Label NPD di Media Sosial

Sejak beberapa tahun belakangan ini saya banyak menuliskan tentang perilaku narsistik. Sumber coretan-coretan saya ini dari berasal dari pengalaman pribadi berada di lingkungan yang tidak sehat. Selama bertahun-tahun saya terjebak dalam lingkaran setan berteman dengan orang yang pola perilaku narsisnya sangat konsisten. Tragisnya, pengalaman berada di lingkaran setan ini punya dampak nyata pada diri saya sendiri.

Tak cuma itu, selama dalam lingkaran setan itu saya juga berdiam diri, melihat bagaimana orang lain dimanfaatkan, dihancurkan reputasinya, bahkan kemudian dibuang dari hidupnya. Sebuah pola klasik yang tanpa belas kasih. Korbannya pun dari yang mulai masih hidup, hingga yang napasnya tak bersisa lagi. Pendeknya, tak ada tempat untuk bisa beristirahat dengan damai dan tenang.

Saya mengalami fase love bombing dan diguyur aneka hadiah yang terlihat menyilaukan mata, bahkan dibukakan akses untuk dapat privilese yang tak semua orang dapat. Pada saat yang sama selama bertahun-tahun saya berkeluh-kesah. Energi saya habis, lelah dengan segala kepalsuan, manipulasi dan juga kontrol tak berkesudahan. Tapi keluar dari lingkaran busuk seperti ini tidaklah mudah.

Ketika saya mulai diinjak-injak, saya mulai banyak memberontak. Asal dia buka mulut, saya pun menjadi devil’s advocate. Terus-menerus menunjukkan ketidaksetujuan. Tentunya ada banyak konsekuensi yang harus saya bayar. Dari mulai dimaki-maki, dibentak-bentak, diremehkan, dihina, bahkan yang terakhir, saya dieklusi secara terorganisir.

Proses ini memakan waktu selama bertahun-tahun, dan punya dampak pada saya. Apalagi di akhir proses, saya dirundung rame-rame, reputasi saya dihancurkan, bahkan dalam proses ini saya harus memutus hubungan dengan banyak orang. Good riddance.

Menata hati dan menata diri setelah pertemanan busuk seperti ini sangatlah tidak mudah. Perlu proses yang panjang. Dalam proses ini pun saya selalu berhati-hati dan tidak mendiagnosis orang lain memiliki Narcissistic Personality Disorder. Saya bukan ahlinya. Pada saat yang sama, saya belajar untuk tidak melabeli diri sebagai korban orang dengan karakteristik NPD. Ini bukan identitas saya.

Sekarang saya bisa berkata kalau saya “survived” pertemanan dengan orang yang pola perilaku narsisnya sangat konsisten. Saya keluar dari lingkaran ini dengan lecet-lecet, tapi setidaknya saya keluar. Bebas merdeka dari manipulasi murahan.


Tulisan ini tidak dimaksudnya untuk berkeluh-kesah tentang pengalaman saya selama bertahun-tahun. Tapi dimaksudnya untuk memberi ilustrasi betapa panjang, rumit dan kompleknya punya hubungan dengan orang yang “ruwet” dengan karakteristik narsistik yang tak berubah. Konsisten.

Nah di media sosial sendiri saya banyak sekali melihat orang-orang yang dengan mudahnya mendiagnosis orang lain sebagai NPD. Diagnosis ini muncul hanya karena satu perilaku yang tak sesuai norma, satu cuitan yang menunjukkan keegoisan diri, atau karena salah berlaku dan terekam video, lalu tiba-tiba diberi label NPD. Mendadak semua orang menjadi ahli untuk urusan NPD dan dengan semena-mena dan sembarangan mendiagnosis orang.

Tunggu dulu!

Kalian yang tiba-tiba melabeli orang lain NPD itu paham gak sih kalau banyak dari kita yang juga bisa menunjukkan karakteristik orang narsis. Pegang cermin gak? Karena diri sendiri pun bisa menunjukkan karakter ini. Orang-orang yang menunjukkan karakter ini bukan berarti punya gangguan narsistik. Yang berhak mendiagnosis ini yang hanya mereka yang memang merupakan tenaga medis yang terlatih.

Penutup

Belakangan ini topik NPD banyak dibicarakan & banyak orang yang semakin sadar tentang karakter narsis. Banyak orang berbagi pengalaman mereka terpleset dalam lingkaran beracun ini. Ada yang temannya beracun, tapi tak sedikit yang pasangan ataupun keluarganya beracun.

Belajar mengenai pola dan karakteristik orang narsis itu buat saya penting. Supaya tahu semuanya akan diawali dengan love bombing, lalu dimanipulasi, dikontrol. Kalau nekat melawan akan diinjak-injak seakan tak ada harga, tak jarang kepercayaan diri dihancurkan, lalu di-gaslight. Dan gong-nya, tentu saja dibuang. Mengenali fase ini membuat kita bisa bertahan dan bikin rencana keluar yang kita kontrol sendiri.

Mengenal dan mengalami fase-fase ini, membaca satu dua artikel tentang topik ini tak membuat kita menjadi ahli. Self-proclaimed, lalu jadi ahli dalam mendiagnosis orang lain. Urusan diagnosis itu urusan tenaga kesehatan jiwa. Kita sebagai orang awam yang tak punya ijasah sebagai tenaga ahli kesehatan jiwa baiknya diam saja dan tak sembarangan melabeli orang hanya karena kelakuannya menyebalkan.


xoxo,
Tjetje
Bukan self-proclaim coach yang ahli healing luka NPD dengan bio di IG yang memuakkan LOL

Show me love, leave your thought here!