Orang-orang yang memonopoli tiang di dalam kendaraan umum seringkali saya hakimi sebagai bekas penari tiang. Bagi para penari, tiang menjadi salah satu elemen penting dari tarian mereka dan sering kali satu orang mendapatkan satu tiang. Biasanya orang-orang egois ini memeluk tiang, seakan tak ada hal lain yang bisa mereka peluk. Tak cukup memeluk, kadang-kadang mereka bersandar di tiang tersebut tanpa mau memberikan peluang bagi orang lain untuk berpegangan. Padahal, tiang-tiang tersebut dibuat untuk semua orang supaya bisa menahan beban ketika terjadi pengereman kendaraan. Orang-orang ini tak hanya bisa ditemukan di Indonesia, tapi juga bisa ditemukan di negara-negara maju.
Selain para “penari tiang”, golongan egois lainnya adalah para pembawa tas ransel yang tak mempedulikan penumpang lain. Di Jakarta, kebanyakan para pembawa tas ransel ini adalah pria (apa sih yang dibawa?!). Mereka jarang sekali mau meletakkan tasnya di lantai, takut kotor mungkin. Jika tak ngotot meletakkan tasnya di punggung, mereka membawa tasnya di bagian depan tubuh. Masalahnya dalam kondisi kendaraan yang penuh tas-tas ini seringkali mengambil ruang bagi penumpang lain. Tak hanya itu, tas-tas ini juga sering menabrak anggota tubuh penumpang lainnya dan sang empunya tas seringkali tak menyadari hal tersebut.
Golongan selanjutnya adalah golongan berisik, baik berisik menggunakan pengeras suara (speaker) maupun suaranya sendiri. Remaja Dublin saya perhatikan sering membawa speaker dan menyalakan musik dengan keras di dalam angkutan, mirip dengan pengamen dangdut di jalanan Jakarta. Tak hanya saya temukan di Dublin, saya juga menemukan mereka di Paris. Senda gurau anak remaja juga saya anggap sebagai hal yang mengganggu. Mungkin bagian dari penuaan adalah gemas jika melihat remaja berisik dengan senda-guranya. Padahal jaman remaja dulu saya tak kalah berisiknya, saking berisiknya angkutan yang saya naiki pernah diberhentikan mendadak dan pengemudi angkutan marah kepada kami semua. Pengemudi saat itu meminta kami semua, yang masih duduk di bangku SMP, untuk diam karena suara kami mengganggu. Sekarang saya paham betul kemarahan pengemudi tersebut.
Berbicara di telepon dengan suara keras bagi saya juga sangat mengganggu. Apalagi jika pembicaraan tersebut berlangsung lama dan dipenuhi dengan aneka rupa drama dan sumpah serapah. Di Irlandia saya sering sekali bertemu dengan kelompok ini dan karena dasarnya orang Irlandia itu suka ngomong durasi obrolannya pun jadi panjang banget. Ditambah lagi paket-paket telpon genggam disini seringkali menggratiskan panggilan telpon. Wah pas sudah buat yang doyan ngomong.
Masih banyak lagi keegoisan di dalam angkutan umum, termasuk mereka yang tak mau memberikan kursi jika ada yang membutuhkan.Tak hanya orang muda saja yang melakukan hal ini, orang-orang tua pun melakukan hal serupa. Beberapa waktu lalu misalnya, saya menyaksikan seorang Ibu dengan dua orang anaknya duduk di kursi prioritas. Ketika penumpang lain, ibu muda dengan anak kecil naik, ia tak bergerak. Begitu pula ketika seorang nenek naik. Si nenek berdiri sementara dari belakang saya hanya bisa menggerutu. Sampai kemudian seorang nenek yang lain lagi naik dan meminta kursi prioritas (disini banyak nenek-nenek naik bis). Lucunya, ibu ini malah menyuruh kedua anaknya berdiri dan memberikan kursi mereka. Anak-anak remaja tersebut pun ngomel. Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa anak-anak belajar dari contoh yang diberikan di sekitarnya.
Tak semua orang di Irlandia berperilaku seperti itu. Masih banyak yang mau memberikan kursinya kepada yang memerlukan. Bahkan saya pernah melihat pengguna narkoba yang memberikan kursinya. Menariknya dia berkata bahwa memberikan kursi merupakan salah satu hal baik yang perlu dilakukan. Dia juga menyayangkan anak-anak muda jaman sekarang yang enggan memberikan kursinya.
Di Jakarta ada anggapan bahwa perempuan yang duduk di kursi khusus perempuan di TransJakarta ataupun di gerbong perempuan, seringkali kejam karena mereka tak mau memberikan kursi kepada mereka yang memerlukan. Selain karena egois dan mungkin tak mau tahu bagaimana etika dalam menggunakan transportasi publik, mereka mungkin saja merasa sama berhaknya karena tempat-tempat tersebut diprioritaskan bagi perempuan. Ingat sendiri kan kasus mahasiswa di Yogyakarta yang ngomel panjang di social media karena hal ini? Si mahasiswa merasa paling berhak duduk di gerbong perempuan karena dia adalah perempuan. Mungkin sudah saatnya gerbong perempuan dihapuskan dan diganti dengan gerbong lansia serta ibu hamil.
Menolak duduk di bagian dalam angkutan umum juga saya anggap sebagai hal yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi kalau mereka yang ngotot duduk di dekat pintu ini adalah ibu-ibu yang baru pulang dari pasar dengan aneka rupa belanjaan. Alamat proses pengangkutan penumpang lebih lama karena penumpang mesti melompati tumpukan sayur segar atau bahkan ayam hidup. Di Irlandia saya nggak ketemu tumpukan sayur atau ayam di dalam angkutan, tapi saya menemukan orang-orang (sebagian kecil lho ya) yang menaikkan kaki ke atas tempat duduk kosong di kendaraan umum. Biarpun sudah dipasang banyak peringatan tetap saja masih banyak yang melakukan hal ini, padahal sepatu-sepatu mereka itu seringkali kotor.

Apalagi yang suka bikin gemas di angkutan umum?
Show me love, leave your thought here!