About Tjetje [binibule.com]

The spicy lady behind binibule.com and pasporhijau.com

Thing Indonesians Like: Durian

Just like Jakarta, the big durian, you are either going to love it or to hate it. There is no in between.

Durian is being judged as the world’s smelliest fruit, it has distinctive odor and sometimes described to have the stench of old gym socks. The lovers of this King of fruit will argue that the spicy fruit has a sweet smell. The chewy flesh is so soft, like a cream cheese mix with custard.

This fruit is so powerful, it could divide a family into two, the haters and the lovers. The pungent smell would stop the haters from having them around the house, while the lovers would do anything to have them. The fight about durian in the family could be nasty, as durian haters feel they deserve fresh air, free from the potent stench of the fruit. While for the lovers, the smell is not really that bad.

I was once a durian hater, but I was converted by a former colleague. One evening, we were sitting in a durian place, not far from Hermes Palace Hotel in Banda Aceh.  My former colleague ate durian passionately, so passionate that I think she was having duriangasm. It’s the foodgasm caused by a delicious durian.

Not knowing the pleasure of eating durian (and obviously wanted to have duriangasm), I decided to try it. It was one of the best decisions I’ve ever made and thankfully, it was one of the best durians I’ve ever had. The smell of the durian was not strong, perfect for newbie like me; they said it was fresh from the tree. Hence, less smelly. That night, we combined the durian with sticky rice, like a real Banda Acehnese, and it was a lip-smacking combination.

For Indonesians durian lovers, travelling around the country means tasting local durian. I traveled to different places in Indonesia to see the country and to taste durian, but the one place that I could never forget is Medan, a city famous for all-year round durian. A famous durian seller from the city, even claims, you haven’t been to Medan, if you haven’t taste Ucok Durian.

Durian Medan is so famous that Indonesians like to bring them back home as oleh-oleh (gift). Despite the ban from airlines to bring them to the cabin, people still find a way to “smuggle” durian. The seller will pack fresh durian flesh in a plastic box, wrapped with few layers of plastic, covered with a spoonful of coffee powder before re-wrapping it with another plastic. It is belief that the coffee would eliminate the smell of the durian. A former colleague tried it, but the flight attendants cannot be fooled.

Despite our love to durian, people hate the idea of having durian in a flight. Recently, a Sriwijaya Air flight was delayed as the passengers weren’t happy with the smell of durian inside the cabin. The airline carried three tonnes durians and some passengers claimed it as a safety hazard. They walked out from the flight and refused to fly. It’s either them or durian. The case of people vs durian was unfortunately won by the people.

Fearing of flying with durian came from the incident that happened in 2005, Mandala Airline crashed in Medan and more than 2 tonnes of durian was found in the scene. Up until today, there are still too many people who believe the crash was caused by the durians, not the engine.

What’s the best way to eat durian? Fresh durian would still be the best way to eat it and in Indonesia, we like them ripe. A combination of durian with sticky rice (like the one I had in Banda Aceh) is also good. There are also people who eat durian with rice, many of us would find this weird. Durian can also be processed “for a snack”, such as pancake, glutinous rice cake, ice cream, cheesecake, pizza and the list go on.

Durian is claimed to be dangerous for health, as it might increase cholesterol level. It is of course a myth. Turn out, durian has no cholesterol. People also believe that people could get drunk if they eat too much durian, as it contains alcohol. In Indonesia, we call it mabuk durian. Despite the myths, the smell and the hates we receive for loving them, our love for durian is undeniable. We love it so much that some of us bring it to the bedroom, as a durian flavour condom (okay this is too much!).

Do you love durian?

xx,
Tjetje

Advertisements

Duka Cita dan Komentar Nyinyir Netizen

Tinggal jauh dari tanah air itu bukan hal mudah, banyak hal-hal yang kelewatan karena jarak. Adanya media sosial sedikit membantu mengobati kerinduan itu, tapi tetep aja rasanya gak akan sama, apalagi kalau berhubungan dengan urusan duka cita. Tahun ini, saya kehilangan beberapa orang di tanah air, dari mulai yang masih terikat keluarga, hingga teman yang pernah dekat dan besar bareng. Rasa sakitnya kehilangan karena jauh, jangan ditanya.

Teman saya ini saya kenal sejak kelas enam SD, kami kenal karena jaringan arisan Ibu-ibu kami. Saya bahkan masih ingat hari pertama kami bertemu, bayangan dia berdiri  malu-malu di butik ibunya di pusat kota Malang. Pertemanan kami sendiri baru mulai terbangun tiga tahun kemudian.

Dua tahun lalu, ketika saya pulang, saya menyempatkan diri untuk bertemu. Ceritanya menyemangati, tapi malah saya yang berakhir menangis sesegukan. Perjalanan saya ke Indonesia saat itu memang untuk menjenguk beberapa orang yang berjuang melawan kanker, makanya sensi banget saya. Tangisan saya ini bukanlah hal yang patut dicontoh, ini big no no.

Beberapa bulan lalu, kondisi kankernya sudah di tahap akhir. Saya beruntung masih bisa mengirimi hadiah kecil, ngobrol melalui Whatsapp dan juga video call (terimakasih teknologi). Di akhir pembicaraan kami, dia berkata bahwa dia bangga banget dengan saya, karena hal-hal positif yang terjadi di hidup saya.

Ketika saya mendegar ia berpulang, saya tak berhenti menangis, hingga beberapa hari. Padahal kami ini sudah tak terlalu dekat lagi, karena jarak dan juga karena kesibukan masing-masing. Kendati tak terlalu dekat, saya berduka, karena kehilangan seorang teman, karena anak-anaknya kehilangan seorang ibu, karena ibunya kehilangan anak perempuan dan karena suaminya kehilangan pasangan jiwa. Mungkin orang bilang saya lebay, tapi bagi saya kehilangan teman karena kanker itu, menyakitkan. I’ve lost too many people because of cancer.

Ini bukan kali pertamanya saya kehilangan teman karena kanker (dan saya berharap ini terakhir kalinya saya kehilangan orang terdekat karena kanker). Saya pun yakin, ini juga bukan pertama kalinya saya berduka dari jauh. Tinggal di luar Indonesia itu tak selamanya enak, karena kita melewatkan hal-hal penting seperti ini. Satu hal yang saya syukuri, saya berduka ketika musim panas, setidaknya saya masih melihat matahari. Ini ternyata penting lho, karena berduka di musim dingin yang minim matahari itu bikin depresi.

Di tengah duka ini, saya berakhir di Instagram seorang pria anak bekas pejabat yang baru kehilangan istrinya. You-know-who, karena si pria ini pernah punya kasus heboh yang mengguncang negeri & banyak orang (termasuk saya) gak ngefans sama yang dia lakukan dimasa lalu. Istrinya, baru-baru ini meninggal dunia dan ia sering mengunggah beberapa foto almarhumah. Saya yang “hanya” kehilangan teman berduka secara dalam, apalagi dia yang kehilangan separuh jiwanya.

Dan duka nestapa itu berubah menjadi emosi jiwa, ketika saya membaca komentar-komentar netizen remah-remah rengginang ini. Salah satunya tak segan berkomentar untuk move on. Disangka kehilangan pasangan jiwa itu bisa move on semudah meremukkan remah-remah rengginang. Luka kehilangan itu tak pernah sembuh sempurna, akan ada lubang yang tak pernah bisa diisi dengan apapun. (Jangan bilang Tuhan!).

Ada pula yang ngasih ceramah panjang soal agama dan hujatan soal dosa yang muncul karena yang berpulang tak mengenakan jilbab. Komentar ini diaminin oleh orang-orang lain yang mempertegas tugas untuk mengingatkan orang lain. Oh sungguh para polisi agama yang merasa paling suci dan mulia sejagat raya. Mereka ini merasa menjadi polisi moral.

Mungkin tak banyak dari kita yang tahu cara mengekspresikan diri ketika melihat orang lain berdua cita di media sosial, mental kita yang suka menghakimi tiba-tiba menyeruak, padahal ada beberapa hal yang jauh lebih baik untuk dilakukan, seperti:

  1. Mengucapkan duka dengan sopan. Syukur-syukur kalau tulus.
  2. Memberi kata-kata penyemangat supaya kuat menghadapi kehilangan. Gak perlu jadi psikolog juga, cukup tunjukkan simpati atas apa yang dialami, tapi juga nggak nyuruh orang untuk move on.
  3. Think twice sebelum posting sesuatu yang gak berhubungan dengan nomor satu atau nomor dua.
  4. Gak membahas dosa orang, kecuali kalau punya nama tengah RESEH.
  5. Diam, karena tak bisa nulis yang baik.

Saya bukan manusia paling suci di bumi ini, saya bergelimang dosa dan mungkin udah punya slot di neraka sana. Saya pun yakin saya gak akan mati moksa, pasti lahir kembali. Tapi bagi saya, membiarkan orang berduka dengan tenang itu tak susah kok. Biarkan orang-orang yang kehilangan kekasihnya, keluarganya, atau orang-orang terdekat lainnya berduka dalam damai, karena hati dan jiwa kami sedang berdarah-darah.

Finally, jangan lupa cek diri kalian, perhatikan kalau ada benjolan aneh-aneh di tubuh. Ini berlaku untuk perempuan dan juga pria. Semoga di tahun baru ini, kita dan orang-orang tercinta kita dijauhkan dari kanker dan kita jadi netizen yang lebih baik dan lebih bijak.

Selamat tahun baru, masih bikin resolusi?

xx,
Ailtje

Tradisi Natal: Sweater Natal

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun, bulan Desember yang gelap dan suram (di sini), hari yang pendek, tapi jauh lebih meriah dengan adanya hiasan-hiasan Natal. Soal suram dan hiasan Natal, semua hiasan saya sudah mulai dipasang pada tanggal 28 Oktober, saat Halloween. Saya yang tak merayakan Natal ini heboh sendiri karena tak punya hiasan Halloween.

Saya tak sendirian, yang menyiapkan Natal sejak awal itu banyak termasuk toko mewah terbesar di Irlandia, Brown Thomas. Mereka sudah punya pasar Natal, atau Christmas market, sejak bulan Agustus kemarin. Iya bulan Agustus. Rasanya memang aneh lihat pernik-pernik Natal di bulan Agustus, tapi mereka memang selalu lebih awal.

Kali ini, saya tak akan membahas salah satu pernak-pernik Natal yang tak pernah dilupakan: Ugly Christmas Sweater. Tradisi ini dimulai entah sejak tahun berapa. Tapi konon gara-gara para Tante yang hobi memberi hadiah sweater Natal yang tak terlihat menarik sama sekali. Awalnya mereka yang menerima sweater ini enggan mengenakan sweater yang terlihat konyol.

Tapi kemudian, tradisi ini menjadi tradisi yang banyak dilakukan, tujuannya yan untuk konyol-konyolan. Tak hanya konyol, beberapa sweater juga nakal dan norak. Semakin aneh semakin okelah. Bulan Desember ini  Bulan Desember orang-orang sudah mulai mengenakan Jumper ini untuk menyempurnakan tradisi Natal. Tentunya ini gak ada hubungan sama sekali dengan acara religius.


]

Selain beli, beberapa orang yang cukup kreatif terkadang juga membuat sendiri. Pastinya ada kebanggaan khusus jika mengenakan barang hasil karya sendiri. Saya sendiri tak akan punya ketelatenan.

Kepopuleran jumper ini kemudian disempurnakan dengan kompetisi, jumper terbaik. Biasanya sih di kantor dan melibatkan hadiah untuk mereka yang mengenakan jumper terbaik, terlucu atau ternorak. Nah kalau untuk urusan Natal gini orang-orang sungguh all out. Tak cuma jumper saja, tapi rambut, kuku, telinga pun dihiasi dengan pernak-pernik  natal, supaya sempurna.

Saya sendiri tak pernah punya Jumper seperti ini, bagi saya tradisi ini “silly”. Tahun kemarin saya harus menggunakan Christmas jumper untuk foto tim, berhasil saya akali dengan minjem jumper lama punya suami. Tentunya jumper ini sukses kedodoran, tapi toh hanya untuk foto, tak terlalu terlihat.

Tahun ini Natal kami jauh berbeda. Natal ini menjadi Natal pertama yang akan kami rayakan di rumah sendiri, Natal pertama dengan pohon Natal asli, Natal pertama jadi host (dan saya harus masak untuk keluarga besar). Dan Natal pertama ini Ibu saya akan datang ke Irlandia (semoga visanya segera disetujui). Dan saya pun membeli silly Christmas jumper, bahkan kaos kaki yang juga tak kalah silly. Saya bahkan sudah jalan-jalan pakai jumper ini sejak awal Desember. Jumper saya ada lampunya dan bisa nyala *norak bener deh*.

Rumah kami pun sudah diwarnai dengan dekorasi sejak Oktober. Tapi ternyata, dekorasi rumah kami tak ada apa-apanya. Tetangga pada heboh-heboh, rumahnya menyala terang benderang dengan lampu-lampu dan aneka pernak-pernik Natal. Dedikasi luar biasa deh.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Natal kami jauh lebih bermakna. Seluruh keluarga besar kami di Irlandia sepakat untuk tidak tukar kado, hanya membeli kado dengan anggaran yang tak terlalu besar untuk anak-anak saja. Dana Natal kami akan dialokasikan untuk seorang anak yang terkena kanker tulang. Kebetulan ayah si bocah ini pernah bekerja untuk salah satu ipar saya, begitu idenya dilempar ke keluarga, semua langsung setuju. Less headache, lebih praktis dan tentunya lebih bermakna. Si bocah ini umurnya baru 14 tahun dan diagnosa kanker ini pastinya tak mudah. Ah Santa, All I want for Christmas is a good health for everyone.

Kalian, punya persiapan khusus untuk musim liburan akhir tahun ini?

 

xx,
Ailtje