Cerita Dari New York

Musim gugur tahun kemarin saya terbang melintasi Atlantik untuk urusan pekerjaan. Saya pun terbang lebih awal untuk berlibur terlebih dahulu dan menjelajah New York, the big apple, yang hanya berjarak tujuh jam penerbangan saja dari Dublin.

Enaknya kalau terbang dari Dublin, bandara ini punya namanya US-preclearance. Jadi urusan imigrasi diselesaikan di Dublin dan begitu tiba di US kita tinggal melenggang kangkung tanpa perlu antri imigrasi lagi. US-preclearance ini gak hanya ada di Dublin, tapi juga di bandara Shannon, Cork.

Petugas imigrasi yang melayani saya sangat baik dan gak galak. Dia lihat saya ngajak suami, pertanyaannya yang ditanya malah soal shopping. “Jadi kamu kerja, suami kamu yang belanja? Do you have his credit card?” Saya pun langsung ngaku kalau saya bawa koper kosong buat belanja.

Kesan pertama

Buat saya, NY itu kayak area Sudirman di Jakarta yang dipebesar. Ukuran trotoarnya pun tak kalahlah dengan trotoar di Jakarta. Bedanya, karena saya datang pada saat musim gugur, hawanya sedikit lebih adem dari Jakarta. Minggu itu NY juga sedang sibuk banget, karena UNGA, General Assembly, acara tahunannya NY. Jalanan banyak yang ditutup karena tamu negara. Makin mantap lah saya melabeli NY sebagai Jakarta yang digedein beberapa skala. Tentunya NY jauh lebih diverse dengan penduduk dan turis dari berbagai belahan dunia.

Transportasi di NY sendiri sangatlah mudah dengan adanya Subway. Jempol deh transportasi umumnya, walaupun di Subway banyak orang aneh-aneh. Boss saya yang orang Amerika tapi udah ngewanti-wanti “NY ini bukan standar umum Amerika ya! Gak semua Amerika kayak NY”. Sementara kolega saya dari LA bilang: “Gw tiap kali ke NY pasti takjub dengan publik transportasi, karena di LA engga punya transportasi publik kayak gini”.

Pemandangan dari kantor saya di kawasan Times Square.



Uang Tunai, Tips dan Pajak Belanja

Belanja di Amerika itu pengalaman baru buat saya, karena harga yang terpampang belum termasuk pajak, ada tambahan beberapa persen. Kalau urusan makan, lebih ribet lagi karena ada pajak, plus ada tips. Yang seru kalau makannya di China town dan bayar tunai, bisa dapat diskon. Cash is king!

Nah soal tips dan pajak ini, salah satu hotel tempat saya menginap menyediakan sarapan untuk dua orang. Tapi ada batas maksimum, 50 dollar untuk dua orang. Angka ini buat di NY sangatlah kecil. Model sarapannya persis kayak di self-service cafe. Kita mesti ke kasir, order apa yang kita mau dari menu, lalu bawa sendiri ke meja. Tiap barang diberi harga yang jauh lebih mahal dari toko biasa. Saya yang anti rugi pun setengah mati ngitungin harga, pajak dan tips. Lama-lama saya capek, 50 dollar ini saya pakai buat sarapan suami, sementara saya sarapan di kantor. Sungguh konsep yang sangat absurd, seabsurd piring kertas, dan peralatan makan sekali buang di hotel yang ngakunya berbintang.

Irish dan NY

Orang Irlandia itu termasuk salah satu diaspora terbesar di NYC. Di daerah Battery Park di Manhattan ada reruntuhan rumah khas Irlandia yang menjadi simbol memperingati Irish Famine. Random banget tiba-tiba merasa di Irlandia tapi dikelilingi gedung pencakar langit. Ternyata oh ternyata rumah ini emang didatangkan dari Irlandia.

Selama di NYC saya juga pergi ke beberapa pub Irlandia di NY. Fun fact ternyata ukuran gelas pint untuk bir di NY tidaklah sama dengan di Irlandia. Di NY gelas pintnya lebih kecil dan isinya 95 ml lebih sedikit ketimbang di Irlandia. Gak cuma ke pub, biar seimbang, saya juga ke St. Patrick’s Cathedral. Katedral katolik yang terletak di 5th Avenue. Dan suami pun saya duduk manis untuk ikutan misa. Berdoa biar bisa balik lagi.

Penutup


NY ini kota yang “mempesona” dengan cerita gado-gado yang tak bisa saya tuliskan dalam satu blog post. Saya terpukau melihat tukang antri profesional yang rela tidur di luar demi perempuan-perempuan yang mengejar sale sepatu Jimmy Choo, hingga antrian turis yang berebut ingin memotret Starry Night-nya Van Gogh di MoMA.

Kota ini sungguh dimanjakan dengan berbagai kegiatan seni, tapi pada saat yang sama juga bergulat dengan bangkai tikus, bau pesing, dan tentunya bau ganja yang menyesaki sukma. Kendati begitu, saya masih ingin kembali. Satu wish list saya yang belum keturutan, saya pengen banget ikutan walking tour Hasidic Culture di Williamsburg!

Kamu, sudah pernah ke NY? Punya cerita apa soal NY?

xoxo,
Tjetje

5 thoughts on “Cerita Dari New York

  1. Dua kali ke NYC, yang pertama tahun 2013 pas diundang temen orang Amerika merayakan Thanksgiving di rumah keluarganya di New Jersey, yang kedua tahun 2018, pas kondangan temen di Michigan, aku sama suami lalu kita lanjut liburan ke east coast. Pertama kali ke NYC excited banget, secara udah banyak liat film2 yang feature NYC, kedua kalinya, kami tahan cuman 3 hari di hiruk pikuknya NYC, hari terakhir di NYC kami malah melipir main ke Coney Island malah, karena udah ga tahan sama banyak orang dimana2.
    Jadi ternyata kami ngga suka tinggal di kota besar ceritanya, tapi tentunya banyak hiburan dan banyak makanan enak di NYC, jadi kesimpulan or moral take dari visit kami adalah – udah bener tinggal di Copenhagen haha

  2. Akuuu ex New Yorker! Hihihi…Emang sih hiruk pikuk banget NY ini. Tapi kalau buat tinggal, bisa di Brooklyn, Queens atau Bronx. Aku aja selalu menghindari midtown dan time square. Banyak kok tempat-tempat residensial di NY, dengan cafe-cafe lokal yang lucu.

    • Nah ini kemaren aku cuma di Manhattan dan Brooklyn aja. Kantor juga pas bener di tengah jantung Time Square.

      Next time kalau balik lagi emang kudu lihat wilayah-wilayah lain.

Show me love, leave your thought here!