Mabuk Bersama Lion Air

Lion Air makes people fly. Mottonya bikin orang terbang, tapi sebenernya terbang disini bukan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi mabuk pelayanan tak ramah khas Lion Air yang bikin otak fly, berhalusinasi, pingin segera sampai tempat tujuan. Saya yang sudah aware dengan layanan mereka, sebenernya sangat menghindari naik pesawat satu ini, saking jarangnya, jari tangan saya nggak habis untuk menghitung berapa kali seumur hidup saya terbang dengan Lion Air (Iya, emang sombong!). Minggu kemaren, saya terpaksa harus naik Lion Air dari Denpasar ke Malang. Alasannya sederhana, karena Erik Meijer belum bukan route Garuda Malang – Denpasar. (Dear Erik Meijer, could you please open a new route for GA from DPS to Malang?)

Antrian

image

Loket sebelah kenapa ditutup??

Sebelum membahas layanan lion air, mari membahas kacaunya kelakukan penumpang di Denpasar (sebenernya di tempat lain juga). Penumpang Lion Air itu nggak bisa tertib kalau antri, beda dengan Garuda. Dalam hal antri, saya selalu berusaha untuk seperti bebek: tertib. Bandara sebenarnya sudah mencoba membuat orang Indonesia lebih cerdas dengan membuat garis yang memberikan batas antara penumpang check-in dengan penumpang antri. Jadi penumpang yang ada check-in sedikit lega karena ada ruang untuk bergerak. Tapi penumpang Lion Air itu kecerdasannya luar biasa, garis yang susah payah dibuat dari uang pajak airport itu dicuekin aja. Jadinya, saya check-in, pria di belakang saya berdiri 30 cm dekat saya. Risih!

Pas antri airport tax, ada seorang penumpang yang nekat mau motong antrian, karena temannya sudah duluan antri di depan saya. Saya nggak pernah suka hal kayak gini dan suka nyolot kalau ada orang bego yang berlaku seperti ini. Jadinya, saya semprot itu mas, nyuruh antri di belakang. Jawaban begonya: “Saya tahu mbak, nggak perlu dikasih tau”. Tapi dia nggak bergerak, tetep berdiri di tempatnya, menunggu saya bayar. Malu hati rupanya.

Btw, waktu saya antri check-in, ada seorang Ibu yang kecopetan. Dia menceritakan detail kejadian kepada dua petugas bandara. Pas saya selesai bayar airport tax, ibu itu ada di sekitar area airpot tax, menceritakan kejadian kecopetan itu kepada petugas lainnya. Duh..kesian banget ini ibu, harus berapa kali dia ngulang ceritanya? CCTV di Ngurah Rai masih dipinjam buat APEC ya?

Penantian Tiada Henti

Selesai check-in, masuk ke ruang tunggu. Kalau ada satu hal yang konsisten dilakukan oleh Lion Air, itu adalah delay! Nggak pernah sekalipun Lion Air ini tepat waktu. Saya seharusnya terbang jam 13.50 dan boarding jam 13.20. Tapi menjelang detik-detik boarding, nggak ada panggilan. Tanya ke ground staff, jawabannya: belum ada informasi. Informasi kalau pesawat delay baru diumumkan sekitar jam 14.00. Hebat kan?

image

Sibuk mbak?

Saya akhirnya memutuskan untuk makan. Pas balik ke ruang tunggu 17 dan 18, itu ruang tunggu udah kayak lautan manusia mau nonton konser gratisan. Penuh. Para penumpang pada duduk di lantai, nggak hanya di ruang tunggu, tapi hingga ke luar ruang tunggu. Saya memutuskan berdiri di dekat counter petugas dan mengganggu petugas dengan pertanyaan: “Mana snacknya?”. Regulasi pemerintah, kalau delay 30 menit, airlines wajib memberikan snack. Jawabannya: “Kami sudah pesan bu, tapi belum datang”. Di belakang mbak itu ada seplastik makanan yang tak juga dibagikan. Saya kira, kalau makanan satu plastic itu dibagikan, pasti penumpang langsung rusuh karena jumlahnya tak sampai 20 kotak.

image

Kuenya ditilep ya mbak?

 

Petugas kedua yang saya tanya namanya AA Ngurah Bagus. Bli Ngurah ini dengan begonya menjawab: “Sudah berapa jam delay? Delay dua jam dulu baru bisa dapat kompensasi”. Saya google regulasi, eh dia keburu ngeloyor. Btw, sebelum ngeloyor, seorang penumpang sempat gebrak counter gara-gara dia nanya sama bli Ngurah berapa lama pesawatnya delay, tapi nggak dijawab. Si Bapak nggak tahu kalau training pegawai Lion Air itu meliputi 4 hal: pura-pura nggak dengar, pura-pura tak melihat, pura-pura tak bisa berbicara lalu ngeloyor. Setelah gebrak meja, barulah dijawab: “Belum ada informasi, pesawatnya sudah ada tapi masih disiapkan”. Herannya, airlines ini nggak punya standar berapa lama pembersihan pesawat mesti dilakukan. Nggak cuma satu penumpang itu yang ngamuk, adalagi yang ngamuk maksa minta kompensasi makanan kecil. Petugas Lion Air nya diam seribu bahasa, lalu ngeloyor meninggalkan counter.

Sampai jam 3 sore lewat, belum ada kepastikan keberangkatan pesawat. Speaker di dalam bandara kerjaannya juga cuma manggilin penumpang Garuda ataupun Citilink. Seorang Mbak mukanya pucat pasi, takut ketinggalan pesawat. Di layar monitor, nggak ada informasi sama sekali tentang keterlambatan. Saya pun hanya bisa menenangkan si mbak dan memintanya menunggu. Kasihan kalau lihat penumpang yang seperti ini, karena ground staffnya Lion Air nggak peduli.

Penumpang tujuan Malang sudah mulai resah dan bolak-balik nanya petugas (yang seliweran macam setrika). Akhirnya, Lion Air membuka pintu, memanggil penumpang Malang. Setelah satu persatu di cek, penumpang dibiarkan menunggu di luar ruangan hingga kurang lebih 10 menit. Yang dinantipun datang: satu mobil minivan kecil untuk penumpang bisnis. Dasar penumpangnya pada bego juga, mereka memaksakan diri masuk ke minivan itu, sambil melupakan prioritas anak kecil dan penyandang disabilitas.

image

Minivan yang diserbu penumpang. Itu bis di belakangnya bukan mau angkut kita lho

Nunggu lagi sekian menit, baru muncul bisnya, dan semuanya harus masuk bis, termasuk seorang bapak yang duduk di kursi roda. Bis bandara kita mana ada yang sudah bisa akomodasi kursi roda. Jadilah acara gotong-gotongan. Bravo Lion Air!

image

Dan semua penumpang dijejalkan ke bis ini

Saya, terbiasa naik garuda, masuk pesawat tersenyum hendak menyapa mbak pramugari. Ternyata si mbak kecut, nggak bisa senyum. Positive thinking aja: mungkin kebanyakan botox sampai kulit mukanya kaku atau gajinya di delay. Si mbak lalu memberikan instruksi syahdu, bisik-bisik tak jelas. Yang pasti nggak ada perintah mematikan HP. Pas pesawat siap lepas landas, lagi ambil posisi nih, handphone penumpang bunyi. Lengkaplah sudah cerita kocak hari ini. Si Mbak pramugari pun langsung buru-buru meminta penumpang mematikan handphone. Duh..kemana aja mbak, nggak dari tadi nyuruh matiin handphone?

Akhirnya saya sampai di Malang jam 5 sore. Pengemudi taksi di Malang pun mengeluh karena ketidaktepatan waktu Lion Air juga berdampak terhadap mereka. Mereka baru bisa pulang kembali ke rumah setelah penerbangan terakhir datang dan para penumpang sampai tujuan.

Pelajaran Berharga

Harga Lion emang lebih murah sedikit dari Garuda, tapi sebelum memutuskan naik Lion Air, pertimbangkan juga: biaya airport tax, ketidaknyamanan ruang tunggu, ongkos makan karena delay dan nggak dapat makanan, waktu yang terbuang, air putih yang harus dibeli karena teriakin petugas bikin tenggorokan kering, pijat tangan karena gebrak meja, obat tekanan darah tinggi. Jatuhnya tambah mahal kan? Jadi kesimpulannya: jangan pernah naik Lion Air, kecuali kalau emang kelebihan uang, kelebihan waktu dan punya tekanan darah rendah.

Banjarmasin: Kota 1000 Sungai

Hal pertama yang terlintas di kepala ketika tahu kalau saya akan ditugaskan ke sini adalah Soto Banjar. Google dan nemu rekomendasi soto Banjar Haji Anang. Langsung bersemangat bahkan rela lapar dari Jakarta.

Begitu mendarat di Bandara saya segera menuju loket taksi. Dari bandara ke kota Banjarmasin di banderol 100.000. Harga tak mungkin ditipu karena kita diberi tiket. Jarak dari bandara ke tengah kota sekitar 50 menit, dengan sedikit macet karena ada pembangunan fly over. Kalau kata bule perhitungan pakai jam ini ngaco, mestinya ngitung jarak itu pakai satuan KM.

Continue reading

The Passage of Colourful Batik Madura

Attack dan Elle Magazine berbaik hati mengajak 15 orang perempuan jalan-jalan ke Madura dengan ongkos 500rb rupiah saja. Judul tripnya Attack Batik Trip. Biaya itu termasuk harga pesawat garuda PP, hotel 2 malam di Santika Surabaya serta makan. Sebagai penganut prinsip travel semurah dan senyaman mungkin saya pun tidak melewatkan kesempatan jalan-jalan mengelilingi Madura. Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya rangkum buat bahan referensi untuk yang mau ke Madura ya!

Can you spot me?

Museum Tjakraningrat Bangkalan.

Museum yang bisa berjarak sekitar 1 jam dari Surabaya ini tergolong kecil. Lebih kecil dari lapangan sepakbola. Isinya juga tak banyak dan kondisinya begitulah. Kursi bekas ratu dan rajanya pun tanpa anyaman, berlubang sana-sini. Debunya jangan ditanya lagi, bahkan laba-laba pun bersarang di salah satu sudut museum ini. Kondisi museum di Indonesia emang mengenaskan ya.

Selain bercerita sejarah pak pemandu juga bersemangat membagikan cerita mistis di museum ini. Jadi, ada satu set gamelan yang suka bunyi sendiri pada hari-hari tertentu, mungkin gamelannya sudah di auto play untuk waktu-waktu tertentu. Konon, jika gamelan dan sitarnya bunyi, tandanya lapar, minta sesajian. Ada lagi gamelan yang tak boleh dilangkahi oleh perempuan, kalau perempuan melangkah, alamat nggak akan punya anak. Wah, daripada pemerintah susah-susah bikin program KB alangkah baiknya jika ibu-ibu yang anaknya lebih dari dua diminta berlomba melangkahi gamelan ini.

Ole Olang Restaurant

Restaurant Makyus, karena pernah dikunjungi oleh Pak Bondan. Kalau pak Bondan doyan cumi kuning yang empuk (empuk, tapi pedes banget) saya berpegang teguh dengan niat makan nasi jagung. Sebagai orang Malang yang sudah terekspos dengan nasi jagung sejak kecil, kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Biasanya di Malang nasi jagung disajikan dengan ikan asin, tempel mendol, sayur berkuah santan dan rempeyek kacang. Ini menu sarapan yang bisa di beli di pasar-pasar tradisional di Malang. Tapi di Madura, nasi jagung disajikan dengan cara yang berbeda. Ketika itu sayur yang ditawarkan adalah sayur daun katu bening. Ini salah sayur kesenangan saya dan dulu kami hanya perlu memetik dari halaman rumah (jadi nostalgia). Tapi tetep, percampuran nasi jagung dan sayur bening buat saya kurang bergreget.

Batik Patimura, Tanjung Bumi

Saya menyebutnya toko batik pejabat, karena toko ini telah pernah dikunjungi bu Ani Yudhoyono serta pejabat pemerintahan lainnya. Biarpun langganan pejabat, harga tetep bersahabat. Saya “hanya” sukses memborong tiga lembar batik tulis, itupun berhutang dahulu karena toko ini tak kenal alat gesek, baik penggesek ATM maupun penggesek kartu kredit. Semuanya harus cash!  Ada satu batik yang khas dari daerah ini, namanya batik gentong, tapi saya menahan diri tak membeli karena harganya yang mencapai 1,2 juta.

Batik gentong itu batik khas Madura yang pewarnaannya dilakukan di dalam gentong selama berbulan-bulan. Ada kepercayaan, kalau ada tetangga atau kerabat yang meninggal, proses pewarnaan bisa kacau. Ya kalau ada yang meninggal hati aja kacau, apalagi mewarnai. Oh ya, ilmu menawar sadis nggak berguna di Madura. Biarpun jurus bahasa Madura pas-pasan dikeluarkan, tetep aja mereka nggak terpukau. Diskon paling banyak yang diberikan, 20 ribu saja! Setelah belanja, kami juga sempat disuguhin demo mencuci dengan Attack.

Batik Love Story

Makan malam kami ditemani dengan film karya Teh Nia Dinata yang berjudul “Batik Love Story”. Film documenter ini menceritakan tentang batik di Jawa, dari Cirebon sampai ke Madura. Duh..setelah  menonton film ini saya jadi ngenes sendiri melihat para pembatik yang resah dengan regerasi. Sayangnya film ini nggak didistribusikan dengan luas, tapi kalau berminat nonton boleh kontak Attack atau Teh Nia Dinata untuk nonton bareng.

Day 2 – 9 September 2012

Pasar 17 Agustus

Sebenarnya kami akan diinapkan di Madura sehingga nggak perlu wira-wiri melintasi jembatan Suramadu.  Tapi karena konflik Syiah dan Sunni, rencana ini buyar. Tuh kan, konflik itu gak bagus, gak bagus buat traveler dan gak bagus buat pedagang batik. Tapi beruntungnya kami diinapkan di Hotel Santika Surabaya. Sarapan tradisionalnya bikin saya gak mau meninggalkan hotel, tapi tetep harus ditinggalkan, kalau nggak timbangan meronta-ronta.

Jadilah kami menempuh perjalanan panjang dari Surabaya menuju pasar 17 Agustus yang letaknya nun jauh di ujung timur Madura. Pasar ini cuma buka dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu, dan  bubar pada saat adzan Dhuhur dikumandangkan. Ya nasib, setelah pantat diratakan dengan perjalanan selama 3 jam lebih, adzan berbunyi lima belas menit setelah kami tiba. Pasar bubar, saya tegar, dompet tetap bugar!!

Akhirnya saya ngekor Eka memilih batik di Asmara Batik. Lumayan dapat motif klasik junjung drajat. Diharapkan dengan memakai kain ini, derajat kita akan naik. Harganya, 125 ribu saja & batiknya tulis saudara-saudara. Murah banget kan? Sayang pewarnanya naptol, bukan pewarna alami.

Kendati selama perjalanan ini waktu habis “terbuang” untuk mondar-mandir Surabaya-Madura, melintasi Jembata Suramadu & Madusura, saya tetep seneng karena bisa melihat kekayaan negeri ini & bisa menjejakkan kaki di Madura. Jadi orang Jawa Timur, tapi nggak pernah menjejak di Madura.

Rangkaian perjalanan ini merupakan rangkaian terakhir dari attack batik trip setelah sebelumnya diadakan di Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Terimakasih Attack dan Elle Magazine yang telah membawa saya jalan-jalan pintar. Terimakasih juga buat Iwet yang sudah menambah pengetahuan saya tentang batik.