About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Melawan Reverse Culture Shock

Selama bermukim di sini, hampir tiap tahun saya pulang kampung, untuk melepas rindu pada keluarga dan makanan Indonesia. Pulang kampung kali ini, sama seperti sebelumnya, saya mengalami reverse culture shock lagi. Dua hari pertama saya, rasanya pening melihat banyaknya hal-hal yang saya sudah tak terbiasa lagi. Belum lagi ketidakbiasaan ini ditambah dengan panas Jakarta yang membara, polusi dan kabut polusi yang menggantung di langit-langit Jakarta, serta kerinduan pada hujan yang saat itu tak kunjung datang. Emosi pun membara, saya jadi mudah bete. Mood saya pada dua hari pertama jadi sangat buruk. Soal kekagetan ini pernah saya tulis di sini dan di sini.

Kebetean ini ditambahkan pula dengan komentar tentang tubuh yang membuat saya semakin emosi jiwa. Jauh sebelum pulang ke Indonesia, saya sudah siap menerima komentar tentang berat badan saya yang bertambah. Toleransi terhadap komentar ini saya atur di level: GENDUT. Komentar apapun dengan embel-embel gendut tak akan membuat saya emosi. Manusia boleh berencana, ogoh-ogoh tapi punya rencana yang jauh lebih kejam. Pada acara perkawinan (yang menjadi tujuan utama saya pulang kampung), saya mendapatkan komentar tubuh saya GEMBROT. Saudara bukan, teman bukan, kenal juga hanya sekilas saya. Orang yang sama kemudian menyempurnakan komentarnya dengan memukul pantat saya sambil berkata, “kamu beneran gendutan deh”. Detik itu saya ingin berkata kejam, tapi saya menahan diri. Pelan-pelan, saya bunuh dia dari pikiran saya. To me, she is six feet under.

View this post on Instagram

Kramat Jati Market. 2019. #Market #Pasar #Indonesia

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Tak hanya komentar soal tubuh, Jakarta juga membuat saya emosi jiwa dengan kesemrawutannya. Jangan ditanya betapa stressnya saya, rasanya pingin cepet-cepet kembali ke Irlandia, supaya bisa menghirup udara segar. Semacet-macetnya Irlandia, kendaraan masih berjalan lurus, tak seperti di Jakarta. Padahal kemana-mana saya disetirin, gak nyetir tapi ikut stress. Tapi apalah gunanya bermuram durja ketika kita hanya kembali pulang setahun sekali. Saya kemudian memutuskan untuk membalik reverse culture shock ini. Bagaimana caranya?

View this post on Instagram

Dear #Jakarta, I love you so much.

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Saya berpasrah diri pada hal-hal yang tak bisa saya ubah. Realitasnya, Jakarta memang macet & polusi di mana-mana. Dan di tengah kesemrawutan ini, sepeda motor masih seenaknya sendiri, tanpa aturan. Klakson pun masih sangat meriah. Dan di tengah-tengah kesemrawutan itu, I counted my blessings. Dari mulai gak perlu ikutan nyetir, gak perlu kepanasan, duduk nyaman di dalam mobil hingga bisa ngobrol hantu dengan pengemudi kami.

Panas Jakarta yang membara juga membuat saya bersyukur, masih ada AC untuk mengademkan diri. Bisa ngadem di mall juga sambil minum kopi. Serunya lagi di Indonesia kopi yang ditawarkan selalu panas atau dingin. Di Irlandia, jangan harap dapat es kopi, apalagi di musim dingin ini. Para barista juga ramah-ramah tak terkira, padahal kerja mereka panjang dan sangat melelahkan.

Berada di Jakarta juga membuat saya bisa makan apa saja, di mana saja dengan mudahnya. Dari masakan Indonesia hingga masakan Jepang. Di Irlandia, tak ada masakan Jepang yang otentik, jadi pulang ke Indonesia bertemu aneka ramen rasanya surga banget. Soal pemesanan makanan juga mudah sekali, tinggal buka aplikasi dan pencet-pencet tombol Gojek. Selesai.

Saya juga bahagia banget masuk toilet di mal-mal di Indonesia. Baunya wangi, bersih, jangan dibandingkan dengan mal di Irlandia. Petugasnya pun juga ramah gak karuan. Biarpun dicuekin oleh lebih dari 90% pengguna toilet, mereka masih tetap mengucapkan terimakasih dengan senyum.

Keramahan khas Indonesia juga menjalar ketika memasuki toko-toko untuk berbelanja, atau sekadar mencoba. Dari Factory Outlet yang menjual produk-produk buatan Indonesia hingga toko-toko di mall. Bahkan para abang-abang yang menjaga makam pun tak terkira ramahnya. Mereka berlarian mencoba membantu saya menemukan makam-makam yang saya kunjungi.

Setelah puluhan purnama dan beberapa kali pulang, akhirnya saya belajar bagaimana membuat pulang kampung tak beracun,  meminimalisasi energi negatif dan tentunya mengatur kekagetan dengan hal-hal yang kita tak biasa lagi. Apalah gunanya pulang kampung kalau cuma untuk ngomel-ngomel, apalagi kalau kemudian diabadikan di media sosial dan meracuni orang lain.

Ada yang punya tips lain biar gak kaget kalau pulang kampung?

 

Xx,
Tjetje
Yang sangat malas ngeblog

Kenangan Manis Masa Kecil

Sambil menyetir ke kantor pagi tadi, si penyiar radio bercerita bahwa dia bertemu dengan ayahnya. Mereka sudah beberapa bulan ini tidak ketemu, karena selama musim panas ini sama-sama sibuk. Si Ayah ketika bertemu memberikan kartu ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah bulan Juni lalu. Tapi di Irlandia, tradisi memberi kartu itu tradisi penting. Ketika dibuka, kartu itu diisi uang sebagai hadiah ulang tahun. Si penyiar bercerita bagaimana pengalaman itu membawa banyak kenangan masa kecil. Btw, penyiar ini udah bapak-bapak beranak dua.

Cerita itu membawa saya kembali ke Indonesia, ke masa kecil saya, ketika keluarga kami mendapat kunjungan dari sanak-saudara atau teman-teman orang tua saya. Di akhir kunjungan, biasanya mereka menyelipkan sedikit uang ketika kami mencium tangan mereka. Nilainya bagi saya saat itu, berarapapun, berasa banyak sekali. Maklum sebagai anak-anak, saya belum teracuni kerakuasan dan tak begitu mengerti nilai uang. Tentunya sekarang sudah jauh beda 😉

Beberapa tahun lalu, ketika saya bekerja di Jakarta & mudik ke Malang, saya mengunjungi seorang tetangga. Ketika saya hendak pulang, beliau mewanti-wanti bahwa ia akan memberi saya uang tapi saya tak boleh melihat dari nilainya, tapi dari perhatian dan niatnya. Jangan ditanya rasanya, saya riang gembira tak terkira. Uangnya sendiri saya simpan di dalam dompet sebagai token, token perhatian pada saya. Yang jelas lebih indah daripada ketika menerima gaji ataupun bonus. Mungkin, karena elemen kejutannya yang membuat hadiah uang jadi lebih manis.

Tidur Siang

Selain urusan uang, kenangan manis masa kecil yang sangat saya hargai adalah kesempatan untuk bisa tidur siang. Ketika anak-anak disuruh tidur siang rasanya susah sekali & saya merasa itu sebagai sebuah hukuman. Apalagi sebagai anak-anak, saya maunya main di luar dan bermain sepeda hingga kulit kelam (hingga kemudian dikatain tetangga karena kulit kelam & betis besar). Satu kali, saya pernah nekat keluar dari jendela rumah tante saya di Surabaya, lalu memanjat pagar rumah untuk keluar. Nasib apes, pucuk pagar yang sedang saya pegang patah dan saya sukses perlahan-lahan (tapi pasti), masuk ke dalam selokan Surabaya yang warna dan baunya aduhai.

Sebagai orang dewasa, tidur siang menjadi sebuah kemewahan luar biasa, karena selama hari kerja saya tak punya kesempatan tidur siang. Begitu pula ketika akhir pekan, apalagi di musim panas seperti ini. Maunya keluar terus untuk menikmati cuaca. Begitu teler dan punya kesempatan untuk tidur siang, rasanya menyenangkan sekali.

Berbagi Kue

Kenangan manis yang tak lagi saya lakukan adalah soal membagi kue menjadi beberapa potong, tergantung penghuni rumah. Eyang putri  dan mama saya jika pergi ke arisan selalu membawa pulang satu kotak yang berisi makanan. Buah tangan arisan ini biasanya diisi dengan perpaduan kue yang manis juga kue yang asin. Sebagai anak-anak, tentunya ingin mencoba semua kue yang ada di dalam kotak tersebut.

Di keluarga kami, kue-kue tersebut harus dibagi-bagi. Biasanya dipotong sama rata menjadi empat, sesuai penghuni rumah pada saat itu. Semua orang ikut merasakan, walaupun hanya secuil. Rasanya juga jadi lebih menyenangkan, tak terlalu kenyang.

Prinsip berbagi sekarang berubah, bukan lagi karena ingin icip-icip, tapi karena tak ingin merasa terlalu berdosa dengan kalori dan kenikmatan kue-kue tersebut. Nikmat di mulut hanya sekejap, tapi harus dibakar di gym selama berjam-jam.

Bagaimana dengan kalian, punya kenangan manis masa kecil?

xx,
Ailtje
Diingetin WP, udah 8 tahun ngeblog

 

Selfie Maut

Swafoto atau dikenal juga dengan selfie adalah pengambilan foto diri sendiri, dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti selfie stick. Selfie sendiri bukanlah sebuah hal yang baru, tapi menjadi sangat popular demgan maraknya smarphone dan kameranya yang semakin canggih. Perkenalan saya dengan selfie dan selfie stick terjadi beberapa tahun lalu, jaman saya masih bekerja di Jakarta. Tapi hubungan saya dengan selfie tak berlangsung lama, karena intensitas selfie yang terlalu tinggi. Saya membawa selfie stick untuk liburan ke Kamboja dan berakhir dengan ratusan foto yang isinya muka saya dan teman seperjalanan saya. Langsung auto muak selfie.

View this post on Instagram

Shameless selfie #Maltese #maltesepuppy

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Semenjak itu, jumlah swafoto saya menurun drastis, walaupun angka di Iphone saya menunjukkan saya sudah mengambil selfie sebanyak lebih dari 300 kali. Selfie ini sebagian berisi muka anjing ketika duduk di pangkuan saya, atau ponakan piyik (yang iseng ngambil HP untuk selfie) dan muka-muka saya selfie bersama bayi-bayi orang. Bagi saya, selfie itu gak penting.

Tapi tidak bagi banyak orang lainnya. Selfie menjadi sebuah keharusan, apalagi jika berada di tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik. Apalah artinya pemandangan yang cantik jika tak ditambah dengan wajah-wajah kita yang tak kalah cantik. Mungkin begitu prinsipnya. Suka-sukalah, toh menggunakan gawainya sendiri-sendiri.

Bagi saya pribadi, ada beberapa kondisi yang membuat selfie menjadi big no no. Pertama soal selfie  yang overdosis. Di mana-mana harus selfie dulu, mau makan selfie dulu, ketemu temen selfie lagi (ya kalau ketemunya sekali-sekali), nge-gym selfie lagi. Padahal muka juga gitu-gitu aja. Nah parahnya selfie ini kemudian dimasukkan ke dalam media sosial dengan intesitas yang keterlaluan. Apa indikasinya keterlaluan? Ya kalau bikin orang lain capek lihatnya, mukanya gitu lagi gitu lagi, gayanya gitu lagi gitu lagi, sudutnya juga itu lagi itu lagi; langsung pencet tombol mute atau unfollow.

Selain urusan overdosis, selfi lain yang juga engga banget  bagi saya adalah selfie yang tak memikirkan lingkungan sekitar. Swafoto di makam, swafoto dengan jenasah, atau misalnya ditempat tragedi terjadi, seperti di Auschwitz. Penting dan pantaskah melakukan hal tersebut?

Tak hanya soal kepatutan di tempat-tempat tertentu, tapi juga dampak yang timbul akibat swafoto tersebut. Sudah berulang kali kita mendengar kasus tanaman, bunga, ataupun hal lain dari alam kita yang rusak hanya gara-gara napsu ingin selfie.

Nah selfie terakhir adalah selfie yang apes bercampur dengan kurang cerdas; selfie yang membahayakan diri sendiri hingga membuat nyawa melayang. Pernah dengar kan cerita orang yang meninggal dunia gara-gara selfie? Ternyata menurut global study, dalam rentang enam tahun, dari 2011 hingga 2017 ada 259 orang yang meninggal dunia karena selfie. Beberapa mengkategorikannya sebagai sebuah epidemi.

Kasus meninggal dunia karena selfie ini bermacam-macam; yang teranyar ketika tulisan ini dibuat, seorang pelajar dari Belarus yang meninggal jatuh dari balkoni hostel di tengah malam. Beberapa kematian akibat selfie ini juga banyak terkait dengan kereta, dari tersetrum hingga tertabrak kereta.

Di Indonesia sendiri ada kasus selfie dimana seseorang meninggal karena jatuh ke dalam kawah, tenggelam di air terjun, hingga jatuh ke laut dari tebing. Kasus selfie yang membekas di kepala saya sendiri kasus pasangan Polandia yang meninggal, jatuh dari tebing di Portugis di depan anak-anaknya. Saya tak bisa membayangkan trauma yang timbul akibat kehilangan orang tua dengan cara seperti itu.

Manusia itu berproses dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. Saya pun tak lepas dari kesalahan dan proses belajar itu. Selayaknya, kita belajar dari kematian-kematian tragis ini. Hidup kita terlalu indah untuk diakhiri dengan selfie maut, hanya karena konten yang ingin kita unggah di media sosial untuk mendapatkan notifikasi like.

Jadi, kapan terakhir kalian selfie?

xx,
Tjetje

 

Kantor Pos

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, saya masih sempat merasakan rasa senang yang tak terkira ketika melihat petugas pos, dengan sepeda motornya yang berwarna oranye berhenti di depan rumah untuk memasukkan surat ke dalam kotak pos. Hati saya jadi riang gembira kalau salah satu surat tersebut datang dari beberapa sudut Indonesia, tempat sahabat pena saya bermukim. Keriangan karena kedatangan petugas pos sekarang tak pernah saya rasakan lagi, karena setiap kali mobil Ibu pos datang, ia membawa tagihan yang harus dibayar.

Besar di Malang membuat saya banyak berkutat dengan kantor pos pusat, yang terletak di Alun-alun kota Malang. Bangunan tua yang banyak dihiasi warna oranye, warna khas kantor Pos Indonesia ini dulunya dipenuhi oleh orang-orang yang antri membeli perangko. Apalagi menjelang hari raya, kantor pos dipenuhi orang-orang yang membeli perangko untuk mengirim kartu ucapan. Di Indonesia, antrian itu tak ada lagi, tak seperti di Irlandia, kantor pos masih penuh.

Pojok filateli, juga memberikan ruang tersendiri di hati, karena saya sempat mengumpulkan perangko dan sering membeli perangko di pojokan. Sekarang, hobi ini sudah saya hentikan, walaupun koleksi saya masih teronggok di sudut rumah. Berdebu dan tak terawat.

Kantor pos juga membawa kenangan buruk bagi saya. Setiap tahun, saya mendapatkan beberapa paket hadiah Natal dari Australia, dari beberapa kenalan keluarga kami, karena kami dulu pernah tinggal di negeri Kanguru tersebut. Paket-paket ini bermacam-macam, dari buku hingga makanan. Petugas kemudian menentukan besaran tarif custom yang harus dibayarkan, berdasarkan nilai hadiah.

Satu Natal, kami menerima paket yang berisi makanan kering dari Australia. Oleh petugas, makanan-makanan tersebut dibuka, mungkin bagian dari prosedur untuk memastikan bukan barang-barang berbahaya. Tapi ternyata, sebagian besar isinya hilang, lenyap entah kemana. Rasanya kecewa sekali ketika melihat hadiah kami tak karuan bentuknya, separuh dari makanan tersebut juga hilang. Entah ke mana.

Beberapa Natal sebelum saya pindah ke Irlandia, Ibu mertua saya mengirimi perhiasan sebagai hadiah Natal. Bukan perhiasan mewah, tapi ltarif custom yang harus dibayarkan bikin jantungan, karena bisa beli perhiasan di Pasar Baru. Tarif custom jauh lebih mahal daripada harga asli. Selain urusan biaya yang tak masuk akal, lokasi kantor pos yang jauh juga membuat saya berpikir panjang. Untungnya banjir datang, jalanan macet dan saya pun tak bisa mengambil hadiah Natal. Pulanglah sang hadiah Natal kembali ke Irlandia. Horraaaay, gak perlu bayar!

Di Irlandia, kantor pos punya banyak peran penting dalam masyarakat. Selain untuk pengiriman surat dan barang-barang, kantor pos juga menjadi tempat membayar tagihan. Dari membayar gas rumah, beli pulsa, hingga urusan sampah. Frekuensi kunjungan ke kantor pos yang tinggi membuat hubungan dengan petugas di bilik pos pun terbangun. Apalagi, saya tinggal di kampung kecil.

Selain urusan di atas, kantor pos juga menjadi tempat pembayaran jaminan sosial & pensiun. Jaminan sosial ini diberikan untuk mereka yang tak kerja ataupun sakit. Di salah satu pusat kota Dublin, saya pernah melihat antrian panjang orang-orang yang antri mengambil jatah jaminan sosial ini. Mereka sudah antri sedari pagi, ketika kantor pos belum buka.

Kantor pos Irlandia juga sangat pintar menangkap kesempatan dari mereka yang hobi belanja daring. Seringkali para vendor ini tak bisa mengirimkan barang ke Irlandia dan hanya mengirimkan ke Amerika ataupun ke UK saja. Kantor pos pun menawarkan jasa peminjaman alamat, tak pakai pusing, barang juga selamat sampai di Irlandia. Tentunya kantong tak akan selamat jika memberi barang dari luar EU, karena custom tidaklah murah.

Sama seperti di Indonesia, kantor pos di Irlandia juga menawarkan Collector’s Corner untuk mereka yang hobi mengumpulkan perangko. Ada tema-tema tahunan yang bisa dengan mudahnya dilihat dari website mereka. Saya sendiri sering iseng membeli perangko koleksi ini, karena perangkonya lucu-lucu, tapi nominalnya seringkali tak cocok dengan tarif pengiriman.

Terakhir, tiap tahun saya memiliki ritual untuk berkunjung ke Kantor Pos Pusat, di sini dikenal sebagai GPO (General Post Office) yang terletak di O’Connell Street, jalanan terkenal di Irlandia. Kantor pos ini merupakan Gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu Easter Rising, pemberontakan orang-orang Irlandia terhadap Inggris. Di pilar-pilarnya bahkan masih banyak ditemukan lubang-lubang bekas peluru bersarang. Saya sendiri berkunjung ke kantor pos ini bukan untuk melihat pilar, tapi untuk menengok kotak pos khusus untuk Santa. Kotak pos yang muncul setiap Desember untuk menipu anak-anak kecil.

Kalian, punya kenangan atau hubungan manis dengan kantor pos dan para petugas pos?

 

xx,
Tjetje

Catatan WNI Tak Bisa Pemilu di Irlandia

Selamat pagi Indonesia!

Hari ini menjadi hari penting bagi banyak WNI di Indonesia, karena hari ini menjadi pesta demokrasi. Pestanya orang-orang Indonesia untuk memilih wakil rakyatnya. Bagi kami, para WNI yang berada di luar negeri sendiri, pemilihan umum ini sudah dilaksanakan pada akhir pekan lalu.

Pemilu kali ini menjadi pemilihan umum Indonesia pertama saya di luar negeri. Di Irlandia sendiri, saya juga memiliki hak untuk memilih, tapi hanya pemilihan lokal saja. Karena ini pemilihan pertama saya, otomatis saya harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dan menyetirlah saya dari rumah saya dari kampung ke tempat sosialisasi PPLN (Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri) yang bertempat di rumah salah satu orang Indonesia yang merelakan rumahnya digunakan untuk sosialisasi. Hari itu, saya menyetir sejauh lebih dari 150 km demi partisipasi untuk pesta demokrasi.

Proses Pendaftaran

Pendaftaran diri sendiri dilakukan dengan mengisi formulir kertas (manual!) yang harus dilengkapi dengan data. Saya tak akan lupa hari itu, karena hanya ada dua bolpen. Salah satunya milik suami saya, otomatis kami bergantian menggunakan bolpen tersebut. Informasi tentang bolpen ini penting, untuk menggambarkan kesiapan panitia.

Hari itu saya mendaftarkan diri dan seorang teman. Selain menyerahkan formulir dengan data diri kami, kami juga harus menyerahkan kopi paspor melalui email gmail kepada panita Kedua email ini dibalas oleh panitia yang menyatakan data kami diterima. Yes, beres! 

Poster di negara tetangga

Proses Pemilihan

Menjelang pemilihan, dokumen berisi nama pemilih yang berhasil dicatatkan untuk memilih melalui pos diedarkan oleh salah satu rekan di komunitas warga dan diaspora Indonesia di Irlandia. Nama saya, kendati mengandung sebuah kesalah kecil, tercatat di DPT tersebut. Typo nama ini saya maafkan, karena tak mudah menginput ratusan, atau bahkan ribuan nama warga ke dalam sistem. Mungkin mata dan jari sudah lelah ketika melihat nama-nama tersebut. Aman.

Sosial media memberikan kesempatan bagi kami yang berada di luar negeri untuk pamer ketika surat suara sudah tiba. Pamer-pamer ini ternyata banyak gunanya, karena kami yang belum mendapatkan surat suara kemudian detak jantungnya mulai berdebar-debar, semangat menunggu surat suara. Mungkin karena rumah saya di luar Dublin, surat suara saya agak terlambat.

Tunggu punya tunggu, surat suara saya tak sampai. Dan pesan-pesan kepada petugas PPLN pun mulai saya layangkan. Saya tak sendiri, WNI lainnya pun mulai ribut mempertanyakan surat suaranya.

Dan kekacauan pun mulai terlihat….

Sampai kemudian salah satu diaspora Indonesia berinisiatif mendata warga yang belum menerima surat suara ini. Tercatat lebih dari dua puluh orang belum/ tidak menerima surat suara. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan untuk mengirim email ke PPLN lengkap dengan nomor passport serta alamat.

Tidak ada Alamat

Dalam kasus saya, petugas berdalih surat suara saya tak dikirimkan karena tak ada alamat. Entah dimana formulir yang saya berikan kepada petugas pada saat hari sosialisasi. Perjalanan panjang 150 km tersebut berakhir dengan sia-sia karena petugas yang tidak kompeten dalam menginput informasi dan data.

Tapi alamat bukan alasan lagi, karena minggu kemaren, detail alamat sudah saya berikan. Tapi tak ada balasan apa-apa lagi dari PPLN. Mendadak semunya sunyi dan senyap.

Soal Perangko

Beberapa orang yang tak menerima surat suara, ternyata surat suaranya kembali ke alamat pengirim (PPLN) karena isu sederhana: perangko yang tak mencukupi untuk mengirim surat suara ke luar negeri. Perlu dicatat PPLN ini lokasinya di London, sementara kami di Republik Irlandia.

Kekonyolan soal perangko tak hanya di surat-surat yang kembali, tapi juga di amplop untuk pengiriman surat suara kembali ke London. Rupanya, sebagian pemilih di Irlandia diberi amplop yang berisikan perangko Inggris, bukan perangko Irlandia. Sesungguhnya para panitia ini perlu diberi pelajaran sejarah, bahwa Republik Irlandia bukanlah jajahan Inggris.

Beruntung beberapa warga ada yang ditegur petugas pos atau pasangannya memperhatikan perangko ketika mengirim. Sementara mereka yang tak memperhatikan, saya yakin suaranya akan hangus. Yang menyebalkan, masalah perangko ini masalah klasik, pernah terjadi saat pemilu di tahun 2014 yang lalu.

Jangan tanya bagaimana sedihnya saya sebagai warga negara yang dirampas hak pilihnya karena KETIDAKKOMPETENAN panitia dalam menjalankan tugasnya. Mengatur data ratusan, atau mungkin ribuan orang memanglah tidaklah mudah, tapi ketika data sudah dikumpulkan dari perjalanan ke Irlandia, layaklah jika kami mempertanyakan kompetensi mereka. Kalau kata orang Irlandia: Gobshite!

Bagi kalian yang hari ini memutuskan untuk nyoblos, selamat berpesta demokrasi. Semoga kiranya siapapun pilihan kalian, membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dan tentunya, jangan sampai pertemanan rusak cuma gara-gara beda pilihan.

xx,
Tjetje

Penimbun Rempah Nusantara

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Selain keluarga, harta saya yang paling berharga adalah rempah-rempah nusantara yang saya datangkan dari Indonesia dan saya simpan di dalam freezer.

Kencur, daun salam, daun kunyit adalah sebagian kekayaan nusantara yang tak bakal bisa ditemukan di Irlandia, kecuali di dapur-dapur beberapa orang Indonesia. Itupun tak semua orang punya, selalu ada yang kehabisan atau tak menyimpan. Kalau sudah begitu, budaya tolong-menolong dan gotong-royong langsung dikeluarkan.

Persediaan sebagian diberikan bagi yang membutuhkan, tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan tentunya. Ada pula yang meminjamkan, dengan perjanjian jika kembali ke Indonesia titip dibawakan rempah-rempah. Soal titip-menitip ini, berdasar pengalaman saya kencur dan daun salam menduduki peringkat teratas yang sering diminta.

Membawa rempah-rempah dari Indonesia ke Irlandia tidaklah susah. Dari pengalaman saya dan tentunya banyak orang Indonesia lain, petugas custom di Irlandia tak reseh dengan urusan rempah. Mereka jauh lebih reseh dengan urusan rokok dan daging ketimbang rempah. Biasanya

Tak semua rempah sulit ditemukan, ada banyak rempah yang bisa ditemukan dengan mudah di Irlandia, tentunya karena permintan yang tinggi & juga karena komunitas Asia yang cukup tinggi. Sereh, daun kari, laos, kunci dan jahe bisa dengan mudahnya ditemukan di toko-toko Asia. Biasanya, produk-produk ini didatangkan dari Thailand (suka iri deh), diimpor ke Belanda, sebelum akhirnya dikirim dari Belanda ke Irlandia. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang untuk rempah segar ini. Lima batang daun sereh misalnya dijual Euro 1.55, sedikit lebih murah ketimbang supermarket normal yang menjual hampir dua Euro. Tolong jangan dibandingkan dengan di Indonesia yang tinggal cabut sereh dari halaman belakang ya. 

Tak hanya produk segar, produk rempah beku, lagi-lagi dari Belanda juga banyak dijual di sini. Biasanya, produk beku dipatok dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang produk segar. Daun jeruk, sereh, laos, hingga daun pisang dan daun pandang (Bukan rempah).

Rempah-rempah kering seperti merica, pala, cengkeh, kayu manis sendiri juga mudah ditemukan. Mereka bisa ditemukan di supermarket besar. Semakin besar supermarketnya, semakin berkualitas. Saya paling suka membeli rempah-rempah dari Tesco, harganya tak murah, tapi mereka ditata secara rapi di rak besar dan diatur sesuai abjad. Dasarlah saya ini Obs Comp, lihat rempah rapi gini langsung girang.

Selain karena rapi dan tertata, rempah-rempah dari supermarket ini suka dibungkus dalam wadah-wadah cantik transparan, sehingga isinya terlihat. Tutupnya pun dipasangi oleh stiker, jadi ketika mereka ditata rapi di dalam laci, bisa dengan mudah ditemukan. Pilihan mereknya pun bermacam-macam, bisa merek toko (yang tentunya murah meriah), atau merek-merek ternama yang harganya bisa tiga, hingga lima kali lipat dari merek toko. Yang pasti, rempah-rempah ini ketahuan asalnya dari mana.

Harga rempah kering ini tentu tak murah, jika dibandingkan dengan di Indonesia. Tapi soal kualitas tak perlu diragukan lagi. Tak ada merica yang dicampur dengan tepung sehingga rasanya aneh.

View this post on Instagram

Boemboe rempah-rempah #Cooking #IndonesianFood #Spices

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Di toko- toko Asia sendiri rempah-rempah kering ini dijual dalam porsi yang agak besar, seperempat, setengah, bahkan satu kilo. Bagi yang memiliki keluarga besar, atau memiliki usaha, membeli dalam porsi sebesar itu tentunya lebih murah. Tapi bagi keluarga kecil seperti saya, repot, keburu expired.

Satu hal penting yang juga memenuhi freezer saya adalah cabe. Saya beruntung bisa menemukan toko Asia yang menjual 3 kilogram cabe besar seharga 16€ saja. Di sini, harga tersebut terhitung sangat murah. Sementara di pusat kota Dublin sendiri, sekilo cabe dihargai 15-16€. Cabe ini ternyata didatangkan dari Belanda. 

Dengan musim yang sudah mulai membaik, sudah saatnya saya menanam cabe kembali, seperti Ibu Ani Yudhoyono 😉 Semoga saja tahun ini saya lebih beruntung, dan cabe saya bisa tumbuh besar.

Kalian, dapat rempah dapur dari mana? Halaman belakang rumah atau beli di pasar & tukang sayur?

 

xx,
Ailtje

Cerita Anjing

Sudah bukan rahasia lagi kalau saya ini pencinta anjing. Proses mencintai anjing ini tentunya dimulai dengan rasa takut pada anjing terlebih dahulu; takut dikejar dan tentunya takut digigit. Sebuah ketakutan yang normal pada sebagian orang Indonesia. Tapi ketakutan itu berubah menjadi kecintaan luar biasa ketika saya mulai berkenalan lebih dekat dengan banyak anjing.

View this post on Instagram

Aren't they the cutest? ❤️ #DogOfInstagram

A post shared by Ailsa (@binibule) on

Di Indonesia, punya anjing itu tantangannya ada banyak, tapi yang terbesar adalah takut diracun sama tetangga (karena makanan dengan racun yang dilemparkan ke dalam halaman) hingga takut anjing dicuri untuk dijadikan makanan. Dulu bahkan pada jam-jam dan hari-hari tertentu, anjing saya bisa dipastikan berada di dalam rumah dan semua pintu rumah ditutup rapat-rapat.

Di Irlandia, punya anjing itu tidaklah semurah di Indonesia. Ongkos perawatan anjing itu jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Saya tak ingat pernah membaca di mana, tapi ongkos memiliki satu ekor anjing itu berkisar antara 20-30 ribu Euro selama masa hidup si anjing. Mahal, tapi tentunya sepadan!

Kebanyakan anjing di sini dipelihara di dalam rumah, walaupun banyak juga yang meninggalkan anjingnya di halaman rumah. Sejujurnya, saya tak suka dengan ide anjing ditaruh di halaman belakang rumah, apalagi cuaca Irlandia tak pernah bersahabat. Hujan dan badai adalah sebuah hal yang normal di sini.

Anjing-anjing juga sebaiknya tidak ditinggalkan sendirian lebih dari delapan jam. Idealnya, setiap empat jam ada yang mengecek si anjing. Tentu saya buat mereka yang bekerja, ini menjadi masalah besar. Ada beberapa solusinya, salah satunya penitipan anjing untuk mereka yang bekerja; konsepnya persis seperti daycare untuk anak-anak. Harganya, sekitar 60 Euro/ minggu, 240/  bulan dan lebih dari 3000/ tahun. Alternatif lain yang lebih murah adalah kamera yang bisa memonitor aktivitas anjing. Dengan kamera ini kita juga bisa memanggil anjing dan mengatur supaya treat untuk si anjing bisa dilemparkan.

Kebanyakan anjing-anjing di sini menikmati hidup yang cukup berkualitas, apalagi negara ini memiliki banyak ruang hijau untuk membawa anjing jalan-jalan setiap pagi dan malam. Di perkampungan dengan banyak industri peternakan, anjing-anjing wajib hukumnya untuk dibawa dengan tali, tak boleh dilepas untuk berlarian. Takutnya, anjing-anjing ini bisa menyerang domba-domba dan menggigit mereka. Di sini, banyak kasus domba diserang, petani tak terima dan si anjing ditembak.

Bicara ruang hijau tak bisa lepas dari bicara kotoran anjing. Aturan untuk membungkus kotoran anjing tertulis dimana-mana, tapi banyak juga pemilik anjing yang tak bertanggung jawab dan membiarkan kotoran anjingnya. Kotoran yang dibiarkan untuk berbahaya untuk kesehatan dan juga menjijikkan jika terinjak, atau terlindas roda stroller bayi. Di beberapa area di Dublin sendiri, terutama daerah yang kurang bagus, kotoran anjing bisa ditemukan dengan mudah di trotoar. Denda yang ratusan Euro tak membuat orang kemudian takut, karena faktanya pemerintah tak terlalu tegas dalam menindak para pelakunya. Kalau ada satu hal yang pemerintah di sini cukup disiplin, adalah perintah untuk menyuntik anjing mati jika anjing tersebut menggigit manusia atau hewan lain.

Permintaan anjing sendiri di Irlandia sangat tinggi, apalagi menjelang Natal. Makanya muncul kampanye A dog is for life, not just for Christmas. Banyak orang di sini tak paham bahwa konsekuensi dan tanggung jawab punya anjing itu besar. Anjing-anjing seringkali dikirimkan ke penampungan anjing karena alasan-alasan sepele, seperti anjing buang air di dalam rumah atau karena anjingnya terlalu besar. Sesungguhnya alasan ini sangat konyol, karena menunjukkan si pemilik anjing tak bisa melatih anjingnya dan tak melakukan riset dengan baik.

Beberapa bulan lalu, saya sempat ngebet banget pengen punya anjing dan sudah mulai mencari-cari anjing untuk diadopsi. Sempat terlintas juga untuk membeli, suami saya bahkan sudah pulang membawa uang tunai, siap membeli dua ekor anjing, tapi semua rencana langsung batal. Punya anjing itu komitmen besar, dan tak adil rasanya jika kami punya anjing dan meninggalkan si anjing sendiri di rumah. Tak adil untuk si anjing dan tak adil untuk kami. Jadi, sementara ini, kami cukup menjaga si Misty saja jika anjing ini dititipkan.

Kalian, punya cerita dengan anjing?

xx,
Ailtje
Pernah digigit Maltese dan dachshund, serta hampir digigit Rotwie. Tapi gak kapok