Pernah bertemu orang -orang yang tiba-tiba menjelaskan latar belakang mereka secara details, dari ekonomi, keluarga, pendidikan tanpa diminta? Tidak dengan nada mengobrol, tapi dengan nada congkak-congkak dikit untuk memosisikan diri dan tentunya bukan saat wawancara kerja apalagi wawancara calon mantu ya.
Interaksi pertama dengan individu seperti ini terjadi di Jakarta, sebelum tahun 2009. Kala itu ada anak titipan pejabat, dari daerah, baru lulus sekolah dan baru pertama kali kerja di Jakarta. Anak titipan ini kemudian menyalami orang-orang di kantor sambil memperkenalkan diri. Kalimat perkenalannya: “Saya Wagyu, S2 saya dari kampus Mejikuhibiniu”. Kalimat ini kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan: “S2nya dulu dimana ya?”
Selama kerja (hingga sekarang) saya nggak pernah ketemu orang yang kenalan model begini dan saat itu yang ada di kepala saya: dude…nggak semua orang itu academical, mau atau mampu untuk sekolah S2.
Interaksi selanjutnya terjadi ketika saya sudah tak tinggal di Indonesia. Ternyata tak satu dua orang yang menjelaskan latar belakang sekolah S2. Ada beberapa. Tapi herannya, yang pada sekolah S3 ataupun di sekolah-sekolah top dunia tak sibuk menjelaskan latar belakang pendidikan. Penjelasan diri juga tak hanya soal sekolah lagi, tapi melebar pada pencapaian diri. Dari mulai kerja di mana, jumlah gaji berapa ratus dolar (ratus ya bukan ribu), promosi jabatan hingga perjalanan dinas. Perjalanan dinas jadi pencapaian…Lha apa kabar para pilot, pramugari dan pramugara?

Kondisi ekonomi keluarga juga sering menjadi bahasan untuk positioning. Penunjukan ekonomi ini untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan datang dari keluarga tak biasa dan secara sengaja untuk membedakan diri dari kebanyakan orang. Contohnya, bercerita soal bagaimana orang tua berkecukupan, punya kendaraan impor dengan banyak staf di rumah (yang gajinya jauh di bawah UMR). Sebut semualah indikator kesuksesan dan kekayaan di Indonesia. Lalu bercerita tak perlu mengirimkan uang dan bahkan sering ditawari uang oleh orang tua. Generasi sandwich, jangan mau kalah dong, bragging soal abis bayar pajak masih harus bayar tagihan orang tua. Kurang hebat apa coba?
Mereka yang memosisikan diri ini bercerita latar belakang pada semua orang. Baik orang yang sudah lama dikenal, atau bahkan orang yang baru ditemui kurang dari dua menit. Pertanyaannya, kenapa sih mesti menjelaskan diri dan kenapa yang anaknya orang kaya beneran, punya tambang, gak gini-gini amat?
Menurut pendapat saya pribadi yang kalian tak harus setuju, salah satu penyebabnya karena tidak percaya diri dan sangat insecure, jadi buru-buru meninggikan diri dulu untuk membanting lawan bicara secara mental. Setelah congkak dikit, bolehlah dagu naik sedikit dan jadi lebih percaya diri. Sementara, anak tukang tambang gak perlu cerita kemana-mana, apalagi nyari validasi. Kalau bisa malah orang tak tahu, biar tak dipinjamin 100.
Selain soal ketidakpedean, ini juga jadi mekanisme pertahanan untuk melindungi diri ketika berhadapan dengan stigma ataupun bias orang lain. Apalagi kalau punya pasangan orang asing. Bukan rahasia lagi kok, kami-kami para pelaku kawin campur ini dicap dengan stigma buruk yang tentu saja menyebalkan. Kalau soal yang ini, saya guilty dan pernah beberapa kali menjelaskan latar belakang diri. Targetnya? orang asing yang suka secara tak sadar (atau bahkan sepenuhnya sadar) merendahkan karena status perkawinan campur. Lucunya, mereka kadang-kadang adalah pelaku kawin campur sendiri.
Anyway, menjelaskan tentang latar belakang diri, kejayaan masa lalu dan manis-manisnya masa lalu itu sah-sah saja, nggak ada yang ngelarang. Nggak salah juga, selama kita tahu diri, tahu tempat, tahu target dan gak diulang-ulang pada setiap kesempatan. Biar orang lain tak muak dan biar kaki napak sedikit ke bumi. Napak sedikit aja kok, gak usah banyak-banyak.
Oh btw, pencapaian diri yang begitu hebat dan membanggakan, serta latar belakang diri yang lain dari orang kebanyakan, gak mau ditulis jadi buku biografi aja? Minta sponsor bapak gih, buat bikin biografi. Kan sayang duit bapak banyak, masak gak dihambur-hamburkan…
xoxo,
Tjetje