Pinjam Saldo

Beberapa tahun lalu, ada salah satu orang pembaca blog yang menghubungi saya lewat Instagram. Ia mengirim pujian. Komunikasi ini kemudian tidak berlanjut hingga dua hari lalu.

Mbak IG ini mengaku namanya Aprillia, tapi saya yakin ini nama palsu. Tak ada angin tak ada hujan, tak tanya kabar, tiba-tiba menanyakan apakah saya punya M- banking. Yang dilanjutkan dengan pertanyaan apakah ada saldo sebesar 550ribu rupiah. Saya jawab saja “Oh kalau 550 juta sih ada”.

Rupanya ia tak terpancing untuk jadi tamak & mengutarakan niat meminjam saldo 550 ribu saja untuk bayar belanjaan online. Bahasa baru, pinjam saldo. Dan ia pun memberi nomor rekening milik Ika. Lha dari Aprillia jadi Ika. Tak lama setelah mengutarakan niat pinjam uang, akun ini berganti nama hingga beberapa kali. Ah Instagram…

Singkat cerita, saya tak meminjamkan satu sen pun. Wong saya ini anti dipinjemin duit. Anti pakai banget & ini selalu saya gembar-gemborkan kemana-mana. Bahkan sempat saya tulis di blog tahun 2016 lalu ketika saya membahas tema hutang.

Saya mengkategorikan orang yang pinjam uang menjadi dua: kepepet tak punya uang karena kondisi ekonomi yang lemah, atau karena tidak bisa mengatur keuangan.

Tukang pinjam uang yang paling menarik buat saya adalah orang yang tak bisa mengatur keuangan. Orang-orang ini, berdasar pengalaman saya, biasanya punya pekerjaan, terlihat glamor, dari rambut yang mengalahkan gadis Sunsilk, kuku yang dipoles cantik, kendaraan mewah, hobi nongkrong di tempat-tempat gaul, dan gaya hidup lainnya yang dianggap wah. Pendeknya, mereka tak pernah kelihatan tak punya beras.

Karena penampilan mereka yang begitu glamor, punya penghasilan, otomatis mereka dianggap sebagai orang-orang yang bisa dipercaya. Jadi ketika si glamor datang meminjam uang, banyak yang tak keberatan, karena mereka dianggap punya kemampuan untuk membayar.

Di sinilah kemudian bencana terjadi. Pinjam uang jumlah kecil, tak kunjung kembali. Mau nagih, seringkali uang yang dipinjam recehan, seharga beberapa gelas kopi. Sekalinyanagih, disuruh nunggu tanggal gajian. Mau maksa nagih, gak enak sendiri. Btw, uang yang dipinjam tak selalu kecil ya; orang yang dianggap berada, biasanya dipinjami uang dengan jumlah lebih besar. Apes mah kalau gini.

Hobi meminjam uang yang bermula dari ketidakbisaan mengatur gaya hidup dan anggaran ini biasanya parah. Target yang dipinjami pun tak hanya satu, tapi banyak orang. Bahkan kadang mereka tak malu meminjam uang pada orang yang baru dikenal.

Penutup

Orang-orang yang saya bahas di atas, meminjam uang untuk gaya hidup. Bukan karena kepepet tak punya secangkir beras di rumah. Ada standar gaya hidup tertentu yang mereka mau tunjukkan pada dunia, supaya reputasi dan keglamoran mereka bisa terdongkrak. Tapi dibalik glamor palsu itu, ada rekening bank yang menjerit, tiang yang terinjak pasak, gali lubang, tutup lubang. Pinjam uang kemana-mana.

Tak lupa ada bisik-bisik tentang kepalsuan yang dibarengi dengan rasa kasihan. Kadang bisik-bisik ini melintas hingga antar negara. Apalagi kalau ada yang menjerit sakit karena uangnya tak dikembalikan. Akhirnya, daripada terlalu sakit, memilih untuk merusak reputasi si glamor. Padahal, dunia sudah tahu.

Kalau sudah kaya gini, mendingan kayak saya, prinsip banget gak minjemin duit kemana-mana, tidak satu sen pun. Gpp dibilang pelit, yang penting tak ada yang pinjam 100, apalagi pinjam saldo 550.

Gimana, udah dibalikin duit kalian?

4 thoughts on “Pinjam Saldo

Show me love, leave your thought here!