Baru-baru ini media sosial digegerkan oleh kelakuan buruk seorang mahasiswi Universitas Jember. Mahasiswi ini memamerkan foto tiga ekor kucing hutan yang mati di laman Facebooknya. Ia kemudian dicari oleh aparat dan juga ProFauna, sebuah organisasi untuk perlindungan hewan yang berbasis di Malang. Ini bukan pertama kalinya kejadian orang memamerkan foto-foto denganΒ binatang dilindungi yang mati karena diburu dan ketidaktahuan selalu menjadi alasan klasik untuk membunuh (atau bahkan memelihara) hewan-hewan dilindungi.
Gemas rasanya membaca alasan tidak tahu, karena informasi tersebar dimana-mana. Sebagai blogger yang pernah aktif menjadi sukarelawan di berbagai organisasi hak-hak hewan, saya jadi ingin berbagi cerita tentang hewan-hewan dilindungi yang seringkali disiksa, baik dengan cara dipelihara maupun dimakan. Postingan ini hanya akan mencakup beberapa hewan saja, karena kalau ditulis semua bakalan jadi buku.
Kakaktua
Menurut PP 7 tahun 1999 ada lima jenis burung kakaktua di Indonesia yang dilindungi. Kakaktua raja (yang warnanya hitam), kakatua besar dan kecil jambul kuning, kakaktua seram serta kakaktua goffin (yang ini cantik seperti memakai blush on). Kebanyakan burung paruh bengkok ini berasal dari bagian Timur Indonesia, seperti Papua, Maluku dan Nusa Tenggara. Burung ini setia pada pasangannya, jadi ketika dia dipisahkan dari pasangannya, tak bisa kawin lagi.
Untuk memastikan burung-burung ini tak bisa terbang lagi ketika ditangkap, bulu terbangnya dicabut. Maka jangan heran kalau di kebun binatang kita bisa menemukan burung kakatua yang tak bisa kemana-mana hanya bertengger di ranting-ranting di ruang terbuka, siap untuk menjadi bagian dari atraksi foto dengan burung-burung di tangan juga di kepala. Sebelum berfoto dengan mereka, ingatlah bahwa burung-burung tersebut dilumpuhkan demi menyenangkan mereka yang hobi berfoto.
Kakaktua digemari karena kepandaiannya berbicara, tak heran burung-burung ini dijual dengan harga tak murah. Memindahkan burung ini dari Timur ke Barat juga dilakukan dengan cara yang kejam, mereka seringkali dimasukkan ke dalamΒ termos atau botol untuk dipindahkan dari Timur Indonesia ke kota-kota lainnya.Β Tak heran jika kemudian banyak yang mati dalam perjalanan.Β Selain setia pada pasangan, burung ini juga berisiknya tak karuan. Jadi, jika ada tetangga yang memelihara burung kakatua ini, bisa dengan mudah diketahui karena suaranya yang mengganggu.
Kakatua bukan satu-satunya burung dilindungi yang dipelihara orang. Ada beo Nias, elang, burung jalak, hingga cendrawasih. Soal cendrawasih, burung ini bersama dengan rusa serta harimau seringkali diawetkan untuk dijadikan pajangan. Bagi saya memajang hewan mati itu menjijikkan, karena bangkai tak seharusnya dipajang sebagai hiasan rumah. Daripada memajang bangkai, lebih baik memajang patung pahatan komodo dari Ubud yang harganya bikin kantong bolong.
Orangutan
Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang memiliki orang utan. Orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan memiliki karakteristik dan warna yang berbeda. Mereka yang di Sumatera memiliki warna lebih terang ketimbang yang di Kalimantan. Konon karena yang di Sumatera hobi main air dan mandi.
Populasi orangutan menurun drastis karena banyak hal, konversi hutan menjadi ladang kelapa sawit salah satunya. Pekerja ladang kelapa sawit juga seringkali membunuh orangutan untuk dimakan. Tak hanya dimakan, orangutan juga ada yang dipaksa menjadi pemuas napsu, alias dijadikan pekerja seks. Di Thailand, orangutan kita juga dijadikan bagian dari atraksi tinju.
Muka-muka anak orangutan yang lucu sebenarnya menyimpan beribu kisah pedih. Anak-anak ini menempel pada induknya selama tujuh tahun sebelum mandiri, makanya pertumbuhan populasi mereka tak bisa secepat anak tikus. Ketika terjadi konflik antara pembuka ladang dengan orang utan, anak orangutan ini seringkali dipaksa untuk menyaksikan ibunya dibunuh. Mereka lalu diambil dan dijual atau dipelihara.
Orangutan memiliki 97% DNA yang mirip dengan manusia, tak heran jika mereka cerdas. Secerdas-cerdasnya orang utan, bayi-bayi orangutan tak berdayaΒ ketika mereka dipaksa bekerja untuk berfoto bersama pengunjung kebun binatang. Tak hanya beresiko terkena penyakit dari manusia, mereka juga beresiko menularkan penyakit pada manusia.
Penyu
Penyu tak sama dengan kura-kura. Kura-kura hidup di darat dan di laut sementara penyu hidup di laut. Hanya ketika bertelurlah penyu mampir ke darat. Uniknya, penyu akan selalu kembali ke tempat dimana dia dilahirkan. Tak heran pantai Kuta yang penuh lampu dan sibuk pun sering dihampiri penyu untuk melahirkan. Konon, induk penyu sudah mengatur sedemikian rupa supaya lima puluh persen anak penyu menjadi jantan dan separuhnya lagi menjadi betina.Β 85 hari setelah menetas, anak-anak tukik ini kemudian akan kembali ke laut dan banyak di antara mereka yang kemudian akan mati karena dimakan predator.
Predator penyu tak hanya di laut saja, tapi juga di darat. Di Kalimantan misalnya, telur-telur penyu diperdagangkan untuk dimakan karenaΒ konon telur ini memiliki khasiat kesehatan. Badan boleh sehat, tapi seratus tahun lagi anak cucu kita mungkin tak akan bisa melihat penyu karena keegoisan kita.
Tak hanya telur penyu yang terancam, penyu yang sudah dewasa dan umurnya ratusan tahun juga terancam oleh keganasan manusia. Tempurungnya misalnya digunakan untuk aksesoris seperti gelang dan hiasan rambut. Seringkali penyu juga diawetkan untuk dijadikan hiasan rumah. Tak hanya tempurungnya, daging penyu juga dicari untuk dimakan, dibuat sate. Penyu jugaΒ digunakan sebagai sarana upacara keagamaan di Bali.
Ada banyak hewan dilindungi yang diperdagangkan secara diam-diam di pasar burung, atau bahkan secara online. Tak jarang hewan-hewan dilindungi ini juga dijadikan hadiah bagi para pejabat-pejabat negeri ini. Masih kuat dalam ingatan saya seorang menteri di kabinet SBY didatangai BKSDA karena memelihari hewan-hewan dilindungi. Sudah saatnya kita merubah cara kita memperlakukan hewan-hewan ini, setidaknya dengan tidak membeli dan tentunya, tidak berfoto dengan Β hewan yang disiksa.
xx,
Tjetje
Show me love, leave your thought here!