“Ibu Rumah Tangga Tanpa Pekerjaan”

Setelah meninggalkan pekerjaan saya dan pindah ke Dublin, saya semakin menyadari betapa beratnya pekerjaan ibu rumah tangga. Dimulai dari bangun pagi untuk menyiapkan sarapan serta bekal makan siang. Di Irlandia, sarapan sangatlah praktis cukup cereal ataupun roti. Begitu juga dengan makan siang, roti lapis (sandwhich) ataupun salad. Coba bandingkan dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya sarapan pagi nasi putih, nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi pecel, nasi krawu, nasi soto, nasi rawon, dan aneka rupa nasi lainnya. Bayangkan saja keribetan mereka yang menyiapkan makanan penting ini.

Pekerjaan kemudian dilanjutkan dengan membersihkan rumah, dari halaman sampai bagian belakang rumah. Mencuci pakaian sudah banyak dilakukan oleh mesin, tapi menjemur pakaian di bawah teriknya matahari Indonesia, kendati hanya lima menit, cukup bikin pening kepala. Lebih pening lagi melihat cucian kering itu menumpuk untuk disetrika. Di Irlandia, setrika baju bisa jadi kegiatan yang menyenangkan karena tubuh menjadi hangat, di Indonesia saya yakin pekerjaan ini tak terlalu menyenangkan karena panas. Pekerjaan rumah tangga tak berhenti disana, masih ada piring yang harus dicuci, kamar yang harus dibereskan, makanan yang harus selalu ada, belanjaan yang harus dibeli, uang belanja yang harus diatur supaya cukup, PR anak yang harus dikerjakan bersama, prakarya anak yang suka aneh-aneh, tagihan yang harus dibayar, serta sederet pekerjaan lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan. Di Bali pekerjaan ini akan lebih panjang lagi karena ada aktifitas membuat sesajian dan menghaturkan sesajian pada pagi dan sore hari, serta pada hari-hari tertentu saat ada perayaan keagamaan.

Jadi betapa lancangnya sebagian masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa ibu rumah tangga tak punya pekerjaan? Ibu rumah tangga memang tak duduk di depan komputer, menjawab setumpuk email, mengerjakan laporan ataupun menjawab telepon dari klien. Mereka juga tak mendapatkan slip gaji setiap bulannya, tapi bukan berarti para ibu rumah tangga tak memiliki pekerjaan. Pekerjaan mereka banyak dan tak pernah tuntas. Mengasosiasikan ibu rumah tangga dengan tak memiliki pekerjaan adalah sebuah pelecehan besar, karena sesungguhnya ibu rumah tangga adalah pekerjaan berat yang tak kunjung selesai.

Cartoon: UN WOMEN India

Tak hanya itu, sebagian masyarakat kita juga seringkali menyayangkan mereka yang punya pendidikan tinggi yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Kalimat ajaib yang paling sering saya dengar bunyinya, biasanya seperti ini:

“Sayang ya sekolah tinggi-tinggi cuma di rumah aja (ngurusin anak)”

Dimaklumi saja yang ngomong begini mungkin bagi mereka anak-anak di rumah memang tak layak dididik oleh ibu-ibu yang pendidikannya tinggi.  Pada saat yang sama, saya juga melihat masyarakat kita menilai bahwa pekerjaan rumah bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh sarjana, apalagi oleh ‘tukang master’ ataupun doktor. Bagi sebagian masyarakat, pekerjaan rumah tersebut lebih layak dilakukan oleh pekerja rumah tangga (bukan pembantu rumah tangga) atau para pekerja dengan keahlian spesifik (contohnya tukang ledeng, tukang kebun, tukang listrik, tukang bangunan).

Perbincangan saya dengan banyak perempuan bekerja, terutama perempuan yang berbagi biaya rumah tangga, juga semakin membuka mata saya. Saya melihat dan mendengar bahwa bagi sebagian perempuan menjadi ibu rumah tangga itu sebuah kemewahan, kemewahan yang tak bisa didapatkan oleh semua perempuan karena seringkali pilihan tersebut tak ada. Himpitan ekonomi biasanya menjadi salah satu alasan kenapa perempuan harus bekerja dan berbagi biaya rumah tangga (catatan: saya lebih suka menyebutnya berbagi biaya rumah tangga ketimbang membantu, karena membantu tak terdengar setara).

Debat tak berujung antara ibu rumah tangga serta ibu bekerja belum akan berhenti. Yang pro ibu rumah tangga akan memandang rendah ibu bekerja karena pilihannya untuk menghabiskan sebagian waktu di kantor (dan meninggalkan anak). Sementara yang pro ibu bekerja akan memandang sebelah mata mereka yang menjadi ibu rumah tangga dan menggap mereka tak punya pekerjaan. Apapun pekerjaannya, rasanya bukan tugas kita untuk menghakimi siapa yang lebih baik dari siapa, karena ini hidup mereka, mereka yang menjalani dan tentunya merekalah yang berhak memilih. Tugas kita hanya satu, mengakhiri debat panjang itu.

Xx,

Tjetje

Advertisements

63 thoughts on ““Ibu Rumah Tangga Tanpa Pekerjaan”

  1. Aku saiki lek onok sing komen menghubungkan antara pendidikanku dan aku yg belum bekerja kantoran (lagi), ga tak reken. Sak karepmu! Urip2ku dewe kok sing liyane ruwet ngurusi. “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu.” Begitu penggalan ucapan Dian Sastrowardoyo. Bahkan untuk membuat sotopun dibutuhkan kecerdasan.

  2. Setuju Mbak Ail. Kali liat ibu rumah tangga yg bisa mandiin anak, anter jemput anak sekolah/les ini itu, ngeliat tumbuh kembang anak secara langsung tiap saat, bener banget deh itu sebuah kemewahan buat para ibu bekerja. Tapi berhubung pilihan yg harus diambil adalah aku harus bekerja, ya sudahlah tinggal berusaha utk selalu ikhlas saja biar anak2 juga happy ngeliat ibu bapaknya happy. Walopun tetep sesekali galau juga sih liat tetangga sebelah pagi2 lagi main sama anak sementara aku harus cuss berangkat kerja :D.

  3. ibu rumah tangga yang ga ada KERJAAN itu justru lebih capek lho IMHO. Yang jelas dua-duanya punya tantangan tersendiri deh. Entah sampe kapan ya drama ibu bekerja vs ibu rumah tangga ini berakhir :/

  4. Hanya orang yang sudah merasakan jadi ibu rumah tangga full bisa merasakan dan bersikap adil terhadap profesi itu. Kalo semua serba dibayar lalu berkomentar menyakitkan bagi orang yang full jadi ibu rumah tangga. Bagi saya Itu ibarat orang yang gak pernah makan garam seumur-umur, lalu bilang kalo garam itu gak ada rasanya, haha…

  5. Inspiratif Bu tulisannya… tapi bu, kl isteri yang terus2an di rumah biasanya mereka sering merasa bosan atau malah senang keenakan? Saya jadi kepikiran nih, jika (kelak) isteri saya, saya minta dirumah saja dan khawatir dia justru pasrah kebosanan. Jadi true nature perempuan masa kini itu sebenarnya ingin jd housewife atau berkarir?

    • Tergantung masing-masing perempuan, banyak yang mau berkarir tapi banyak juga yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Ada juga yang dipaksa jadi ibu rumah tangga, gak boleh kerja sama orang tua atau suaminya.

      Soal bosan, kalau ada yang bantu mungkin beban pekerjaan rumah jadi lebih sedikit dan cepat bosan. Tapi kayak saya gini ya gak sempet bosen, karena kerjaan selalu ada. Kalaupun gak ada saya nyari-nyari kerjaan, eksperimen di dapur. Saking repotnya, nyari waktu buat nulis (apalagi tidur siang) pun susah bener.

  6. Yah itulah bagi kebanyakan orang memang ngomongin orang lain itu jauh lebih enak daripada ngejalanin sendiri.. coba kalo mereka switch roles, baru pada ngerti kan pasti trus pada maklum deh hehehe 🙂

    Enjoy ur new life in Dublin! 🙂

    • Di Jakarta mah aku gak pernah beberes, semua dikerjain pekerja rumah tangga atau kalau pas di kos pekerja kos. Disini semua harus dikerjain sendiri, but so far I enjoy it. Tapi lebih capek dari kerja kantoran. Fiuh…Thanks Christa.

  7. Love this posting sooooo much!!!!… Bener banget, gw yang kerja di sini sering mikir bahwa jadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah kemewahan. Kadang gw pengen banget bisa jadi rumah tangga loh namun kondisi ekonomi hidup di negara mahal kayak Norway mengharuskan pasangan buat ada dua sumber pemasukan (dan juga buat aktualisasi diri sebetulnya biar ngga tergantung suami). Kerja2x perempuan di ranah domestick memang sering nggak dianggap (invisible domestic works) padahal kalau nggak ada perempuan2x super sebagai ibu rumah tangga bisa kacau balau deh dunia. Hidup ibu rumah tangga! 🙂

  8. Setuju bgt Tje! Wlopun biasa mengerjakan pekerjaan rmh tangga dari sma, aku lebih milih kerja kantoran bnrnya. Hbs kerjaan rmh itu cuaapeeek dan banyak hahaha..masak 7 hr aja ribet apalagi suami org indo yg gak demen bekelnya ngulang kebanyakan. Jadi siapa bilang irt itu bukan a profession in its own?!

  9. hahaha.. aku jd inget wkt dtanya temanku cowok.. kerjaanku apa. jawab “nyuci piring, nyapu ngepel”.. dijawab dia ” itu kerjaan apa babu?”

    dulu si betek sampai antariksa, sekarang dbawa ngikik aja.. kalau ngga jd irt mungkin aku ngga punya waktu utk melakukan hobi.

    nice post mba Ail..

  10. Tje daku jg suka pusing kl liat cucian menumpuk yg kudu diseterika!!! Kebetulan lagi ada satu keranjang gede pula. Belum mikirin menu makanan + bekal yang kalo itu2 melulu bosen, divarisikan bingung lama2 mau masak apa. Ngurus rumah (apalagi anak!) kurasa butuh kecerdasan ya. Good luck dgn cuciannyaaaa 🙂

  11. Hihihi betul aku ama temanku pernah berpikiran sama waktu dapet tugas di Bali selama tiga minggu, ini orang Bali rajin rajin, nyiapin sesajen trus sorenya nyapu halaman atau trotoar bekas sajen yg berantakan.
    Hingga saat ini aku masih mendambakan untuk bisa kembali bekerja, tapi belum juga tercapai.
    Klo untuk ngurusin yg pro kontra antara ibu bekerja atau hanya IRT saja itu malah jadi lucu, kok masih ada ya yg rewel ngurusin yg begituan? Mau bekerja atau tidak kan tergantung kondisi di dlm rumah tangga masing masing gak bisa disamakan dgn kondisi rumah tangga lainnya. Ya beda beda lah

  12. seneng banget kalo ada yg nulis kayak gini yg g membandingkan profesi yg satu dan yg lain melainkan mengajak untuk saling menghargai ……..Q pernah kerja tp pas belum nikah trus pas udah nikah g kerja lagi,sempat pengen kerja keburu dapet baby mungil…..disaat baby mungil udah gedhe keburu dikasih lagi…..hehehehhee seneng nya g kebayang…hihihi…..lha sekarang udah 7th ma 4th,skul semua….kdg ada kepikiran buat kerja tp y gitu semakin baca dan liat kondisi bocah jaman sekarang ada ketakutan dan kekhawatiran kalo ga bisa nemenin 2 malaikatq……secara ya Ail,bojo saya kerja dari pagi smpe sore bahkan sampe malam…..hmm kalo bayangin q kerja trus dua2nya sampe rumah capek pasti yg kena dampaknya anak q juga……so q bertekad jadi full irt aja dulu sambil jual sana sini dari rmh….dan itu semua akan berjalan dengan baik kalo pasanganku selalu mendukung……
    kalo untuk irt yg bekerja kantoran juga g perlu minder ya dengan kemewahan yg didapat oleh irt yg full d rmh……hehehe,krn SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU!!! bukan di bawah telapak kaki IBU bekerja or IBU yg d rumah……hehehe,yg penting kn tetep bisa menjadi ibu yg terbaik apapun profesinya……..
    Semangat mama,bunda,ibu,mommy…..hehehhe…..tengkyu nte Ailsa…..smga setelah merasakan jadi ibu rmh tangga yg ngurus suami akan segera merasakan indahnya ngurus suami dan anak……aamiin….miss u nte……

  13. Sebagai ibu bekerja, sering kali kalau lagi weekend dan harus mengurusi keperluan baby + suami sendiri rasanya ‘kok ini kerjaan gak ada habisnya ya?’, ‘kok badan terasa lebih capek saat dirumah dibanding kerja dikantor seharian?’.

    Oleh karena itulah, aku sangat salut sama ibu2 yang memilih menjadi ibu rumah tangga.
    Salut sama kemampuan mereka mengatur waktu dan mengusir rasa bosan 🙂

  14. Sepakat!! karena tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan itu (full di rumah adalah kemewahan). Selamat Ail…

  15. Wah, bahasannya pas banget, Ail! (Aku manggil nama aja ya? Kan seumuran :D)

    Aku baru aja nikah (baru seminggu berumahtangga) dan karena aku kerja di kota lain, klo lagi di Jakarta ama suami, aku otomatis jadi IRT. Kerjaan rumah tangga itu ampuh banget buat mengusir kebosanan dan puas banget ngeliat hasil kerja kita. Suamiku yg dulu pernah protes pengen pake sendal/sepatu dalam rumah lgs otomatis ga enak pake sendal/sepatu ngeliat gw ngepel mulu hahah aku kan kerja jadi pns dan terus terang aku ngerasa lebih produktif kerja di rumah jadi IRT daripada di kantor yg seringnya nganggur daripada kerja hahaha

    Enjoy your time in Dublin!

  16. “Saya melihat dan mendengar bahwa bagi sebagian perempuan menjadi ibu rumah tangga itu sebuah kemewahan, kemewahan yang tak bisa didapatkan oleh semua perempuan karena seringkali pilihan tersebut tak ada.”

    Setuju mbak. Kalo boleh saya memilih, andai pilihan saya tidak menyakiti siapapun…. saya lebih suka jadi Ibu Rumah Tangga.

    • Nah itu salah satu issue lagi, gak boleh kerja karena disuruh suami. Padahal buat sebagian perempuan bekerja di kantor kadang bukan masalah uang tapi masalah aktualitas diri aja. Akhirnya jadi terbelenggu buntutnya stress.

      • Kalo aku mengertinya nurut sama suami termasuk bentuk ibadah. Selama permintaannya gak menyimpang, gak merugikan istri, dan bisa menjamin, gak ada masalah untuk dituruti.

  17. Aku aja yang cuma apartemen kicik, kalau lagi nyapu ngepel bersihin balkon, bersihin kamar mandi juga capek setengah hidup. Nggak kebayang kalau nanti punya anak, capeknya dobel. Hahaha. Kalau kata mamaku, pekerjaan jadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang nggak ada habisnya dan nggak ada apresiasinya karena semua terlihat rutin setiap hari ya begitu begitu aja. Huhuhu.

  18. Pekerjaan rumah tanga itu selalu ada aja dan nggak pernah selesai selesai. Capek? bangeeeeeet.. Kalau ada yang bilang jadi ibu rumah tangga enak, yaa kalo situ pake ART sih enak tinggal ngemeng, lha kalo nggak pake, beuuh modyar kesel berkepanjangan.
    Kebayang deh aku double capek lagi kalo sudah ada anak.
    Aku jadi inget dulu awal-awal pindah kesini kesel kenapa kok cuma dirumah aja ngerjain kerjaan nggak abis-abis, sampe pernah nyikatin kloset sama bathtub sambil marah dan nangis. Konyol siih tapi ya gimana awal-awalnya suntuk. huhuhuhu

  19. Waa Mbak Ai sudah pindah ke dublin ya skrg. Selamat menikmati kehidupan baru mbak 🙂 Mencerahkan sekali postingnya mbak. Sebagai ibu pekerja amat sangat merindukan kala libur dan mengurus rumah bareng suami. Kadang suka jengkel sama org2 yg menjelek2 kan ibu rumah tangga. Harusnya dasar dari seorang anak adalah pendidikan awal dari ibunya. Kenapa jd malah dijelek-jelekkan. Emang mau anak nya diurus full 24 jam sama baby sitter. Jangan2 malah anaknya lebih deket sama pengasuhnya. Kalo ga salah masa emas anak itu sebelum umur 5 tahun yang notabene akan menghabiskan waktu lebih banyak bareng ibunya, even ibunya pekerja atau ‘hanya’ ibu rumah tangga. So untuk ibu-ibu di luar sana jangan sedih dengan judgement org yang gak enak, toh yg ngejalanin kita masing2 kan. Be smart mom 🙂

  20. Bajuku ga pernah disterika disini. 😅 Bartosz strika sendiri kemejanya.

    Menurutku yang berat itu kalau kuliah dan udah punya anak. Ini aja aku sibuuuk banget belajar dan makan cuma kalo Bartosz masak, apalagi kalau punya anak juga?! 😨

  21. Menurut saya, menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang enteng karena ada kaitannya dengan mempersiapkan calon pemimpin masa depan.

    Salam kenal ya mbak

  22. Aku dulunya juga mikir kalau sayang gelar dan butuh aktualisasi diri kalo abis kuliah tapi nggak kerja dan jadi ibu rumah tangga. Mungkin kena karma ya haha udah setaunan lulus, sampai sekarang belum kerja juga. Alhasil di rumah bangun pagi bantuin emak masak, emak ke kantor jemur baju, beberapa kali sehari anter-jemput adek kuliah dari ujung satu Malang ke ujung satu lagi lol, etc. Aduh rasanya kerjaan rumah nggak selesai-selesai! Sempet mikir gimana orang rumah survive ketika aku nggak ada di rumah untuk kuliah dulu. Meski ada mbak yang kerja buat beberes dan setrika 2 kali seminggu, tapi rumah dibikin kotor kan tiap hari, belum cucian piring haha.
    Aku sekarang masih pengen sih ya kerja yang jelas. Tapi pemikiranku bergeser, jadi ibu rumah tangga nggak mesti nggak bisa mengaktualisasikan diri. Kalau bisa bagi waktu dan mungkin ada sisa, aku masih bisa nulis buat hobi, dan kebetulan buka online shop kecil biar ada kegiatan (biar keliatan ngitung duit meski recehan hehe).
    Belum bisa sepenuhnya memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga kalau merit nantinya. Tapi yang penting sekarang ngerti, yang mana pun jalan asal dipilih tanpa paksaan dan nggak merugikan anak-suami, ya monggo. You do you!
    Cheers

  23. Yang ada di lingkungan masyarakat kebanyakan memandang sebelah mata untuk ibu yang tdk bekerja : sering dilibatkan dalam aktivitas RT/RW , sekolahan anaknya yang sebenarnya kegiatan itu nggak perlu dilakukan (terlalu mengada-ada). Ketika ditanyakan kenapa melibatkan ibu rumah tangga bukan ibu yang bekerja .?? Jawaban panitia seenaknya juga : Kan Ibu rumah tangga yang capek, nggak terikat waktu, stand by di rumah, beda dengan ibu yang bekerja kan udah capek sepulang kantor. Kalau ane menilai sih jawaban ini luar biasa diskriminatif. Seharusnya justru ibu bekerja yang dilibatkan karena banyak duitnya (kalau toh rumah ditinggal untuk kegiatan RT/RW) kan bisa bayar pembantu (punya gaji)

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s