About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com

Menjaga Kesehatan Jiwa

Sebelum saya mulai postingan ini, disclaimer dulu ya kalau saya bukan pakar kesehatan jiwa, wellness, atau pakar-pakar lainnya. Saya cuma manusia biasa yang penuh nista dan dosa. 

Pandemik global yang berlangsung saat ini membuat banyak orang harus berdiam diri di rumah masing-masing. Di Indonesia, ada pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di Irlandia, negeri tempat saya tinggal juga ada pembatasan gerak. Keluar dari rumah hanya untuk hal-hal yang penting, hanya bisnis yang penting yang diperkenankan untuk buka dan olahraga hanya diperkenankan 2 km dari tempat kediaman. Jadi tak ada kegiatan kegiatan ku lari ke hutan, atapun ku lari ke pantai, kecuali kalau tinggal tak jauh dari hutan ataupun pantai.

Bukan kali ini saja dunia menghadapi pandemik, sebelumnya ada flu babi yang juga melanda Indonesia. Tentunya skalanya tak sebesar dengan kondisi kita sekarang ini. Aktivitas kita pada saat itu masih normal. Pendek kata, saat itu kita masih bisa hura-hura ke cafe, jalan-jalan ke mall dan tentunya masih takut sinar matahari karena takut kulit menjadi kelam.

Olahraga

Pembatasan ruang gerak ini berdampak besar terhadap kesehatan jiwa kita. Mendadak, kita terpenjara di dalam rumah sendiri. Dalam kasus saya, ada pembatasan 2 km dan seringkali ada polisi yang mengecek tujuan kita. Mereka juga berhak mengirim kita pulang jika dirasa hal tersebut tidak penting.

Jalan kaki menjadi satu hal yang sangat berharga sekali. Sehari saya bisa berjalan kaki hingga tiga kali, di pagi hari, di saat makan siang dan usai kerja. Musim semi yang membawa hawa hangat juga membuat hal ini lebih mudah. saya tak bisa bayangkan apa jadinya jika pandemi ini berlangsung ketika memasuki musim dingin.

Makan Sehat

Olahraga juga harus dibarengi dengan makan yang sehat. Tak seperti di Indonesia yang punya banyak opsi untuk pesan makanan melalui aplikasi, di sini pilihannya sangat terbatas. Apalagi saya tinggal di kampung yang lebih dekat dengan sapi dan domba ketimbang dengan rendang dan tongseng.

Alhasil, saya pun harus masak sendiri, sehari tiga kali. Padahal sebelumnya saya hanya perlu masak satu kali, karena makan pagi dan siang disediakan kantor. Tapi pilihan untuk masak sendiri ini membuat diri lebih menyadari untuk memasak makanan yang jauh lebih sehat. Walaupun tetep sebagai anak Indonesia sejati, selalu pengen bikin gorengan. Prinsipnya, minyaknya engga pakai sedotan.

 

Ngobrol

Interaksi kita secara langsung dengan manusia berkurang sangat dratis. Saya beruntung tinggal bersama suami yang bisa diajak ngobrol, tapi saya tahu ada banyak orang di luar saya yang tinggal sendirian. Kesepian pasti merasuk banget, apalagi mereka yang usianya sudah tua.

Nah, kalau kalian punya anggota yang tinggal sendiri, jangan lupa ditelponin untuk bertanya kabar. Kalau kalian mampir ke rumah mereka, pastikan jaga jarak, jangan dekat-dekat dan tak perlu cium tangan, atapun cium pipi. Pastikan juga ketika kalian menelpon siap ditanyak dengan pertanyaan kapan kawin, kapan beranak dan panjaaaang…Kalau tak siap (dan daripada makin stress), cukup dikirimi pesan saja untuk menanyakan kabar dan berharap mereka sehat.

Media Sosial

Dalam pidatonya, Perdana Menteri Irlandia sempat mengingatkan untuk menjaga kesehatan jiwa dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Media sosial itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi tempat senang-senang dan bisa menjadi tempat yang muram durja. Kita sendiri yang punya kontrol.

Di masa seperti ini mendadak banyak orang yang menjadi pakar. Pakar data, pakar penyakit, jadi dokter, hingga yang beraksi jadi jurnalis dan membuka informasi center dan terus-menerus membagi informasi tentang COVID 19. Dalam lingkungan pertemanan kalian pasti ada saja yang seperti ini.

Berhubung kita punya kontrol, ada baiknya media sosial digunakan untuk hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif dimute saja. Saya sendiri membatasi penggunaan media sosial dan hanya baca sumber-sumber yang terpercaya. Sehari cukup satu atau dua kali, tak perlu terus-menerus mendengarkan tentang pandemik di seluruh dunia. Nanti bisa stress sendiri.

Banyak juga orang yang melakukan hal positif di media sosial. Menyenangkan sekali melihat orang-orang bermain tebak-tebakan, sekadar menyapa menanyakan kabar, pamer hasil karya dari dapur masing-masing,  membuat komik, hingga membuat konten lucu di TikTok. Saya sendiri, aktif menuliskan lockdown diary di IG saya. Silahkan ditengok dan mari berinteraksi ngobrol-ngobrol ringan di IG saya di sini.

Kalian, punya tips dan trick khusus untuk menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi ini?

xx,
Ailtje

 

Lotere

Masih ingat dengan program pemerintah jaman dahulu yang judulnya SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah? Saya sendiri tak sempat merasakan bermain SDSB, karena usia saat itu yang dibawah umur. SDSB sendiri kemudian dilarang karena konsepnya yang mirip dengan judi, sehingga bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Kendati dilarang, konsep perjudian serupa masih tetap ada di Indonesia. Toto gelap, atau togel marak beredar di Indonesia. Sekali waktu saya pernah mencobanya, menitipkan lewat teman yang membeli. Entah bagaimana proses pembeliannya, yang jelas saya tak pernah melihat uang tersebut kembali lagi dan saya tak pernah menang sepeserpun.

Di banyak negara-negara Eropa, konsep SDSB dikenal sebagai lotere. Di Irlandia sendiri, ada dua lotere yang kami kenal, lotere Irlandia dan juga lotere Eropa (disebut sebagai Euromillions). Seperti namanya, lotere Irlandia hanya dikocok di Irlandia, sementara Euromillions untuk beberapa negara Eropa.

Karena jangkauannya yang lebih luas, jumlah uang yang bisa dimenangkan di Euromillions jauh lebih besar ketimbang Lotto Irlandia. Probabilitas atau peluangnya tentu jauh lebih kecil, karena lebih banyak orang yang bermain.

Bermain lotere di Irlandia cukuplah mudah, tiketnya bisa dibeli di supermarket ataupun toko-toko kelontong dan kita bisa memilih, quick pick (nomor dipilih acak melalui system) atuapun mengisi kertas dan memilih nomornya satu per satu. Tak hanya bisa dibeli di toko, tiket lotto juga bisa dibeli melalui app.

Tipe-tipe tiket lotere sendiri ada bermacam-macam, ada yang dikocok harian, ataupun dikocok pada hari-hari tertentu. Harganya, bermacam-macam, satu garis nomor jika saya tak salah mengingat dihargai 3 Euro. Nomor yang harus dipilih sendiri beragam, dari 5 hingga 6 nomor untuk satu garis. Tak hanya tipe lotere ini, ada pula scratch card, kertas kecil dengan beberapa angka yang bertuliskan nominal Euro  yang bisa dimenangkan dan pembeli harus setidaknya mendapatkan tiga angka yang sama.

Seperti saya sebut di atas peluang untuk menang lotere itu sebenarnya cukup kecil, apalagi jika membeli iseng-iseng. Walaupun terbukti sudah banyak orang yang iseng membeli tiba-tiba menjadi jutawan dadakan. Nah untuk memperbesar kemungkinan untuk memang, sindikat menjadi solusinya.

Apa itu sindikat? Sindikat merupakan kumpulan beberapa orang yang secara rutin mengumpulkan uang dalam jumlah yang sama untuk dibelikan tiket lotere. Jika tiket tersebut menang, maka hasil kemenangan dibagi rata. Sindikat ini bisa anggota keluarga, rekan-rekan kantor ataupun teman-teman. Yang jelas, sindikat ini cenderung konsisten dan rutin dalam membeli tiket. Kuncinya di dalam sindikat adalah keterbukaan. Begitu tiket dibeli, foto tiket langsung dibagikan, jadi tak ada yang membawa lari kemenangan.

Di Irlandia, toko-toko yang menjual lotere juga akan merayakan kemenangan ketika tiket yang mereka jual memenangkan hadiah. Toko ini juga akan mendapatkan bonus atas kemenangan ini. Biasanya, toko-toko yang pernah menjual tiket seperti ini ditempeli stiker bertuliskan: kami menjual winning ticket serta nominal kemenangan. Di sini, orang-orang ada yang suka membeli dari toko yang menjual winning ticket. Ada pula yang mempercayai bahwa toko yang sudah menjual winning ticket tak akan menang lagi.

Menjelang Natal dan tahun baru sendiri sendiri, badan lotere Irlandia juga akan menjual tiket khusus edisi Natal yang harganya lebih mahal. Raffle, begitu mereka menyebutnya.  Dan satu orang dijamin akan menjadi pememangnya. Lotere sendiri juga banyak dijadikan hadiah, hadiah kecil untuk Natal ataupun tahun baru, atau bahkan ulang tahun.

Bagi masyarakat Indonesia mungkin konsep lotere dianggap sebagai sebuah hal yang negatif. Di Irlandia sendiri, lotere tak hanya untuk mereka yang menang, tapi dananya kembali ke masyarakat melalui program Good Funding. Ada beberapa area yang bisa mendapatkan dana bantuan, seperti olahraga, bahasa Irlandia, komunitas, kesehatan, pemuda (youth), seni dan warisan kebudayaan. Tak heran kalau kemudian masyarakat di sini begitu terbuka dengan budaya membeli lotere.

 

Kalian, pernah beli lotere?

xx,
Ailtje

 

 

Nostalgia: Hobi Baca di Tahun 90-an

Jaman saya besar tak ada telepon genggam, media sosial ataupun Netflix untuk menghibur diri. Di jaman itu, hanya ada satu stasiun TV, televisi swasta belum ada dan remote televisi pun (kalau saya tak salah mengingat) tak punya. Cukup tekan-tekan 10 tombol yang berada di sisi televisi. Saya, besar di kota Malang, kotanya pelajar dan bukan kota metropolitan.

View this post on Instagram

Salam satu jiwa! #Aremanita #Arema #SingoEdan

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Tapi saya (dan banyak anak-anak lainnya) tak kekurangan hiburan. Kami bermain di ruangan terbuka, lapangan, sungai, sawah, mendengarkan radio (dan mengirimkan salam), dan membaca aneka majalah, buku hingga koran. Pendeknya, selalu ada jalan untuk mengisi waktu senggang.

Perjalanan saya pulang ke Malang tahun lalu membawa kenangan saya ke tempat persewaan buku. Dulu di sebuah jalan yang padat dan selalu macet, jalan Gajahyana, ada sebuah perpustakaan pribadi, atau tempat persewaan buku Perpustakaan Eddy namanya. Perpustakaan ini bukan milik negara, ataupun milik pemerintah kota, murni milik Pak Eddy.

Jaman itu, kalau saya tak salah mengingat, buku-buku komik dijual dengan harga tiga ribu rupiah. Komik Candy-candy yang 9 seri jika ditotal bisa menghabiskan uang 27 ribu rupiah. Membeli buku, mungkin menjadi opsi bagi mereka yang punya ekstra uang saku, tapi tidak bagi saya ataupun banyak anak-anak (dan juga orang dewasa lainnya).

Perpustakaan Pak Eddy ini jadi penyelamat, kami bisa pinjam buku dengan harga yang jauh lebih murah. Apalagi di saat musim libur, saya bisa melahap banyak buku. Untuk “menghemat” ongkos peminjaman, saya dan seorang teman bahkan sering bertukar buku yang kami pinjam di perpustakaan. Satu buku dibaca dua orang.

Proses peminjaman buku sendiri sangat sederhana. Kami cukup membawa kartu identitas, seperti kartu mahasiswa, SIM, ataupun KTP. Tapi jaman itu saya masih anak piyik, belum juga lulus SD. Kartu pelajar sebenarnya bisa digunakan, tapi masalahnya, sekolah saya tidak memberikan kartu pelajar. Alhasil, saya  nebeng kartu pelajar seorang teman, atau terkadang KTP orang tuanya. Kondisi jaman tersebut jangan dibandingan dengan kondisi jaman sekarang, di jaman ini KTP menjadi barang berharga yang mudah disalahgunakan. 

Peminjaman buku sendiri bisa dilakukan saat persewaaan buku tersebut buka, bisa di pagi hari hingga pukul dua siang (jika ingatan saya tak salah) atau di sore pukul enam hingga pukul sembilan malam.

Pencatatan buku-buku ini cukup sederhana. Pak Eddy ini punya satu wadah kotak yang berisikan kertas-kertas serta kartu identitas. Kertas-kertas ini berfungsi untuk mencatat judul buku yang kita pinjam serta tanggal pengembalian. Jika buku-buku tersebut sudah dikembalikan, tulisan-tulisan di kertas tersebut akan dicoret.

Buku-buku yang bisa dipinjam sendiri beraneka rupa, dari komik-komik silat, aneka komik, hingga novel-novel. Aneka komik-komik Jepang atau novel detekfif yang sudah dialihbahasakan. Ada juga Olga dan Lupus, buku bacaan remaja 90-an yang selalu ditunggu-tunggu. Hingga kemudian Mira W dan Marga T.

Pak Eddy ini merawat buku-bukunya dengan baik dengan cara menyampul hardcover lalu dibungkus dengan plastik. Di bagian belakang buku ini disertakan kertas untuk mencatat tanggal peminjaman. Jaman itu kami hanya boleh meminjam maksimal 10 buku. Semakin banyak buku yang dipinjam, semakin lama waktu pinjamnya. Tapi untuk buku-buku baru biasanya harus kembali dalam jangka waktu satu hari.

Dengan uang saku yang sangat terbatas, saya saat itu sangat takut terlambat mengembalikan buku. Takut didenda. Untungnya, saya tak pernah menghilangkan buku, tapi teman saya tak seberuntung itu. Duh….proses ganti rugi buku yang hilang ini tak mudah, apalagi karena jaman itu tak ada T&C. Dana yang dikembalikan tak hanya harga buku serta ongkos menyampul, tapi juga biaya tambahan yang tak pernah dituliskan di mana-mana. Buntutnya, negoisasi harga.

Ketika saya kembali ke Malang bulan Oktober lalu, saya melewati lokasi di mana tempat persewaan buku tersebut berada. Tak jauh dari toko daging di ujung jalan Gajahyana. Bangunannya masih ada, tapi tak ada aktivitas seramai tahun 90-an.  Persewaan tersebut mungkin sudah tak ada, tapi kenangan dan kegembiraan ketika melihat buku-buku baru bisa disewa rasanya tak terkirakan.  Dengan 300 ataupun 500 rupiah, saya bisa memuaskan Hasrat membaca buku.

Dulu, saya tak perlu media sosial untuk membunuh waktu. Bagaimana dengan kalian, pernah menyewa buku di tempat serupa?

xx,
Ailtje

 

 

 

Pesta Perkawinan Irlandia

366 hari lagi, sang empunya blog akan diundang menghadiri pesta perkawinan akbar dari salah satu anggota keluarga. Pesta perkawinan akbar, karena pesta perkawinan ini ditunggu-tunggu dari sejak lama karena sang pengantin sudah pacaran cukup lama. Tak cuma di Indonesia saja yang “reseh”, di sini pun yang pacaran terlalu lama juga suka disindir untuk segera mengikat janji.

Pesta perkawinan yang akan saya hadiri ini akan menjadi pesta perkawinan besar, mengundang ratusan tamu, bahkan angka undangan mendekati 400 orang. Undangan tak perlu dikalikan menjadi dua seperti di Indonesia ya. Di Indonesia sendiri, angka 400 bukalah angka yang mencengangkan, karena angka ini bagi sebagian, mungkin kebanyakan orang dianggap sebagai angka “biasa-biasa aja”.

 

Undangan perkawinan
Undangan perkawinan biasanya dikirimkam jauh-jauh hari menjelang perkawinan dan tamu diharuskan untuk RSVP. Fungsinya tentu saja untuk menghitung jumlah tamu yang akan datang dan mengatur kursi. Di sini, semua tamu harus duduk, pestanya tak berdiri.

Dari beberapa undangan yang pernah saya lihat dan saya terima, undangan di sini tak seheboh seperti undangan di Indonesia. Terhitung sederhana dan biasa-biasa saja.
Saya sendiri tak banyak menerima undangan perkawinan, jari di tangan kiri saya tak habis untuk menghitung jumlah undangan perkawinan.

Pemberkatan di Gereja

Mayoritas penduduk negeri ini beragama Katolik, kendati sudah tak banyak yang ke gereja, seringkali perkawinan mengambil tempat di gereja. Keeping the tradition ceritanya.Nah undangan ke gereja sendiri tak untuk semua orang, tergantung pengantin dan keluarganya. Acaranya sendiri biasanya sangat intim.

Selain pemberkatan di gereja, ada juga pengantin yang mengambil upcara spiritual. Upcara seperti ini bisa diadakan di hotel tempat perkawinan berlangsung. Untuk perkawinan muslim sendiri, saya belum pernah menghadiri. Malah suami yang pernah menghadiri, di mana pengantin pria dan pengantin perempuan dan para tamunya dipisahkan.

Resepsi Perkawinan

Jika pengantin mengadakan pemberkatan, biasanya tamu akan langsung menuju area resepsi dan disambut dengan makanan kecil dan minuman. Pengantin sendiri biasanya berfoto-foto di lokasi yang tak jauh dari tempat resepsi. Saya dan suami juga melakukan hal serupa ketika perkawinan kami di Irlandia. Jika di Indonesia pengantin jalan-jalan dengan baju pengantin biasanya pre-wedding, di sini biasanya post-wedding.

Setelah menikmati makanan kecil, para tamu kemudian akan diundang ke ruangan untuk makan malam. Seperti saya tulis di atas, semua orang harus duduk. Jadi para tamu harus tahu meja tempat mereka akan duduk. Siapa duduk di mana biasanya sudah diatur oleh pengantin. Penting banget ini, apalagi kalau ada teman yang lajang yang mau dijodohkan.

Menu-menu makanan sudah diletakkan di meja dan para tamu bisa langsung order makanan yang dimaui. Dari makanan pembuka, utama hingga pencuci mulut. Oh ya bicara makanan di negeri ini tak bisa lepas dengan bicara alergi. Alergi-alergi harus dikomunikasikan, supaya makanan tak terkontaminasi.

Sebelum makan dimulai, biasanya ada pidato-pidato, dari pihak keluarga maupun dari best man. Pendamping pengantin pria. Pidato-pidato ini biasanya lucu, sering diselipi dengan guyonan yang bikin pengantin deg-degan atau malu.

Di lokasi pesta perkawinan, biasanya selalu ada bar. Budaya minum (kendati tak semua orang minum di negeri ini), sangatlah kuat. Minuman beralkohol sendiri harus dibeli oleh sang tamu, tak diberi gratis. Minuman gratis hanya disajikan ketika datang dan sambil makan (biasanya anggur merah atau putih). Di sini, membeli minum harus gantian. Ronde pertama Mawar yang bayar, ronde ke dua Melati yang bayar. Terus begitu sampai tak kuat minum lagi.

Begitu makan malam selesai, pesta akan dilanjutkan dengan dansa-dansa, dengan band dan DJ. Meja-meja dilipat, kursi dipinggirkan dan area pesta berubah menjadi dance floor. Acaranya sendiri biasanya berlangsung hingga semalam suntuk, tergantung musik dan bar. Di hotel sendiri, bar bisa dibuka hingga jam empat pagi. Di tengah malam, biasanya ada penganan kecil yang disajikan, bisa roti lapis, sosis, kentang, burger mini, serta kue pengantin.

Untuk alasan kepraktisan, seringkali para tamu tinggal di hotel yang sama dengan hotel tempat perkawinan berlangsung. Esok paginya pun bisa sarapan bersama-sama & biasanya kondisi para tamu udah hangover berat, kecuali para tante dan Oom yang tak ikutan minum.

Ada beberapa tata krama yang harus diperhatikan ketika menghadiri perkawinan di negeri ini:

  1. Selalu RSVP, supaya pengantin bisa menghitung jumlah tamu.
  2. Gantian bayar minum. Mentalitas minta dibayarin melulu harus ditinggalkan, gak boleh egois gak mau bayar. Dan jangan salah, orang sini merhatiin mereka yang suka gak mau gantian bayar.
  3. Hadiah perkawinan harus pantas. Norma mengatur hadiah perkawinan itu harus cukup untuk membayar makanan dan extra uang untuk biaya perkawinan. Soal ini bisa jadi satu postingan sendiri deh.

Perkawinan yang harus saya hadiri memang masih satu tahun lagi, tapi kepala sudah mulai menghitung, hadiah, pakaian yang akan digunakan, hingga booking kamar hotel di tempat perkawinan. Bagi mereka yang punya anak, mereka harus memikirkan soal penjaga anak, karena biasanya anak-anak dilarang datang di acara perkawinan.

Kamu, lebih suka perkawinan privat atau pesta perkawinan heboh Indonesia?

Selamat tahun baru,
Tjetje

 

Melawan Reverse Culture Shock

Selama bermukim di sini, hampir tiap tahun saya pulang kampung, untuk melepas rindu pada keluarga dan makanan Indonesia. Pulang kampung kali ini, sama seperti sebelumnya, saya mengalami reverse culture shock lagi. Dua hari pertama saya, rasanya pening melihat banyaknya hal-hal yang saya sudah tak terbiasa lagi. Belum lagi ketidakbiasaan ini ditambah dengan panas Jakarta yang membara, polusi dan kabut polusi yang menggantung di langit-langit Jakarta, serta kerinduan pada hujan yang saat itu tak kunjung datang. Emosi pun membara, saya jadi mudah bete. Mood saya pada dua hari pertama jadi sangat buruk. Soal kekagetan ini pernah saya tulis di sini dan di sini.

Kebetean ini ditambahkan pula dengan komentar tentang tubuh yang membuat saya semakin emosi jiwa. Jauh sebelum pulang ke Indonesia, saya sudah siap menerima komentar tentang berat badan saya yang bertambah. Toleransi terhadap komentar ini saya atur di level: GENDUT. Komentar apapun dengan embel-embel gendut tak akan membuat saya emosi. Manusia boleh berencana, ogoh-ogoh tapi punya rencana yang jauh lebih kejam. Pada acara perkawinan (yang menjadi tujuan utama saya pulang kampung), saya mendapatkan komentar tubuh saya GEMBROT. Saudara bukan, teman bukan, kenal juga hanya sekilas saya. Orang yang sama kemudian menyempurnakan komentarnya dengan memukul pantat saya sambil berkata, “kamu beneran gendutan deh”. Detik itu saya ingin berkata kejam, tapi saya menahan diri. Pelan-pelan, saya bunuh dia dari pikiran saya. To me, she is six feet under.

Tak hanya komentar soal tubuh, Jakarta juga membuat saya emosi jiwa dengan kesemrawutannya. Jangan ditanya betapa stressnya saya, rasanya pingin cepet-cepet kembali ke Irlandia, supaya bisa menghirup udara segar. Semacet-macetnya Irlandia, kendaraan masih berjalan lurus, tak seperti di Jakarta. Padahal kemana-mana saya disetirin, gak nyetir tapi ikut stress. Tapi apalah gunanya bermuram durja ketika kita hanya kembali pulang setahun sekali. Saya kemudian memutuskan untuk membalik reverse culture shock ini. Bagaimana caranya?

View this post on Instagram

Dear #Jakarta, I love you so much.

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Saya berpasrah diri pada hal-hal yang tak bisa saya ubah. Realitasnya, Jakarta memang macet & polusi di mana-mana. Dan di tengah kesemrawutan ini, sepeda motor masih seenaknya sendiri, tanpa aturan. Klakson pun masih sangat meriah. Dan di tengah-tengah kesemrawutan itu, I counted my blessings. Dari mulai gak perlu ikutan nyetir, gak perlu kepanasan, duduk nyaman di dalam mobil hingga bisa ngobrol hantu dengan pengemudi kami.

Panas Jakarta yang membara juga membuat saya bersyukur, masih ada AC untuk mengademkan diri. Bisa ngadem di mall juga sambil minum kopi. Serunya lagi di Indonesia kopi yang ditawarkan selalu panas atau dingin. Di Irlandia, jangan harap dapat es kopi, apalagi di musim dingin ini. Para barista juga ramah-ramah tak terkira, padahal kerja mereka panjang dan sangat melelahkan.

Berada di Jakarta juga membuat saya bisa makan apa saja, di mana saja dengan mudahnya. Dari masakan Indonesia hingga masakan Jepang. Di Irlandia, tak ada masakan Jepang yang otentik, jadi pulang ke Indonesia bertemu aneka ramen rasanya surga banget. Soal pemesanan makanan juga mudah sekali, tinggal buka aplikasi dan pencet-pencet tombol Gojek. Selesai.

Saya juga bahagia banget masuk toilet di mal-mal di Indonesia. Baunya wangi, bersih, jangan dibandingkan dengan mal di Irlandia. Petugasnya pun juga ramah gak karuan. Biarpun dicuekin oleh lebih dari 90% pengguna toilet, mereka masih tetap mengucapkan terimakasih dengan senyum.

Keramahan khas Indonesia juga menjalar ketika memasuki toko-toko untuk berbelanja, atau sekadar mencoba. Dari Factory Outlet yang menjual produk-produk buatan Indonesia hingga toko-toko di mall. Bahkan para abang-abang yang menjaga makam pun tak terkira ramahnya. Mereka berlarian mencoba membantu saya menemukan makam-makam yang saya kunjungi.

Setelah puluhan purnama dan beberapa kali pulang, akhirnya saya belajar bagaimana membuat pulang kampung tak beracun,  meminimalisasi energi negatif dan tentunya mengatur kekagetan dengan hal-hal yang kita tak biasa lagi. Apalah gunanya pulang kampung kalau cuma untuk ngomel-ngomel, apalagi kalau kemudian diabadikan di media sosial dan meracuni orang lain.

Ada yang punya tips lain biar gak kaget kalau pulang kampung?

 

Xx,
Tjetje
Yang sangat malas ngeblog

Kenangan Manis Masa Kecil

Sambil menyetir ke kantor pagi tadi, si penyiar radio bercerita bahwa dia bertemu dengan ayahnya. Mereka sudah beberapa bulan ini tidak ketemu, karena selama musim panas ini sama-sama sibuk. Si Ayah ketika bertemu memberikan kartu ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah bulan Juni lalu. Tapi di Irlandia, tradisi memberi kartu itu tradisi penting. Ketika dibuka, kartu itu diisi uang sebagai hadiah ulang tahun. Si penyiar bercerita bagaimana pengalaman itu membawa banyak kenangan masa kecil. Btw, penyiar ini udah bapak-bapak beranak dua.

Cerita itu membawa saya kembali ke Indonesia, ke masa kecil saya, ketika keluarga kami mendapat kunjungan dari sanak-saudara atau teman-teman orang tua saya. Di akhir kunjungan, biasanya mereka menyelipkan sedikit uang ketika kami mencium tangan mereka. Nilainya bagi saya saat itu, berarapapun, berasa banyak sekali. Maklum sebagai anak-anak, saya belum teracuni kerakuasan dan tak begitu mengerti nilai uang. Tentunya sekarang sudah jauh beda 😉

Beberapa tahun lalu, ketika saya bekerja di Jakarta & mudik ke Malang, saya mengunjungi seorang tetangga. Ketika saya hendak pulang, beliau mewanti-wanti bahwa ia akan memberi saya uang tapi saya tak boleh melihat dari nilainya, tapi dari perhatian dan niatnya. Jangan ditanya rasanya, saya riang gembira tak terkira. Uangnya sendiri saya simpan di dalam dompet sebagai token, token perhatian pada saya. Yang jelas lebih indah daripada ketika menerima gaji ataupun bonus. Mungkin, karena elemen kejutannya yang membuat hadiah uang jadi lebih manis.

Tidur Siang

Selain urusan uang, kenangan manis masa kecil yang sangat saya hargai adalah kesempatan untuk bisa tidur siang. Ketika anak-anak disuruh tidur siang rasanya susah sekali & saya merasa itu sebagai sebuah hukuman. Apalagi sebagai anak-anak, saya maunya main di luar dan bermain sepeda hingga kulit kelam (hingga kemudian dikatain tetangga karena kulit kelam & betis besar). Satu kali, saya pernah nekat keluar dari jendela rumah tante saya di Surabaya, lalu memanjat pagar rumah untuk keluar. Nasib apes, pucuk pagar yang sedang saya pegang patah dan saya sukses perlahan-lahan (tapi pasti), masuk ke dalam selokan Surabaya yang warna dan baunya aduhai.

Sebagai orang dewasa, tidur siang menjadi sebuah kemewahan luar biasa, karena selama hari kerja saya tak punya kesempatan tidur siang. Begitu pula ketika akhir pekan, apalagi di musim panas seperti ini. Maunya keluar terus untuk menikmati cuaca. Begitu teler dan punya kesempatan untuk tidur siang, rasanya menyenangkan sekali.

Berbagi Kue

Kenangan manis yang tak lagi saya lakukan adalah soal membagi kue menjadi beberapa potong, tergantung penghuni rumah. Eyang putri  dan mama saya jika pergi ke arisan selalu membawa pulang satu kotak yang berisi makanan. Buah tangan arisan ini biasanya diisi dengan perpaduan kue yang manis juga kue yang asin. Sebagai anak-anak, tentunya ingin mencoba semua kue yang ada di dalam kotak tersebut.

Di keluarga kami, kue-kue tersebut harus dibagi-bagi. Biasanya dipotong sama rata menjadi empat, sesuai penghuni rumah pada saat itu. Semua orang ikut merasakan, walaupun hanya secuil. Rasanya juga jadi lebih menyenangkan, tak terlalu kenyang.

Prinsip berbagi sekarang berubah, bukan lagi karena ingin icip-icip, tapi karena tak ingin merasa terlalu berdosa dengan kalori dan kenikmatan kue-kue tersebut. Nikmat di mulut hanya sekejap, tapi harus dibakar di gym selama berjam-jam.

Bagaimana dengan kalian, punya kenangan manis masa kecil?

xx,
Ailtje
Diingetin WP, udah 8 tahun ngeblog

 

Selfie Maut

Swafoto atau dikenal juga dengan selfie adalah pengambilan foto diri sendiri, dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti selfie stick. Selfie sendiri bukanlah sebuah hal yang baru, tapi menjadi sangat popular demgan maraknya smarphone dan kameranya yang semakin canggih. Perkenalan saya dengan selfie dan selfie stick terjadi beberapa tahun lalu, jaman saya masih bekerja di Jakarta. Tapi hubungan saya dengan selfie tak berlangsung lama, karena intensitas selfie yang terlalu tinggi. Saya membawa selfie stick untuk liburan ke Kamboja dan berakhir dengan ratusan foto yang isinya muka saya dan teman seperjalanan saya. Langsung auto muak selfie.

View this post on Instagram

Shameless selfie #Maltese #maltesepuppy

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Semenjak itu, jumlah swafoto saya menurun drastis, walaupun angka di Iphone saya menunjukkan saya sudah mengambil selfie sebanyak lebih dari 300 kali. Selfie ini sebagian berisi muka anjing ketika duduk di pangkuan saya, atau ponakan piyik (yang iseng ngambil HP untuk selfie) dan muka-muka saya selfie bersama bayi-bayi orang. Bagi saya, selfie itu gak penting.

Tapi tidak bagi banyak orang lainnya. Selfie menjadi sebuah keharusan, apalagi jika berada di tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik. Apalah artinya pemandangan yang cantik jika tak ditambah dengan wajah-wajah kita yang tak kalah cantik. Mungkin begitu prinsipnya. Suka-sukalah, toh menggunakan gawainya sendiri-sendiri.

Bagi saya pribadi, ada beberapa kondisi yang membuat selfie menjadi big no no. Pertama soal selfie  yang overdosis. Di mana-mana harus selfie dulu, mau makan selfie dulu, ketemu temen selfie lagi (ya kalau ketemunya sekali-sekali), nge-gym selfie lagi. Padahal muka juga gitu-gitu aja. Nah parahnya selfie ini kemudian dimasukkan ke dalam media sosial dengan intesitas yang keterlaluan. Apa indikasinya keterlaluan? Ya kalau bikin orang lain capek lihatnya, mukanya gitu lagi gitu lagi, gayanya gitu lagi gitu lagi, sudutnya juga itu lagi itu lagi; langsung pencet tombol mute atau unfollow.

Selain urusan overdosis, selfi lain yang juga engga banget  bagi saya adalah selfie yang tak memikirkan lingkungan sekitar. Swafoto di makam, swafoto dengan jenasah, atau misalnya ditempat tragedi terjadi, seperti di Auschwitz. Penting dan pantaskah melakukan hal tersebut?

Tak hanya soal kepatutan di tempat-tempat tertentu, tapi juga dampak yang timbul akibat swafoto tersebut. Sudah berulang kali kita mendengar kasus tanaman, bunga, ataupun hal lain dari alam kita yang rusak hanya gara-gara napsu ingin selfie.

Nah selfie terakhir adalah selfie yang apes bercampur dengan kurang cerdas; selfie yang membahayakan diri sendiri hingga membuat nyawa melayang. Pernah dengar kan cerita orang yang meninggal dunia gara-gara selfie? Ternyata menurut global study, dalam rentang enam tahun, dari 2011 hingga 2017 ada 259 orang yang meninggal dunia karena selfie. Beberapa mengkategorikannya sebagai sebuah epidemi.

Kasus meninggal dunia karena selfie ini bermacam-macam; yang teranyar ketika tulisan ini dibuat, seorang pelajar dari Belarus yang meninggal jatuh dari balkoni hostel di tengah malam. Beberapa kematian akibat selfie ini juga banyak terkait dengan kereta, dari tersetrum hingga tertabrak kereta.

Di Indonesia sendiri ada kasus selfie dimana seseorang meninggal karena jatuh ke dalam kawah, tenggelam di air terjun, hingga jatuh ke laut dari tebing. Kasus selfie yang membekas di kepala saya sendiri kasus pasangan Polandia yang meninggal, jatuh dari tebing di Portugis di depan anak-anaknya. Saya tak bisa membayangkan trauma yang timbul akibat kehilangan orang tua dengan cara seperti itu.

Manusia itu berproses dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. Saya pun tak lepas dari kesalahan dan proses belajar itu. Selayaknya, kita belajar dari kematian-kematian tragis ini. Hidup kita terlalu indah untuk diakhiri dengan selfie maut, hanya karena konten yang ingin kita unggah di media sosial untuk mendapatkan notifikasi like.

Jadi, kapan terakhir kalian selfie?

xx,
Tjetje