Diaspora Palsu: Duta Cuih & Dublin 18

Selama tinggal di Irlandia, saya sudah banyak melihat media sosial menjadi alat untuk berbagi kepalsuan yang sudah dipoles sedemikian rupa supaya supaya orang tampak “wow”. Tapi begitu layar disibak, banyak kebohongan yang diunggah di media sosial demi mencari validasi. Dari yang paling sederhana, gelas cocktail pinjaman untuk konten “have fun“, kunci rumah sewaan yang dipamerkan seolah hasil beli rumah baru, hingga pamer suami baru yang secara hukum masih menjadi suami orang. Semua demi validasi.

Studi kasus: Stephanie, Dymphna, or whoever her name is

Di Irlandia itu gak cuma nama chef aja yang dipasang di situs resto, sommelier pun juga suka ditulis di sana.


Salah satu kisah paling absurd yang pernah saya temui adalah dari seseorang yang menyebut dirinya Dymphna, Stephanie, istri Logan. Di Threads ia memperkenalkan diri sebagai guru lulusan kampus ternama Irlandia, istri selebriti chef yang punya TV show dan bekerja di restaurant Michelin berbintang dua. Suaminya diklaim sebagai korban bom Omagh. Tak cukup, ia pun mengaku sudah mendapat paspor Irlandia hanya dalam waktu 7 bulan ketika lari dari peristiwa politik di Indonesia. Keluarga suaminya dijabarkan sebagai anggota DPR Irlandia yang memiliki supir pribadi dan punya rumah berjejer di Dublin 18.

Ia menggambarkan diri sebagai diaspora yang masih sangat peduli dengan Indonesia. Tapi, kemudian ia dinobatkan sebagai “Duta Cuih” karena perilakunya yang menghina banyak orang Indonesia. “Dasar miskin, dasar 62” menjadi hinaan yang dengan mudahnya ia lontarkan kemana-mana. Tak terhitung berapa banyak diaspora yang suaminya dia hina. Belum lagi banyak ujaran kebencian terhadap seluruh pemeluk agama. Katanya paling peduli sama Indonesia, tapi perilakunya sangat membenci Indonesia dan masyarakat Indonesia.

Saya tadinya tak peduli dengan keanehan dia. Komen-komen dia tak saya gubris, karena saya tak mau berinteraksi dengan manusia sampah yang kerjannya menghina dina orang Indonesia. Sampai kemudian saya dan seorang netijen lain disenggol. Diumpat.

Kami pun menelurusi klaim dia dan menemukan cerita si Dymphna ini penuh dengan kebohongan. Dari soal suami yang tidak eksis dan nama sang chef tidak ada di restauran manapun di seluruh tanah Irlandia. Tidak ada kandidat ataupun TD dari partai apapun yang diklaim sebagai mertua dia. Bahkan cerita mendapatkan kewarganegaraan pun tidak masuk akal, karena bertentangan dengan aturan resmi imigrasi Irlandia.

Sementara di Irlandia pakai ISL, bukan BSL. Dan gak mandatory juga…



Lubang-lubang di cerita dia pun masih banyak, bisa jadi sebuah artikel berseri jika semua lubang ini saya buka. Tapi dari seluruh penelusuran ini, hasil temuan paling epik adalah mbak Stephanie ini masih tinggal di Indonesia, masih memegang paspor Indonesia, bahkan masih nyoblos di Indonesia, bukan di Dublin 18. Ada yang mengklaim ia seorang buzzer, makanya konten yang ia buat sangat vocal menyuarakan ketidaksukannya pada pemerintah dan rajin menyulut amarah dengan ujaran kebencian.

Pajak di Irlandia itu sama untuk seluruh lapisan masyarakat. Gak ada gaji TD bayar pajak lebih tinggi, apalagi gaji mereka gak gede-gede amat. Dokumen pajak di sini juga cuma selembar, bolak-balik, bukan segepok.


Kesimpulannya

Kebohongan si Stephanie ini mungkin terlihat gak harmful, tapi bagi saya, cerita-cerita dia yang tak akurat ini menyesatkan. Fakta kehidupan di Irlandia yang dia bagikan ngaco, sejarah Irlandia dikacaukan. Contoh sederhananya, harga tempe dan bahan pakan untuk masak makanan Indonesia yang murah dan mudah ditemukan ia diceritakan sebagai bahan mahal yang susah ditemukan.

Tempe di Irlandia cuma 2.8, sekilo engga sampai 7 Euro dan ini barang murah, bukan sebuah hal mewah.

Tak hanya itu, narasi palsu soal mencari suaka secara kilat di Irlandia ini juga berbahaya. Orang jadi melihat sistem imigrasi Irlandia itu longgar dan proses pengambilan kewarganegaraan bisa dimanipulasi “hanya dengan jadi mantu TD”. Padahal, prosesnya tak mudah, dan perlu waktu bertahun-tahun.

Stephanie menjadi pengingat bahwa sosial media bukanlan dunia nyata. Banyak orang terobsesi pada validasi hingga harus menciptakan cerita fiktif. Mereka haus dengan interaksi kita, karena interaksi yang kita berikan, memberikan traffic, engagement dan mungkin cuan. Akun dia juga mengingatkan kita untuk tidak mudah percaya dengan media sosial. Jangan pernah lupa untuk mengecek ulang cerita orang.
 
Lalu, dari sekian banyak pengguna media sosial, tetangga dan keluarganya Stephanie ada di mana? Sudah menyerahkan kalian dengan kehaluan dia?

xoxo,
Tjetje

PS: Rentetan kehaluan ini bisa dilihat di pin Thread saya

PPS: Sudah ada temen kuliahnya yang bahas, ternyata emang dia punya gangguan kesehatan dan hidupnya miserable banget. Jadi kehidupan daring adalah “segalanya” buat dia. Semoga dia dapat bantuan, karena dia bener-bener perlu.

2 thoughts on “Diaspora Palsu: Duta Cuih & Dublin 18

    • Coba mampir ke Thread, masih ada orangnya. Abis maki-maki diaspora di Spanyol, gw abis dimaki-maki juga.
      Sekarang lagi aktif ngasih saran ke anak Indonesia yang baru pindah di Dublin.

Show me love, leave your thought here!