Konser dan Telepon Genggam

Tahun kemarin saya nonton beberapa stand up comedians dari Amerika yang lagi tur di Irlandia. Tak seperti ketika nonton Ricky Gervais, di pertunjukan ini, telepon genggam saya harus dimasukkan ke dalam wadah khusus. Selama pertunjukan berlangsung saya tak bisa ponsel, mereka yang punya smart watch pun juga harus mematuhi aturan ini.

Nonton pertunjukan tanpa ponsel ini kemudian membawa kepala saya pada masa SMA dan kuliah dulu di Malang. Kota Malang dulu banyak di kunjungi artis-artis ibu kota yang konser. Dari Dewa 19 (sampai kemudian jadi Dewa), Gigi, Melly Goeslaw dan Erik dengan AADC konsernya, Sheila on 7.

Konser paling melekat di hati saya itu salah satu konser Dewa 19 di Unmer Malang. Waktu itu penonton sibuk loncat-loncat hingga gedung pertunjukan goyang. Esoknya, pertunjukan ini masuk TV karena penonton yang heboh.

Kala itu tak ada ponsel untuk merekam, yang ada hanya memori di dalam kepala. Saya menonton konser tersebut berdua, bersama sahabat dekat. Kami masih remaja dan tentunya punya tenaga untuk loncat-loncat dengan heboh tanpa takut keseleo. Yang saya ingat, karena kami berdua perempuan, ada segerombolan pria yang “melindungi” kami. Mereka teriak-teriak: “Wooooi ini cewek-cewek woi, jangan disenggol”. Sungguh sebuah gesture yang baik!

Sheila on 7 sendiri bolak-balik mampir ke Malang. Rajin bener di jaman itu. Satu kali, setelah konser, teman saya nguber rombongan Sheila on 7 ke hotel Montana dua di daerah Soekarno Hatta di Malang. Mobil yang kami tumpangi sampai dihalangi ketika masuk hotel, tapi kemudian berhasil masuk. Berhasil ketemu Duta dan teman-teman. Ngajak foto? Boro-boro. Kamera hape belum eksis, kamera saku tak selalu dibawa. Jadi kami hanya sekedar nongkrong dan ngobrol dengan pak Duta.

Di kesempatan lain, beberapa teman saya yang ngejar SO7 bahkan berkesempatan ngajakin Duta jalan-jalan ke Batu. Pak Duta sampai permisi dulu ke orang tua teman-teman saya. Minta ijin mau ngajak mereka ke Batu. Sesopan itu. Punya bukti gak? Tentu saja tak ada. Tak ada selfie, tak ada sosial media. Semua terekam di dalam kepala. Syukurnya tak ada bukti ya, kalau ada bisa viral nanti di media sosial.

Nonton Konser Jaman Sekarang

Nonton konser sekarang berubah. Ponsel (dan power bank) menjadi bawaan wajib, karena tiket konser pun sudah banyak beralih ke tiket digital. Ponsel ini juga penting untuk merekam momen menuju tempat konser, ketika sudah duduk dan tentunya ketika konser berjalan.

Bagi sebagian orang, nonton konser berarti merekam konser dengan ponsel dari awal hingga akhir. Nanti setelah konser usai, potongan rekaman video ini harus diunggah ke Instagram atau media sosial lainnya.

Saya termasuk salah satu orang yang tadinya membuat banyak rekaman ketika nonton konser. Lalu pada satu masa ketika melihat aneka rekaman yang kualitasnya buruk ini, saya mendengar suara cempreng yang ikutan nyanyi dan mengganggu. Suara saya sendiri. Sejak itu saya berhenti merekam banyak-banyak dan hanya merekam segelintir video yang tak lebih dari 20 detik.

Penutup

Pada satu musim panas, saya nonton Coldplay. Hari itu sang vokalis meminta seluruh penonton untuk being in the moment. Untuk satu lagu saja. Apakah Chris didengarkan? Oh tentu tidak. Mayoritas orang memang menyimpan ponsel mereka, tapi masih tetap banyak yang merekam momen ini.

Mau nonton sambil merekam, atau tanpa merekam itu pilihan masing-masing. Bagi saya sendiri, nonton konser tanpa sibuk merekam itu jauh lebih menyenangkan. Saya benar-benar bisa present. Tapi satu hal yang cocok dan nyaman buat saya belum tentu cocok untuk orang lain. Sebagai orang dewasa, kita bebas memilih!

Eh tapi, kalau pas nonton konser sebelahan sama saya, baiknya gak usah direkam. Nanti pas lihat video-video itu bisa kaget denger suara cempreng saya yang menggelegar.

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!