About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com

Drama Multi Level Marketing (MLM)

Bukan rahasia lagi kalau kita tiba-tiba dikontak oleh teman lama, kita langsung parno sendiri. Seringkali mereka kalau tak pinjam uang, tiba-tiba ngajak bertemu untuk menawarkan peluang bisnis. Bisnis MLM tentunya.

MLM sendiri bukan barang asing bagi saya. Saya sudah mencoba aneka MLM sedari muda, dari yang jualan produk kecantikan, aneka produk “kesehatan” herbal, produk rumah tangga hingga MLM nomor satu di dunia. Selama berinteraksi dengan MLM ataupun orang-orang di MLM, saya menemukan banyak sekali masalah MLM, yang akan saya ulas di bawah.

Produk Mahadewa

Kecap nomor satu, yang lain nomor dua. Jualan MLM itu bagi saya seringkali berlebihan mengumbar kehebatan produk. Ya namanya juga jualan. Ambil contoh pembersih kacamata dari MLM Amerika yang seringkali diperagakan anti uap air panas. Ya kali, kalau beli produk ecek-ecek pun mereka juga anti uap air juga. Beda harga aja dan gak pakai embel-embel MLM nomor satu di dunia.

Soal kehebatan ini, produk MLM plastik juga ngeklaim garansi seumur hidup dan tak akan pernah rusak. Rumah saya dulu penuh dengan produk ini, dan tentunya plastik-plastik ini sukses rusak, tutupnya sobek ketika disentuh. Garansi penggantian tentunya BS semua. Cuma ilusi untuk mengiming-imigni orang membeli pastik yang katanya nomor satu dan mahal.

Yang paling epik adalah produk kesehatan. Seringkali mengklaim bisa menyembuhkan aneka penyakit yang tak bisa disembuhkan. Bahkan bisa mengobati Hepatitis C dan COVID 19. Sumbernya klaim ini bukan jurnal medis tentunya, tapi aneka testimono dari orang-orang yang membaik. Siapa yang tahu membaik karena dokter, doa, obat MLM, atau karena mbah dukun.

Salmonnya kakak?
Image by rjunqueira from Pixabay

Gak cukup ngeklaim aja, tapi ada tambahan mencela suplemen-suplemen dari dokter yang dianggap sampah dan tak berguna. Nah karena banyak orang takut ke dokter (belum lagi cerita dokter jualan obat), kemudian banyak yang memilih berobat alternatif. Target empuk deh untuk produk kesehatan mahadewa yang seringkali harganya selangit.

Jual Mimpi

Namanya manusia, pasti suka bermimpi. Nah MLM menggunakan ini dengan baik. Menjual aneka mimpi, dari mulai iming-iming kerja dari rumah, bisa jalan-jalan ke luar negeri, konferensi di berbagai belahan dunia, dibayarin ini itu, dapat mobil gratis, rumah gratis dan gaji puluhan juta tiap bulan. Caranya gampang, tinggal rekrut-rekrut dan jual produk. Nanti akhir bulan harus kejar poin sesuai target.

Mimpi itu sah-sah, tapi pada saat yang sama juga mesti realistis. Kalau poin gak ketutup, diuber-uber, salah ding, disemangati untuk bisa segera nutup. Kalau poin tak tertutup, nanti uplinenya tak dapat bonus. Berabe nanti sang upline tak jadi konferesi di negara antah-berantah. Gara-gara tekanan ini, bahkan banyak yang kemudian berakhir menumpuk barang di rumah demi menutup poin. Akhirnya mimpi jadi kaya-raya ini berakhir dengan masalah keuangan dan tentunya onggokan barang-barang jawara nomor satu yang tak terjual.

Tak hanya itu, demi mimpi, kemudian ada tekanan untuk melakukan perubahan gaya hidup. Produk yang digunakan “harus” diganti menjadi produk-produk dari MLM yang tak murah.  Biasanya pakai sabun buatan Indonesia, sekarang ganti sabun MLM luar negeri dengan harga tiga kali lipat.  Biasanya minum vitamin C dari apotek, sekarang pakai vitamin yang lebih mahal. Investasi katanya dan sah-sah aja kok. Tapi ya apa perubahan ini terjadi setelah adanya penambahan pendapatan secara signifikan, atau untuk memancing tambahan pendapatan? Kalaupun investasi, harus ada return of investment dong. Gak cuma ngabisin duit doang.

Etika

Ah kalau sudah soal etika ini, saya gak tahu deh harus mulai dari mana. Tapi perlu dicatat, gak semua agen MLM seperti ini. Yang santun, yang baik ada banyak. Salah satu yang cukup mencolok adalah jika ada yang sakit. Mereka yang sakit parah, terkadang dipenghujung hidup, tiba-tiba dijenguk teman lama. Tapi, jenguknya punya motif untuk menawarkan MLM. Alasannya “mau menolong”  yang menderita sakit cukup parah. Hitung-hitung menolong, lalu bisa tutup poin akhir bulan dari hasil penjualan obat mahadewa, dan tentunya memberikan secercah harapan bagi yang sakit.

Tak hanya teman lama, media sosial juga menjadi ajang berburu downline. Baru-baru ini,  saya ujug-ujug dikontak oleh orang tak dikenal di Instagram. Bukan follower, bukan teman, tak pernah ngobrol apapun, tak pakai basa-basi bertanya kabar (lagi pandemik pun gak mau usaha nanya kabar), lalu ia mengenalkan diri untuk menawarkan peluang bisnis internasional. Bah…baru dengar kata bisnis internasional aja saya udah langsung ngeh, pasti MLM. Daripada buang-buang waktu orang, saya langsung bilang, direct selling dan MLM bukan untuk saya.

Bisa diduga buntutnya? ngotot  ingin tahu kenapa, minta ngajak Zoom, lalu menjelaskan dia dulu juga begitu. Ini rasanya udah khas MLM banget, kalau ditolak maju terus karena merasa tertantang. Gak mau dengerin kalau tidak berarti tidak. Bagi saya sih gampang kalau ketemu yang model gini ya cuekin aja. Nah yang ribet kalau yang model begini ini keluarga atau teman dekat, pasti susah nolak keluarga, apalagi ditambah budaya gak enakan. Bubrah sudah hubungan hanya karena MLM.

Selain sosial media, pemburu downline juga merambah ke aplikasi Tinder. Seorang teman diajak bertemu Zoom. Nah ya kalau gini kan bikin GR dan semangat membara mau ketemu cowok, tau-taunya diajak bisnis MLM. Ah ya capek deh kalau gini yang jomblo mana bisa dating dengan nyaman.

MLM di Media

Di Netflix  ada (Un)Well yang mengulas tentang MLM minyak. Coba deh ditonton, ada kesaksian korbannya, baik dari korban keuangan sampai mereka yang menderita alergi dan harus terkena dampak fisik. Di Indonesia sendiri minyak ini cukup populer, kalangan menengah ke atas di Indonesia sekarang hobi beli, oles-oles dan bahkan minum minyak.

Judge Judy sendiri di salah satu sidangnya pernah pernah berkata bahwa MLM adalah skema piramid yang legal. Gak salah memang, skema MLM ini memang tak ubahnya piramid. Yang posisi rendahan bekerja keras supaya posisi upline tak terancam, dapat penghasilan jutaan tiap bulan dan bisa terus konferensi ke berbagai belahan dunia. Mereka yang di bawah juga bisa perlahan-lahan naik, tapi tentunya harus dibarengi dengan jumlah downline yang berfungsi menyokong posisi.

Banyak banget tulisan yang membahas soal ini. Pendeknya, MLM di media seringkali  digambarkan sebagai sebuah hal yang kurang positif.

Penutup

Menjadi bagian dari MLM itu adalah keputusan tiap individu. Satu hal yang penting sebelum memutuskan bergabung adalah melakukan riset terlebih dahulu untuk tahu kejelasan sistem dan produk yang akan dijual. Riset, riset dan riset. Jangan asal tergiur oleh iming-iming sukses, kaya, bisnis internasional, apalagi dari orang tak dikenal yang tak bisa dipercaya.

Yang pasti, ada banyak orang yang sukses membalik persepsinya tentang MLM dan sukses di MLM. Tetapi ada banyak juga yang hancur karena MLM, keuangan hancur, hubungan hancur, bahkan tubuh hancur.

Setelah melihat berbagai MLM, saya menyimpulkan, MLM bukan untuk saya. Jadi, gak usahlah buang-buang waktu nawarin saya beli produk MLM, atau bahkan nawarin saya jadi downline.

xoxo,
Ailtje

Perempuan Pengejar Dunia

Beberapa waktu lalu ada diskusi di salah satu sosial media tentang perempuan bekerja dan informasi mengenai cara membekukan telur yang tak murah tentunya. Salah satu komentar membahas soal biaya yang tinggi. Ini kemudian ditanggapi dengan komen, hanya untuk mereka dengan gaji 2-3 digit yang super sibuk mengejar dunia. Buat saya, komentar sibuk mengejar dunia ini gak enak banget dan bisa diduga, yang komentar perempuan juga. Mungkin gajinya 1 digit? dan yang pasti, ia tak sibuk.

Berat memang jadi perempuan di dunia yang sangat patriarkis ini. Ketika ingin sukses bekerja dan mengaktualisasikan diri, masih saja ada nada-nada miring dari perempuan lain yang tak bisa menghargai dan meghormati pilihan perempuan lain. Mengejar dunia, menghidari kodrat sebagai perempuan, terlalu ambisius dan banyak rentetan komentar lainnya. Sementara bagi pria, bekerja itu sebagai sebuah hal yang normal dan tak perlu dikomentari macam-macam. Risihnya, tuduhan ini justru datang dari perempuan lain. Entah ini karena rasa iri dan dengki, atau memang kapasitas berpikir  sangat terbatas.

Image by Pijon from Pixabay

Kontribusi Pada Masyarakat

Kalau wawancara bekerja seringkali kandidat ditanya, kenapa memilih perusahaan tersebut? Jangan sekali-kali jawab mengejar dunia, material atau karena butuh uang untuk bayar tagihan. Dijamin tak akan bisa diterima di perusahaan tersebut.

Bekerja itu selain soal mendapatkan penghasilan dengan digit setinggi-tingginya, juga soal kontribusi terhadap perubahan di masyarakat. Berkarya di masyarakat. Perubahan ini bisa bermacam-macam, bisa positif dan tentunya bisa negatif. Contoh paling sederhana, kerja jadi tenaga kesehatan, yang seringkali digaji dengan upah rendah dan resiko tinggi,  untuk membantu orang-orang lain supaya sembuh dan sehat. Penghasilan tak seberapa, kerja keras (apalagi di tengah pandemik gini), super sibuk, pulang malam terus.  Berani ngelabeli pengejar dunia? Atau tuduhan ini hanya untuk perempuan pekerja kantoran saja dan mereka dikecualikan?

Belum atau Tak Ingin Kawin

Tak semua perempuan ingin cepet-cepet kawin, ada yang bahkan tak mau kawin sama sekali. Alasannya bermacam-macam, tak siap, belum bertemu pasangan, males ribet dengan pria, tak suka pria, tak tertarik dengan jender apapun, hingga memang karena negara tak mengijinkan perkawinan yang diidamkan.

Fokus diri kemudian bisa berganti pada pekerjaan, membangun usaha, atau sekolah setinggi mungkin.  Salah kalau sudah begini?  Hidup itu pilihan, bisa milih kejar laki-laki, bisa juga milih kejar dunia. Suka-suka mau milih yang mana. Tapi ya jangan reseh juga kalau ada yang capek ngejar laki-laki, karena ngejar karir atau studi itu lebih jelas arahnya.

Mengejar Hidup Setelah Mati

Ini nih argumen yang dipakai banyak orang. Jadi perempuan itu jangan hanya mengejar dunia saja, tapi juga jangan lupa Tuhan dan kehidupan setelah kematian. Pertama, urusan ketuhanan orang itu urusan dapur masing-masing, gak usah kompetifif lah. Yang kedua, kalau maksa kompetitif, jurinya yang berhak memutuskan itu cuma Tuhan.

Lagipula, jadi manusia baik itu juga tak selamanya bisa dilakukan dengan gratisan. Mengunjungi tempat-tempat untuk mendapat pencerahan spiritual itu gak gratis, pakai biaya transportasi. Memberi makan orang kelaparan dan anak-anak yang butuh pendidikan itu juga gak gratis, pakai duit semua. Gaji dua digit, tiga digit tuh bisa dengan mudahnya dihambur-hamburin, kalau mau.

Penutup

Ada banyak alasan perempuan bekerja keras, pintar dan sukses dengan gaji tinggi. Di dunia patriarkis ini, menaiki tangga kesuksesan itu susah banget. Banyak ketemu orang-orang yang tak mendukung dan banyak dicemooh. Belum lagi menjadi perempuan itu sering sekali dituduh emosinal dalam lingkungan pekerjaan.  Jumlah perempuan yang menduduki posisi tinggi itu juga gak banyak, ada kesenjangan gaji juga. Makanya sebagai bagian dari masyarakat, sudah saatnya perempuan yang berjual keras ini tak dianggap melakukan hal yang nista. Sukses itu normal dan perempuan itu juga harus sukses, di area apapun yang mereka pilih. Jangan cuma laki-laki aja yang dipuja-puja sebagai pekerja keras ketika mereka sukses. Perempuan juga harus diperlakukan dengan sama.

Yang di rumah saja menjadi ibu rumah tangga juga tak perlu nyinyir dengan mereka yang memilih bekerja. Menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja itu adalah suatu kemewahan dan pilihan, tak semua orang bisa melakukan hal tersebut. Ini pernah saya tulis di sini enam tahun lalu. Pada saat yang sama, gak bisa maksa juga supaya perempuan lain jadi ibu rumah tangga juga. Dunia juga sudah berubah, perempuan punya pilihan dan berhak memilih mau menjadi ibu rumah tangga ataupun bekerja. 

Permisi, saya mau mengejar dunia dulu!

xoxo,
Ailtje
Selain mengejar dunia juga mengejar anjing setiap hari. 

Cerita Pandemik

Halo dari Irlandia yang untuk kesekian kalinya mengalami lockdown. Rasanya jika saya tak salah mengingat ini lockdown ketiga di level 5 dan ada beberapa lockdown dengan level yang lebih rendah yang saya tak ingat lagi karena sudah terlalu sering. Kendati sudah sejak Maret 2020 saya bekerja dari rumah, pengumuman lockdown masih tetap membuat stres. Apalagi lockdown kali ini seusai Natal dan diperpanjang hingga bulan Maret nanti. Mendadak sunyi senyap setelah gegap gempita musim Natal.

Panic buying
Saya termasuk salah satu orang yang panik tak karuan ketika pengumuman lockdown di bulan Maret. Rasa panik ini muncul karena beberapa tahun lalu ketika badai salju datang di Irlandia saya tak siap dan berakhir tanpa roti, susu (tapi punya banyak beras dan mie).

Jika orang lain panik membeli tisu toilet, saya panik membeli segala macam hal yang saya lihat di supermarket Asia. Spesifik di supermarket Asia saja. Rumah di kampung dan saya sangat takut tak boleh ke supermarket yang lokasinya tak dekat. Begitu ambisiusnya saya, sampai membeli beras ketan untuk membeli lemper. Tentunya tak satu lemperpun yang jadi dan beras ketan sukses saya hibahkan ke tetangga.

Di awal pandemik, saya juga ikut ngantri membeli kebutuhan di supermarket biasa. Saat itu saya antri dengan beberapa kolega kantor yang panik membeli bahan untuk anak-anak mereka. Sementara saya repot membeli air dan bahan makanan untuk makan malam (kami tak pernah membeli banyak makanan, biasanya hanya cukup untuk dua atau tiga hari). Kepanikan itu ternyata tak beralasan, karena supermarket masih terus-menerus buka.

Membuat Roti dan Kue

Saking banyaknya waktu yang saya punya, saya juga ikut membuat aneka roti di musim semi dan musim panas. Saat itu tepung protein tinggi untuk membuat roti tak mudah ditemukan, karena semua orang membuat roti. Saya juga membuat sourdough, tapi tak sukses dan akhirnya harus membunuh sourdough saya.

Akibat hobi baru membuat roti ini, saya dan suami sukses menambah beberapa kilogram ke timbangan. Parahnya, di akhir tahun ini saya menemukan hobi baru, belajar membuat cake. Percobaan pertama dimulai dengan cake pandan chiffon yang tentunya tak mudah hingga marble cake. Sekarang saya beralih membuat kue-kue kering dan lagi-lagi tetangga yang menjadi korban untuk menghabiskan hasil percobaan saya. Oh bless them.

WFH 

Jika harus bekerja dari rumah selamanya, saya tak keberatan. Tak perlu bangun pagi-pagi untuk bergulat dengan kemacetan lalu lintas pagi hari yang persis dengan tol dalam kota di Senin pagi. Zoom meeting setiap saat, dan jantung rasanya berhenti berdetak dan panik luar biasa setiap kali internet di rumah ngambek. Untungnya internet ngambek hanya terjadi dua atau tiga kali. Fiuh….

Jika di awal pandemik saya hanya menumpuk dua buah kursi plastik untuk menjadi meja saya, di akhir tahun saya membuat kantor yang proper demi kesehatan punggung dan kenyamanan. Sekarang, kerja jadi rumah jauh menyenangkan. Parahnya, sejak kerja jadi rumah saja jadi bekerja lebih keras dari biasanya.

Menjaga Kesehatan jiwa

Selama 2020 ini fokus saya ada pada kesehatan jiwa tak hanya jiwa saya, tapi juga orang-orang yang berada satu tim bersama saya. Ini benar-benar jadi fokus utama saya. Saya tak segan memutus hubungan pertemanan yang beracun, membatasi baca berita tentang pandemik dan fokus pada diri sendiri.

Mudah? tentu tidak, apalagi ketika kemudian lockdown kedua datang pada awal musim dingin. Matahari mulai menghilang, kegelapan datang dan kita semua berada dalam isolasi. Tiba-tiba saya menemukan diri bergulat dengan depresi.

Perjuangan melawan depresi bukan hal yang mudah. Tapi satu hal yang pasti, saya menyibukkan diri. Selain baking, saya juga menulis buku harian untuk menuangkan perasaan saya. Rasanya kayak anak remaja lagi, memegang pulpen dan jurnal. Tak ada rahasia perasaan pada gebetan tentunya. Apalagi cerita ketika tak sengaja ketemu di samping telepon umum. #Eh.

Jalan kaki untuk meningkatkan detak jantung juga jadi satu hal yang selalu saya coba lakukan. Untungnya ya di Irlandia ini, hujan, angin, bersalju pun kita masih bisa jalan untuk mencari udara segar. Ketika bersalju saya bahkan keluar rumah tiga kali untuk jalan kaki. Entah mengapa udaranya jauh lebih menyenangkan.

Berbicara dengan terapis juga jadi satu hal yang saya lakukan. Mencari bantuan untuk menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah hal yang perlu diberi stigma atau dilabeli. Tapi saya tak menutup mata, masih banyak yang tak mengerti dan berusaha memahami kesehatan mental ini. I am not going to lie, saya pun baru benar-benar ngeh, ketika orang-orang terdekat dan saya sendiri mengalaminya.

Orang-orang berkata bahwa saat pandemik belajarlah satu hal yang baru. Buat saya, anjuran ini tak berlaku, saat pandemik, lakukan apa saja yang bisa menjaga kesehatan jiwa. Apa saja, selama tak menyakiti orang lain dan tak melanggar aturan. Termasuk, membeli dan memakai tracksuit* demi kenyamanan di dalam rumah. Anything for my sanity!


Apa kabar kalian? sehatkah?

 

xoxo,
Ailtje

PS: *menggunakan tracksuit itu identik dengan tak berkelas.

Dear Pedagang Makanan

Jadi pedagang makanan itu saya bayangkan tidaklah mudah. Apalagi jika menjadi pedagang yang harus berjuang sendirian seperti abang tukang bakso Malang. Pagi-pagi harus pergi ke pasar untuk mendapatkan daging dan tulang terbaik, membuat bakso, gorengan, lontong, mie, menggoreng tahu, mengisi tahu lalu sorenya harus berkeliling menjual dagangan.

Memasak sendiri bukanlah hal yang mudah. Cukup melelahkan, apalagi masakan Indonesia yang mengenal aneka rupa bumbu-bumbu masakan. Kendati berat, banyak orang yang menjual makanan, selain hobi, tambahan ekstra uang juga untuk membantu mereka yang tak bisa memasak.

Roti Manis, hasil karya saya sendiri

Jual makanan itu tak hanya soal mencocokkan selera, tapi juga soal kepercayaan. Menjaga kepercayaan konsumen supaya tak ternoda dengan banyak hal. Nah, saya menemukan  banyak hal yang kemudian bikin gemas sama ulah oknum pedagang yang sering menodai kepercayaan pembeli.

Foto Palsu

Konsumen itu harus terus-menerus dipancing untuk mau membeli makanan, supaya pundi-pundi pedagang terus mengalir. Di jaman media sosial begini, memasang foto hasil makanan adalah salah satu strateginya. Konsumen melihat foto-foto cantik, membaca testimoni, lalu mereka ingin membeli.

Pedagang yang baik itu akan menginvestasikan waktunya untuk mengambil foto yang menggugah selera. Jaman sekarang tak terlalu susah, cukup dengan handphone, mengatur komposisi dan pencahayaan. Beres. Biarpun “mudah”, masih ada saja pedagang yang tak beretika dan mengambil foto dari internet atau media sosial lainnya, seperti Instagram. Setelah itu, mereka mengklaim makanan tersebut hasil karya sendiri.

Bodohnya, pedagang ini tak tahu (atau mungkin pura-pura tak tahu), bahwa mengecek foto-foto hasil colongan itu sangat mudah. Tinggal unduh foto yang dipasang, lalu unggah ke Google Image untuk dicari. Reputasi hancur ketika hal-hal remeh seperti ini ketahuan, apalagi kalau masakan yang dijual tak spektakuler foto-foto di media sosial. Foto boleh nyolong dan terlihat spektakuler, tapi rasa gak bisa nyolong dari mana-mana.

Tumpeng, hasil karya berdua dengan teman

Konsistensi rasa & kualitas masakan

Jual makanan itu juga soal menjaga konsistensi. Kuaitas jangan dikurang-kurangi. Hari ini pakai ayam kampung nan segar, besok pakai ayam tiren. Hari ini bumbunya satu kilo, besok setengah kilo. Semua demi profit yang lebih tinggi. Ini khas banget, banyak yang melakukan, apalagi bisnis baru yang populer dalam sekejap.

Lalu, tukang masak bergantian, hari ini dimasak sendiri, besok nyuruh orang lain untuk masak. Rasanya ya gak akan konsisten. Syukur-syukur kalau konsisten menjadi lebih enak, kalau konsisten semakin hancur pembeli kabur. Tirulah banyak tempat berjualan makanan yang tukang masaknya dia lagi dia lagi. Kalau kemudian yang masak sakit, atau meninggal, bubrah sudah.

Ganti-ganti rasa itu cuma boleh pada satu hal: untuk menyempurnakan rasa supaya lebih enak. Ini hanya boleh dilakukan pada saat tahan percobaan, di awal-awal ketika akan membuka usaha. Pedagang yang baik biasanya memberikan contoh gratis untuk meminta masukan.

Jualan makanan juga harus jaga kualitas. Makanan yang dijual harus layak disajikan dan harus layak dimakan. Jangan sampai makanan gosong, hitam lalu dibungkus rapi terlihat cantik. Atau makanan salah mengolah, masih belum matang sempurna, atau malah terlalu matang hingga seperti karet. Dalam situasi seperti ini pedagang yang beretika harus berani mengambil langkah untuk mengganti. Demi kepercayaan pembeli.

Harga Naik

Satu lagi penyakit dari sebagian kecil pedagang makanan yang baru berjualan. Baru seumur jagung menjual makanan, tiba-tiba menaikkan harga. Bahan pangan naik katanya. Kocaknya, harga lombok dan pangan lainnya sangat stabil, bulan puasa dan lebaran masih jauh dan hasil panen para petani sukses. Entah dari mana harga naik?

Dagangan memang untuk profit, makanya harus diperhitungkan dengan baik supaya tak rugi. Tapi ketika tak memperhitungkan harga jual dengan baik dan benar, pelangganlah yang akan menjadi korban. Mereka akan merasa tak nyaman ketika mendadak harga naik.

Etika Mengecek Kompetitor

Riset mencari tahu selera pasar itu wajib. Tapi kalau mencari tahu itu juga harus etis dan elok. Gak tiba-tiba mencari pedagang yang sudah berdagang sejak lama, lalu menanyakan serentetan pertanyaan kepada pedagang sebelah, macam petugas keamanan menginterogasi. Kelanjutannya bisa ditebak, besoknya buka lapak, harga lebih murah untuk memukul pedagang lama dan mengambil pelanggannya, lalu parahnya pura-pura tak kenal pedagang lama. Sukur-sukur kalau tak pakai menghancurkan reputasi pedagang lama dengan gosip murahan macam tuduhan tukang tahu bakso sebelah pakai celana dalam di dalam pancinya.

Dunia perdagangan itu kecil, people talk. Termasuk soal persaingan perdagangan yang kadang suka kejam. Kirim santet untuk membuat dagangan lapak sebelah bau, bukanlah satu yang aneh.

Penutup

Di luar Indonesia banyak juga orang yang berdagang. Komunitas Indonesia yang kecil membuat banyak informasi tentang pedagang-pedagang tak etis cepat tersebar. Calon pembeli biasanya sudah mundur teratur, lalu lari sekencang-kencangnya ketika tahu kalau sang pedagang bisa bikin hidup gak tentram.

Ada kecenderungan orang untuk memilih pedagang yang tak hanya menjual makanan yang enak, tanpa drama macam-macam, beretika dan bisa dipercaya. Sekali kepercayaan ternoda, pembeli bubar dan tak akan beli lagi. Word of mouth sendiri juga masih akan sangat kuat. Satu pembeli dilukai, dijamin ceritanya akan kemana-mana. Kalau sudah seperti ini, bisnis modyaaaaar.


Punya cerita soal dunia dagang?

xx,
Ailtje
Tidak menjual makanan

Cita-Cita: Kepengen Kaya

Ah siapa sih yang tak ingin kaya, duduk-duduk di rumah saja, makan, tidur, makan, tidur tak perlu kerja. Jalan-jalan ujung dunia manapun, kapan saja, tanpa perlu cemas dengan cuti yang terbatas, atau harga tiket kelas ekonomi yang tak kunjung didiskon jua. Semua orang mungkin ingin kaya, walaupun definisi kaya dari satu orang dengan orang yang lainnya tak sama.

Pada saat yang sama, ada sebagian orang yang mati-matian ingin membuktikan bahwa diri mereka masuk golongan kaya raya. Apapun dilakukan demi ingin menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari tuan dan nyonya kaya raya yang tak perlu perlu menunggu further sale fast fashion murah meriah hingga 70% dan cemas mencari ukuran pakaian yang diinginkan. Pendeknya, masyarakat harus tahu bahwa mereka orang yang berada, seakan-akan rasa percaya diri mereka baru muncul setelah ada pengakuan dari orang lain.

Soal Gaji & Tabungan

Pembuktian menjadi kelompok kaya ini seringkali dibuktikan dengan memamerkan jumlah uang yang mereka punya. Yang berulang kali saya lihat memamerkan upah minimum di luar negeri (tak ada yang salah dengan mendapatkan upah minimum), lalu memegang kalkulator dan menghitung berapa jumlah penghasilan tersebut dalam rupiah. Tentunya bagi sebagian orang di Indonesia terlihat wow. Bagi mereka yang menunjukkan gaji ini tentunya penting untuk memposisikan diri sebagai orang yang berpenghasilan wow, walaupun realitasnya penghasilan tersebut ya hanya cukup untuk kebutuhan hidup minimum. Woooow…..

Tak cukup di situ, penghasilan pasangan pun harus ikut ditunjukkan pada dunia selayaknya menunjukkan tropi jawara main catur di RT dan mengukuhkan posisi sebagai anggota kelompok sosial horang kaya. “Suamiku dong gajinya sekian puluh ribu Euro setiap bulan”. Gak usah dihitung ke dalam rupiah, karena kalkulatornya mungkin tak cukup. Yang penting wow, semua orang terpukau.

Tak cukup dengan gaji, jumlah tabungan di rekening pun harus diumumkan  kemana-mana. “Kalau 30,000 aja di tabungan adalah aku”. Yang lain yang tak mau kalah ikut mengatakan  bahwa suami punya tabungan sebanyak 100,000 Euro. Ini baru pertama babak kompetisi isi tabungan.

Barang bermerek

Semua barang tentunya ada mereknya, bahkan yang KW sekalipun pasti ada mereknya, walaupun mungkin mereknya dari Fendi jadi Effendi. Menunjukkan barang bermerek ini seringkali dimaksudkan untuk menunjukkan posisi bahwa kebutuhan pokok dan sekunder terpenuhi. Dengan adanya media sosial pun melakukannya sangat sangat mudah.

Barang bermerek sendiri pun ada bermacam-macam, dari yang low-end, mid-end hingga high-brand. Bahkan ada yang edisi terbatas dan biasanya hanya diberikan pada VIC, very important client. Pendeknya, di atas semua merek, masih ada merek yang lainnya. 

Berlian minjam, demi koleksi foto barang mewah di blog.

Barang bermerek ini kemudian menjadi pendukung untuk memperkuat posisi sebagai horang kaya yang tentunya perlu dihormati dan membuat orang lain terpukau. Tentunya banyak yang terpukau melihat kemampuan membeli barang tersier tersebut, karena tak bisa dipungkiri di sekitaran kita masih banyak yang memposisikan orang lain berdasarkan kemampuan ekonominya.

Demi posisi ini pula, banyak yang tak segan menunjukkan barang-barang palsu (bahkan memberi hadiah palsu).Sekalipun di luar negeri, barang KW itu ada banyak sodara-sodara. Dari kejauhan atau dari postingan di sosial media pun banyak orang yang mata tajamnya langsung cepat menangkap barang-barang KW. Harap maklum, kekayaannya mungkin memang KW.

Penutup

Pada akhirnya, kita semua senang bermimpi. Tak ada salahnya bermimpi menjadi kaya raya, dibarengi dengan usaha tentunya dan kembali ke realitas. Yang salah tentunya jika membohongi diri-sendiri demi mati-matian menunjukkan identitas diri sebagai orang kaya atau bahkan sudah “sukses di luar negeri”.

Di banyak kasus seperti ini, akhirnya malah jadi olok-olokan dan bahan tertawaan. Usaha menunjukkan status menjadi orang kaya ditertawakan orang lain, karena hebohnya setengah mati, dari selonjoran di depan mobil bekas tua, mengembalikan barang setelah unboxing hingga mengembalikan pakaian dari fast fashion yang harganya recehan.

Penipuan terhadap para followers di media sosial, tapi yang lebih parah tentunya menipu diri sendiri. What do you get, really? Demi bisa dihormati oleh orang lain. Penghormatan itu didapatkan dari bagaimana kita membawa diri dan bukan dari banyaknya tabungan suami, atau posisi sebagai horang kaya.

Pepatah bilang, di atas langit, masih ada Hotman Paris.  Jadi gak usahlah mati-matian membohongi diri sendiri demi ingin dianggap kaya raya. Orang-orang tahu lah siapa yang bener-bener kaya dan siapa yang menipu diri sendiri.
xoxo,
Ailtje
Bukan orang kaya

Etika di Seputar Bencana

Beberapa hari ini pengguna internet di Indonesia ramai dengan diskusi mengenai hilangnya salah satu maskapai. Beberapa pengguna media sosial juga marah, marah dengan etika jurnalisme yang tak berkemanusian, dengan model bisnis jurnalisme yang menjual kesedihan orang lain, hingga pada perilaku pengguna media sosial yang bikin emosi jiwa.

Emosi ini tumpah ruah ke media sosial, beberapa dengan terbuka pasang status, sementara beberapa yang lain hanya berkomentar melalui DM. Yang marah-marah bahkan tak enggan akan memblok teman-teman di media sosial yang dianggap kurang beradab. Saya termasuk salah satu orang yang tak segan menegur.

Tangkapan Layar (Screenshot)

Hayo siapa yang ngambil screenshot sosial media dari para penumpang (termasuk penumpang di bawah umur) lalu menyebarkan kemana-mana? Modusnya nyebarin macam-macam, dari berdoalah, quote status terakhir, postingan terakhir, foto-foto prewed dari penumpang, sampai nyambung-nyambungin postingan sama firasat.

Bahkan ada yang mengatasnamakan sahabat lalu mengumbar foto-foto mereka. Halah, ngaku sahabat tapi kok kok kelakuan begitu. Ngambilnya pun gak pakai permisi-permisi, alasannya ditemukan di internet. tujuannya tak jelas pula? Mengutarakan duka bukan alasan yang tepat, karena tak perlu mengumbar cerita duka mereka.

Jejak online para penumpang ini tadinya hanya terbatas di media sosial mereka, bahkan ada yang hanya bisa dilihat 24 jam. Keluarga mereka pun, jika menghendaki, masih bisa menghapus jejam digital mereka di internet.  Sekarang, kalau keluarganya mau cek, jejak ini ada dimana-mana. Proses berduka bagi mereka pun tak akan mudah, dan kalian membuatnya semakin sulit dengan tak menghormati privacy mereka.

Mulut pedas, karetnya lima

Mengalami musibah itu bukan kutukan, bukan berarti tak dilindungi oleh Tuhan juga. Di saat seperti ini ada baiknya mulut dijaga dan mikir seribu kali kalau mau nulis status.
Mengatakan  “Masih dilindungi Tuhan”, lha emang Tuhan eklusif punya yang hidup doang? Yang mengalami kecelakan terus tak dilindungi Tuhan?  

Tak cuma soal komentar-komentar yang kadang diceploskan tanpa dipikir, tapi juga soal guyonan. Guyonan tak mengenakkan tersebar dimana-mana, apalagi di Twitter. Parahnya, ketika sang penulis mengaku bersalah dan meminta maaf, netijen malah jadi ahli bully. Screenshot status dipasang bersama dengan foto supaya penulis status tak bisa dapat kerjaan di masa depan karena satu tweet.

Kalau Twitter bisa memaafkan Donald Trump berkali-kali sebelum menutup akun Donald, kenapa netijen gak bisa lebih baik lagi. Gak usah bullying orang dan ikut-ikut cancel culture lah. Setiap orang kan belajar dari kesalahan.

Media murahan
Kultur media kita itu kultur clickbaity. Judulnya sensasional, beritanya ngambil dari media sosial, atau bahkan ketika keluarga korban sedang menunggu berita. Media tak memberikan ruangan berduka kepada keluarga, bagi mereka ini semua adalah sumber berita dan tentunya sumber pundi-pundi, walaupun bagi banyak orang berita itu tak layak dan tak beretika.

Salah satu argumen yang diberikan soal pemasukan dari media. Masyarakat tak mau membayar media berkualitas, sementara media harus bertahan hidup. Dalam situasi seperti ini, etika dan penghormatan kepada keluarga korban tak lagi menjadi prioritas. Balik lagi, mereka tak dilihat sebagai manusia yang kehilangan anggota keluarganya, tapi sebagai sumber pundi-pundi yang duka nestapanya harus diumbar kemana-mana.

Salah? jelas tak beretika dan mengesalkan. Sayangnya, berita-berita seperti ini masih juga diminati. Hukum supply dan demand pun jadi berlaku. Selama ada yang baca dan selama hal-hal seperti ini tak diregulasi, pemimpin redaksi mengijinkan, media tersebut tak diboikot, ya akan jalan terus.

Peran Kita

Masih banyak perilaku-perilaku lain yang saya tak bisa tuliskan di sini. Dari mulai selfie di tempat kejadian hingga mengambil video atau foto dengan tubuh korban (ini yang paling sering, apalagi ketika kecelakaan). Demi eksistensi di media sosial, semua dilakukan dengan menjual duka nestapa orang lain. Dan ini tak hanya dilakukan di Indonesia, ada di mana-mana, bahkan di negara yang orang-orangnya dianggap maju seperti di Irlandia (ya kalau di sini bisa dibawa ke pengadilan).

Tiap individu bisa memilih peran yang kita ambil. Ini semua pilihan. Apakah kita mau jadi tukang umbar yang sangat nista, ataukah kita mau jadi orang yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain untuk berduka. Semuanya kembali kepada individu masing-masing.

Tapi bagi saya prinsip, kalau ada teman yang seperti ini harus ditegur, diberitahu, karena kita semua belajar menjadi orang yang lebih baik. Kalau kemudian yang ditegur malah unfollow, ngeblok, nge-restrict, atau jadi defensif dengan banyak alasan ya diterima aja, itu resiko. Syukur-syukur kalau diunfriend. Good riddance. 

Kalian, paling gak suka kelakukan macam apa kalau lagi ada berita bencana atau duka? 

xx,
Ailtje

 

Tata Krama Bertemu Orang

Sebagai orang Indonesia di luar negeri yang baru datang ke negeri asing, seringkali timbul rasa rindu untuk berkumpul dan sekedar ngobrol-ngobrol dengan sesama orang Indonesia. Selain untuk melepas rindu pada tanah air, juga untuk bisa bebas berbicara dalam bahasa ibu lagi. Setidaknya, dengan bertemu dengan saudara sebangsa, rasa rindu terhadap tanah air bisa sedikit terobati.

Sama seperti di Indonesia, ada tata krama tertentu yang harus kita ikuti. Beberapa yang saya ingat, saya rangkum di bawah.

Tanya kabar

Lebih dari satu dekade lalu ketika saya pulang kampung ke Malang (ketika itu saya masih bekerja di Jakarta), di sebuah parkiran mall saya bertemu dengan teman sekolah yang tanpa ba bi bu langsung bertanya “anakmu sudah berapa?”. Saya terhenyak menerima pertanyaan dari orang yang tak dekat dengan saya, tapi juga dengan tata kramanya.

Penting bagi kita untuk bertanya tentang kabar dulu, bukan hanya penting, tapi wajib untuk menanyakan kabar orang yang kita temui. Pertanyaan pembuka ini sangat  powerful untuk mengetahui bagaimana kondisi orang yang kalian temui. Beberapa orang yang mungkin bergulat dengan berbagai masalah bisa ambrol pertahanannya ketika ditanya kabarnya dan akan bercerita tetang pergulatan mereka. Pertanyaan kabar bukanlah sebuah pertanyaan basa-basi dan pertanyaan ini harus ditujukan kepada siapaun yang kita temui.

Buah tangan

Jika diundang datang ke rumah orang yang kalian baru kenal, bawalah buah tangan. Sebuket bunga, panganan (biasanya cake) atau mungkin sebotol minuman. Tak perlu membawa alkohol jika memang tak menyetujui alkohol, bisa membawa botol jus ataupun minuman soda tapi setidaknya tak datang dengan tangan kosong. Pastikan juga makanan yang dibawa merupakan makanan yang bisa kalian makan, karena seringkali makanan ini kemudian akan disajikan kembali dan dimakan bersama-sama.

Jangan bawa tangan kosong, kecuali jika kalian kenal baik dengan sang pengundang dan sang pengundang memang menyatakan tak perlu membawa apa-apa. Seringkali ada tuan rumah yang basa-basi tak perlu membawa apa-apa, tapi sesungguhnya ngarep sesuatu. Kalau ketemu host seperti ini, repot tak karuan, apalagi kalau kemudian ia berhitung-hitung. Berapa ongkos makanan yang kalian bawa dan berapa ongkos yang ia keluarkan untuk hosting, lalu ketika angkanya tak sesuai kemauan hati, ribut ngomong kemana-mana. Nah kalau ketemu yang kayak gini, mendingan ngedekem di rumah aja deh.

Tepat waktu 

Di Jakarta dulu kalau janjian jam 12, maka jam 12 baru jalan. Di tengah jalan nanti pasti akan saling berkirim pesan, mengatakan terlambat karena macet luar biasa. Pun kalau berangkat lebih awal, seringkali kemacetan menghadang. Keterlambatan menjadi satu hal yang sangat ditolerir karena kondisi jalanan Jakarta yang memang tak ramah.

Di Irlandia, orang-orangnya tak setepat waktu negara-negara lain di daratan Eropa. Pukul enam bisa molor sedikit, sedikit tentunya. Tapi juga bukan berarti janjian bertemu pukul enam baru muncul pukul 8, kalau ini sih namanya tak elok dan tak tahu diri.

Kalau kemudian terlambat, penting juga untuk memberi informasi akan terlambat dan berikan estimasi waktu pukul berapa akan tiba. Mengapa begitu? supaya setidaknya tuan rumah tak cemas dan bisa melakukan hal lain sambil menunggu. Jangan salah, ada banyak orang yang tak tahu etika dasar untuk mengirimkam update jika akan terlambat. Padahal tak semua host itu punya waktu seharian untuk menunggu tamunya.

Ngobrol

Kalau sudah bertamu ke rumah orang, jadilah tamu yang sopan dan baik. Ngobrol dengan tuan rumah dan jangan sibuk mainan handphone melulu. Saya sendiri pernah dapat tamu model begini, datang untuk makan, setelah makan yang lain ngobrol-ngobrol, si tamu repot sendiri dengan handphonenya. Oh please deh.

Pun kalau ngobrol, jangan hanya ngobrol dengan mereka yang berbahasa Indonesia. Ngobrollah dengan semua orang, termasuk para bapak-bapak. Konsekuensinya tentu harus ngobrol dengan bahasa Inggris (ataupun bahasa lain tergantung tempat tinggal kalian). Jangan jadi bagian dari stereotype, perempuan ngobrol di dapur dengan perempuan lainnya, sementara bapak-bapak ngobrol di ruang tamu dengan dengan bapak-bapak.

Pada saat yang sama, jika ada tamu lain yang tak bisa berbahasa Indonesia, jangan terus-menerus ngobrol dalam bahasa Indonesia dan tak melibatkan orang tersebut. Tak sopan, apalagi kalau terus-menerus tertawa bercanda, sementara tamu di sebelah tak tahu mesti harus bagaimana.

Penutup

Pada saat diminta bungkus-bungkus, pastikan tuan rumah benar-benar niat untuk melakukan hal tersebut. Seperti saya tulis di atas, ada tuan rumah yang hanya basa-basi dan sangat perhitungan. Kalau ketemu yang model gini, gak usah bungkus apa-apa, langsung pamit pulang aja.

Pada saat yang sama kalau ditawarin membungkus juga tahu diri. Suka makanan yang disajikan bukan berarti otomatis boleh makan sepuas-puasnya, lalu bungkus semuanya. Ingat sama si tuan rumah, juga tetamu lain.

Terakhir, kalau memang tak mau diundang, sebaiknya tak perlu datang. Saya pernah ketemu tamu yang begitu keluar dari rumah menghela napas panjang dan keras (di depan saya) seakan tersiksa selama diundang makan di rumah saya. Ooops…nggak lagi deh undang-undang.

Ada tambahan lain lagi mungkin?

xoxo,
Ailtje

Mitos Tinggal di Luar Negeri

Selama lockdown ini, saya banyak mendapatkan tautan-tautan dari Youtube yang berisi video-video tentang kehidupan di luar negeri. Beberapa video yang dikirimkan, memiliki garis besar yang sama: menjual mimpi indah tinggal di luar negeri. Sebuah hal yang lumrah, karena pada dasarnya, kita semua suka bermimpi.

Untuk menyeimbangkan mimpi-mimpi ini, saya ingin membawa kembali ke realitas. Bukan apa-apa, selama seumur jagung di sini, saya melihat banyak orang yang ribut diberbagai media sosial atau ketika kumpul-kumpul untuk mengumbar kekecewaan mereka, ketika mimpi mereka tak seindah realitas.

Generalisasi: pasangan romantis

Bagi mereka yang mendambakan pasangan romantis, ada harapan tinggi ketika mereka diiming-imingi dengan ide bahwa para orang asing (baca: bule) adalah orang-orang yang romantis, seperti film-film Hollywood yang tak hanya suka berkata manis tapi juga tak henti-hentinya memberikan hadiah pada pasangannya.

Faktanya,  pria-pria dari Indonesia ataupun dari berbagai belahan dunia lain, tak bisa disamaratakan. Yang romantis ada, yang tak peduli setengah mati juga banyak. Ada yang rela makan nasi dan telur dadar demi menabung berbulan-bulan untuk hadiah mewah, ada yang suka memberi bunga, ada pula yang tak suka memberi hadiah tapi menunjukkan tindakan yang dianggap romantis. Yang cuek bebek juga banyak.

Image by Free-Photos from Pixabay

Setiap individu dibesarkan dengan cara dan nilai yang berbeda-beda, tak peduli rasnya apa. Keluh kesah tentang keromantisan yang sering saya dengar ini sebenarnya bisa diantisipasi, ketika pacaran. Cari tahu dulu karakter pacarnya seperti apa, apakah cuek bebek atau romantis? Kalau memang tak cocok karena kurang romantis, kenapa gak cari yang lain aja? Thank you, next please! 

Mitos: Orang asing selalu kaya

Nah kalau yang ini sih panjang.

Definisi kaya bagi satu orang ke orang yang lain itu tak pernah sama. Tapi ada pengharapan bahwa mengawini orang asing berarti bermandikan pundi-pundi uang asing, bisa membeli apa saja dengan mudah, bisa mengirim uang ke keluarga di kampung atau bahkan seluruh orang di kampung, membangunkan rumah gedong bagi keluarga, menyekolahkan semua anggota keluarga dan kalau perlu membawa keluarga jalan-jalan keliing dunia dan melihat rumah Tuhan.

Tunggu dulu, mari kita kembali ke realitas. Seperti di banyak tempat, di berbagai belahan dunia ada orang dengan penghasilan minim, cukup, hingga berlebih. Dalam kelas sosiologi ini dibagi menjadi lapisan masyarakat kelas bawah, menengah atau atas. Penghasilannya berbeda-beda, daya belinya juga berbeda-beda.

Keinginan untuk memiliki pasangan yang kaya-raya itu wajar, tapi kalau memang tujuannya cari yang kaya raya, seleksinya mbok ya yang bener. Ketika masih berpacaran, riset dengan baik dan benar, cari tahu berapa penghasilannya, berapa biaya hidup di negeri tersebut, berapa pajak yang dibayarkan. Jadi ketahuan berapa sisa uang yang bisa dihambur-hamburkan. Ketika tahu pasangan bergaji mata uang asing juga jangan dirupiahkan dulu, karena PASTI terlihat wow. Padahal realitasnya, beras dan tempe di luar Indonesia tak dijual dengan harga rupiah, harganya berkali lipat dari di tanah air.

Jangan sampai cita-cita pengen jadi istri orang kaya pupus  karena ketidakbisaan untuk menyeleksi. Sampai di negeri asing kaget karena hanya diberi uang saku yang minim dari pasangan, sehingga tak cukup untuk membeli tas untuk dipamerkan di media sosial. Kalau sudah tahu pasangannya memang tak berpenghasilan banyak juga gak usah ngomel kemana-mana (I’ve heard this too many times), mengatakan pasangannya pelit, kejam dan parahnya tak bertanggung jawab. Woi….yang kejam siapa? penghasilan hanya cukup untuk memberi uang jajan 100 Euro per bulan, ya mana bisa beli berlian tiap bulan. Perlu dicatat di sini banyak orang-orang yang sederhana ya, yang bahagia selama semua kebutuhan tercukupi dan tak bermimpi muluk-muluk.

Mitos: Dapat duit gratis di luar negeri

Image by Pijon from Pixabay

Salah satu hal yang seringkali diumbar dan membuat orang menjadi sangat terpana, hingga memunculkan asumsi bahwa mereka yang tinggal di luar negeri itu selalu enak adalah soal mata uang asing yang jika dirupiahkan terlihat wow. Lembaran uang-uang ini kemudian dipamerkan lengkap dengan kalkulator untuk menghitung berapa banyak pundi-pundi tersebut, termasuk ketika dana tersebut didapatkan dari pemerintah yang dijual sebagai “dana gratis dari pemerintah gaes“.

Faktanya, tidak ada yang cuma-cuma, baik di luar (maupun di Indonesia). Ada berbagai tunjangan yang diberikan bagi mereka yang tidak mampu ataupun berpenghasilan rendah. Tunjangan ini bersumber dari para pembayar pajak yang setiap harinya harus bekerja dan berkontribusi hingga 50% penghasilan mereka setiap bulan (beda negara beda tarif pajak ya). Dana pajak tersebut digunakan untuk memberi tunjangan mereka yang mencari kerja, memiliki disabilitas, hingga untuk biaya sewa rumah bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Makanya kalau kemudian ada yang pamer karena dapat uang beberapa ratus Euro, para pembayar pajak biasanya cuma nyengir sinis. Uang-uang tersebut dari keringat para pembayar pajak untuk mereka yang memang dianggap kurang mampu. Kita kerja keras tiap hari, mereka pamer-pamer karena menadah duit bantuan. Selain untuk mereka yang kurang mampu, ada tunjangan yang diberikan untuk mereka yang punya anak, fungsinya untuk memastikan anak-anak kebutuhannya tercukupi. Tunjangan ini untuk semua orang tanpa memandang berapa penghasilannya.

Jadi kesimpuannya, tak ada duit gratisan di luar negeri, kalau ada yang pamer dapat dana dari pemerintah, tanya kenapa mereka dapat bantuan langsung tunai, kurang mampu sehingga harus dibantu pembayar pajakkah atau itu uang yang seharunya untuk memenuhi gizi anaknya? 

Penutup

Bagi mereka yang bermimpi untuk mendapatkan pasangan asing (for whatever reason), penting untuk melihat dua sisi, ada yang indah dan tentunya ada tantangan-tantangan tertentu. Samalah seperti di Indonesia, tapi tentunya tantangan di luar jauh berbeda, ada cuaca, homesick, beda budaya hingga beda cuaca. Yang jelas, semua yang diumbar di media sosial itu tak selalu adem ayem dan indah. Jadi jangan lupa untuk menjadi realistis.

Mimpi-mimpi hidup seperti di tivi yang tak tercapai ketika mengikat janji itu tak perlu ditambah dengan kecemburuan sosial. Makan hati dan lelah jiwa nanti kalau terus-menerus tak terima ketika melihat rumput tetangga lebih hijau. Padahal siapa yang tahu kalau rumput-rumput tersebut adalah rumput plastik. Terlihat hijau dan indah, tapi KW.

Selamat berakhir pekan dan selamat liburan!

xoxo,
Ailtje

Kekerasan Rumah Tangga

Anggapan menikahi orang asing itu SELALU menyenangkan tak bisa begitu saja dihapus dari pikiran banyak masyarakat kita. Ya mungkin karena dari jaman baheula kita sudah melihat bagaimana para Nyai hidupnya terlihat lebih enak dari kebanyakan orang. Terlihat lho ya. Akibatnya, banyak ilusi bahwa semuanya akan indah-indah saja, tanpa masalah dan tanpa tantangan sama sekali.

Image by Sammy-Williams from Pixabay

Hal ini kemudian disempurnakan dengan glorifikasi keindahan perkawinan campur. Tengoklah di Youtube sana. Perkawinan dengan WNA kemudian dianggap sebuah hal yang indah, sempurna dan lebih baik daripada perkawinan lainnya. Padahal, seperti perkawinan pada umumnya, perkawinan itu seringkali bertemu dengan kerikil, atau dalam postingan ini badai besar.

Satu hal yang seringkali menjadi bahan perbincangan, dan sumber keprihatinan bagi kami yang tinggal di luar negeri adalah kekerasan rumah tangga dalam perkawinan campur. Kekerasan ini berlaku bagi dua belah pihak, tak mengenal jender, baik itu kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Ada banyak model kekerasan yang tak disadari sebagai kekerasan, dan kami-kami yang berada di luar perkawinan tersebut, seringkali hanya bisa mengelus dada karena prihatin.

Kekerasan Fisik

Kekerasan yang paling mudah dilihat tentunya kekerasan fisik, buktinya paling mencolok, tapi seringkali disembunyikan, karena korbannya, entah malu atau mungkin terlalu sayang pada pasangannya. Dalam kepala saya masih kuat bayangan seorang kenalan perempuan yang matanya membiru, pastinya kena tonjok. Bekas tonjokan itu disembunyikan di bawah topi. Kekerasan fisik tak hanya soal “tonjok-menonjok”, bisa beraneka rupa, bahkan menyebabkan kematian.

Kontrol Berat Badan dan Makanan

Kekerasan psikis sendiri tak kalah menyayat dari kekerasan fisik, apalagi kalau sudah berkaitan dengan kontrol. Salah satu pengontrolan yang saya lain adalah berat badan.  Pelakunya pun tak segan merisak kondisi berat badan pasangan di depan orang-orang lain. Memanggil pasangannya gendut, hingga mengolok-olok ukuran bagian tubuh tertentu karena dianggap terlalu besar. Keterbukaan ini seringkali membuat orang lain yang melihatnya jengah dan tak nyaman.

Pada kondisi yang ekstrem pasangan bahkan disuruh naik ke atas timbangan untuk dicek berat badannya secara berkala. Obsesi terhadap berat badan ini kemudian dibarengi dengan kontrol asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Seringkali porsi makanan Indonesia harus dikurangi, atau bahkan tak boleh sama sekali karena dianggap tak sehat. Terlalu berlemak, karena gorengan atau karena penggunaan santan.

Larangan ini juga karena bau yang timbul akibat hobi goreng-menggoreng (ini belum goreng terasi ya), baru level goreng tempe, kerupuk atau tahu.  Alasan kesehatan seringkali digunakan, tapi tentunya dengan standar ganda. Hanya berlaku pada pasangan yang dikontrol, tapi tidak pada diri sendiri. Sang pengontrol bebas makan dan minum apa saja. Dampaknya, pasangan yang dikontrol secara perlahan tapi pasti, kepercayaan dirinya menurun.

Kontrol keuangan & aktualisasi diri 

Namanya juga tukang kontrol, apa saya yang bisa dikontrol akan dikontrol. Salah satunya akses keuangan. Pasangan tak diperkenankan untuk bekerja, alasannya beraneka rupa. Di beberapa kasus yang saya tahu, pelarangan bekerja ini supaya tax credit* bisa digunakan satu pihak saja. Sehingga pasangan membayar pajak lebih sedikit. Tak hanya itu tapi seringkali bekerja juga untuk menghentikan pasangan mengaktualisasikan diri.

Ketidakbolehan bekerja ini kemudian dibarengan dengan pembatasan akses keuangan (bukan karena kondisi keuangan terbatas), tapi lebih pada pemuasan hasrat mengontrol. Tak ada kesetaraan atau dikusi keuangan. Seringkali, yang saya tahu pasangan hanya diberi jatah beberapa Euro saja untuk berbelanja.  Yang paling ekstrem, 20 Euro per minggu untuk beberapa kepala di rumah. Nominal ini jangan dirupiahkan, karena 300 ribu di Irlandia tak sama dengan di sini. Sekali lagi, bedakan juga antara kondisi keuangan terbatas, atau karena pelit yang sangat ekstrem. Kelewatan.

Ada pula dimana pasangan dipaksa bekerja, tapi kemudian uang yang dihasilkan dengan semena-mena dikontrol oleh pasangannya, atau bahkan dihabiskan untuk berhura-hura oleh pasangannya. Entah dihabiskan untuk memuaskan hobinya, atau bahkan berjudi. Syukur-syukur kalau namanya gak dipakai untuk meminjam uang (banyak yang seperti ini). Atau yang lebih parah, disuruh antri minta makanan gratis hingga pasangannya mengaduk-aduk tempat sampah mencari sisa makanan. Sedih sekali kalau mendengar yang seperti ini.

Red flags

Bagi mereka yang masih pacaran, ada baiknya jika saat pacaran mengenal lebih dalam dahulu sebelum ke jenjang yang lebih lanjut. Kenali baik-baik pasangan, dari berbagai aspek, sehingga tahu tanda-tanda yang perlu diwaspadain. Pacaran jangan buru-buru langsung diseret ke pelaminan, apalagi di negeri jauh.

Beberapa tanda yang harus diperhatikan antara lain:

  • Membatasi pertemanan & mengontrol pergerakan kita (dari mulai kemana pergi, hingga pakaian yang digunakan)
  • Kebutuhan dasar tak dipenuhi
  • Tukang cek waktu dan perilaku (lagi ngapain, sama siapa, di mana, kapan pulang?)
  • Memata-matai komunikasi kita
  • Seringkali merendahkan dan memalukan pasangan, bahkan di depan publik.
  • Kontrol keuangan
  • Mengancam dan atau mengintimidasi
  • Merusak barang (serta fisik kita).

Terakhir, kasus-kasus rumah tangga berkaitan dengan kontrol dan kekerasan, sayangnya bukan hal yang aneh bagi kami yang tinggal di luar negeri. Selalu ada saja cerita seperti ini. Para korbannya seringkali mencari bantuan ke kedutaan, tapi tentunya bukan kewenangan KBRI untuk menangani urusan domestik rumah tangga. Sebagai sesama orang Indonesia, kita pun tak berwenang menolong. Sementara, pihak berwenang pun hanya bisa memberi bantuan jika korbannya secara sadar meminta pertolongan.

Seringkali malu, dibarengi  keinginan untuk membuktikan kesuksesan tinggal di luar negeri, atau ketakutan tak memiliki penghasilan, tambahkan pula dengan kepercayaan diri yang sangat rendah (karena hasil abuse selama bertahun-tahun), membuat korbannya bertahan. Tak mau keluar dari kemelut tersebut. Jangan lupakan juga cinta, cinta dan harapan bahwa pasangan satu saat nanti akan berubah.

Jika kalian korban kekerasan rumah tangga, please get help! 

xoxo,
Ailtje

Bicara Bakul

KBBI menjelaskan bahwa bakul /ba·kul/ n adalah wadah atau tempat terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada ukuran bagian mulutnya. Dalam bahasa Jawa, bakul sendiri berarti pedagang, ada yang beranggapan bahwa konotasi bakul sendiri agak negatif. Entahlan, tapi hari ini saya lebih nyaman menggunakan kata bakul sebagai judul postingan ini, karena saya ingin membahas sisi mengesalkan dari sebagian, sebagian lho ya, bakul di media sosial.

Sudah sedari lama saya ini sebel sama kelakukan bakul-bakul di jagat media sosial. Suara hati saya kemudian disuarakan dengan lantang oleh selebtwit yang tentunya membuat jagat media sosial heboh. Orang-orang yang selama ini berdiam seperti saya, perlahan-lahan bersuara keras dalam menyuarakan kerisihan mereka dan berbondong-bondong menunjukkan kata kunci yang dimute. Rupanya, saya tak sendirian.

Capek lihat iklan

Pengguna media sosial itu sudah sangat lelah sekali melihat iklan bertaburan, tak hanya iklan model spam dari para bakul tapi juga iklan berbayar yang bertaburan dimana-mana. Pendeknya, kita ini memang dibombardir dengan iklan dimana-mana. Salah satu hasil survei sebuah perusahaan survey menyatakan bahwa pengguna media sosial ini lelah, karena terlalu banyak iklan di media sosial dan banyak dari iklan ini tak relevan dengan yang mereka cari.

Tak heran kalau kemudian orang-orang berinvestasi (baca: bayar dan gak gratisan) pada ads blocker. Demi pengalaman berselancar di internet yang lebih menyenangkan, bebas iklan.

Repetisi informasi dan Etika

Sorry not sorry, tapi ketidaksukaan ini juga karena adanya mental spammer dari para bakul. Mereka tak ubahnya spammer professional yang menggunakan prinsip promosi: repetisi informasi yang sama, jika perlu hasil copy paste sehingga minim usaha dan tak kreatif. Lakukan berulang kali, setiap hari, dan di mana-mana.

Gratis menjadi kata kunci dalam berpromosi. Tak perlu keluar modal untuk bayar iklan di media sosial.  Cukup bajak postingan dan komentar orang supaya orang tak memiliki pengalaman yang menyenangkan di media sosial. Tak hanya di tweet atau postingan orang, tapi juga di berbagai forum atau grup di media sosial.

Sekali lagi, harus berulang kali, syukur-syukur kalau admin group gak memperhatikan. Posting setiap hari, dimulai dari tiga hari berturut-turut, lalu jadi 7 hari, kemudian 40 hari. Setelah itu non-stop. Kalau ditegur admin, tinggal tuduh adminnya tak suportif saja.

Interupsi

Salah satu argument yang saya baca, mengatakan bahwa para pedagang ini menginterupsi kehidupan kita. Lagi asik-asik ngobrol tentang pandemic, eh tiba-tiba ada yang teriak misi kakak, akun Netflixnya, akun Spotifynya. Dagangan illegal pula. Nah ini persis kayak lagi asyik ngobrol-ngobrol di kereta jurusan Bogor, tiba-tiba diinterupsi oleh tukang tahu. Tahunya kakak, tahu kuning, tahu pong, tahu isi, tahu walik atau tahu gejrot.

Pedagang ini menginterupsi kenyamana pada pengguna media sosial demi keuntungan beberapa rupiah tentunya. Sayangnya, dalam proses menginterupsi itu, tak ada  pemikiran untuk menjadi kreatif dalam menyampaikan pesan, dan tentunya tak ada etika dalam berkomunikasi. Selain itu, kebanyakan pedagang juga tak riset pasar dulu untuk mencari tahu apa yang diperlukan. Pendeknya bagaikan orang haus ditawari akun Spotify.

Ribut-ribut ini kemudian ditambahkan dengan self-entitlement, bahwa sebagai pedagang berhak untuk beriklan. Beriklan itu tentu saja boleh, tapi mbok ya yang etis. Bilang permisi saja tak cukup, harus tahu menempatkan diri. Kalau mau suka-suka sendiri, bayar iklanlah di Twitter, atau Facebook, sewa lapak di pasar atau promosi dagangan di tempat yang memang diperbolehkan pada hari-hari tertentu.

Lagipula, profilmu kenapa gak dipakai buat jualan juga? Coba 40 hari hari berturut-turut promosi dagangan yang sama, daripada bagi-bagi spam di lapak orang kan mendingan dagangan di lapak sendiri?


Ailtje
Sukses mempromosikan sebuah Kios di Belanda se-Irlandia (bahkan sampai Wales), tanpa nyepam. See?