About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com

Silent Treatment

Masih melanjutkan tulisan sebelumnya tentang narsistik, kali ini mari ngebahas soal silent treatment yang juga dikenal sebagai stonewalling. Di dalam Bahasa Indonesia ini kurang lebih mendiamkan. Silent treatment ini merupakan metode manipulasi emosi dimana salah satu pihak menolak untuk berkomunikasi dengan pihak lain, udah diem aja gak mau ngomong. Proses ini harus dibedakan dengan proses diam karena mendinginkan kepala, tak tahu bagaimana harus bereaksi (lebih baik diam ketimbang bicara hal yang salah). Bedakan juga antara silent treatment dan proses memutus hubungan dengan orang-orang yang toxic ya.

Dampak Silent treatment itu lebih berbahaya daripada makan cabe.



Perilaku ini bisa terjadi dimana-mana, dalam pertemanan, hubungan keluarga, dalam hubungan asmara, hingga urusan pekerjaan. Dengan keluarga, seringkali kita berbeda pendapat dan ngambek-ngambekan tapi biasanya bisa diselesaikan dengan segera karena campur tangan keluarga lainnya.

Soal urusan pekerjaan, recruiter merupakan salah satu orang yang sering kali bersalah, biasanya dalam bentuk ghosting. Tahu-tahu ngilang aja dan gak nyahut kalau diajak komunikasi. Padahal ketika mereka perlu CV atau tiba-tiba ghosting dan nggak nyahut kalau diajak komunikasi.


Dalam pertemanan sendiri ini bisa terjadi dalam berbagai situasi. Ada di dalam satu grup chat, terus nggak nyahut kalau diajak ngomong. Atau yang lebih ekstrem, duduk bareng satu meja tapi menolak ngobrol dengan satu atau dua orang individu, sementara semua orang di meja tersebut diajak ngobrol. Pendeknya, si korban dianggap invisible dan secara sengaja diisolasi.

Dalam hubungan asmara sendiri ini sering terjadi. Ngambek-ngambekan, gak mau ngomong, gak mau terima telpon, sampai pasangan harus  mengemis-ngemis untuk diajak bicara lagi. Bagus kalau cuma ngemis, terkadang ada yang harus mengirimkan aneka rupa hadiah dulu. Udah kayak John Banting aja mesti datang ngasih hadiah. Dalam kasus yang parah, silent treatment dalam hubungan asrama ini bahkan bisa berlangsung selama beberapa dekade, berakhir dengan percertain, atau bahkan berakhir setelah kematian salah satu pihak.


Silent treatment merupakan perilaku penyiksaan secara emosi dan seringkali merupakan hukuman untuk orang lain.


Menurut penelitian, silent treatment, mengaktifkan bagian otak yang mendeteksi rasa sakit secara fisik. Otak manusia juga tak peduli siapa pelakunya, mau teman, keluarga, orang tak dikenal atau musuh sekalipun dampaknya sama. Karena silent treatment ini tak terlihat, tak seperti perilaku abusive lainnya, pelakunya juga dengan mudahnya tak mengakui perilaku ini dan dengan mudahnya akan gaslighting.

Engga kok, guwe gak ngediemin dia. Dianya aja yang sensi kali?

Berurusan dengan pelaku Silent Treatment


Kalau pelakunya recruiter, itu tandanya red flag untuk engga kerja di perusahaan tersebut. Perilaku recruiter seringkali secara tak langsung menggambarkan bagaiman kultur perusahaan tersebut. Kalau mereka tak bisa memperlakukan kandidat dengan baik, bagaimana bisa mereka memperlakukan pekerjanya? Kalau bisa kasih feedback, jangan segan kasih feedback.

Di dalam hubungan asmara sendiri, kalau menjadi pelaku atau menjadi korban, harus mulai belajar bisa berkomunikasi. Sebel karena sesuatu hal? Ngomong yang kenceng. Teori “kamu tahu gak salah kamu itu apa?” gak bakalan bisa dipakai, karena tak semua orang bisa baca pikiran. Pada saat yang sama, satu hal yang dianggap salah oleh satu pihak bukan berarti salah untuk kedua belah pihak.

Dalam pertemanan sendiri kalau didiamkan, tanyakan baik-baik apa yang terjadi, kenapa teman tersebut diam.  Kalau bisa diselesaikan bagus, kalau perlu minta maaf jangan segan juga untuk minta maaf. Kalau tak bisa diselesaikan ya tutup buku, move on. Gak gampang sih ini, karena akan ada proses berduka, apalagi ketika pertemanan tersebut sudah terjalan bertahun-tahun. Tapi ya tak semua pertemanan itu harus cocok untuk seumur hidup.

Gak semua silent treatment harus diselesaikan dengan ditanya baik-baik, ada juga metode yang cuekin balik. Apalagi ketika silent treatment itu dilakukan untuk mendapatkan reaksi dan mengontrol orang lain. Apalagi ketika berurusan dengan orang-orang narsistik.

Bagaimana kalau pelakunya teman bukan, keluarga bukan, recruiter bukan? Ingat-ingat saja bahwa perilaku ini tuh mirip seperti anak kecil yang ngambek karena tak boleh makan satu bungkus coklat sendiri dan harus berbagi dengan anak kecil lainnya. Bedanya, anak kecil otaknya masih berkembang, sementara orang dewasa sering diidentikan dengan otaknya kurang satu ons. Kurang satu ons!

Pernah melakukan silent treatment atau jadi korban silent treatment?

Namaste,
I am guilty of both

Suka Duka Jadi Blogger

Sedari dulu, hobi gw itu mengamati manusia, bertanya mengapa begini dan mengapa begitu, mengkritik lalu pertanyaan ini dan hasil observasi diproses menjadi tulisan dalam blog. Proses observasi hingga menjadi tulisan, bagi gw adalah proses panjang. Apalagi, datang dari generasi yang besar di jaman Pak Harto, dimana berpikir kritis dan bertanya kenapa itu bukan sebuah hal yang normal dan harus terus-menerus dilatih.

Duka: Ad Hominem

Tak semua tulisan gw diterima oleh orang. Ada yang tak seberapa kenal lalu nyamperin dan mengkritik dengan pedas. Yang gini sih dengerin aja, gak harus diterima atau dilawan.

Yang dekat juga tak segan kirim pesan, ngajak bertukar pikiran, berbagi pengalaman dan latar belakang perbedaan pandangan.

“Pandangan dan pengalaman tiap orang itu berbeda-beda”.

Pandangan orang itu beda-beda, persis kayak tim bubur diaduk atau tim bubur gak diaduk.

Tak sedikit yang tak setuju kemudian jadi nyerang ad hominem. Alih-alih tak setuju dengan tulisan gw dan mengkritik pemikiran, malah menyerang gw sebagai individu. Dari dituduh ekonomi lemah (baca: miskin), hingga yang paling gres dilabeli nyinyir. Soal ekonomi biar urusan petugas bank, petugas pajak dan Tuhan yang tahu. Kalau soal nyinyir gw iseng cari tahu, ini artinya:

Mengulang-ulang perintah atau permintaan ; nyenyeh; cerewet.

Serangan ad hominem ini dilancarkan kemana-mana, tak hanya di dunia maya saja, tapi juga dibawa ke kehidupan di luar dunia maya. Untungnya sebagai blogger gw tak sampai dirisak parah. Paling juga dimusuhin, diomongin atau didiemin.

Apalagi kalau tulisan gw sarkastik. Ya kalau ini mah maklum saja, studi ilmiah membuktikan kalau tak semua orang punya kemampuan intelektual yang cukup untuk membaca tulisan sarkastik.

Suka: banyak!

Menjadi blogger itu bagi gw menyenangkan. Hobi observasi orang tersalurkan, bisa kenalan dengan banyak orang, berbagi pengalaman dan pandangan.

Ada juga kesempatan untuk saling bantu WNI lain. Bahkan beberapa kemudian berakhir jadi teman-teman dekat banget. ❤️

Satu hal lagi yang bikin buat gw menyenangkan ada banyak orang yg kemudian melek isu-isu yang gue tuliskan, dari soal cara kawin beda agama, pindah ke Irlandia hingga soal revenge porn. Beberapa bahkan bisa menghindari jadi korban atau setidaknya dapat pertolongan.

Penutup

Sebagai blogger, guwe gak bertanggung jawab dengan bagaimana orang memilih untuk bereaksi terhadap tulisan guwe. It’s beyond my control dan tiap manusia dewasa bertanggung jawab sendiri untuk bisa mengatur reaksi dan emosi mereka.

Tanggung jawab guwe cuma bikin tulisan yang berguna, atau setidaknya menghibur. Dan kalau satu orang saja bisa menemukan manfaat positif dari tulisan gw, then I’m grateful.

Namaste,

Blogger Nyinyir, ceunah.

Bicara Soal Bunuh Diri

Trigger warnings & Disclaimer: Topik di bawah ini sangat sensitif,  jika kalian memerlukan bantuan mohon menghubungi ahli Kesehatan jiwa. Perlu dicatat bahwa yang menulis blog ini bukan ahli Kesehatan jiwa dan tak punya kompetensi untuk mendiagnosis dan menolong.

Selama tinggal di Indonesia, saya tak banyak mendengar berita soal orang-orang yang mengakhiri hidupnya. Di Indonesia, topik ini sangat tabu dan masyarakat kita mendoktrin bahwa bunuh diri itu berdosa. Sedari kecil kebanyakan dari kita sudah mendengar orang-orang yang bunuh diri akan masuk neraka. Orang-orang yang bunuh diri itu akan menjadi hantu yang mengganggu orang-orang yang hidup.

“Rumah itu berhantu karena ada orang yang bunuh diri dulu di situ”

Begitu saya pindah ke Irlandia, salah satu orang Indonesia di sini langsung mengingatkan bahaya depresi. Ia berbicara terbuka tentang pergulatannya untuk mengambalikan kesehatan mental. Sebuah pembicaraan yang mulai banyak dibicarakan di Irlandia dan tentunya tak setabu di Indonesia.

Dari seorang teman yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, saya kemudian mengetahui bahwa angka bunuh diri di Irlandia ini akan mulai merangkak naik masuk ketika matahari tenggelam lebih cepat menjelang musim dingin. Ia bahkan bercerita bagaimana angka ini lebih tinggi pada pria ketimbang perempuan, dan ada profil-profil usia yang lebih rentan.


Data angka bunuh diri di masa lockdown ini belum akan siap sampai  beberapa tahun ke depan. Di sini, kebanyakan orang yang meninggal dunia akan diotopsi terlebih dahulu dan ada proses pemeriksaan resmi untuk mengetahui penyebab kematian, inquest namanya. Proses ini memakan waktu lama, sehingga data tak bisa siap dengan sigap. Selama lockdown ini sendiri, saya sudah mendengar terlalu banyak kasus bunuh diri dari orang-orang terdekat, termasuk keluarga.

Narsistik

Sebelum dilanjutkan, saya kasih disclaimer dulu bahwa yang nulis postingan ini bukan pakar kejiwaan dan tak punya latar belakang pendidikan di bidang kejiwaan.

Enam tahun yang lalu saya pernah menulis tentang pembohong kronis yang merupakan sebuah gejala dari NPD, Narcisstic Personality Disorder, penyakit kepribadian narsistik. Tulisan di bawah ini adalah lanjutan dari hasil baca-baca saya tentang NPD yang seringkali diidentikan dengan tukang selfie berlebihan di media social, padahal orang-orang narsis itu jauh lebih dalam dari sekedar selfie.

Saya menyederhakan NPD sebagai individu yang berfokus pada dirinya sendiri secara berlebihan dan membutuhan rasa kagum berlebihan dari orang lain. Orang-orang narsis itu juga kekurangan empati terhadap orang lain di sekitarnya.

Paling cakep sejagat

Selfie berlebihan

Mitologi Yunani menggambarkan bagaimana Narcissus dikutuk dan jatuh cinta pada refleksi dirinya sendiri di air hingga delusional dan mati. Narcissus jaman sekarang melihat refleksi dirinya di depan kamera telepon genggam, dengan make up lenong, atau jika tak ada dempul, aplikasi kecantikan. Foto harus diedit, badan dikuruskan, wajah jadi mulus, terlihat lebih muda, lebih tiris, hingga tak dikenali. Dalam bahasa perias pengantin: manglingi.

Aplikasi edit kecantikan menjadi penyelamat untuk menutupi insecurity orang-orang narsis. Foto-foto ini kemudian akan diunggah ke media sosial secara rutin, seringkali berlebihan hingga mengundang mute atau pada level ekstrem unfriend. Nirfaedah.

Merasa paling penting

Anak pejabat pun kalah, padahal si narsis ini bukan anak pejabat, pasangan pejabat, atau pejabat negara. Cara memposisi diri sebagai orang penting ini kemudian ditambah dengan aneka cerita yang membuat dirinya terlihat menjadi paling wah, paling cerdas, paling kaya, pekerjannya paling oke sejagat raya. Bicaranya muluk-muluk, kadang disertai dengan kebohongan kecil.

Lucunya, etika seringkali dilupakan. Baik itu etika untuk tak memotong pembicaraan orang lain, atau bahkan ilmu padi, makin berisi makin merunduk . Humble brag juga tak dikenal. Pada banyak kasus yang saya temui, seringkali mereka merendahkan hidup orang lain tanpa bisa melihat bahwa hidup mereka sebenarnya biasa-biasa saja. Gedubrag.

Selalu merasa paling kaya & merendahkan orang lain

Patut dicatat bukan berarti yang narsis itu orang-orang tak penting ya, banyak dari mereka yang merupakan orang penting, pemegang posisi tertentu, bahkan pada level presiden. Tapi ya jadi presiden yang bikin pusing seantero jagat.

Fantasi Setinggi Langit

Fantasi dari orang-orang NPD itu suka luar biasa. Mereka mau yang terbaik, standar hidup mereka juga cenderung tinggi. Syukur-syukur kalau uang ada, hingga bisa membayar orang untuk memisahkan coklat M&Ms dari warna tertentu.

Di beberapa kasus kemudian muncul besar pasak daripada tiang. Standar hidup ketinggian, kantong tak kuat dan menjerit. Barang harus bermerek semua. Kartu kredit pun menjadi sahabat erat supaya misi untuk terlihat sebagai orang penting dan kaya terus berjalan. Menunggu warisan dari kematian keluargapun bukan sebuah hal yang tabu lagi. Sense of entitlement mereka tinggi sekali.

Fantasi tinggi orang-orang ini beraneka ragam, dari gaji hanya cukup untuk Avanza, tapi ingin membeli Ferrari. Pengalaman kerja baru setahun tapi sudah ingin menjadi pentolan perusahaan C-level layaknya para pengguna Clubhouse #Eh. Perlu dibedakan juga antara mereka yang bermimpi besar tapi kaki menapak di bumi (baca: realistis) dan mereka yang kakinya melayang karena fantasi muluk-muluk ini tanpa bisa mengaca dan melihat kemampuan diri.


Manipulatif

Hubungan dengan NPD itu satu arah, hanya jika mereka perlu saja. Jika mereka tak mendapatkan yang dimau, siap-siap saja dibuang. Dan korban mereka kebanyakan orang-orang dengan rasa empati yang tinggi, karena mereka bisa dengan mudahnya dimanfaatkan dan dimanipulasi.

Dan dalam hubungan ini mereka harus selalu mendapatkan apa yang mereka mau, dan mereka tak segan memanfaatkan orang lain. Konsep hubungan mereka bukan give and take, hanya take, take, take.

Soal manipulatif ini ada bermacam-macam, salah satunya adalah gaslighting dimana perasaan dan pikiran si korban dianggap tak penting hingga sang korban mempertanyakan sendiri kesehatan jiwannya.

Mempertahankan Hubungan

Orang-orang narsis itu tak punya konsep untuk introspeksi. Dalam aneka situasi, mereka tak pernah mau berjiwa besar dan mengaku salah. Mereka harus selalu benar dalam segala hal. Jangan coba-coba pula untuk kritik mereka, karena mereka merasa diserang dan akan menyerang balik (bahkan ad hominem).

Dalam beberapa kasus mereka juga tak segan untuk mempertahankan hubungan dengan modal ancaman, apalagi hubungan asmara. Makanya mereka cenderung tak punya hubungan (entah itu pertemanan, persaudaraan, kolega, hingga hubungan asmara) yang bertahan lama.

Hubungan ini sering runyam karena orang-orang di lingkungan sekitar akan eneg ketika mengetahui pribadi mereka lebih dalam. Belum lagi, menghabiskan waktu dengan mereka ini menguras energi dan juga emosi, sehingga banyak orang enggan berhubungan lebih jauh dengan mereka. Capek.

Penutup

Media sosial kemudian memberikan keleluasan bagi mereka untuk bisa mengekspresikan diri. Kita bisa dengan mudahnya menemukan  mereka yang tinggal di negeri fantasi dan mati-matian menebar ilusi bahwa hidup mereka indah, kaya raya, makmur, tinggal di daerah paling mewah dan lain sebagainya. Padahal orang-orang di sekitarnya tahu itu hanya ilusi belaka untuk mendapatkan validasi dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Rumput tetangga memang sering terlihat lebih hijau, tapi siapa yang tahu kalau rumput-rumput tersebut ternyata rumput plastik. Makanya jangan percaya semua yang kalian lihat di media sosial.

Semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang narsis dan tidak tumbuh menjadi individu yang narsis.

Ailtje

Drama Multi Level Marketing (MLM)

Bukan rahasia lagi kalau kita tiba-tiba dikontak oleh teman lama, kita langsung parno sendiri. Seringkali mereka kalau tak pinjam uang, tiba-tiba ngajak bertemu untuk menawarkan peluang bisnis. Bisnis MLM tentunya.

MLM sendiri bukan barang asing bagi saya. Saya sudah mencoba aneka MLM sedari muda, dari yang jualan produk kecantikan, aneka produk “kesehatan” herbal, produk rumah tangga hingga MLM nomor satu di dunia. Selama berinteraksi dengan MLM ataupun orang-orang di MLM, saya menemukan banyak sekali masalah MLM, yang akan saya ulas di bawah.

Produk Mahadewa

Kecap nomor satu, yang lain nomor dua. Jualan MLM itu bagi saya seringkali berlebihan mengumbar kehebatan produk. Ya namanya juga jualan. Ambil contoh pembersih kacamata dari MLM Amerika yang seringkali diperagakan anti uap air panas. Ya kali, kalau beli produk ecek-ecek pun mereka juga anti uap air juga. Beda harga aja dan gak pakai embel-embel MLM nomor satu di dunia.

Soal kehebatan ini, produk MLM plastik juga ngeklaim garansi seumur hidup dan tak akan pernah rusak. Rumah saya dulu penuh dengan produk ini, dan tentunya plastik-plastik ini sukses rusak, tutupnya sobek ketika disentuh. Garansi penggantian tentunya BS semua. Cuma ilusi untuk mengiming-imigni orang membeli pastik yang katanya nomor satu dan mahal.

Yang paling epik adalah produk kesehatan. Seringkali mengklaim bisa menyembuhkan aneka penyakit yang tak bisa disembuhkan. Bahkan bisa mengobati Hepatitis C dan COVID 19. Sumbernya klaim ini bukan jurnal medis tentunya, tapi aneka testimono dari orang-orang yang membaik. Siapa yang tahu membaik karena dokter, doa, obat MLM, atau karena mbah dukun.

Salmonnya kakak?
Image by rjunqueira from Pixabay

Gak cukup ngeklaim aja, tapi ada tambahan mencela suplemen-suplemen dari dokter yang dianggap sampah dan tak berguna. Nah karena banyak orang takut ke dokter (belum lagi cerita dokter jualan obat), kemudian banyak yang memilih berobat alternatif. Target empuk deh untuk produk kesehatan mahadewa yang seringkali harganya selangit.

Jual Mimpi

Namanya manusia, pasti suka bermimpi. Nah MLM menggunakan ini dengan baik. Menjual aneka mimpi, dari mulai iming-iming kerja dari rumah, bisa jalan-jalan ke luar negeri, konferensi di berbagai belahan dunia, dibayarin ini itu, dapat mobil gratis, rumah gratis dan gaji puluhan juta tiap bulan. Caranya gampang, tinggal rekrut-rekrut dan jual produk. Nanti akhir bulan harus kejar poin sesuai target.

Mimpi itu sah-sah, tapi pada saat yang sama juga mesti realistis. Kalau poin gak ketutup, diuber-uber, salah ding, disemangati untuk bisa segera nutup. Kalau poin tak tertutup, nanti uplinenya tak dapat bonus. Berabe nanti sang upline tak jadi konferesi di negara antah-berantah. Gara-gara tekanan ini, bahkan banyak yang kemudian berakhir menumpuk barang di rumah demi menutup poin. Akhirnya mimpi jadi kaya-raya ini berakhir dengan masalah keuangan dan tentunya onggokan barang-barang jawara nomor satu yang tak terjual.

Tak hanya itu, demi mimpi, kemudian ada tekanan untuk melakukan perubahan gaya hidup. Produk yang digunakan “harus” diganti menjadi produk-produk dari MLM yang tak murah.  Biasanya pakai sabun buatan Indonesia, sekarang ganti sabun MLM luar negeri dengan harga tiga kali lipat.  Biasanya minum vitamin C dari apotek, sekarang pakai vitamin yang lebih mahal. Investasi katanya dan sah-sah aja kok. Tapi ya apa perubahan ini terjadi setelah adanya penambahan pendapatan secara signifikan, atau untuk memancing tambahan pendapatan? Kalaupun investasi, harus ada return of investment dong. Gak cuma ngabisin duit doang.

Etika

Ah kalau sudah soal etika ini, saya gak tahu deh harus mulai dari mana. Tapi perlu dicatat, gak semua agen MLM seperti ini. Yang santun, yang baik ada banyak. Salah satu yang cukup mencolok adalah jika ada yang sakit. Mereka yang sakit parah, terkadang dipenghujung hidup, tiba-tiba dijenguk teman lama. Tapi, jenguknya punya motif untuk menawarkan MLM. Alasannya “mau menolong”  yang menderita sakit cukup parah. Hitung-hitung menolong, lalu bisa tutup poin akhir bulan dari hasil penjualan obat mahadewa, dan tentunya memberikan secercah harapan bagi yang sakit.

Tak hanya teman lama, media sosial juga menjadi ajang berburu downline. Baru-baru ini,  saya ujug-ujug dikontak oleh orang tak dikenal di Instagram. Bukan follower, bukan teman, tak pernah ngobrol apapun, tak pakai basa-basi bertanya kabar (lagi pandemik pun gak mau usaha nanya kabar), lalu ia mengenalkan diri untuk menawarkan peluang bisnis internasional. Bah…baru dengar kata bisnis internasional aja saya udah langsung ngeh, pasti MLM. Daripada buang-buang waktu orang, saya langsung bilang, direct selling dan MLM bukan untuk saya.

Bisa diduga buntutnya? ngotot  ingin tahu kenapa, minta ngajak Zoom, lalu menjelaskan dia dulu juga begitu. Ini rasanya udah khas MLM banget, kalau ditolak maju terus karena merasa tertantang. Gak mau dengerin kalau tidak berarti tidak. Bagi saya sih gampang kalau ketemu yang model gini ya cuekin aja. Nah yang ribet kalau yang model begini ini keluarga atau teman dekat, pasti susah nolak keluarga, apalagi ditambah budaya gak enakan. Bubrah sudah hubungan hanya karena MLM.

Selain sosial media, pemburu downline juga merambah ke aplikasi Tinder. Seorang teman diajak bertemu Zoom. Nah ya kalau gini kan bikin GR dan semangat membara mau ketemu cowok, tau-taunya diajak bisnis MLM. Ah ya capek deh kalau gini yang jomblo mana bisa dating dengan nyaman.

MLM di Media

Di Netflix  ada (Un)Well yang mengulas tentang MLM minyak. Coba deh ditonton, ada kesaksian korbannya, baik dari korban keuangan sampai mereka yang menderita alergi dan harus terkena dampak fisik. Di Indonesia sendiri minyak ini cukup populer, kalangan menengah ke atas di Indonesia sekarang hobi beli, oles-oles dan bahkan minum minyak.

Judge Judy sendiri di salah satu sidangnya pernah pernah berkata bahwa MLM adalah skema piramid yang legal. Gak salah memang, skema MLM ini memang tak ubahnya piramid. Yang posisi rendahan bekerja keras supaya posisi upline tak terancam, dapat penghasilan jutaan tiap bulan dan bisa terus konferensi ke berbagai belahan dunia. Mereka yang di bawah juga bisa perlahan-lahan naik, tapi tentunya harus dibarengi dengan jumlah downline yang berfungsi menyokong posisi.

Banyak banget tulisan yang membahas soal ini. Pendeknya, MLM di media seringkali  digambarkan sebagai sebuah hal yang kurang positif.

Penutup

Menjadi bagian dari MLM itu adalah keputusan tiap individu. Satu hal yang penting sebelum memutuskan bergabung adalah melakukan riset terlebih dahulu untuk tahu kejelasan sistem dan produk yang akan dijual. Riset, riset dan riset. Jangan asal tergiur oleh iming-iming sukses, kaya, bisnis internasional, apalagi dari orang tak dikenal yang tak bisa dipercaya.

Yang pasti, ada banyak orang yang sukses membalik persepsinya tentang MLM dan sukses di MLM. Tetapi ada banyak juga yang hancur karena MLM, keuangan hancur, hubungan hancur, bahkan tubuh hancur.

Setelah melihat berbagai MLM, saya menyimpulkan, MLM bukan untuk saya. Jadi, gak usahlah buang-buang waktu nawarin saya beli produk MLM, atau bahkan nawarin saya jadi downline.

xoxo,
Ailtje

Perempuan Pengejar Dunia

Beberapa waktu lalu ada diskusi di salah satu sosial media tentang perempuan bekerja dan informasi mengenai cara membekukan telur yang tak murah tentunya. Salah satu komentar membahas soal biaya yang tinggi. Ini kemudian ditanggapi dengan komen, hanya untuk mereka dengan gaji 2-3 digit yang super sibuk mengejar dunia. Buat saya, komentar sibuk mengejar dunia ini gak enak banget dan bisa diduga, yang komentar perempuan juga. Mungkin gajinya 1 digit? dan yang pasti, ia tak sibuk.

Berat memang jadi perempuan di dunia yang sangat patriarkis ini. Ketika ingin sukses bekerja dan mengaktualisasikan diri, masih saja ada nada-nada miring dari perempuan lain yang tak bisa menghargai dan meghormati pilihan perempuan lain. Mengejar dunia, menghidari kodrat sebagai perempuan, terlalu ambisius dan banyak rentetan komentar lainnya. Sementara bagi pria, bekerja itu sebagai sebuah hal yang normal dan tak perlu dikomentari macam-macam. Risihnya, tuduhan ini justru datang dari perempuan lain. Entah ini karena rasa iri dan dengki, atau memang kapasitas berpikir  sangat terbatas.

Image by Pijon from Pixabay

Kontribusi Pada Masyarakat

Kalau wawancara bekerja seringkali kandidat ditanya, kenapa memilih perusahaan tersebut? Jangan sekali-kali jawab mengejar dunia, material atau karena butuh uang untuk bayar tagihan. Dijamin tak akan bisa diterima di perusahaan tersebut.

Bekerja itu selain soal mendapatkan penghasilan dengan digit setinggi-tingginya, juga soal kontribusi terhadap perubahan di masyarakat. Berkarya di masyarakat. Perubahan ini bisa bermacam-macam, bisa positif dan tentunya bisa negatif. Contoh paling sederhana, kerja jadi tenaga kesehatan, yang seringkali digaji dengan upah rendah dan resiko tinggi,  untuk membantu orang-orang lain supaya sembuh dan sehat. Penghasilan tak seberapa, kerja keras (apalagi di tengah pandemik gini), super sibuk, pulang malam terus.  Berani ngelabeli pengejar dunia? Atau tuduhan ini hanya untuk perempuan pekerja kantoran saja dan mereka dikecualikan?

Belum atau Tak Ingin Kawin

Tak semua perempuan ingin cepet-cepet kawin, ada yang bahkan tak mau kawin sama sekali. Alasannya bermacam-macam, tak siap, belum bertemu pasangan, males ribet dengan pria, tak suka pria, tak tertarik dengan jender apapun, hingga memang karena negara tak mengijinkan perkawinan yang diidamkan.

Fokus diri kemudian bisa berganti pada pekerjaan, membangun usaha, atau sekolah setinggi mungkin.  Salah kalau sudah begini?  Hidup itu pilihan, bisa milih kejar laki-laki, bisa juga milih kejar dunia. Suka-suka mau milih yang mana. Tapi ya jangan reseh juga kalau ada yang capek ngejar laki-laki, karena ngejar karir atau studi itu lebih jelas arahnya.

Mengejar Hidup Setelah Mati

Ini nih argumen yang dipakai banyak orang. Jadi perempuan itu jangan hanya mengejar dunia saja, tapi juga jangan lupa Tuhan dan kehidupan setelah kematian. Pertama, urusan ketuhanan orang itu urusan dapur masing-masing, gak usah kompetifif lah. Yang kedua, kalau maksa kompetitif, jurinya yang berhak memutuskan itu cuma Tuhan.

Lagipula, jadi manusia baik itu juga tak selamanya bisa dilakukan dengan gratisan. Mengunjungi tempat-tempat untuk mendapat pencerahan spiritual itu gak gratis, pakai biaya transportasi. Memberi makan orang kelaparan dan anak-anak yang butuh pendidikan itu juga gak gratis, pakai duit semua. Gaji dua digit, tiga digit tuh bisa dengan mudahnya dihambur-hamburin, kalau mau.

Penutup

Ada banyak alasan perempuan bekerja keras, pintar dan sukses dengan gaji tinggi. Di dunia patriarkis ini, menaiki tangga kesuksesan itu susah banget. Banyak ketemu orang-orang yang tak mendukung dan banyak dicemooh. Belum lagi menjadi perempuan itu sering sekali dituduh emosinal dalam lingkungan pekerjaan.  Jumlah perempuan yang menduduki posisi tinggi itu juga gak banyak, ada kesenjangan gaji juga. Makanya sebagai bagian dari masyarakat, sudah saatnya perempuan yang berjual keras ini tak dianggap melakukan hal yang nista. Sukses itu normal dan perempuan itu juga harus sukses, di area apapun yang mereka pilih. Jangan cuma laki-laki aja yang dipuja-puja sebagai pekerja keras ketika mereka sukses. Perempuan juga harus diperlakukan dengan sama.

Yang di rumah saja menjadi ibu rumah tangga juga tak perlu nyinyir dengan mereka yang memilih bekerja. Menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja itu adalah suatu kemewahan dan pilihan, tak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Ini pernah saya tulis di sini enam tahun lalu. Pada saat yang sama, gak bisa maksa juga supaya perempuan lain jadi ibu rumah tangga juga. Dunia juga sudah berubah, perempuan punya pilihan dan berhak memilih mau menjadi ibu rumah tangga ataupun bekerja. 

Permisi, saya mau mengejar dunia dulu!

xoxo,
Ailtje
Selain mengejar dunia juga mengejar anjing setiap hari. 

Cerita Pandemik

Halo dari Irlandia yang untuk kesekian kalinya mengalami lockdown. Rasanya jika saya tak salah mengingat ini lockdown ketiga di level 5 dan ada beberapa lockdown dengan level yang lebih rendah yang saya tak ingat lagi karena sudah terlalu sering. Kendati sudah sejak Maret 2020 saya bekerja dari rumah, pengumuman lockdown masih tetap membuat stres. Apalagi lockdown kali ini seusai Natal dan diperpanjang hingga bulan Maret nanti. Mendadak sunyi senyap setelah gegap gempita musim Natal.

Panic buying
Saya termasuk salah satu orang yang panik tak karuan ketika pengumuman lockdown di bulan Maret. Rasa panik ini muncul karena beberapa tahun lalu ketika badai salju datang di Irlandia saya tak siap dan berakhir tanpa roti, susu (tapi punya banyak beras dan mie).

Jika orang lain panik membeli tisu toilet, saya panik membeli segala macam hal yang saya lihat di supermarket Asia. Spesifik di supermarket Asia saja. Rumah di kampung dan saya sangat takut tak boleh ke supermarket yang lokasinya tak dekat. Begitu ambisiusnya saya, sampai membeli beras ketan untuk membeli lemper. Tentunya tak satu lemperpun yang jadi dan beras ketan sukses saya hibahkan ke tetangga.

Di awal pandemik, saya juga ikut ngantri membeli kebutuhan di supermarket biasa. Saat itu saya antri dengan beberapa kolega kantor yang panik membeli bahan untuk anak-anak mereka. Sementara saya repot membeli air dan bahan makanan untuk makan malam (kami tak pernah membeli banyak makanan, biasanya hanya cukup untuk dua atau tiga hari). Kepanikan itu ternyata tak beralasan, karena supermarket masih terus-menerus buka.

Membuat Roti dan Kue

Saking banyaknya waktu yang saya punya, saya juga ikut membuat aneka roti di musim semi dan musim panas. Saat itu tepung protein tinggi untuk membuat roti tak mudah ditemukan, karena semua orang membuat roti. Saya juga membuat sourdough, tapi tak sukses dan akhirnya harus membunuh sourdough saya.

Akibat hobi baru membuat roti ini, saya dan suami sukses menambah beberapa kilogram ke timbangan. Parahnya, di akhir tahun ini saya menemukan hobi baru, belajar membuat cake. Percobaan pertama dimulai dengan cake pandan chiffon yang tentunya tak mudah hingga marble cake. Sekarang saya beralih membuat kue-kue kering dan lagi-lagi tetangga yang menjadi korban untuk menghabiskan hasil percobaan saya. Oh bless them.

WFH 

Jika harus bekerja dari rumah selamanya, saya tak keberatan. Tak perlu bangun pagi-pagi untuk bergulat dengan kemacetan lalu lintas pagi hari yang persis dengan tol dalam kota di Senin pagi. Zoom meeting setiap saat, dan jantung rasanya berhenti berdetak dan panik luar biasa setiap kali internet di rumah ngambek. Untungnya internet ngambek hanya terjadi dua atau tiga kali. Fiuh….

Jika di awal pandemik saya hanya menumpuk dua buah kursi plastik untuk menjadi meja saya, di akhir tahun saya membuat kantor yang proper demi kesehatan punggung dan kenyamanan. Sekarang, kerja jadi rumah jauh menyenangkan. Parahnya, sejak kerja jadi rumah saja jadi bekerja lebih keras dari biasanya.

Menjaga Kesehatan jiwa

Selama 2020 ini fokus saya ada pada kesehatan jiwa tak hanya jiwa saya, tapi juga orang-orang yang berada satu tim bersama saya. Ini benar-benar jadi fokus utama saya. Saya tak segan memutus hubungan pertemanan yang beracun, membatasi baca berita tentang pandemik dan fokus pada diri sendiri.

Mudah? tentu tidak, apalagi ketika kemudian lockdown kedua datang pada awal musim dingin. Matahari mulai menghilang, kegelapan datang dan kita semua berada dalam isolasi. Tiba-tiba saya menemukan diri bergulat dengan depresi.

Perjuangan melawan depresi bukan hal yang mudah. Tapi satu hal yang pasti, saya menyibukkan diri. Selain baking, saya juga menulis buku harian untuk menuangkan perasaan saya. Rasanya kayak anak remaja lagi, memegang pulpen dan jurnal. Tak ada rahasia perasaan pada gebetan tentunya. Apalagi cerita ketika tak sengaja ketemu di samping telepon umum. #Eh.

Jalan kaki untuk meningkatkan detak jantung juga jadi satu hal yang selalu saya coba lakukan. Untungnya ya di Irlandia ini, hujan, angin, bersalju pun kita masih bisa jalan untuk mencari udara segar. Ketika bersalju saya bahkan keluar rumah tiga kali untuk jalan kaki. Entah mengapa udaranya jauh lebih menyenangkan.

Berbicara dengan terapis juga jadi satu hal yang saya lakukan. Mencari bantuan untuk menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah hal yang perlu diberi stigma atau dilabeli. Tapi saya tak menutup mata, masih banyak yang tak mengerti dan berusaha memahami kesehatan mental ini. I am not going to lie, saya pun baru benar-benar ngeh, ketika orang-orang terdekat dan saya sendiri mengalaminya.

Orang-orang berkata bahwa saat pandemik belajarlah satu hal yang baru. Buat saya, anjuran ini tak berlaku, saat pandemik, lakukan apa saja yang bisa menjaga kesehatan jiwa. Apa saja, selama tak menyakiti orang lain dan tak melanggar aturan. Termasuk, membeli dan memakai tracksuit* demi kenyamanan di dalam rumah. Anything for my sanity!


Apa kabar kalian? sehatkah?

 

xoxo,
Ailtje

PS: *menggunakan tracksuit itu identik dengan tak berkelas.

Dear Pedagang Makanan

Jadi pedagang makanan itu saya bayangkan tidaklah mudah. Apalagi jika menjadi pedagang yang harus berjuang sendirian seperti abang tukang bakso Malang. Pagi-pagi harus pergi ke pasar untuk mendapatkan daging dan tulang terbaik, membuat bakso, gorengan, lontong, mie, menggoreng tahu, mengisi tahu lalu sorenya harus berkeliling menjual dagangan.

Memasak sendiri bukanlah hal yang mudah. Cukup melelahkan, apalagi masakan Indonesia yang mengenal aneka rupa bumbu-bumbu masakan. Kendati berat, banyak orang yang menjual makanan, selain hobi, tambahan ekstra uang juga untuk membantu mereka yang tak bisa memasak.

Jual makanan itu tak hanya soal mencocokkan selera, tapi juga soal kepercayaan. Menjaga kepercayaan konsumen supaya tak ternoda dengan banyak hal. Nah, saya menemukan  banyak hal yang kemudian bikin gemas sama ulah oknum pedagang yang sering menodai kepercayaan pembeli.

Foto Palsu

Konsumen itu harus terus-menerus dipancing untuk mau membeli makanan, supaya pundi-pundi pedagang terus mengalir. Di jaman media sosial begini, memasang foto hasil makanan adalah salah satu strateginya. Konsumen melihat foto-foto cantik, membaca testimoni, lalu mereka ingin membeli.

Pedagang yang baik itu akan menginvestasikan waktunya untuk mengambil foto yang menggugah selera. Jaman sekarang tak terlalu susah, cukup dengan handphone, mengatur komposisi dan pencahayaan. Beres. Biarpun “mudah”, masih ada saja pedagang yang tak beretika dan mengambil foto dari internet atau media sosial lainnya, seperti Instagram. Setelah itu, mereka mengklaim makanan tersebut hasil karya sendiri.

Bodohnya, pedagang ini tak tahu (atau mungkin pura-pura tak tahu), bahwa mengecek foto-foto hasil colongan itu sangat mudah. Tinggal unduh foto yang dipasang, lalu unggah ke Google Image untuk dicari. Reputasi hancur ketika hal-hal remeh seperti ini ketahuan, apalagi kalau masakan yang dijual tak spektakuler foto-foto di media sosial. Foto boleh nyolong dan terlihat spektakuler, tapi rasa gak bisa nyolong dari mana-mana.

Konsistensi rasa & kualitas masakan

Jual makanan itu juga soal menjaga konsistensi. Kuaitas jangan dikurang-kurangi. Hari ini pakai ayam kampung nan segar, besok pakai ayam tiren. Hari ini bumbunya satu kilo, besok setengah kilo. Semua demi profit yang lebih tinggi. Ini khas banget, banyak yang melakukan, apalagi bisnis baru yang populer dalam sekejap.

Lalu, tukang masak bergantian, hari ini dimasak sendiri, besok nyuruh orang lain untuk masak. Rasanya ya gak akan konsisten. Syukur-syukur kalau konsisten menjadi lebih enak, kalau konsisten semakin hancur pembeli kabur. Tirulah banyak tempat berjualan makanan yang tukang masaknya dia lagi dia lagi. Kalau kemudian yang masak sakit, atau meninggal, bubrah sudah.

Ganti-ganti rasa itu cuma boleh pada satu hal: untuk menyempurnakan rasa supaya lebih enak. Ini hanya boleh dilakukan pada saat tahan percobaan, di awal-awal ketika akan membuka usaha. Pedagang yang baik biasanya memberikan contoh gratis untuk meminta masukan.

Jualan makanan juga harus jaga kualitas. Makanan yang dijual harus layak disajikan dan harus layak dimakan. Jangan sampai makanan gosong, hitam lalu dibungkus rapi terlihat cantik. Atau makanan salah mengolah, masih belum matang sempurna, atau malah terlalu matang hingga seperti karet. Dalam situasi seperti ini pedagang yang beretika harus berani mengambil langkah untuk mengganti. Demi kepercayaan pembeli.

Harga Naik

Satu lagi penyakit dari sebagian kecil pedagang makanan yang baru berjualan. Baru seumur jagung menjual makanan, tiba-tiba menaikkan harga. Bahan pangan naik katanya. Kocaknya, harga lombok dan pangan lainnya sangat stabil, bulan puasa dan lebaran masih jauh dan hasil panen para petani sukses. Entah dari mana harga naik?

Dagangan memang untuk profit, makanya harus diperhitungkan dengan baik supaya tak rugi. Tapi ketika tak memperhitungkan harga jual dengan baik dan benar, pelangganlah yang akan menjadi korban. Mereka akan merasa tak nyaman ketika mendadak harga naik.

Etika Mengecek Kompetitor

Riset mencari tahu selera pasar itu wajib. Tapi kalau mencari tahu itu juga harus etis dan elok. Gak tiba-tiba mencari pedagang yang sudah berdagang sejak lama, lalu menanyakan serentetan pertanyaan kepada pedagang sebelah, macam petugas keamanan menginterogasi. Kelanjutannya bisa ditebak, besoknya buka lapak, harga lebih murah untuk memukul pedagang lama dan mengambil pelanggannya, lalu parahnya pura-pura tak kenal pedagang lama. Sukur-sukur kalau tak pakai menghancurkan reputasi pedagang lama dengan gosip murahan macam tuduhan tukang tahu bakso sebelah pakai celana dalam di dalam pancinya.

Dunia perdagangan itu kecil, people talk. Termasuk soal persaingan perdagangan yang kadang suka kejam. Kirim santet untuk membuat dagangan lapak sebelah bau, bukanlah satu yang aneh.

Penutup

Di luar Indonesia banyak juga orang yang berdagang. Komunitas Indonesia yang kecil membuat banyak informasi tentang pedagang-pedagang tak etis cepat tersebar. Calon pembeli biasanya sudah mundur teratur, lalu lari sekencang-kencangnya ketika tahu kalau sang pedagang bisa bikin hidup gak tentram.

Ada kecenderungan orang untuk memilih pedagang yang tak hanya menjual makanan yang enak, tanpa drama macam-macam, beretika dan bisa dipercaya. Sekali kepercayaan ternoda, pembeli bubar dan tak akan beli lagi. Word of mouth sendiri juga masih akan sangat kuat. Satu pembeli dilukai, dijamin ceritanya akan kemana-mana. Kalau sudah seperti ini, bisnis modyaaaaar.


Punya cerita soal dunia dagang?

xx,
Ailtje
Tidak menjual makanan

Cita-Cita: Kepengen Kaya

Ah siapa sih yang tak ingin kaya, duduk-duduk di rumah saja, makan, tidur, makan, tidur tak perlu kerja. Jalan-jalan ujung dunia manapun, kapan saja, tanpa perlu cemas dengan cuti yang terbatas, atau harga tiket kelas ekonomi yang tak kunjung didiskon jua. Semua orang mungkin ingin kaya, walaupun definisi kaya dari satu orang dengan orang yang lainnya tak sama.

Pada saat yang sama, ada sebagian orang yang mati-matian ingin membuktikan bahwa diri mereka masuk golongan kaya raya. Apapun dilakukan demi ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari tuan dan nyonya kaya raya yang tak perlu perlu menunggu further sale fast fashion murah meriah hingga 70% dan cemas mencari ukuran pakaian yang diinginkan. Pendeknya, masyarakat harus tahu bahwa mereka orang yang berada, seakan-akan rasa percaya diri mereka baru muncul setelah ada pengakuan dari orang lain.

Soal Gaji & Tabungan

Pembuktian menjadi kelompok kaya ini seringkali dibuktikan dengan memamerkan jumlah uang yang mereka punya. Yang berulang kali saya lihat memamerkan upah minimum di luar negeri (tak ada yang salah dengan mendapatkan upah minimum), lalu memegang kalkulator dan menghitung berapa jumlah penghasilan tersebut dalam rupiah. Tentunya bagi sebagian orang di Indonesia terlihat wow. Bagi mereka yang menunjukkan gaji ini tentunya penting untuk memposisikan diri sebagai orang yang berpenghasilan wow, walaupun realitasnya penghasilan tersebut ya hanya cukup untuk kebutuhan hidup minimum. Woooow…..

Tak cukup di situ, penghasilan pasangan pun harus ikut ditunjukkan pada dunia selayaknya menunjukkan tropi jawara main catur di RT dan mengukuhkan posisi sebagai anggota kelompok sosial horang kaya. “Suamiku dong gajinya sekian puluh ribu Euro setiap bulan”. Gak usah dihitung ke dalam rupiah, karena kalkulatornya mungkin tak cukup. Yang penting wow, semua orang terpukau.

Tak cukup dengan gaji, jumlah tabungan di rekening pun harus diumumkan  kemana-mana. “Kalau 30,000 aja di tabungan adalah aku”. Yang lain yang tak mau kalah ikut mengatakan  bahwa suami punya tabungan sebanyak 100,000 Euro. Ini baru pertama babak kompetisi isi tabungan.

Barang bermerek

Semua barang tentunya ada mereknya, bahkan yang KW sekalipun pasti ada mereknya, walaupun mungkin mereknya dari Fendi jadi Effendi. Menunjukkan barang bermerek ini seringkali dimaksudkan untuk menunjukkan posisi bahwa kebutuhan pokok dan sekunder terpenuhi. Dengan adanya media sosial pun melakukannya sangat sangat mudah.

Barang bermerek sendiri pun ada bermacam-macam, dari yang low-end, mid-end hingga high-brand. Bahkan ada yang edisi terbatas dan biasanya hanya diberikan pada VIC, very important client. Pendeknya, di atas semua merek, masih ada merek yang lainnya. 

Berlian minjam, demi koleksi foto barang mewah di blog.

Barang bermerek ini kemudian menjadi pendukung untuk memperkuat posisi sebagai horang kaya yang tentunya perlu dihormati dan membuat orang lain terpukau. Tentunya banyak yang terpukau melihat kemampuan membeli barang tersier tersebut, karena tak bisa dipungkiri di sekitaran kita masih banyak yang memposisikan orang lain berdasarkan kemampuan ekonominya.

Demi posisi ini pula, banyak yang tak segan menunjukkan barang-barang palsu (bahkan memberi hadiah palsu).Sekalipun di luar negeri, barang KW itu ada banyak sodara-sodara. Dari kejauhan atau dari postingan di sosial media pun banyak orang yang mata tajamnya langsung cepat menangkap barang-barang KW. Harap maklum, kekayaannya mungkin memang KW.

Penutup

Pada akhirnya, kita semua senang bermimpi. Tak ada salahnya bermimpi menjadi kaya raya, dibarengi dengan usaha tentunya dan kembali ke realitas. Yang salah tentunya jika membohongi diri-sendiri demi mati-matian menunjukkan identitas diri sebagai orang kaya atau bahkan sudah “sukses di luar negeri”.

Di banyak kasus seperti ini, akhirnya malah jadi olok-olokan dan bahan tertawaan. Usaha menunjukkan status menjadi orang kaya ditertawakan orang lain, karena hebohnya setengah mati, dari selonjoran di depan mobil bekas tua, mengembalikan barang setelah unboxing hingga mengembalikan pakaian dari fast fashion yang harganya recehan.

Penipuan terhadap para followers di media sosial, tapi yang lebih parah tentunya menipu diri sendiri. What do you get, really? Demi bisa dihormati oleh orang lain. Penghormatan itu didapatkan dari bagaimana kita membawa diri dan bukan dari banyaknya tabungan suami, atau posisi sebagai horang kaya.

Pepatah bilang, di atas langit, masih ada Hotman Paris.  Jadi gak usahlah mati-matian membohongi diri sendiri demi ingin dianggap kaya raya. Orang-orang tahu lah siapa yang bener-bener kaya dan siapa yang menipu diri sendiri.

xoxo,
Ailtje
Bukan orang kaya

Etika di Seputar Bencana

Beberapa hari ini pengguna internet di Indonesia ramai dengan diskusi mengenai hilangnya salah satu maskapai. Beberapa pengguna media sosial juga marah, marah dengan etika jurnalisme yang tak berkemanusian, dengan model bisnis jurnalisme yang menjual kesedihan orang lain, hingga pada perilaku pengguna media sosial yang bikin emosi jiwa.

Emosi ini tumpah ruah ke media sosial, beberapa dengan terbuka pasang status, sementara beberapa yang lain hanya berkomentar melalui DM. Yang marah-marah bahkan tak enggan akan memblok teman-teman di media sosial yang dianggap kurang beradab. Saya termasuk salah satu orang yang tak segan menegur.

Tangkapan Layar (Screenshot)

Hayo siapa yang ngambil screenshot sosial media dari para penumpang (termasuk penumpang di bawah umur) lalu menyebarkan kemana-mana? Modusnya nyebarin macam-macam, dari berdoalah, quote status terakhir, postingan terakhir, foto-foto prewed dari penumpang, sampai nyambung-nyambungin postingan sama firasat.

Bahkan ada yang mengatasnamakan sahabat lalu mengumbar foto-foto mereka. Halah, ngaku sahabat tapi kok kok kelakuan begitu. Ngambilnya pun gak pakai permisi-permisi, alasannya ditemukan di internet. tujuannya tak jelas pula? Mengutarakan duka bukan alasan yang tepat, karena tak perlu mengumbar cerita duka mereka.

Jejak online para penumpang ini tadinya hanya terbatas di media sosial mereka, bahkan ada yang hanya bisa dilihat 24 jam. Keluarga mereka pun, jika menghendaki, masih bisa menghapus jejam digital mereka di internet.  Sekarang, kalau keluarganya mau cek, jejak ini ada dimana-mana. Proses berduka bagi mereka pun tak akan mudah, dan kalian membuatnya semakin sulit dengan tak menghormati privacy mereka.

Mulut pedas, karetnya lima

Mengalami musibah itu bukan kutukan, bukan berarti tak dilindungi oleh Tuhan juga. Di saat seperti ini ada baiknya mulut dijaga dan mikir seribu kali kalau mau nulis status.
Mengatakan  “Masih dilindungi Tuhan”, lha emang Tuhan eklusif punya yang hidup doang? Yang mengalami kecelakan terus tak dilindungi Tuhan?  

Tak cuma soal komentar-komentar yang kadang diceploskan tanpa dipikir, tapi juga soal guyonan. Guyonan tak mengenakkan tersebar dimana-mana, apalagi di Twitter. Parahnya, ketika sang penulis mengaku bersalah dan meminta maaf, netijen malah jadi ahli bully. Screenshot status dipasang bersama dengan foto supaya penulis status tak bisa dapat kerjaan di masa depan karena satu tweet.

Kalau Twitter bisa memaafkan Donald Trump berkali-kali sebelum menutup akun Donald, kenapa netijen gak bisa lebih baik lagi. Gak usah bullying orang dan ikut-ikut cancel culture lah. Setiap orang kan belajar dari kesalahan.

Media murahan
Kultur media kita itu kultur clickbaity. Judulnya sensasional, beritanya ngambil dari media sosial, atau bahkan ketika keluarga korban sedang menunggu berita. Media tak memberikan ruangan berduka kepada keluarga, bagi mereka ini semua adalah sumber berita dan tentunya sumber pundi-pundi, walaupun bagi banyak orang berita itu tak layak dan tak beretika.

Salah satu argumen yang diberikan soal pemasukan dari media. Masyarakat tak mau membayar media berkualitas, sementara media harus bertahan hidup. Dalam situasi seperti ini, etika dan penghormatan kepada keluarga korban tak lagi menjadi prioritas. Balik lagi, mereka tak dilihat sebagai manusia yang kehilangan anggota keluarganya, tapi sebagai sumber pundi-pundi yang duka nestapanya harus diumbar kemana-mana.

Salah? jelas tak beretika dan mengesalkan. Sayangnya, berita-berita seperti ini masih juga diminati. Hukum supply dan demand pun jadi berlaku. Selama ada yang baca dan selama hal-hal seperti ini tak diregulasi, pemimpin redaksi mengijinkan, media tersebut tak diboikot, ya akan jalan terus.

Peran Kita

Masih banyak perilaku-perilaku lain yang saya tak bisa tuliskan di sini. Dari mulai selfie di tempat kejadian hingga mengambil video atau foto dengan tubuh korban (ini yang paling sering, apalagi ketika kecelakaan). Demi eksistensi di media sosial, semua dilakukan dengan menjual duka nestapa orang lain. Dan ini tak hanya dilakukan di Indonesia, ada di mana-mana, bahkan di negara yang orang-orangnya dianggap maju seperti di Irlandia (ya kalau di sini bisa dibawa ke pengadilan).

Tiap individu bisa memilih peran yang kita ambil. Ini semua pilihan. Apakah kita mau jadi tukang umbar yang sangat nista, ataukah kita mau jadi orang yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain untuk berduka. Semuanya kembali kepada individu masing-masing.

Tapi bagi saya prinsip, kalau ada teman yang seperti ini harus ditegur, diberitahu, karena kita semua belajar menjadi orang yang lebih baik. Kalau kemudian yang ditegur malah unfollow, ngeblok, nge-restrict, atau jadi defensif dengan banyak alasan ya diterima aja, itu resiko. Syukur-syukur kalau diunfriend. Good riddance. 

Kalian, paling gak suka kelakukan macam apa kalau lagi ada berita bencana atau duka? 

xx,
Ailtje