About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Ujian Menyetir Irlandia

Beberapa hari lalu saya mengirimkan pesan kepada Ibunda di Indonesia: “Mama, aku lulus ujian SIM Irlandia”. Krik..krik…krik… Sementara itu, begitu saya memberitahu mama dan papa mertua, suasanya langsung mengharu biru, diwarnai dengan pelukan dan ucapan selamat. Di Indonesia dan Irlandia, SIM memang diperlakukan dengan cara berbeda, karena cara mendapatkan keduanya tidaklah sama. Jauh lebih mudah di Indonesia. Makanya tak heran kalau banyak orang di Indonesia yang menyetir tanpa menghormati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, seperti meme yang dibuat oleh Mbot di bawah ini:


Proses saya mendapatkan SIM di negeri ini dimulai sejak saya datang ke negeri ini dan mereka tak mengindahkan fakta bahwa saya memiliki SIM Indonesia. SIM Indonesia, di sini tak ada nilainya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli buku yang berisi peraturan-peraturan tentang menyetir. Buku itu harus saya tamatkan dahulu sebelum mengambil tes tulis tentang aturan lalu lintas. Empat puluh soal harus dijawab dalam waktu empat puluh lima menit saja. Setidaknya tiga puluh lima pertanyaan tersebut harus benar. Jika kurang dari tiga puluh lima, maka  harus mengulang dan tentunya bayar lagi.

Begitu lolos tes tertulis, SIM learner (L) yang berwarna hijau pun bisa diberikan. Kendaraan harus ditempeli stiker L dan pengemudi tak boleh menyetir sendiri. Harus menyetir bersama mereka yang memiliki SIM penuh (full license, bukan L lagi). Kendaraan juga wajib dilengkapi asuransi, harus membayar pajak dan lolos uji kelayakan. Tiga dokumen ini harus selalu ditempelkan dikaca mobil. Jika tertangkap menyetir sendiri, bisa terkena penalty poin yang bisa mengakibatkan dicabutnya SIM. Selain itu, ada kewajiban untuk melakukan 12 jam kursus menyetir dengan instruktur resmi. Kursus menyetir sendiri dibandrol dengan harga berbeda-beda, dari mulai 25 – 55 Euro setiap jamnya. Saya sendiri menggunakan empat instruktur yang berbeda dan menghabiskan lebih dari 20 jam, karena kebanyakan ganti instruktur.

Setelah kursus selama 12 jam ini terpenuhi, dan jika sudah siap, maka ujian praktik bisa diambil. Untuk ambil ujian praktik ini, pendaftarannya seara daring dan antrian ujian praktik ini sendiri lama, bisa berbulan-bulan. Di Irlandia sendiri ada beberapa tempat untuk mengambil ujian dan beberapa terkenal sangat sulit.

Ujian praktik sendiri melibatkan beberapa hal, dari mulai rambu-rambu, aturan lalu lintas hingga menerangkan bagian-bagian dari mesin. Pengetahuan tentang letak daki, minyak rem, oli, air untuk jendela mobil juga ditanyakan. Tak hanya itu, kapan dan bagaimana menggantinya pun juga ditanya, termasuk soal ketebalan ban. Lampu-lampu kendaraan juga dicek untuk memastikan semua lampu menyala dan kita tahu kapan dan bagaimana menggunakan lampu yang tepat.

Praktik menyetir sendiri melibatkan observasi ketika akan mulai dan selama menyetir. Soal gerakan kepala ketika melakukan observasi ini sendiri membuat banyak kontroversi, terutama bagi mereka yang terlihat tak menggerakkan kepala ketika menyetir. Posisi tangan pada kemudi, bagaimana kita harus feeding the wheel, tangan tak boleh diputar-putar (ajaran Indonesia!).

Selain itu, ada tes untuk mundur di belokan (reverse corner) yang melibatkan banyak teori dan observasi. Bagaimana mulai menyetir di tanjakan dan 3 point turn (putar balik tanpa menyentuh pinggiran jalan dan tak boleh dry steering – lagi-lagi ini ajaran Indonesia), cara berhenti, menyetir roundabout. Semuanya dilakukan di jalan raya selama kurang lebih 20-25 menit. Selama tes kita juga tak boleh membuat terlalu banyak kesalahan. Ada tiga tipe kesalahan, hijau, oranye dan merah. Satu kesalahan tipe merah saja akan menyebabkan kegagalan. Salah satu kesalahan yang fatal di dalam ujian menyetir di Irlandia adalah melambaikan tangan ketika bertemu teman atau ketika mengucapkan terimakasih (di sini, hal-hal tersebut merupakan tradisi). Kalau melambaikan tangan aja gak boleh, apalagi ngobrol-ngobrol di jalanan seperti ini:

Selama kursus mengemudi ini saya diserang stress berat, tidurpun tak tenang. Pada saat tes pun, petugas yang mengetes saya sampai menyuruh saya mengambil napas dalam-dalam. Padahal saya ini termasuk tenang dalam menyetir. Tekanan tes ini memang luar biasa, jauh lebih berat daripada tes di Indonesia. Begitu dinyatakan lulus, saya diberi selembar kertas untuk membuat SIM penuh. Selain itu kendaraan saya juga harus ditempel stiker, di bagian depan dan bagian belakang dengan tulisan N, yang artinya novice driver. Stiker ini harus dipasang selama dua tahun.

Penutup

Di Irlandia, tak semua pengemudi disiplin, yang ngaco ada  dan jumlahnya tak sedikit. Banyak pula yang suka melebihi batas kecepatan yang diperkenankan, atau bahkan menyetir dengan alkohol melebihi batas yang diperkenankan. Tapi kesemrawutan jalanan di sini tak seperti di Indonesia, karena mendapatkan SIM di sini, tak semudah mendapatkan SIM di Indonesia.

xx,
Tjetje
Lulus ujian SIM di Irlandia & pernah tak lolos ujian SIM di Indonesia

Advertisements

Pelakor

Topik perselingkuhan sudah pernah saya bahas tiga tahun lalu dalam postingan yang berjudul Perempuan Simpanan. Silahkan klik di sini kalau ingin baca. Kali ini saya tak akan membahas soal perempuan simpanan, tapi membahas soal perselingkuhan dan pelakor, pencuri laki orang.

Saya menghabiskan hampir satu dekade hidup saya di Jakarta, ibu kota yang diwarnai dengan kesempatan untuk melakukan ketidaksetiaan. Ketika itu, melihat perselingkuhan bukanlah sebuah hal yang aneh bagi saya, malah saya cenderung menormalisasi hal tersebut. Perselingkuhan ini tak hanya saya lihat di kost-kostan saya, tapi juga di lingkungan pertemanan dan pekerjaan.

Ketika menjadi saksi perselingkuhan, rumus hidup saya cuma satu: tak peduli. Toh para pelakunya orang-orang dewasa yang bisa memilih hal-hal yang dianggap baik untuk hidup mereka. Bagaimana jika saya mengenal korban perselingkuhannya? Sama, prinsip saya mulut harus ditutup rapat, karena saya tak mau menjadi orang yang membawa berita buruk. Gak ada untungnya buat saya untuk menyampaikan hal-hal seperti itu, malah rumah tangga atau hubungan percintaan bisa tambah hancur karena kesaksian saya. Buntutnya, hubungan saya dengan orang-orang ini juga akan runyam. Prinsip saya ini berlaku untuk teman, keluarga ataupun kolega. Semua saya perlakukan sama.

Dari menyaksikan perselingkuhan ini, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa perselingkuhan itu pada dasarnya terjadi karena dua belah pihak sama-sama mau. Baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Pada saat yang sama, perselingkuhan terjadi karena terjadi ketidakpuasan dalam rumah tangga. Tapi mekanisme pertahanan banyak orang selalu mengatakan bahwa rumah tangga sebenarnya baik-baik saja, tapi sang pria terhipnotis ataupun terkena ilmu guna-guna. Bagi saya, kalau rumah tangga baik-baik saja, besar kemungkinan perselingkuhan tak akan terjadi.

Akibat penggambaran pria-pria sebagai orang suci yang tak mungkin tergoda dengan perselingkuhan, muncul istilah pelakor, pencuri laki orang. Norma kita mendikte bahwa para bapak-bapak ini adalah orang yang begitu mencintai keluarga atau pasangannya dan tak sengaja terpeleset ke godaan perempuan lain. Makanya dalam kasus seperti ini, perempuan SELALU disalahkan, karena mereka mau dengan pria yang telah berkeluarga. Sekali lagi adalah hanya perempuan yang salah, sementara sang pria adalah makluk suci.

Pengamatan saya sendiri melihat bahwa para pria yang tak setia pada pasangannya bisa berubah menjadi pencinta keluarga hanya dalam hitungan detik. Tak heran keluarga mereka akan melihat dengan kacamata yang berbeda, bahwa mereka adalah pihak yang tak salah. Hanya pelakor ini yang salah.

Buat saya ini tak adil, karena perempuan dan pria sama-sama punya andil dalam memulai perselingkuhan. Tak bisa dipungkiri ada kasus-kasus dimana perempuan menggoda pria yang sudah beristri, tapi juga tak boleh kita menutup mata banyak juga pria yang menggoda perempuan lain. Salah satu modus sederhana saja, SPG di pameran menawarkan produk yang dijual, bisa dengan mudahnya digoda dengan cheesy pick up line seperti: “Kalau saya gak tertarik dengan produknya, tapi tertarik dengan mbaknya aja bisa gak?”

Pada saat yang sama, tak semua pria bisa tergoda untuk tenggelam dalam arena perselingkuhan. Rumus kucing ditawari ikan asin akan selalu mau itu tak selamanya benar. Saya mengetahu banyak pria yang bisa teguh dengan pendiriannya untuk tidak tergoda dengan perempuan lain, walaupun mereka sudah disodori perempuan (maafkan penggunaan kata ini, tapi ini benar adanya). Mereka memilih untuk tidak berselingkuh walaupun kesempatan sudah jelas di depan mata. Sekali lagi, mereka memilih untuk tidak berselingkuh.

Saya bukan ahli perselingkuhan, tapi dari banyak perselingkuhan yang saya tahu, kedua belah pihak sama-sama mau melakukan perselingkuhan. Baik pihak perempuan, maupun pihak laki. Tak semuanya diiniasi oleh perempuan, ada banyak perselingkuhan yang dimulai oleh pria-pria. Jadi, tolonglah jangan disamarakatan bahwa semua perselingkuhan itu karena kesalahan perempuan, lalu hanya perempuan saja yang disalahkan dan dituduh menjadi pelakor, pria pun punya kontribusi dan seringkali kontribusinya besar. Mereka bisa mengaku single atau sedang dalam proses perceraian atau perpisahan. Lagipula, mencuri hati pria itu tak mungkin kalau mereka tak merelakan hatinya dicuri.

Kesimpulan saya, perselingkuhan itu terjadi karena hubungan percintaan memang tak sehat dan salah satu pihak tak puas dengan hubungan tersebut.

xx,
Tjetje

Mimpi Buruk Para Customer Service

Saya ini mimpi buruk para customer service, karena saya hobi marah-marah (dalam bahasa Inggris pula) ketika layanan tak baik. Di Indonesia, ngomel-ngomel itu memang harus pakai bahasa Inggris, supaya kita lebih didengarkan.  Di sini, saya tak pernah ngomel-ngomel untuk urusan layanan lagi. Semua pelayanan di sini relatif bagus dan berorientasi pada pelanggan. Ungkapan konsumen adalah raja benar-benar diterapkan di negeri ini.

Di Irlandia, saya bertemu dengan banyak orang yang pernah bekerja sebagai Customer Service, menjadi penjaga terdepan yang memastikan konsumen tak mengalami kendala. Orang-orang  ini kebanyakan berbicara bahasa lain selain bahasa Inggris. Mereka dipekerjakan oleh aneka rupa perusahaan, dari mulai penyewaan kendaraan hingga perusahaan teknologi dan berbasis di Irlandia. Irlandia memang menjadi pusatnya perusahan-perusahaan seperti ini di Eropa. Tak heran pekerjaan customer service itu di sini membeludak.

Dari banyak orang yang saya temui, mereka memiliki satu kesamaan, tak mau lagi bekerja sebagai customer service yang harus melayani pelanggan melalui telepon. Alasan mereka sama: it’s the worst job, we’ve received too many verbal abuses. Terlalu banyak konsumen yang ngomel-ngomel di telpon dan mereka sangat kasar. Kadang kelewatan kasarnya.

Pembicaraan biasanya mulai nggak enak ketika pelanggan tahu orang-orang yang menjawab telepon ini bukan asli orang Irlandia, biasanya ditangkap dari aksen mereka. Rupanya konsumen di sini kebanyakan hanya mau dilayani oleh orang Irlandia saja, padahal para customer service ini juga bisa berbahasa Inggris. Kadang, ada yang spesifik minta dilayani pakai bahasa Gaelic, bahasa asli sini. Kalau ditawari untuk dibantu, ketimbang menunggu customer service yang bisa berbahasa tersebut mereka juga enggan. Pokoknya harus dilayani orang Irlandia.

Kekasaran lain adalah soal omongan verbal. Kata-kata kasar sering dilemparkan ke para customer service. Para customer service biasanya punya prosedur untuk memberikan peringatan kepada customer jika mereka kasar, jika peringatan tak juga didengar maka customer service bisa menutup telpon dan pelanggan pun harus menelpon lagi dan menjelaskan masalah dari depan.

Pekerjaan customer service ini bukanlah pekerjaan mudah, dalam keadaan tertekan, dimaki-maki, mereka masih harus mengingat standar kalimat yang harus diberikan ke pelanggan ketika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Menghapalkan kalimat-kalimat tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi ketika ada begitu banyak skenario masalah yang dialami customer. Temen saya tak hanya ngapalin dalam bahasa Inggris, tapi juga dalam bahasa lain yang ia bisa. Beberapa dari mereka juga harus mengejar target setiap harinya.

Pelampiasan konsumen karena kesal dengan layanan ini macam-macam. Selain teriak di telepon ada pula yang secara langsung menyerang gedung pemberi layanan. Salah satu provider televisi di Dublin, gedungnya pernah dilempari dekoder televisi. Tak hanya itu, pegawainya yang berada di ruang publik dengan kartu identitas berlogo juga pernah diserang konsumen yang tak puas.

Cerita terparah yang saya dengar datang dari seorang customer service yang tak sengaja memberikan nama lengkapnya. Sang konsumen yang marah kemudian bersumpah akan mencari CS ini dengan cara mengirimkan bunga ke kantor tersebut dan menunggu hingga ia mengambil bunga tersebut di resepsionis. Akhir cerita ini sendiri gak ketahuan gimana, tapi kebayang betapa creepynya kejadian ini dan rupanya, di sini ada beberapa kejadian seperti ini.

Pada saat krisis melanda Irlandia, beberapa tahun lalu, kejadian menyerang pegawai ini sampai membuat sebuah bank melarang keras pegawainya untuk keluar makan siang menggunakan tanda pengenal, demi keselamatan mereka di ruangan publik. Kalau soal kartu identitas ini sih, di Indonesia dulu saya dilarang keras oleh kantor saya untuk mengenakan identitas tersebut di ruang publik. Begitu keluar kantor harus dilepas, sementara di Indonesia banyak banget yang hobi jalan-jalan pamer kartu identitas, mentang-mentang kerja di perusahaan bergengsi.

Untungnya, di Indonesia cerita seperti ini jarang di dengar. Kalaupun dengar, biasanya di sebuah terminal di bandara  dimana pegawai penerbangan dikejar-kejar dan diumpat-umpat penumpang yang frustasi.

Kalian, pernah dengar kasus customer service yang bikin geleng-geleng kepala? Atau suka ngomel-ngomel seperti saya?

xx,
Tjetje

 

Rupa-rupa Arisan

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat di Indonesia tentang arisan yang memberatkan ekonomi. Berat bagi kami yang masuk golongan ekonomi menengah ngehek, mungkin tak berat bagi mereka yang memang dilimpahi rejeki yang kekinian dan bisa digunakan untuk mengikuti banyak arisan.

Arisan, entah ditemukan oleh siapa, dibuat untuk membantu ekonomi para anggotanya dan juga untuk kegiatan sosial. Seperti kita tahu, dalam arisan semua orang sebenarnya mendapatkan kembali uang yang mereka setorkan, hanya urutannya saja yang berbeda. Arisan pun bermacam-macam tipenya, tak selalu soal uang, ada arisan panci, tas, emas, hingga arisan berondong. Nah kalau soal yang terakhir, tujuannya tentunya untuk membantu keadaan ekonomi si berondong dan kepuasan batin si pemenang arisan.

Menjadi perempuan jaman sekarang, apalagi di Indonesia, menuntut untuk ikut arisan di berbagai tempat. Arisan pertama level RT, rukun tetangga. Jika sang perempuan sudah memiliki anak, maka kesempatan arisan yang ada berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Punya tiga anak berarti memiliki setidaknya tiga kelompok arisan yang berbeda sesuai kelas si anak. Sebut saja ini arisan mama-mama di sekolah. Nanti ada pula grup arisan di luar sekolah anak, tentunya tergantung aktivitas si anak. Kursus ini itu, lalu bertemu dengan Ibu-ibu lainnya, dan membuat kelompok-kelompok arisan. Semakin banyak arisan yang diikuti, maka semakin banyak dana yang harus dialokasikan setiap bulannya. Ya hitung-hitung menabung.

Tunggu dulu, ternyata arisan jaman sekarang tak bisa dianggap sebagai kegiatan menabung, karena kebanyakan arisan menuntut dress code. Dress code ini akan disesuaikan dengan tema-tema yang disetujui atau ditentukan bersama. Arisan bulan ini temanya Gatsby, arisan bulan selanjutnya glamor, lalu arisan selanjutnya warna mejikuhibiniu, kemudian army look. Nanti begitu di saat bulan Ramadhan, kaftan putih menjadi dress code. Pendek kata runaway kalahlah. Lalu untuk mengabadikan momen spesial ini, fotografer kadang dipekerjakan, tapi jika tak ada fotografer cukup membawa kamera atau kamera dari telepon genggam. Jangan lupa meminta pelayan untuk membantu mengambil foto.

Tak cukup dengan dress code, lokasi arisan juga tak lagi di rumah. Sekarang arisan pindah ke ruang meeting di mall, seperti di sebuah mall di kawasan Sudirman. Hotel juga sering menjadi tempat tujuan arisan, ditemani dengan afternoon tea yang seringkali lebih mahal dari uang arisan. Restauran-restauran yang baru keluar dan banyak dibicarakan juga harus menjadi tempat tujuan arisan. Apalagi kalau restauran ini interiornya menarik dan punya banyak sudut untuk foto. Pemotretan memang menjadi bagian tak terlepaskan dari sebuah arisan.

Beberapa kelompok tertentu bahkan mengadakan penutupan arisan dengan jalan-jalan keluar kota, hingga keluar pulau. Penutupan arisan model ini mendorong pariwisata Indonesia berkembang dan tentunya memberikan kesempatan untuk lepas dari rutinitas rumah.

Arisan juga tak terlepaskan dari drama. Drama perkelahian anggota atau saling gosip-menggosip tentunya bukan hal baru lagi. Sementara mereka yang tak ikut arisan juga terkucilkan dari kelompok. Selain itu, drama urusan uang juga seringkali terjadi. Dari uang dibawa kabur oleh koordinator arisan hingga pembayaran yang susah ketika sudah menang. Yang repot, penerima arisan paling akhir biasanya tak langsung menerima uang arisan dengan penuh, karena ada saja anggota yang belum mengirimkan uang. Akibatnya, pembayaran jadi dicicil, apes banget kan udah dapat paling akhir, dicicil pula. Soal alasan pembayaran terlambat, jangan ditanya lagi, karena alasan mereka beraneka rupa & bikin geleng-geleng kepala.

Arisan keluarga sendiri menjadi arisan favorit saya, karena menjadi ajang berkumpul untuk bertemu keluarga. Apalagi jika tinggal di kota besar seperti Jakarta. Tapi bagi yang lajang atau belum kunjung hamil setelah kawin, ada baiknya arisan ini dihindari karena pertanyaan yang muncul bisa menusuk hati hingga berdarah-darah.

Kalian, ikut arisan atau kegiatan sosial lainnya?

xx,

Tjetje

Tak mau ikut arisan lagi

Cerita Badai Salju di Dublin

[Tulisan panjang]

Dari hari Senin kemarin berita badai akan datang di Irlandia sudah mulai ramai di mana-mana. Penduduk Irlandia juga panik berat hingga kemudian memborong segala macam makanan dari supermarket, utamanya roti dan susu. Gak di Irlandia gak di Indonesia, kelakuan manusia sama saja.

Stok susu habis diborong, begitu juga dengan daging, ikan, roti dan telur

Beruntung saya bisa hidup tanpa keduanya tapi tetap saja, Senin malam itu saya harus keliling mencari stok makanan. Malam itu memang kulkas kami kosong, jadi mau tak mau harus beli makanan. Saya pun akhirnya menemukan banyak makanan di Tesco lokal dan membeli secukupnya untuk beberapa makan malam saja serta air putih. Parno, takut pipa air beku.

Hari Selasa cuaca di Dublin begitu Indah, matahari bersinar terang dan suasananya kalem sekali. Suasana ini yang disebut calm before the storm. Kantor sendiri juga masih berjalan normal.

Rabu pagi saya bangun pagi sekali dan semua pemandangan jadi putih, tertutup salju. Hati saya riang gembira, bukan karena salju (saya bukan penyuka salju) tapi karena red warning dari pemerintah. Artinya, kami tak boleh kemana-mana dan tak perlu ke kantor. Pagi itu saya habiskan untuk keliling kompleks mengecek ketinggian salju, membersihkan rumah, beres-beres setrikaan, baca buku, nonton Netflix, baca buku hingga tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Baru satu hari saja, saya sudah bosan dikurung di dalam rumah.

Kamis pagi, salju sisa kemarin mulai tinggi lagi. Pemerintah sendiri menyerukan orang-orang harus berada di dalam rumah pada pukul 4 sore. Saya yang gerah di dalam rumah pun berjalan ke toko lokal tanpa ada niatan untuk belanja. Ternyata di toko lokal terjadi kehebohan, orang pada borong roti yang baru tiba. Dan antriannya mengular panjang sampai mengelilingi dalam toko. Panik rupanya. Tetangga saya bahkan ada yang membeli 10 bungkus roti (dan masuk TV). Roti segitu banyaknya mau dibuat apa?

Krisis roti: truk ini menjadi pemandangan indah

Urung membeli roti, saya keluar ke apotek langganan mertua untuk mengambil obat beliau. Rasanya sedih gitu ketika masuk apotek ada seorang Ibu-ibu agak tua yang kakinya patah harus mengambil obat ke apotek. Jasa layanan antar di apotek ini terpaksa dihentikan karena sang pengantar tak tercover oleh asuransi.

Menariknya, di belakang apotek ini terdapat pub lokal yang tentunya buka dan tak peminatnya tak surut. Sementara chipper (istilah lokal untuk warung yang jual kentang, burger, dan gorengan lain) bersiap untuk buka. Hujan badai, alkohol dan kentang tetaplah barang penting di sini.

Prioritas di Irlandia: bir dan wine!! Padahal antrian lumayan panjang

Hari Jumat situasinya masih sama dan kami yang terkena cabin fever ini memaksakan untuk keluar demi mendapatkan udara segar. Kami kembali lagi ke supermarket lokal dengan antrian panjang, hanya karena ingin mengambil foto. Rupanya antriannya sudah mencapai luar supermarket. Duh tak terbayang stressnya para pegawai.

img_4018-1

Orang-orang yang heboh antri di supermarket.

Begitu hari Sabtu tiba, kami keluar rumah pagi-pagi demi mencari bahan pangan. Ternyata di kompleks sebelah, saljunya tak kalah parah dan beberapa kendaraan harus ditinggalkan dipinggir jalan. Stasiun tram sendiri tertutup salju dan tak bisa dilewati tram.

Stasiun tram yang terendam salju hingga lebih dari 60 cm.

Supermarket yang kami pilih agak jauh, sekitar 20 menit jalan dan ternyata buka dengan jam normal, karena red warning juga telah berubah menjadi oranye. Oranye artinya kami sudah boleh keluar rumah. Saya berhasil membeli beberapa bahan makanan, baik untuk saya maupun untuk mertua yang tinggal tak jauh. Antrian kasirnya juga tak begitu panjang.

img_4041

Mobil yang diterlantarkan karena jalanan tak bisa dilewati lagi.

Bagi banyak orang yang tinggal di negeri salju mungkin badai salju ini sebuah hal yang biasa. Di Irlandia, negaranya tak sesiap negara lain dalam menghadapi salju. Begitu salju besar turun, dipastikan layanan publik, terutama transportasi akan melayani secara terbatas atau berhenti. Penerbangan dibatalkan, sekolah dan penitipan anak tutup, sementara petugas kesehatan terpaksa tidur di rumah sakit demi melayani masyarakat. Di beberapa tempat bahkan listrik tak tersedia. Aduh gak kebayang deh dinginnya.

Superheroes!

Penjarahan juga terjadi tak jauh dari kompleks saya tinggal. Tak tanggung-tanggung, mereka menjarah lemari besi Lidl (supermarket murah dari Jerman) dan kemudian menghancurkan Lidl dengan mesin besar yang mereka curi dari lokasi pembangunan tak jauh dari TKP. Di wilayah yang sama, mobil-mobil yang diparkir juga dibakar. Gak di Indonesia, gak di Irlandia, anarkismenya sama saja.

Bosan di dalam rumah, bikin snowman deh

Ketika tulisan ini ditulis, salju sudah berhenti turun dan mulai mencair. Yang tersisa sekarang hanya becek, salju yang bercampur tanah kotor dan tentunya kerja keras untuk menyekopi salju tersebut. Satu kompleks kami keluar rumah, kerja bakti tanpa ada yang mengkomando. Saya juga sesiangan ikut menyekop salju. Untung ya di Irlandia ini badai salju cuma datang sesekali dalam satu dekade.

Hari Minggu, jalanan besar mulai dibersihkan.

Tapi kerja keras kami untuk membersihkan salju ini tak ada apa-apanya dibandingkan para pekerja emergency dan kesehatan yang berjalan ke rumah sakit demi menjalankan tugas. Juga para pekerja supermarket yang harus berhadapan dengan kepanikan massa. Mereka adalah pahlawan!

Salju di halaman depan rumah kami. Perjuangan banget untuk keluar dari pintu utama.

Selamat hari Senin kawan, kalian sudah pernah terjebak badai salju? Atau mungkin terjebak banjir parah?

xx,
Tjetje

Jual Beli Makanan di Luar Negeri

Bulan Desember kemarin, Instagram saya meriah dengan instastory dan juga foto-foto risoles. Euphoria karena baru bisa bikin risoles dan risolesnya, kebetulan enak serta creamy. Rupanya peminat risoles ini banyak, bahkan ada yang mau pesan untuk sebuah acara ulang tahun. Mimpi apa anak yang tak bisa masak ini tiba-tiba dapat orderan? Tapi orderan berbayar itu saya tolak dan risoles pun saya berikan gratis sebagai hadiah ulang tahun. Saya, menolak menjual makanan karena banyak alasan.

Di Indonesia, jual makanan itu prosesnya gampang sekali dan tak memerlukan “banyak modal”. Cukup dengan bahan-bahan makanan dan meja, makanan pun bisa digelar di luar rumah. Peminatnya juga ada saja. Soal kualitas makanan, para pembelilah yang akan menilai. Jika enak, makanan tersebut akan bertahan, jika tak enak, pasti akan gulung tikar.

Para pelaku usaha makanan di Indonesia juga banyak, apalagi menjelang hari Raya. Semua orang mendadak berwirausaha dengan resep andalan keluarga. Dapur-dapur rumah pun berubah menjadi unit usaha kue kering dan juga makanan lain.

Pada usaha-usaha kecil dan rumahan ini, saya lihat tak ada mekanisme kontrol untuk melihat berapa kilo micin yang dimasukkan ke dalam makanan, apalagi mengontrol jenis daging yang dimasukkan. Bahkan bahan-bahan yang tak seharusnya menjadi makanan pun bisa dimasukkan, termasuk pewarna pakaian. Bicara micin, di dekat kantor saya di kawasan jalan Galuh Kebayoran Baru, ada tukang soto yang cukup terkenal. Suatu pagi saya mendapati bapak tukang soto dengan santainya memasukkan bungkusan besar micin ke dalam panci soto. Tak cukup satu bungkus besar, setiap meracik, satu sendok micin akan dituangkan ke dalam mangkok. Itu baru micin, soal kebersihan adalah isu lain yang tak terkontrol. Bila kemudian ada yang sakit perut, tak ada mekanisme pelaporan dan siapa yang peduli?

Di Irlandia, jual makanan itu bisnis yang tak mudah. Ada banyak aturan mengenai proses penanganan hingga penyimpanan makanan. Makanan di sini tak boleh dipajang hingga seharian seperti di Indonesia, apalagi dihinggapi lalat. Mereka yang berjualan pun wajib punya ijin, area masak yang memenuhi standar kesehatan dan tentunya wajib bayar pajak. Tak heran kalau kemudian harga jual makanan di luar negeri itu relatif “mahal”. Bahan-bahannya mungkin lebih murah karena bisa beli dalam jumlah besar dan tak bayar PPN, tapi ongkos tenaga kerja, asuransi dan lain-lain membuat harga menjadi tinggi.

Ketika mengalami reaksi tak biasa setelah maka, konsumen pun tinggal menelpon dan membuat laporan, seperti yang dilakukan seorang teman saya. Konon mereka yang banyak dilaporkan akan diinspeksi dan bisa kehilangan lisensi untuk berjualan sehingga usaha makanannya ditutup. Tiap tahun selalu ada beberapa restauran yang ditutup karena hal seperti ini dan nama serta alamat mereka akan diumumkan kepada publik.

Orang-orang Indonesia di berbagai belahan dunia membawa budaya berjualan makanan ini ke tempat mereka tinggal. Coba tanya deh sama yang tinggal di luar negeri, pasti ada yang bisa bikin bakso, nasi Padang, lapis legit, hingga aneka panganan lain. Budaya jualan secara informal tak hanya terbatas di satu negara, kadang bisa lintas negara juga. Makanan tinggal dibungkus vacuum lalu dikirimkan melalui pos. Para penjual makanan ini kemudian menjadi penyelamat bagi orang-orang yang tak pandai masak seperti saya.

Mereka tak hanya menjadi sumber penyelamat tapi juga menjadi sumber kritik; kritik utama biasanya soal harga yang terlalu mahal, apalagi jika bahannya-bahannya terbilang murah. Argumen terkuat dari pengkritik biasanya karena mereka tak bayar pajak, jadi tak seharusnya menjual dengan harga “mahal”. Biasanya, para pengkritik ini hanya ingat menghitung biaya bahan-bahan dan seringkali lupa menghitung ongkos tenaga kerja. Ongkos tenaga kerja di negara-negara Eropa, apalagi Eropa Barat tidaklah murah, apalagi jika waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan sebuah makanan cukup banyak. Kebiasaan mengkritik dengan pedas ini juga mungkin karena kita terbiasa dengan harga tenaga kerja yang kelewatan murahnya di Indonesia.

Selain mengkritik harga, rasa makanan yang tak sesuai di lidah membuat konsumen suka mengeluh. Kurang pedes, kurang asin, gak berani bumbu, kurang ini dan kurang itu. Mungkin juga kurang micin.

Selain karena alasan-alasan di atas, ketidakadaan ijin juga membuat orang kepanasan. Makin panas ketika terjadi keracunan makanan dan pembeli tak bisa membuat laporan. Eh bisa juga sih mereka menuntut, tapi urusannya akan panjang karena ijin usaha yang tak ada. Nah kalau sudah gini pun aparat dan tukang pajak akan ikut terlibat.

Kegiatan berdagang makanan ini tak hanya menjadi kebiasaan orang Indonesia, tapi saya perhatikan banyak dilakukan oleh orang-orang Asia. Melalui seorang rekan kerja, saya pernah membeli satu kilo bakso hasil buatan orang Thailand yang rasanya super enak. Orang-orang Filipina juga suka ada yang menjual lunchbox.

Bagi banyak orang, apalagi yang hobi memasak, berjualan makanan mungkin menjadi suatu kepuasan tersendiri. Menyiapkan banyak makanan, mengolahnya menjadi lezat dan kemudian memperoleh sedikit keuntungan. Bagi saya, mereka yang berjualan makanan ini menjadi penyelamat ketika saya merindukan makanan nusantara dan tak tahu, atau bahkan malas, memasak. Kalau kemudian ada kontroversi dengan pembeli yang lain, saya tak urusan. Yang penting makanan saya sesuai pesanan, tanpa sambal.

Untuk menjadi penjual sendiri saya enggan, karena saya enggan jual makanan tanpa ijin, apalagi kalau sampai bikin orang sakit perut dan sakit hati. Soal yang terakhir ini bahaya, karena sakit hati bisa dibawa ke media sosial dan petugas negara. Modyar. Bicara soal ijin, di sini makanan harus ketahuan asalnya dari mana dan isinya apa saja, apalagi kalau berkaitan dengan alergi, seperti kacang-kacangan, susu, dan panjang lagi. Lupa nyantumin orang bisa sampai meninggal. Ngeri deh urusan sama petugas negara.

Jadi, kalian beli makanan apa hari ini?

Xx,

Tjetje

Seputar Televisi

Sungguh saya kaget luar biasa ketika melihat perkawinan Angel Elga dan Vicky dimasukkan ke dalam televisi nasional dan kemudian menjadi TT di jagat Twitter. Kalau saya masih di Indonesia, saya akan lihat merek-merek apa saja yang bersedia membayari acara televisi model seperti itu dan berhenti membeli produk-produk mereka. Agak ekstrem mungkin, tapi televisi itu mestinya kan menjadi ajang pendidikan dan atau hiburan berkualitas. Bukan hiburan yang tak jelas manfaatnya apalagi memfasilitasi perusakan terhadap bahasa kita.

Di Irlandia, kami memilih untuk mempensiunkan televisi. TV-TV kami letakkan di gudang sejak lebih dari setahun terakhir. Ada banyak alasan mengapa saya tak mau ada televisi. Pertama, karena menggunakan televisi di Irlandia itu harus membayar pajak tahunan sebesar

€160 per tahunnya. Pajak ini mirip dengan pajak yang dibayarkan jaman Presiden Suharto dulu. Uang tersebut konon akan digunakan negara untuk membayar stasiun lokal, di sini namanya RTÉ. Nah, banyak orang ribut soal ini, karena gaji-gaji mereka yang kerja di RTÉ itu banyak yang berlebihan/ terlalu besar untuk ukuran Irlandia. Sementara tak membayar pajak televisi ini sendiri juga membuat orang bisa dipenjara.

Selain soal pajak, saya juga enggan membayar TV kabel sebesar €70-100 untuk televisi setiap bulannya, karena penggunaan TV sangat rendah. Kami berdua bekerja dan lebih memilih baca buku, ngobrol atau nonton netflix.

Kualitas televisi di Irlandia sendiri bermacam-macam, tergantung paket televisi yang kita ambil. Tapi tentunya film-film seri Amerika tak sebanyak di Indonesia. Kualitas drama di Irlandia sendiri saya tak bisa menilai, karena saya tak rajin menonton. Tapi saya paling tak suka dengan drama lokal yang panjangnya mengalahkan sinetron Tersanjung di Indonesia. Judul dramanya Fair City. Drama ini sudah ada di televisi sejak satu dekade lebih dan nampaknya belum akan usai. Yang mengerikan, tak seperti Tersanjung yang diputar tiap Jumat, drama ini diputar hampir setiap hari. Selain Fair City ada juga drama panjang Inggris berjudul East Enders, sama juga, panjang dan banyak pencinta fanatiknya.

Bagi saya, ini bukan kali pertama saya memilih tak punya TV, dulu ketika baru awal menjadi anak kost, saya pernah hidup bertahun-tahun tanpa TV, karena tak melihat manfaat positif. Kendati saat itu tak punya televisi, saya memiliki radio dan CD player. Jadi kalau butuh hiburan, koleksi CD bisa dimainkan.

Keteguhan saya untuk tak punya televisi goyah ketika SCTV menayangkan kembali telenovela Marimar yang dibintangi oleh Thalia bersama anjingnya. Saya langsung beli TV dong, demi nonton telenovela. Setelah beli TV saya hanya menonton satu atau dua episode saja, lalu beralih ke TV5 untuk melatih kemampuan telinga mendengar bahasa Perancis.

TV5 sendiri saya dapatkan dari TV kabel. Jaman itu, tahun 2009-2010an, TV kabel dibandrol dengan harga sekitar 300ribu Rupiah untuk berbagai macam stasiun televisi. Nah saya diberi tawaran untuk mengambil TV kabel sebesar 100ribu rupiah setiap bulannya. Tentu saja saya langsung setuju, karena murah.

TV kabel murah itu ternyata hasil menyogok saudara-saudara. Salah satu anak kos rupanya menyogok pegawai TV kabel untuk membuka koneksi TV kabel bagi beberapa orang. Ketika semua TV kabel sudah menggunakan dekoder, penyedia TV kabel yang ini masih manual, jadi tinggal colok kabel. Tagihan tiap bulan ini yang kemudian dibagi tiga, sesuai jumlah peminat.

Metode ini nampaknya banyak digunakan di kost-kostan, karena begitu saya pindah ke kost lain, mereka juga menggunakan sistem TV kabel yang sama. Bedanya di kost baru saya tak perlu membayar, semua sudah dibayar oleh pemilih kos. Ah kalau urusan ekonomi kreatif, Indonesia memang jawara.

Sayangnya TV kabel gratisan tersebut tak bertahan lama, karena perusahaan TV kabel tersebut memperbarui jaringannya dan saya pun harus bayar harga normal demi kualitas TV yang lebih baik. Setidaknya kala itu saya tak perlu nonton sinetron, debat politik yang tak jelas, apalagi kawinan nasional dipajang di TV nasional.

Jadi bagaimana kualitas acara TV di tempat kalian tinggal?

xx,

Ailtje