About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Racun Hoax Whatsapp Group

Para kerabat, sanak saudara, Oom, Tante serta teman-teman masa sekolah yang sebagian besar tak saya kenal dan tak saya ingat, ijinkan saya berceloteh tentang pengalaman berada di dalam WhatsApp Group atau yang umum dipanggil WAG. Sebagai warga negara Indonesia yang jauh dari kampung halaman, WAG bagi saya adalah pengobat rindu dan jembatan untuk menghubungkan saya dan kalian semua. Perannya vital, karena saya tak ingin ketinggalan berita tentang keponakan yang baru lahir, teman terdekat yang berjuang melawan kanker, hingga berita tentang keluarga yang jatuh sakit.

Sayangnya, beberapa WAG saya sekarang berubah menjadi media murahan untuk ajak menyebarkan berita bohong, hoax. Kalian, para saudara, tante, Oom dan teman-teman berebutan untuk menyebarkan informasi tanpa mengecek terlebih dahulu. Saya paham, sebagai orang Indonesia kita dididik untuk jadi kompetitif, jadi orang pertama yang paling tahu, rasanya jadi seperti jawara kan kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi tersebut?

Tak susah mengecek kebenaran berita-berita tersebut, tinggal copy dan paste, maka internet akan membawa kita ke grup yang bertujuan melawan hoax. Bahkan, beberapa hal yang berada di internet juga ada klarifikasinya dari institusi  yang terseret. Ah kalau saja semua penyebar hoax di Indonesia ditangkap, mungkin grup-grup keluarga, grup kawan, alumni akan sunyi dan senyap, karena sebagian anggotanya, terutama yang rajin posting, ditangkap aparat.

Pernah sekali waktu, saya mengklarifikasi sebuah berita bohong yang disebarkan di sebuah WAG, alasan yang saya terima, “saya cuma meneruskan“. Alasan ini bagi saya bukan sebuah hal yang bisa diterima, karena ada konsekuensi dari setiap informasi yang kita sebarkan, apalagi jika informasi itu tak valid dan tak bermutu. Berita yang kalian teruskan itu menunjukkan kualitas kalian dalam menyaring informasi.

Ambil contoh, seorang kenalan saya yang bermukim di Irlandia. Ia cemas tak karuan ketika membaca pesan di WAG, tsunami akan menghampiri lokasi di mana kebanyakan keluarganya tinggal. Saya yang bukan ahli tsunami ini sampai harus menjelaskan bahwa berita tersebut bohong. Lha kalau ia yang tinggal jauh saja bisa cemas, bagaimanakah dengan mereka yang berada di daerah bencana sana, apa gak tambah kalang kabut? Sudah tertimpa bencana masih harus ditakut-takuti lagi. Teganya kalian.

Hoax politik juga tak kalah sampahnya. Di sebuah malam, tiba-tiba notifikasi masuk bahwa bensin akan naik pada tengah malam. Maka ramailah omelan muncul, darah mendidih, tekanan darah meningkat, umpatan terhadap pemerintah tak terelakkan. Tunggu punya tunggu, harga BBM tak naik, permintaan maaf juga tak muncul, padahal  pesan kenaikan BBM itu dikirimkan ke beberapa group. Beda aliran politik itu wajar, normal di sebuah negara demokrasi, tapi menyebarkan informasi-informasi tak akurat seperti ini itu sampah benar. Benar-benar menunjukkan kualitas kalian.

Lucunya, beberapa dari kalian adalah orang-orang yang tak muda lagi.  Kukira dengan umur kalian yang jauh dari umur kami, anak-anak muda ini, kami bisa menghormati pengalaman dan kedewasaan kalian. Maaf, hilang hormatku ketika tahu kalian bahkan tak bisa mengecek kebenaran sebuah berita dan hanya bisa menyebar-nyebarkan.

Kadang dalam hati kecil saya, rasanya ingin teriak dan mengumpat, apa kalian tak ada kegiatan yang lebih bermanfaat saja untuk mengisi kesibukan? Ketimbang mengirim hoax, ada baiknya hidup dihabiskan untuk bermain dengan cucu, jika punya cucu. Berkebun dan menyiangi rumput di halaman, membaca koran sambil meminum teh. Melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat atau bahkan mendekatkan diri pada Tuhan (jika masih percaya Tuhan). Atau bahkan melahap buku, seperti bapak mertua saya, volunteering seperti Ibu mertua saya yang usianya sudah menginjak kepala tujuh, bikin kerajinan dan sibuk pameran seperti ibu saya. Bukan dihabiskan dengan menyebarkan hoax di grup-grup WhatsApp. 

Sebelum mengirimkan hoax, ada baiknya juga kalian baca sampai selesai. Selain mempertanyakan apakah topik tersebut benar, tanyakan pula apakah ini akan menyakiti orang lain. Bisa bayangkan bagaimana muka mereka yang bukan pemeluk agama Islam ketika membaca tulisan bahwa UNESCO mengeluarkan informasi bahwa Islam adalah agama paling damai di dunia. Tak susah mencari informasi kepanjangan dari UNESCO dan mandatnya. Tak susah juga mencari tahu bahwa berita ini adalah hoax basi yang sudah pernah diklarifikasi. Klasifikasinya bahkan masih terpampang di situs UNESCO.

Akhir kata, ijinkan saya anak muda ini memberi tahu kalian para orang-orang yang harusnya mengajari saya kebijaksanaan dan kehati-hatian, apalagi dengan segala kedewasaan umur kalian, bahwa hidup ini bukan kompetisi. Tak perlu kita berlomba-lomba jadi yang pertama untuk menyampaikan informasi yang salah. Salah-salah informasi hoaxmu itu bisa membuat orang jantungan. 

Sekali-sekali, kebo nusu gudel* ya, para Tante, Oom.

Salam sedikit hormat,
Ailtje

Kebo nusu gudel merupakan peribahasa Jawa yang berarti orang tua belajar dari yang lebih mudah. 

 

Advertisements

Perdebatan Cincin Berlian 

Pada saat maka siang beberapa waktu lalu saya dan teman kantor berdiskusi soal berita yang menjadi viral. Seorang perempuan di Australia, kalau saya tak salah, protes kepada pasangannya di media sosial. Protest perempuan ini tentang cincin pertunangannya yang berharga 1300 saja, entah euro atau dollar.

Ia nampaknya kecewa karena harga cincin ini tak sepadan dengan gaji pasangannya yang enam digit. Enam digit itu berarti setidaknya 100,000. Ini gaji per tahun ya, bukan gaji perbulan. Perempuan ini dihujat habis-habisan karena dianggap matre. Saya sendiri melihatnya tak pantas ngomel kepada tunangan di media sosial. Kenapa tak langsung kepada tunangannya saja, biar gak jadi benjolan di hati dan biar jadi pertimbangan apakah hubungan perlu dilanjutkan atau tidak. Walaupun aneh juga kalau tiba-tiba nanya: “Eh tunangan, kenapa kamu beli cincinnya yang murah meriah, gak beli yang super mahal?”

Nah pada saat makan siang itu semua orang berdebat panjang soal berapa jumlah angka yang pantas diinvestasikan untuk cincin berlian. Bagi saya, perdebatan soal harga cincin ini adalah perdebatan yang tak akan selesaikan, karena kemampuan dan selera orang berbeda-beda. Pendapatan orang, tabungan, cicilan dan hutang orang juga masing-masing. Kendati penghasilan tinggi, kalau cicilannya tinggi otomatis tak banyak uang tersisa untuk membeli cincin.

Bagaimana dengan norma kepantasan membeli cincin pertunangan. Soal ini pendapat orang bermacam-macam. Ada yang bilang setidaknya tiga kali gaji kotor. Berarti, dalam kasus di atas, setidaknya 25k, dua puluh kali lipat dari uang yang dia habiskan untuk membeli cincin. Tapi tentunya aturan tak tertulis ini tak bisa digunakan oleh semua orang, karena kasus orang berbeda-beda. Tengoklah Kate Middleton yang mendapatkan cincin warisan Lady Di. Kocek yang dirogoh mungkin hanya sebatas mengganti cincin yang ukurannya pas saja.

Balik lagi, pilih-pilih cincin ini memang kondisi keuangan masing-masing. Walaupun kenyataannya di beberapa kultur, pria-pria memaksakan diri mengambil pinjaman dalam  jumlah besar demi membeli cincin berlian dari butik ternama. Yang pelit sendiri juga ada, saya setidaknya tahu satu orang yang membeli cincin pertunangan dengan mata “sebesar pasir” yang kemudian menjadi bahan tertawaan banyak orang, termasuk pria-pria.

Di kultur kita sendiri, cincin pertunangan bukanlah sebuah hal yang penting. Di barat sendiri saya perhatikan cincin pertunangan sering menjadi acuan untuk menunjukkan sudah dilamar. Cincin yang dipasang di jari kiri ini juga menjadi pengingat bahwa yang bersangkutan sudah dilamar, tak boleh digoda-goda lagi.

Ketika saya bertunangan beberapa tahun lalu, teman-teman saya (yang orang asing) pada heboh ingin melihat cincin pertunangan. Setelah melihat cincin kawin, pembicaraan tentang rencana perkawinan pun dibahas. Mereka ini heboh bertanya rencana, tapi tak ada satupun yang minta diundang. Bagi mereka, mendengar orang lain bertunangan saja sudah menyenangkan.

Orang-orang Indonesia yang saya kenal juga bertanya hal yang serupa, tapi ada satu pertanyaan berbeda yang membuat saya tak nyaman. Berapa karat kah cincin tunangan saya? Padahal, mengukur sebuah berlian itu tak hanya dari karatnya saja, tapi ada faktor-faktor lainnya. Lagi pula, apa pentingnya.

Pada akhirnya, karat cincin itu, bagi saya, bukan sebuah hal yang penting. Yang terpenting tentunya, cinta kami berdua, dijaga supaya tak karatan. #ApaSih. Tapi kalau kemudian bagi orang lain carat, cutting, colour and clarity dari cincin mereka lebih penting, ya urusannya masing-masing. Yang penting dibawa seneng aja.

Cincin Tiffany seperempat juta yang saya temui di Prague. Kayaknya kalau pakai ini gak bakalan happy, tapi penuh ketakutan. Takut hilang.

Kalian, pakai cincin pertunangan juga?

Tradisi Kirim Kartu Ucapan di Irlandia

Memberi kartu ucapan pada hari-hari penting itu bukan sesuatu yang asing bagi kita semua. Tetapi di Indonesia tradisi ini di Indonesia bisa dikatakan hampir mati, atau di banyak tempat bahkan sudah mati.

Di Irlandia, tradisi mengirimkan kartu masih menjadi tradisi yang dijalankan banyak orang. BUAAAAANYAK lebih tepatnya. Mengirimkan kartu (dan minum teh) adalah bagian dari nafas orang Irlandia.

Natal dan kartu tentunya menjadi momen terbesar dalam urusan pengiriman kartu. Di toko-toko buku, kartu dalam wadah dan dalam jumlah banyak (setidaknya enam atau dua belas buah) dijual dengan harga yang tak begitu mahal. Bahkan, beberapa organisasi menggalang dana dari penjualan kartu ini. Dua tahun lalu misalnya, kartu-kartu pilihan saya jatuh untuk organisasi yang terkait dengan kanker, tahun kemarin saya tak begitu ingat.

Infographic: moo.com

Selain Natal, Valentine mungkin, mungkin lho ya, menduduki posisi penting lain untuk pemberian kartu. Saya bilang mungkin karena saya memang tak punya statistiknya. Di saat Valentine, kartu-kartu dijual dengan harga yang sedikit lebih mahal. Mungkin karena momennya.

Hari khusus lain yang juga dirayakan dengan kartu adalah hari Ayah dan juga hari Ibu. Toko buku biasanya tak hanya menawarkan kartu khusus, tapi juga berlomba-lomba memberikan inspirasi hadiah. Saya sendiri tak pernah ingat tanggal-tanggal ini, karena mengandalkan hiasan di toko.

Selain hari-hari khusus di atas, kartu juga banyak dikirimkan pada saat ulang tahun. Keluarga saya di sini tak absen memberikan kartu untuk setiap ulang tahun (kadang kartu ini juga diselipi dengan uang 🤣). Kartu juga seringkali menjadi alasan untuk bertemu. Kalimat yang sering saya dengar biasanya: “Oh saya harus mampir ke rumahmu untuk memberikan kartu”.

Selain pada tanggal penting dan ulang tahun, kartu juga diberikan pada momen penting lainnya. Lulus ujian SIM misalnya, dapat kartu. Pindah rumah baru atau membeli rumah juga diberi kartu. Promosi pekerjaan juga ada kartu khususnya. Pendek kata, koleksi kartu ucapan yang terkait momen hidup di Irlandia cukup lengkap. Dari mulai kelahiran, pembabtisan, komuni pertama, konfirmasi, kelulusan ujian, pertunangan, perkawinan hingga kartu ucapan duka atas kematian (di sini tak lazim mengirim bunga & keluarga biasanya menolak).

Dari semua momen memberikan kartu, saya paling suka dengan kartu ucapan terimakasih. Terimakasih untuk apapun, dari sekedar mendengarkan keluh kesah hingga menjaga binatang peliharaan. Rasanya senang sekali kalau dapat kartu ini.

Kartu-kartu yang diberikan akhirnya akan berada di tempat sampah. Tapi sebelum dibuang ke tempat sampah, kartu-kartu ini akan dipajang di rumah. Biasanya, di atas perapian. Saat Natal bahkan ada ornamen khusus yang berfungsi untuk memamerkan kartu ini; modelnya pun aneka rupa, salah satunya model tali jemuran (digantung).

Harga kartu ucapan sendiri beraneka rupa, dari yang murah hingga yang mahal. Biasanya, semakin tinggi kode kartu semakin mahal harganya. Misalnya, kartu dengan kode 30 akan lebih murah ketimbang kartu dengan kode 70. Ada banyak cara mengakali anggaran belanja kartu, salah satunya dengan membeli di toko yang menjual semua produk dengan harga 1.50 Euro. Tentu saja kualitasnya tak seperti Hallmark.

Tradisi memberi kartu ini juga melanggengkan hobi membuat kartu. Hobi yang memerlukan perhatian pada detail dan juga jiwa seni ini bisa menghasilkan uang, jika pelakunya mau menjual. Saya sendiri pernah membeli beberapa kartu buatan tangan, salah satu kartu yang saya beli kartu 3 dimensi yang bisa menjadi wadah kotak dengan berbagai bunga kertas. Kartu tersebut saya berikan ke Ibu mertua dan selama satu tahun terakhir berada di jendela rumahnya sebagai hiasan. Saya girang, yang membuat kartu juga senang mendengarnya.

Kapan terakhir kali kalian memberi kartu ucapan untuk orang-orang terdekat?

xx,

Tjetje

Susahnya Hidup Tanpa Plastik

Bulan Juli sudah berlalu, katanya bulan tersebut adalah bulan untuk diet plastik, atau tanpa plastik. Faktanya saya susah banget untuk tidak menggunakan plastik. Jadi izinkan saya untuk mengaku dosa, saya pendosa besar dalam mengkonsumsi plastik yang berkontribusi merusak lingkungan dan membuat hidup para hewan susah.

Air minum kemasan

Dosa terbesar saya dalam mengkonsumsi plastik adalah air minum kemasan. Di tempat saya bekerja, air minum kemasan ini disediakan secara gratis. Setiap hari saya setidaknya mengkonsumsi tiga hingga empat botol, tergantung berapa lama saya harus berbicara. Untuk mengurangi konsumsi plastik botol dari stainless steel sudah pernah dibagikan. Botol yang dibagikan pun oke punya, keluaran Klean Kanteen dengan insulasi yang sangat bagus. Air hangat bahkan bisa tetap hangat hingga lebih dari 12 jam. Sementara air dingin juga akan tetap segar, bahkan es batunya seringkali masih ada, tak sepenuhnya mencair. Saya punya beberapa botol ini, tapi selalu lupa membawa ke kantor dan tiap kali dibawa ke kantor, selalu terbawa lagi ke rumah. Tobat deh, mungkin sudah saatnya saya meninggalkan satu di kantor, satu di rumah dan satu di dalam tas saya untuk dibawa-bawa. Nampaknya bertobat itu memang tak murah, mengingat kalau beli sendiri, di Dublin, harganya mencapai lima puluh Euro.

Plastik rumah tangga

Selain botol plastik, saya mengkonsumsi banyak plastik di dapur rumah. Konsumsi terbesar saya untuk plastik pembungkus (zip lock). Freezer saya tertata rapi, dari tempe, cabai, hingga aneka rempah saya simpan dalam plastik individu. Kalau dilihat cantik dan sangat rapi. (Nanti kapan-kapan saya bikinkan tour freezer lagi ya di IG story). Soal yang satu ini sedang saya coba kurangi. Saya dengan mengumpulkan botol-botol kaca supaya cabe bisa langsung saya hancurkan untuk masuk ke botol. Tapi tempe, saya belum menemukan solusinya. Tempe-tempe saya tertata rapi dalam porsi delapan potong, supaya kalau menggoreng tak perlu repot. Kotak plastik freezer sendiri tak memungkinkan, karena sudah beberapa hancur akibat dinginnya freezer. Mungkin ada yang bisa membantu memberi ide?

Plastik dari supermarket

Di samping dua hal di atas, sampah plastik di rumah kami juga datang dari supermarket. Supermarket lokal kami menggunakan banyak plastik. Tomat terbungkus plastik, daun bawang dibungkus plastik dengan rapat, ketimun pun dibungkus satu-persatu dengan plastik. Banyak produk segar lainnya juga dibungkus plastik supaya tak cepat layu. Soal ini, sudah beberapa kali di bahas di media di Irlandia, tapi baru satu supermarket yang melakukan aksi nyata untuk mengurangi konsumsi plastik. Sisanya penuh dengan plastik.

Yang menyebalkan, beberapa banyak plastik yang kami gunakan ternyata tak bisa didaur ulang. Di sini, kebanyakan produk memberikan informasi materi pembungkusnya dan apakah pembungkus tersebut dapat didaur ulang atau tidak. Produk daging misalnya, seringkali plastik pembungkusnya plastik film yang tak bisa didaur ulang, otomatis plastik ini harus dibuang ke tempat sampah hitam dan biaya pembuangannya lebih mahal. Lima kali lipat dari pembuangan sampah yang bisa didaurulang. Lingkungan rusak, kantong pun bocor.

Plastik belanjaan

Di Irlandia sendiri plastik untuk membungkus belanjaan tak diberikan dengan gratis, harus membayar. Kantong plastik biasanya dihargai 70 sen. Kantong ini sendiri cukup kokoh dan biodegradable. Saya sendiri memiliki kantong belanja dari kain, buatan Ibu saya. Kantong-kantong ini saya simpan di bagasi mobil, jadi kapapun saya belanja, tak perlu repot beli plastik. Tahun ini, ibunda saya akan berkunjung lagi dan saya sudah pesan khusus, tas belanja dengan motif-motif Indonesia.

Sedotan

Dari segala dosa di atas, ada satu hal yang saya tak merasa berdosa: sedotan. Saya tak senang menggunakan sedotan, alasannya sederhana: sahabat saya yang menyukai ilmu pengetahuan berkata bahwa minum dengan sedotan itu tak sehat. Saya begitu mempercayai ucapan sahabat saya ini (dan tak pernah repot mengecek kebenarannya), yang jelas informasi ini terpatri di kepala saya. Jangan minum dengan sedotan, tak sehat. Alhasil, ketika melihat sedotan stainless Klean Kanteen beserta sikat penggosoknya di toko, saya tak tergoda. Minum buat saya ya harus ditegak, biar puas.

Bagaimana konsumsi plastik kalian?

Xx,
Ailtje

Obsesi: Rambut Lurus

Rambut saya itu tak jelas, kadang-kadang keriting, kadang-kadang ikal, tapi yang jelas rambut saya tak pernah lurus, melambai-lambai seperti para gadis iklan shampoo itu. Menjadi orang berambut keriting ikal bagi saya bukanlah sebuah hal yang mudah. Setidaknya, ini pengalaman saya sebagai anak remaja lebih dari satu dekade yang lalu.

Dengan berbagai tekanan sosial yang ada, berambut tak lurus itu berat. Bagaimana tak berat? rambut yang sudah diolesin minyak cem-ceman ini begitu susah diatur, baru disisir sebentar sudah berantakan lagi. Lalu, lingkungan sekitar memuja rambut lurus. Setiap kali ada yang berambut lurus dipuji-puji, rambutnya bagus, mudah diatur dan segala puja-puji indah lainnya. Sementara yang rambut keriting, boro-boro dipuji, diingat sama produk shampo juga engga. Semua model iklan shampo pada jaman itu menunjukkan rambut lurus, panjang, hitam dan berkilau. Yang keriting? gak ada, karena kami yang berambut keriting memang terpinggirkan dan tak pernah diingat.

Sebagai remaja labil, memiliki rambut yang kemudian tak dianggap sebagai rambut ideal, saya berusaha untuk fit in dengan kondisi lingkungan. Apalagi, komentar-komentar tak sedap tentang rambut keriting bermunculan (tambahkan pula warna kulit yang tak putih di situ, hidup makin berat). Saya pun memantapkan hati untuk meluruskan rambut, saat itu metode meluruskan yang tersedia hanya dipapan, entah kenapa namanya keriting papan. Rambut diluruskan dengan obat, kemudian papan-papan plastik ditempelkan untuk meluruskan rambut tersebut.

Proses meluruskan rambut dengan papan itu tak mudah, saya harus menghabiskan setengah hari duduk di salon, membaca banyak majalah, memakan banyak gorengan dan sakit leher dan pundak karena menyangga puluhan papan plastik demi rambut lurus. Belum lagi, hidung harus terus menghirup bau obat yang tak sedap. Perjuangan saya membuahkan hasil: rambut saya jadi lurus, lurus palsu tentunya. Tapi ternyata ada bencana kecil, salah satu bagian rambut saya masih keriting, lokasinya persis di bagian belakang dan di tengah, jadi tak mungkin tak terlihat. Salon Harry yang ketika itu berlokasi di jalan Gajahyana di Malang tak mau bertanggung jawab. Sejak itu saya tak berhenti menyumpahi mereka atas ketidakprofesionalannya dan menolak untuk kembali lagi. Ongkos kerusakan untuk rambut lurus setengah jadi ini 150 ribu rupiah.

Rambut lurus ini tak bertahan lama, karena kemudian rambut asli mulai bermunculan. Lalu timbulah bencana lain, rambut keriting kecil-kecil yang tumbuh di akar kepala, bersanding manis dengan rambut lurus hasil . Sungguh sebuah hal yang aneh, tapi juga namanya remaja labil, ya tak mau melihat keanehan tersebut.

Begitu kuliah, saya masih tetap meluruskan rambut, kali ini berpindah ke sebuah salon kecil di sebuah gang di jantung kota Malang. Biarpun kecil dan nyempil di sebuah gang, salon ini begitu terkenal. Proses meluruskan rambut tak menggunakan papan lagi, tapi menggunakan teknologi rebonding. Rambut dicuci bersih, kemudian dicatok hingga lurus dan indah, lalu diberi obat dan didiamkan selama beberapa jam. Setelah itu rambut dibilas dan dicatok kembali. Hasilnya rambut lurus palsu juga, tapi kualitasnya jauh lebih baik dan terlihat lebih normal. Saat itu biayanya 300 ribu rupiah. Untuk ilustrasi saja, biaya kuliah saya di sebuah kampus negeri saat itu 325 ribu rupiah setiap semesternya.

Sumber: http://tallncurly.com
Coba cek deh komiknya kocak-kocak.

Untuk menjaga keindahan rambut saya yang sudah lurus dan indah, saya pun rajin perawatan, bahkan lebih sering keramas di salon ketimbang keramas di rumah. Harap maklum, jaman itu belum tahu bagaimana kerasnya mencari uang. Lalu komentar apa yang diterima setelah rambut diluruskan? Tentunya pertanyaan tentang mengapa rambut harus diluruskan yang ditemani dengan rontoknya rambut karena terpapar bahan kimia.

Obsesi dengan rambut lurus ini tak hanya dialami oleh saya saja, tapi banyak orang lain yang mengalaminya, perempuan dan pria. Salah seorang teman pria di kampus saya meluruskan rambutnya, demi punya rambut gondrong yang oke punya. Tentu saja rambutnya jadi gondrong lurus palsu ditemani rambut-rambut keriting.

Sementara itu, teman kuliah lainnya nekat meluruskan rambut menggunakan setrika. Alat setrika untuk pakaian itu. Kepalanya diletakkan di meja setrika, lalu teman kosnya membantu meluruskan rambut tersebut. Saat itu catokan rambut masih sangat mahal, bukan ratusan ribu rupiah, tapi jutaan.  Saya kemudian merekomendasikan meluruskan rambut di salon langganan saya. Hasilnya,  teman saya puas dengan rambut lurus, saya pun mendapatkan perawatan gratis dan ekstra uang tunai sebagai tanda terimakasih dari pemilik salon, dua puluh ribu rupiah. Hati pun riang gembira.

Begitu saja beranjak dewasa, saya mulai belajar menerima dan mencintai rambut saya. Saya tak tergoda lagi untuk meluruskan rambut, apalagi ketika melihat betapa anehnya rambut saya ketika rambut-rambut keriting tersebut mulai tumbuh. Sejak lepas dari salon, saya merawat rambut sendiri dengan menggunakan produk shampo dan pelembab organik (di Jakarta saya menemukan beberapa produk organik impor yang begitu bersahabat dengan rambut keriting saya). Belajar dari pengalaman ini saya jadi tahu bahwa proses mencintai rambut sendiri tak mudah, perlu waktu lama. Dan saya tahu, masih banyak orang-orang yang berjuang mencintai rambutnya sendiri. Semoga satu saat nanti, mereka bisa mencintai rambutnya, seperti saya mencintai rambut saya.

Kalian, punya masalah dengan rambut?

xx,
Tjetje

 

Penitipan Anak

Beberapa waktu lalu, di Luas, tram Irlandia, saya mendengarkan dua perempuan mengobrol dengan kencang dan mereka tak sedang berdekatan. Nampaknya, mereka sudah lama tak bertemu dan mereka saling mengupdate status masing-masing.

Salah satu dari mereka sudah menjadi nenek dengan tiga orang cucu, kendati anak-anaknya baru menginjak awal dua puluh tahun. Dari nguping ini saya kemidian jadi tahu kalau si nenek tak mau menghabiskan hidupnya mengasuh cucu. She has life, begitu menurut si nenek. Makanya dia engga dititipi cucunya.

Sikap nenek ini berbeda dengan di Indonesia, begitu anak kawin langsung disuruh buru-buru punya anak supaya sang kakek dan nenek, yang biasanya menginjak usia hampir pensiun, bisa menghabiskan masa tuanya mengasuh cucu. Istilah setelah pensiun jadi MC pun muncul, bukan Master of Ceremony, tapi momong cucu (mengasuh cucu), gratis pula.

Saya, hobinya momong anjing orang

Di Irlandia, tak lazim memang menitipkan cucu pada neneknya, walaupun ada juga yang tak berkeberatan. Lalu di mana anak-anak ini dititipkan ketika orang tuanya bekerja? biasanya mereka dititipkan ke penitipan anak, mereka berada di sana sejak pagi hingga sekitar pukul tujuh malam.

Yang tak bekerja dan punya sedikit uang pun ada yang melakukan hal ini supaya bisa mendapat kebebasan, me time & sang anak bisa beninteraksi dengan anak kecil lainnya. Ongkos penitipan anak sendiri beraneka ragam, tergantung lokasi dan jumlah anak yang dititipkan. Kalau si anak punya kakak yang juga dititipkan, biasanya bisa mendapatkan sedikit diskon. Jadi berapa ongkos nitip anak? Bisa ratusan hingga ribuan Euro. Mahal? Relatif.

Di Irlandia sendiri juga ada penitipan gratis, tapi biaya penitipan gratis dari pemerintah hanya diberikan ketika si anak berusia dua tahun delapan bulan dan hanya hingga si anak masuk primary education. Setelah dan sebelum itu, orang tua harus merogoh koceknya. Tak heran kalau kemudian banyak ibu-ibu muda dengan gaji yang tak sepadan yang kemudian memilih untuk berhenti bekerja ketimbang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membayar penitipan anak.

Selain penitipan anak, banyak orang juga mengambil tenaga au pair, wah tenaga au pair di sini banyak diperas tenaganya karena tak ada aturan mengenai jam kerja mereka. Mereka juga tidak dilindungi hukum. Kebanyakan au pair ini berada di Irlandia untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Jadi mereka menjaga anak ketika hari kerja dan kursus bahasa Inggris di akhir pekan. Berapa uang yang mereka terima? Tergantung kebaikan, kalau apes ya tak dibayar/ dibayar minimum, disuruh jaga anak, bersih-bersih, hingga memasak. Lalu buntutnya harus ke pengadilan untuk menuntut gaji. Tentu saja kasus seperti ini jarang terjadi.

Penutup

Beberapa orang mungkin ada yang bertanya mengapa orang tua tega menitipkan & meninggalkan anaknya seharian pada orang asing. Lha mau gimana lagi? Kondisi di sini memang berbeda, gak bisa seenaknya meminta si nenek mengasuh anak 365 hari.

Lagipula, di penitipan anak ini mereka justru bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Tumbuh kembang mereka juga diawasi oleh tenaga profesional yang punya kualifikasi. Gak sembarangan orang bisa bekerja di penitipan anak.

Di penitipan anak juga mereka bisa jatuh cinta, cinta monyet tentunya. Seorang bocah ingusan yang belum genap empat tahun jatuh cinta pada keponakan perempuan saya & satu hari keponakan saya tak masuk untuk dititipkan. Bocah itu menangis histeris dan tak bisa dihentikan, sampai ipar saya ditelpon. Lha bisa apa ipar saya, wong gak ikut punya anak. Akhirnya, untuk menenangkan si bocah ingusan itu, dia diberi obat pereda demam, biar lebih tenang. Ah cinta monyet.

Di tempat kalian tinggal, anak-anak dititipkan di mana ketiga orangtuanya bekerja?

xx,

Tjetje

Belanja Properti di Irlandia

Indonesia yang terkenal dengan birokrasi ribet itu, ternyata tak begitu susah kalau untuk urusan beli properti. Pengalaman dan sepengetahuan saya, beli rumah di Indonesia itu “semudah beli kacang”, tentunya selama urusan surat-surat rumah beres. Urusan rumah juga seringkali tanpa makelar, langsung dibeli dari pemilik rumah. Urusan dokumen sendiri diselesaikan di notaris. Urusan cepat, tak perlu sampai berbulan-bulan, bahkan tahun.

Urusan KPR

Belanja rumah dengan mengambil KPR di Irlandia itu prosesnya ribet. Semenjak krisis, pemerintah Irlandia hanya akan memberikan maksimal 3,5 kali lipat dari gaji per tahun. Untuk profesi-profesi tertentu, aturan memperkenankan hingga 4,5 kali lipat saja. Sebagai ilustrasi, orang-orang yang bekerja penuh dengan gaji UMR bergaji 22k/ tahunnya, artinya mereka bisa mendapatkan KPR maksimal 77k. Cari rumah di Dublin dengan harga segitu itu sama dengan mission impossible. Apartemen? Apalagi.

KPR bagi pasangan sendiri sangat dimungkinkan, gaji pasangan digabung, tapi aturannya tetap sama, maksimal 3,5 kali lipat dari gaji berdua. Selain aturan di atas, orang-orang yang akan membeli rumah juga wajib memiliki setidaknya 10% uang muka. Uang muka ini hanya untuk pembelian rumah pertama, pembelian rumah kedua (dan seterusnya), harus memiliki uang muka setidaknya 20%. Bank di sini memang hanya diperkenankan memberi 90% KPR.

Sebagai WNI yang paspornya hijau, apalagi saya anak baru yang baru pindah ke Irlandia, eksistensi saya tak dianggap oleh banyak bank di Irlandia. Mau punya uang muka banyak pun, kebanyakan bank tak akan peduli, bagi mereka saya alien. Nah apalagi uang saya tak banyak. Makin tak peduli lah mereka.

Broker KPR

Nyari KPR sendiri di sini bisa lebih mudah, karena adanya broker. Broker berlisensi ini akan menguruskan permohonan KPR, mereview kondisi keuangan kita dan mencari bank dengan tawaran terbaik. Jeleknya, broker-broker ini cenderung akan memilih bank yang memberikan mereka komisi terbaik. Jasa broker ini macam-macam, ada yang gratis (karena bank memberi mereka komisi 1% dari KPR) ada pula yang biaya jasanya beberapa ratus Euro.

Memilih rumah

Begitu mendapatkan surat persetujuan KPR, perburuan rumah pun bisa dimulai. Bisa rumah baru, ataupun rumah bekas. Di Dublin dan sekitarnya, rumah baru sangat susah didapat, karena tak banyak pembangunan rumah baru. Sementara, mereka yang mencari rumah jumlahnya melebihi ketersediaan. Akibatnya, ketika penjualan dibuka dipagi hari, orang rela kemah dari semalam sebelumnya demi menjadi pembeli pertama.

Mencari rumah yang tak baru sendiri persaingannya tak kalah kejam. Open house untuk menunjukkan rumah pun biasanya dipenuhi dengan banyak orang. Akibat terbatasnya jumlah rumah yang ditawarkan, harga beli rumah pun sering melonjak tajam. Di sini, mimpi buruk pembeli rumah adalah bidding war. Bukanlah hal yang aneh jika pemilih rumah mengharapkan 20-30 ribu lebih dari harga rumah yang ditawarkan. Beberapa bahkan bisa dapat ekstra 50-60 ribu. Rumah baru pun juga sama, banyak yang rela membayar lebih mahal dari harga yang ditawarkan. Gila.

Silahkan tengok website ini kalau mau tahu gilanya properti di sini.

Proses pembelian rumah

Ketika sudah menemukan rumah yang dimau & terdapat kesepakatan harga, maka proses pembelian sudah bisa dimulai. Proses tawar menawar rumah sendiri berlangsung bersama agen rumah. Semua komunikasi melalui mereka.

Begitu pula dengan urusan legal, semua melalui solicitor. Dari tanggal masuk rumah hingga penutupan semua rekening di rumah (e.g sampah, listrik, gas) pun harus melalui solicitor.

Di awal proses legal ini, rumah harus disurvei terlebih dahulu. Akan ada ahli khusus yang melihat semua sudut rumah dan membuat rekomendasi perbaikan. Contohnya, perapian penuh dengan ranting dan harus diperbaiki, tangki air perlu diganti. Semakin banyak masalah di rumah tersebut, semakin panjang rekomendasinya. Survey ini sendiri juga tak gratis, bisa beberapa ratus hingga ribu Euro.

Proses legal pembelian rumah bisa memakan waktu lama, bahkan berbulan-bulan. Selain Birocrazy, kadang-kadang ini terkait dengan pemilik rumah. Mereka bisa minta beberapa bulan waktu menunggu, karena mereka harus mencari rumah pengganti, padahal cari rumah itu ribet. Beberapa orang yang saya kenal bahkan ada yang proses pembelian rumah mencapai satu tahun.

Begitu proses pembelian selesai, kunci rumah diserahkan oleh agen, jadi pemilik rumah lama tak bertemu dengan pemilik baru. Di sini, bertemu dengan pemilik lama memang kurang lazim.

Perjalanan kami berburu rumah idaman sangatlah panjang, lebih dari satu tahun. Akhir pekan habis untuk keliling mencari rumah dan furniture. Tapi perjalanan panjang ini membuat saya bersyukur atas banyak hal, termasuk bersyukur di sini tak ada adat kebiasaan “makelar tanpa guna” minta 2,5% dari harga rumah tanpa kontribusi yang signifikan. #IndonesiaBanget

Kalian, punya cerita berburu tempat tinggal dari kos, apartemen, rumah?

xx,

Tjetje