About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Irlandia dan Aborsi

Hari ini, Jumat 25 April 2018 akan menjadi hari bersejarah bagi Republik Irlandia. Warga negara Irlandia, hanya mereka yang memiliki paspor Irlandia, akan menyuarakan pendapanya, melalui referendum, tentang Amandemen ke delapan. Amandemen yang berada di konstitusi ini melarang perempuan untuk mendapatkan akses aborsi. Akibatnya, ribuan perempuan harus terbang ke Inggris untuk melakukan aborsi serta banyak dari mereka yang harus membeli pil dari internet untuk aborsi, yang dianggap sebagai pil terlarang di negeri ini.

Tak seperti di Indonesia yang memperkenankan aborsi ketika kondisi ibu terancam, di sini aborsi dalam kondisi apapun tak diperkenankan. Maka, ketika perempuan-perempuan mengalami kehamilan bermasalah, di mana fetus yang berada di kandungan mereka memiliki ketidaknormalan, mereka tak bisa mendapatkan pertolongan di sini. Salah satu kasus yang ramai memicu perubahan kondisi ini adalah kasus Savita yang sekilas pernah saya bahas di tulisan saya pada hari perempuan. Link tulisan ini akan saya sertakan di akhir artikel ini.

Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Irlandia memanas. Negara ini terbagi dua, sebagian orang berada dalam posisi Yes, atau Tá dalam bahasa Irlandia. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan perubahan, supaya para perempuan bisa memutuskan apa yang mereka bisa lakukan terhadap tubuhnya. Jika pemilih Yes ini menjadi mayoritas dan menang, maka amandemen ke delapan yang berada di konsitusi negara (iya, di dalam konstitusi sodara-sodara) akan dihapus. Akses aborsi akan dibuka hingga usia 12 minggu, atau jika di atas 12 minggu ketika kondisi ibu tak memungkinkan dan ada persetujuan dari setidaknya 2 tenaga medis.

Perubahan ini tak diinginkan oleh mereka yang berada di sisi kampanye No. Mereka, termasuk institusi keagamaan (dalam hal ini gereja), aktif berkampanye untuk menyelamatkan amandemen ke delapan ini (di sini sebut sebagai the eight amandement). Jika mereka menang, artinya tak akan ada perubahan. Perempuan-perempuan yang mengalami masalah dengan kandungan, harus pergi ke Inggris, bayar ongkos pesawat, melakukan aborsi, kembali lagi ke Irlandia (kadang mengalami pendarahan di dalam pesawat), lalu kembali ke Inggris lagi untuk mengambil kremasi bayi mereka.

Panasnya situasi ini juga merambah hingga ke Google dan Facebook. Google membuat policy untuk tidak menerima iklan terkait dengan referendum, sementara Facebook hanya menerima iklan yang berasal dari Irlandia. Isu aborsi ini memang menjadi isu penting bagi banyak negara lain, utamanya dengan gereja.

Dari pantauan saya di jagat maya dan juga dari lingkungan teman-teman, kelompok Pro Choice, atau Yes Campaigner, nampaknya banyak diperlakukan tak baik karena pilihan mereka. Ada beberapa orang yang diludahi ketika mereka mengenakan pin bertuliskan Yes. Meja kampanye mereka juga diporak-porandakan oleh pendukung kampanye No.

Saya sendiri, dipanggil pembunuh bayi. Padahal saya tak pernah membunuh bayi manusia. Panggilan ini muncul karena pilihan untuk menjadi pro choice, karena pilihan untuk mempercayai perempuan dan menginginkan perempuan memutuskan hal yang terbaik bagi tubuh mereka. Agaknya menjadi perempuan itu memang tak pernah mudah, dikala memutuskan untuk melakukan aborsi, dituduh pembunuh bayi, tapi ketika memutuskan untuk melanjutkan kehamilan juga tetap dihujat karena memiliki kehamilan di luar perkawinan. Semuanya salah.

Satu hal yang orang seringkali lupa, memutuskan untuk menggugurkan bayi adalah keputusan yang tak akan pernah mudah, bagi siapapun. Jikalau kemudian perempuan memutuskan untuk melakukan itu, kita harus percaya bahwa keputusan itu sudah didahului dengan pertimbangan matang-matang. Tentunya, sebagai penonton dari luar, kita tak pernah tahu pergulatan batin mereka ketika kemudian mereka memutuskan hal tersebut. Who are we to judge them, apalagi nuduh-nuduh dosa dan rentetan panjang penghujatan lainnya? 

Dari beberapa hari ini, jagat twitter diramaikan dengan hashtag #HomeToVote. Beberapa orang-orang Irlandia terbang kembali dari Canada, Hanoi, Swedia, untuk mendukung perempuan-perempuan di Irlandia. Penerbangan mereka tentunya bukanlah penerbangan yang susah, mengingat ribuan perempuan Irlandia harus terbang ke Inggris, dalam kondisi pucat, kesakitan, tubuh dan hatinya berdarah karena harus kehilangan bayi mereka.

Sebagai pemegang paspor hijau, saya hanya bisa melihat dari kejauhan riuhnya voting amandemen ini. Tapi dalam lubuk hati terdalam saya, saya berharap hari ini perempuan menang. Semoga kiranya pilihan itu tersedia dan perempuan Irlandia tak perlu melakukan perjalanan jauh lagi.

Good luck Ireland, Tá, Tá, Tá!!

xx,
Tjetje

Baca juga: Perempuan dan Aborsi

Advertisements

Warna-warni Forum Internet

Suka ikutan forum-forum di internet atau group di media sosial? Saya mengikuti beberapa group dan forum seperti ini. Dari beberapa group yang saya ikuti, beberapa bermanfaat, tapi ada pula yang manfaatnya tak ada dan hanya jadi forum orang ngobrol tanpa jelas arahnya.

Ada beberapa hal menarik yang bisa juga menjengkelkan yang saya lihat dari berbagai group. Pilihan untuk menjadikan ini menarik atau menjengkelkan memang tergantung bagaimana kita melihatnya dan beberapa di antaranya saya rangkum di sini:

Tukang males cari informasi

Sebenarnya gak hanya di grup sih, orang malas kayak gini ada di mana-mana. Padahal sudah ada teknologi yang bisa membantu mencari informasi dengan kata-kata kunci. Contoh paling sederhana, nanya di forum gimana cara perpanjangan sebuah dokumen. Nah, informasi untuk perpanjangan itu sudah ada di website resmi dan juga pernah dibahas berkali-kali di pos sebelumnya. Pos sebelumnya memang sudah tenggelam dalam lautan diskusi, tapi kalau rajin, bisa dicari dengan bantuan kolom search. Kasihan lho para insinyur yang bikin fungsi itu kerjanya bikin fungsi gak gampang, gak dipakai pula.

Tukang kepo

Pada dasarnya semua manusia itu kepo, pengen tahu tentang segala sesuatu. Tapi ada tempat, ada waktu dan ada cara untuk melakukan hal ini. Di sebuah forum kelompok orang yang berada di satu wilayah, serta di sebuah forum perkawinan lintas bangsa saya seringkali menemukan hal seperti ini. Yang pertama di forum berbasis wilayah saya menemukan orang bertanya bagaimana ceritanya netizen berada di forum tersebut berada di lokasinya masing-masing. D’oh…tolong lah ya, keponya gak bisa disimpan di rumah aja apa ya. Jaman sekarang orang pindah ke luar negeri itu bukan sebuah hal yang aneh lagi. Ada yang kerja, kawin, sekolah, ada pula yang lagi liburan panjang atau mengikuti pasangan yang kerja atau sekolah. Kok ya reseh pengen tahu.

Di forum perkawinan lintas bangsa sendiri banyak yang suka menanyakan soal pertemuan dengan pasangan. Cerita perkawinan lintas bangsa itu macam-macam, tapi gak jauh-jauh dari ketemu waktu kerja, sekolah, liburan, situs jodoh, dikenalin temen dan lain-lain. Cerita pertemuan perkawinan lintas bangsa itu sebenarnya sama saja seperti cerita perkawinan satu bangsa, cuma herannya banyak banget yang kepo tapi tak pernah nanya hal serupa kepada pelaku perkawinan satu bangsa.

Harus Jawab

Yang model seperti ini banyak banget. Pertanyaan sudah dijawab dengan jelas dan gamblang oleh orang lain, bahkan sudah dijawab dari beberapa hari lalu. Udah basi lah ya pertanyaannya, tapi masih ada pengen jawab. Mending gitu kalau jawabannya informasi baru, jawabannya informasi yang sama diulang lagi. ya kali, ini kan bukan kuis yang pertanyaan sama harus dijawab ratusan kali. Model orang kayak gini gak mau repot-repot baca komentar-komentar sebelumnya, langsung nyamber aja dan menuh-menuhin notifikasi. Clearly, saya agak gemes kalau lihat yang model gini.

Jawaban Gak Nyambung
Tukang jawab nggak nyambung ini biasanya motifnya sama dengan orang yang harus jawab. Pokoknya harus nimbrung aja biar keliatan berkontribusi. Pertanyaan gimana cara ganti oli Mini Cooper, eh dia ngasih jawaban nggak tahu, tapi ngasih cara ganti oli honda bebek. Di forum kawin campur ini sering terjadi, biasanya nanya cara kawin di sebuah negara dan akan dijawab dengan cara kawin di negara lain-lain. Kasihan baca ginian, karena yang nanya jadi kebanyakan informasi.

Yang model ini lebih seru lagi. Pertanyaan beli telur bebek di kampung A di mana, tiba-tiba nyamber paling pertama ngasih tahu beli telur di warung sebelah, salah pula jawabannya dan ternyata orangnya gak di kampung itu, ya capek deh ya. Model-model orang yang sok tahu tapi gak punya konteks ini banyak banget, biasanya jawabannya berdasarkan kebiasaan di mana orang tersebut berada, atau hasil google kilat.

Penegasan Melakukan Hal Ilegal & menawar aturan

Nah ini favorit saya. Orang-orang yang mencari dukungan bagaimana melakukan hal ilegal. Orang-orang model gini biasanya sudah tahu aturan dan sudah baca, tapi terbawa kebiasaan menawar. Jadi aturan 10, nawar minta jadi 5. Masalahnya, mereka nawar dengan orang yang salah, di forum yang ramai pula. Jadilah makin ramai dan makin kocak lihatnya.

Seperti saya tulis di atas, tak selamanya orang-orang ini mengesalkan, kadang bisa jadi hiburan murah meriah. Pilihan kita untuk menjadi sebal, atau tertawa melihat hal-hal seperti ini. Mungkin malah beberapa dari kita bersalah atas hal-hal di atas. I certainly do, sometimes.

Kalian, punya pengalaman berinteraksi dengan yang aneh-aneh di forum?

xx,
Tjetje

Undangan Makan-makan

Makan-makan adalah napas pergaulan bagi bangsa Indonesia. Obrolan-obrolan dalam keseharian kita, baik yang ringan lebih sering berada di sekitar makanan, ketimbang minuman, apalagi minuman beralkohol. Para penikmat minuman pun, apalagi kopi, seringkali ditemani oleh makanan ringan. Pendek kata, kultur makan kita itu sangat kuat.

Orang-orang Indonesia yang pindah ke luar negeri juga seringkali berkumpul untuk sekedar ngobrol, merayakan hari spesial, atau bahkan arisan. Kumpul bersama ini biasanya model  pot luck, masing-masing orang membawa makanan yang mereka bisa masak.

Ketika awal pindah ke sini, saya nggak bisa masak sama sekali. Saya ingat sekali, di undangan makan-makan pertama, saya membawa sewadah coklat untuk tuan rumah (dan tuan rumah ternyata punya banyak coklat 😖). Di undangan selanjutnya, saya sudah lebih canggih, membawa cake. Tentunya bukan hasil bikin sendiri, tapi hasil membeli. Butuh waktu yang agak panjang bagi saya untuk bisa membawa hasil makanan sendiri, maklum gak bisa masak.

Satu prinsip bergaul yang seringkali diterapkan dan diharapkan, kalau diundang jangan pernah datang dengan tangan kosong. Kalau tak bisa masak, ya beli saja. Atau bisa juga membawa bunga, coklat ataupun anggur. Prinsip ini sendiri juga banyak dipakai di Indonesia, apalagi dengan budaya oleh-oleh kita yang kuat.

Bagi saya sendiri, datang dengan tangan kosong bukanlah satu hal yang harus menjadi isu. Pertama, karena mengundang orang berarti memang sudah siap untuk menyediakan makanan untuk mereka, jadi tak perlu mengandalkan orang lain untuk membawa. Kedua, mereka yang diundang mungkin tak sempat masak, tak bisa masak (seperti saya dulu), atau mungkin sedang bokek. Yang ketiga, sudah kebanyakan orang yang bawa makanan, jadi kalau ada lagi yang bawa jadi terlalu melimpah dan gak kemakan.

Tapi bawa makanan juga bisa menjadi bencana. Bawa makanan yang dinilai kurang oke buat tuan rumah atau kurang oke rasanya. Sudah sengsara bikin kue pandan, misalnya, tapi ternyata kue pandan bantat. Alamat jadi omongan karena kue bantat dibawa. Padahal, gak ada lagi yang bisa dibawa. Lagipula, peminat kue bantat juga banyak lho, apalagi kue cubit bantat. Duh jadi rindu kue cubit buatan abang-abang-abang.

Bikin makanan yang murah meriah juga bisa jadi bahan pembicaraan. Bawa nasi putih ketika ada kumpul-kumpul, atau model saya yang sering bawa kerupuk karena stok kerupuk saya banyak banget. Modyar deh, karena dianggap perhitungan. Sementara yang bawa daging-dagingan sudah berlimpah. Serba salah deh.

Acara makan-makan sendiri juga sering berbuntut dengan bungkus-bungkus. Apalagi kalau makanannya berlimpah dan dari banyak pengalaman, selalu berlimpah. Suatu hari, orang Irlandia yang saya kenal mempertanyakan, mengapa orang-orang pada bungkus-bungkus ketika acara makan-makan belum selesai. Ketika itu masih banyak tamu yang datang. Pola ini rupanya banyak dilakukan ketika tamu yang hadir hanya bisa datang sebentar, lalu buru-buru pulang. Saya sendiri nggak ngeh, karena sudah terlalu biasa melihat hal tersebut.

Risoles, unlocked! The next kue should be kroket! #kuenusantara

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Selain urusan bungkus-bungkus yang terlalu dini, bungkus-bungkus juga menjadi pembicaraan ketika bawa kerupuk, tapi pulang bawa ayam satu ekor. Nggak seekstrem itu juga kali sih ya, tapi rupanya ada orang-orang yang menghitung berapa yang dibawa dan berapa yang di bawa pulang. Padahal, bungkus-bungkus sendiri sangat didukung oleh tuan rumah yang punya hajat, bahkan plastik dan kotak plastik juga disediakan oleh tuan rumah. Biasanya tuan rumah menawarkan bungkus-bungkus karena makanan yang terlalu banyak dan tak ada yang makan; daripada terbuang percuma, lebih baik dibungkus.

Bagi saya, makan-makan adalah ajang untuk menyambung hubungan dengan rekan-rekan sebangsa dan tentunya memuaskan rindu akan makanan Indonesia. Yang jelas, makan-makan jadi memicu saya untuk jadi belajar masak makanan Indonesia.

Kalian, punya cerita soal makan-makan di tempat kalian tinggal? Liwetan mungkin?

xx,
Tjetje

Cerita bungkus-bungkus ketika saya masih jadi anak kos, pernah saya bahas di sini.

Bicara Sistem Kesehatan Irlandia

Halo semuanya, yang punya blog lagi sibuk menikmati matahari. Tiap kali mulai Spring dan Summer, sudah bisa dijamin tulisan saya di blog pasti gak akan sebanyak biasanya, karena saya repot berjemur dan tentunya repot menjemur pakaian di luar.

Di Irlandia, selain matahari sudah mulai muncul juga lagi rame kasus kanker serviks. Di sini ada organisasi yang khusus menangani kanker serviks dan tiap sekian tahun sekali perempuan di sini dipanggil untuk melakukan tes gratis. Tes gratisan ini ternyata lagi ada skandalnya; ada sekitar dua ratus perempuan yang didiagnosa baik-baik saja, tapi ternyata terkena kanker. Akibat salah diagnosa ini, mereka yang seharusnya bisa mendapatkan intervensi ketika kanker sedang dini tak bisa mendapatkan intervensi. Direktur organisasi ini sudah mundur, tapi tetep aja minta dituntut.

Kesehatan di Irlandia tak bisa lepas dari kasus orang menuntut petugas kesehatan, suster ataupun dokter. Saya kebetulan mengenal satu orang yang melakukan hal tersebut, dia menuntut rumah sakit karena suster melepas perban dengan tidak hati-hati hingga tangannya terluka. Jika di Indonesia kita begitu pemaaf, di sini banyak yang mencari kompensasi dan kompensasi yang dicari tak sedikit, setidaknya puluhan ribu Euro.

Kembali lagi ke isu kanker, bicara tentang kanker tak bisa lepas dari hospice. Hospice merupakan tempat perawatan mereka yang sudah penyakitnya sudah parah dan tak bisa disembuhkan lagi. Salah satu contoh pasien yang biasanya dirawat di hospice adalah pasien kanker yang kankernya sudah menyebar kemana-mana & sudah di stadium akhir. Di hospice, mereka tak hanya mendapatkan bantuan kesehatan (e.g suntik morphin untuk meredam sakit) tapi juga mendapatkan bantuan spritual. Di Indonesia sendiri saya tak pernah melihat hospice, silahkan dikoreksi kalau salah. Dari pengalaman saya di sini, ketika sudah ada pasien yang masuk hospice, biasanya orang akan menyempatkan menjenguk, sekaligus pamitan.

Sistem kesehatan di Irlandia sendiri sedikit berbeda dengan di Indonesia dan negara Eropa lainnya. Di sini, dokter tak gratis dan setiap orang harus daftar ke satu dokter umum. Satu kali kunjungan ke dokter biasanya dibandrol di harga 60 Euro per visit. Untuk mereka yang gak kerja atau para pensiunan, biasanya mereka dapat kartu kesehatan dan bisa akses dokter gratis.

Di Indonesia, pendekatan dokter dengan pasien itu lebih ke kamu keluhannya apa, mari saya kasih resep. Selesai masalah. Di Irlandia, dokter dan pasien itu berbeda, pasien daftar ke satu dokter dan cerita tentang semua cerita kesehatan keluarga ke dokter tersebut. Nanti berdasarkan cerita keluarga tersebut, si dokter bisa mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu.

Misalnya, ada keluarga yang pernah mengalami kanker, darah tinggi, ataupun jantung maka dokter akan mengambil tindakan preventif untuk cek ini dan cek itu. Nah ketika direkomendasikan dokter untuk cek ini dan itu. Nanti rumah sakit akan kirim surat panggilan dan panggilan ini bisa beberapa bulan sebelumnya. Semua proses ini gratis, tapi tentunya antrian untuk jasa publik ini panjangnnya tak terkira.

Satu hal yang saya perhatikan, di Irlandia dokter berbicara dan berkonsultasi dengan pasien tentang kondisi mereka. Kondisi pasien adalah hak pasien untuk tahu dan bukan hak juru bicara keluarga. Menutup-nutupi kondisi pasien juga bukan hal yang wajar di sini. Dokter harus menginformasikan pasien dan dapat ijin dari pasien, karena pasien berhak menolak tindakan. Ini berbeda banget dengan di Indonesia, di mana juru bicara keluarga biasanya menjadi yang berkomunikasi dengan dokter.

Tenaga suster di Irlandia sendiri banyak datang dari luar Irlandia, Filipina termasuk salah satu negara yang mengirim suster ke Irlandia. Karena kemiripan orang-orang Indonesia dengan orang Filipina, saya seringkali disangka sebagai orang Filipina dan tentunya disangka sebagai suster. Saking seringnya sampai pengen bikin kaos dengan tulisan “No, I am not Filipino and I am not a nurse“. Gak semua yang coklat itu suster.

Bagaimana dengan sistem kesehatan di tempat kalian sekarang tinggal?

xx,
Tjetje

Ujian Menyetir Irlandia

Beberapa hari lalu saya mengirimkan pesan kepada Ibunda di Indonesia: “Mama, aku lulus ujian SIM Irlandia”. Krik..krik…krik… Sementara itu, begitu saya memberitahu mama dan papa mertua, suasanya langsung mengharu biru, diwarnai dengan pelukan dan ucapan selamat. Di Indonesia dan Irlandia, SIM memang diperlakukan dengan cara berbeda, karena cara mendapatkan keduanya tidaklah sama. Jauh lebih mudah di Indonesia. Makanya tak heran kalau banyak orang di Indonesia yang menyetir tanpa menghormati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, seperti meme yang dibuat oleh Mbot di bawah ini:


Proses saya mendapatkan SIM di negeri ini dimulai sejak saya datang ke negeri ini dan mereka tak mengindahkan fakta bahwa saya memiliki SIM Indonesia. SIM Indonesia, di sini tak ada nilainya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli buku yang berisi peraturan-peraturan tentang menyetir. Buku itu harus saya tamatkan dahulu sebelum mengambil tes tulis tentang aturan lalu lintas. Empat puluh soal harus dijawab dalam waktu empat puluh lima menit saja. Setidaknya tiga puluh lima pertanyaan tersebut harus benar. Jika kurang dari tiga puluh lima, maka  harus mengulang dan tentunya bayar lagi.

Begitu lolos tes tertulis, SIM learner (L) yang berwarna hijau pun bisa diberikan. Kendaraan harus ditempeli stiker L dan pengemudi tak boleh menyetir sendiri. Harus menyetir bersama mereka yang memiliki SIM penuh (full license, bukan L lagi). Kendaraan juga wajib dilengkapi asuransi, harus membayar pajak dan lolos uji kelayakan. Tiga dokumen ini harus selalu ditempelkan dikaca mobil. Jika tertangkap menyetir sendiri, bisa terkena penalty poin yang bisa mengakibatkan dicabutnya SIM. Selain itu, ada kewajiban untuk melakukan 12 jam kursus menyetir dengan instruktur resmi. Kursus menyetir sendiri dibandrol dengan harga berbeda-beda, dari mulai 25 – 55 Euro setiap jamnya. Saya sendiri menggunakan empat instruktur yang berbeda dan menghabiskan lebih dari 20 jam, karena kebanyakan ganti instruktur.

Setelah kursus selama 12 jam ini terpenuhi, dan jika sudah siap, maka ujian praktik bisa diambil. Untuk ambil ujian praktik ini, pendaftarannya seara daring dan antrian ujian praktik ini sendiri lama, bisa berbulan-bulan. Di Irlandia sendiri ada beberapa tempat untuk mengambil ujian dan beberapa terkenal sangat sulit.

Ujian praktik sendiri melibatkan beberapa hal, dari mulai rambu-rambu, aturan lalu lintas hingga menerangkan bagian-bagian dari mesin. Pengetahuan tentang letak daki, minyak rem, oli, air untuk jendela mobil juga ditanyakan. Tak hanya itu, kapan dan bagaimana menggantinya pun juga ditanya, termasuk soal ketebalan ban. Lampu-lampu kendaraan juga dicek untuk memastikan semua lampu menyala dan kita tahu kapan dan bagaimana menggunakan lampu yang tepat.

Praktik menyetir sendiri melibatkan observasi ketika akan mulai dan selama menyetir. Soal gerakan kepala ketika melakukan observasi ini sendiri membuat banyak kontroversi, terutama bagi mereka yang terlihat tak menggerakkan kepala ketika menyetir. Posisi tangan pada kemudi, bagaimana kita harus feeding the wheel, tangan tak boleh diputar-putar (ajaran Indonesia!).

Selain itu, ada tes untuk mundur di belokan (reverse corner) yang melibatkan banyak teori dan observasi. Bagaimana mulai menyetir di tanjakan dan 3 point turn (putar balik tanpa menyentuh pinggiran jalan dan tak boleh dry steering – lagi-lagi ini ajaran Indonesia), cara berhenti, menyetir roundabout. Semuanya dilakukan di jalan raya selama kurang lebih 20-25 menit. Selama tes kita juga tak boleh membuat terlalu banyak kesalahan. Ada tiga tipe kesalahan, hijau, oranye dan merah. Satu kesalahan tipe merah saja akan menyebabkan kegagalan. Salah satu kesalahan yang fatal di dalam ujian menyetir di Irlandia adalah melambaikan tangan ketika bertemu teman atau ketika mengucapkan terimakasih (di sini, hal-hal tersebut merupakan tradisi). Kalau melambaikan tangan aja gak boleh, apalagi ngobrol-ngobrol di jalanan seperti ini:

Selama kursus mengemudi ini saya diserang stress berat, tidurpun tak tenang. Pada saat tes pun, petugas yang mengetes saya sampai menyuruh saya mengambil napas dalam-dalam. Padahal saya ini termasuk tenang dalam menyetir. Tekanan tes ini memang luar biasa, jauh lebih berat daripada tes di Indonesia. Begitu dinyatakan lulus, saya diberi selembar kertas untuk membuat SIM penuh. Selain itu kendaraan saya juga harus ditempel stiker, di bagian depan dan bagian belakang dengan tulisan N, yang artinya novice driver. Stiker ini harus dipasang selama dua tahun.

Penutup

Di Irlandia, tak semua pengemudi disiplin, yang ngaco ada  dan jumlahnya tak sedikit. Banyak pula yang suka melebihi batas kecepatan yang diperkenankan, atau bahkan menyetir dengan alkohol melebihi batas yang diperkenankan. Tapi kesemrawutan jalanan di sini tak seperti di Indonesia, karena mendapatkan SIM di sini, tak semudah mendapatkan SIM di Indonesia.

xx,
Tjetje
Lulus ujian SIM di Irlandia & pernah tak lolos ujian SIM di Indonesia

Pelakor

Topik perselingkuhan sudah pernah saya bahas tiga tahun lalu dalam postingan yang berjudul Perempuan Simpanan. Silahkan klik di sini kalau ingin baca. Kali ini saya tak akan membahas soal perempuan simpanan, tapi membahas soal perselingkuhan dan pelakor, pencuri laki orang.

Saya menghabiskan hampir satu dekade hidup saya di Jakarta, ibu kota yang diwarnai dengan kesempatan untuk melakukan ketidaksetiaan. Ketika itu, melihat perselingkuhan bukanlah sebuah hal yang aneh bagi saya, malah saya cenderung menormalisasi hal tersebut. Perselingkuhan ini tak hanya saya lihat di kost-kostan saya, tapi juga di lingkungan pertemanan dan pekerjaan.

Ketika menjadi saksi perselingkuhan, rumus hidup saya cuma satu: tak peduli. Toh para pelakunya orang-orang dewasa yang bisa memilih hal-hal yang dianggap baik untuk hidup mereka. Bagaimana jika saya mengenal korban perselingkuhannya? Sama, prinsip saya mulut harus ditutup rapat, karena saya tak mau menjadi orang yang membawa berita buruk. Gak ada untungnya buat saya untuk menyampaikan hal-hal seperti itu, malah rumah tangga atau hubungan percintaan bisa tambah hancur karena kesaksian saya. Buntutnya, hubungan saya dengan orang-orang ini juga akan runyam. Prinsip saya ini berlaku untuk teman, keluarga ataupun kolega. Semua saya perlakukan sama.

Dari menyaksikan perselingkuhan ini, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa perselingkuhan itu pada dasarnya terjadi karena dua belah pihak sama-sama mau. Baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Pada saat yang sama, perselingkuhan terjadi karena terjadi ketidakpuasan dalam rumah tangga. Tapi mekanisme pertahanan banyak orang selalu mengatakan bahwa rumah tangga sebenarnya baik-baik saja, tapi sang pria terhipnotis ataupun terkena ilmu guna-guna. Bagi saya, kalau rumah tangga baik-baik saja, besar kemungkinan perselingkuhan tak akan terjadi.

Akibat penggambaran pria-pria sebagai orang suci yang tak mungkin tergoda dengan perselingkuhan, muncul istilah pelakor, pencuri laki orang. Norma kita mendikte bahwa para bapak-bapak ini adalah orang yang begitu mencintai keluarga atau pasangannya dan tak sengaja terpeleset ke godaan perempuan lain. Makanya dalam kasus seperti ini, perempuan SELALU disalahkan, karena mereka mau dengan pria yang telah berkeluarga. Sekali lagi adalah hanya perempuan yang salah, sementara sang pria adalah makluk suci.

Pengamatan saya sendiri melihat bahwa para pria yang tak setia pada pasangannya bisa berubah menjadi pencinta keluarga hanya dalam hitungan detik. Tak heran keluarga mereka akan melihat dengan kacamata yang berbeda, bahwa mereka adalah pihak yang tak salah. Hanya pelakor ini yang salah.

Buat saya ini tak adil, karena perempuan dan pria sama-sama punya andil dalam memulai perselingkuhan. Tak bisa dipungkiri ada kasus-kasus dimana perempuan menggoda pria yang sudah beristri, tapi juga tak boleh kita menutup mata banyak juga pria yang menggoda perempuan lain. Salah satu modus sederhana saja, SPG di pameran menawarkan produk yang dijual, bisa dengan mudahnya digoda dengan cheesy pick up line seperti: “Kalau saya gak tertarik dengan produknya, tapi tertarik dengan mbaknya aja bisa gak?”

Pada saat yang sama, tak semua pria bisa tergoda untuk tenggelam dalam arena perselingkuhan. Rumus kucing ditawari ikan asin akan selalu mau itu tak selamanya benar. Saya mengetahu banyak pria yang bisa teguh dengan pendiriannya untuk tidak tergoda dengan perempuan lain, walaupun mereka sudah disodori perempuan (maafkan penggunaan kata ini, tapi ini benar adanya). Mereka memilih untuk tidak berselingkuh walaupun kesempatan sudah jelas di depan mata. Sekali lagi, mereka memilih untuk tidak berselingkuh.

Saya bukan ahli perselingkuhan, tapi dari banyak perselingkuhan yang saya tahu, kedua belah pihak sama-sama mau melakukan perselingkuhan. Baik pihak perempuan, maupun pihak laki. Tak semuanya diiniasi oleh perempuan, ada banyak perselingkuhan yang dimulai oleh pria-pria. Jadi, tolonglah jangan disamarakatan bahwa semua perselingkuhan itu karena kesalahan perempuan, lalu hanya perempuan saja yang disalahkan dan dituduh menjadi pelakor, pria pun punya kontribusi dan seringkali kontribusinya besar. Mereka bisa mengaku single atau sedang dalam proses perceraian atau perpisahan. Lagipula, mencuri hati pria itu tak mungkin kalau mereka tak merelakan hatinya dicuri.

Kesimpulan saya, perselingkuhan itu terjadi karena hubungan percintaan memang tak sehat dan salah satu pihak tak puas dengan hubungan tersebut.

xx,
Tjetje

Mimpi Buruk Para Customer Service

Saya ini mimpi buruk para customer service, karena saya hobi marah-marah (dalam bahasa Inggris pula) ketika layanan tak baik. Di Indonesia, ngomel-ngomel itu memang harus pakai bahasa Inggris, supaya kita lebih didengarkan.  Di sini, saya tak pernah ngomel-ngomel untuk urusan layanan lagi. Semua pelayanan di sini relatif bagus dan berorientasi pada pelanggan. Ungkapan konsumen adalah raja benar-benar diterapkan di negeri ini.

Di Irlandia, saya bertemu dengan banyak orang yang pernah bekerja sebagai Customer Service, menjadi penjaga terdepan yang memastikan konsumen tak mengalami kendala. Orang-orang  ini kebanyakan berbicara bahasa lain selain bahasa Inggris. Mereka dipekerjakan oleh aneka rupa perusahaan, dari mulai penyewaan kendaraan hingga perusahaan teknologi dan berbasis di Irlandia. Irlandia memang menjadi pusatnya perusahan-perusahaan seperti ini di Eropa. Tak heran pekerjaan customer service itu di sini membeludak.

Dari banyak orang yang saya temui, mereka memiliki satu kesamaan, tak mau lagi bekerja sebagai customer service yang harus melayani pelanggan melalui telepon. Alasan mereka sama: it’s the worst job, we’ve received too many verbal abuses. Terlalu banyak konsumen yang ngomel-ngomel di telpon dan mereka sangat kasar. Kadang kelewatan kasarnya.

Pembicaraan biasanya mulai nggak enak ketika pelanggan tahu orang-orang yang menjawab telepon ini bukan asli orang Irlandia, biasanya ditangkap dari aksen mereka. Rupanya konsumen di sini kebanyakan hanya mau dilayani oleh orang Irlandia saja, padahal para customer service ini juga bisa berbahasa Inggris. Kadang, ada yang spesifik minta dilayani pakai bahasa Gaelic, bahasa asli sini. Kalau ditawari untuk dibantu, ketimbang menunggu customer service yang bisa berbahasa tersebut mereka juga enggan. Pokoknya harus dilayani orang Irlandia.

Kekasaran lain adalah soal omongan verbal. Kata-kata kasar sering dilemparkan ke para customer service. Para customer service biasanya punya prosedur untuk memberikan peringatan kepada customer jika mereka kasar, jika peringatan tak juga didengar maka customer service bisa menutup telpon dan pelanggan pun harus menelpon lagi dan menjelaskan masalah dari depan.

Pekerjaan customer service ini bukanlah pekerjaan mudah, dalam keadaan tertekan, dimaki-maki, mereka masih harus mengingat standar kalimat yang harus diberikan ke pelanggan ketika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Menghapalkan kalimat-kalimat tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi ketika ada begitu banyak skenario masalah yang dialami customer. Temen saya tak hanya ngapalin dalam bahasa Inggris, tapi juga dalam bahasa lain yang ia bisa. Beberapa dari mereka juga harus mengejar target setiap harinya.

Pelampiasan konsumen karena kesal dengan layanan ini macam-macam. Selain teriak di telepon ada pula yang secara langsung menyerang gedung pemberi layanan. Salah satu provider televisi di Dublin, gedungnya pernah dilempari dekoder televisi. Tak hanya itu, pegawainya yang berada di ruang publik dengan kartu identitas berlogo juga pernah diserang konsumen yang tak puas.

Cerita terparah yang saya dengar datang dari seorang customer service yang tak sengaja memberikan nama lengkapnya. Sang konsumen yang marah kemudian bersumpah akan mencari CS ini dengan cara mengirimkan bunga ke kantor tersebut dan menunggu hingga ia mengambil bunga tersebut di resepsionis. Akhir cerita ini sendiri gak ketahuan gimana, tapi kebayang betapa creepynya kejadian ini dan rupanya, di sini ada beberapa kejadian seperti ini.

Pada saat krisis melanda Irlandia, beberapa tahun lalu, kejadian menyerang pegawai ini sampai membuat sebuah bank melarang keras pegawainya untuk keluar makan siang menggunakan tanda pengenal, demi keselamatan mereka di ruangan publik. Kalau soal kartu identitas ini sih, di Indonesia dulu saya dilarang keras oleh kantor saya untuk mengenakan identitas tersebut di ruang publik. Begitu keluar kantor harus dilepas, sementara di Indonesia banyak banget yang hobi jalan-jalan pamer kartu identitas, mentang-mentang kerja di perusahaan bergengsi.

Untungnya, di Indonesia cerita seperti ini jarang di dengar. Kalaupun dengar, biasanya di sebuah terminal di bandara  dimana pegawai penerbangan dikejar-kejar dan diumpat-umpat penumpang yang frustasi.

Kalian, pernah dengar kasus customer service yang bikin geleng-geleng kepala? Atau suka ngomel-ngomel seperti saya?

xx,
Tjetje