Bergaul dengan Diaspora

Disklaimer: diaspora di sini mengacu ke diaspora Indonesia.

Berapa bulan lalu, salah satu pelajar Indonesia yang sedang sekolah di Barat Irlandia bikin status kalau diaspora Indonesia di Irlandia itu terbagi menjadi tiga: mahasiswa, pekerja dan yang kawin dengan bule. Lalu ia menambahkan: yang jalur kawin sama bule biasanya norak, istilahnya “kere munggah bale”. Mahasiswa penerima beasiswa S3 ini mengalami sendiri ketika berkumpul-kumpul dengan istri bule di Irlandia yang sibuk membahas harta, termasuk tas bermerek.

Kere munggah bale ini sangatlah kasar, artinya orang sangat miskin naik ke atas balai. OKB. Noveau Riche.

Anyway, hasil observasi di atas itu tentunya ramai dengan aneka komentar (termasuk komentar kasar), karena si pelajar dianggap sangat judgmental walaupun sudah sekolah tinggi. Si pelajar pun dihina-dina karena memilih bergaul dengan orang Indonesia dan bukan orang Irlandia.



Gegar Budaya Topik Obrolan

Saya pun ketawa, karena tiba-tiba jadi teringat perjuangan diri sendiri ketika baru pindah ke sini. Ketika baru pindah ke sini, saya sempat mengalami gegar budaya soal kualitas obrolan dan isi obrolan dengan diaspora.

Obrolan mereka gak jauh-jauh dari aset dan finansial dengan nada dasar pamer. Dari mulai harga tas bermerek (ditemani dengan keluh kesah karena pasangan yang “pelit” dan tak mau membelikan tas), tipe rumah, jenis kendaraan, hingga jumlah isi tabungan. Ada pula obrolan yang menyertakan slip gaji, dari gaji sendiri hingga gaji pasangan.

“Tje, coba lihat deh berapa banyak aku bayar pajak bulan ini!” Sambil menyodorkan dengan paksa slip gaji yang sudah dilipat sedemikian rupa untuk menutupi nama dan PPS. Effort banget pamernya.


Nyari diaspora yang bisa diajak ngomongin tema umum, atau sekedar bahas politik Indonesia itu tak mudah. Kalau mau nyari obrolan berbobot ya mesti ngobrol sama pelajar. Btw, peta diaspora kita sekarang sudah lebih beragam ya, bahkan ada diaspora yang bisa diajak bahas lukisan.

Mainnya sama orang Irlandia dong!

Komentar asbun soal gaul sama orang Indonesia ini menunjukkan betapa orang gak paham kalau nyari teman orang Irlandia itu susah. Mereka ini ramah, pakai banget, tapi nggak nyari teman. Kebanyakan dari mereka sudah punya teman dari kecil dan lingkar pertemanan mereka ini sangatlah rapat.

Gak semua orang juga cocok dengan gaya pergaulan orang Irlandia. Gaulnya orang Irlandia itu di pub, minum. Gak harus minum alkohol, tapi kalau harus nongkrong di pub berjam-jam, perut bisa kembung dan gula darah melonjak karena kebanyakan soda.

Tak cuma itu, orang-orang yang baru pindah biasanya mengalami fenomena “tiba-tiba rindu aja pengen ngobrol sama orang Indonesia” dan pengen makan makanan Indonesia. Jadi ya wajar kalau tiba-tiba pengen aja duduk sama orang Indonesia.



Penutup

Pergaulan diaspora di luar Indonesia itu penuh dengan warna. Observasi saya, di Indonesia pergaulan kita sangat terkotak-kotak dan biasanya hanya dengan mereka yang punya banyak kesamaan. Dari kesamaan hobi, tingkat ekonomi atau pendidikan. Begitu pindah ke luar negeri, pergaulan kita melebar, lebih beragam dan hanya disatukan oleh satu kesamaan: sama-sama orang Indonesia!

Kotak-kotak yang membagi kita di Indonesia, kotak kelas sosial, tak jarang memunculkan gesekan karena perbedaan prinsip. Ketika terbiasa pamer pencapaian pendidikan tiba-tiba ketemu diaspora yang ngotot bahas Louis Vuitton. Gak cuma gak cocok, tapi pasti langsung kaget.

Nanti pada saatnya, diri sendiri akan belajar menyaring diaspora model begini. Gak perlu sampai mereka buka mulut, dilihat dari covernya aja, udah langsung ketahuan mana yang bisa diajak ngobrol berbobot, dan mana yang ahli aset dan finansial. Biasanya kalau udah ahli gak akan ngumpat lagi, tapi otomatis menjauh untuk melindungi diri. Ini semua proses, perlu waktu dan tentunya perlu kepleset ketemu diaspora aneh dulu.

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!