⚠️ Peringatan pemicu. Tulisan ini membahas mengandung tema sensitif tentang perudungan yang ditulis berdasarkan real life experience.
Beberapa bulan lalu ada teman menghubungi saya. Ia mencurahkan hatinya yang gundah gulana, karena akan mengadakan makan-makan, tapi dilarang mengundang saya! Ia pun berkeluh kesah dan mempertanyakan ketidakdewasaan orang yang melarangnya. Hatinya berontak, karena harus mengisolasi saya secara sengaja. Padahal, isolasi itu adalah salah satu bentuk dari bullying, perundungan.
Bystander bullying adalah orang yang melihat terjadinya perundungan, saksinya, atau penonton perundungan. Dalam perundungan sendiri ada pelaku, korban dan saksi. Persis seperti teman saya di atas.
Saksi perundungan sendiri ada beberapa model atau tipe. Ada tipe yang membantu merundung. Ini bukan otak perundungan tapi ikut-ikutan merundung, pendukung aktif. Ada pula yang tidak ikut merundung tapi mendukung pelaku perundungan dari jauh.
Tipe selanjutnya adalah adalah bystander yang melawan perundungan dan mendukung korbannya. Dia tak segan untuk membuka mulut dan melawan. Apapun resikonya. Saya pernah ada dalam situasi ini, membela teman SMA saya yang dipanggil perek oleh kakak kelas. Panjang ceritanya, tapi saya berakhir ditampar karena berani buka mulut, sementara sang pelaku berakhir dihajar kakak korban.
Tipe terakhir adalah bystander yang pura-pura seperti Badan PBB, pura-pura netral tidak memihak manapun. Tapi dalam ilmu perundungan, tipe seperti ini memberikan dukungan terhadap pelaku perundungan, dukungan yang disampaikan dalam bentuk diam. Silent support. Tanpa perlawanan.

Bystander model terakhir ini biasanya takut dengan keamanan diri mereka, takut jadi korban selanjutnya, apalagi mereka melihat sendiri bagaimana korban dirundung. Ada pula yang memang tak tahu harus bagaimana. Menariknya, ada bystander yang pura-pura netral karena pertemanan dengan para pelaku perundungan & masih melanjutkan pertemanan walaupun tahu temannya seorang pelaku perundungan.
Perundungan sendiri masalah semua orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Dampak perundungan pada anak-anak maupun orang dewasa sama, sama-sama membuat stres, malu, depresi, takut, bahkan tak sedikit yang akhirnya mengakhiri hidup. Makanya, peran saksi itu penting. Mereka bisa memilih untuk menghentikan perundungan, atau bahkan menyelamatkan nyawa orang.
Rumus saya dalam menghadapi perundungan sangat sederhana, jika mereka bisa segera dibuang dari hidup, maka sampah masyarakat ini harus disegerakan untuk dibuang dari hidup. Pronto!
It is not always the case dan gak selalu mudah, apalagi kalau perundungan terjadi di kantor oleh atasan, atau di sekolah yang dilakukan oleh guru. Yang merundung punya kekuatan, karena posisi mereka. Kalau situasinya seperti ini, cari pekerjaan baru atau sekolah baru jadi satu-satunya jalan keluar.
Jika dirundung oleh so-called teman, solusinya cenderung lebih mudah. Jangan berteman lagi IRL, di dunia maya pun juga tak usah pura-pura kenal lagi. Kalau perlu, blok dari semua media sosial. Racun kok disimpan.
Setelah menjauhkan diri dari pelaku perundungan pun, para korban juga masih rentan untuk disalahkan balik, digaslighting, apalagi kalau pelaku perundungannya narsis.
“Dia gitu sih! Dia terlalu sensitif sih. Dia pantas dirundung”.
Padahal, tak seorangpun pantas dirundung, atas alasan apapun.
Penutup
Hidup itu cuma sekali, kalau kata teman saya, bergaulah dengan orang-orang yang bisa menaikkan derajatmu. Antah berkumpul sama antah, beras sama beras. Nggak usah bergaul dengan tukang rundung yang jelas-jelas perlu pertolongan profesional kesehatan mental.
xoxo,
Tjetje