kali saya bahas dalam berbagai tulisan. Tapi setiap kali mendengar cerita-cerita kelam perkawinan campur, rasanya gemas banget sambil kasihan. Dari berbagai kisah kelam yang saya dengar, ada banyak kesamaan permasalah yang muncul dan akan saya urai.

Yuk!

Foto koleksi pribadi.

Buru-buru kawin

No kidding, yang ngotot minta buru-buru dikawinin itu banyak. “Wajar”, karena kultur kita mengutamakan perkawinan ketimbang kumpul kebo. Masalahnya, buru-buru kawin ini bener-bener tanpa proses mengenal pasangan lebih jauh dan lebih dalam. Baru ketemu satu dua kali, lalu kawin; baru ketemu langsung ketemuan di catatan sipil (serius ini), atau bahkan baru ketemu langsung tinggal bersama. Soal yang terakhir ini, pegawai imigrasi aja kagak mau ngasih visa tinggal, auto reject sambil kibar bendera merah.

Mengenal pasangan lebih jauh ini juga untuk tahu tabiat dan nilai mereka, termasuk mencari tahu adakah kecenderungan melakukan kekerasan. Seringkali di tahap pacaran banyak red flag soal tabiat ini, tapi tentunya dicuekkin atas nama cinta.

Keuangan

Ini masalah dasar dan masalah yang paling sering saya dengar. Nih ya, buat yang masih pacaran coba dibahas dulu urusan keuangan, tahu berapa kisaran gaji pasangan supaya bisa mengatur ekpektasi gaya hidup. Gak semua orang asing itu kayak pegawai eselon dua kantor pajak yang bisa beli Rubicon. Orang asing (baca: bule), itu kayak orang Indonesia, ada yang susah, ada yang cukup dan ada yang kaya raya, bahkan bisa sampai beberapa turunan.

Satu kesalahan fatal yang banyak terjadi, ketika diskusi keuangan ini menggunakan kalkulator dan mental Indonesia. Mata uang asing langsung dirupiahkan. Gaji 2k Euro pun terlihat wow gede banget. Di beberapa wilayah Eropa 2k itu mungkin besar, di Dublin, pasangan dengan penghasilan segitu itu ngos-ngosan.

Soal properti

Mau sewa kamar, rumah, apartemen, beli properti atau bahkan tinggal di pondok mertua indah. Ini kudu dibahas dulu di depan biar ekpektasi bisa diatur. Kalau mau nyewa rumah atau apartemen, cukup gak penghasilannya. Kalau gak cukup, apakah mau sewa kamar dan tinggal rame-rame? Begitu juga soal beli rumah, kudu diskusi dulu, jangan sampai koar-koar ke satu Indonesia mau beli rumah 5M tapi kemudian harus tertampar realita karena rumah murah tersebut tak terjangkau.

Begitu juga soal lokasi dimana rumah pasangan. Cari tahu dulu, jangan ujug-ujug pindah ke negara lain, terus protes di media sosial karena tetanggaan sama sapi. Bagus kalau cuma sampai media sosial, kalau sampai dibawa ke KBRI, ya gusti, itu orang KBRI dulu pas belajar jadi diplomat engga studi tentang hidup di country side bersama sapi. They are diplomats FFS.

Satu lagi yang gak ada di Indonesia tapi banyak terjadi di Irlandia: pasangan tinggal di rumah sosial bantuan dari pemerintah. Rumah sosial ini diperuntukan untuk mereka yang tidak mampu beli atau tidak mampu menyewa. Peruntukan rumah ini untuk mereka yang berpenghasilan rendah (dan harus tetap rendah), kalau penghasilan naik di atas ambang batas yang ditentukan, hak atas rumah ini juga akan hilang. Jadi seringkali pasangan kemudian melarang kerja ataupun mendapatkan penghasilan ekstra demi rumah sosial. Ini mesti dipertimbangkan juga, apalagi kalau pengen membangun karir di negeri orang. Kubur dalam-dalam cita-citanya.

Penutup

Perkawinan itu tak melulu romantis dan indah, banyak kerikil dan terkadang batu besar. Ketika ada masalah di Indonesia, kalau sudah kadung kalut bisa kabur ke rumah orang tua, di sini, kabur ke KBRI pun mesti nyeberang ke negara lain pakai visa pula. Belum lagi resiko ketika perkawinan bubar dan pasangan jengkel, masalah yang muncul bisa beraneka ragam, dari penculikan anak oleh pasangan (international child abduction) hingga ijin tinggal dicabut oleh pasangan. Kalau sudah gini tambah penih, karena imigrasi yang nyuruh pulang ke Indonesia. Imigrasi!

Perkawinan dengan orang asing itu tak bisa diburu-buru, karena ada elemen meninggalkan tanah air. Pastikan kenal dulu pasangan dan keluarganya dengan baik, jadi bisa mengatur ekpektasi hidup di luar negeri, apalagi kalau baru pertama kali tinggal di luar negeri. Hidup di luar negeri itu gak seindah drama Korea. Diskusikan dulu banyak hal, kenali dulu pasangannya, cinta dan emosi boleh, tapi rasional tetep kudu jalan.

xoxo,
Tjetje
Sudah terlalu banyak mendengar cerita suram dari perkawinan campur.