Obsesi Instansi Pemerintahan di Indonesia

Tahun lalu ketika memperpanjang passport, saya datang ke imigrasi mengenakan dress super cantik berwarna kuning. Dress ini tak memiliki kerah, tapi sangat rapi, profesional dan serius. Yakinlah, saya seperti mbak-mbak kantoran, walaupun saya ga pakai sepatu hak tinggi lima belas centimeter. Begini penampakannya:

Eat #banana and #EndDiscrimination #WeAreAllMonkeys

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Ketika tiba waktunya foto, tiba-tiba petugas menyuruh saya mengenakan blazer berwarna hitam nan buluk karena baju saya tidak berkerah. Sumpah ya ini petugas minta diuleg karena obsesi gilanya dengan kerah yang bagi saya, nggak penting.

Imigrasi juga melarang penggunaan rok mini di area kantor mereka. Masalahnya, definisi rok mini ini tak jelas berapa centimeter dari atas lutut. Seorang warga negara asing yang saya tahu pernah ngomel panjang urusan rok ini karena imigrasi menolak melayaninya. Urusan rok ini akhirnya terpecahkan setelah si WNA mengenakan kardigan untuk menutupi roknya yang tak semini mbak-mbak di BATS. Alih-alih fokus meningkatkan layanan, instansi negara ini malah ketakutan tidak dihormati oleh orang asing karena pakaian yang mereka gunakan.

Kantor pemerintahan di negeri ini juga punya obsesi ajaib dengan warna untuk latar belakang foto. Tak pernah jelas warna apa yang diperlukan karena tidak ada aturan baku yang mengatur hal ini. Setiap instansi bisa meminta warna yang berbeda-beda, biru, merah, atau putih, tergantung mood mereka. Di kantor A background merah lazim digunakan, sementara di kantor B background merah menjadi pantangan. Di tempat kerja saya yang dulu, kami pernah membuat kartu identitas dengan background warna merah. Setelah susah-susah bikinnya, kartu tersebut dilarang digunakan karena hanya PNS yang boleh mengenakan background warna merah. Kami yang orang proyek tak boleh menggunakan warna merah, padahal, judul kartu identitas kami jelas-jelas berbeda.

Permintaan latar belakang warna ini sering menyusahkan WNA yang harus melampirkan foto untuk aplikasi dokumen keimigrasian. Di Eropa, mencari foto dengan background warna tertentu tidaklah mudah karena foto passport biasanya diambil di box foto, bukan di studio. Ongkos mempekerjakan manusia di sana tidaklah murah, makanya foto studio, walaupun ada, bukanlah tempat yang rajin disambangi. Saking merepotkannya, seorang WNA yang saya kenal pernah harus menyusun beberapa kertas merah untuk background, lalu membawa selotip dan kertas tersebut ke ke dalam foto box.

Kampus saya, Universitas Brawijaya juga punya aturan ajaib. Ijazah kelulusan di kampus saya wajib menggunakan foto hitam putih dengan kebaya dan sanggul. Demi foto ini saya harus pasang make-up di salon, pasang sanggul besar, sewa kebaya lalu berfoto yang tak sampai lima menit. Waktu dan uang jadi terbuang. Yang lebih kasihan, teman-teman saya yang bukan orang Jawa berakhir dengan foto serupa untuk ijazahnya. Jawanisasi!

image

Instansi di Indonesia masih banyak terobsesi dengan hal-hal yang tak penting. Lucunya, instansi-instansi ini selalu ribut urusan latar belakang warna dan tak pernah ribut urusan komposisi muka si empunya foto. Padahal menurut saya, yang lebih penting itu komposisi muka si empunya foto. Apa gunanya foto background merah, hijau, kuning ataupun biru kalau muka si empunya cuma 50%. Foto passport jadi kehilangan fungsinya sebagai alat acuan identifikasi. Ya sama kayak foto saya di atas, secantik-cantiknya saya, orang pasti nggak ngeh kalau itu saya, karena muka saya penuh dempul.

Keadaan ini sungguh berbeda dengan Hong Kong, misalnya. Saking tak cerewetnya dengan urusan pakaian, saat perkawinan kami, salah satu saksi datang ke kantor catatan sipil menggunakan celana pendek dan sandal. Dia tetap bisa menjadi saksi, tidak diusir pulang. Nampaknya petugas disana terlalu repot kerja sampai lupa ribut ngurusin pakaian orang lain dan tentunya lupa minta sogokan. *ahem ahem*

Advertisements

57 thoughts on “Obsesi Instansi Pemerintahan di Indonesia

  1. Haha, keren nih tulisannya. Baru ngeh selama ini dibegoin pemerintah tentang latar harus warna biru atau harus begini beginu begitu endebra endebre. Iya ya, mau foto aja kok rusuh bener 😀

  2. Padahal rok pendek nggak bakal kena jepret pas pemotretan foto paspor ya. Sementara itu mungkin ibu pejabat yg bersasak 50 senti nggak ada masalah pas sesi pemotretan. Hnahh mungkin benar bahwa SOGOKAN masih diarepin si instansi biar urusan cepet selesai tanpa komplain hihihi…

  3. Itu maunya si pembuat peraturan kali Mbak, supaya seragam dan resmi mungkin ya :hehe.
    Soal foto berkebaya sanggul, teman-teman saya yang perempuan juga pada berhias-hias cuma untuk sekali jepret pada saat pengangkatan PNS kemarin :hihi
    Tapi yang saya benar-benar fix sih yang di KTP: tahun genap latar biru, tahun ganjil latar merah. Padahal kalau salah latar belakang juga nggak diapa-apain, sih :hehe

  4. Same sekarang diriku selalu pake cara jitu Mba Ail, ambil foto di rumah. Pose di depan bagian tembok putih, pake flash biar kontras (jangan lupa keliatan kuping — mereka juga obses nih HARUS keliatan kuping). Abis itu tinggal diphotoshop belakangnya jadi warna apa aja yg dibutuhin… sayangnya rambut mesti rada lepek alias lurus plek biar gampang ngeditnya, hahaha.

    Duh emang bikin repot yg gak perlu, ya.

  5. Tipikal birokrasi Indonesia..itu juga nyampe kok di Kedubes Indonesia di Den Haag, tapi lima tahun yang lalu kasusnya. Jadi pas perpanjang paspor, pas foto, disuruh ganti baju atasan dengan kemeja putih terus background-nya merah…cieee banget dah, merah putih benderaku..Untungnya ya Kedutaan cukup membantu, jadi kalau kita gak pakai baju putih, disiapin kemeja putih gitu dan kemeja-nya gede banget lagi..semua orang pasti muat…

    Tapi tahun kemaren dengan Dubes yang sekarang jadi Menlu nih, Ibu Retno, sistimnya lain, jadi motret foto di paspor bisa pakai baju apapun dan tidak merah putih lagi pastinya…Butuh pemimpin seperti beliau mungkin untuk merubah tradisi kolot. Ibu Retno dulu OK banget pas jadi Dubes di Belanda..

  6. LOL ini pos makjleb banget, bukan buat gw, buat instansi pemerintah tentunya. Kayaknya di Indo memang penampakan itu penting, jadi inget dulu jaman kuliah di fakultas lain nggak boleh masuk kelas klo nggak pake kerah. Apa hubungannya menuntut ilmu sama baju berkerah? Only in Indonesia.

  7. Kalau di Unibraw kudu disanggul, di kampusku yang Islam ini, wajib dikerudung fotonya *sebelum foto, riweuh dulu pake kerudung 😀

    tapi aneh banget ya mbak Tjetje ga boleh pakai rok, padahal difoto ga keliatan juga roknya

      • sekarang gmn? Masih sama?

        Oya tadi, mau bilang kalimat yang di bawah ini asli jadinya kocak, hehe… bener juga sih… kita terlihat beda… 🙂

        “…sama kayak foto saya di atas, secantik-cantiknya saya, orang pasti nggak ngeh kalau itu saya, karena muka saya penuh dempul.”

  8. Aku baru tau kalo UniBraw ini foto ijazah harus njawanisasi. Dan kamu beneran anggun disitu. Obsesi warna background itu juga bikin ribet hidup ya. Seminggu sebelum pindah, aku foto buat ijazah. ITS ini nampaknya obsesi sama dasi. Yang berjilbab pun harus nampak dengan jelas memakai dasi. Aku melihat fotoku sendiri jadi aneh 😦

      • Emang edan kenemenen ancene. Sampek berkali2 aku ngecek ke kantor admin, dibilang kalo ga nampak dasinya dengan jelas bakal disuruh foto lagi. Ail, pernah ngecek ga? Apa cuma di Indonesia aja ya ijazah pake foto? Ijazah Temen2 kampusku yang dari Zimbabwe, Namibia, Adelaide, Jerman, trus ijazah suamiku ga Ada fotonya. Jadi penasaran.

      • Naaahh kan. Teman2ku yang dari afrika ngomel2 pas disuruh foto untuk ijazah “it’s really stupid thing. Why do we have to put our picture? What for?” Semacam itulah ngomelnya haha. Nunggu tambahan info dari Ail nih dari teman2 kantornya *makin penasaran

  9. Sampe sini pun birokrasi indonesia di KBRI reseh banget. Masak buat bikin paspor mereka minta foto ukuran paspor buat di formulir permintaan nya tp buat di paspor nya sendiri mereka mewajibkan kita buat di foto langsung di tempat. KUPING harus keliatan. Kalo orang kayak aku yg kupingnya caplang kan ini horor 😦

    • Caplang itu lebar atau agak ke belakang ya? Yang kupingnya agak nempel ke belakang katanya ada ganjelan khususnya biar kelihatan kalau di foto. Lha kalau telinganya dimajuin kan mukanya jadi berubah.

  10. Mbaaak salam kenal yaa.. iya iiih sumpah ya rempong bangeeeet deh ya instansi pemerintah ini. Salah satunya kanim. Yg diributin baju, tp foto ngambilnya ngasal. Jadilah kalo pas check imigrasi di negara tujuan, bolak balik ditanyain, is that you is that you mulu. Kan lelah ya mbak ngejelasinnya #halah 😀

  11. Pingback: The Ultimate Guide for Fresh Graduate: INTERVIEW | chicklyfresh

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s