About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Selfie Maut

Swafoto atau dikenal juga dengan selfie adalah pengambilan foto diri sendiri, dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti selfie stick. Selfie sendiri bukanlah sebuah hal yang baru, tapi menjadi sangat popular demgan maraknya smarphone dan kameranya yang semakin canggih. Perkenalan saya dengan selfie dan selfie stick terjadi beberapa tahun lalu, jaman saya masih bekerja di Jakarta. Tapi hubungan saya dengan selfie tak berlangsung lama, karena intensitas selfie yang terlalu tinggi. Saya membawa selfie stick untuk liburan ke Kamboja dan berakhir dengan ratusan foto yang isinya muka saya dan teman seperjalanan saya. Langsung auto muak selfie.

View this post on Instagram

Shameless selfie #Maltese #maltesepuppy

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Semenjak itu, jumlah swafoto saya menurun drastis, walaupun angka di Iphone saya menunjukkan saya sudah mengambil selfie sebanyak lebih dari 300 kali. Selfie ini sebagian berisi muka anjing ketika duduk di pangkuan saya, atau ponakan piyik (yang iseng ngambil HP untuk selfie) dan muka-muka saya selfie bersama bayi-bayi orang. Bagi saya, selfie itu gak penting.

Tapi tidak bagi banyak orang lainnya. Selfie menjadi sebuah keharusan, apalagi jika berada di tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik. Apalah artinya pemandangan yang cantik jika tak ditambah dengan wajah-wajah kita yang tak kalah cantik. Mungkin begitu prinsipnya. Suka-sukalah, toh menggunakan gawainya sendiri-sendiri.

Bagi saya pribadi, ada beberapa kondisi yang membuat selfie menjadi big no no. Pertama soal selfie  yang overdosis. Di mana-mana harus selfie dulu, mau makan selfie dulu, ketemu temen selfie lagi (ya kalau ketemunya sekali-sekali), nge-gym selfie lagi. Padahal muka juga gitu-gitu aja. Nah parahnya selfie ini kemudian dimasukkan ke dalam media sosial dengan intesitas yang keterlaluan. Apa indikasinya keterlaluan? Ya kalau bikin orang lain capek lihatnya, mukanya gitu lagi gitu lagi, gayanya gitu lagi gitu lagi, sudutnya juga itu lagi itu lagi; langsung pencet tombol mute atau unfollow.

Selain urusan overdosis, selfi lain yang juga engga banget  bagi saya adalah selfie yang tak memikirkan lingkungan sekitar. Swafoto di makam, swafoto dengan jenasah, atau misalnya ditempat tragedi terjadi, seperti di Auschwitz. Penting dan pantaskah melakukan hal tersebut?

Tak hanya soal kepatutan di tempat-tempat tertentu, tapi juga dampak yang timbul akibat swafoto tersebut. Sudah berulang kali kita mendengar kasus tanaman, bunga, ataupun hal lain dari alam kita yang rusak hanya gara-gara napsu ingin selfie.

Nah selfie terakhir adalah selfie yang apes bercampur dengan kurang cerdas; selfie yang membahayakan diri sendiri hingga membuat nyawa melayang. Pernah dengar kan cerita orang yang meninggal dunia gara-gara selfie? Ternyata menurut global study, dalam rentang enam tahun, dari 2011 hingga 2017 ada 259 orang yang meninggal dunia karena selfie. Beberapa mengkategorikannya sebagai sebuah epidemi.

Kasus meninggal dunia karena selfie ini bermacam-macam; yang teranyar ketika tulisan ini dibuat, seorang pelajar dari Belarus yang meninggal jatuh dari balkoni hostel di tengah malam. Beberapa kematian akibat selfie ini juga banyak terkait dengan kereta, dari tersetrum hingga tertabrak kereta.

Di Indonesia sendiri ada kasus selfie dimana seseorang meninggal karena jatuh ke dalam kawah, tenggelam di air terjun, hingga jatuh ke laut dari tebing. Kasus selfie yang membekas di kepala saya sendiri kasus pasangan Polandia yang meninggal, jatuh dari tebing di Portugis di depan anak-anaknya. Saya tak bisa membayangkan trauma yang timbul akibat kehilangan orang tua dengan cara seperti itu.

Manusia itu berproses dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. Saya pun tak lepas dari kesalahan dan proses belajar itu. Selayaknya, kita belajar dari kematian-kematian tragis ini. Hidup kita terlalu indah untuk diakhiri dengan selfie maut, hanya karena konten yang ingin kita unggah di media sosial untuk mendapatkan notifikasi like.

Jadi, kapan terakhir kalian selfie?

xx,
Tjetje

 

Advertisements

Kantor Pos

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, saya masih sempat merasakan rasa senang yang tak terkira ketika melihat petugas pos, dengan sepeda motornya yang berwarna oranye berhenti di depan rumah untuk memasukkan surat ke dalam kotak pos. Hati saya jadi riang gembira kalau salah satu surat tersebut datang dari beberapa sudut Indonesia, tempat sahabat pena saya bermukim. Keriangan karena kedatangan petugas pos sekarang tak pernah saya rasakan lagi, karena setiap kali mobil Ibu pos datang, ia membawa tagihan yang harus dibayar.

Besar di Malang membuat saya banyak berkutat dengan kantor pos pusat, yang terletak di Alun-alun kota Malang. Bangunan tua yang banyak dihiasi warna oranye, warna khas kantor Pos Indonesia ini dulunya dipenuhi oleh orang-orang yang antri membeli perangko. Apalagi menjelang hari raya, kantor pos dipenuhi orang-orang yang membeli perangko untuk mengirim kartu ucapan. Di Indonesia, antrian itu tak ada lagi, tak seperti di Irlandia, kantor pos masih penuh.

Pojok filateli, juga memberikan ruang tersendiri di hati, karena saya sempat mengumpulkan perangko dan sering membeli perangko di pojokan. Sekarang, hobi ini sudah saya hentikan, walaupun koleksi saya masih teronggok di sudut rumah. Berdebu dan tak terawat.

Kantor pos juga membawa kenangan buruk bagi saya. Setiap tahun, saya mendapatkan beberapa paket hadiah Natal dari Australia, dari beberapa kenalan keluarga kami, karena kami dulu pernah tinggal di negeri Kanguru tersebut. Paket-paket ini bermacam-macam, dari buku hingga makanan. Petugas kemudian menentukan besaran tarif custom yang harus dibayarkan, berdasarkan nilai hadiah.

Satu Natal, kami menerima paket yang berisi makanan kering dari Australia. Oleh petugas, makanan-makanan tersebut dibuka, mungkin bagian dari prosedur untuk memastikan bukan barang-barang berbahaya. Tapi ternyata, sebagian besar isinya hilang, lenyap entah kemana. Rasanya kecewa sekali ketika melihat hadiah kami tak karuan bentuknya, separuh dari makanan tersebut juga hilang. Entah ke mana.

Beberapa Natal sebelum saya pindah ke Irlandia, Ibu mertua saya mengirimi perhiasan sebagai hadiah Natal. Bukan perhiasan mewah, tapi ltarif custom yang harus dibayarkan bikin jantungan, karena bisa beli perhiasan di Pasar Baru. Tarif custom jauh lebih mahal daripada harga asli. Selain urusan biaya yang tak masuk akal, lokasi kantor pos yang jauh juga membuat saya berpikir panjang. Untungnya banjir datang, jalanan macet dan saya pun tak bisa mengambil hadiah Natal. Pulanglah sang hadiah Natal kembali ke Irlandia. Horraaaay, gak perlu bayar!

Di Irlandia, kantor pos punya banyak peran penting dalam masyarakat. Selain untuk pengiriman surat dan barang-barang, kantor pos juga menjadi tempat membayar tagihan. Dari membayar gas rumah, beli pulsa, hingga urusan sampah. Frekuensi kunjungan ke kantor pos yang tinggi membuat hubungan dengan petugas di bilik pos pun terbangun. Apalagi, saya tinggal di kampung kecil.

Selain urusan di atas, kantor pos juga menjadi tempat pembayaran jaminan sosial & pensiun. Jaminan sosial ini diberikan untuk mereka yang tak kerja ataupun sakit. Di salah satu pusat kota Dublin, saya pernah melihat antrian panjang orang-orang yang antri mengambil jatah jaminan sosial ini. Mereka sudah antri sedari pagi, ketika kantor pos belum buka.

Kantor pos Irlandia juga sangat pintar menangkap kesempatan dari mereka yang hobi belanja daring. Seringkali para vendor ini tak bisa mengirimkan barang ke Irlandia dan hanya mengirimkan ke Amerika ataupun ke UK saja. Kantor pos pun menawarkan jasa peminjaman alamat, tak pakai pusing, barang juga selamat sampai di Irlandia. Tentunya kantong tak akan selamat jika memberi barang dari luar EU, karena custom tidaklah murah.

Sama seperti di Indonesia, kantor pos di Irlandia juga menawarkan Collector’s Corner untuk mereka yang hobi mengumpulkan perangko. Ada tema-tema tahunan yang bisa dengan mudahnya dilihat dari website mereka. Saya sendiri sering iseng membeli perangko koleksi ini, karena perangkonya lucu-lucu, tapi nominalnya seringkali tak cocok dengan tarif pengiriman.

Terakhir, tiap tahun saya memiliki ritual untuk berkunjung ke Kantor Pos Pusat, di sini dikenal sebagai GPO (General Post Office) yang terletak di O’Connell Street, jalanan terkenal di Irlandia. Kantor pos ini merupakan Gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu Easter Rising, pemberontakan orang-orang Irlandia terhadap Inggris. Di pilar-pilarnya bahkan masih banyak ditemukan lubang-lubang bekas peluru bersarang. Saya sendiri berkunjung ke kantor pos ini bukan untuk melihat pilar, tapi untuk menengok kotak pos khusus untuk Santa. Kotak pos yang muncul setiap Desember untuk menipu anak-anak kecil.

Kalian, punya kenangan atau hubungan manis dengan kantor pos dan para petugas pos?

 

xx,
Tjetje

Catatan WNI Tak Bisa Pemilu di Irlandia

Selamat pagi Indonesia!

Hari ini menjadi hari penting bagi banyak WNI di Indonesia, karena hari ini menjadi pesta demokrasi. Pestanya orang-orang Indonesia untuk memilih wakil rakyatnya. Bagi kami, para WNI yang berada di luar negeri sendiri, pemilihan umum ini sudah dilaksanakan pada akhir pekan lalu.

Pemilu kali ini menjadi pemilihan umum Indonesia pertama saya di luar negeri. Di Irlandia sendiri, saya juga memiliki hak untuk memilih, tapi hanya pemilihan lokal saja. Karena ini pemilihan pertama saya, otomatis saya harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dan menyetirlah saya dari rumah saya dari kampung ke tempat sosialisasi PPLN (Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri) yang bertempat di rumah salah satu orang Indonesia yang merelakan rumahnya digunakan untuk sosialisasi. Hari itu, saya menyetir sejauh lebih dari 150 km demi partisipasi untuk pesta demokrasi.

Proses Pendaftaran

Pendaftaran diri sendiri dilakukan dengan mengisi formulir kertas (manual!) yang harus dilengkapi dengan data. Saya tak akan lupa hari itu, karena hanya ada dua bolpen. Salah satunya milik suami saya, otomatis kami bergantian menggunakan bolpen tersebut. Informasi tentang bolpen ini penting, untuk menggambarkan kesiapan panitia.

Hari itu saya mendaftarkan diri dan seorang teman. Selain menyerahkan formulir dengan data diri kami, kami juga harus menyerahkan kopi paspor melalui email gmail kepada panita Kedua email ini dibalas oleh panitia yang menyatakan data kami diterima. Yes, beres! 

Poster di negara tetangga

Proses Pemilihan

Menjelang pemilihan, dokumen berisi nama pemilih yang berhasil dicatatkan untuk memilih melalui pos diedarkan oleh salah satu rekan di komunitas warga dan diaspora Indonesia di Irlandia. Nama saya, kendati mengandung sebuah kesalah kecil, tercatat di DPT tersebut. Typo nama ini saya maafkan, karena tak mudah menginput ratusan, atau bahkan ribuan nama warga ke dalam sistem. Mungkin mata dan jari sudah lelah ketika melihat nama-nama tersebut. Aman.

Sosial media memberikan kesempatan bagi kami yang berada di luar negeri untuk pamer ketika surat suara sudah tiba. Pamer-pamer ini ternyata banyak gunanya, karena kami yang belum mendapatkan surat suara kemudian detak jantungnya mulai berdebar-debar, semangat menunggu surat suara. Mungkin karena rumah saya di luar Dublin, surat suara saya agak terlambat.

Tunggu punya tunggu, surat suara saya tak sampai. Dan pesan-pesan kepada petugas PPLN pun mulai saya layangkan. Saya tak sendiri, WNI lainnya pun mulai ribut mempertanyakan surat suaranya.

Dan kekacauan pun mulai terlihat….

Sampai kemudian salah satu diaspora Indonesia berinisiatif mendata warga yang belum menerima surat suara ini. Tercatat lebih dari dua puluh orang belum/ tidak menerima surat suara. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan untuk mengirim email ke PPLN lengkap dengan nomor passport serta alamat.

Tidak ada Alamat

Dalam kasus saya, petugas berdalih surat suara saya tak dikirimkan karena tak ada alamat. Entah dimana formulir yang saya berikan kepada petugas pada saat hari sosialisasi. Perjalanan panjang 150 km tersebut berakhir dengan sia-sia karena petugas yang tidak kompeten dalam menginput informasi dan data.

Tapi alamat bukan alasan lagi, karena minggu kemaren, detail alamat sudah saya berikan. Tapi tak ada balasan apa-apa lagi dari PPLN. Mendadak semunya sunyi dan senyap.

Soal Perangko

Beberapa orang yang tak menerima surat suara, ternyata surat suaranya kembali ke alamat pengirim (PPLN) karena isu sederhana: perangko yang tak mencukupi untuk mengirim surat suara ke luar negeri. Perlu dicatat PPLN ini lokasinya di London, sementara kami di Republik Irlandia.

Kekonyolan soal perangko tak hanya di surat-surat yang kembali, tapi juga di amplop untuk pengiriman surat suara kembali ke London. Rupanya, sebagian pemilih di Irlandia diberi amplop yang berisikan perangko Inggris, bukan perangko Irlandia. Sesungguhnya para panitia ini perlu diberi pelajaran sejarah, bahwa Republik Irlandia bukanlah jajahan Inggris.

Beruntung beberapa warga ada yang ditegur petugas pos atau pasangannya memperhatikan perangko ketika mengirim. Sementara mereka yang tak memperhatikan, saya yakin suaranya akan hangus. Yang menyebalkan, masalah perangko ini masalah klasik, pernah terjadi saat pemilu di tahun 2014 yang lalu.

Jangan tanya bagaimana sedihnya saya sebagai warga negara yang dirampas hak pilihnya karena KETIDAKKOMPETENAN panitia dalam menjalankan tugasnya. Mengatur data ratusan, atau mungkin ribuan orang memanglah tidaklah mudah, tapi ketika data sudah dikumpulkan dari perjalanan ke Irlandia, layaklah jika kami mempertanyakan kompetensi mereka. Kalau kata orang Irlandia: Gobshite!

Bagi kalian yang hari ini memutuskan untuk nyoblos, selamat berpesta demokrasi. Semoga kiranya siapapun pilihan kalian, membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dan tentunya, jangan sampai pertemanan rusak cuma gara-gara beda pilihan.

xx,
Tjetje

Penimbun Rempah Nusantara

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Selain keluarga, harta saya yang paling berharga adalah rempah-rempah nusantara yang saya datangkan dari Indonesia dan saya simpan di dalam freezer.

Kencur, daun salam, daun kunyit adalah sebagian kekayaan nusantara yang tak bakal bisa ditemukan di Irlandia, kecuali di dapur-dapur beberapa orang Indonesia. Itupun tak semua orang punya, selalu ada yang kehabisan atau tak menyimpan. Kalau sudah begitu, budaya tolong-menolong dan gotong-royong langsung dikeluarkan.

Persediaan sebagian diberikan bagi yang membutuhkan, tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan tentunya. Ada pula yang meminjamkan, dengan perjanjian jika kembali ke Indonesia titip dibawakan rempah-rempah. Soal titip-menitip ini, berdasar pengalaman saya kencur dan daun salam menduduki peringkat teratas yang sering diminta.

Membawa rempah-rempah dari Indonesia ke Irlandia tidaklah susah. Dari pengalaman saya dan tentunya banyak orang Indonesia lain, petugas custom di Irlandia tak reseh dengan urusan rempah. Mereka jauh lebih reseh dengan urusan rokok dan daging ketimbang rempah. Biasanya

Tak semua rempah sulit ditemukan, ada banyak rempah yang bisa ditemukan dengan mudah di Irlandia, tentunya karena permintan yang tinggi & juga karena komunitas Asia yang cukup tinggi. Sereh, daun kari, laos, kunci dan jahe bisa dengan mudahnya ditemukan di toko-toko Asia. Biasanya, produk-produk ini didatangkan dari Thailand (suka iri deh), diimpor ke Belanda, sebelum akhirnya dikirim dari Belanda ke Irlandia. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang untuk rempah segar ini. Lima batang daun sereh misalnya dijual Euro 1.55, sedikit lebih murah ketimbang supermarket normal yang menjual hampir dua Euro. Tolong jangan dibandingkan dengan di Indonesia yang tinggal cabut sereh dari halaman belakang ya. 

Tak hanya produk segar, produk rempah beku, lagi-lagi dari Belanda juga banyak dijual di sini. Biasanya, produk beku dipatok dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang produk segar. Daun jeruk, sereh, laos, hingga daun pisang dan daun pandang (Bukan rempah).

Rempah-rempah kering seperti merica, pala, cengkeh, kayu manis sendiri juga mudah ditemukan. Mereka bisa ditemukan di supermarket besar. Semakin besar supermarketnya, semakin berkualitas. Saya paling suka membeli rempah-rempah dari Tesco, harganya tak murah, tapi mereka ditata secara rapi di rak besar dan diatur sesuai abjad. Dasarlah saya ini Obs Comp, lihat rempah rapi gini langsung girang.

Selain karena rapi dan tertata, rempah-rempah dari supermarket ini suka dibungkus dalam wadah-wadah cantik transparan, sehingga isinya terlihat. Tutupnya pun dipasangi oleh stiker, jadi ketika mereka ditata rapi di dalam laci, bisa dengan mudah ditemukan. Pilihan mereknya pun bermacam-macam, bisa merek toko (yang tentunya murah meriah), atau merek-merek ternama yang harganya bisa tiga, hingga lima kali lipat dari merek toko. Yang pasti, rempah-rempah ini ketahuan asalnya dari mana.

Harga rempah kering ini tentu tak murah, jika dibandingkan dengan di Indonesia. Tapi soal kualitas tak perlu diragukan lagi. Tak ada merica yang dicampur dengan tepung sehingga rasanya aneh.

View this post on Instagram

Boemboe rempah-rempah #Cooking #IndonesianFood #Spices

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Di toko- toko Asia sendiri rempah-rempah kering ini dijual dalam porsi yang agak besar, seperempat, setengah, bahkan satu kilo. Bagi yang memiliki keluarga besar, atau memiliki usaha, membeli dalam porsi sebesar itu tentunya lebih murah. Tapi bagi keluarga kecil seperti saya, repot, keburu expired.

Satu hal penting yang juga memenuhi freezer saya adalah cabe. Saya beruntung bisa menemukan toko Asia yang menjual 3 kilogram cabe besar seharga 16€ saja. Di sini, harga tersebut terhitung sangat murah. Sementara di pusat kota Dublin sendiri, sekilo cabe dihargai 15-16€. Cabe ini ternyata didatangkan dari Belanda. 

Dengan musim yang sudah mulai membaik, sudah saatnya saya menanam cabe kembali, seperti Ibu Ani Yudhoyono 😉 Semoga saja tahun ini saya lebih beruntung, dan cabe saya bisa tumbuh besar.

Kalian, dapat rempah dapur dari mana? Halaman belakang rumah atau beli di pasar & tukang sayur?

 

xx,
Ailtje

Cerita Anjing

Sudah bukan rahasia lagi kalau saya ini pencinta anjing. Proses mencintai anjing ini tentunya dimulai dengan rasa takut pada anjing terlebih dahulu; takut dikejar dan tentunya takut digigit. Sebuah ketakutan yang normal pada sebagian orang Indonesia. Tapi ketakutan itu berubah menjadi kecintaan luar biasa ketika saya mulai berkenalan lebih dekat dengan banyak anjing.

View this post on Instagram

Aren't they the cutest? ❤️ #DogOfInstagram

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Di Indonesia, punya anjing itu tantangannya ada banyak, tapi yang terbesar adalah takut diracun sama tetangga (karena makanan dengan racun yang dilemparkan ke dalam halaman) hingga takut anjing dicuri untuk dijadikan makanan. Dulu bahkan pada jam-jam dan hari-hari tertentu, anjing saya bisa dipastikan berada di dalam rumah dan semua pintu rumah ditutup rapat-rapat.

Di Irlandia, punya anjing itu tidaklah semurah di Indonesia. Ongkos perawatan anjing itu jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Saya tak ingat pernah membaca di mana, tapi ongkos memiliki satu ekor anjing itu berkisar antara 20-30 ribu Euro selama masa hidup si anjing. Mahal, tapi tentunya sepadan!

Kebanyakan anjing di sini dipelihara di dalam rumah, walaupun banyak juga yang meninggalkan anjingnya di halaman rumah. Sejujurnya, saya tak suka dengan ide anjing ditaruh di halaman belakang rumah, apalagi cuaca Irlandia tak pernah bersahabat. Hujan dan badai adalah sebuah hal yang normal di sini.

Anjing-anjing juga sebaiknya tidak ditinggalkan sendirian lebih dari delapan jam. Idealnya, setiap empat jam ada yang mengecek si anjing. Tentu saya buat mereka yang bekerja, ini menjadi masalah besar. Ada beberapa solusinya, salah satunya penitipan anjing untuk mereka yang bekerja; konsepnya persis seperti daycare untuk anak-anak. Harganya, sekitar 60 Euro/ minggu, 240/  bulan dan lebih dari 3000/ tahun. Alternatif lain yang lebih murah adalah kamera yang bisa memonitor aktivitas anjing. Dengan kamera ini kita juga bisa memanggil anjing dan mengatur supaya treat untuk si anjing bisa dilemparkan.

Kebanyakan anjing-anjing di sini menikmati hidup yang cukup berkualitas, apalagi negara ini memiliki banyak ruang hijau untuk membawa anjing jalan-jalan setiap pagi dan malam. Di perkampungan dengan banyak industri peternakan, anjing-anjing wajib hukumnya untuk dibawa dengan tali, tak boleh dilepas untuk berlarian. Takutnya, anjing-anjing ini bisa menyerang domba-domba dan menggigit mereka. Di sini, banyak kasus domba diserang, petani tak terima dan si anjing ditembak.

Bicara ruang hijau tak bisa lepas dari bicara kotoran anjing. Aturan untuk membungkus kotoran anjing tertulis dimana-mana, tapi banyak juga pemilik anjing yang tak bertanggung jawab dan membiarkan kotoran anjingnya. Kotoran yang dibiarkan untuk berbahaya untuk kesehatan dan juga menjijikkan jika terinjak, atau terlindas roda stroller bayi. Di beberapa area di Dublin sendiri, terutama daerah yang kurang bagus, kotoran anjing bisa ditemukan dengan mudah di trotoar. Denda yang ratusan Euro tak membuat orang kemudian takut, karena faktanya pemerintah tak terlalu tegas dalam menindak para pelakunya. Kalau ada satu hal yang pemerintah di sini cukup disiplin, adalah perintah untuk menyuntik anjing mati jika anjing tersebut menggigit manusia atau hewan lain.

Permintaan anjing sendiri di Irlandia sangat tinggi, apalagi menjelang Natal. Makanya muncul kampanye A dog is for life, not just for Christmas. Banyak orang di sini tak paham bahwa konsekuensi dan tanggung jawab punya anjing itu besar. Anjing-anjing seringkali dikirimkan ke penampungan anjing karena alasan-alasan sepele, seperti anjing buang air di dalam rumah atau karena anjingnya terlalu besar. Sesungguhnya alasan ini sangat konyol, karena menunjukkan si pemilik anjing tak bisa melatih anjingnya dan tak melakukan riset dengan baik.

Beberapa bulan lalu, saya sempat ngebet banget pengen punya anjing dan sudah mulai mencari-cari anjing untuk diadopsi. Sempat terlintas juga untuk membeli, suami saya bahkan sudah pulang membawa uang tunai, siap membeli dua ekor anjing, tapi semua rencana langsung batal. Punya anjing itu komitmen besar, dan tak adil rasanya jika kami punya anjing dan meninggalkan si anjing sendiri di rumah. Tak adil untuk si anjing dan tak adil untuk kami. Jadi, sementara ini, kami cukup menjaga si Misty saja jika anjing ini dititipkan.

Kalian, punya cerita dengan anjing?

xx,
Ailtje
Pernah digigit Maltese dan dachshund, serta hampir digigit Rotwie. Tapi gak kapok

 

 

Pengalaman Colonoscopy

Bagi saya, kanker adalah momok dan mimpi buruk. Di usia saya yang baru kepala tiga ini, saya mengalami kehilangan keluarga dekat, keluarga jauh maupun teman-teman dekat karena kanker. Sedih banget denger cerita-cerita seperti ini, tapi mengetahui riwayat kanker di keluarga itu penting.

Tak seperti di Indonesia, di Irlandia saya harus terdaftar pada satu dokter umum, dokter ini yang kemudian mencatat riwayat penyakit keluarga dan penyakit kita. Kunjungan pertama saya ke GP seperti mendongeng, saya bercerita tentang semua keluarga dan penyakit yang mereka punya. Salah satunya, kanker yang diderita orang-orang terdekat saya, termasuk jenis kankernya. Cerita seperti ini ternyata penting banget, dan karena saya kurang merhatiin, harus kontak para keluarga untuk cek tipe-tipe kankernya.

Dokter saya kemudian memutuskan saya harus dirujuk untuk colonoscopy dari awal tahun ini karena sejarah keluarga. Tapi karena saya tak mengalami gejala apapun, saya berada di bagian bawah daftar prioritas. Si dokter di rumah sakit ngotot saya lewat antrian publik, tak perlu lewat antrian jalur cepat dengan asuransi pribadi. 

Lewat publik artinya antri satu negara, satu Irlandia dan biayanya gratis. Enam bulan berlalu, saya tenang-tenang. Eh tiba-tiba RS menemukan fakta saya punya asuransi pribadi dan mendadak saya masuk top prioritas, potong antrian. Hari Senin saya mendapatkan telpon, hari Selasa saya harus siap-siap dan hari Rabu saya colonoscopy. Prosesnya KILAT!

Apa itu colonoscopy? Prosedur ini merupakan cek kondisi usus dengan memasukkan kamera melalui anus untuk melihat apakah ada keanehan di dalam usus. Kalaupun ada polip di dalam usus, bisa langsung biopsi, untuk dicek apakah sel tersebut berbahaya. Panic mood on dong ya, apalagi pas Google “pengalaman kolonoskopi” yang keluar bahasa negara tetangga colok dubur. OMG!

Satu hari sebelum prosedur saya diharuskan meminum dua liter obat pencahar, yang pertama jam lima sore sebanyak satu liter. Lalu jam delapan malam sebanyak satu liter. Tiga hari sebelum prosedur saya juga diharuskan diet khusus, sementara satu hari sebelumnya saya hanya boleh makan makanan liquid.

Sejujurnya proses minum obat pencahar ini adalah hal paling buruk dari kolonoskopi. Perut bener-bener dikosongkan (tapi berat badan gak turun). Tujuan perut dikosongkan supaya dokter bisa lihat dengan jelas kondisi usus. Tapi proses pengosongan ini, kayak cuci baju manual, perut diperas sampai bersih-sih. Sakitnya jangan tanya, kayak abis makan di pinggir jalan dan makannya gak bersih sama sekali, piringnya abis dicelup di ember kotor dan lokasi pedagangnya persis di samping kali Jakarta yang hitam pekat dan bau.

Saya yang harusnya berada di RS pukul 7.30 tiba pukul 06.15. Pegawai administrasi RS pun belum muncul jam segitu. Saya sengaja berangkat cepat supaya jalanan masih kosong, karena ternyata efek obat pencahar itu masih ada.

Pasien yang akan proses kolonoskopi ini disuruh nunggu di bangsal yang berisi delapan tempat tidur. Dan karena ini RS, penuh drama dong, persis kayak Grey’s Anatomy. Ada nenek-nenek yang nangis panik karena kolonoskopi pertama tak berhasil, si nenek juga trauma karena lihat  tempat tidur RS bikin teringat suaminya yang meninggal 10 tahun lalu. Aduh hatiku hancur lihat nenek itu.

Ada pula kakek-kakek umur 94 tahun yang sudah bolak-balik kolonoskopi, si kakek kagak puasa, apalagi minum cairan pencahar. Alhasil para suster harus ngasih obat khusus untuk membersihkan perut si kakek dalam waktu kilat. Hebatnya si kakek ini kolonoskopi kagak pakai obat bius apa-apa. Satu hal yang saya pelajari dari kakek ini, tiap hari dia jalan kaki setidaknya satu jam.

Ruangan tempat saya beristirahat ini ternyata dipenuhi keseruan, badai buang gas namanya. Rupanya saat prosedur kolonoskopi ada gas yang dimasukkan perut dan seusai prosedur, gasnya harus dikeluarkan.

Saya sendiri berdrama dengam dokter muda yang penuh dengan label terhadap orang Asia. Dari disangka suster (karena muka saya mirip orang Filipina & orang Filipina kebanyakan jadi suster di sini), hingga dipuji berbahasa Inggris bagus padahal baru tinggal di Irlandia selama tiga tahun. Si dokter yang masih penasaran dengan level bahasa Inggris saya sampai nebak-nebak apakah Indonesia bekas koloni Inggris. Menyebalkan.

Dokter yang sama mengaku baru pertama kali masang jarum abbocath di bagian tangan. Saya sampai teriak karena sakit, duh Gusti, coba ini di Indonesia, udah langsung minta suster senior. Nabung karma baik, karena jadi tempat dokter baru belajar. 🤦‍♀️

Anyway, colonoscopy itu gak dibius total, cuma dikasih obat sedikit, kitanya tidur-tidur ayam, gak kesakitan. Di tengah keliyengan itu saya bisa lihat kamera menari-nari di dalam usus saya. Begitu prosedur selesai, saya dikembalikan ke dalam bangsal tunggu, dan diharuskan buang gas sebelum diberi dua lembar roti tawar bersama teh hangat. Urusan makanan, RS di Indonesia jawara deh.

Hari itu, saya pulang dengan riang gembira. Tak ada yang perlu dicemaskan, usus saya bersih dan lima tahun lagi saya bisa cek ulang. Sesungguhnya, kabar ini mengangkat semua beban di pundak saya. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya saya, karena dianugerahi kesehatan. Satu hal yang saya juga sangat bersyukur, di Irlandia ini sistem kesehatan jauh lebih baik & saya bisa mengakses kolonoskopi sebelum terlambat.

Untuk kalian yang sedang disuruh kolonoskopi, sedang berjuang melawan kanker, atau bersama keluarga yang berjuang melawan kanker, doaku menyertai kalian. Semoga kalian diberi kekuatan.


Apa yang paling kalian syukuri saat ini? 

xx,
Ailtje

 

Thing Indonesians Like: Durian

Just like Jakarta, the big durian, you are either going to love it or to hate it. There is no in between.

Durian is being judged as the world’s smelliest fruit, it has distinctive odor and sometimes described to have the stench of old gym socks. The lovers of this King of fruit will argue that the spicy fruit has a sweet smell. The chewy flesh is so soft, like a cream cheese mix with custard.

This fruit is so powerful, it could divide a family into two, the haters and the lovers. The pungent smell would stop the haters from having them around the house, while the lovers would do anything to have them. The fight about durian in the family could be nasty, as durian haters feel they deserve fresh air, free from the potent stench of the fruit. While for the lovers, the smell is not really that bad.

I was once a durian hater, but I was converted by a former colleague. One evening, we were sitting in a durian place, not far from Hermes Palace Hotel in Banda Aceh.  My former colleague ate durian passionately, so passionate that I think she was having duriangasm. It’s the foodgasm caused by a delicious durian.

Not knowing the pleasure of eating durian (and obviously wanted to have duriangasm), I decided to try it. It was one of the best decisions I’ve ever made and thankfully, it was one of the best durians I’ve ever had. The smell of the durian was not strong, perfect for newbie like me; they said it was fresh from the tree. Hence, less smelly. That night, we combined the durian with sticky rice, like a real Banda Acehnese, and it was a lip-smacking combination.

For Indonesians durian lovers, travelling around the country means tasting local durian. I traveled to different places in Indonesia to see the country and to taste durian, but the one place that I could never forget is Medan, a city famous for all-year round durian. A famous durian seller from the city, even claims, you haven’t been to Medan, if you haven’t taste Ucok Durian.

Durian Medan is so famous that Indonesians like to bring them back home as oleh-oleh (gift). Despite the ban from airlines to bring them to the cabin, people still find a way to “smuggle” durian. The seller will pack fresh durian flesh in a plastic box, wrapped with few layers of plastic, covered with a spoonful of coffee powder before re-wrapping it with another plastic. It is belief that the coffee would eliminate the smell of the durian. A former colleague tried it, but the flight attendants cannot be fooled.

Despite our love to durian, people hate the idea of having durian in a flight. Recently, a Sriwijaya Air flight was delayed as the passengers weren’t happy with the smell of durian inside the cabin. The airline carried three tonnes durians and some passengers claimed it as a safety hazard. They walked out from the flight and refused to fly. It’s either them or durian. The case of people vs durian was unfortunately won by the people.

Fearing of flying with durian came from the incident that happened in 2005, Mandala Airline crashed in Medan and more than 2 tonnes of durian was found in the scene. Up until today, there are still too many people who believe the crash was caused by the durians, not the engine.

What’s the best way to eat durian? Fresh durian would still be the best way to eat it and in Indonesia, we like them ripe. A combination of durian with sticky rice (like the one I had in Banda Aceh) is also good. There are also people who eat durian with rice, many of us would find this weird. Durian can also be processed “for a snack”, such as pancake, glutinous rice cake, ice cream, cheesecake, pizza and the list go on.

Durian is claimed to be dangerous for health, as it might increase cholesterol level. It is of course a myth. Turn out, durian has no cholesterol. People also believe that people could get drunk if they eat too much durian, as it contains alcohol. In Indonesia, we call it mabuk durian. Despite the myths, the smell and the hates we receive for loving them, our love for durian is undeniable. We love it so much that some of us bring it to the bedroom, as a durian flavour condom (okay this is too much!).

Do you love durian?

xx,
Tjetje