Seiring dengan makin ramainya pilihan media sosial, saya semakin banyak melihat kehidupan di luar negeri yang digambarkan sebagai kehidupan yang sempurna dan jauh lebih baik ketimbang Indonesia. Semua tertata, hidup indah, taman-taman penuh bunga dan langit selalu biru dan gaji besar.
Dari dulu, saya paling anti dengan menggambarkan kehidupan di luar negeri sebagai kehidupan yang lebih baik ketimbang di Indonesia, karena hidup di luar negeri itu harus dilihat secara berimbang dan realistis. Hidup di luar negeri tak melulu indah seperti kata social media opportunist dan postingan mereka di media sosial.

Tunjangan Sosial
Salah satu glamorisasi yang sering muncul di media sosial adalah soal uang gratis, alias tunjangan sosial. Di sini tunjangan sosial banyak, ada yang diberikan kepada semua orang, ada yang diberikan karena kondisi kesehatan atau tak bekerja.
Contoh paling sederhana, tunjangan karena tidak kerja digembor-gemborkan di media sosial. Ada lagi yang mengelu-elukan tujangan anak sebagai dana bantuan gratis. Tunjangan-tunjangan ini tidaklah gratis, dana ini adalah dana hasil kerja keras para pembayar pajak yang ditujukan untuk membantu biaya hidup.
Indonesia sendiri juga punya dana serupa, namanya dana bantuan sosial. Coba, tanya kenapa dana bansos di Indonesia tidak diglamorisasi di media sosial?
Upah minimum
Uang menjadi salah satu hal yang membuat hidup di luar negeri terlihat lebih gemerlap. Para social media opportunist tak segan mengumbar penghasilan minimum mereka di negeri di awan, jumlah tabungan mereka dan kemudian merupiahkan angka ini. Angka-angka ini wajib dirupiahkan. Badan boleh di luar negeri, tapi kepala tak boleh berhenti menghitung dalam rupiah.
Upah minimum yang bisa belasan kali lipat dari upah minimum Indonesia ini kemudian diagung-agungkan karena terlihat banyak, karena dalam bentuk rupiah. Padahal ongkos hidup di luar negeri itu tidak dalam bentuk rupiah. Belum lagi ada pajak yang jumlahnya cukup tinggi jika dibandingkan dengan di Indonesia.
Murut para social media opportunitist, hidup dengan upah minimum itu indah dan bisa menabung hingga ratusan juta. Baguslah kalau bisa, tapi tentunya tak ada penggambaran berapa banyak kualitas hidup yang harus dikorbankan, karena upah minimum itu, sesuai namanya: minimum. Bisa untuk mencukupi hidup, tapi tak berlebih. Glamor!
Penutup
Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa hal luar negeri menawarkan hal yang lebih baik dari Indonesia. Tapi kehidupan di luar negeri itu tak selalu glamor, ada banyak tantangannya. Dari mulai bergulat dengan kerinduan akan tanah air, penyesuaian terhadap cuaca, hingga kecemasan akan gerakan anti imigran yang naik pesat di banyak sudut Eropa. Sedikit latar belakang, di Irlandia anti-imigrasi meningkat sejak Brexit, di Belanda, partai-partai garis kanan semakin populer, begitu juga dengan Italia.
Jadi, kalau ada seleb medsos, self-proclaimed guru, coach, mentor, bentor, ahli tinggal di LN dan segala macam promosi diri sendiri yang menjual glamornya hidup di luar negeri, coba tanya kenapa mereka begitu mengagungkan hidup di luar negeri. Segitu gak enaknya kan hidup mereka di Indonesia dulu, sampai kehidupan di Indonesia harus digambarkan dengan jelek?
xoxo,
Tjetje
Tapi jika tidak begitu kurang wah mbak, padahal sama aja kalau dijalani.
Betul sama aja. LOL, yang penting emang kelihatan wah semua, biar orang di kampung kepengen.
Wah Mba, aku malah salfok sama radiant diamondnya (apa cushion ya itu?). Kebetulan size-ku juga 6 😂
But anw, bener juga kalo over-glamourizing ini lama-lama jadi menjamur ya… Dulu dapet kesempatan 2,5 tahun di Kanada, jujur rasanya banyakan sedihnya karena winter blues hahaha, padahal aku ngerasa lumayan adaptif banget orangnya. Ada sih highest highs alhamdulillah, tapi jujur banyakan lowest lowsnya huahaha.
Salam kenal ya Mba!
Hallo Dhania, salam kenal juga. Aduh maaf ya telat banget bales komen. Itu diamond dipinjem doang dari Tiffany buat difoto, not sure cutnya apa.
Di LN emang gak selalu menyenangkan, apalagi kalau winter, ya gusti kebayang di Canada dinginnya.